Pesona Telaga Warna Puncak Dibalik Kabut

telaga-warna-puncak


Nggak nyangka, sih, perjalanan yang awalnya nggak masuk dalam rencana justru jadi bagian yang berkesan! Yap, kali ini aku mau bercerita tentang tempat wisata Telaga Warna yang berada di Puncak. 


Beberapa waktu lalu aku dan suami berniat untuk menjelajahi dan menikmati Telaga Saat Puncak. Kami menyusuri perkebunan teh Ciliwung Tea Estate sampai akhirnya kami sampai di Telaga Saat. 


Kemudian usai puas berkeliling Telaga Saat, aku dan suami pun rencananya langsung mau makan di Sate Hanjawar. Namun plang nama danau lain mengalihkan rencana kami. 


Ya, aku dan suami pun selepas dari Telaga Saat langsung mengarah ke Telaga Warna. Lokasi telaga ini pun juga masih di dalam kawasan Ciliwung Tea Estate. Aku pikir, ya, sudah sekalian sajalah ke Telaga Warna biar nggak penasaran…. :D 


telaga-warna-puncak-dibalik-kabut



Jujur, karena hanya berencana ke Telaga Saat, aku sama sekali nggak browsing dan survei apapun tentang Telaga Warna. Jadi saat sampai ke Telaga Warna ada berbagai rasa yang berkecamuk di hati. Mulai dari rasa takjub, takut, dan bingung ahahaha… 


Kenapa aku bisa merasa seperti itu? Yuk, aku ceritakan di tulisan ini, ya, pengalamanku dan suami naik motor dari Depok sampai ke Telaga Warna Puncak. :)  


Baca Juga: Perjalanan Depok-Ciletuh Sukabumi dengan Motor



Pemandangan Telaga Warna yang Berkabut

Suamiku membelokkan motor yang mengarah ke rute Telaga Warna. Jalan yang awalnya datar dengan konblok tiba-tiba berubah menjadi jalanan berbatu. Di sisi kanan terdapat perkebunan teh, sedangkan sisi kiri pepohonan tinggi. 


Jalanan sangat sepi, Sepertinya hanya ada motor kami yang melewati jalanan itu. Kami nggak berpapasan juga dengan kendaraan lainnya. Awalnya sempat kalut juga, kok sepi banget, ya.


jalan-menuju-telaga-warna-puncak


Akhirnya kekalutan berakhir ketika tiba di parkiran kendaraan Telaga Warna. Di sana aku melihat beberapa motor berjajar rapi. Kupikir alhamdulillah ada pengunjung lain juga berarti di tempat wisata ini. Hal ini berbeda dengan Telaga Saat yang saat aku datang cukup ramai pengunjung.


Lanjut, aku dan suami langsung ke loket tiket dan membayar Rp 25 ribu/orang untuk tiket masuknya. Di tempat loket ini juga bisa sekalian menitip helm, lho. Jadi ada rak khusus helm gitu. Penitipan helm tanpa biaya, ya. 


harga-tiket-masuk-telaga-warna-puncak


Setelah dari loket kami langsung berjalan mengarah ke spot Telaga Warna. Aku pikir harus berjalan beberapa ratus meter. ternyata begitu dari loket, hanya beberapa langkah saja Telaga Warna sudah ada di hadapan mata. 


Namuuuuun, karena hari itu cuaca mendung dan berkabut, alhasil Telaga Warnanya nggak kelihatan! :D Oiya, nggak seperti Telaga Saat, Telaga Warna ukurannya juga jauh lebih kecil. 


Aku pikir dengan harga tiket masuk Rp 25 ribu/orang dan kondisinya nggak kelihatan begini karena kabut akan zonk banget. Tapi ternyata aku malah dapat banyak hal menarik yang ada di Telaga Warna Puncak. :) 


Setelah menunggu beberapa saat, kabut sedikit menghilang. Aku pun bisa melihat Telaga Warna walaupun nggak sepenuhnya, ya. Masih ada kabut tapi air telaga bis terlihatlah… :D 


Telaga Warna dikelilingi oleh pohon-pohon. Di sisi satunya terdapat deretan penginapan berbentuk kabin kayu. Ada beberapa spot foto juga yang bisa digunakan pengunjung. Suasana di Telaga Warna Puncak kala berkabut terasa sangat magical dan misterius. Rasanya seperti sedang masuk ke dalam set film fantasi atau legenda zaman dahulu,  deh.


telaga-warna-puncak


Apalagi ada yang meniupkan balon-balon sabun di sekeliling danau. Waw, berasa jadi makin ada di dunia lain aja! :D 


Sedikit fakta menarik tentang Telaga Warna, tempat ini berada di ketinggian 1.097–1.400 mdpl. Hal ini tentunya menjadikan Telaga Warna memiliki udara yang sangat sejuk dan memang sering diselimuti kabut tebal.


Telaga Warna juga merupakan bagian dari Kawasan Cagar Alam Hutan Gunung Mega Mendung dan Gunung Hambalang yang ditetapkan sebagai taman wisata sejak 1972. Waw, ternyata telaga ini memang sudah legend, ya!


Selain itu, Telaga Warna dikelilingi hutan tropis pegunungan dengan tumbuhan seperti paku tiang, rame, dan rotan. Kawasan ini juga menjadi habitat bagi berbagai hewan liar yang terkadang terlihat oleh pengunjung, seperti kera abu-abu, lutung, surili, berbagai jenis burung, dan hewan lainnya.


Kebetulan, aku dan suami juga sempat melihat monyet atau kera liar yang berjalan di atas pohon. Pas melihat itu, wah, rasanya senang sekali. :D 



Telaga Warna Jadi Tempat Foto Menarik

Seperti yang aku tulis sebelumnya, ada beberapa motor yang terparkir di pintu masuk Telaga Warna. Dan benar saja, di dalam kawasan Telaga Warna memang ada beberapa pengunjung dan juga fotografer. 


Aku melihat beberapa orang pengunjung yang sedang diarahkan gayanya oleh fotografer. Meski sedang berkabut, tapi justru hal tersebut jadi keindahan tersendiri di Telaga Warna, ya. 


Menurutku Telaga Warna memang bagus banget buat jadi background foto. Aku aja sempat menyesal nggak punya foto yang proper di tempat ini, hiksss… Makanya kalau diajak suami buat ke Telaga Warna lagi aku, sih, nggak akan nolak! 


Lagipula katanya bisa juga foto di atas perahu di atas telaga ini. Menarik banget, ya. Tapi karena lagi berkabut jadinya nggak bisa. Tapi foto dengan pemandangan telaga yang berkabut dengan pantulan pepohonan di air danau juga terlihat magis! 


Baca Juga: Fenomena Jasa Fotografer Keliling di Tempat Wisata



Bukan Sekadar Wisata Telaga Semata

Sambil berjalan menyusuri pinggiran telaga, aku juga baru menyadari kalau fasilitas di Telaga Warna ternyata cukup lengkap. 


Meski tampak klasik, ada sebuah restoran juga di sana yang menyajikan berbagai menu makanan dan minuman. 


fasilitas-di-telaga-warna-puncak

restoran-telaga-warna-puncak


Ada juga beberapa penginapan yang terletak nggak jauh dari pinggir telaga. Aku ngebayangin serunya menginap di sini, bangun pagi disambut kabut, suara burung tanpa kebisingan kendaraan, dan tentunya pemandangan telaga yang menyejukkan.


Namun di saat yang sama aku juga merasakan kengerian! Ada perasaan takut juga kalau menginap di sini. Pertama, kebayang kalau malam pasti suasananya akan sepi sekali! Alasan lainnya aku melihat kabin kayu itu sudah terlihat tua dan sepertinya kurang terawat. 


penginapan-di-telaga-warna-puncak


Adakah Manteman yang pernah menginap di sini? Kalau ada boleh baget berbagi pengalaman di kolom komentar, ya. 


Jujur, aku juga belum pernah baca review-an pengunjung yang menginap di telaga Warna. Apakah worth it untuk menginap di sini? Apakah ketakutanku dengan suasana dan kabin kayunya memang terbukti atau hanya imajinasiku saja… :) 


Baca Juga: Cerita Staycation di Royal Safari Garden



Cerita Legenda Telaga Warna

Setelah dari Telaga Warna, aku baru mulai browsing-browsing tentang tempat wisata ini. Ternyata Telaga warna juga ada cerita legendanya, lho, soal kenapa bisa terbentuk telaga ini. 


Konon, telaga ini bukan sekadar genangan air alami, melainkan air mata kesedihan dari sebuah kerajaan kuno di Jawa Barat. Dikisahkan ada seorang raja dan ratu yang sangat dicintai rakyatnya. Raja dan ratu ini memiliki anak perempuan yang sangat manja.


Singkat cerita, di hari ulang tahunnya, anak perempuan itu mendapat hadiah sebuah kalung emas permata. Namun karena merasa kalung itu jelek, ia sekonyong-konyong membuang kalung tersebut. 


Tindakan itu membuat orang tuanya dan seluruh rakyat sedih dan menangis hingga air mata mereka membanjiri dan menenggelamkan kerajaan tersebut. 


Cahaya warna-warni dari kalung yang tenggelam itulah yang konon membuat air telaga ini bisa berubah warna. Gimana, Manteman percaya nggak, sih, sama legenda ini? :) 


Oiya, kalau secara ilmiah, sebenarnya ada yang menjadi penyebab kenapa air di telaga ini bisa berubah warna sehingga disebut sebagai Telaga Warna. 


Hal itu disebabkan oleh keberadaan ganggang (algae) di dalam air yang memantulkan warna berbeda saat terkena sinar matahari. Karena itulah warna air telaga bisa berubah.


area-sekitar-telaga-warna-puncak

telaga-warna-puncak


Dari Telaga Warna aku jadi merasa kalau mendung dan kabut bukan berarti jadi penghalang kecantikan sebuah tempat wisata. Justru, keduanya seperti memberikan "nyawa" yang berbeda bagi Telaga Warna. 


Bagi Manteman yang ingin berkunjung ke Telaga Warna, jangan berkecil hati kalau cuaca sedang nggak mendukung, ya. Jangan lupa pakai jaket tebal, bawa payung, dan nikmati sisi magical dari telaga legendaris ini.



Dita Indrihapsari


20 comments:

  1. Baca ini jadi kebayang suasana Telaga Warna yang adem, berkabut, dan agak “magis” ya 😍 Apalagi bagian kabutnya memang itu yang bikin tempat ini punya feel beda, tenang tapi juga sedikit misterius.

    Aku juga relate banget sama deskripsi soal warna airnya yang bisa berubah-ubah. Memang itu salah satu daya tarik utama Telaga Warna, karena dipengaruhi oleh faktor alami seperti alga dan cahaya, jadi tiap datang bisa dapat “versi” pemandangan yang berbeda

    ReplyDelete
  2. Dari foto-foto di tulisan ini kerasa banget suasana nano-nano di Telaga Warna ini. Ada suasana adem, tenang, namun juga mistis ya dengan balutan kabut yang tebal. Tapi jelas fotonya jadi indah dan unik banget hasilnya, bener-bener kaya berada di dunia lain. Kebayang kalau pas datang lagi ga ada orang banget, kaya uji nyali sepertinya jalan-jalan di sana.. hehe

    ReplyDelete
  3. Ini mirip sama kampung halamanku mbak. Berhubung posisinya di bawah gunung dan tinggi, suasananya jadi sejuk dan nyaman. Tapi kalo lagi ada kabuttt... beuh, bener-bener hampir gak keliatan apa-apaan sama sekali, heuheu. Makanya kadang saya pun galau ngajakin keluarga melipir.
    Telaga warna ini saya belom pernah kesampean barang sekalipun. Sekarang apalagi, udah ada anak.. makin ga pernah lagi naik motor turing dadakan ke Puncak. Pengen sih, nanti satu waktu kalo anak udah gede, mauuu melipir ke area Puncak Pas lagi.
    Cuma kalo disuruh nginep sih, makasih ya. Nope! Itu udah keliatan suasananya serem betuuuull.. tar yang ada gabisa tidur, kebayang suasananya sepi, wkwkwk


    Buah blewah penuh pancarona
    Warnanya terang merah merona
    Sungguh indah suasana telaga warna
    Adakah dayang yang mandi disana?

    ReplyDelete
  4. Aku setuju kalau vibes telaga warna ini kayak di set film fantasi atau film laga. Karena aku juga merasa begitu, meski hanya melihat fotonya saja. Apalagi kalau satang langsung ke sana.

    ReplyDelete
  5. Awalnya aku pikir telaga warna yg di Dieng mbaaa 😄. Ternyata di puncak ada yaaa.

    Ga inget kapan trakhir ke puncak ih. Sebenernya sukaaaa kesana, cuma kdg mikir buka tutup dan macetnya itu.

    Tp ini kereen tempatnya, seriuuus aku juga JD pengen kesana 😍😍😍😍. Beneran yaa, kabutnya malah KSH kesan misterius dan mistis.

    Cuma aku ga mau juga nginep di penginapan, ngeriiii hahahahahah. Walau penasaran Ama rate semalamnya

    ReplyDelete
  6. Legendanya Telaga Warna ini tentunya pernah didengar oleh siapa aja ya. Dan memang indah tempatnya.
    Walau sih agak berkabut di sana, tapi makin berasa dah sejuknya yang memang pas jadi tempat wisata mengesankan

    ReplyDelete
  7. Aha... saat membaca Judul Telaga Warna, saya langsung teringat cerita dongeng di majalah Bobo, Mbak. Dan ceritanya memang itu, putri yang tidak bersyukur mendapat hadiah.
    Tapi karena tidak direncanakan sebelumnya, jadi perjalanan ke Telaga Warna jadi lebih berkesan Mba. Tanpa browsing dulu, jadi bertanya-tanya, apa gerangan yang akan kita alami di sana ya? Dan justru sensasinya ada di kabut itu. pemandangan di sana jadi syahdu. Ehm.. kalau untuk menginap sendiri atau berdua saja, saya juga mikir. kecuali kalu nginapnyya rombongan atau sekompi hehehe.

    ReplyDelete
  8. puncak kemudian ttelaga duh perpaduan, perasaan yang dirasa itu betul takjub syahdu tenang. beberapa kali liat postingan aadek yng di bogor teh , ini tlaga warna pernah di kunjungi tapi pas enggak musim hujan hujan

    ReplyDelete
  9. pemikiranku sama kayak mbak Fanny, aku kira telaga warna yang di Wonosobo, ternyata bukan.
    kalau kita dateng ke destinasi seperti ini, bisa dibilang magical ya, apalagi kalau kabutnya tebel, kayak di film film gitu

    ReplyDelete
  10. Dulu banget, ada kali 30 tahun yang lalu, saat masih gadis, pernah ke Telaga Warna ini, masih alami banget, dan daku yang enggak tahan dingin, terpaksa menggigil terus, hahaha. Baca reviewnya, jadi ingin kembali mengulangi kenangan Telaga Warna yang dulu, apalagi sekarang sudah dirawat ya.

    ReplyDelete
  11. Justru karena ada mendung dan kabut memberi warna pada kunjungan ke Telaga Warna ya, suasananya jadi sendu syahdu walau kelabu. Jadi pengalaman menarik dan ga biasa. Next mesti nginap dong hehehe

    ReplyDelete
  12. Telaga dan kabut. Perpaduan yang memang menimbulkan berbagai perasaan. Indah namun seolah penuh misteri. Berasa di dunia fantasi. Pasti keren banget buat foto yang proper ya. Kalau buat nginap kayanya aku juga nggak akan berani. Apalagi tempatnya sepi begitu 😅

    ReplyDelete
  13. kalau di Indonesia biasanya selalu ada cerita atau legenda ya terkait danau atau telaga yang sekarang jadi objek wisata termasuk telaga warna ini. sayang banget nih pemandangannya berkabut jadi nggak bisa lihat keindahan telaganya dengan sempurna

    ReplyDelete
  14. Dulu pas SD, kalau ke rumah sepupu di Jakarta, rutenya selalu lewat puncak biar bisa tidur di sana. Kalau udah waktunya jalan tuh, kayak nggak rela aja ninggalin puncak yang sejuk plus banyak pohon²nya sepanjang jalan.

    Tiga tahun lalu pas mau ke puncak dari Bogor tuh jalurnya rame banget, jadi puter balik daripada lama² terjebak macet di sana. Padahal pengen banget eksplore kawasan puncak lagi.

    Kalau telaga warna ini justru yang kuinget adalah legendanya. Karena buku² legenda yang selalu jadi temen sebelum bobok. 🥹🥹

    ReplyDelete
  15. Auto membayangkan suasana di sana. Benar kata mbak sepertinya nyaman ya menginap di sana, bangun pagi disambut kabut dan pemandangan yang indah dari telaga tiga warna

    ReplyDelete
  16. Ternyata telaga warna ini nggak terlalu banyak berubah. Aku sekitar tahun 2016-an pas masih kuliah, kesana sama beberapa teman kampus. Biasa kami suka explore sekitaran area puncak kalau menjelang besoknya libur kuliah.

    Sebagai orang yang nggak bisa bawa motor, aku di bonceng dan vibes telaga warna emang begitu rawan berkabut. Tetapi, banyak spot estetik banget dan jujur sampai sekarang belum kesana lagi. Penasaran juga aku sama penginapan nya sih hehehe.

    Jadi punya ide, apa kapan-kapan ku ajak mama dan bapakku liburan nginap di talaga warna ya. Sekalian nostalgia hahaha.

    Legenda nya unik emang.

    ReplyDelete
  17. Baca Telaga Warna Puncak ini rasanya seperti ikut menghirup udara dingin pegunungan deh ya! Ada daya tarik tersendiri ketika sebuah destinasi wisata legendaris justru dinikmati di balik selimut kabut. Suasananya jadi terasa lebih puitis dan tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota.

    Aku suka saat kak Dita memotret sisi "magis" perubahan warna air telaga yang dipadukan dengan rimbunnya hutan sekitar. Menarik sekali melihat tips praktisnya mengenai waktu kunjungan terbaik.

    Dan benar, terkadang momen syahdu seperti ini justru lebih mahal harganya daripada pemandangan cerah biasa. Makasih loh udah ngerangkum pengalaman jalan-jalan keluarga yang santai namun tetap informatif ini.

    Ulasan ini beneran jadi pengingat kalau Puncak masih punya sisi lembut yang menenangkan jika kita tahu ke mana harus melangkah. Benar-benar definisi healing yang sederhana tapi berkesan!

    ReplyDelete
  18. Syahdu banget pasti nuansanya. Jagung bakar, mie rebus, kopi hangat, beuh mantap..
    Kalau lagi di tempat seperti ini nuansa healingnya berasa banget..

    ReplyDelete
  19. Saya suka deh dengan Telaga Warna Puncak yang asri dan sejuk. Adem banget liatnya. Ternyata kawasan Telaga Warna ini masuk ke Kawasan Cagar Alam Hutan Gunung Mega Mendung dan Gunung Hambalang yang ditetapkan sebagai taman wisata sejak 1972. Kawasan wisata alam yang saya juga pengen kunjungin suatu hari nanti, masih masuk ke whistlist sih.

    ReplyDelete
  20. MashaAllah yaa.. Telaga Warna sangat berkabut sekalii.. berasa lagi syuting Narnia..
    Hehhee.. dan unik banget bangunan di sana dengan kemiringan tertentu begituu..
    Enaknya duduk manis di depan perapian sambil minum teh...

    Ka Dita juarraa bangeett...
    Exploring Telaga Warna dengan penuh antusias.

    ReplyDelete

Contact Form

Name

Email *

Message *