Senin, 31 Oktober 2016

Solo, Kota Kenangan yang Selalu Dirindukan




Kereta Senja Utama menembus dinginnya angin malam. Di luar jendela tampak titik-titik lampu rumah penduduk dalam keheningan. Suasana di dalam kereta pun serupa, sepi, orang-orang sudah dibuai dengan mimpinya masing-masing. Saya pun beranjak tidur dengan selimut yang menghangatkan badan. Tak lama, saya pun pulas tertidur hingga hampir sampai di kota tujuan.



Subuh baru saja berlalu. Namun rupanya matahari belum muncul menyambut kami di Solo Balapan. Tak mengapa, karena sesampainya di rumah eyang, nasi liwet hangat berbungkus daun pisang dan ketan gula jawa sudah siap tersaji menyambut kedatangan kami untuk segera disantap. Setiap kami datang saat liburan sekolah, almarhumah eyang putri tiap pagi punya rutinitas yang sama. Saat subuh, ia membeli nasi liwet dan ketan gula jawa di si mbok langganan untuk sarapan pagi kami. 


Nasi liwet berbungkus daun pisang yang nikmat disantap.

Suasana di dalam kereta, dinginnya stasiun Balapan saat kami sampai, becak yang mengantar kami dari stasiun sampai rumah eyang, hingga gurihnya rasa nasi liwet yang dibeli eyang putri masih terekam jelas di ingatan. Padahal itu terjadi 20 sampai 25 tahun yang lalu. Rindu!

***

Ya, tak bisa disangkal, Solo memang menjadi kota destinasi yang selalu saya rindukan. Banyak kenangan masa kecil di kota itu yang masih lekat di ingatan. Suasana kota yang nyaman membuat hati ingin selalu mengunjunginya. Namun, kuliner Solo lah yang ternyata membuat saya jatuh cinta. Istilah dari lidah turun ke hati rasanya memang tepat adanya. 

Tak hanya nasi liwet yang jadi favorit. Selat solo yang segar pun jadi nomor teratas dalam daftar makanan yang paling saya sukai. Selat solo berisi rebusan sayur seperti wortel, tomat, buncis, mentimun, daun selada, ditambah telur rebus, lalu diguyur dengan kuah mirip semur dengan daging sapi. Keripik kentang di atasnya membuat tekstur makanan ini lebih kaya. Yang membuat rasanya jadi makin istimewa adalah adanya semacam saus mayones buatan sendiri. Saus ini rasanya sedikit asam, saat dipadu dengan kuah yang manis menurut saya jadi  sempurna! 


Selat solo yang dibawa sebagai bekal di perjalanan.

Ada banyak penjual selat solo di berbagai sudut kota. Namun sampai saat ini, selat solo yang paling enak rasanya bagi saya adalah buatan tante yang kini sudah tiada. Ya, dari dialah saya mengenal makanan khas ini untuk pertama kalinya saat kecil. Tante yang memang jago masak dan punya usaha katering ini membuatnya saat saya berkunjung ke rumahnya di Solo. Begitu mencicipi, saya langsung jatuh hati. Kangen rasanya ingin mencicipinya lagi. Tapi.... Ah, kangennya! 

Di Solo juga ada satu makanan yang sangat terkenal. Soto gading namanya. Soto ini bukan soto biasa. Penggemarnya dari orang biasa hingga pejabat negara. Setiap ke Solo, soto legendaris ini selalu jadi daftar kunjungan kuliner wajib bagi saya. Soal harga jangan ditanya. Meski disukai orang-orang besar petinggi negeri tetap saja harganya sangat terjangkau.

Soto gading sebenarnya berupa soto bening berisi soun dan suwiran ayam dengan kaldu yang begitu terasa. Saya tak lupa menikmatinya bersama sate paru yang jadi favorit saya. Tak hanya sate paru, ada berbagai elemen tambahan yang bisa semakin menambah cita rasanya. Ada sate daging sapi, perkedel, tahu, tempe, hingga empal pun tersedia. Tapi saya pernah juga kecewa berat karena saat sudah duduk di dalam warung dan tak sabar untuk menyantapnya ternyata sate paru sudah habis tak bersisa! Jika terlambat sedikit saja bisa-bisa kita tak bisa menikmati soto gading beserta menu lainnya. Penggemarnya banyak, sehingga selalu ramai dikunjungi. Saya tidak heran. Rasanya mantap, sih!


Segarnya soto gading yang maknyuuuus...


Soto gading berpadu dengan sate-satean dan es jeruk. 

Jika malam menjelang, minum wedang ronde bisa jadi pilihan. Dinginnya malam dapat  terselimuti oleh hangatnya kuah jahe dari wedang ronde. Beberapa bulan lalu saat saya ke Solo, saya pun sempat juga menikmati wedang ronde yang mangkal di sekitar Manahan. 


Wedang ronde yang mengangatkan malam.

Ingin mencoba minuman lain khas kota ini? Datang saja ke Pasar Gede lalu carilah dawet selasih! Berbeda dengan dawet pada umumnya, dawet ini memakai biji selasih serta berisi butiran-butiran cendol, ketan hitam, dan tape yang dipadukan di dalam kuah santan encer dan es. Siapkan diri karena biasanya banyak yang mengantri. Apalagi di siang panas yang terik, dawet ini memberi kesegaran seperti oase.


Dawet selasih yang dijual di Pasar Gede.


***

Kuliner Solo memang tiada duanya. Berbagai makanan khas kota itu mampu membuat rindu. Tak hanya kuliner, seni budaya di Solo pun sungguh memikat dan memesona. Salah satunya adalah pertunjukan wayang orang.

Sampai kini wayang orang masih eksis dan mempunyai penggemarnya sendiri. Pertunjukan yang sehari-hari digelar di Gedung Wayang Orang Sriwedari saban malam ini ternyata sudah berusia kurang lebih 106 tahun! 

Kata orang, belum lengkap rasanya ke Solo tapi tidak menonton pertunjukan ini.  Saya pun pernah menontonnya langsung di sana dan terpesona. Walaupun tak mengerti  bahasa Jawa yang para pemain ucapkan, namun keluwesan mereka menari serta make up yang atraktif mampu memikat mata dan membuat saya berdecak kagum. Tak jarang saya juga ketakutan saat pelakon antagonis dengan make up bermuka merah mulai beraksi di panggung. :) Saya berharap semoga wayang orang tetap hidup selamanya. 

Seni tari dari kota budaya ini juga memikat hati. Beberapa kali saya melihatnya dalam acara perkawinan yang memakai tradisi Solo yang kental. Tari bedhoyo ketawang merupakan salah satunya. Tarian ini biasanya dipentaskan oleh 9 orang penari perempuan yang konon harus perawan. Sebelum pentas mereka harus puasa sehingga suci lahir dan batin. Para penari dengan sangat gemulai menggerakkan tangan, kaki, kepala, dengan selendang dan diiringi musik gamelan.  Tarian ini juga biasa dipentaskan di Keraton Solo.


Tari Bedhoyo Ketawang di pernikahan. (Foto dari blog saya yang lain www.ceritadita.com)

Rasa kekaguman akan budaya Solo dan rasa memiliki yang mengalir dalam diri, saya wujudkan saat saya menikah. Di hari yang sangat bahagia itu, saya memakai tata rias yang menjadi khas Solo putri yaitu paes. Paes yang terbuat dari campuran malam ini diukir di sepanjang dahi dengan warna hitam sempurna. Ada pun paes Solo putri yang dibuat berbentuk gajahan yang terletak di tengah-tengah dahi, pengapit yang mengapit gajahan, penitis yang ada di atas ujung alis, serta godheg yang ada di depan telinga. Paes Solo ternyata juga menyimpan filosofi yang mendalam. Paes ini menyimbolkan kehidupan yang makmur dan sentosa atau gemah ripah loh jinawi.  


Paes Solo putri, riasan saat saya menikah. (Foto oleh: Kebon Foto 43).


Saat masih kecil, saya kerap kali jadi "patah". "Patah" adalah sebutan bagi anak-anak yang bertugas untuk ikut kirab dan mengipasi pengantin di pelaminan. Nah, setiap kali tahu akan menjadi patah, saya pasti kegirangan. Saya sangat terpesona oleh pengantin Jawa, terutama yang memakai riasan khas Solo Putri. Sejak itu pula saya ingin saat dewasa nanti saat menikah saya memakai riasan yang sama. Dan keinginan tersebut pun sudah terwujud. :)
 
***

Beberapa bulan yang lalu saya kembali mengunjungi Solo untuk yang kesekian kali. Namun kali ini kedatangan saya lebih istimewa karena kedua anak saya, Boo dan  Mika, ikut serta. 

Selepas dari Solo, Boo pun berujar pada saya, "Buu, Boo mau naik pesawat agi ke Soho (Solo)." Saya pun membalasnya, "Boo senang, ya, ke Solo?" Boo pun menjawab dengan mantap, "Iya!" 

Mungkin naik becak di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, melihat rusa dari dekat di Taman Balekambang, bermain di taman Hotel Dana yang bersejarah, mengelilingi alun-alun di malam hari dengan becak kelap kelip atau menikmati banyaknya lampion merah menyala di Pasar Gede akan terus melekat diingatannya sampai ia dewasa. Sama seperti saya yang terus mengingat kota itu.


Boo menatap runway di Bandara Adi Soemarmo yang basah terkena hujan.


Meski bukan kota kelahiran, meski bukan kota tempat tinggal, tapi kota Berseri selalu ada di hati. :)



-Bubu Dita-



Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)


13 komentar:

  1. Balasan
    1. Ituuu yg aku suka om, muraaah yaa. Perut senang, dompet bahagia.. hihi :D

      Hapus
  2. gw kenal selat solo juga karena maen ke rumah lo, Ta. menu itu selalu ada ya apapun acaranya. hihihi...

    btw, kalo mayonaise asemnya itu diganti yoghurt plain bisa juga kali ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha iya ya fii.. :D Mungkin bisa ya, gw jg blum pernah nyoba.. itu saus aslinya klo gak salah dari kuning telur rebus dipakein cuka dikit..

      Hapus
  3. gw kenal selat solo juga karena maen ke rumah lo, Ta. menu itu selalu ada ya apapun acaranya. hihihi...

    btw, kalo mayonaise asemnya itu diganti yoghurt plain bisa juga kali ya?

    BalasHapus
  4. Solo juga kota yg selalu aku rindukan :) Sotonya bikin ngiler yaaa, duh jadi kangen!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas nulis ini aku pun jd makin kangen dan pingin makan semuanya mbaa hihi..

      Hapus
  5. Di Solo makanannya enak-enak. Jadi kangen masakan sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enaaak bgt mba, murah pula. Kuliner Solo emang bikin kangen bgt.. :)

      Hapus
  6. Solo! aku suka ke SOlo, pas ada teman yang tinggal di asrama tentara, jadi bisa nginap ditempatnya....Makanannya enak enak, dan muraaah....aku pasti kembali kesana ...Mau nasi liwet mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Denmark gak ada nasi liwet ya mbaaa.. Hehe.. Ayo Mba Dewi bikin aja klo gitu.. :D

      Hapus
  7. Aku mau main-main ke kotanya pak Jokowi hehe. Udah lama mau ke sini, tapi gak jadi-jadi :(

    omnduut.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadiin Om, nanti udah sekali ke sana jadi pingin lagi pingin lagi om.. hehe.. :D

      Hapus