Telaga Saat Puncak, Perjalanan Naik Motor dari Depok ke Titik Nol Sungai Ciliwung



Suatu hari suamiku berkata, “Yuk, makan Sate Hanjawar lagi!” Tentunya kalau suami ngajak kemana-mana alias jalan-jalan, aku nggak akan menolak… :D Pas tahu suami pingin lagi ke Sate Hanjawar, aku pun langsung mikir, “Bisa kali, nih, sekalian juga ke Telaga Saat!” :D 


Yap, aku baru tahu soal Telaga Saat beberapa bulan lalu saat scrolling socmed. Pasti ada aja konten-konten FYP soal tempat wisata yang mampir di berandaku. Nah, salah satunya Telaga Saat yang lokasinya ada di Puncak. 


Sejak kepo tentang tempat ini, akhirnya sering banget yang muncul di berandaku tentang perjalanan konten kreator ke Telaga Saat. Dari video yang aku lihat, Telaga Saat memang cakep banget! Danau luas dengan dikelilingi oleh perbukitan hijau. 


Lokasinya pun nggak terlalu jauh dari Sate Hanjawar yang mau didatangi suami. 


Akhirnya setelah berembug, aku dan suami pun memutuskan untuk ke Telaga Saat kemudian setelah itu baru ke Sate Hanjawar. Perjalanan dari rumah kami di Depok dengan menaiki sepeda motor NMax. :D 


Aku sebenarnya sudah lama nggak ikut riding ke Puncak. Ada rasa khawatir juga takut capek, pegal linu, masuk angin… :D Tapi, sayang juga kalau rencana yang sudah kami siapkan ini jadi batal karena ketakutanku aja… 



Berangkat dari Depok, Riding Santai ke Arah Puncak

Aku dan suami berangkat dari Depok selepas Subuh. Oiya, malam sebelumnya, kami sudah menitipkan anak-anak dulu di rumah eyangnya. Jadi saat pagi itu kami bisa langsung berangkat. 


Tentunya kami sengaja memilih perjalanan pagi hari supaya terhindar dari macet parah khas jalur Puncak, sekaligus bisa menikmati udara segar pegunungan. :) 


Dari Depok suamiku memacu motor menuju Bogor. Di tengah perjalanan karena belum sarapan pagi, kami berdua pun menyarap bubur ayam di pinggir jalan. Tempat kami sarapan ini nggak terlalu jauh dari Hotel Royal Safari Garden. 


Sarapan di sana sekaligus untuk istirahat dan merenggangkan kaki-kaki sesaat. Meskipun masih pagi sekitar jam 7-an, namun suasana jalanan di Puncak saat itu sudah mulai ramai. Di beberapa spot bahkan ada kepadatan kendaraan, terutama roda empat.  


Usai sarapan, kami pun kembali lagi menuju Telaga Saat. Lakasi telaga ini setelah melewati Wisata Gunung Mas dan Masjid At Taawun. Ini sebagai patokannya, ya. Aku juga memakai Google Maps untuk mencapai Telaga Saat. 



Melewati The Ciliwung Tea Estate, Hamparan Kebun Teh Hijau yang Menenangkan

Setelah melewati Masjid At Taawun, sekitar 1,7 kilometer lagi, motor yang aku naiki berbelok ke arah kiri menuju The Ciliwung Tea Estate. Ya, untuk mencapai Telaga Saat memang harus melewati kawasan perkebunan teh tersebut.  


Di sini ada tiket masuknya, ya. Per orangnya Rp 25.000,- dan untuk motor Rp 10.000,-. Oiya, tiket masuk ini nantinya bisa ditukarkan dengan minuman di cafe yang berada di dekat Telaga Saat.




Beberapa tahun lalu, akses menuju Telaga Saat dikenal cukup menantang. Jalanan rusak, berbatu, dan licin saat hujan. Tapi sekarang, kondisinya jauh lebih baik dan ramah, termasuk untuk pengendara motor. Kini sepanjang melewati perkebunan teh, jalannya sudah di-konblok.


Meski masih ada beberapa bagian jalan tanah dan berbatu, secara keseluruhan jalur menuju Telaga Saat sudah lebih nyaman. Tetap perlu kehati-hatian, terutama jika datang saat hujan, tapi tidak lagi seseram cerita-cerita lama.


Niatnya memang mau ke Telaga Saat, tapi aku dan suami malah dibuat terpesona dengan perkebunan teh di sini. Area perkebunan tehnya luas banget! Di titik ini, aku ngerasanya perjalanan terasa seperti memasuki dunia lain. Apalagi saat itu kabut seperti mulai bergerak turun dari atas. 





Hamparan kebun teh hijau membentang sejauh mata memandang. Jalanan berkelok dengan latar perbukitan membuat kami beberapa kali berhenti. Bukan karena lelah, tapi karena terlalu sayang kalau dilewati begitu saja tanpa menikmati pemandangannya. Dan tentunya sambil beberapa kali mengambil foto dan video… :D 


Bahkan saat kami berhenti, kami juga sempat mengobrol dengan bapak yang mengambil daun teh dengan membawa truk. Ada ilmu baru soal bagaimana daun teh terbaik dipanen.


Inilah salah satu momen favoritku sepanjang perjalanan ini, riding pelan di tengah kebun teh. Rasanya seperti terapi gratis sebelum sampai ke tujuan utama.



Kesan Pertama Saat Melihat Telaga Saat Puncak

Akhirnya setelah perjalanan melintasi perkebunan teh, aku dan suami sampai juga di parkiran Telaga Saat. Meski baru pukul 8 pagi, suasana parkiran sudah ramai dengan beberapa kendaraan roda dua dan roda empat. 




Di dekat parkiran terdapat bangunan besar yang khas banget. Seperti bangunan pabrik berbata merah. Aku penasaran banget, kan, ya, sebenarnya ini, tuh, bangunan apa. Kelihatan baru, berukuran besar tapi, kok, sepertinya sepi dan nggak terpakai.


Selepas dari Telaga Saat barulah aku sempat browsing mengenai bangunan ini. Ternyata bangunan tersebut memang pabrik teh di Ciliwung Tea Estate 1907. 


Namun bangunan tersebut disegel oleh pemerintah pada tahun 2025 lalu. Penyegelan ini merupakan buntut dari ditertibkannya beberapa bangunan dan tempat wisata yang melakukan alih fungsi lahan tanpa memperhatikan lingkungan. 


Akibat dari alih fungsi tersebut memang bisa fatal, termasuk kerusakan lingkungan dan bisa berdampak pada bencana alam. 


Hmmm, sepertinya memang kalau aku lihat bangunannya besar sekali. Mungkin dari kajian pemerintah ditakutkan ada dampak buruk dengan adanya bangunan tersebut. 




Meski bangunan tersebut disegel, untuk wisata Telaga Saat sendiri sampai saat aku menulis ini tetap beroperasi, ya, Manteman. Apakah tempat wisata ini nantinya harus dikaji lagi atau bagaimana kita ikuti saja perkembangannya. 


Sejauh yang aku lihat begitu memasuki kawasan Telaga Saat kondisinya sangat baik. Untuk masuk ke dalam pengunjung harus membayar tiket masuk lagi sebesar Rp 10.000,- per orang. 




Lanjut dari loket tiket sudah ada jalur pejalan kaki disepanjang telaga. Jadi enak banget kalau mau menyusuri Telaga Saat telah disediakan fasilitasnya. 


Begitu sampai, rasa lelah rasanya memang langsung terbayar. Telaga Saat menyambut dengan suasana yang tenang dan udara yang dingin. Air telaga tampak jernih, dikelilingi pepohonan dan perbukitan hijau. Wah, view-nya beneran baguuusss…





Aku pingin membandingkannya seperti di Swiss. Tapi, kan, aku belum pernah ke sana, ya… :D Lagipula nggak perlulah dibanding-bandingkan, karena setiap tempat pasti punya keistimewaannya masing-masing. 


Telaga Saat terasa cocok untuk siapa saja yang ingin “slow living.” Entah sekadar duduk di tepi telaga, menikmati pemandangan atau mengobrol santai tanpa distraksi. Telaga yang tenang, agak sunyi, dan suasana yang menyejukkan.



Telaga Saat, Titik Nol Kilometer Sungai Ciliwung

Salah satu hal paling menarik dari Telaga Saat adalah statusnya sebagai titik nol Sungai Ciliwung. Sungai yang mengalir melewati Bogor hingga Jakarta ini ternyata bermula dari telaga yang tenang dan bersih ini, lho.


Hal ini pun baru aku ketahui dari konten-konten yang berseliweran di social media. Makin jelas lagi saat aku sampai di telaga ini dan melihat sendiri ada tanda 0 Km Ciliwung lengkap dengan logo Kementerian Pekerjaan Umum (PU). 


Pengelolaan Telaga Saat sepertinya memang ada di bawah Kementerian PU bagian Daerah Aliran Sungai atau DAS. 


Papan penanda titik nol kilometer ini pun jadi spot foto favorit. Berdiri di sini rasanya seperti refleksi ke diri sendiri. Bagaimana air yang tenang di telaga ini nantinya akan mengalir jauh, melewati banyak wilayah, dan memegang peran penting bagi kehidupan banyak orang.



Apalagi aku dan suami juga hidup di Depok yang mana dilintasi juga oleh aliran Sungai Ciliwung. Aku berharap semoga Telaga Saat tetap terjaga kelestariannya sehingga bisa bermanfaat untuk masyarakat. 


Fun fact ini sepertinya membuat kunjunganku dan suami ke Telaga Saat terasa lebih bermakna, bukan sekadar wisata alam biasa. :) 



Aktivitas Seru yang Bisa Dilakukan di Telaga Saat

Meski suasananya tenang, bukan berarti tidak ada aktivitas menarik yang bisa dilakukan di Telaga Saat.  Berikut ini list beberapa aktivitas di Telaga Saat yang bisa Manteman coba saat berkunjung ke sana, ya.


1. Foto-Foto dengan Latar Alam

Telaga Saat sangat fotogenik! Mulai dari tepi telaga, papan titik nol kilometer, hingga latar perbukitan dan kebun teh. Semuanya Instagramable tanpa perlu banyak effort. Kalau menurutku cahaya pagi atau sore hari jadi waktu terbaik untuk berburu foto di Telaga Saat, terutama saat kabut tipis mulai turun perlahan.


2. Menikmati Alam di Gazebo

Terdapat beberapa gazebo besar maupun kecil yang ada di sekeliling Telaga Saat. Jadi pengunjung yang mau beristirahat sambil menikmati telaga bisa banget duduk di gazebo.


Nah, aku sendiri nggak ngeh apakah untuk duduk di gazebo ini bayar atau nggak, ya. Namun sepertinya, sih, nggak bayar karena kalau kosong bisa langsung aja ditempati. 


3. Naik Kano atau Perahu

Pengunjung bisa mencoba kano atau perahu untuk menyusuri telaga. Aktivitas ini cocok untuk yang ingin menikmati Telaga Saat dari sudut pandang lebih dekat dengan air, lebih tenang, dan tentu saja, menghasilkan dokumentasi yang cantik.


4. Glamping

Buat Manteman yang ingin menghabiskan waktu lebih lama, tersedia opsi untuk glamping atau camping di sekitar area Telaga Saat. Bangun pagi dengan udara dingin dan pemandangan alam hijau dengan telaga di depan mata tentu bisa jadi pengalaman yang sulit dilupakan, ya.




5. Bird Watching dan Eksplorasi Alam

Selain dikenal sebagai titik nol Sungai Ciliwung, kawasan Telaga Saat juga menyimpan cerita menarik tentang elang jawa , burung endemik Pulau Jawa yang kini berstatus terancam punah. 


Area Telaga Saat dan sekitarnya yang masih hijau, dikelilingi hutan dan perkebunan teh, menjadi habitat alami elang jawa. Kalau beruntung kita bisa melihat elang jawa terbang bebas di sini. 


Selain itu, suamiku juga sempat eksplorasi alam dengan memerhatikan beberapa hewan di sekitar telaga. Dari kodok hingga belalang, dan lainnya… :) 


Telaga Saat ternyata bukan hanya tempat wisata, tetapi juga bagian dari ekosistem penting bagi satwa liar, termasuk elang jawa.


6. Trekking dan Menikmati Alam Sekitar

Area sekitar telaga juga cocok untuk jalan santai atau trekking ringan. Nggak perlu rute ekstrim, cukup menyusuri area kebun teh dan sekitar telaga untuk menikmati alam. Namun untuk trekking juga harus hati-hati, ya. 


Begitu pun jika berjalan di jogging track. Aku sempat terpeleset di jogging track karena licin. Maklum saja, sehari sebelumnya kawasan ini memang turun hujan yang cukup instens. 




7. Menikmati Makan dan Minum di Resto

Seperti yang aku sampaikan sebelumnya, saat masuk The Ciliwung Tea Estate, pengunjung yang membayar tiket masuk akan mendapat benefit free minuman. Nah, kita bisa menukar tiket tersebut di Resto Cilfood yang ada di kawasan telaga Saat (dekat parkiran).


Nah, jika lapar setelah berkeliling Telaga Saat, Manteman bisa pesan makan di restoran ini. 



Tips Penting Sebelum ke Telaga Saat

Setelah berkunjung ke Telaga Saat naik motor dari Depok, aku mau memberikan beberapa tips yang perlu diperhatikan.


- Gunakanlah kendaraan dalam kondisi baik, terutama rem dan ban.

- Pakai jaket, ya, karena udara cukup dingin apalagi kalau bepergian di pagi hari.

- Bawa uang tunai untuk tiket masuk dan parkir.

- Please, jaga kebersihan dan jangan merusak alam sekitar. Kalau mau buang sampah tapi nggak ketemu tempat sampah, simpan dulu sampahnya. 

- Datang lebih pagi agar bisa menikmati suasana Telaga Saat dengan maksimal dan belum terlalu ramai. Kalau info di Google, Telaga Saat buka dari pukul 07.30 - 18.00. 


Kalau Manteman lagi mencari tempat untuk rehat sejenak dari rutinitas, Telaga Saat Puncak layak masuk daftar perjalanan berikutnya. :) 




Setelah dari Telaga Saat, aku dan suami melanjutkan perjalanan ke Sate Hanjawar. Tempat ini memang langganan favorit suamiku. :D Lokasinya ada di dekat Hotel Le Eminance. Lumayan, kan, naik motor dari Depok sampai sana... :D 


Kemudian usai kenyang, kami berdua pun langsung pulang ke Depok lagi dan berharap semoga ada waktu lagi di kemudian hari untuk riding ke Puncak lagi. :) Manteman ada rekomendasi tempat di Puncak yang bisa kami datangi lagi dengan naik motor? 


Dita Indrihapsari




No comments

Contact Form

Name

Email *

Message *