Tuesday, August 23, 2016

Jadi Ibu Menyusui Di Manapun dan Kapanpun

Melahirkan kedua anak saya, Muhammad Birru Bagaskoro di tahun 2013 dan Muhammad Mika Anarghya di tahun 2015, merupakan anugerah tak terhingga bagi saya dan suami serta keluarga besar kami.


M. Birru Bagaskoro


M. Mika Anarghya

Sebelum melahirkan Birru yang punya panggilan sayang "Baby Boo", saya tak hanya menyiapkan kebutuhan lahiriahnya seperti baju bayi dan segala perintilan bayi lainnya tapi juga bekal ilmu yang bermanfaat bagi perkembangannya kelak. Saya bersyukur sekali dengan derasnya arus informasi tentang ilmu menjadi orang tua baru saat ini yang mudah didapat dari berbagai sumber.

Salah satu ilmu yang saya dapat sejak Boo masih dalam kandungan adalah bagaimana memberikan ASI baginya. Saya punya tekad kuat Boo harus bisa mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan. Jika target itu tercapai saya bulatkan lagi tekad untuk bisa memberikannya full ASI sampai umurnya satu tahun. Jika diizinkan, saya ingin memberinya ASI sampai dua tahun seperti yang tertera di kitab suci. Namun, saya adalah ibu bekerja. Bisakah target ini tercapai? Sempat ada rasa tak percaya diri, namun saya jalani saja semampu saya, sekuat saya... :) Saya yakin, jika tekad sudah bulat apapun akan kita lakukan untuk mencapainya. Karena itulah sejak Boo lahir ke dunia, saya pun siap menjadi ibu menyusui dimanapun dan kapanpun.


JADI IBU MENYUSUI DI KANTOR
Tiba saat yang paling menyesakkan dada. Meninggalkan Boo dan Mika yang belum genap tiga bulan untuk kembali bekerja. Rasa sedih harus berpisah setelah menimang-nimang dalam dekapan selama hampir tiga bulan itu saya tepis dalam-dalam. Menjadi working mom adalah pilihan saya.

Konsekuensinya, saya harus menyiapkan stok ASI sebanyak-banyaknya untuk Boo dan Mika saat saya kembali bekerja. Alhamdulillah, berkat adanya tekad, ASI perah yang terkumpul pun cukup banyak.

Di kantor pun saya tetap memerah ASI paling tidak tiga kali sehari. Sayangnya, kantor saya belum mempunyai ruang laktasi. Jadi, selama petualangan saya menjadi ibu menyusui yang bekerja, saya pernah memerah ASI di meja kerja sambil ditutup apron menyusui, di ruang rapat, di ruang khusus tes pelamar kerja, di mushola, sampai yang paling menyedihkan, di toilet. 

Setelah pumping di kantor


Meski ibunya bekerja, Boo dan Mika sukses ASI eksklusif dan full ASI sampai usia satu tahun lebih. Meski Boo tak sampai dua tahun menyusui dan menyapih dengan sendirinya saat saya hamil Mika tapi saya tetap bersyukur bisa memberikan hal yang paling ia butuhkan saat masih bayi. :)

Sekarang saya masih menyusui Mika yang berusia 15 bulan dan masih membawa cooler bag ke kantor. Masih ada saja orang yang bertanya, kenapa sampai saat ini saya masih saja membawa cooler bag dan memerah ASI di kantor. Saya selalu menjawab, "anak saya masih doyan ASI." :)

Baca Juga: Cerita Si ASIP


Tips:
Menjadi ibu menyusui sambil bekerja saya akui memang tidaklah mudah. Ada beberapa teman yang akhirnya harus resign karena stok ASI sudah habis saat bayinya belum sampai usia enam bulan. Ya, supaya tetap bisa memberikan ASI eksklusif bagi bayinya, mereka pun memutuskan berhenti bekerja. Itulah salah satu dilema berat yang harus dirasakan ibu menyusui sekaligus working mom.

Berdasar pengalaman saya selama ini, saya mempunyai beberapa kiat agar ibu bekerja bisa sukses memberikan ASI eksklusif. Berikut kiat-kiat tersebut.

-Siapkan stok ASI perah sedini mungkin. Jika memungkinkan setelah melahirkam dan ASI sudah keluar pun bisa mulai menyetok. Semakin banyak stok, semakin bagus. Jika perlu sewa freezer khusus ASI. Saya tahu ASI saya tidak terlalu berlimpah ruah, karena itulah saya berusaha untuk mengumpulkan ASI sedikit demi sedikit sepanjang cuti melahirkan.


-Meski sudah ada stok dan perah ASI di kantor, usahakan saat malam tetap memerah ASI juga. Saat menyusi Boo saya suka malas memerah di saat malam atau subuh, tapi saat menyusui Mika saya tetap mencoba memerah di saat malam. Hasilnya, saya kejar tayang saat Boo masuk usia delapan bulan.  Dan hal itu tidak saya rasakan sampai kini menyusui Mika.


-Selalu siapkan apron di kantor. Bagi yang kantornya tidak mempunyai ruang laktasi, hal ini penting banget, lho. 

-Yang juga penting adalah informasikan pada bos dan rekan kerja jika kita ingin memberi ASI untuk anak kita, sehingga ada waktu jam kerja yang dipakai untuk memerah. Semoga bos dan rekan kerja bisa memakluminya dan mendukung tekad kita. 


JADI IBU MENYUSUI SAAT TRAVELING
Katanya jika ibu bahagia, maka ASI akan deras keluarnya. Nah, salah satu hal yang bisa membuat saya bahagia adalah traveling. Iya, jalan-jalan kemana pun juga untuk menikmati suasana baru, menikmati makanan yang jarang dimakan, menikmati penginapan yang belum pernah diinapi, menikmati interaksi orang-orang di tempat itu. Saya suka! 



Saat masih menyusui, saya pun tidak membatasi diri untuk jalan-jalan. Membawa Boo dan Mika traveling malah menjadi hal yang menyenangkan, meski ada juga kerepotan yang dirasakan akibat banyaknya barang yang dibawa. : ) Saya tetap bisa menyusui Boo dan Mika di sepanjang perjalanan saat traveling. Di kereta, di pesawat, di mobil. Menyusui bisa membuat mereka tenang dan tidak rewel.  

Tips:
Supaya traveling tetap nyaman dan menyenangkan di saat masih menyusui anak, saya punya beberapa tipsnya, nih.
-Jika bepergian menggunakan pesawat, saat take off dan landing, susui bayi sehingga mulut mereka tetap bergerak dan menelan. Aktivitas ini bisa menyeimbangkan tekanan di telinga agar tidak sakit.
-Jika bayi ingin menyusu, langsung susui saja dimana pun itu, jangan ditahan-tahan. Jika ditahan tangisnya pasti meledak. Karena itu membawa apron menyusui juga berguna sekali. 
-Gunakan baju menyusui yang nyaman. Saya punya baju menyusui favorit yang biasanya saya pakai saat jalan-jalan. : )




JADI IBU MENYUSUI DI BIOSKOP
Hal lain yang bisa membuat saya bahagia adalah nonton di bioskop. Hehehe…  Selama menyusui, saya beberapa kali menonton film di bioskop bersama suami. Saya tetap membawa cooler bag dan memerah ASI. Suasana bioskop yang gelap dengan suara yang keras tentu tidak membuat orang lain merasa terganggu. Dari awal memilih breastpump, saya memang lebih suka pompa ASI manual. Pompa manual tentu saja bisa dipakai di manapun, mudah digunakan, dan praktis tidak perlu khawatir baterai habis atau repot mencari colokan listrik. 




SUKA DUKA SELAMA MENJADI IBU MENYUSUI
Banyak hal menarik yang saya rasakan saat menjadi ibu menyusui. Ada suka, ada duka, semuanya bisa saya lalui dengan lapang dada dan gembira. Saya pernah merasakan perihnya payudara saat awal Boo dan Mika menyusui karena pelekatan yang belum benar serta saat mereka berdua mulai tumbuh gigi. : ) Saya pun pernah mengalami milk blister, ada bintil putih di payudara yang menyebabkan ASI tersumbat. Saat disusui sakitnya luar biasa! Pernah pula saya tidak sadar saat memerah ASI, satu botol berwarna merah muda karena payudara saya ternyata berdarah.

ASI yang sudah saya perah di mushola pun pernah tumpah ke karpet. Cooler bag yang hampir ketinggalan di kereta dan sempat juga tertukar cooler bag dengan ibu menyusui lain di commuter line karena kami memakai tas yang motifnya sama persis! : )

Saya pernah senang setengah mati saat menyusui di nursing room sebuah mal dan tak sengaja bertemu dengan teman yang sudah lama sekali tidak bertemu sedang menyusui bayinya  juga.  Kami saling bercerita dan saling mendukung satu sama lain. : )


DUKUNGAN UNTUK IBU MENYUSUI
Ya, tanpa dukungan berbagai pihak, sulit rasanya seorang ibu menyusui berjuang seorang diri dalam tekadnya memberikan ASI untuk anaknya. Peran suami sangatlah penting. Dukungan bisa berupa material dan moril. Peran keluarga juga luar biasa pentingnya. Ibu saya yang hanya memberi ASI pada saya selama dua bulan saja, tapi dia mendukung penuh saat saya memberi ASI pada Boo dan Mika, bahkan dia merasa bangga sekali saya bisa melakukan itu. Saya beruntung tidak mendapat bisikan maupun anjuran yang bisa melemahkan tekad saya memberi ASI pada Boo dan Mika dari keluarga.   



Teman-teman yang sesama berjuang memberi ASI juga menjadi tempat saya curhat, tempat saya berbagi dan mendapat pengetahuan baru. Dokter dan suster di rumah sakit langganan juga sangat mendukung pemberian ASI. Peran masyarakat juga penting dalam hal ini. Saya bersyukur sempat mengikuti kelas laktasi yang diadakan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Pemerintah pun saat ini semakin gencar melakukan kampanye ASI dengan semakin banyaknya iklan di berbagai media. Selain itu, adanya Pekan ASI Dunia atau World Breastfeeding Week yang dirayakan setiap tahun tentu menjadi pengingat betapa pentingnya ASI bagi anak dan pentingnya mendukung ibu menyusui di seluruh dunia. : ) 


-Bubu Dita-

4 comments:

  1. ketika masa menyusui, bisa dikatakan ak mengalami banyak kerepotan. Mungkin karena saya di rumah. Tapi dulu waktu masih ngantor, saya punya atasan yang selalu perah ASI di kantor. Melihat perjuangannya bikin saya kagum aja. Gak gampang tapi tetap semangat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mba Myra pasti ada banyak suka duka ibu menyusui sambil kerja.. :) Betuuul, harus semangat bgt biar berhasil.. :D

      Delete
  2. hiihii. cooler bag jadi senjata andalan banget ya mba. Saya dulu juga selalu bawa tapi yang model ransel jadi lebih praktis.. Bisa di mana saja dan kapan saja. apalagi saat itu kerja saya mobile...

    Semangat, dan selamat ya untuk Mika dan Birru sukses ngasinya... :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget Mba Ira, cooler bag jgn sampe ketinggalan klo pergi kemana-mana, yaa.. :D

      Delete