Friday, December 18, 2015

Mencicipi Soto Betawi di RM Ibu Haji Cibubur

Setelah mengunjungi seorang teman yang melahirkan di salah satu RS di Cibubur, saya dan Yaya laper bukan main. Kami belum sarapan. Jam sudah menunjukkan pukul 9. “Maaaakk, mau makan, iiiih!” kata makhluk-makhluk di dalam perut. Yaya pun mengajak saya makan di RM Ibu Haji Cibubur. Ibu Haji mana yang punya tempat makan ini? Ada berapa ribu ibu haji yang ada di Cibubur? – Sudahlah, enggak usah dicari jawabannya, ini cuma buat manjang-manjangin tulisan di blog aja, kok. Hihihi




Bagi penggemar soto betawi, mesti coba makan di tempat ini, nih.  Rasa sotonya enak enak enak! Bisa pilih, isinya mau daging, babat, paru atau jeroan. Campur juga boleh. Sebagai penggemar paru sejati, saya pun memesan soto betawi paru. Ditambah lagi dengan paru goreng. “Maaaaak, paru gorengnya juga enaaaaaak!” teriak makhluk-makhluk di perut. Emang, sih, paru gorengnya enak banget. Mesti pesan paru goreng lagi kalau suatu waktu makan di tempat ini lagi.


Boooo, makan pake tangan kanan! Inga-inga baliho yang ada di Depok, Booo.. ehehehe..

Serius banget makannya : )

Tapiii, saya harus berbagi paru dengan Boo. Dibanding makan ayam goreng yang sudah kami pesankan untuknya, Boo ternyata lebih suka mengunyah paru + nasi anget. Ternyata makhluk di perut saya dan perut Boo sukanya sama, ya. Hehehe…





Yaya juga memesan soto daging yang pada akhirnya kami bungkus dan dibawa pulang. Terus Mika makan apa dong? Mika sudah saya buatkan pure labu dari rumah. Jadi, Mika tetap bisa makan bersama dengan kami. Dan pure labunya pun habis… bis… bis… (Iyalaaah, labu kabocha kan enak beneeeur. Kalo enggak abis, awas aja, ya. Kabocha mahal Mikaaa! Ahahaha… Becanda, ya, Mika… Cups : )

Mika lahap makan kabocha, Mika, tadi Bubu minta sesuap, ya. Enyaaaak... : )

Sepenglihatan saya, RM ini cukup populer di kalangan orang Cibubur. Terbukti, sih, baru buka pagi aja langsung ramai oleh pengunjung!  Harganya pun cukup terjangkau. Semangkuk soto betawi paru Rp 14 ribu, soto betawi daging Rp 16 ribu, paru goreng Rp 14 ribu (lumayan banyak parunya, tapi teteup kurang kalo buat saya mah..ehehehee..). Di bagian depan rumah makan itu juga ada yang berjualan sosis bakar. Nah, lumayan, tuh, buat cemal-cemil… : )

RM Ibu Haji Cibubur
Jl. Raya Alternatif Cibubur No. 25
(021) 98241730


-Bubu Dit-

Note: Saya bukan reviewer makanan yang baik, deh. Soalnya kalau ditanya makanannya enak apa enggak, biasanya jawaban saya cuma dua. Jawaban pertama: enak!, jawaban kedua: enak enak enak! : ) Saya akan bilang makanan itu enggak enak, kalau benar-benar enggak bisa dimakan. Entah itu mentah, basi, pedesnya gila atau menjijikan bikin mau muntah. Hehehe…



Friday, December 11, 2015

Belajar Ikhlas dari Pak Mungal

Hari gini, mau enggak kita kerja tanpa mendapat bayaran sepeser pun? Kalau saya sudah pasti jawabannya “enggak mauuuuu…” Nanti saya jajan kue cubit bayar pake apaaaa? Beli baju sama bayar arisan komplek gimanaaa? Beli mainan Boo sama Mika pake daun aja apaaa? Hehehe… : )


Saat di Keraton Kasepuhan Cirebon, saya bertemu dengan Pak Mungal. Wajahnya sudah menampakan guratan-guratan keriput, rambutnya pun sudah memutih. Ia memakai setelan beskap putih dengan sarung bermotif mega mendung hijau dan blangkon bermotif serupa. Pak Mungal merupakan tour guide di Keraton Kasepuhan. 




Pak Mungal fasih sekali menceritakan sejarah tempat yang kami kunjungi, ia pun sangat lincah ke sana ke sini. Ada satu yang menarik dari Pak Mungal, ia suka sekali memfoto : ) Dan Pak Mungal senang memfoto kami memakai Iphone diantara kamera handphone-handphone lainnya. “Pakai yang ada gambar apel-nya, ya. Bagus itu!,” katanya. Hihihi, Paaaakkk tahu aja , nih, bapak, handphone yang mahal… : )

Pak Mungal saya rasa berbakat jadi fotografer profesional. Iya, dia sepertinya hobi sekali memfoto dan handal mengarahkan kami bergaya. Saat melihat foto bidikannya pun, hasilnya cukup bagus. : )

Pak Mungal sudah menjadi tour guide selama puluhan tahun. Dan selama itu pula ia ikhlas bekerja tanpa mendapat bayaran. “Seperti abdi dalem keraton, kerja ikhlas saja gak dibayar,” ujarnya. Pak Mungal tentu mengharapkan tip dari pengunjung yang mendengarkan ceritanya untuk kelangsungan hidupnya.

Ya, setahu saya abdi dalem keraton di Solo atau Jogja pun meski menerima gaji tapi gajinya keciiiil sekali. Saya pernah membaca pengalaman abdi dalem yeng mendapat upah hanya Rp 10.000 saja tiap bulannya. Bahkan bayaran mereka suka telat hingga berbulan-bulan lamanya. Apa mereka mengeluh? Ternyata tidak sama sekali. Mereka senang bisa mengabdi pada keraton, bekerja di sana merupakan suatu kehormatan. Tak digaji pun tak apa-apa.  Mereka bekerja karena loyalitas yang tinggi dan rasa ikhlas yang luar biasa. Bisakah kita seperti itu?

Dari Pak Mungal saya belajar arti keikhlasan. Terima kasih, ya, Pak, di zaman yang serba materialistis ini, masih ada Bapak sebagai pengingat bahwa materi bukan segalanya.


(Tiba-tiba tulisan saya jadi bijak sekali kali ini, ya… : ) Belajar apapun, bisa di mana pun dan dari siapa pun… : ))


-Bubu Dit-



Tuesday, December 8, 2015

Penginapan: Hotel Priangan Cirebon

Berencana liburan ke Cirebon dan mencari hotel budget yang strategis terletak di pusat kota? Saya merekomendasikan Hotel Priangan ini sebagai tempat beristirahat setelah lelah keliling kota Cirebon seharian.




Lokasi
Hotel ini berada di Jalan Siliwangi, termasuk jalan utama di kota udang. Tepat di depan hotel terdapat Toserba Yogya, di sebelah kirinya ada Dunkin Donuts dan Indomaret. Letak hotel ini juga dekat sekali dari Stasiun Kejaksan, Cirebon. Cukup 10 menit naik becak kita sudah bisa sampai di hotel dari stasiun.

Jika pada malam hari ingin menikmati suasana kota Cirebon, alun-alun Kejaksan dapat ditempuh dengan berjalan kaki dalam waktu singkat! Strategis banget, kan. Kemana-mana dekat. Apalagi kalau bepergian dengan anak kecil, jika tiba-tiba butuh sesuatu (pampers, cemilan atau lainnya) bisa ke Indomaret atau Yogya. : )

Harga
Harga cukup terjangkau dan bersahabat dengan dompet, deh. Saya menginap di kamar VIP. Harga per malam Rp 300 ribu-an. Eits, dengan harga tersebut, kamar VIP yang disediakan cukup untuk empat orang, lho, karena terdapat dua queen size bed di dalam kamar. Lumayan, kan!

Interior & Eksterior
Kamar yang saya inapi cukup luas, di dalamnya terdapat tv layar datar, lemari baju, meja panjang, meja kecil, kursi, dan kulkas (yes, ini kulkas ber-frezeer penyelamat untuk menyimpan empal gentong oleh-oleh untuk Yaya.. : ) hehehe). Interior kamar hampir keseluruhan dari material kayu.  Terdapat kamar mandi yang tidak terlalu besar dan handuk juga disediakan meskipun terlihat handuk lama. Siap-siap saja untuk membawa perlengkapan mandi, ya. 





Saya menyukai bagian luar hotel dimana terdapat taman dan kolam ikan yang cukup menyejukkan mata saat duduk di teras depan kamar. Sayangnya, posisi kamar saya berada di bagian depan dan tidak langsung menghadap ke taman. Jadi, saat kita memasuki hotel ini langsung ada kamar-kamar yang berjejer dan berhadap-hadapan, setelah itu baru terlihat lobi hotel kemudian kamar-kamar lagi dengan taman di depannya. 



Food and Beverage
Sebagai hotel budget, hotel ini juga cukup minimalis dalam menyajikan hidangan bagi para tamu. Saat malam hari, kami ditelpon oleh pihak hotel yang menanyakan apa yang kami inginkan untuk sarapan besok pagi. Pilihannya hanya tiga: nasi goreng, mie goreng, dan roti bakar. Saya menjatuhkan pilihan pada mie goreng. Dilengkapi dengan telor ceplok, rasanya standar saja. Porsinya juga tidak terlalu banyak. Buat saya, sih, kuraaaang. Hahaha… 
Saya pun melihat buku menu yang ada di kamar. Yah, memang hanya itulah yang disediakan oleh hotel. Sementara, untuk minuman ada air mineral (disediakan aqua galon di dispenser hotel untuk tamu), teh, kopi, minuman ringan. Tidak banyak yang disediakan, kan. Tapi jangan khawatir, kalau mau makan yang lain, tinggal jalan saja keluar hotel. : )


Hotel Priangan Cirebon:
Jalan Siliwangi No. 108, Jawa Barat 45123
(0231) 202929 


-Bubu Dit-


Friday, December 4, 2015

Tips Naik Kapal Laut dengan Batita

Boo pernah menyeberang laut (selat –lebih tepatnya) dengan kapal. Saat berusia 2 tahun 2 bulan, Boo ikut Yaya Indro ke acara family gathering kantor Yaya di Kalianda, Lampung. Untuk menuju ke sana Boo harus naik kapal dari Merak, Banten.  Saya sendiri enggak ikut karena belum pede mau bawa adiknya yang saat itu masih 2 bulan. Jadi, Boo naik kapal bersama Yaya-nya, Atung-nya (Eyang Kakung), dan Om-nya. Saya hanya bisa melihat keseruan Boo naik kapal laut dari foto-foto yang dikirim Yaya… : )





Nah, karena saya enggak ikut serta dalam perjalanan Boo naik kapal, berikut ini tip-tip yang diberikan Yaya Indro saat membawa batita naik kapal laut. 

  • Perut kenyang. Yes, usahakan sebelum naik kapal agar anak makan terlebih dahulu supaya kenyang. Kalau perut kosong, anak lebih sering rewel dan bisa mual di perjalanan.  Tapiii makannya juga jangan berlebihan.
  • Pakai Jaket. Angin laut itu katanya, sih, kencang banget, ya. Jadi, usahakan anak pakai jaket biar enggak masuk angin. Saat pergi pulang naik kapal, saya siapkan jaket tebal berbahan fleece lembut untuk dipakai Boo. Sudah pakai jaket saja, saat pulang dari Lampung Boo sempat masuk angin : (  
  • Bawa Antimo. Ini persiapan kalau anak tiba-tiba mabuk di kapal. Sekarang sudah ada antimo untuk anak. Tapi mungkin bisa konsultasi ke dokter anak dahulu, ya, sebelum berangkat.
  • Bawa minyak-minyakan. Boo masih pakai minyak telon, tap bawa juga minyak kayu putih supaya kalau dipakai lebih hangat di badan.
  • Bawa makan & minum. Jangan lupa bawa bekal makan (makanan berat, makanan ringan camilan/snack kesukaan anak, buah) dan minum (air putih – harus – dan  susu jika perlu).
  • Bawa mainan favorit. Nah, mainan cukup sukses membuat Boo sibuk saat ia sudah merasa bosan di kapal. Saat pergi naik kapal Boo membawa mainan alat gambar yang bisa dihapus itu, tuh. Boo senaaang sekali corat-coret hapus, corat-coret lagi, hapus lagi… : )
  • Bawa bantal. Kalau bepergian Boo selalu membawa bantal yang empuuuk. Hehe… Bantal ini dibawa supaya kalau tidur di perjalanan kepalanya enggak pegal.
  • Bawa baju ganti, pampers, tisu basah. Kalau ini, sih, benda wajib yang memang harus selalu dibawa kemanapun, ya.
  • Bawa plastik yang agak banyak. Selain untuk tempat baju kotor, plastik juga bisa dipakai untuk jaga-jaga jika anak mabuk perjalanan dan muntah.

  • Paling penting: selalu lihat dan perhatikan kondisi anak, ya. Cek apakah ia merasa nyaman di kapal atau tidak. Selalu temani kemanapun anak bergerak. Di kapal, memang disediakan tempat duduk, namun Boo selalu ingin jalan-jalan keliling kapal. : ) Jadi, harus selalu diawasi baik-baik.
 


Nah, sudah siap naik kapal bersama anak? Saya juga mauuuuu! : )  


-Bubu Dita & Yaya Indro-