Monday, February 22, 2016

Kemeriahan Pasar Gede Solo Saat Imlek

Setahun sekali Pasar Gede Solo bersolek. Ribuan lampion dipasang menghiasi jalan. Malam menjelang, lampu lampion dinyalakan, tapi di siang hari pun suasana Pasar Gede saat menjelang Imlek sampai Cap Go Meh tetap meriah dengan warna merah menyala.

Mengajak Boo ke Pasar Gede Solo saat menjelang Imlek menjadi kebahagiaan tersendiri baginya. Boo penyuka lampion dan barongsai! : ) Matanya seperti enggak berkedip melihat banyaknya lampion di tempat ini. 







Awalnya kami berniat ke Pasar Gede untuk menaiki perahu yang melewati aliran sungai di dekat Pasar Gede. Bahkan di sepanjang aliran sungai, lampion-lampion juga berjejer rapi sebagai hiasan. Menarik sekali!  Namun saat kami sampai di siang hari, perahu sedang tidak beroperasi. Hal tersebut enggak menyurutkan langkah kami untuk mengeksplorasi daerah Pasar Gede. Kami sempat melihat klenteng bersejarah dan wisata kuliner di tempat ini! : )






Klenteng Tien Kok Sie




Aroma dupa sudah tercium bahkan dari luar klenteng Tien Kok Sie yang letaknya ada di seberang sisi kiri Pasar Gede. Klenteng ini juga tak mau kalah bersolek. Hiasan lampion juga membuat suasana klenteng tambah semarak. Apalagi ada patung naga dan monyet persis di depannya yang jadi ajang foto-foto bagi warga, termasuk Boo! Hihihi… Boo, si penyuka kerajinan patung dan semacamnya langsung sumringah begitu melihat patung naga dan monyet besar di depan klenteng ini. Boo sampai naik ke atasnya untuk minta difoto… : ) 






Sayangnya kami enggak sempat untuk masuk ke dalam klenteng ini. Klenteng Tien Kok Sie merupakan bangunan bersejarah berusia ratusan tahun dan masuk ke dalam Benda Cagar Budaya (BCB). Berdiri di pusat kawasan ekonomi kota, Klenteng Tien Kok Sien tampak menyempil diantara bangunan besar di sekelilingnya. 



Kuliner
Ke Pasar Gede Solo enggak lengkap rasanya kalau belum mencoba Dawet Selasih Bu Watik. Tempatnya berada di dalam Pasar Gede, melewati berbagai penjual sayur, daging, dan sebagainya! Seruuu… : ) Kiosnya kecil, bahkan tempat duduk untuk pembeli juga enggak banyak, tapi tenyata penggemar dawet selasih ini banyak jugaaaa! : ) Sepertinya pembeli enggak berhenti datang. Pembeli pergi, pembeli baru datang dengan pesanan enggak hanya satu bungkus saja.  





Harga satu porsinya Rp 7500,- disajikan dengan mangkok kecil. Buat saya makan satu porsi, sih, kurang! Hehehe… Boo bahkan terlihat menikmati es dawet ini sampai tetesan terakhir! Hihi…  



 Beda dengan dawet pada umumnya, sesuai dengan namanya, dawet ini memakai biji selasih dan rasanya juga enggak terlalu manis. Selain selasih, dawet ini berisi butiran-butiran cendol, ketan hitam, dan tape yang dipadukan di dalam kuah santan encer dan es. Oya, selain Dawet Selasih Bu Watik ada juga penjual dawet selasih lainnya. Kuliner yang wajib dicoba, nih, buat yang baru pertama kali ke Pasar Gede biar enggak penasaran.  : )  


-BubuDita-


Friday, February 19, 2016

Solo Day 2: Ke Tempat Snorkeling Hingga Bermain Bersama Rusa!

Setelah menikmati imlek di kota Solo seperti yang saya ceritakan di postingan ini, pada hari kedua kami mulai bertualang ke luar kota Solo. Ternyata ada beberapa tempat wisata yang asyik untuk dikunjungi. 


Umbul Ponggok Klaten
Tempat ini sepertinya lagi nge-hits, deh. Saya beberapa kali melihat postingan di sosmed mengenai tempat wisata yang unik ini. Unik gimana? Yes, di tempat ini kita bisa snorkeling, lho, padahal tempat ini bukan laut! Umbul Ponggok merupakan kolam mata air alami dengan kedalaman mencapai 3 meter. Berbagai ikan warna-warni bisa kita lihat di dalamnya. Bagian dasar kolam ini pun berupa pasir dan bebatuan. Harga tiket masuknya cukup murah, Cuma Rp 5000,-! :  )



Kebon Ace
Enggak terlalu jauh dari Umbul Ponggok, ada  Kebon Ace atau kebun rambutan. Di tempat ini memang terdapat banyak pohon rambutan dengan kios-kios non-permanen yang menjual rambutan. Berasa di pasar buah!

Kampung Lele Boyolali
Boo suka banget melihat ikan. Waktu mau diajak ke tempat ini, ia berceloteh sepanjang perjalanan, “lelenya mana, Bu?” Dan celotehan itu berkali-kali ia ucapkan! :  ) Saat sampai di Kampung Lele ini, Boo pun melihat banyak sekali ikan lele di empang-empang. Dia makin senzng karena ada beberapa kambing yang sedang makan rumput di seputar empang. Peternakan lele ini menghasilkan berbagai macam produksi pangan, seperti keripik kulit lele, keripik daging lele, abon lele, dan lainnya. Kreatif, ya!




Rumah Makan Adem Ayem
Setelah dari pagi berkeliling Klaten dan Boyolali, menjelang siang kami kembali ke kota Solo untuk makan siang. Kali ini kami mencoba menu di rumah makan Adem Ayem di Jalan Slamet Riyadi. Tempat yang sudah berdiri sejak 1969 ini menyajikan gudeg Solo sebagai signature dish-nya. Tapi selain gudeg masih banyak bangeeet menu yang tersedia di resto ini. Harganya enggak murah, tapi masih terjangkau, kok. 
Mencoba menu selain gudeg di RM Adem Ayem. Satu posri cah daging ini bisa untuk 2 orang.


Taman Balekambang
Setelah kenyang, perjalanan mengelilingi Solo berlanjut ke Taman Balekambang di daerah Banjarsari. Huaaahhh di siang yang cukup terik, mengunjungi taman ini sepertinya jadi pilihan yang pas. Terdapat banyak pohon besar yang menyejukkan. Ada permainan anak dan yang paling kami suka dari tempat ini adalah rusa-rusa yang dibiarkan bebas. : ) Boo suka sekali tempat ini! Apalagi untuk masuk ke Taman Balekambang tidak dipungut biaya, lho. Asyiiikk…





Bandara Adi Soemarmo
Sebenarnya kami kembali ke Jakarta masih keesokan hari, tapi kami mampir ke Bandara Adi Soemarmo untuk mengantar kakak saya (tante Dini) yang harus kembali ke Jakarta karena besok sudah harus kerja, enggak bisa cuti dari kantornya. Mumpung santai di bandara, Boo pun senang sekali naik troli dan eksis! Hihihi….





-Bubu Dita-

Solo Day 1: Ke Car Free Day Hingga Menikmati Becak Kelap-kelip

Akhirnyaaaa, kesampaian juga mengajak Boo dan Mika liburan ke Solo, kota kesayangan saya selain Depok… Hehehe… Liburan kali ini terasa spesial. Kami enggak cuma pergi berempat, Eyang Kakung, Eyang Ti, Tante Dina, dan Tante Dini pun ikut serta. Selain itu, liburan ini juga bertepatan dengan  Imlek. Ternyata kami enggak salah memilih Solo sebagai destinasi! Perayaan Imlek di kota Solo sungguh meriah! Di kawasan Pasar Gede lampion bertebaran di mana-mana. 

Selain ke Pasar Gede kami juga jalan-jalan ke tempat wisata lainnya. Ke mana saja kami selama di Solo dan sekitarnya? Ini cerita traveling kami di hari pertama.


Stasiun Balapan
Argo Lawu yang kami naiki dari Gambir sampai di Stasiun Solo Balapan menjelang Subuh. Saudara kami di Solo (Tante Reny) sudah datang untuk menjemput. Halllooo Solooo… : )

Rumah Saudara
Untung banget kami punya saudara di kota yang kami singgahi untuk traveling kali ini. Saat belum bisa check in hotel, kami beristirahat sejenak sambil membersihkan diri di rumah Tante Reny.  Pagi ini kami makan kuliner khas Solo, yaitu nasi liwet. Duuuh, saya penggemar nasi liwet dari dulu. Eyang yang sekarang sudah enggak ada pasti menyiapkan menu ini setiap pagi saat saya liburan di Solo waktu saya masih kecil. Kangennya…

Car Free Day Slamet Riyadi
Kami tiba di Solo tepat di hari Minggu. Yes, kota Solo juga punya car free day setiap Minggu! Lokasinya ada di Jalan Slamet Riyadi, enggak terlalu jauh dari rumah Tante Reny. Setelah makan, mandi, dan melepas penat, kami mulai jalan-jalan di car free day! Yeeaay…! 



Ada baby owl!

Saya baru tahu ternyata ada Hari Kliping Nasional. : )

Pasar Gede
Ini dia pusat perayaan imlek di kota Solo. Lampionnya banyak bangeeeet! Boo tentu saja senang melihatnya. Mulutnya enggak berhenti bicara. “Buu, Yaya, ada naga!” “Buu, Yaya, lampionnya wayna (warna) mehah (merah).” “Buu, Yaya, ada  naga, tikus, babi, ……” (dia lagi melihat lampion berbentuk shio. : ) “Buu, yaya ada hanoman!” 




Soto Gading
Siang menjelang, kami pun lapar! Hehe… Soto gading jadi pilihan utama untuk makan siang. Soto ini terkenal banget! Harganya murah hanya Rp 7000 semangkok soto dengan nasi. Pilihan satenya pun juga banyak (daging, paru, kerang, usus, bahkan ada sate-satean untuk vegetarian). Tapiii saya enggak kesampaian makan sate paru yang jadi favorit saya karena sudah habis! Tempat makan ini memang laris manis, ramai pengunjung dari pagi hari. Presiden Jokowi ternyata juga gemar makan soto di tempat ini! Nikmat, maknyuuus…



Soto gading + MPASI Mika : )

Hotel Dana
Setelah makan siang, kami menuju Hotel Dana, tempat kami menginap selama 2 malam. Hotel ini ada di Jalan Slamet Riyadi. Berada di pusat kota, strategis banget! Kami kembali beristirahat. Sore harinya ada banyak saudara yang mengunjungi kami di hotel. : ) 



Taman di bagian dalam Hotel Dana

Alun-alun
Selepas maghrib, waktunya jalan-jalan lagiii… Hehehe… Kali ini kami mengajak Boo dan Mika ke Alun-alun Kidul Keraton Solo. Malam hari di tempat tersebut diramaikan oleh becak kelap-kelip. Boo pingin banget menaikinya. Walaupun sudah mulai ngantuk, tapi ia tetap semangat naik ke becak dengan bentuk bis itu. Kok bis? Lihat aja gambarnya di bawah yaaa… Hehehe…

Becak kelap-kelip yang katanya kayak bis! : )

Ada tempat duduk di atas, seperti Double Decker! Becak ini bisa memuat 8 orang termasuk mas yang punya becak itu. Sekali putaran Rp 20 ribu, sedangkan becak yang lebih kecil dengan bentuk helikopter, mobil, angsa, dan bentuk lainnya dibanderol Rp 15 ribu/putaran. Selesai naik becak, Boo agak rewel. Ternyata ia sudah mengantuk dan tertidur pulas di dalam mobil setelahnya. Begitu pula dengan adiknya, Mika, tidur pulas di pelukan saya. : )



Wedangan Manahan
Malam hari ini kami akhiri dengan minum wedang ronde di daerah Manahan. Hmm… hangatnyaaa… 


Hari kedua kami di Solo lebih seru lagi. Ada tempat wisata asyik untuk anak-anak dan tanpa biaya alias free! Cihuy!


-Bubu Dita-


Friday, February 12, 2016

Belajar Batik di Kampoeng Batik Palbatu Jakarta

Geliat perkembangan batik di negara kita semarak sekali.  Beberapa kali saya ke Pusat Batik di Thamrin City, rasanya enggak mau pulang dan ingin memborong semua produk batik yang saya suka – tapi apa daya  isi dompet tak sampai… hihihi. Bangga, kan, memakai batik. Apalagi batik yang dibuat secara handmade.
 
Indonesia punya beberapa kampung batik. Di Solo ada Kampung Batik Laweyan dan Kauman. Yogyakarta mempunyai Kampung Batik Ngasem. Di Cirebon ada Kampung Batik Trusmi. Sidoarjo terdapat Kampung Batik Jetis. Ada juga Kampung Batik Lasem di Rembang. Bagaimana dengan ibu kota Jakarta?

Ternyata Jakarta pun tak ketinggalan dengan daerah penghasil batik lainnya, lho. Di daerah Tebet, Jakarta Selatan terdapat Kampoeng Batik Palbatu! Kampung batik ini mulai dirintis sejak 2011. Pengrajin-pengrajin batik dari Jawa didatangkan khusus untuk mengajar membatik para warga di Palbatu dan sekitarnya. Tujuannya untuk melestarikan budaya batik di kalangan masyarakat. Beberapa warga pada akhirnya bisa membatik bahkan ada yang membuka usaha batik secara mandiri.



Hingga kini, tujuan itu terus dipupuk dengan mengajak generasi muda, terutama anak-anak untuk gemar membatik. Setiap akhir pekan, Rumah Batik Palbatu yang berada di kawasan Kampoeng Batik mengadakan workshop membatik gratis bagi anak-anak di sekitar Palbatu. Peminatnya lumayan banyak. Saat saya ke sana, ada sekitar 12 orang yang asyik membatik. Mereka semua ternyata sudah beberapa kali mengikuti workshop membatik di tempat ini. Senang sekali saya melihat anak-anak ini begitu antusias membatik. : )



Anak-anak belajar membatik. Seru, deh!


Jika ingin mengajak anak kita membatik pun bisa banget, lho. Biayanya Rp 100.000,- dengan durasi 2 jam untuk belajar batik sederhana dari mulai memindahkan pola batik, menyanting hingga pewarnaan dengan metode colet. Selain itu ada juga workshop dengan metode pewarnaan celup sampai pelorodan malam dari kain yang dikenakan biaya Rp 200.000 dengan durasi yang lebih lama. - Harga per Februari 2016.  



Ini batik bikinan saya... Hehe : )


Ketika saya bersama Ibu Ani (pengajar di Rumah Batik Palbatu) berkeliling Kampoeng Batik ini, mata saya takjub melihat beberapa hiasan tembok rumah warga yang digambar dengan motif-motif batik. Keren, deh! 





Tulisan saya mengenai Kampoeng Batik Palbatu ada di Majalah Disney Junior Indonesia edisi 90. Di feature tersebut, kita bisa melihat bagaimana seriusnya dan asyiknya anak-anak Palbatu belajar membatik… : )   

Kampoeng Batik Palbatu di Majalah Disney Junior Indonesia.



Rumah Batik Palbatu
Jl. Palbatu IV No. 17 Menteng Dalam
Tebet, Jakarta Selatan
www.kampoengbatikpalbatu.com


-BubuDita-