Apa Serunya Jalan-Jalan ke Museum Sendirian?




Bagi sebagian orang, pergi ke museum mungkin lebih seru dilakukan bersama keluarga atau teman. Bisa ngobrol soal koleksi yang dipajang, foto-foto bareng atau sekadar menikmati suasana bersama. Aku pun beberapa kali pergi ke museum bareng keluarga. Pernah juga ke museum dengan teman-teman dan juga ikut walking tour museum. 


Tapi apa jadinya kalau pergi jalan-jalan ke museum sendirian??? :D 


Nah, salah satu hobiku sekarang adalah keliling museum seorang diri… Hihihi… Kalau menurutku, jalan-jalan ke museum sendirian justru punya sensasi yang berbeda. Ada rasa tenang, bebas, dan lebih fokus menikmati setiap sudut museum tanpa harus buru-buru gitu.


Aku beberapa kali sengaja mengunjungi museum seorang diri. Kadang saat anak-anak sedang sekolah, kadang ketika ada waktu luang di tengah rutinitas sebagai ibu rumah tangga, blogger, dan content creator. 


Awalnya mungkin kegiatan ini kedengarannya sepele, tapi ternyata jalan-jalan ke museum sendirian ini jadi salah satu bentuk healing yang sederhana sekaligus menyenangkan buatku… :) 


Selain menambah wawasan, pergi ke museum sendirian juga sering jadi momen produktif untuk sekalian membuat konten. Aku bisa lebih bebas mengambil footage video, memotret detail ruangan, membaca informasi sejarah dengan santai, bahkan menikmati suasana museum tanpa distraksi.



Kenapa Memilih Pergi ke Museum Sendirian?

Awalnya mungkin kerasa canggung pergi ke museum sendirian. Tapi lama-lama aku justru menikmati momen tersebut.


Sebenarnya, sih, nggak ada alasan-alasan tertentu kenapa aku memutuskan buat jalan-jalan ke museum sendirian. Tapi kalau aku pikir-pikir lagi mungkin hal-hal di bawah ini adalah beberapa alasannya.


1. Lebih Fokus Menikmati Koleksi Museum

Kalau pergi ramai-ramai, biasanya perhatian gampang terpecah. Ada yang ngajak ngobrol, ada yang buru-buru pindah ruangan atau malah ada yang lebih sibuk untuk cari spot foto. Sementara saat datang sendirian, aku bisa benar-benar menikmati museum sesuai ritmeku sendiri. Hehe… Paham, kan, yaaa… 


Aku bisa berhenti lebih lama di satu koleksi yang menarik perhatian. Bisa membaca setiap papan informasi tanpa tergesa-gesa. Kayak ada kepuasan tersendiri gitu ketika berhasil memahami cerita dari sebuah koleksi yang ada di museum.



2. Lebih Fokus Ambil Footage Konten

Nah, sebagai content creator, museum bisa jadi tempat yang menarik untuk dijadikan konten. Banyak sudut estetik, pencahayaan unik beda dari tempat biasanya, dan cerita sejarah yang bisa dibagikan ke media sosial atau blog.


Kalau pergi sendiri memang agak repot karena harus membawa tripod sendiri. Kadang harus bolak-balik mengatur angle di kamera handphone, menekan tombol rekam, lalu berjalan lagi untuk mengambil video cinematic. Belum lagi kalau tripod harus dipindah berkali-kali dari satu ruangan ke ruangan lain.


Tapi justru di situlah serunya! :D Kata orang, “kalau ada yang ribet, ngapain ada yang simple.” :D 



3. Jadi Me Time di Tengah Rutinitas Seorang Ibu

Sebagai ibu, kadang kita terlalu sibuk mengurus rumah, anak, pekerjaan, dan berbagai kebutuhan keluarga sampai lupa memberi waktu untuk diri sendiri. Coba, deh, komen siapa ibu-ibu di sini yang juga ngerasa seperti itu?


Nah, pergi ke museum sendirian jadi salah satu bentuk me time versiku.


Biasanya aku pergi setelah anak-anak berangkat sekolah. Suasana pagi atau siang di museum cenderung lebih sepi, jadi terasa lebih tenang. Kalau ke museum di waktu-waktu ini, tuh, rasanya kayak ngasih jeda sebentar ke diri sendiri dari rutinitas harian yang padat.


Duduk di salah satu sudut museum sambil menikmati suasana saja sudah cukup bikin pikiran lebih rileks. Me time versi hemat yang nggak perlu buang banyak biaya, kan. :D Sekarang banyak banget museum di Jakarta dan sekitarnya yang tiket masuknya terjangkau dengan koleksi-koleksi dan penataan yang baik.  


Kadang setelah pulang dari museum pun mood terasa jauh lebih baik dan energi juga terasa kembali penuh… :D





4. Bisa Lebih Bebas Mengatur Waktu

Kalau pergi bersama orang lain, biasanya harus menyesuaikan jadwal bersama. Tapi saat solo trip ke museum, aku bisa datang kapan saja dan pulang sesukaku.


Kalau ternyata sedang sangat menikmati suasana museum, aku bisa berlama-lama di sana (jsambil tetap cek jam supaya aku sudah di rumah saat anak-anak pulang sekolah ehehe…). 


Sebaliknya, kalau sudah cukup puas dengan yang aku lihat di museum, aku juga bisa langsung pulang saja. Kalau masih ada cukup waktu sebelum anak-anak pulang sekolah, aku bahkan bisa mampir sebentar ke kafe atau jajan di tempat yang aku cari tahu dulu di media sosial… :D 


Ngabisin waktu dengan kegiatan kayak gini, tuh, rasanya seperti kebebasan sederhana yang ternyata menyenangkan dan bisa aku nikmatin banget. :)



Museum yang Pernah Aku Kunjungi Sendirian

Kalau aku hitung, sebenarnya belum banyak museum yang aku datangi sendirian. Makanya kedepannya aku masih mau mengeksplor museum-museum lainnya juga sendirian kalau ada kesempatan. 


Nah, ini dia beberapa museum yang pernh aku datangi seorang diri dan cerita menarik yang aku alami di sana… :) 


Museum MH Thamrin

Salah satu museum yang pernah aku kunjungi sendiri adalah Museum Mohammad Husni Thamrin.


Museum ini memberikan gambaran tentang perjuangan MH Thamrin sebagai tokoh Betawi yang berpengaruh pada masa perjuangan Indonesia. Suasananya cukup tenang dan membuatku betah membaca berbagai informasi sejarah di dalamnya.


Aku suka melihat interior rumah tua dan koleksi-koleksi yang menggambarkan kehidupan masa lampau. Ada nuansa nostalgia yang terasa hangat di museum ini. 




Namun sayangnya kalau boleh aku bilang museum ini kurang interaktif dengan pengunjungnya. Dan seperti ketinggalan dengan yang ada di museum-museum lainnya di Jakarta. Aku harap, Museum MH Thamrin bisa lebih maju dengan tambahan teknologi interaktif di dalamnya… :) 


Potensial banget, kok. Apalagi siapa sih orang Jakarta atau pekerja yang kerja di Jakarta tapi nggak tahu Jalan Thamrin? Nah, kalau mau kenal lebih dekat dengan tokoh ini memang museum ini bisa jadi jawabannya. Karena itu, bisa banget musuem ini dikembangkan lebih baik lagi.  



Museum AH Nasution

Pengalaman paling berkesan sekaligus agak membuat hati deg-degan terjadi saat aku mengunjungi Museum Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution sendirian.


Waktu itu suasana museum benar-benar sepi. Aku berjalan sendiri dari satu ruangan ke ruangan lain sambil merekam beberapa footage video dan mengambil foto. Karena sedang fokus mengambil gambar, aku sampai kayak nggak sadar kalau suasana sekitar begitu hening.


Lalu tiba-tiba…


BRAKK!


Salah satu pintu di dalam museum tertutup sangat kencang. Ya Allah, aku langsung ngucap istighfar! 


Saat itu bagian dalam museum benar-benar sepi. Hanya ada aku saja yang ada di dalamnya. 


Jujur saja, aku langsung kaget dan merinding. Suasana museum yang sepi, bangunan tua, ditambah cerita sejarah yang memilukan tentang peristiwa G30S membuat imajinasiku jadi ke mana-mana.


Aku sempat diam beberapa detik sambil mencoba menenangkan diri sendiri. Setelah dipikir-pikir mungkin saja karena angin atau tekanan udara dari ruangan lain. Tapi tetap saja, pengalaman itu jadi salah satu momen museum paling tidak terlupakan buatku. :D 


Meski begitu, pengalaman tersebut justru membuat kunjungan ke museum terasa lebih membekas, ya. Walau sudah kejadian berbulan-bulan lalu aku masih inget banget kejadiannya sampai sekarang… :) 





Gedung Joang 45

Aku juga pernah solo trip ke Gedung Joang 45. Museum ini menarik karena menyimpan banyak cerita perjuangan kemerdekaan Indonesia. Aku cukup lama menikmati dokumentasi foto-foto sejarah dan kendaraan kepresidenan yang dipamerkan di area museum.


Nggak banyak orang yang tahu kalau bangunan yang sekarang jadi Gedung Joang ini dulunya sempat menjadi hotel di masa kolonial.


Bahkan berkat videoku yang aku unggah di media sosialku tentang sejarah Gedung Joang ini, aku menjadi salah satu juara dalam kompetisi video yang diadakan oleh museum tersebut.


Lumayan banget, kan, sambil nambah pengetahuan, bisa nambah cuan juga dari menang lomba… :D 





Museum IMERI

Kunjungan ke Museum IMERI FKUI juga jadi pengalaman yang unik.


Museum ini berbeda dari museum sejarah biasa karena lebih banyak menampilkan koleksi anatomi dan dunia medis. Ada banyak informasi menarik tentang tubuh manusia yang membuatku kagum sekaligus merinding.





Solo Traveling ke Museum di Malaka

Saat solo traveling ke Malaka, aku juga menyempatkan diri mengunjungi beberapa museum di sana. Dan ternyata, mengunjungi museum di negeri orang sendirian punya pengalaman yang berbeda lagi.


Museum Samudera

Museum Samudera menjadi salah satu museum favoritku di Malaka. Museum berbentuk kapal besar ini langsung menarik perhatian sejak pertama kali dilihat. Di dalamnya ada banyak informasi tentang sejarah pelayaran dan perdagangan maritim Malaka dan sekitarnya.





Baba Nyonya Heritage Museum

Aku juga mengunjungi Baba & Nyonya Heritage Museum. Museum ini memberikan gambaran tentang budaya Peranakan Tionghoa di Malaka. Interior rumahnya cantik sekali dengan ornamen klasik yang masih terawat.


Aku betah berlama-lama memperhatikan detail furniture, peralatan makan, hingga dekorasi rumahnya. Sayangnya di museum ini nggak bisa mengambil dokumentasi. Pengunjung hanya bisa mengambil dokumentasi di ruang paling depan museum saja. 



Cheng Ho Cultural Museum

Museum lainnya yang menarik adalah Cheng Ho Cultural Museum. Di sini aku belajar tentang perjalanan Laksamana Cheng Ho dan hubungan sejarah antara Tiongkok dan Malaka. Museum ini membuatku sadar bahwa museum bukan hanya tempat menyimpan benda tua, tetapi juga tempat menyimpan cerita peradaban manusia.



Manfaat Mengunjungi Museum Bagi Seorang Ibu

Buat seorang ibu, pergi ke museum ternyata punya banyak manfaat. Museum membuat kita belajar banyak hal baru. Mulai dari sejarah, budaya, perjuangan bangsa, dunia medis, hingga kehidupan sosial masyarakat masa lalu. Pengetahuan ini juga bisa dibagikan kembali kepada anak-anak di rumah.


Bagi ibu yang aktif membuat konten atau menulis blog, museum bisa menjadi sumber ide yang nggak ada habisnya. Setiap museum punya cerita unik yang menarik untuk dibagikan.



Suasana museum yang tenang juga bisa membantu pikiran lebih rileks, lho. Pergi sendiri ke museum juga melatih rasa percaya diri. Kita jadi lebih mandiri mengatur perjalanan sendiri tanpa bergantung pada orang lain.


Museum juga bisa menjadi tempat untuk berhenti sejenak dan menikmati waktu bersama diri sendiri bagi seorang ibu. Apalagi kalau ibu suka banget sejarah dan mengeksplor hal-hal baru. 



Ternyata Jalan-Jalan Sendiri Itu Menyenangkan!

Dulu aku sempat berpikir pergi sendirian ke museum itu membosankan. Tapi setelah beberapa kali mencoba solo trip ke museum, ternyata justru banyak hal menyenangkan yang bisa dirasakan.


Aku jadi lebih mengenal diri sendiri, lebih tenang, lebih fokus, dan lebih menikmati perjalanan tanpa distraksi. Museum juga bisa menjadi tempat untuk belajar, healing, mencari inspirasi, dan tentunya menemukan ketenangan.




Dan buatku, jalan-jalan ke museum sendirian selalu punya cerita yang menarik untuk dikenang. (Asal bukan pengalaman yang bikin deg-degan aja, sih… Hihihi…)



Dita Indrihapsari


20 comments:

  1. Setuju sih kalo lebih enak explore sendiri, kadang kalo bawa temen terus temen kitanya itu lebih ke pengen cari spot foto pasti ribet banget buat jadi fotografernya.
    Museum memang kadang membawa suasana yang unik, wajar saja karrna museum biasanya dipakai untuk menyimpan rekaman suatu peristiwa di masa lalu, kalo peristiwa nya bikin scary scary delicious pasti mindset kitanya juga jadi creepy.
    Coba ke Musim Santet Cirebon mbak, nanti saya nunggu di luar hehehe

    ReplyDelete
  2. Sebenarnya ga cuma museum sih mbak. Hampir semua tempat wisata atau lokasi apapun, kadang kita memang perlu coba untuk mengunjunginya dalam momen kesendirian. Entah itu nonton bioskop, naik bus, atau kemanapun itu. Menyendiri itu penting, supaya kita bisa merasakan kembali makna dari eksistensi kita sendiri. *ciaelah.

    Tapi kalo kaitannya sama museum, memang ga semua couple bisa cocok si. Contoh kalo aku sama Thina kan emang demen ya ngeliatin sama bacain sejarah-sejarah. Pelan-pelan gitu lho nikmatin setiap sudutnya.
    Nah kalo sama mamake bapake, ora iso begitu. Mereka kesana cuma numpang selfie doang, abis itu intip-intip dikit, bosen, pulang. Hahahahahaha

    ReplyDelete
  3. Kalau jalan2 sendiri sie aku juga sering mbaaa tapi kalo ke museum sendiri sepertinya belum pernah deh..sempet juga pengen ke museum sendiri spt kata mb dita bisa buat tambahan konten bahan tulisn tapi rencana ini sampai sekarang masih urung untuk dieksekusi...setelah baca tulisan ini jadi mikir brarti gak aneh kan ya klo aku memutuskan jalan2 sendiri ke museum hehe

    ReplyDelete
  4. Keren banget kak Dita sampe jalan2 ke museum sendirian. Mana banyak lagi koleksi jalan2 ke museumnya. Dan bener sih, lebih enak ke museum itu sendirian. Tp malesnya kalo di museum itu kita sendiri. Berasa kayak datang ke kuburan. Wkwkwk. Apalagi kalo museumnya ga interaktif, kayak museum MH Thamrin itu.

    Itu dekat kosanku dulu kak waktu di Jkt. Selisih 10 rumah aja ke kanan museum tuh. Kalo beli sarapan ya di depan museum itu. Wkwk. Skrg udh bgs di sampingnya udh dibangun taman. Dan banyak agenda di museum kyk lomba2 gt. Jd mkn rame. Tp sekitar 12 tahun di Jkt, aku malah blm msk situ. Hahaha. Maafkeuuun.

    ReplyDelete
  5. Saya juga lebih suka ke museum sendirian, Mbak. Karena lebih bebas dan puas menikmati koleksi yang ada. kalau bereng-bareng, pasti ada saja yang terburu-buru. padahal ke museum itu harus santai dan tenang karena semua koleksi museum itu bercerita dan tiap ruangan itu ada alurnya.
    Tapi jujur walau ke museum sendirian, tapi saya suka kalau di museum itu ada banyak atau beberapa pengunjung. karena sudah jadi rahasia umum, museum itu ada penunggunya juga. Ada aura dingin dan merinding hehehe.

    ReplyDelete
  6. Wow banyak juga yaa museum yang sudah pernah dikunjungi oleh Mbak Dita. Saya serem itu pas ada suara BRAK,,,,jadi itu suara apa sebenarnya mbak? Museum memang nyaman buat healing healing tenang dan sunyi. Saya juga suka pergi ke Museum..teakhir berkunjung ke Galeri Art Sunaryo di Dago Pakar.

    ReplyDelete
  7. Salut banget aku sama Mba. Udah banyak museum yang dikunjungi sendirian. Aku pernah ke museum sendirian itu karena pas ke perpus Bogor, ekh ada info Bumi Parawira gratis, yaudah sekalian deh aku explore museum pas masih awal dibuka banget dan beneran sendirian. Kurang lebih yang aku rasain emang jadi lebih fokus menikmati momen, baca detail informasi tanpa distraksi.

    Pastinya jalan-jalan ke museum sendirian buat seorang ibu sangatlah berarti ya Mba. Dan jalan-jalan sendirian untuk nonton, makan, pun sesekali di perlukan, supaya tetap merasa beneran utuh dan bersemangat jalani hidup.

    Makasih ya sudah berbagi kisah, ada beberapa museum yang aku tandain buat dikunjungi.

    ReplyDelete
  8. Menurutku museum itu memang lebih asyik dinikmati sendiri sih berasa lebih nyaman aja lihat-lihat koleksinya. Toh kalau bawa teman pun kadang suka lihat sendiri-sendiri hehe. Di jakarta museumnya banyak banget yaa aku kayaknya cuma pernah ke museum yang di monas sama museum di galeri nasional

    ReplyDelete
  9. Seru banget ke museum sendiri. Saya sering melakukannya karena merasa lebih tenang dan juga lebih fokus pada koleksi-koleksi yang ada di museum sehingga saya bisa lebih menikmati kunjungan itu walaupun kendalanya adalah tidak ada teman ngonteni tapi tidak apa-apa kita bisa bawa tripod

    ReplyDelete
  10. Kalau ke museum sendirian, masih asik aja sih, karena bisa lebih fokus semisal sedang melihat-lihat aneka koleksi.
    Kalau pun harus membuat konten, masih bisa diakalin pakai tripod, hehe

    ReplyDelete
  11. Aku pernah jalan2 ke museum sendirian eh disamperin bule dan malah ditanya2 ya kujawab aja sebisaku waktu itu blm jaman google masih SMA klo ga salah ..barangkali si bule lihat tampang ku kayak bisa ngejelasin isi museum wkwkw

    ReplyDelete
  12. Buat saya datang ke Museum sendirian itu seru sih. Seperti ditulis di atas, jadi lebih bisa menikmati koleksi, nggak terburu-buru, dan bisa menjadi me time yang seru.

    Asaaaaal... Ada pengunjung lain di museum itu. Kalau bener-bener sendirian, mending balik badan hahaha...

    Karena bagi saya, kebanyakan museum itu auranya "gelap". Bahkan yang sudah modern sekalipun. Mungkin karena benda-benda yang dipajang menyimpan banyak cerita ya. Takut banget ada kejadian kaya di Museum AH Nasution 😆

    ReplyDelete
  13. Eh yg museum baba nyonya Melaka, mba THN berapa? Soalnya aku kesana 2023 Ama temen2, boleh kok foto. Aku ada nulis juga ttg museum itu, ada lumayan banyak foto yg kami ambil. Tp yg ga bisa kalau pakai kamera beneran, kamera hp ga masalah. Atau maksudnya yg ga bisa DSLR ya? Aku sempet mastiin ke petugas soalnya.

    Aku belum pernah DTG ke museum sendiri. So far pasti Ama temen atau keluarga.

    Alasannya simple, aku ga pernah solo traveling 🤣. Harus ada yg nemenin jalan, ditambah mataku Minus parah.

    Cumaaaaa, Juni besok kan perdana niiih aku ke KL sendirian, dan udh mulai mau akhirnya pake kacamata 🤣🤣🤣. JD kita liat ajalah yaa, apakah aku berani ke museum sendiri, atau aku bakal kontak temen2ku di sana buat nemenin hahahaha

    Sebenarnya seru sih ke museum sendiri. Tp khusus museum yg punya latar belakang seram, kayak museum killing Field di Kamboja, museum bom atom Hiroshima dan nagasaki, museum Jend Nasution, museum Ahmad Yani, aku ga mau pergi sendiri.

    Itu tempat seram soalnya. Kalau museum baba nyonya, museum yg jenis santai, ga papa sendirian.

    ReplyDelete
  14. Makin ke sini, akupun prefer ke mana² sendirian ajaaa. Betul kata Mbaa, kalo solo trip tu ritmenya kita bisa atur dewe, ga perlu menyesuaikan dgn yang lain.

    tapi khusus museum, aku belum pernah berkunjung sendirian.

    ReplyDelete
  15. Wah, pecinta museum ya mbak?
    Banyak juga museum yang sudah dikunjungi
    Bagiku, ke museum memang lebih seru saat sendirian
    Bisa menikmati dengan mindfull

    ReplyDelete
  16. Aku setuju banget semua ulasan tentang serunya jalan ke museum sendiri. Jalan sendiri tuh punya banyak kelebihan apalagi kalau berkunjung ke museum. Hal yang paling utama punya waktu banyak, bebas tanpa perlu memikirkan waktu orang lain.

    Hanya tuh yaa ituuu, seperti yang tertulis diatas, yaaa kalau sepi dan berada dalam ruangan yang isinya benda-benda yang umurnya panjang, kadang ya suka gitu daah ha ha ha. Jadi kalau aku milih-milih jalan sendiri tapi ke tempat yang keadaaannya mendukung.

    ReplyDelete
  17. Kalau saya sebenarnya prefer pergi sendiri mba, karena bisa fokus mnemperhatikan detail tiap koleksi. Kalau bareng-bareng kan biasanya riweh ya. tapi memang harus memastikan dulu kondisi fisik fit (Karena kalau kunjungan ket museu, dan sejenis kadang-kadang ada yang suka iseng mau menampakkakn diri he..he..), pikiran juga pas fresh, dan mood bagus. Tapi kalau untuk healing saat suntuk saya jujur lebih suka ke taman atau tempat lain yang banyak pohonmya, jadi pikirn adem mood balik lagi, kadang-kadang malah dapat inspirasi.

    ReplyDelete
  18. Mau donk diajakin jalan2 ke museuuumm :D
    Masih banyak keknya museum di Jakarta dan sekitarnya yang belum aku eksplore.
    Emang kalau jalan sendiri enak sih yaa, apalagi puas gitu ambil dokumentasi juga puas baca2 informasi soal benda2 koleksi museumnya.
    Wah museum2 kek MH Thamrin, AH Nasution dan Gedung Juang aku belum pernah keknya ke sana mbak.
    Mumpung liburan sekolah keknya mau ke sana ah. Walau sayang keknya beberapa nggak interaktif ya. Tapi lumayan lha buat nambah2 pengetahuan ya :D

    ReplyDelete
  19. Aiih.. luttuu amaayy sepatunyaah..
    Akutu suka model lancip gini, tapi melihat kakiku ini sepertinya ga cuco dipakein sepatu lancip. Kan cedii yaa...

    Btw, aku seneng juga jalan sendirian.
    Alhamdulillah.. jadi fokus sama kebahagiaan sendiri, meski yaah.. akutu orangnya kurang exploring loh.. kek banyak takutnya. Jadi hanya fokus ke tujuan, selesai.. pulang.

    Ini kereen bangeett...
    Bisa mindful menikmati suasana museum yaah..

    Btw, aku pernah bosen banget di Rembang, karena suami kerja dan aku cape ngunyah muluukk.. akhirnyaa, ku memutuskan untuk ke museum Kartini ((laggii dan laggii...))
    Karena ga ada guidenya ((ini museum sepiii... tapi masih dikelola dengan baik sama pemda)), jadi aku mandiri banget masuk sendiri.

    Tau ga Dit.. apa yang terjadi..
    Aku supeerr deg-degan.. feeling aku gaenaakk bangeett.. ((maklum rumah lawas yaakk..))
    Akhirnya ku memutuskan untuk skip beberapa area ((tog aku sering juga siih.. ke museum itu.. ini tuh cuma gabut ajaa))

    Tuuss.. ujung-ujungnya aku ngaciiirrr..
    Kakiku rasanyaaa gemeteraaan.. apalagi dipelototin ama lukisan lawan lawas jaman Belanda itu kan yaah...

    Kamu pernah ngerasain gitu juga gaa...??

    ReplyDelete
  20. huaa keren sih ini.. aku ke museum biasanya sama anak2 xD dulu berdua suami, belum pernah sendiri :D IMERI menarik ya, pengen ah kapan2 ajak anak2 ke sana.. Informasi jadwal berkunjungnya bisa dicek dimana mba?

    ReplyDelete

Contact Form

Name

Email *

Message *