Bagi warga yang berdomisili di Jakarta Utara bisa jadi Stasiun Tanjung Priok sudah nggak asing lagi, ya. Adakah Manteman yang pernah naik kereta dari stasiun ini?
Meskipun aku juga tinggal di Depok dan nggak terlalu jauh dari Jakarta, tapi baru kali ini bisa berkesempatan menyusuri setiap sudut Stasiun Tanjung Priok Jakarta berkat walking tour spesial bersama Wisata Kreatif Jakarta beberapa bulan lalu.
Rasanya seneng bangt karena kalau sendiri kayaknya nggak mungkin bisa masuk sampai ke rooftop bahkan melihat bunker peninggalan Belanda di stasiun ini!
Lokasi Stasiun Tanjung Priok yang nggak jauh dari pelabuhan ternyata memiliki cerita panjang sejak masa kolonial. Usia bangunannya pun sudah berusia 100 tahun lebih, lho. Kalau dilihat sekilas, mungkin nggak semua orang menyadari bangunan stasiun ini jadi salah satu stasiun paling bersejarah di Indonesia.
Yuk, aku ceritain gimana sejarahnya Stasiun Tanjung Priok Jakarta dan apa saja hal menarik yang ada di stasiun ini.
Awal Mula Stasiun Tanjung Priok: Ketika Pelabuhan Butuh Jalur Kereta
Keberadaan pelabuhan, tuh, penting banget, kan, ya bagi Batavia tempo dulu. Perdagangan dijalankan dari pelabuhan hingga ke tangan masyarakat. Sebelum ada Pelabuhan Tanjung Priok, ada Pelabuhan Sunda Kelapa yang beroperasi kala itu.
Nah, pada akhir abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda memindahkan pusat pelabuhan dari Sunda Kelapa ke Tanjung Priok karena kondisi pelabuhan lama yang dianggap kurang memadai untuk kapal-kapal besar.
Pelabuhan Tanjung Priok pun lama-lama berkembang pesat sebagai gerbang utama perdagangan di Batavia. Kapal-kapal dari Eropa, Asia, hingga berbagai wilayah Nusantara bersandar di sini. Aktivitas bongkar muat barang dan mobilitas penumpang sampai meningkat tajam.
Karena makin aktifnya pelabuhan tersebut, transportasi darat yang efisien untuk memindahkan barang dari pelabuhan ke berbagai tempat pun sangat dibutuhkan.
Nah, kereta api pun jadi solusi utama untuk menghubungkan pelabuhan dengan pusat kota Batavia serta daerah-daerah lain di Jawa. Lalu dibangunlah stasiun pertama di kawasan Tanjung Priok pada akhir abad ke-19.
Stasiun Tanjung Priok generasi pertama dibangun oleh Burgerlijke Openbare Werken sekitar tahun 1883 dan dibuka pada 2 November 1885.
Namun, perkembangan pelabuhan yang semakin pesat membuat bangunan stasiun awal dianggap nggak lagi memadai. Pemerintah kolonial pun membuat stasiun baru yang lebih besar dan lebih megah.
Baca Juga: Pengalaman Pertama Kali Naik Whoosh
Pembangunan Stasiun Baru Tanjung Priok: Proyek Ambisius Kolonial
Pembangunan stasiun baru dimulai pada tahun 1914 oleh perusahaan kereta api negara Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS). Proyek ini dipimpin oleh arsitek dan insinyur Belanda, C.W. Koch. Pembangunan sempat terhambat oleh Perang Dunia I, tapi akhirnya New Stasiun Tanjung Priok rampung dan resmi dibuka pada 6 April 1925.
Stasiun baru ini dirancang bukan hanya sebagai fasilitas transportasi, melainkan juga sebagai gerbang utama bagi para pendatang yang tiba melalui jalur laut.
Banyak penumpang kapal dari Eropa yang turun di Pelabuhan Tanjung Priok, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api dari stasiun ini menuju pusat kota Batavia atau kota-kota lain di Jawa. Bahkan dulu di stasiun ini juga disediakan banyak kamar seperti hotel, lho!
Karena perannya yang strategis dan penting, bangunan stasiun dirancang megah dan modern. Stasiun ini menjadi simbol kemajuan teknologi dan infrastruktur kolonial. Terlihat, kan, betapa besar dan megahnya stasiun ini.
Gaya Arsitektur Stasiun Tanjung Priok: Sentuhan Eropa
Salah satu daya tarik utama Stasiun Tanjung Priok adalah arsitekturnya. Saat pertama kali aku berada di Stasiun Tanjung Priok, aku juga ngerasa kagum banget sama bangunannya.
Stasiun Tanjung Priok berbeda dengan stasiun-stasiun lain yang berada di jalur kereta Jabodetabek, kan.
Ternyata bangunan Stasiun Tanjung Priok ini mengusung gaya modern awal dengan pengaruh Art Deco yang mulai berkembang di Eropa saat itu.
Salah satu elemen yang menjadi ciri khas Stasiun Tanjung Priok adalah atap peron melengkung (overkapping) yang terinspirasi dari desain Stasiun Centraal Amsterdam.
Ciri khas gaya arsitektur art deco pada Stasiun Tanjung Priok baru ini juga bisa terlihat pada:
- Garis-garis geometris tegas
- Bentuk bangunan yang simetris
- Jendela-jendela besar
- Ruang utama dengan langit-langit tinggi
Saat turun kereta dan berada di peronnya, aku pun nggak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil beberapa dokumentasi di stasiun ini, terutama pada bagian atap peron yang melengkung itu… :)
Baca Juga: 7 Hal Menarik di Museum Sejarah Jakarta
Stasiun Tanjung Priok di Masa Kemerdekaan
Saat masa kolonial Stasiun Tanjung Priok berada di masa kejayaannya. Menjadi stasiun yang super sibuk dan disambangi banyak orang, baik orang Belanda maupun pribumi
Setelah kemerdekaan, pengelolaan kereta api diambil alih oleh pemerintah Indonesia melalui Djawatan Kereta Api (DKA). Stasiun Tanjung Priok pun resmi menjadi milik Indonesia.
Selain kereta barang, Stasiun Tanjung Priok juga mengoperasikan kereta penumpang jarak dekat maupun jarak jauh.
Namun seiring waktu, peran Stasiun Tanjung Priok mulai berkurang karena perubahan pola transportasi dan distribusi logistik. Aktivitas penumpang pun nggak lagi seramai masa kolonial.
Pada tahun 1999, operasional stasiun sempat dihentikan oleh pemerintah. Beberapa bagian di stasiun mengalami kerusakan dan terbengkalai. Kondisinya sempat memprihatinkan. Padahal bangunan ini punya banyak nilai sejarah.
Stasiun Tanjung Priok Kembali Beroperasi
Alhamdulillah-nya pada 2009 Stasiun Tanjung Priok mulai beroperasi kembali. Pemerintah bersama PT Kereta Api Indonesia melakukan revitalisasi dan reaktivasi jalur menuju Stasiun Tanjung Priok.
Renovasi dilakukan tanpa menghilangkan karakter asli bangunannya. Struktur utama tetap dipertahankan karena bangunan ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kementerian terkait sejak awal 1990-an.
Upaya ini menjadi contoh penting bagaimana bangunan bersejarah bisa tetap difungsikan tanpa kehilangan nilai historisnya.
Saat aku dan teman-teman dari Wisata Kreatif Jakarta mengeliling stasiun ini pun pekerjaan pemeliharaan masih berjalan. Ada ruangan-ruangan yang belum difungsikan karena masih direnovasi.
Aku berharap banget Stasiun Tanjung Priok bisa 100% berfungsi dan smeua ruangan di dalamnya bisa digunakan.
Oiya, saat ini, Stasiun Tanjung Priok hanya melayani Commuter LIne rute Jakarta Kota - Tanjung Priok serta kereta barang, ya. Meskipun rutenya pendek, tapi, ya, kalau aku perhatikan penumpangnya tetap banyak.
Aku naik kereta Commuter Line ke Tanjung Priok dari Stasiun Jakarta Kota. Jadwal kereta ke Stasiun Tanjung Priok ada setiap 30 menit sekali, ya. Karena rutenya memang pendek dan cepat nggak heran kalau jadwalnya juga mepet gitu.
Baca Juga: Pengalaman Naik Kereta Api Gajayana Jakarta-Malang
Status Cagar Budaya Stasiun Tanjung Priok
Stasiun Tanjung Priok ditetapkan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya melalui Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tahun 1993. Selain itu juga ditetapkan sebagai benda cagar budaya lewat SK Menbudpar tanggal 25 April 2005.
Perlindungan ini karena bangunan melebihi usia 50 tahun, memiliki nilai arsitektur kolonial, dan memiliki makna penting dalam sejarah perkeretaapian dan transportasi nasional.
Sebagai bangunan cagar budaya, Stasiun Tanjung Priok nggak boleh diubah sembarangan. Setiap renovasi harus mempertimbangkan nilai sejarah dan keaslian arsitekturnya.
Ruangan- ruangan dan Hal Menarik di Stasiun Tanjung Priok
Setelah menjelajahi Stasiun Tanjung Priok aku mendapati banyak ruangan dan hal-hal menarik yang ada di stasiun ini. Ada beberapa benda yang masih ada sampai sekarang padahal sudah ada sejak masa kolonial dulu.
Ruangan Pribumi dan Non-Pribumi
Ternyata dahulu saat masa kolonial ada bagian di dalam Stasiun Tanjung Priok yang dibedakan berdasarkan kelas sosial. Ada ruang tunggu khusus pribumi dan ryang tunggu non-pribumi.
Untuk ruang tunggu non-pribumi alias untuk orang Belanda dan bangsawan bahkan disediakan ruang dansa hingga bar! Sampai saat ini pun keberadaan bar-nya juga masih ada dan ruangannya saat aku datang masih dalam renovasi.
Sepertinya, sih, ruangan ini akan dijadikan kafe atau ruangan yang bermanfaat lainnya. :)
![]() |
| Ruang Tunggu Pribumi |
![]() |
| Ruang dansa |
![]() |
| Ruang bar |
Bunker yang Terendam
Stasiun Tanjung Priok ternyata juga memiliki bunker bawah tanah, lho. Bunker ini pun bentuknya seperti terowongan yang katanya, sih, akan menyambung sampai ke Pelabuhan Tanjung Priok.
Nah, saat ini bunker tersebut nggak bisa dilewati, ya. Jadi aku hanya bisa melihatnya dari atas saja karena bagian bunker terendam air. :)
Rooftop Stasiun
Mengikuti walking tour seperti ini kelebihannya juga bisa masuk sampai ke tempat-tempat yang belum tentu bisa dimasuki kalau wisata sendiri.
Begitupun di Stasiun Tanjung Priok. Saat mengikuti walking tour ini aku bahkan bisa masuk sampai ke rooftop stasiun! Di rooftop ini bisa terlihat dengan jelas Terminal Tanjung Priok dan crane-crane yang berada di Pelabuhan Tanjung Priok.
Berbagai kendaraan dari yang kecil sampai yang besar juga sibuk berlalu-lalang. Melihat Tanjung Priok dari atas gini aku jadi ngebayangin pada masa kolonial dulu pasti juga suasananya sibuk dan nggak berhenti bergerak, ya.
Dari Urinoir sampai Lift Makanan
Stasiun Tanjung Priok juga masih menyimpan hal-hal yang sudah dipasang sejak dulu. Aku melihat urinoir asli dari zaman Belanda! Urinoir ini terbilang berukuran besar jika dibandingkan dengan urinoir yang ada sekarang.
Aku pun juga melihat ruangan dapur di Stasiun Tanjung Priok. Hal ini dibuktikan dengan adanya cooker hood atau alat untuk menyedot atau menyerap uap hasil dari memasak. Selain itu masih ada juga lift makanan yang menghubungkan dapur dan ruang makan.
Lift katrol dengan kayu tersebut bentuknya kecil dan saat ini juga sudah nggak bisa digunakan lagi.
Gimana, menarik banget, ya, yang ada di Stasiun Tanjung Priok… :) Bagi Manteman yang belum pernah ke Stasiun Tanjung Priok, yuk, sekali-kali mampir ke stasiun tua ini… Aku berharap semoga stasiun ini tetap terjaga sampai kapanpun…
Dita Indrihapsari















Selalu dengar namanya
ReplyDeleteTetapi belum pernah ke lokasinya
Sepertinya memang saya akan menuliskan pengalaman yang sama
Ternyata fakta menariknya bisa jadi salah satu cerita ke anak agar wawasannya bertambah
Aku beberapa kali baca ttg St Tj Priok. Sukaaa banget dengan design klasik bangunannya, dan seneng pas tahu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Berhubung aku ga pernah naik KRL, jadi memang ga pernah DTG ke stasiun2 commuterline . Padahal sebenernya banyak yg baguuus ya mba.
ReplyDeleteApalagi ga nyangka ada bunker dan rooftop nya. Agak merinding pas liat bunker terendam air. Ga kebayang kalau terjebak' di sana 😅😅.
Pas baca kalau di stasiun ada kamar2nya juga dulu, aku kok LGS inget Ama film kolosal, tp aku lupaaa film apa. Yg pasti inget ada diceritain kamar macam hotel juga di sana. Ruang tunggu dipisah antara pribumi dan asing, ini udah ga heran lah yaaa.
Secara pribumi memang dianggab sampah banget sama Belanda. Kecuali yg memang kaya.
Pantesan kok aku jarang banget denger atau tau tentang St tanjung Priok ini yaa. Eh, ternyata rutenya pendekk benerrrr.. cuma 4 stasiun doang, dan warna pink kalo di petanyaa. Ini kayaknya lebih jarang lagi keretanya dibanding kereta nambo ya mbak? hihihi
ReplyDeleteSeneng sih liat gedungnyaaa, terawat dan rapi sekali. Pertanda proses revitalisasinya berjalan dengan baikkk.. walaupun memang belum semuanya bisa digunakan, tapi aku liat si sudah cukup baik progressnya yaaa. Tinggal nanti semoga aja beberapa area yang belum tersentuh bisa diperbaiki, amiiiin.
Nganu, penasaran juga sama walking tournya sihhhh..
Bunyi kriuk kacang kecambah
Duduk di selasar sobat sejawat
Tanjung priuk memang penuh sejarah
Gedungnya besar, rapi dan terawat
Amazed bangettt baca artkel iniii.
ReplyDeleteTernyata pemeliharaan st Tanjung Priok keren buangett.
bahkan, hal² seperti bunker dll juga masih ada
beneran asyik kalo walking tour jelajah kek giniii
Aku baca ini dalam busway rute Tanjung Priok hihi, tetap tidak sampai ke tujuan akhir.
ReplyDeleteMambaca ruang terpisah antara pribumi dan non pribumi tuh entah kenapa rasa sedih, kesel. Penjajah tuh emang gabgau diri yak, dia makan hidup ambil semua harta kita tapi merendahkan banget. Tapi syukurlah itu tinggal sejarah.
Menyenangkan sekali bisa melihat langsung kisah sejarah yang sudah berumur ratusan tahun lebih.
Ternyata bersama WKJ bisa naik ke rooftop stasiun Tanjung Priok ya mbak. Aku pernah ikutan walking tour spesial bareng Kotu, hanya saja kami tidak ada eksplorasi ke area rooftop nya. Dan bener bunkernya nggak bisa dilewati padahal jujur aku penasaran sih sama area tersebut.
ReplyDeleteSemenarik itu ya stasiun Tanjung Priok, bahkan jadi cagar budaya juga dan emang secara bangunan kentel ala kolonial.
kalau tidak terendam air sepertinya menarik yaa buat menyusuri ke dalam bunker di Stasiun Tanjung Priok ini. memang rata-rata stasiun kereta api itu bangunannya peninggalan zaman Belanda semua yaa,,,kokoh dan kuat. Saya setuju sih kalau Stasiun kereta Tanjung Priok ini dijadikan bangunan cagar budaya agar benar-benar terlindungi dan tidak merusak bangunan dan sejarahnya.
ReplyDeleteKhas nuansa kolonialnya masih terjaga. epik sih ini, jadi seperti Stasiun Jakarta-Kota juga ya. Semoga tetap terus dilestarikan.
ReplyDeleteWalau masih ada bagian stasiun yang sedang direnovasi, alhamdulillah-nya sudah bisa dioperasikan ya, sehingga bisa jadi salah satu alternatif transportasi masyarakat.
Stasiun Tanjung Priok emang selegend itu. Jadi Cagar budaya yang masih dilestarikan sampai sekarang, keren banget karena mirip sekali dengan beberapa Stasiun di Eropa. Udah pernah ambil konten disana tapi kok belum selesai diproduksi hahaha. Tulisan ini jadi reminder buat cepet diselesaikan
ReplyDeletesayang banget bunkernya terendam air. Coba dikasih perahu ya. Biar bisa jadi akses ke pelabuhannya. Hehehe...
ReplyDeleteAku membayangkan ketika masih awal peresmian setelah baru selesai dibangun. Apakah bunker itu memang dilewati untuk ke pelabuhan ya.
Semacam jalan pintas gitu sih jadiinya kan ya.
thun 1914 - 1925 bearti kurang lebih 9 taun dann stasiun Tanjung Priok saksi ya Indonesia sebelum merdeka. Menjadi stasiunn yng smpet vakum 1990 dan beroperasi kmbali 2009 ini menunjuan Tanjung Priuk memiliki value ya teh Tanjung pRiuk ada d Jakut yaa inget nuy ya
ReplyDeleteSayang yaaa bunkernya kerendam jadi nggak bisa turun ke bawah huhu, padahal penasaran banget. Btw konon katanya tangga menuju bunker di stasiun itu nggak cuma satu, makanya jadi makin penasaran, beneran nembus gak tu ke pelabuhan hehe.
ReplyDeleteSuka sama arsitekturnya, kebayang di zaman itu sangat megah yaa bangunannya, walaupun yaa sedih juga karena stasiun ini kek menjadi simbol diskriminasi orang2 pribumi di masa lampau.
Senengnya karena bangunan ini menjadi warisan bersejarah. Aku juga berharap setelah renovasi nanti banyak ruangan yang bisa digunakan di sana, entah jadi kafe atau resto, tetapi sekaligus juga bisa menjadi ikoniknya area Priok. tapi juga ngarep kereta ke sana jamnya ditambah. 1/2 jam lama yak krik krik wkwk, semoga nanti bisa lha ya minimal 15 menit sekali pemberangkatan dari Jakarta Kotanya :D
Saat kita terbiasa dengan stasiun modern yang serba minimalis, tulisan kak Dita ini hadir sebagai pengingat betapa anggunnya arsitektur Art Deco yang masih berdiri kokoh di utara Jakarta.
ReplyDeleteKak Dita jg tidak hanya menyajikan data teknis, tapi juga menghidupkan suasana stasiun yang konon pernah menjadi yang termegah di Asia Tenggara ini.
Menarik bgt tuh ngelihat penekanan detail ornamen kaca patri dan pilar-pilar tinggi yang bercerita tentang kejayaan masa lalu; sebuah pengingat penting kalau stasiun bukan cuma tempat transit, tapi juga saksi bisu perjalanan sejarah bangsa.
Wah aku baru tahu ada stasiun tanjung priok. Selama ini tahunya cuma pelabuhan aja ternyata ada stasiun keretanya juga ya, mbak. Dan kalau untuk urusan arsitekturnya aku yakin pasti keren banget karena arsitektur belanda itu aku suka banget lihatnya. Semoga aja revitalisasi stasiun ini bisa berjalan lancar yaa jadi stasiun ini juga bisa berfungsi kembali
ReplyDeleteTernyata Stasiun Tanjung Priok memiliki sejarah yang panjang ya. Sudah lebih dari 100 tahun usianya sejak pertama kali berdiri. Beruntung sekali bisa mengikuti walking tour ke tempat bersejarah ini. Kelihatan banget bangunannya masih jadul ala-ala arsitektur Belanda.
ReplyDeleteAa seru banget sampai ke roof top dan bunkernyaa. Aku yang orang Priuk malah belum pernah eksplor segininya, huahua. Paling ya pernah ke pelabuhan Tj. Priuknya aja sih ya.
ReplyDeleteNah, dulu tuh aku inget jaman aku kecil naik kereta antar kota ya dari stasiun ini bubu. Tapi ya namanya anak kecil, gak engeh desainnya secakep ini.
Terus usia sekolah sampai kuliah ya gak bisa naik kereta lagi karena stasiunnya ditutup dan nganggur gitu aja. Waktu itu juga bingung, kenapa gak dibuka lagi ya? Apa mungkin jalurnya emang sulit.
Eh, begitu udah selesai kuliah, dia malah dibuka lagi jalur kereta nya, ahaha. Sekarang jadinya dari Depok bisa lanjut terus ke Priuk naik kereta. Kalau dulu tuh, aku mesti turun di Kota dan lanjut naik angkot. Sekarang tinggal pindah peron aja buat naik kereta ke Priuk. Jadi gak terlalu banyak pindah angkot lah yaa :D
Stasiun² lama tuh bangunannya tinggi² ya. Saya belum pernah ke stasiun tanjung priok dan takjub sama bangunan ini yang masih kokoh banget.
ReplyDeleteYang menarih tuh urinoir sama bunkernya. Urionirnya raksasa sekali ukurannya. Hehhee.. dan sayang banget bunkernya kerendem air, padahal pgn tahu isi bunkernya apa ya. 🥹🥹
Untuk yang usianya selama ini, keren ya pemeliharaannya. Masih terlihat cukup terawat. Tapi saya pribadi suka agak degdegan dan merinding lihat peninggalan jaman dulu gini.. seperti masih meninggalkan nyawa
ReplyDeleteKalau melihat bangunan utama Stasiun Tanjung Priok ini, aku kaguum bangeett..
ReplyDeleteSemuanya bersih dan serba tinggi yaa.. berasaa legga dan kesan kolonialnya "dapeett" bangeett.. Tapii begitu melihat ke urinoirnya.. subhanallahu.. asa inget Lawang Sewu gassii.. yang penjara jongkok ituu... huhuhu..
Tapi mainnya meuni mayaan euuii.. sampe Tanjung Priok banget..
hehehe.. Unik, maksudkuuh...
Ah keren banget Stasiun Tanjung Priok
ReplyDeleteDitengah perannya saat ini, tetap mempertahankan sejarah yang ada ya
Stasiun Tanjung Priok memang penuh cerita dan kenangan