Friday, January 29, 2016

Drama Gelap Gulita di Kamar Hotel

Ini pengalaman pertama sepanjang saya menginap di hotel. Pengalaman yang enggak akan mau terulang lagi di kemudian hari. Pengalaman enggak enak, tapi bisa jadi bahan cerita di blog ini. Pengalaman yang….. aaaah bikin hati deg-degan maaaakkkk!


Jadi, begini ceritanya….

Saat weekend gateaway di Bogor, kami menginap di sebuah hotel Jalan Padjadjaran, dekat sekali dengan Kebun Raya. Hotelnya lumayan oke, kamar superior agak luas dengan furniture yang masih terbilang baru. 

Kami datang check in di Sabtu sore. Nah, setelah istirahat sejenak dan merapikan barang-barang, Yaya Indro ingin mencari makan malam. Pilihan pun jatuh ke Kedai Kita yang terkenal dengan pizza bakarnya. Tadinya, saya juga mau ikut. Tapi kondisi di luar agak mendung dan Mika juga sudah mengantuk. Saya pun urung ikut. Akhirnya Yaya pergi dengan Boo saja, tak lupa membawa payung.   “Makan buat aku take away aja, deh, yaya,” kata saya pada Yaya. “Oke,” balas Yaya. Asiiikkk udah enggak sabar makan pizza bakar! Nom…nom…nom… 

Menjelang maghrib mereka belum kembali ke hotel. Mika masih menyusui dalam dekapan saya, namun matanya sudah tertutup. Woalah, si bungsu sudah tidur. Sambil menyusui, saya bermain handphone. Tiba-tiba…..

Ceklek…. Keadaan kamar menjadi gelap gulita seketika!!! Huaduuuhhh, kenapa iniiii? Saya langsung panik, tapi blank, kosong, bingung mau berbuat apa! 

Maaf, ya, kali ini gambarnya benar-benar gelap
Dari dalam kamar, saya mendengar sayup-sayup suara orang di koridor luar. Saya mau beranjak, namun Mika masih di posisi yang sama, masih menyusu. Saya enggak bisa kemana-mana. Saya melihat jam di handphone sudah pukul 18.18. Saya pikir hanya kamar ini yang mati listrik, ternyata seluruh kamar juga mati listrik. Saya langsung telepon Yaya. Ia dan Boo masih ada di Kedai Kita. Di sana pun mati listrik. Saya merasa lega sedikit. 

Sedikit cahaya masuk dari jendela yang gordennya tersingkap. Saya bisa menggapai telepon yang ada di atas meja sebelah kasur, setelah membaringkan Mika tepat di samping saya. Saya menelepon lobi hotel, resepsionis meminta maaf atas ketidaknyamanan yang saya rasakan. Mereka sedang berusaha untuk menyalakan listrik dengan genset hotel. 10 menit berlalu, listrik masih mati, kamar masih gelap. Cahaya dari luar jendela mulai meredup. 

Kami menempati kamar superior twin bed. Saya selonjoran di kasur yang menempel tembok. Mata ini rasanya mau merem aja. Tapi tergelitik untuk melihat ke kasur di sebelah. Lihat enggak, yaaa? Duuhh… penasaran. Saya ini orang penakut tapi suka penasaran. Saya pun melihat ke kasur di sebelah dan syukurlah enggak ada apa-apa atau siapa-siapa... : ) Tapi hati ini masih deg-deg seeerr. Yayaaaaa… Booo… cepetan pulang, dooonng! : (

Caaasss, 5 menit berlalu, lampu pun menyala dan serta merta saya mengucap syukur. Saya juga bersyukur Mika sudah terlelap dan enggak bangun saat keadaan kamar sangat gelap. Lega rasanya! Semakin lega saat Yaya dan Boo kembali sambil membawa pizza bakar. Hihihi… : ) Rasanya malam itu jadi malam terpanjang dalam hidup sayah, deh. Fiyuuuhhh…   




-Bubu Dita-


Wednesday, January 27, 2016

Kehujanan di Car Free Day Bogor

Kota Bogor selalu ngangeni di hati. Kenapa? Saya suka sekali dengan suasana di daerah sekitaran Kebun Raya. Masih banyak pohon yang bikin adem!  Apalagi kalau ke sana setelah hujan membasahi pohon dan tanahnya, wah, makin adeeem… 


Saat teman kantor yang tinggal di Bogor akan mengadakan  farewell party karena pensiun, saya ingin mengajak Boo dan Mika untuk menikmati keademan kota Bogor di saat weekend. Rencana pun berjalan lancar, kami sekeluarga menginap di hotel yang dekat sekali dengan Kebun Raya.

Minggu pagi yang agak sedikit mendung, kami mulai menikmati car free day di kota Bogor dari Jalan Jalak Harupat. Saat jam menunjukkan pukul 7 pagi, sudah cukup banyak orang yang sama-sama menyusuri jalan ini bersama kami. Waaah, rasanya segar sekali! Kami dikelilingi pepohonan tinggi Kebun Raya. Adem!  





Saya dan Yaya Indro memutuskan untuk membawa stroller supaya bisa dipakai Kakak Boo. Kami khawatir jika suasana car free day terlalu ramai dan hemat tenaga gendong si Kakak juga, sih : )  Sedangkan untuk Mika, saya memakai gendongan Ergo Baby, gendongan andalan! Hehe… : ) Keputusan mendudukkan Boo di stroller tampaknya menjadi keputusan tepat! Sesampainya di pusat car free day, yaitu Lapangan Sempur, terlihatlah lautan manusia! 





Apa saja yang orang-orang Bogor lakukan di sini? Banyak banget! Ada yang lari, senam, naik sepeda (banyak komunitas sepeda), main skateboard, main in line skate, minta sumbangan, main alat musik tradisional, dan sebagainya. Dan tentu saja banyak juga yang lagi menyantap sarapan! Yes, tukang jajanan di Lapangan Sempur banyak banget. Mau makan apa tinggal pilih. Soto, bubur, batagor adaaaa. Hehehe… Kami duduk sejenak untuk makan bubur bersama. Rasa buburnya, yaa lumayanlah. : )




Setelah makan, kami langsung beranjak menuju jalan yang mengelilingi Kebun Raya hingga Istana Bogor. Saya ingin mengajak Boo memberi makan rusa dari pagar halaman Istana Bogor. Namuuuun, belum juga sampai istana Bogor, tiba-tiba tik… tik… tik bunyi hujaaaaan. Belum hujan, sih, masih gerimis. : ) Untung banget saya membawa payung ungu kesayangan. Yang penting Boo dan Mika tidak terkena titik-titik hujan. Setelah Istana Bogor terlihat dan ada banyak rusa di dalamnya, hujan pun turun dengan intensitas lebih banyak! Wuaduuuh, panik… panik!




Akhirnya, belum sempat memberi makan rusa, kami naik angkot menuju hotel. Tapi sepertinya Allah memang menakdirkan Boo untuk memberi makan rusa, deh. Ya, kami salah naik angkot setelah beberapa meter angkot itu jalan. Kami pun turun dari angkot saat hujan tiba-tiba berhenti. Dan di depan kami turun, ada seorang bapak penjual wortel dan kangkung. Hihihi… Yaya membeli kangkun dan wortel seharga Rp 5000. Saya lupa, deh, dapat berapa ikat kangkung dan berapa batang wotel. Hmm, enggak sabar mau feeding rusa, nih. Rusaaaaa, yuk, maem, yuuuk! : )

Di saat adik Mika tertidur lelap di gendongan, Boo bersama Yaya memberi makan rusa. Wuah, Boo girang bukan kepalang. Awalnya, ia sedikit takut, tapi lama-lama Boo berani sekali memberi wortel ke rusa dan juga mengelus kepalanya! Sehat-sehat, ya, rusaaaa… 







Selesai memberi makan rusa, tiba-tiba hujan turun lagi. Huaaah, kami langsung terbirit-birit mencari angkot yang benar menuju hotel. Setelah aman duduk di angkot, saya bisa menikmati kesejukan Bogor. Hehe… saya dalam hati ketawa, pengalaman pagi ini luar biasa seru karena… hujan! : )


Terima kasih hujan.

Terima kasih Bogor.

Pagi kami jadi asyik!  : )



-Bubu Dita-




Tuesday, January 12, 2016

Cafe Batavia Jakarta

Dari dulu setiap ke Kota Tua Jakarta, rasanya pingin banget mampir ke Café Batavia. Tapi keinginan itu enggak pernah kesampaian. Nah, saat tahun baru 2016 ke Kota Tua, kesempatan untuk menikmati makanan dan suasana tempo dulu di Café Batavia akhirnya datang juga. Hehehe…


Kami memilih untuk duduk di sofa area depan. Ini tempat yang pas bagi kami yang membawa dua batita. Apalagi tas yang kami bawa pun cukup banyak. Jadi, dua sofa besar yang kami tempati sesuai dengan kebutuhan. Di area depan pun suasananya lebih terang daripada di dalam. 





Suasana Jakarta tempo dulu memang bisa langsung kita rasakan begitu memasuki café ini. Interior di dalamnya mendapat sentuhan zaman kolonial. Meja kursi kayu dengan pintu besar dan jendela kayu serta banyak sekali foto-foto selebritas dan petinggi yang berjejer rapi di dinding café. Saya tidak sempat melihat ke lantai dua, tapi saya rasa suasana masa lampaunya pun tak jauh berbeda. 





Saya sempat kaget banget saat memasuki toiletnya. Begitu pintu toilet saya tutup, tiba-tiba di depan saya ada orang! Wuaduh gimana mau pipis iniii, kok ada orang lain. Itu orang atau “orang?” Eh, ternyata itu orang diri saya sendiri! Hihihi... Iya, di dalam toilet ternyata ada kaca besar yang menutupi satu sisi dinding. Duh, kaget! : )

Soal makanan, Cafe Batavia menyediakan menu barat yang cukup lengkap, mulai dari sandwich, pasta, soup, steak, dan lainnya. Untuk menu Asia juga banyak pilihan, lho. Ada tom yum, bubur, kwetiaw, mie, gado-gado, dim sum, sate, rendang, dan masih banyak lagi.

Kali ini kami memesan soto ayam, nasi goreng, dan crispy fish and chips dengan saus tartar. Minumnya cukup jasmine tea di pot yang bisa untuk 3 orang serta bajigur. Untuk rasa, lumayanlah bajigurnya yang paling nikmaaaat). Nah, untuk harga, mahaaaal… Ahahaha jujur amat, ya.  : ) Soto ayam + nasi Rp 65K, nasi goreng pakai udang goreng kecil 2 + ayam goreng kecil + sate 2 tusuk Rp 85K, crispy fish and chips (ikan dori) Rp 120K. Harga memang relatif buat masing-masing orang. Tapi buat makanan dengan taste seperti yang saya rasakan dibandingkan dengan porsi dan harganya jadi bisa saya bilang mahal. Tapiiii, alhamdulillah ini ditraktir.. Hihihi... : )  




Boo sempat mencoba sate satu suap, serta nasi goreng dan kentang goreng beberapa suap. Anak ini sepertinya lebih tertarik dengan interior café dibanding makanannya : ) Berkali-kali, Boo hilir mudik dari tempat kami duduk di bagian depan café ke bagian dalam café yang kurang terang. “Bu, ada patung badan, bu!” kata Boo sambil menunjuk ke atas. Hoalah, ternyata memang ada cetakan replika bagian dada manusia berwarna emas di salah satu sudut café. Boo bahkan sempat naik ke panggung! (Dan segera saya gendong biar turun… : ) Adiknya, Mika, sepertinya juga menikmati suasana santai di café ini sambil makan MPASI-nya.. Hehe : ) 






Akankah kami akan kembali lagi ke café ini? Mungkin, buat nongkrong-nongkrong lumayan asyik, kok, tempatnya. : )

-Bubu Dita-

Thursday, January 7, 2016

Tahun Baru di Kota Tua

Bagi saya Kota Tua Jakarta itu tempat yang sangat ngangenin. Sampai sekarang, saya masih ingat, lho, jalan-jalan sama Papa cuma berdua aja waktu masih SMP ke Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), Museum Bahari, sampai melihat deretan kapal-kapal di Pelabuhan Sunda Kelapa. Pulang pergi dari rumah Eyang saya di Kebayoran Baru ke Kota Tua naik bis… : ) Saya juga masih ingat jalan-jalan sama teman-teman kuliah ke seputaran Kota Tua. Jalan-jalan disini berarti harafiah, ya. Jalan kaki beneran sampai gempoooor keliling-keliling Kota Tua… : )  





Saat menjelang libur tahun baru 2016, Mama saya nanya “mau ngajak Boo sama Mika jalan-jalan ke Kota Tua, deh, boleh enggak?” Boleeeeh, boleh banget dengan senang hati Mamaaa… Hihihi : ) Saya pun sudah lama sekali enggak menapakkan kaki di Kota Tua Jakarta. Pasti suasananya sekarang sudah semakin ramai!

Ya, perkiraan saya tepat sekali. Begitu memarkirkan mobil tak jauh dari kawasan Kota Tua, kami langsung menuju ruang publik di depan Museum Sejarah Jakarta. Banyak sekali manusia yang memanfaatkan hari libur di tempat ini! Saya kira segala lapisan, golongan masyarakat ada di tempat ini. Tua muda ada. Orang asing pun beberapa kali saya perhatikan sedang berjalan-jalan di sini. 



Di depan Museum Sejarah Jakarta, saya bisa melihat banyak orang yang mencari uang dengan memakai kostum dan mengajak pengunjung berfoto bersama. Ada barongsai, Noni Belanda, Doraemon, Naruto, BoBoBoi, Masha, sampai ada yang pakai kostum Nenek Lampir cobaaaa… : )




Pengunjung juga ada yang tampak berseliweran mengendarai sepeda onthel warna-warni. Huaduh, kalau suasana ramai banget seperti ini agak susah untuk memacu sepeda, ya. : )

Karena kami datang agak siang sekitar pukul 11, cuaca pun panasnya bukan main. Tak lama berkeliling di plaza, kami langsung menuju Café Batavia untuk makan siang sekaligus menunggu Yaya Indro yang sholat Jum’at. Karena agak lama berada di sana, Boo pun mulai enggak sabar. Beberapa kali Boo meminta keluar untuk melihat keramaian. Enggak cuma itu, Boo juga minta berfoto bersama Doraemon dan panda! Hihihi… 






Sepertinya Boo tampak menikmati keramaian di Kota Tua. Mungkin di lain waktu saya akan mengajak Boo ke tempat ini lagi untuk masuk ke dalam berbagai museum yang ada di Kota Tua. Nah, kalau Boo menikmatinya, bagaimana dengan Mika? Meskipun ramai dan panas, Mika cukup tenang di dalam dekapan saya. Senangnya mengajak bayi ini jalan-jalan. Bebas stres karena Mika enggak rewel sama sekali. Yeaaay… Hehehe… 



 
Tip:

  • Bawa topi dan payung. Wajib, mesti, kudu, harus!
  • Siap-siap enggak dapat tempat parkir mobil kalau kondisi lagi ramai. Saran saya semoga Pemerintah DKI menyediakan tempat parkir yang lebih representatif bagi pengunjung Kota Tua Jakarta. Tempat parkir yang dekat dengan Museum Sejarah Jakarta, terutama parkir mobil terbatas sekali. Saya pikir kami bisa parkir karena lagi beruntung : ) Jadi, paling enak naik Commuter Line dari Depok ke Kota Tua. : )
  • Siap-siap bawa uang kecil (eh, uang besar juga boleh, sih.. hehe) jika sewaktu-waktu si Kecil mau berfoto dengan karakter-karakter berkostum di sana, ya. Hehe…


 -Bubu Dita & Yaya Indro (foto)-