Wednesday, August 31, 2016

Rasa Italia Suasana Sunda di Kampung Daun Lembang Bandung


Dari sekian banyak restoran di Lembang, Bandung, Kampung Daun menjadi salah satu destinasi kuliner yang patut dicoba! Pada awalnya saya merasa biasa saja saat akan ke Kampung Daun. Namun begitu sampai dan menelusuri berbagai sudutnya, saya jadi jatuh cinta pada restoran ini dan rasanya ingin kembali lagi. 




Saya dan keluarga sampai di Kampung Daun saat sore menjelang malam. Dan menurut saya, itu adalah waktu yang sangat tepat jika ingin mengunjungi Kampung Daun. Kami bisa merasakan suasana Kampung Daun saat masih terang dan juga suasana saat sudah gelap dengan obor serta lampion yang menjadi penerangan di sepanjang jalan. Ya, suasana pedesaan yang masih terasa alami di Kampung Daun juara banget! Apalagi dengan suara gemericik air sungai yang melalui restoran ini, menambah suasana di tempat itu semakin berkesan.












Untuk menikmati santapan di Kampung Daun, kami mendapat tempat di saung yang cukup luas. Sebelumnya, kami harus menunggu selama setengah jam lebih untuk mendapatkan tempat karena saat kami datang semua saung sudah full. Untunglah waktu tersebut tidak terasa terlalu lama. Sambil menunggu, saya dan keluarga berkeliling menikmati suasana Kampung Daun. Boo yang paling heboh ingin melihat sungai di sana. Dia ingin melihat ikan... :) Bagi Boo hal yang paling menarik di sini adalah adanya air terjun mini di salah satu sudut Kampung Daun. Bagus! Sudut ini bisa jadi tempat favorit untuk berpose... :)








 Meski suasananya seperti di pedesaan dengan alunan musik Sunda, bukan berarti makanan yang disediakan di tempat ini hanya makanan khas Sunda saja. Berbagai menu berbagai daerah sampai menu internasional siap disajikan. Bahkan, untuk santap malam kami memesan Pizza Khas Kampung Daun dan Spaghetti Smoked Beef! Suasana Sunda tapi lidah rasa Italia... :) Untuk cemilannya, kami memesan cireng dan pisang bakar dengan saus manis berwarna merah.

Menurut Yaya Indro, pizza dengan saus tomat khas Itali dengan campuran daging di dalamnya enaaakkk bangeeeet. Kalau buat saya spaghetti-nya juga lumayan enak, kok. Tapi cirenglah yang tetap jadi favorit di hati. Hehehe... (Maklum, yah, saya, kan, penggemar cireng :) Pisang bakarnya pun cukup enak, walaupun rasanya agak terlalu manis. Untuk harga makanan dan minuman di tempat ini menurut saya juga masih sesuailah, tidak terlalu mahal. Apalagi kita menikmati makanannya ditemani dengan suasana yang asyik seperti ini, jadi worth it banget.   













Dengan saung sebagai tempat makannya, saya merasa lebih privat. Saya bisa bebas menyusui Mika yang saat kami makan sudah mengantuk. Akhirnya, Mika pun tertidur dan saya baringkan di bantal-bantal yang ada di dalam saung. Mika bisa tidur dengan pulasnya di sana sampai kami pulang dan kembali ke hotel. :)





Kampung Daun
Jl. Sersan Bajuri Km 4,7
Triniti Villas
Bandung 40154
Telp: (022) 2787915
 



-Bubu Dita-





Thursday, August 25, 2016

Merasakan Sensasi Makan di Sarang Burung Ala Resto Lutung Kasarung

Dusun Bambu, family leisure park terngehits di Bandung ini memiliki empat restoran dengan keunikannya masing-masing. Ada Pasar Khatulistiwa yang menyediakan banyak sekali pilihan makanan yang di jual di booth. Resto Burangrang yang nyaman, bisa memilih untuk duduk di dalam ruangan atau di luar ruangan dengan view danau. Ada lagi Resto Purbasari berupa saung-saung di tepi danau yang memanjakan mata. Dan yang terakhir adalah resto Lutung Kasarung yang bentuknya seperti sarang burung di atas pohon!





Saat ke Dusun Bambu, saya sudah niat banget untuk mencoba sensasi makan di sarang burung ala resto Lutung Kasarung. Tiba saat jam makan siang, tentu saja resto ini penuh pengunjung, baik yang makan di dalam sarang maupun yang menyambanginya hanya untuk selfie semata. Jalan menuju sarang-sarang burung berupa jembatan panjang yang tak terlalu lebar. Hanya cukup untuk dua orang bersebelahan. Jika ada yang selfie tentu saja jalan pun menjadi tersendat. 






Beberapa meter berjalan di jembatan, kami sampai di tempat reservasi. Ternyata semua sarang burung sudah penuh. Untuk menikmati santap siang di sarang burung kala itu kami masuk waiting list dan harus menunggu selama kurang lebih 1,5 jam. Waktu yang cukup lama namun untungnya di Dusun Bambu banyak hal menarik yang bisa dilihat. Saat Yaya Indro menunggu sambil menyemil di Pasar Khatulistiwa, saya dan anak-anak bermain di Playground.




Satu jam lebih berlalu dan kami pun bersiap kembali untuk menuju Resto Lutung Kasarung. Kami mendapat sarang burung nomor tujuh. Sarang burung ini termasuk yang berukuran besar.  Ya, di resto ini memang ada yang berukuran kecil untuk sampai 4 orang dan yang berukuran besar yang bisa menampung hingga 7-8 orang. 




Resto Lutung Kasarung menerapkan sistem sewa per jam bagi pengunjung yang datang untuk makan di tempat. Kami harus merogoh kocek Rp 125 ribu untuk sewa selama satu jam setelah makanan kami datang. Jika mendapat sarang yang kecil harga sewanya Rp 100 ribu per jam. Nah, jadi mesti benar-benar niat, nih, kalau mau makan di resto ini. Lumayan juga, kan, harga sewanya. Dan jangan melepas kesempatan untuk berfoto di dalam sarang karena, ya, hanya yang menyewa dan makan di sana yang bisa melakukannya.

Kami menempati sarang yang luas, sehingga Boo dan Mika pun jadi leluasa bergerak, tak bisa diam. Apalagi Mika saat itu masih belum lancar berjalan dan ia hilir mudik di dalam sarang sambil merambat. Nah, untuk yang membawa anak kecil seperti Mika ke tempat ini harus waspada juga jika berada di dalam sarang. Kenapa? Saat saya menjaga Mika, saya melihat ada kayu yang dipasang sebagai aksen di bagian bawah terlepas, begitu pula dengan pakunya. Hati-hati, yah!




Di meja yang ada di ruangan sarang burung yang kami tempati, saya melihat ada banyak tombol berwarna-warni. Ada tombol untuk memesan makanan sampai tombol untuk penyerahan bill dengan warna yang berbeda. Tombol-tombol ini tentu memudahkan karena jarak dari sarang burung ke tempat reservasi tidaklah dekat (apalagi sarang burung yang paling ujung! hehe). Jadi, jika kita ada apa-apa di dalam sarang, tinggal pencet tombol saja. Di setiap sarang mempunyai pintu, jadi acara santap makan keluarga pun jadi lebih privat dengan kondisi tertutup meskipun di luar banyak orang berlalu lalang (sambil selfie!). 






Oya, jika ingin ke toilet pun tak perlu berjalan jauh ke bawah untuk mencarinya karena salah satu sarang burung ini berfungsi sebagai toilet. Sip, jadi walaupun resto kece ini ada diantara pepohonan tapi semuanya sudah tersedia dan anti repot.

Bagaimana dengan makanannya? Menurut saya, pilihan makanan di sini tidak terlalu banyak. Saya memesan steamboat daging dan taro milk sedangkan Yaya Indro memesan sop iga. Makanan ini cukup untuk kami berempat. Disamping itu kami juga  memesan kue cubit dan puding cokelat. 








Untuk rasa, sih, menurut saya biasa saja. Sebagai penggemar steamboat, saya rasa sayurannya masih kurang matang dan berasa agak pahit. Makanya, dibanding makanan utama saya malah lebih suka kue cubitnya. :)

Karena siang itu anak-anak belum tidur, saya pun mempercepat sesi makan siang dan tak sampai satu jam, kami sudah selesai dan bersiap pulang. Jadi, gimana kesan saya terhadap resto ini? Saya, sih, suka banget sama tempatnya. Unik, lucu, dan lain dari pada yang lain. Namun untuk makanannya terasa kurang spesial dengan harga yang agak mahal, jadi mengurangi kesan saat menikmati makan siang di sana.



Tinggal satu resto lagi yang belum kami coba di Dusun Bambu, yaitu Resto Purbasari yang berbentuk saung di tepi danau. Lihat gambar-gambar resto ini saat blogwalking jadi bikin tambah kepingin ke sana, deh. Mungkin nanti jika ada kesempatan ke Dusun Bambu lagi, kami akan mencoba makan di Purbasari (jadi inget lipen sama lulur.. eehhh, hehehe… ).




-Bubu Dita-


RESTO LUTUNG KASARUNG
DUSUN BAMBU
Jl. Kolonel Masturi Km 11 Lembang Bandung


 

Tuesday, August 23, 2016

Jadi Ibu Menyusui Di Manapun dan Kapanpun

Melahirkan kedua anak saya, Muhammad Birru Bagaskoro di tahun 2013 dan Muhammad Mika Anarghya di tahun 2015, merupakan anugerah tak terhingga bagi saya dan suami serta keluarga besar kami.


M. Birru Bagaskoro


M. Mika Anarghya

Sebelum melahirkan Birru yang punya panggilan sayang "Baby Boo", saya tak hanya menyiapkan kebutuhan lahiriahnya seperti baju bayi dan segala perintilan bayi lainnya tapi juga bekal ilmu yang bermanfaat bagi perkembangannya kelak. Saya bersyukur sekali dengan derasnya arus informasi tentang ilmu menjadi orang tua baru saat ini yang mudah didapat dari berbagai sumber.

Salah satu ilmu yang saya dapat sejak Boo masih dalam kandungan adalah bagaimana memberikan ASI baginya. Saya punya tekad kuat Boo harus bisa mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan. Jika target itu tercapai saya bulatkan lagi tekad untuk bisa memberikannya full ASI sampai umurnya satu tahun. Jika diizinkan, saya ingin memberinya ASI sampai dua tahun seperti yang tertera di kitab suci. Namun, saya adalah ibu bekerja. Bisakah target ini tercapai? Sempat ada rasa tak percaya diri, namun saya jalani saja semampu saya, sekuat saya... :) Saya yakin, jika tekad sudah bulat apapun akan kita lakukan untuk mencapainya. Karena itulah sejak Boo lahir ke dunia, saya pun siap menjadi ibu menyusui dimanapun dan kapanpun.


JADI IBU MENYUSUI DI KANTOR
Tiba saat yang paling menyesakkan dada. Meninggalkan Boo dan Mika yang belum genap tiga bulan untuk kembali bekerja. Rasa sedih harus berpisah setelah menimang-nimang dalam dekapan selama hampir tiga bulan itu saya tepis dalam-dalam. Menjadi working mom adalah pilihan saya.

Konsekuensinya, saya harus menyiapkan stok ASI sebanyak-banyaknya untuk Boo dan Mika saat saya kembali bekerja. Alhamdulillah, berkat adanya tekad, ASI perah yang terkumpul pun cukup banyak.

Di kantor pun saya tetap memerah ASI paling tidak tiga kali sehari. Sayangnya, kantor saya belum mempunyai ruang laktasi. Jadi, selama petualangan saya menjadi ibu menyusui yang bekerja, saya pernah memerah ASI di meja kerja sambil ditutup apron menyusui, di ruang rapat, di ruang khusus tes pelamar kerja, di mushola, sampai yang paling menyedihkan, di toilet. 

Setelah pumping di kantor


Meski ibunya bekerja, Boo dan Mika sukses ASI eksklusif dan full ASI sampai usia satu tahun lebih. Meski Boo tak sampai dua tahun menyusui dan menyapih dengan sendirinya saat saya hamil Mika tapi saya tetap bersyukur bisa memberikan hal yang paling ia butuhkan saat masih bayi. :)

Sekarang saya masih menyusui Mika yang berusia 15 bulan dan masih membawa cooler bag ke kantor. Masih ada saja orang yang bertanya, kenapa sampai saat ini saya masih saja membawa cooler bag dan memerah ASI di kantor. Saya selalu menjawab, "anak saya masih doyan ASI." :)

Baca Juga: Cerita Si ASIP


Tips:
Menjadi ibu menyusui sambil bekerja saya akui memang tidaklah mudah. Ada beberapa teman yang akhirnya harus resign karena stok ASI sudah habis saat bayinya belum sampai usia enam bulan. Ya, supaya tetap bisa memberikan ASI eksklusif bagi bayinya, mereka pun memutuskan berhenti bekerja. Itulah salah satu dilema berat yang harus dirasakan ibu menyusui sekaligus working mom.

Berdasar pengalaman saya selama ini, saya mempunyai beberapa kiat agar ibu bekerja bisa sukses memberikan ASI eksklusif. Berikut kiat-kiat tersebut.

-Siapkan stok ASI perah sedini mungkin. Jika memungkinkan setelah melahirkam dan ASI sudah keluar pun bisa mulai menyetok. Semakin banyak stok, semakin bagus. Jika perlu sewa freezer khusus ASI. Saya tahu ASI saya tidak terlalu berlimpah ruah, karena itulah saya berusaha untuk mengumpulkan ASI sedikit demi sedikit sepanjang cuti melahirkan.


-Meski sudah ada stok dan perah ASI di kantor, usahakan saat malam tetap memerah ASI juga. Saat menyusi Boo saya suka malas memerah di saat malam atau subuh, tapi saat menyusui Mika saya tetap mencoba memerah di saat malam. Hasilnya, saya kejar tayang saat Boo masuk usia delapan bulan.  Dan hal itu tidak saya rasakan sampai kini menyusui Mika.


-Selalu siapkan apron di kantor. Bagi yang kantornya tidak mempunyai ruang laktasi, hal ini penting banget, lho. 

-Yang juga penting adalah informasikan pada bos dan rekan kerja jika kita ingin memberi ASI untuk anak kita, sehingga ada waktu jam kerja yang dipakai untuk memerah. Semoga bos dan rekan kerja bisa memakluminya dan mendukung tekad kita. 


JADI IBU MENYUSUI SAAT TRAVELING
Katanya jika ibu bahagia, maka ASI akan deras keluarnya. Nah, salah satu hal yang bisa membuat saya bahagia adalah traveling. Iya, jalan-jalan kemana pun juga untuk menikmati suasana baru, menikmati makanan yang jarang dimakan, menikmati penginapan yang belum pernah diinapi, menikmati interaksi orang-orang di tempat itu. Saya suka! 



Saat masih menyusui, saya pun tidak membatasi diri untuk jalan-jalan. Membawa Boo dan Mika traveling malah menjadi hal yang menyenangkan, meski ada juga kerepotan yang dirasakan akibat banyaknya barang yang dibawa. : ) Saya tetap bisa menyusui Boo dan Mika di sepanjang perjalanan saat traveling. Di kereta, di pesawat, di mobil. Menyusui bisa membuat mereka tenang dan tidak rewel.  

Tips:
Supaya traveling tetap nyaman dan menyenangkan di saat masih menyusui anak, saya punya beberapa tipsnya, nih.
-Jika bepergian menggunakan pesawat, saat take off dan landing, susui bayi sehingga mulut mereka tetap bergerak dan menelan. Aktivitas ini bisa menyeimbangkan tekanan di telinga agar tidak sakit.
-Jika bayi ingin menyusu, langsung susui saja dimana pun itu, jangan ditahan-tahan. Jika ditahan tangisnya pasti meledak. Karena itu membawa apron menyusui juga berguna sekali. 
-Gunakan baju menyusui yang nyaman. Saya punya baju menyusui favorit yang biasanya saya pakai saat jalan-jalan. : )




JADI IBU MENYUSUI DI BIOSKOP
Hal lain yang bisa membuat saya bahagia adalah nonton di bioskop. Hehehe…  Selama menyusui, saya beberapa kali menonton film di bioskop bersama suami. Saya tetap membawa cooler bag dan memerah ASI. Suasana bioskop yang gelap dengan suara yang keras tentu tidak membuat orang lain merasa terganggu. Dari awal memilih breastpump, saya memang lebih suka pompa ASI manual. Pompa manual tentu saja bisa dipakai di manapun, mudah digunakan, dan praktis tidak perlu khawatir baterai habis atau repot mencari colokan listrik. 




SUKA DUKA SELAMA MENJADI IBU MENYUSUI
Banyak hal menarik yang saya rasakan saat menjadi ibu menyusui. Ada suka, ada duka, semuanya bisa saya lalui dengan lapang dada dan gembira. Saya pernah merasakan perihnya payudara saat awal Boo dan Mika menyusui karena pelekatan yang belum benar serta saat mereka berdua mulai tumbuh gigi. : ) Saya pun pernah mengalami milk blister, ada bintil putih di payudara yang menyebabkan ASI tersumbat. Saat disusui sakitnya luar biasa! Pernah pula saya tidak sadar saat memerah ASI, satu botol berwarna merah muda karena payudara saya ternyata berdarah.

ASI yang sudah saya perah di mushola pun pernah tumpah ke karpet. Cooler bag yang hampir ketinggalan di kereta dan sempat juga tertukar cooler bag dengan ibu menyusui lain di commuter line karena kami memakai tas yang motifnya sama persis! : )

Saya pernah senang setengah mati saat menyusui di nursing room sebuah mal dan tak sengaja bertemu dengan teman yang sudah lama sekali tidak bertemu sedang menyusui bayinya  juga.  Kami saling bercerita dan saling mendukung satu sama lain. : )


DUKUNGAN UNTUK IBU MENYUSUI
Ya, tanpa dukungan berbagai pihak, sulit rasanya seorang ibu menyusui berjuang seorang diri dalam tekadnya memberikan ASI untuk anaknya. Peran suami sangatlah penting. Dukungan bisa berupa material dan moril. Peran keluarga juga luar biasa pentingnya. Ibu saya yang hanya memberi ASI pada saya selama dua bulan saja, tapi dia mendukung penuh saat saya memberi ASI pada Boo dan Mika, bahkan dia merasa bangga sekali saya bisa melakukan itu. Saya beruntung tidak mendapat bisikan maupun anjuran yang bisa melemahkan tekad saya memberi ASI pada Boo dan Mika dari keluarga.   



Teman-teman yang sesama berjuang memberi ASI juga menjadi tempat saya curhat, tempat saya berbagi dan mendapat pengetahuan baru. Dokter dan suster di rumah sakit langganan juga sangat mendukung pemberian ASI. Peran masyarakat juga penting dalam hal ini. Saya bersyukur sempat mengikuti kelas laktasi yang diadakan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Pemerintah pun saat ini semakin gencar melakukan kampanye ASI dengan semakin banyaknya iklan di berbagai media. Selain itu, adanya Pekan ASI Dunia atau World Breastfeeding Week yang dirayakan setiap tahun tentu menjadi pengingat betapa pentingnya ASI bagi anak dan pentingnya mendukung ibu menyusui di seluruh dunia. : ) 


-Bubu Dita-