Staycation Anti Ribet Bareng Keluarga di Lenirra Villa and Resto Bogor



Rasanya sudah berkali-kali aku melihat konten tentang Lenirra Villa & Resto, baik di Instagram maupun di TikTok. Manteman juga pernah lihat nggak, sih? 


Meski namanya Lenirra Villa & Resto, tempat ini populer banget sebagai tempat glamping atau glamorous camping. Camping dengan tenda mewah dan fasilitas memadai di sekitarnya. 


Model tendanya unik, berbentuk kubah setengah lingkaran berwarna putih. Dikelilingi dengan hamparan sawah, tempat ini pun jadi pilihan staycation keluarga bagi banyak orang. 


Nah, karena belum pernah sama sekali ke Lenirra Villa & Resto, aku dan keluarga pun mencoba untuk liburan sekaligus staycation di sana. Wah, ternyata satu hari menginap rasanya kurang! :D Ada banyak fasilitas dan aktivitas yang bisa di lakukan di tempat tersebut.  Tempat ini memberikan lebih dari sekadar tempat menginap!


Gimana pengalamanku dan keluarga menginap di sini dan apa saja yang menarik di tempat ini? 



Perjalanan Anti Macet Menuju Lenirra Villa and Resto

Siapa Manteman yang suka menghabiskan weekend dengan staycation di kawasan Puncak Bogor? Bagi warga Jabodetabek sepertinya liburan ke Puncak, tuh, termasuk jadi salah satu pilihan utama untuk menginap sambil menikmati alam, ya. 


Sayangnya kalau weekend perjalanan ke arah Puncak seringkali tersendat saking banyaknya wisatawan luar kota yang mau menikmati Puncak. 


Nah, kalau mau menikmati alam sambil staycation juga tanpa harus kena kemacetan, menurutku Lenirra bisa jadi pilihan tepat. 




Lokasi Lenirra Villa and Resto berada di Cijeruk, Bogor.  Perjalanan dari rumahku menuju Lenirra terasa cukup menyenangkan. Lokasinya masih di area Bogor, jadi nggak terlalu jauh dari rumah kami.  Tempat ini cocok untuk keluarga yang ingin liburan tanpa harus menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, terutama kalau bawa anak-anak, ya.


Karena berada di Cijeruk, akses keluar tol yang paling dekat adalah gerbang tol Caringin (Tol Bocimi). Manteman di Jabodetabek bisa cek di Google Maps, ya, untuk arah perjalanan ke Lenirra Villa and Resto ini. 


Kalau dari rumahku, jarak ke Lenirra hampir 60 km dengan durasi perjalanan sekitar 1 jam 17 menit. Lumayan cepat, kan, ya!


Baca Juga: Staycation Singkat Penuh Cerita di Hotel Millennium Sirih Jakarta



First Impression di Lenirra: Tenang, Asri, dan Bikin Betah

Begitu kendaraan terparkir, aku bergegas ke front office untuk check in. Saat itu hujan mulai turun rintik-rintik. Begitu memperkenalkan diri dan menyampaikan maksudku untuk check in, staff di sana menyambut ramah dan langsung melakukan pengecekan data. 


Setelah semuanya oke, aku pun langsung diberikan kunci kamar. Sistemnya bukan memakai kartu, ya, tapi dengan kunci pintu manual untuk membuka pintu tendanya. 


Lanjut, aku dan keluarga pun menuju ke tenda yang sudah disiapkan untuk kami inapi selama semalam. 


Dari tempat parkir menuju ke tenda sudah ada jalur untuk jalan kaki yang rata sehingga memudahkan bagi yang membawa koper. Asyiknya, di sekelilingku saat berjalan adalah suasana hijau persawahan. Duh, bagus banget! Berasa sejuk dan asri sekali tempat ini. 


Ya, begitu sampai di sini pun kesan pertama yang langsung terasa adalah ketenangannya. Nggak ramai, nggak bising, dan lega. Gerimis kala itu juga membuat suasana jadi makin syahdu. Rasanya memang pas banget, ya, tempat ini jadi tempat untuk refreshing. 


Baca Juga: Pengalaman Menginap di Hotel Sultan Jakarta



Glamping yang Nyaman untuk Keluarga

Nggak perlu waktu lama berjalan, kami tiba di depan tenda. Begitu pintu terbuka, voilaaa… jujur aku langsung kagum, sih. Ternyata bagian dalamnya luas juga! 


Terdapat dua kasur dengan tambahan satu extra bed. Di depan kasur ada tv, dua bean bag lengkap dengan meja dan karpet. Di belakang tempat tidur bahkan ada ruang khusu toilet dan kamar mandi serta wastafel. Komplet! 




Lemari untuk menyimpan baju, kulkas mini, sampai tempat handuk dan payung pun juga ada, lho! 


Nggak salah, sih, kalau dsebut glamorous camping karena semua-muanya sudah tersedia. Tamu yang menginap jadi nggak perlu repot lagi buat merasakan sensasi menginap di tenda… :) 


Aku juga penasaran, kan, sebenarnya ini tendanya dari bahan apa dan bertanya-tanya juga, kok bisa kuat, ya. Pas aku pegang memang tenda ini tebal sekali. Yakin, sih, ini tenda kuat banget, apalagi juga ditopang oleh kerangka besi di sekelilingnya. 


Nah, untuk kamar mandinya juga menurutku cukup luas, ya. Ditambah lagi sudah ada water heater jadi aman walaupun udara di tempat ini dingin tetap bisa menikmati mandi air hangat. Toiletries juga sudah disediakan, ya. Tapi kebiasaanku kalau menginap tetap membawa sikat gigi, pasta gigi, sabun mandi, dan sabun muka sendiri. 


Oiya, meski menginap di tenda ini cukup nyaman tapi ada satu hal sebenarnya yang agak mengganjal. Jadi saat menginap di sini aku merasa kalau lantainya selalu basah. Sepertinya, sih, pengaruh perbedaan suhu di dalam tenda dan luar tenda yang menyebabkan kondensi, ya.


Makanya saran aku untuk pihak pengelola glamping juga sebaiknya keset yang ada di dalam tenda bisa ditambah lagi kuantitasnya… :) 


Sepertinya itu aja, sih, yang menurutku perlu perbaikan. Kalau hal lainnya menurutku sudah oke, ya… 


Nah, untuk menginap di tenda glamping Lenirra ratenya Rp 1,5 juta. Namun penginapan ini juga sering ngasih promo, lho. Bahkan pernah rate-nya sekitar Rp 800 ribu aja sudah termasuk breakfast. Lumayan banget, kan, kalau lagi ada promo.  



Baca Juga: Menikmati Liburan Tepi Pantai di Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung



Tipe Villa untuk Menginap Keluarga Besar

Selain menyediakan 18 tenda glamping, di Lenirra juga ada pilihan menginap di villa. Kalau menginap di villa bisa untuk 6-10 orang. Di dalam villa terdapat tiga kamar tidur dan dua kamar mandi. Ratenya sekitar Rp 4 juta sudah termasuk sarapan dan makan malam. 


Aku dan anak-anak sempat naik ke bangunan tinggi yang ada di sana dan saat berada di atasnya aku melihat bagian villa Lenirra. Di villa ini juga terdapat kolam renang. 




Sebenarnya ada kolam renang yang di dekat tenda glamping. Tapi kalau menginap di villa, ya, nggak perlu repot-repot lagi buat ke kolam renang yang di luar villa karena jalannya cukup jauh juga. 


Di dekat villa juga terdapat restoran dan tempat ngopi. Sedangkan restoran utama Lenirra ada di bagian atas yang lebih dekat dengan tenda-tenda glamping. 


Karena sudah mencoba mengunap di tenda glampingnya, aku pun jadi pingin mengajak keluarga yang lebih banyak lagi buat menginap di tipe villa. Semoga, ya, nanti ada rezeki lagi jadi bisa menginap di villa-nya… :) 



Fasilitas dan Aktivitas yang Bikin Keluarga Betah!

Bagiku, salah satu hal penting saat memilih tempat staycation keluarga adalah apakah anak-anak akan betah? Di Lenirra Villa and Resto, jawabannya: iya! :D 


Saat menginap di sana kami lebih banyak menghabiskan waktu di luar tenda. Di Lenirra Villa and Resto ada banyak sekali fasilitas dan aktivitas yang mesti dicoba!


  • Area Terbuka

 Di tempat ini ada beberapa area terbuka yang cukup luas untuk anak-anak bergerak bebas. Mereka bisa bermain bahkan berlari. Tapi jangan lupa tetap diawasi, ya! :D


  • Panahan

Salah satu aktivitas yang cukup menarik di tempat ini adalah panahan. Buat yang belum pernah coba, ini bisa jadi pengalaman baru yang seru. :) Ada pemandunya juga, jadi bisa sekalian minta diajari. :) 





  • E-bike 

Selain itu, tersedia juga e-bike yang bisa dipakai untuk berkeliling area Lenirra. Ini jadi cara yang menyenangkan untuk menikmati suasana sekitar tanpa capek berjalan kaki. 


  • Rumah Pohon

Buat anak-anak, area rumah pohon jadi salah satu spot favorit. Mereka bisa naik, bermain, dan berimajinasi seolah sedang punya markas rahasia sendiri. Hehe… Dari atas, terlihat hamparan sawah kehijauan. Bagus banget view-nya… 




  • Keliling Pematang Sawah

Kalau dipikir-pikir lagi, yang paling saya di sini adalah ada area pematang sawah yang luas yang bisa dijelajahi. Jalan santai di sini benar-benar terasa berbeda. Angin sepoi-sepoi, pemandangan hijau, dan suasana yang jauh dari hiruk pikuk kota membuat momen sederhana jadi terasa spesial. Aku bersama suami dan anak-anak bahkan beberapa kali keliling sawah saat menginap di Lenirra… :) 




  • ATV

Kalau ingin yang lebih menantang, ada juga ATV yang bisa dicoba. Ini cocok untuk yang ingin sedikit adrenalin sambil tetap menikmati suasana alam. 


  • Melukis Batu

Aktivitas lain yang cukup unik adalah melukis batu. Ini jadi kegiatan santai yang menyenangkan, terutama untuk anak-anak. Mereka bebas berkreasi dengan warna dan bentuk. Hasilnya bisa jadi kenang-kenangan kecil dari liburan ini. 


Nah, pas di sana sebenarnya aku juga mau melakukan aktivitas ini. Sayangnya karena sore hujan, kami jadi sempat mendekam di dalam tenda saja. Begitu besok paginya ingin melukis batu, ternyata supporting-nya hanya datang saat sore hari saja. 


  • Mini Farm

Di area mini farm, anak-anak bisa memberi makan domba. Interaksi langsung seperti ini selalu jadi pengalaman yang berharga buat mereka. Nggak hanya itu, ada juga pengalaman yang cukup jarang ditemui, yaitu berfoto dengan elang dan bahkan melihat ular dari dekat. Tentu saja tetap dalam pengawasan, jadi aman. 





  • Kolam Renang

Nah, satu lagi fasilitas dan aktivitas  yang nggak boleh dilewatkan, tentu saja berenang di kolam renang. Ini selalu jadi agenda wajib kalau staycation bareng anak-anak. Air di kolam renang Lenirra terasa segar, suasananya juga mendukung untuk santai. Oiya, aku dan keluarga juga beruntung banget dapat tenda yang posisinya ada di dekat kolam renang. :) 







Dengan banyaknya pilihan aktivitas ini, rasanya waktu sehari semalam di Lenirra jadi terasa cepat sekali berlalu. Tapi justru di situlah serunya karena setiap sudut temoay ini jadi punya cerita dan setiap aktivitas memberi pengalaman yang berbeda.


Baca Juga: Staycation di Hotel Grand Zuri BSD


Pengalaman Makan di Resto dan Diantar ke Kamar

Karena ini glamping, villa sekaligus resto, kami juga mencoba makan di area restorannya. Kebetulan saat kami menginap di sana ketika bulan puasa. Alhasil kami pun makan menu berbuka puasa dan sahur. 


Untuk buka puasa tersedia di restorannya. Ada banyaaaaak sekali menu dengan tema khas nusantara. Menu yang disajikan cukup beragam. Dari makanan berat sampai yang ringan, semua bisa dinikmati bersama. 


Aku mencoba untuk nggak gelap mata… :D Aku mengambil beberapa makanan dan minuman secukupnya. Dari yang aku ambil semua rasanya cocok sih buatku. Rasanya enak dan kuat di bumbu. 


Suasana makan di restonya juga cukup nyaman, nggak terlalu formal, tapi tetap terasa rapi. Pilihan tempat duduknya juga cukup fleksibel, ada area yang cocok untuk keluarga. Bisa di bagian dalam bangunan atau di semi outdoor. 




Nah, untuk sahurnya diantarkan ke tenda oleh staf yang bertugas. Nah, sebelumnya saat check in aku juga sudah diinfokan tentang menu sahur. Aku memilih paket menunya dan ketika diantar aku cukup terkejut, sih.  



Paket makanan yang dikirim sudah termasuk jus dan susu. Rasa makanannya enak dan nggak pelit bumbu. :D Satu paket makan sahur ternyata porsinya banyak banget. Aku dan keluarga sampai nggak bisa menghabiskannya.


Namun karena sayang kalau menyisa, aku pun inisiatif untuk memasukan sisa makanannya ke kulkas dan bisa kami bawa pulang keesokan harinya… :D




Gimana, Manteman tertarik buat menginap di tempat ini juga?

Menginap di Lenirra Villa & Resto mengingatkan aku lagi kalau liburan keluarga nggak harus selalu di tempat yang jauh, keluar kota atau keluar negeri. Cukup di dekat rumah, akses jalannya mudah, bisa bikin pengalaman liburan juga jadi menyenangkan, ya… 




Dita Indrihapsari


Mencicipi Papeda di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina Lenteng Agung Jakarta



Suatu hari anakku pernah bertanya, “Papeda, tuh, kayak gimana, sih, rasanya?” 


Aku dan suami juga jadi mengingat-ingat, apakah kami berdua pernah makan papeda atau nggak. Dan seingatku, aku belum pernah makan papeda asli yang dibuat oleh orang timur. 


Selama ini aku juga hanya melihat papeda cuma lewat acara kuliner TV atau video singkat di media sosial. Bentuknya unik, teksturnya terlihat lengket seperti lem, dan cara makannya pun berbeda dari kebanyakan makanan yang biasa aku konsumsi sehari-hari. 


Jujur aja, aku pun sebenarnya penasaran banget sama papeda. Dan ketika anakku nanya hal itu, langsunglah aku searching dan googling di mana makan papeda terdekat dari rumah… :D 


Nggak nyangka banget ternyata di dekat Depok, tepatnya di Lenteng Agung Jakarta Selatan ada, lho, rumah makan khas Ambon yang menyajikan papeda! 




Nama restorannya RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina. Untuk menjawab rasa penasaran kami sekeluarga terhadap papeda dan tentunya mau ngasih experience juga ke anak-anak, akhirnya aku dan suami pun memutuskan untuk makan di sana saat weekend beberapa waktu lalu. 


Gimana rasa papeda dan ada hal menarik apa saja di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina? Yuk, baca tulisanku soal itu di sini…  :) 



Lokasi RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina

Nggak sulit untuk menemukan tempat makan ini. Lokasinya persis di depan Stasiun Lenteng Agung yang mengarah ke Depok, ya. Tempatnya memang nggak langsung di pinggir jalan. Agak masuk sedikit ke gang, nah, nanti tempat makannya ada di sebelah kanan. Kalau ngetik di Google Maps RM Samasuru Ambon bisa langsung terlihat, kok. 


Berikut untuk alamat lengkapnya:

Jl. Raya Lenteng Agung Gg. H. Tahir, RT.10/RW.4, Lenteng Agung, Kec. Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12630


RM Samasuru Ambon buka dari siang sampai malam hari. Jam operasionalnya jam 12.00 sampai 22.00. 


Kalau bawa kendaraan roda empat sebenarnya bisa diparkir tepat di depan rumah makan ini. Tapi memang lahan parkirnya terbatas. Manteman kalau membawa mobil bisa juga memarkirkannya di Stasiun Lenteng Agung. Setelah itu tinggal menyeberang aja. 


Nah, kalau bawa motor sepertinya, sih, lebih aman, ya. Bisa lebih leluasa untuk urusan parkir. :) 


Baca Juga: Kuliner Legendaris di Pasar Jatinegara



Kesan Pertama, Tempat Sederhana tapi Terasa Hangat

Saat pertama tiba di RM Samasuru Ambon, kesan yang langsung aku rasakan adalah suasana rumahan. Rumah makan ini nggak terlalu besar dan nggak fancy, tapi justru di situlah letak kenyamanannya. 


Bangunannya hanya setengah tertutup. Di dalamnya terdapat beberapa meja dan kursi. Saat kami datang suasana sepi. Nggak terlihat pula yang berjaga di dalamnya. 





Kemudian aku pun mulai melihat ke arah belakang dan melihat seorang bapak yang lagi sibuk memotong-motong sesuatu, sepertinya, sih, memotong kayu. Setelah itu bapak tersebut pun menyambut kami dan langsung memanggil Mama Dila.


Kami dipersilahkan duduk dan melihat menu. Saat duduk di salah satu meja, akupun melihat di sebuah meja terdapat beberapa bahan belanjaan yang masih terbungkus plastik. 


Setelah berapa lama aku dan keluarga di situ barulah aku tahu kalau saat itu RM Samasuru Ambon baru buka setelah libur Lebaran dan Mam Dila juga baru belanja di pasar. :) 


Baca Juga: Pengalaman Makan di Obihiro Nikudon Blok M dan Gading Serpong



Bertemu Langsung dengan Mama Dila Latuconsina

Salah satu hal yang nggak aku duga dari momen mengajak anak-anak makan papeda ini adalah kesempatan untuk bertemu langsung dengan Mama Dila Latuconsina. Sosok di balik dapur yang memasak hidangan-hidangan khas Ambon di RM Samasuru.


Saat itu Mama Dila menyambut dengan ramah. Hangat, sederhana, dan terasa seperti sedang bertemu dengan keluarga sendiri. Apalagi aku juga memanggilnya mama, sebutkan yang sudah beberapa tahun ini nggak aku ucapkan setelah mamaku tiada. :’) Jadi, bagiku ada rasa senang dan terharu juga saat makan di sini…




Aku dan Mama Dila sempat berbincang sebentar. Dari obrolan kami terasa kalau makanan yang disajikan di sini bukan sekadar bisnis semata, tapi juga bagian dari identitas dan kecintaan terhadap budaya akarnya.


Mama Dila bercerita kalau aslinya ia memang orang Ambon yang tinggal di sana. Kemudian ia merantau dan tinggal di Bojong Gede. Sampai pada akhirnya, ia mengelola dan memasak di RM Samasuru Ambon bersama bapak. Ada juga anak yang membantunya. 



Menu di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina

Menu yang disajikan di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina memang nggak terlalu banyak. Sepertinya rumah makan ini memang fokus pada papeda dan ikan kuah kuningnya. 


Berikut menu-menu yang ada di rumah makan ini dan harganya:





Nah, saat ke sana, aku dan keluarga memesan menu paket yang bisa dimakan bersama-sama. Ada papeda, ikan kuah kuning kenari, cah kangkung, dan singkong rebus. Dengan harga menu paket Rp 150 ribu dan melihat porsinya menurutku makan di sini worth it, sih. 


Kemudian suamiku juga memesan ikan bakar. Karena saat itu ukuran ikan yang ada cukup besar, harganya pun bukan Rp 25 ribu tapi Rp 50 ribu. Saking cukup banyaknya porsi makanan, ikan yang dipesan pun dibawa pulang. Bahkan, papeda dan singkong rebusnya juga masih menyisa sehingga kami bawa pulang… :D 


Oiya, saat masih menunggu Mama Dila dan bapak memasak, aku juga mencium aroma yang sangat sedap. Wah, wangi rempahnya yang khas bikin nggak sabar buat menikmati makanannya! :D 


Saat itu sebenarnya kami juga ingin mencoba Es Pisang Ijo. Sayangnya karena baru buka dan belum membuat pisang ijonya, kami pun gagal untuk mencicipi menu penutup tersebut. Rasanya aku masih penasaran dan pingin balik lagi ke RM Samasuru Ambon, deh… :D 


Baca Juga: Sarapan di Sate Maranggi Haji Yetty Cibungur Purwakarta



Papeda, Makanan Sederhana tapi Penuh Cerita

Akhirnya menu yang kami nantikan pun datang juga. Setelah berturut-turut datang singkong rebus, cah kangkung, dan ikan kuah kuning kenari, barulah papeda datang dibawakan langsung oleh Mama Dila. 


Papeda disajikan dalam mangkuk cokelat besar. Dengan tekstur kental, bening, dan agak transparan sekilas papeda memang terlihat seperti lem. Ini mungkin yang membuat banyak orang ragu untuk mencoba pertama kali, ya.




Setelah mangkuk ditaruh di meja kami, Mama Dila pun langsung beraksi. Ia memutar-mutarkan dan mengaduk-aduk papeda dengan semacam alat pencapit atau sumpit kayu besar di kedua tangannya. 


Setelah itu, ia menaruhnya di setiap piring kami. Wah, menarik banget, deh, cara penyajiannya. Jujur saja, ini pengalaman baru buat kami. Kemudian barulah kami bisa menambah ikan kuah kuning kenari dan juga sayur cah kangkung. 




Papeda sendiri terbuat dari tepung sagu, yang dalam hal ini didatangkan langsung dari Ambon, lho. Dari segi rasa, papeda sebenarnya cenderung hambar. Nggak ada rasa gurih atau manis yang dominan. Tapi justru di situlah keunikannya. Papeda memang nggak dimaksudkan untuk dimakan sendiri. Papeda cocok banget dimakan dengan ikan kuah kuning. 


Baca Juga: Bumi Semboja Bogor, Resto Nostalgia di Rumah Nenek



Ketika Papeda Bertemu Ikan Kuah Kuning Kenari

Kunci dari menikmati papeda ada pada kuahnya. Di sinilah ikan kuah kuning kenari mengambil peran utama.


Kuahnya berwarna kuning cerah, dengan aroma rempah yang kuat. Saat papeda dicelupkan ke dalam kuah ini, semuanya berubah.


Rasa gurih langsung terasa, disusul dengan kesegaran dari bumbu-bumbu yang digunakan. Menurutku ada juga sentuhan rasa asam yang ringan, membuat rasanya semakin kompleks tapi tetap seimbang. Apalagi ditambah daun kemangi yang membuat sajian ikan kuah kuning jadi lebih beraroma. 




Dan di titik itulah kami semua sepakat kalau rasanya enak! Papeda yang tadinya hambar justru menjadi sempurna ketika berpadu dengan ikan kuah kuning. Teksturnya yang kenyal menyerap kuah dengan baik dan menciptakan sensasi makan yang unik sekaligus menyenangkan. :) 


Anak-anak memang awalnya sempat melihat dengan ekspresi bingung dengan cara makan dan penyajian papeda, tapi setelah mencoba, perlahan mulai terbiasa. Bahkan ada yang akhirnya nambah, lho! :D




Satu hal yang aku sadari juga kalau papeda itu ternyata sangat mengenyangkan. Aku ngerasa kalau aku nggak makan terlalu banyak papeda, tapi rasanya kenapa kenyang sekali, ya. :) Makanya papeda yang dibuat Mama Dila bisa kami bawa pulang lagi dan dilanjut makan di rumah untuk makan malam… Hehe… 


Karena sudah kekenyangan makan papeda, alhasil singkong rebusnya pun jadi nggak kemakan. Di rumah singkong rebus itu aku goreng dan bisa jadi camilan keluarga… :D 


Oiya, untuk ikan bakarnya karena kami makan di rumah rasanya juga mantap banget. Daging ikannya tebal dan banyak. Disajikan dengan sambal colo-colo makanya rasanya enak. 



Tips Buat yang Mau Coba Papeda di RM Samasuru Ambon

Buat Manteman yang penasaran dan ingin mencoba papeda di RM Samasuru Ambon, ada beberapa tips yang bisa jadi panduan:


  • Sebagai first timer, menurutku wajib, sih,  pesan papeda dengan ikan kuah kuning kenari. 

  • Jangan ragu untuk mencoba, meskipun makanannya terlihat asing.

  • Datang saat nggak terlalu ramai supaya lebih santai. Bisa datang seperti aku, sebelum jam 12 siang. 

  • Tanyakan juga cara makan papeda kalau masih bingung ke Mama Dila, ya. Kalau ada kesempatan bisa juga ajak Mama Dila untuk ngobrol. Sepertinya beliau memang senang sekali ngobrol dengan customer-nya… :) 




Dari pengalaman makan di RM Samasuru Ambon, aku jadi sadar kalau makanan bukan hanya soal rasa. Ada cerita di baliknya. Ada budaya, tradisi, dan perjalanan panjang yang membentuknya.


Papeda mungkin terlihat sederhana, ya. Tapi dibalik kesederhanaannya, ada kekayaan budaya dari Maluku dan Papua yang diwakilinya. Ditambah lagi dengan penggunaan sagu asli dari Ambon, membuat pengalaman makan aku dan keluarga kali ini terasa semakin autentik. 



Dita Indrihapsari


Uji Adrenalin di 9 Jembatan Ekspedisi Lembah Purba Sukabumi



Jujur aja, awalnya aku nggak nyangka perjalanan ke Lembah Purba di kawasan Situ Gunung Sukabumi ini akan jadi pengalaman yang “menguras adrenalin”.


Salah aku juga, sih. Pas awal diajak teman-teman kuliah untuk ke Situ Gunung, aku nggak sempat untuk baca seperti apa medannya, gimana kondisi di sana. Aku juga nggak ngeh ternyata perjalanan ekspedisi Lembah Purba durasinya lumayan lama dengan jarak yang cukup jauh juga, sekitar enam km. 


Yang aku bayangkan, tuh, cuma jalan santai di tengah hutan tropis, menikmati udara segar, dan bisa sambil foto-foto serta ambil footage video. Tapi ternyata, perjalanan ini berubah jadi ekspedisi yang penuh tantangan. Di sini, kita bukan hanya berjalan, tapi juga harus “menaklukkan” 9 jembatan dengan karakter yang berbeda-beda!


Ada jembatan-jembatan apa saja yang aku lalui? Di tulisan kali ini aku akan bahas satu per satu, ya, jembatan di Ekspedisi Lembah Purba Sukabumi yang menarik banget buat dicoba dan aku kasih rating juga seberapa sulitnya jembatan-jembatan tersebut untuk dilalui! :D



1. Jembatan Gantung Situ Gunung (Suspension Bridge)

8/10

Perjalanan dimulai dari ikon paling terkenal di kawasan ini, yaitu Jembatan Gantung Situ Gunung atau Situ Gunung Suspension Bridge. 


Jembatan ini bukan jembatan biasa. Dengan panjang sekitar 535 meter, jembatan ini pernah dikenal sebagai salah satu jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara. Jembatan yang aku lalui ini jembatan yang baru. Ada jembatan gantung Situ Gunung lama yang panjangnya hanya 243 meter dan posisinya ada di bawah. Kalau dari jembatan gantung panjang ini akan terlihat jembatan lama tersebut. 


Saat aku ekspedisi Lembah Purba sekitar setahun lalu, kondisi pengunjung cukup ramai. Begitu pun yang sedang melewati jembatan ini. Dari awal melangkah saja, aku sudah bisa merasakan sensasi goyangan di bawah kaki. Duh, asli bikin deg-degan banget. Aku sampai harus berpegangan dengan temanku. 




Sepertinya goyangan yang lumayan ini karena ada banyak orang di jembatan pada saat yang bersamaan. Soalnya ketika keesokan harinya aku melewati jembatan ini lagi setelah menginap di Lembah Purba, aku sama sekali nggak deg-degan. Jembatannya saat itu memang agak kosong. Adalah cuma sedikit orang yang sedang berada di jembatan. 


Awalnya aku jalan pelan, super hati-hati. Tangan sempat dingin tapi lama-lama, justru muncul rasa takjub. Pemandangannya benar-benar cantik, deh. Di bawahnya ada hutan lebat yang hijau. Dan saat berhasil sampai di ujung… rasanya lega sekaligus bangga. :D



2. Jembatan Tarzan

8,5/10

Setelah “pemanasan” di jembatan utama, perjalanan berlanjut hingga aku melihat sebuah jembatan yang aku pikir masa iya aku harus lewat jembatan ini. Kok, kesannya kayak nggak aman banget, yaaa! :D 


Namanya Jembatan Tarzan. Panjangnya sekitar 200 meter dengan ketinggian 75 meter. Aku bilang hal di atas bukan tanpa alasan. Jembatan besi ini bagian bawahnya berongga-rongga. Sisi kanan dan kirinya juga nggak tertutup rapat. Kebayang, deh, deg-degannya kayak apa pas mulai melewatinya.


Oiya, bahkan untuk bisa menyusuri jembatan ini aku dan pengunjung lain harus memasang harness di tali. Jadi setiap maju harness itu pun juga aku gerakkan. Tentunya hal ini untuk keamanan, ya.




Kelihatannya memang bikin deg-degan banget. Tapi begitu jalan hanya beberapa meter ke depan, aku sudah merasakan nikmatnya lewat jembatan ini. Tiba-tiba perasaan deg-degan dan takut kayak hilang gitu aja. 


Mungkin hal ini karena terbantu dengan adanya harness yang dipasang itu, ya. Jadi aku tersugesti kalau lewat jembatan ini akan aman-aman aja. 


View di sekeliling Jembatan Tarzan juga alamiiii banget! Berasa seperti ada di dalam hutan dengan rimbunnya pepohonan di sekitarnya. 



3. Jembatan Ki Haji

5/10

Dibandingkan jembatan sebelumnya, jembatan ini terasa lebih “ramah”. Jembatan Ki Haji terbuat dari kayu yang rapat. Ada pegangan di sampingnya juga. Selain itu jembatan ini juga nggak tinggi. 


Jembatan Ki Haji melewati aliran sungai dengan banyaknya bebatuan besar. Tentunya tetap hari hati-hati, ya, melewati jembatan ini walau kelihatannya bukan jembatan yang ekstrem.  





4. Jembatan Wallen

5/10

Setelah Jembatan Ki Haji, aku dan temn-teman lanjut menyusuri bagian yang ebih dalam di Ekspedisi Lembah Purba. Pohon rimbun dengan jalan tanah yang sedikit licin karena hujan semalam.


Setelah itu, aku melihat sebuah jembatan lagi. Namanya Jembatan Wallen. 




Jembatan ini berada di area yang rimbun, dengan pepohonan yang rapat di sekelilingnya. Cahaya matahari yang masuk di sela-sela daun membuat suasananya terasa dramatis.


Jembatan ini mirip seperti Jembatan Ki Haji. Jembatan ini juga melewati aliran sungai yang cukup deras. Jembatannya nggak terlalu panjang dan cukup mudah untuk dilewati karena dilengkapi juga dengan tali pengaman di salah satu sisinya. 


Jadi biar lebih aman melewati jembatan ini, kita bisa memegang talinya juga, ya. 



5. Jembatan Ki Enteh (Jembatan Setapak)

8/10

Namanya unik: Jembatan Ki Enteh atau sering juga disebut Jembatan Setapak. Sesuai namanya, jembatan ini memang sempit. Jalurnya nggak terlalu lebar, jadi kita harus benar-benar fokus saat melangkah ke depan.


Ini mungkin salah satu jembatan yang paling bikin aku harus konsentrasi penuh. Nggak bisa sambil lihat kanan kiri terlalu lama, karena harus menjaga keseimbangan.




Jembatan ini dilengkapi dengan dua tali pengaman  di samping kiri dan kanan. Ada tambahan tali lagi di sebelah kiri untuk memasang harness. Ya, jadi kalau lewat Jembatan Setapak harness harus dipasang, ya, supaya lebih aman. 


Jembatan ini sebenarnya juga nggak terlalu tinggi. Tapi karena modelnya yang hanya setapak aja makanya melewati jembatan ini tricky banget. Saat mulai menyusurinya sedikit demi sedikit, aku lumayan ada perasaan takut kalau jembatan ini akan miring… :D 


Alhamdulillah banget yang aku takutkan nggak kejadian. Hehe… :) 



6. Jembatan Tebe

5/10

Setelah itu nggak berselang lama, aku sampai di Jembatan Tebe. Di sini rasanya tenaga mulai terasa terkuras. Sebenarnya bukan karena jembatannya paling sulit, tapi karena perjalanan yang sudah cukup panjang.


Jembatan Tebe hampir sama karakteristiknya dengan Jembatan Ki Haji dan Jembatan Wallen. Jembatan ini nggak terlalu sulit dilewati. Ada aliran sungai di bawah jembatan yang jaraknya cukup dekat dengan jembatan. 




Di sini juga sekelilingnya rimbun banget! Ada banyak tanaman paku-pakuan di sekitar jembatan. Setelah melewati Jembatan Tebe dan jalan dengan ditemani suara aliran sungai, aku dan teman-teman sampai di Curug Kembar Lembah Purba!


Masya Allah, seger banget! Dari agak jauh aja cipratan air curug sudah bisa mengenai wajahku! :) Di curug ini aku dan teman-teman lumayan menghabiskan waktu yang agak lama sekalian istirahat. 



7. Jembatan Oren (Jembatan Nanjak)

100/10

Usai menikmati indahnya Curug Kembar Lembah Purba, kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Nah, sebelum sampai di curug sebenarnya aku sudah melihat sebuah jembatan yang tinggi di atas. Dan benar saja, setelah dari curug, kami memang harus melewati jembatan tersebut. 


Namanya Jembatan Oren atau Jembatan Nanjak. Disebut Jembatan Oren karena memang jembatan ini di bagian sisi kanan dan kirinya memiliki warna oranye tipis. 


Di awal masih bisa ketawa. Pas sampe ujung, nangeeeessss... :')


Kelihatannya, sih, jembatan ini biasa aja, ya. Bentuknya nggak estrem seperti Jembatan Tarzan atau Jembatan Setapak. Meski demikian, aku nobatkan Jembatan Oren sebagai jembatan ter-wadidawwow, deh! :D


Yap, ini dia salah satu yang sangat memorable saat melakukan Ekspedisi Lembah Purba: melewati Jembatan Oren!


Awalnya saat lewat jembatan memang biasa saja. Namun belum setengah perjalanan aku sudah mulai kehabisan napas. Kenapa? Karena bentuk jembatan ini menanjak! Makanya Jembatan Oren disebut juga Jembatan Nanjak sesuai jalurnya! :D 


Di sini, bukan hanya keseimbangan yang diuji, tapi juga stamina dan mental. Melangkah di jembatan sambil menanjak memberikan sensasi yang berbeda dna rasanya cuapeknya cuapek banget!


Napas mulai terasa lebih berat, tapi tetap harus semangat juga terus naik supaya bisa ada di ujung jembatan. Sempat berhenti beberapa kali, akhirnya aku bisa juga menyelesaikan misi melewati Jembatan Oren ini! Huhuhu…. 


Setelah itu, aku dan teman-teman langsung istirahat dan diam. Hahaha…. Kebayang, nggak, sih, aku yang jarang olahraga mesti naik jembatan laknat kayak gitu. Masya Allah, alhamdulillah sampai ujung jugaaaa…. :D 



8. Jembatan Bengkok

6/10

Ini dia jembatan terakhir yang aku lewati sata ikut Ekspedisi Lembah Purba di Sukabumi. Kalau dari fotonya kelihatan, kan, ya, kenapa jembatan ini dinamakan Jembatan Bengkok. Yap, karena da di tengah jembatan yang memang nggak lurus banget. 


Untuk Jembatan Bengkok ini cukup mudah dilalui, ya. Hanya saja, dari jembatan ke bagian bawah kelihatannya tinggi. Jadi tetap mesti hati-hati  banget lewat Jembatan Bengkok ini.





9. Jembatan Merah

Nah, sebenarnya masih ada Jembatan Merah di kawasan Lembah Purba. Namun aku dan teman-teman saat itu  nggak melewatinya. Selepas dari Jembatan Bengkok, kami langsung menuju perkemahan karena akan menginap semalam di Glamping Lembah Purba


Makanya aku rasanya pingin balik lagi ke Lembah Purba dan mencoba naik ke Jembatan Merah ini. Jembatan ini memang berwarna merah, ya. Hal ini membuat Jembatan Merah terlihat ikonik juga di Lembah Purba. 


Kalau Manteman ada yang sudah pernah ke Lembah Purba dan melewati Jembatan Merah ini? 



Perjalanan menyusuri 9 jembatan di Lembah Purba ini bukan cuma soal wisata alam. Ini jadi pengalaman yang mengajarkan banyak hal, seperti menghadapi rasa takut, melatih fokus dan keseimbangan, dan yang paling penting, percaya sama kemampuan diri sendiri.


Aku yang awalnya deg-degan bahkan untuk satu jembatan, akhirnya bisa melewatinya sekaligus. Dan yang paling menarik? Setelah selesai, bukannya kapok tapi malah pengen lagi…. :D 



Dita Indrihapsari 


Masjid Nurul Iman, Masjid Megah Bergaya Timur Tengah di Atas Atap Mal Blok M Square

masjid-nurul-iman-blok-m-square


Aku, tuh, beneran nggak nyangka kalau kawasan Blok M bakal seramai sekarang! Blok M termasuk tempat mainku dulu waktu masih kecil… :D 


Dulu sering banget diajak orang tua ke Gramedia sama ke Matahari Blok M. Kenangan makan di AH juga masih ku simpan terus di memori. Dulunya ramai, namun ada masanya Blok M yang ditempati oleh banyak mal sempat “mati suri”.


Kini Blok M bangkit kembali. Banyak tenan makanan baru yang viral, seperti Obihiro Nikudon, yang membuat banyak orang dari berbagai kalangan datang ke Blok M. 


Saat lebaran lalu, aku dan sekeluarga sempat juga berkunjung ke Blok M. Niatnya pingin juga mencoba salah satu gerai makanan di sana, tapi antrinyaaa panjang banget! :D Akhirnya kami pun cuma sempat ke Gramedia Jalma dan beli minuman di dalam Blok M Square. 


Nah, siapa sangka di balik hiruk-pikuk pusat perbelanjaan Blok M Square yang legendaris, terdapat sebuah tempat ibadah dengan arsitektur yang menakjubkan? Bukan di lantai dasar atau terselip di antara tenan ruko, tempat ibadah ini justru berdiri megah di titik tertinggi bangunan. 


Yap, ini dia Masjid Nurul Iman, sebuah masjid yang memegang predikat sebagai salah satu masjid terbesar yang dibangun di atas pusat perbelanjaan di Indonesia! Gimana nggak besar kalau masjid ini bisa menampung sampai ribuan jamaah, lho!


Yuk, simak cerita aku soal Masjid Nurul Iman Blok M Square di tulisan ini… :) 



Lokasi Unik dan Strategis di Jantungnya Jakarta Selatan

Menurutku kalau lagi berada di sekitaran Blok M Square atau memang lagi belanja di Blok M Square nggak perlu lagi khawatir soal ibadah sholat. Di mal ini bukan hanya disediakan mushola, tapi langsung ada masjid besar! :D 


Masjid Nurul Iman terletak tepat di lantai 7 Mal Blok M Square. Coba, ada masjid apa lagi yang berada di bagian paling atas sebuah mal? Kalau mau sensasi ibadah yang berbeda, Manteman bisa coba sholat di masjid ini, deh… :) 


Nah, sebenarnya letak masjid yang berada di atap mal bisa memberikan ketenangan tersendiri, ya. Jauh dari kebisingan suara kendaraan di bawah, namun tetap mudah dijangkau oleh siapa saja.


masjid-nurul-iman-blok-m-square


Untuk menuju ke Masjid Nurul Iman, kita bisa masuk ke dalam bangunan Blok M Square dari pintu masuk manapun. Lanjut naik eskalator atau lift sampai ke masjidnya. 


Saat aku dan keluarga mau sholat ashar di masjid ini sebelum pulang, kondisinya cukup ramai. Aku melihat ada banyak orang yang sama-sama mau menuju ke masjid. 


Baca Juga: Masjid Teraskota, Masjid Besar di Dalam Mal Teraskota BSD



Konsep Arsitektur, Serasa Berada di Masjid Nabawi

Satu hal yang langsung memikat mataku saat pertama kali menginjakkan kaki di kawasan Masjid Nurul Iman di lantai 7 ini adalah kemiripan atmosfernya dengan masjid-masjid di Timur Tengah. 


Sepertinya, sih, arsitektur masjid ini mengadopsi Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan masjid-masjid di Turki dalam rancangan masjid ini. Coba kita bedah satu-satu soal sisi arsitektur Masjid Nurul Iman ini, ya. 



1. Replika Masjid Nabawi di Area Wudhu

Salah satu fitur paling menarik adalah area wudhu dan toiletnya. Arsitektur masjid  mendesain area ini dengan payung-payung besar yang identik dengan Masjid Nabawi di Madinah. Hal ini aku lihat ada di area wudhu jamaah laki-laki (ikhwan) yang aku lihat pada foto di suatu website. 


Nah, sedangkan kalau tempat wudhu jamaah perempuan (akhwat) yang aku masuki nggak seperti payung atasnya, tapi memang bagian atasnya transparan dengan lantai keramik krem dan ukiran-ukiran kayu berwarna putih di atasnya. 



2. Miniatur Ka’bah 

Di halaman luar masjid, pengunjung akan disambut oleh miniatur Ka’bah yang cukup besar. Area ini sering digunakan untuk kegiatan manasik haji dan umrah. Di sekelilingnya terdapat taman. Oiya, area Ka’bah ini semi terbuka, ya. Jadi atasnya sudah ditutup oleh kanopi. Mungkin supaya nggak panas, ya. Jadi bisa membuat orang lebih nyaman jika berada di sana untuk manasik. Apalagi biasanya ada kunjungan anak-anak TK yang manasik di sana. Kebayang kalau panas bisa cranky, deh, anak-anak… :) 


miniatur-kabah-masjid-nurul-iman-blok-m-square



3. Interior Megah

Masjid ini terbagi menjadi dua bagian besar: area barat untuk jamaah ikhwan  dan area timur untuk jamaah akhwat. 


Di ruang utama ikhwan, langit-langitnya dihiasi dengan lukisan awan biru yang dan lampu gantung kristal. Sedangkan di ruang utama jamaah akhwat terdapat pilar-pilar besar yang mirip dengan Masjid Nabawi. 


Baca Juga: Masjid At Thohir, Destinasi Wisata Religi di Depok 



Fasilitas Masjid Nurul Iman Blok M Square

Sebagai masjid yang dikelola secara profesional di pusat kota, fasilitas yang tersedia kelihatannya juga memadai, ya. Hal ini bisa aku lihat dari beberapa hal, yaitu: 


  • Kapasitas Besar: Masjid ini memiliki luas sekitar 4.000 hingga 5.000 meter persegi. Dalam kondisi normal, ia dapat menampung sekitar 6.000 hingga 10.000 jamaah. Namun, pada momen besar seperti Salat Id, kapasitasnya disebut-sebut bisa dimaksimalkan hingga menjangkau 14.000 orang di seluruh area lantai 7. Kebayang, kan, gedenya segimana! Makanya aku penasaran, deh, pingin lihat gimana kondisi masjid ini dari atas. :) 


  • Pendingin Ruangan (AC): Di dalam ruang utama, tersedia AC yang membuat ibadah tetap bisa berjalan khusyuk meski di siang hari.


  • Fasilitas Mukena Bagi Akhwat: Tersedia mukena bagi pengunjung wanita yang nggak membawa mukenanya sendiri.

  • Tempat Menyimpan Alas Kaki: Baik di bagian akhwat maupun ikhwan terdapat tempat khusus untuk menyimpan alas kaki, ya Ada petugasnya juga yang siap membantu.

fasilitas-penitipan-sepatu-masjid-nurul-iman-blok-m-square


  • Kajian Rutin: Masjid Nurul Iman aktif banget sebagai pusat dakwah. Masjid ini sering mengadakan kajian sunnah oleh ustadz-ustadz ternama. Bahkan setiap hari juga ada jadwal kajian yang bisa diikuti. Untuk ikut dan mendengarkan kajian juga gratis, lho. Dengan adanya kajian rutin ini, jamaah yang datang bukan hanya pengunjung mal, melainkan juga masyarakat umum yang sengaja datang untuk menuntut ilmu.


  • Buka Puasa Bersama: Saat bulan Ramadhan, Masjid Nurul Iman dikenal dermawan dalam menyediakan ta’jil gratis bagi para musafir dan pengunjung yang ingin berbuka di sana.


Baca Juga: Menikmati Senja di Masjid Universitas Indonesia



Area Akhwat Masjid Nurul Iman Blok M Square

Saat berada di Masjid Nurul Iman Blok M Square aku hanya masuk ke dalam bagian akhwat saja. Jadi aku nggak tahu bagaimana bagian dalam bagian ikhwan-nya, ya. :) Tapi kalau lihat di beberapa foto di beberapa portal berita, tempat sholat ikhwan tampak sangat luas dengan langit-langit yang indah seperti yang sudah aku singgung sebelumnya di atas. 


Untuk tempat sholat khusus akhwat sebenarnya menurutku juga luas. Saat aku masuk ke dalam, ada banyak akhwat yang sedang sholat di beberapa shaf bagian depan.


ruang-sholat-akhwat-masjid-nurul-iman-blok-m-square


Meski tampak ramai, tapi keadaannya nggak sumpek. Bisa jadi karena langit-langit masjid ini memang tinggi. Selain itu dengan pilar-pilar penopang dan bagian atas pilar yang dicat putih selang-seling dengan abu-abu, bentuknya mirip sekali dengan Masjid Nabawi… :) 


Oiya, yang aku salut dari masjid ini adalah disediakannya banyak kursi lipat! Sepertinya pengurus masjid paham banget kalau ada saja, kan, jamaah masjid yang sudah lansia jadi nggak kuat untuk sholat berdiri. Atau bisa jadi ada jamaah yang mengalami kondisi tertentu sehingga hanya bisa sholat sambil duduk.   


fasilitas-kursi-lipat-masjid-nurul-iman-blok-m-square


Di bagian akhwat ini aku lihat juga tersedia mukena. Namun sayangnya tempat menaruh mukenanya di boks dekat deretan kursi lipat dengan kondisi yang berantakan. Jadi kayaknya, sih, pengguna mukena langsung buru-buru memasukkan mukena yang mereka pakai ke boks itu tanpa melipatnya lagi. 


Di dalam ruang sholat akhwat pada bagian depan juga ada layar besar. Jika ada kajian rutin dari ustadz, para akhwat pun bisa tetap mendengar dan melihatnya melalui layar tersebut. 


Sayangnya, di bagian akhwat ini yang menurutku kurang rapi selain boks tempat mukena juga tempat menaruh alas kaki. Sebenarnya sudah disediakan tempat khusus, tapi sepertinya, sih, jamaah lebih senang menaruhnya langsung tepat di bagian depan area jamaah perempuan… 


bagian-akhwat-masjid-nurul-iman-blok-m-square


Selain itu toilet di bagian akhwat menurutku juga kurang terawat. Kondisinya basah dan membuatku agak kurang nyaman. Mungkin karena saking banyaknya jamaah, ya. Aku juga nggak melihat petugas kebersihannya saat ada di bagian akhwat. Aku harap semoga masjid ini terkhususnya di bagian akhwat agar lebih rapi, lebih bersh, dan lebih tertata dengan baik… :) 



Jam Buka dan Aturan Kunjungan

Masjid Nurul Iman buka mengikuti operasional mal, namun untuk akses ibadah biasanya sudah dimulai sejak waktu Subuh bagi warga sekitar atau pengelola, dan tetap aktif hingga waktu Isya berakhir. 


Selama bulan Ramadhan, masjid ini bahkan sering digunakan untuk i’tikaf (berdiam diri di masjid) pada 10 malam terakhir, yang berarti masjid bisa beroperasi hampir 24 jam.


Baca Juga: Masjid Agung Jawa Tengah



Cara Menuju Ke Masjid Nurul Iman Blok M Square

Karena letaknya di Blok M, akses transportasi umum menuju lokasi ini sangatlah mudah. Aku coba tulis beberapa alternatif menuju Masjid Nurul Iman Blok M Square menggunakan transportasi umum, ya. 


MRT Jakarta: Turun di Stasiun MRT Blok M BCA. Dari sana, kita hanya perlu berjalan kaki sekitar 5 menit menuju gedung Blok M Square.


TransJakarta: Berhenti di Halte Blok M (Terminal Blok M). Lokasi mal berada tepat di seberang terminal, sangat praktis bagi pengguna busway.


Commuter Line (KRL): Jika datang dari arah Bogor atau Bekasi, kita bisa turun di Stasiun Sudirman, lalu melanjutkan perjalanan dengan MRT atau TransJakarta menuju arah Blok M.


Kendaraan Pribadi: Kita bisa langsung memarkir kendaraan di gedung parkir Blok M Square. Langsung saja parkirkan kendaraan di lantai atas (P5 atau P6) agar lebih dekat saat naik eskalator atau lift menuju lantai 7.


taman-masjid-nurul-iman-blok-m-square


Gimana, bagi Manteman yang Muslim apakah sudah pernah mengunjungi Masjid Nurul Iman di Blok M ini? Kalau sudah pernah, yuk, ceritain gimana pengalaman kamu saat berada di masjid ini. 


Bagi yang belum ke sana, apakah tertarik juga buat merasakan sensasi sholat di atas ketinggian mal di Jakarta ini? :D



Dita Indrihapsari



Menjelajahi Museum Tanah dan Pertanian di Bogor

museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Bersyukur banget aku tinggal di Depok. Jaraknya nggak terlalu jauh dari Bogor dan ada banyaaaak tempat wisata di Kota Hujan ini. Sepertinya setiap tahun ada aja tempat wisata baru di Bogor. 


Kali ini aku mengajak anak-anak menjelajahi Museum Tanah dan Pertanian. Memang bukan tempat wisata baru. Namun setelah aku mengunjunginya, aku rekomendasiin tempat ini buat Manteman kunjungi juga. 


Asli, ternyata bagian dalam museum ini penuh nilai edukasi, ada banyak yang bisa dilihat dan dipelajari dengan biaya masuk 0 rupiah! 


Yap, aku nggak mengada-ngada. Untuk bisa menikmati semua koleksi yang ada di museum ini beserta fasilitasnya pengunjung nggak dikenakan biaya. Lokasinya pun sangat strategis. Berada tepat di seberang pintu utama Kebun Raya Bogor


Ada apa saja di Museum Tanah dan Pertanian? Yuk, aku ajak Manteman semua buat menjelajahinya juga lewat tulisanku… :) 




Gedung Utama Museum, Gedung Bersejarah Berusia Ratusan Tahun!

Kota Bogor memang identik dengan tanaman, ya. Selain keberadaan Kebun Raya Bogor, di kota ini juga terdapat IPB University. Kampus yang awalnya berfokus pada bidang pertanian. 


Makanya begitu tahu di Bogor ada Museum Tanah dan Pertanian aku nggak heran. Sejarah tentang penelitian pertanian pasti sudah terekam panjang di kota ini. 


Saat anak-anak liburan, aku pun mengajak mereka ke Bogor dan berkunjung ke museum ini. Turun dari kereta di Stasiun Bogor, kemudian kami naik angkot dan langsung turun tepat di depan Museum Tanah dan Pertanian.


Kala itu sedang musim liburan sekolah, jadi selain kami sudah ada beberapa pengunjung lainnya di depan museum meskipun hari masih pagi. Tak menunggu lama, aku dan anak-anak langsung masuk ke dalam gedung museum.


Sebenarnya hal pertama yang langsung membuatku takjub adalah bangunan museum yang terlihat sekali bangunan tua masa kolonial. 


museum-tanah-dan-pertanian-bogor



Dan benar saja, setelah berkeliling museum, ada info yang ku dapat mengenai gedung museum ini. Setelah pulang dari museum pun aku mencoba mencari tahu lebih lanjut mengenai sejarah Museum Tanah dan Pertanian. 


Museum ini ternyata menempati bangunan  Laboratorium Voor Agrogeologie en Grond Onderzoek, sebuah lembaga pengetahuan tentang tanah dan pertanian yang didirikan tahun 1905. Karena itulah usia bangunan ini sudah ratusan tahun, kan! 


Setelah kemerdekaan, bangunan ini diambil oleh Pemerintah Indonesia dan menjadi Lembaga Penelitian Tanah pada 1974. Kemudian barulah menjadi museum pada 29 September 1988. 


Sempat mengalami renovasi, Museum Tanah dan Pertanian kini berdiri tegak di pusat Kota Bogor dan siap menyambut para pengunjung dengan beragam edukasi. 


Nah, begitu masuk bangunan tua peninggalan Belanda ini, aku dan anak-anakku langsung berkeliling melihat berbagai koleksi yang ada di sana. Beragam batu-batuan dari berbagai wilayah di Indonesia dipamerkan. 


Yang aku suka ada instalasi yang menunjukkan berbagai jenis tanah. Bentuk instalasinya memanjang ke bawah seperti tabung yang berisi tanah. Tanah-tanah tersebut kulihat berbeda-beda baik dari warna dan teksturnya. Selain itu, ada juga penjelasan tentang lapisan-lapisan tanah. 


koleksi-batu-museum-tanah-dan-pertanian-bogor

museum-tanah-dan-pertanian-bogor

informasi-di-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Meski menurutku kurang interaktif tapi berbagai koleksi di museum ini ditempatkan dengan baik. Informasinya juga diberikan dengan baik dan detail. Makanya museum ini memang cocok banget buat jadi tempat fieldtrip anak sekolah… :) 


Oiya, bangunan museum ini meski dari luar tampak kecil tapi ternyata bagian dalamnya luas dengan langit-langit yang cukup tinggi. Dengan alas keramik marmer juga membuat suasananya jadi lebih adem. 


Nah, yang aku nggak nyangka, ternyata Museum Tanah dan Pertanian di Bogor ini nggak hanya menempati satu bangunan saja, tapi tiga bangunan gedung sekaligus! Mantap nggak, tuh! Malah sebenarnya ada satu bangunan lagi tapi diperuntukkan sebagai ruang pertemuan dan guest house atau penginapan pegawai. 


denah-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Baca Juga: Museum Betawi di Setu Babakan Jakarta



Galeri Pangan dan Pertanian di Masa Depan

Setelah dari gedung utama atau disebut gedung A, kami menuju bangunan selanjutnya di bagian belakang yang disebut gedung C. Oiya, kalau gedung B itu gedung guest house, ya. Jadi pengunjung museum dilarang masuk… :) 


Nah, di gedung C inilah jumlah koleksi dan cerita tentang tanah dan pertanian di Indonesia lebih banyak dibahas. Bahkan sampai terdiri dari tiga lantai, lho. :) 


Di lantai pertama aku sempat takjub melihat diorama subak atau sistem pengairan di Bali. Selain itu ada pula diorama dua kerbau besar yang sedang membajak sawah. Salut sama dekorasi museumnya… :D Anak-anak pun jadi lebih tertarik begitu melihat berbagai diorama di dalam museum ini. 


diorama-subak-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Oiya, di bangunan C ini aku dan anak-anak juga bisa melihat berbagai jenis sumber pangan, mulai dari umbi-umbian, kacang-kacangan, dan lainnya. Jenis-jenis padi juga ada infonya di sini. Malah ada juga layar interaktifnya. 


Sumber pangan yang nggak biasa aku lihat seperti sorgum sampai jagung warna ungu juga diperlihatkan dalam bentuk nyata. Menarik banget, ya!


Itu baru hal seru yang ada di lantai satu ya. Beranjak ke lantai dua barulah aku dan anak-anak melihat bagaimana sejarah pertanian dari masa penjajahan sampai masa kemerdekaan. 


sejarah-museum-tanah-dan-pertanian-bogor

ekspor-beras-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Nah, ada satu sudut menarik di lantai dua ini. Terdapat sebuah kedai kopi! Sebenarnya bukan kedai kopi beneran yang di mana pengunjung bisa membeli kopi, ya… :) Kedai ini tampaknya hanya diorama yang memperlihatkan bagaimana perkembangan dunia kopi di Indonesia… :) 


kopi-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Jika di lantai dua mengenai sejarah, di lantai tiga saatnya melihat ke masa depan! Yes, di lantai tiga gedung ini terdapat informasi menarik mengenai bagaimana teknologi pertanian di masa kini dan nanti. 


Aku melihat terdapat alat yang cukup besar berwarna kuning yang menggantung di satu sudut. Di belakangnya terdapat gambar helikopter. Oh, setelah kuperhatikan ternyata alat ini adalah aerofertilizing atau alat pemupukan menggunakan transporatsi udara! 


Selain itu ada juga teknologi alat pertanian modern, seperti autonomus tractor sampai drone. Di sini pula terdapat penjelasan mengenai smart farming.  


teknologi-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Bagi Manteman yang tertarik dalam bidang pertanian memang pas banget buat ke museum ini. 


Nah, seperti tempat wisata lainnya, di Museum Tanah dan Pertanian juga terdapat beberapa spot untuk foto, lho. Dari mulai diorama rumah petani lengkap dengan dekorasinya. Ada juga spot foto untuk menjadi petani. Disediakan kostum hingga capingnya! :) 


spot-foto-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Baca Juga: Museum Perjuangan Indonesia di Lippo Mal Nusantara Jakarta



Beristirahat Sejenak di Rooftop Museum Tanah dan Pertanian

Kalau spot foto di museum sudah biasa, gimana dengan rooftop di museum dengan latar pemandangan gunung! Nah, ini dia salah satu hal yang aku kagumi juga dari Museum Tanah dan Pertanian. :) 


Dari gedung C, aku dan anak-anak lanjut ke gedung D yang ternyata di gedung inilah terdapat rooftop dilengkapi dengan saung dan beberapa meja serta kursi. Pas banget, kan, sebagai tempat istirahat setelah berkeliling Museum Tanah dan Pertanian dari depan hingga belakang…


rooftop-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Setelah cukup beristirahat dan mengambil dokumentasi di rooftop, aku dan anak-anak pun bergegas turun untuk pulang. Namun saat turun itulah aku baru sadar kalau di gedung ini juga masih ada berbagai koleksi dan diorama. 


Nah, kalau di gedung D ini temanya tentang peternakan. Dijelaskan berbagai hewan ternak yang dimanfaatkan untuk pertanian. Lucu banget di sini ada banyak diorama sapi dari berbagai daerah, jenis-jenis ayam sampai itik! :D 


museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Oiya, di gedung D yang disebut juga sebagai galeri peternakan sebenarnya terdapat ruang sinema. Sayangnya pas aku dan anak-anak ke museum ini, ruang sinemanya sedang nggak beroperasi. 


Di gedung ini pula terdapat fasilitas mushola serta playground kecil untuk anak. Gimana, lumayan, banget, kan fasilitas museum ini. 


pohon-harapan-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Baca Juga: Mengenal Paras Nusantara di Museum Nasional



Kalau boleh dibilang dengan tiket masuk gratis, museum ini sudah oke, sih. Hanya saja menurutku mungkin bisa lebih diperbanyak lagi untuk media interaktifnya. :) 


Aku pun sempat menulis harapan yang dipasang di pohon harapan yang ada di dalam museum. Aku harap doaku bisa terkabul, rakyat Indonesia bis makin makmur dan sejahtera. Aku harap dunia pertanian di Indonesia juga semakin berkembang… 


Gimana, Manteman tertarik juga buat menjelajahi Museum Tanah dan Pertanian? Ajak keluarga dan bikin pengalaman ke museum ini jadi cerita seru, ya! 




Dita Indrihapsari


Contact Form

Name

Email *

Message *