Bukabuku Kafe Tebet, Library Cafe Unik untuk Kerja dan Nongkrong



Beberapa waktu lalu, aku, Isti, dan Ciwul janjian untuk kerja bareng di sebuah kafe di kawasan Tebet. Maklum, sesekali memang perlu keluar rumah kalau mau mengerjakan sesuatu. Biar suasananya berbeda dan mungkin ide-ide juga jadi lebih lancar. Ya, kaaan? :D 


Kali ini kami memilih sebuah tempat yang menurutku cukup unik karena konsepnya. Namanya Bukabuku Kafe. Dari namanya bisa ketebak ya kalau tempat ini mengusung konsep library cafe gitu. 


Jadi, selain bisa makan dan minum, pengunjung juga bisa membaca buku-buku yang tersedia di dalam kafe ini. Buat aku yang memang suka tempat-tempat dengan suasana dan konsep seperti ini, tentunya seneng banget bisa ke sini untuk pertama kalinya. Hehehe.. :D 



Bukabuku Kafe Tebet, Kafe dengan Konsep Perpustakaan

Begitu masuk ke Bukabuku, kita akan menemukan area kafe dengan meja dan kursi seperti kafe pada umumnya. Tapi yang membuat tempat ini berbeda adalah keberadaan rak-rak buku di berbagai sudut ruangan.


Buku-buku tersebut bisa dibaca oleh pengunjung selama berada di kafe.


Konsep seperti ini menurutku menarik karena membuat pengalaman nongkrong dan kerja bareng teman jadi sedikit berbeda. Kita nggak cuma datang, pesan makanan, kerja, ngobrol, lalu pulang. Kalau sedang ingin menikmati waktu dengan lebih santai, kita juga bisa mengambil buku dari rak dan membacanya.


Suasananya juga terasa cukup nyaman untuk menghabiskan waktu beberapa jam di sini. Kebetulan waktu itu aku memang datang bersama Isti dan Ciwul untuk kerja bareng, jadi kami membawa laptop dan mengerjakan pekerjaan masing-masing.


Sesekali ngobrol, sesekali fokus ke laptop. Dan tentu saja diselingi makan dan minum sambil baca beberapa lembar buku dan tentunya ambil footage juga… :D 



Koleksi Buku yang Bisa Dibaca Pengunjung

Salah satu hal yang cukup menarik perhatianku adalah koleksi buku di Bukabuku.


Pilihan bukunya ternyata cukup beragam. Ada novel Indonesia, novel berbahasa Inggris, buku pengetahuan, sampai buku cerita anak-anak.


Jadi bukan hanya buku-buku yang ditujukan untuk satu kelompok pembaca aja, yaa…



Buat orang dewasa yang ingin membaca novel atau buku pengetahuan ada pilihannya. Kalau datang bersama anak-anak, tersedia juga buku cerita anak yang bisa dibaca. Kebetulan pas aku di sana juga ada ibu yang mengajak anak-anaknya ngafe bareng termasuk buat baca buku juga. Seru, yaaa! 


Bahkan di rak tepat di belakangku ada deretan komik-komik juga, lho! Rasanya kalau punya waktu lebih lama di sini aku pingin baca komik jugaaa…. :D 


Menurutku ini salah satu hal yang membuat konsep library cafe seperti Bukabuku menarik. Kita bisa datang dengan tujuan yang berbeda-beda, tapi tetap bisa menikmati ruang yang sama.


Selain rak-rak buku, ada juga satu sudut yang dilengkapi karpet untuk pengunjung yang ingin membaca sambil duduk di bawah.


Aku suka banget dengan ide area seperti ini.


Kalau sedang ingin membaca buku dengan suasana lebih santai, rasanya memang lebih enak duduk lesehan daripada harus terus duduk di kursi. Kalau lain kali datang ke sini dan punya waktu lebih banyak, aku jadi pingin mencoba duduk di area ini sambil pilih buku. :D 



Pilihan Menu di Bukabuku Tebet

Karena tempat ini juga merupakan kafe, tentu saja selain buku ada berbagai pilihan makanan dan minuman yang bisa dipesan.


Pilihan makanannya cukup beragam, mulai dari makanan Western, Indonesia, sampai Asia. Jadi kalau datang bersama teman-teman dengan selera yang berbeda, sepertinya cukup mudah menemukan menu yang sesuai, ya.


Aku sendiri waktu itu memilih Kofta Beef Burger Yoghurt Sauce.



Namanya cukup menarik karena burger ini menggunakan kofta beef dan dilengkapi yoghurt sauce. Setelah dicoba, menurutku rasanya pun enak.


Porsinya juga cukup besar dan mengenyangkan. Buatku ini penting karena kami memang datang untuk bekerja, bukan sekadar nongkrong sebentar. Jadi setelah makan, energi bisa kembali dan laptop pun bisa dibuka lagi. Hehehe. :D 


Untuk minumannya, aku memilih Ice Lychee Tea aja yang standar, yaa. Setelah makan berat memang aku lebih suka minuman yang agak ringan dan segar seperti teh dingin dengan rasa leci ini.



Nama Minuman yang Terinspirasi dari Buku

Selain makanannya, ada satu hal lagi yang menurutku menarik dari menu Bukabuku, yaitu nama-nama minumannya.


Sesuai dengan konsep library cafe, nama beberapa minuman di sini dibuat dengan mengambil inspirasi dari buku atau karya sastra.


Misalnya ada Serat Centhini, The Odyssey Machiato, Sarsaparilla Narnia, dan The Lychee Gatsby.


Unik, ya? :D




Aku suka ketika sebuah tempat punya konsep yang kemudian diterapkan sampai ke detail-detail kecil seperti ini. Jadi bukan cuma menyediakan rak buku untuk memperkuat dekorasi, tapi nama menu pun ikut dibuat sesuai dengan tema.



Cara ke Bukabuku Tebet dari Depok Naik KRL

Nah, buat Manteman yang datang dari Depok menggunakan KRL, aku punya sedikit catatan soal perjalanan menuju Bukabuku Kafe ini.


Meskipun lokasinya berada di Tebet, dari pengalaman aku waktu ke sana, turun di Stasiun Cawang justru terasa lebih dekat dibanding turun di Stasiun Tebet.


Waktu itu aku berangkat dari rumah di Depok naik KRL, kemudian turun di Stasiun Cawang. Dari stasiun, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Bukabuku.


Durasi perjalanan dari Stasiun Cawang ke Bukabuku kurang lebih sekitar 20 menit jalan kaki.


Memang lumayan, tapi menurutku masih cukup menyenangkan karena sepanjang perjalanan kita bisa melewati kawasan Tebet Eco Park.


Kalau cuaca sedang enak dan memang suka jalan kaki, perjalanan dari Stasiun Cawang ke Bukabuku ini bisa sekalian menjadi jalan santai.


Tapi tentu saja kalau membawa banyak barang atau lagi nggak pingin berjalan kaki selama itu, bisa memilih transportasi lanjutan dari stasiun, seperti ojek online. Nah, buat mikrotrans aku coba cari tahu dulu , ya. Soalnya sempat lihat mikrotrans tapi aku kurang paham untuk rute yang melewati kafe ini.



Bukabuku Tebet Cocok untuk Kerja dan Ngumpul Bareng Teman

Setelah menghabiskan waktu beberapa jam di sana bersama Isti dan Ciwul, menurutku Bukabuku cukup menarik untuk dimasukkan ke daftar kafe yang bisa dicoba di Tebet.


Terutama kalau Manteman mencari tempat yang bukan sekadar kafe untuk makan dan minum, tapi juga punya aktivitas lain yang bisa dilakukan.


Mau kerja sambil buka laptop bisa. Mau ketemu teman juga bisa. Mau baca buku bisa. Bahkan kalau datang bersama anak-anak, ada juga pilihan buku cerita anak yang bisa mereka baca. :D 


Konsep library cafe seperti ini menurutku memberikan pengalaman yang sedikit berbeda dari cafe pada umumnya.



Bukabuku Kafe 

Jl. Tebet Barat IX No. 1A, Jakarta

Buka setiap hari 07.00 - 22.00



Dita Indrihapsari


Dessert di Sushi Tei, Ternyata Pilihannya Banyak dan Enak!



Kalau dengar nama Sushi Tei, apa, nih, yang langsung kebayang di pikiran Manteman? Sushi, sashimi, ramen atau berbagai menu ala Jepang lainnya?


Aku sama keluarga juga biasanya datang ke Sushi Tei dengan tujuan utama makan sushinya sampai berbagai menu lainnya yang memang sudah cukup familiar buatku.


Tapi setelah berkali-kali ke Sushi Tei, aku justru nemuin satu bagian dari menu Sushi Tei yang ternyata cukup menarik untuk dicoba dan pingin aku bahas di blog ini: Yes, seperti di judul, aku bakal bahas soal dessert-nya!


Selain berbagai menu savory yang bisa jadi pilihan untuk makan siang atau makan malam, Sushi Tei juga punya cukup banyak pilihan dessert. Jadi, buat yang setelah makan sushi masih punya ruang buat sesuatu yang manis, ternyata pilihannya nggak cuma satu atau dua, lho


Aku sendiri memang belum mencoba semua menu dessert-nya. Sejauh ini ada beberapa dessert Sushi Tei yang sudah pernah aku coba, yaitu Mikan Cake, Yoghurt Berry Sando, Choco Cloud, Chocolate Ice Cream, dan Lava Cake.



Mikan Cake

Salah satu dessert yang pernah aku coba adalah Mikan Cake. Awalnya aku pilih menu ini karena melihat tampilan fotonya. Menarik banget, kelihatannya seger!


Nama menunya pun bikin langsung bikin penasaran, Mikan sendiri merupakan sebutan untuk jenis jeruk Jepang. 


Menu dessert yang satu ini memang rasa jeruk yang segar, persis seperti tampilannya yang warna oranye. Jadi dessert ini terasa seperti pilihan yang berbeda dibanding dessert cokelat yang biasanya lebih umum.


Buatku, Mikan Cake cocok untuk jadi penutup setelah makan makanan yang cukup berat. Setelah menikmati sushi atau menu lainnya, rasanya memang menyenangkan kalau ditutup dengan sesuatu yang manis dan punya karakter rasa yang berbeda.


Aku termasuk yang kadang suka bingung kalau harus memilih dessert. Nah, Mikan Cake ini bisa jadi salah satu pilihan kalau sedang ingin mencoba dessert selain cokelat. Untuk satu porsi Mika Cake ini juga bisa banget kalau dimakan bareng. 



Yoghurt Berry Sando

Dessert berikutnya yang sudah pernah aku coba adalah Yoghurt Berry Sando.


Kalau melihat namanya saja, sudah bisa kebayang, ya, ada perpaduan yoghurt dan buah berry yang menjadi bagian dari dessert ini.


Aku memang suka dessert yang rasanya nggak melulu tentang cokelat atau rasa manis yang pekat. Setelah makan sushi, aku justru pingin sesuatu yang terasa lebih ringan dan menyegarkan, seperti Yoghurt Berry Sando ini.


Bentuknya pun unik seperti sandwich yang bertumpuk. Bagian atas dan bawahnya crispy dan di bagian tengahnya barulah ada yoghurt berry ice. Rasanya asam manis, jadi enaknya memang makan semua elemen yang ada di dessert ini ya biar bisa ngerasain rasa balance dari asam manisnya… :D 


Buat yang suka perpaduan rasa yoghurt dengan buah-buahan berry, menu ini sepertinya cukup menarik untuk masuk dalam daftar dessert yang perlu dicoba kalau Mnateman makan di Sushi Tei.



Choco Cloud

Kalau sebelumnya aku menyebut dessert dengan rasa buah, kali ini ada Choco Cloud yang cocok banget buat pencinta cokelat.Dari namanya saja sudah terdengar cukup menggoda, ya.


Aku memang termasuk orang yang masih gampang tergoda kalau melihat pilihan dessert berbahan dasar cokelat. Jadi setelah melihat ada Choco Cloud di menu, pingin langsung nyoba, deh. 



Apalagi lihat bentuknya juga lucu gitu kayak bola-bola dengan warna biru mudaaaa sekali seperti awan. Makanya nggak heran kalau dinamain Choco Claud.


Seingatku, ya, bagian luarnya tuh renyah sedangkan bagian dalamnya kayak tekstur cake tapi agak kenyal gitu. Lalu di bagian paling dalamnya ada cokelat. Wah, enak banget, nih.


Apalagi karena bentuknya bola-bola jadi bisa makan barengan juga untuk satu porsi ini kalau Manteman rela berbagi… Hehehe…



Chocolate Ice Cream

Kalau ingin yang lebih simpel, Sushi Tei juga punya pilihan Chocolate Ice Cream.


Ini termasuk dessert yang menurutku aman untuk dipilih kalau lagi pingin sesuatu yang manis tanpa terlalu banyak pertimbangan.


Chocolate ice cream juga biasanya cukup mudah diterima oleh berbagai usia. Jadi kalau makan bersama keluarga dan ada anggota keluarga yang bingung mau memilih dessert apa, pilihan seperti ini bisa jadi salah satu opsi.


Selain chocolate, dari daftar menu dessert Sushi Tei yang aku lihat ternyata pilihan rasa ice cream-nya juga cukup beragam.


Ada Vanilla Ice Cream, Matcha Ice Cream, Ogura Ice Cream, Sakura Ice Cream, Black Sesame Ice Cream, Earl Grey with Orange Ice Cream, hingga Kyoho Grape Ice Cream.


Nah, bagian ini yang menurutku menarik.


Karena kalau biasanya kita datang ke restoran Jepang dan menemukan dessert berupa ice cream, pilihannya mungkin hanya vanilla, cokelat atau matcha. Di Sushi Tei ternyata ada beberapa rasa yang lebih unik juga.


Ada black sesame, sakura, sampai Earl Grey with Orange dan Kyoho Grape. Jadi kalau suatu saat aku datang lagi, rasanya ada beberapa rasa yang masih ingin dicoba. Hehe :D 



Lava Cake

Ini dia salah satu dessert favoritku di Sushi Tei. Apalagi kalau bukan Lava Cake.


Buat pencinta cokelat, lava cake rasanya memang selalu punya daya tarik tersendiri, ya. Apalagi kalau bagian tengahnya mengeluarkan lelehan cokelat yang berpadu dengan cake dan ice cream.




Nah, beberapa kali aku pesan Lava Cake, pas moment of truth-nya selalu meleleh sih cokelatnya yang keluar. Jadi nggak pernah fail, ya… :D 


Di Sushi Tei, Lava Cake juga disajikan bersama ice cream. Nah, biasanya aku daspat yang es krim matcha. 


Perpaduan cokelat sama matcha juga enak banget menurutku, ya. Rasa manis mix dengan rasa agak pahit gitu jadinya klop aja!



Pilihan Dessert Sushi Tei Ternyata Banyak!

Setelah mencoba beberapa dessert tadi, baru aku sadar kalau pilihan dessert di Sushi Tei ternyata lumayan banyak.


Selain dessert yang sudah pernah aku coba, ada juga beberapa pilihan cake dan mousse seperti Puzzle Mousse, Matcha Opera Cake, dan Double Chocolate Mousse.






Kalau sedang makan bersama keluarga atau teman, dessert juga bisa jadi pilihan untuk sharing. Pesan satu atau dua menu dessert, kemudian dicicipi bersama-sama. Dengan begitu, kita bisa mencoba beberapa rasa sekaligus tanpa harus membeli semuanya sendiri.


Buatku, dessert di Sushi Tei ini cukup worth it untuk dicoba. Jadi, kalau selama ini setiap makan di Sushi Tei Manteman langsung tutup menu setelah selesai makan makanan utama, mungkin lain kali boleh juga lihat-lihat bagian dessert-nya.


Siapa tahu ada menu yang bikin penasaran.


Kalau aku sendiri, setelah mencoba beberapa dessert tadi, masih punya beberapa nama yang masuk daftar “next time mau coba ini.” 😁



Dita Indrihapsari


Jembatan Gantung Cisarum Rumpin Bogor: Spot Hidden Gem Pinggir Sungai Cisadane

 



Ada kalanya perjalanan yang paling berkesan justru datang dari rencana yang meleset. Itulah yang terjadi waktu aku dan suami memutuskan berburu durian ke Rumpin, Kabupaten Bogor. 


Awalnya suamiku mengajak untuk cari durian lokal di daerah Rumpin yang katanya enak-enak, lalu pulang. Tapi siapa sangka, perjalanan hari itu berubah jadi salah satu momen jalan-jalan paling menyenangkan yang pernah aku alami, gara-gara satu hal, suamiku nggak nurut sama Google Maps! :D 



Awal Mula "Kesasar" yang Berujung Indah

Berangkat dari Depok sekitar jam 7-an pagi, jalanan masih lancar dari Depok menuju Bogor melewati kawasan Parung. Selepas Parung, aku mulai menyalakan Google Maps karena memang nggak tahu arah ke Rumpin. 


Tapi entah kenapa, di tengah jalan suamiku malah berbelok ke arah lain, masuk ke jalan-jalan kampung yang lebih kecil dan berkelok-kelok. Kata suamiku, dia penasaran aja sama jalan yang dilewatinya itu. 


Aku sempat protes, "lho, ini kok malah muter-muter, ke mana sih?" Soalnya jalanannya makin masuk ke perkampungan, jauh dari kesan jalan utama menuju tempat durian. 


Tapi namanya juga jalan-jalan santai di akhir pekan, aku pun akhirnya cuma bisa pasrah aja sambil menikmati pemandangan kampung yang masih asri. Rumah-rumah penduduk, kebun-kebun kecil, sampai anak-anak yang main di halaman. 


Ditambah lagi ternyata di jalanan yang kami lewati ini masih ada beberapa pesepeda juga. Aku pun dalam hati jadi sedikit lega. Ternyata nggak sepi- epi amat, kok. Malah jadi seru juga bisa lihat pesepeda yang semangat banget, hehe… 


Dan benar saja, "kesasar" itu ternyata membawa kami ke sebuah tempat yang sama sekali nggak ada di rencana awal. Tiba-tiba aja kami melewati sebuah warung kecil di pinggir sungai, dengan pemandangan langsung ke jembatan gantung berwarna merah yang membentang panjang di atas air. 


Nah, itulah pertama kalinya aku melihat Jembatan Gantung Cisarum!



Ramainya Warung Pinggir Sungai, Jadi Titik Kumpul Pesepeda dan Warga Lokal



Suamiku nggak langsung buru-buru menggas motornya. Begitu melewati warung tersebut dan melihat adanya tempat duduk di pinggir sungai, akhirnya ia pun menepikan motornya. Aku dan suami akhirnya menuju warung untuk melihat apa yang bisa dimakan di sana… :) 


Oiya, warung pinggir sungai ini ternyata cukup ramai. Padahal lokasinya jauh dari jalan raya dan cukup tersembunyi di dalam kampung. Ternyata warung ini memang jadi semacam tempat wisata warga sekitar dan juga jadi tempat istirahat para pesepeda. 


Aku melihat ada cukup banyak pesepeda yang berhenti untuk istirahat sambil ngobrol santai. Ada juga warga lokal yang datang sekadar rekreasi keluarga, duduk-duduk santai menikmati angin sungai sambil melihat pemandangan.


Kami pun istirahat sebentar sebelum perjalanan ke durian Rumpin. Aku pikir, toh, durian nggak akan lari ke mana. Hehe… Iya, kan? :D



Ngemil Gorengan Hangat sambil Ngadem di Pinggir Sungai

Menu di warung ini sederhana tapi pas banget buat menemani saat santai di pinggir sungai. Ada gorengan, lontong, singkong kelapa, dan pisang rebus, ditemani dengan segelas es teh manis yang segar. 


Tempat duduk disediakan dalam dua pilihan. Ada yang di dalam warung, dengan meja dan bangku biasa. Tapi ada juga meja kursi yang sengaja diletakkan persis di pinggir sungai, menghadap langsung ke jembatan gantung dan aliran air.




Kami tentu saja memilih yang di pinggir sungai. Aku dan suami alhamdulillah banget mendapat tempat duduk di pinggir sungai yang baru saja kosong. Sayang banget kalau sudah sampai sejauh ini tapi nggak menikmati pemandangannya secara langsung, kan…



Sensasi Melintasi Jembatan Gantung Cisarum

Setelah cukup beristirahat, sebelum melanjutkan perjalanan ke Rumpin, kami sengaja menyempatkan diri untuk melintasi jembatannya secara langsung. Dari kejauhan, jembatan ini kelihatan gagah dengan warna merahnya yang mencolok di antara hijaunya pepohonan sekitar. 


Namun begitu benar-benar melewatinya, baru, deh, aku jadi tahu gimana kondisi jembatannya. Jembatannya memang panjang, tapi ternyata cukup sempit.




Dari tengah jembatan, pemandangan sungai di bawahnya kelihatan jelas, begitu juga suasana kampung di kedua sisi yang dihubungkan oleh jembatan ini. Momen singkat menyeberang itu jadi salah satu bagian favorit kami dari seluruh perjalanan hari itu.



Fakta-Fakta Menarik Seputar Jembatan Gantung Cisarum

Biar nggak cuma cerita jalan-jalan doang, aku juga sempat cari tahu lebih jauh soal jembatan ini. Ternyata ada beberapa fakta menarik yang sayang kalau dilewatkan:

  • Nama resmi vs nama populer. Nama resminya adalah Jembatan Gantung Cibeteung Muara, tapi warga sekitar lebih akrab menyebutnya Jembatan Cisarum. Jembatan ini menghubungkan Kecamatan Rumpin dan Kecamatan Ciseeng di Kabupaten Bogor. Nama Cisarum sendiri sepertinya diambil dari kata Cibeutueng Muara - Sadane - Rumpin. 

  • Begitu melihat bentuk jembatannya dari jauh, aku merasa kalau jembatan ini agak mirip yaa sama Jembatan Golden Gate di Amerika Serikat! :D


  • Panjang tapi sempit. Jembatan ini memiliki panjang 120 meter dan lebar 1,8 meter. Dibangun dengan biaya sekitar Rp6,8 miliar dari APBN Tahun Anggaran 2023 dan dirancang untuk dilalui pejalan kaki, sepeda, serta sepeda motor. Yes, mobil dilarang melintasi jembatan, ya. Ya, karena pasti nggak muat! :D 


  • Jembatan ini masih baru dan dibangun Pemerintah. Pembangunannya diselesaikan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR, pada akhir 2023. Jembatan ini resmi beroperasi sejak Januari 2024.

  • Dulu, warga menyeberang pakai rakit bambu. Sebelum jembatan ini berdiri, warga yang ingin menyeberang dari Ciseeng ke Rumpin mengandalkan penyeberangan tradisional memakai rakit bambu yang sudah beroperasi sejak tahun 1960-an. Tarifnya sekitar Rp5.000 per motor atau harus memutar cukup jauh lewat jalan darat.


  • Sekarang durasi perjalanan jadi jauh lebih cepat. Waktu tempuh dari desa Cibeuteung Muara ke desa Rumpin yang dulunya butuh minimal 30 menit, kini bisa dipangkas jadi hanya lima sampai sepuluh menit saja.


  • Jadi favorit pesepeda akhir pekan. Meski jarang diberitakan media besar, keberadaan jembatan ini sudah menjadi ikon baru di kedua kecamatan dan pada hari libur sering dijadikan bagian dari rute gowes para pehobi sepeda. Jadi pantas saja kalau kami melihat banyak sepeda terparkir di warung tadi.


  • Ada makam keramat di dekatnya. Di sekitar jalan pendekat sisi Rumpin terdapat makam Syeh H. Abdul Ateng Raksak Kusuma, salah satu tokoh penyebar ajaran Islam di Kecamatan Rumpin dan Ciseeng. Sejak jembatan ini dibangun, kawasan makam tersebut kini dilengkapi warung dan pendopo istirahat.



Tips Kalau Mau Berkunjung ke Jembatan Gantung Cisarum

Kalau kamu tertarik mampir ke sini, ada beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan:

  • Siapkan kendaraan yang nyaman untuk jalan kampung. Akses menuju warung dan jembatan melewati jalan-jalan kecil khas pedesaan, jadi lebih nyaman kalau naik motor atau mobil dengan ground clearance yang cukup.


  • Datang di pagi atau sore hari. Suasana lebih adem dan pemandangan sungai terasa lebih syahdu, apalagi kalau datang menjelang sore saat cahaya matahari mulai lembut.


  • Hati-hati saat menyeberangi jembatan. Karena lebarnya terbatas dan cukup ramai dilalui motor serta sepeda, sebaiknya berjalan di sisi jembatan dan tetap waspada saat berpapasan dengan kendaraan lain.


  • Jangan buru-buru pergi. Nikmati dulu suasana di warung pinggir sungainya, sambil ngobrol santai atau sekadar duduk memandangi jembatan dan aliran air sungai.



Kadang Rencana Meleset Justru Membawa Cerita Terbaik

Niat awal kami hanya numpang lewat buat beli durian di Rumpin, eh, malah dapat bonus ngadem di pinggir sungai, ngemil gorengan, dan menyeberangi jembatan gantung yang kini jadi ikon baru warga Bogor. :D 




Perjalanan yang tadinya terasa "nyasar" justru memberi cerita dan pengalaman yang nggak akan kami dapatkan kalau terus patuh mengikuti rute Google Maps. Hehe…


Buat Manteman  yang kebetulan lewat daerah Rumpin–Ciseeng, coba, deh, sempatkan mampir sebentar ke Jembatan Gantung Cisarum. Selain jadi spot foto yang menarik, tempat ini juga cocok buat rehat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan, entah itu untuk berburu durian seperti kami, atau sekadar healing singkat di akhir pekan. 



Dita Indrihapsari


9 Spot Foto Ikonik di Taman Bunga Nusantara

 



Buat Manteman yang lagi nyari destinasi liburan bernuansa alam sekaligus estetik untuk bikin konten, Taman Bunga Nusantara yang berlokasi di Cianjur bisa jadi salah satu pilihannya!


Taman bunga terbesar di Indonesia ini menawarkan banyak banget taman tematik dengan desain yang kalau menurutku cukup detail, ya. Di sana ada taman dengan nuansa Bali, Prancis, hingga Jepang. Semuanya dalam satu kawasan yang asri dan sejuk. 


Nggak heran, deh, kalau taman ini menjadi lokasi favorit juga untuk hunting foto, baik untuk liburan keluarga, pasangan, maupun sekadar jalan-jalan santai bersama teman… :D 


Nah, dari sekian banyak sudut cantik di sana, berikut 9 spot foto ikonik yang bisa kamu singgahi saat berkunjung ke Taman Bunga Nusantara.



1. Patung Kucing Topiary



Spot pertama yang langsung mencuri perhatianku adalah patung kucing raksasa! Nah, biasanya patung berbentuk sesuatu yang dibuat dari tanaman ini disebut topiary. 


Lucu banget, deh, patungnya! Wujudnya memang mirip kucing lagi duduk manis dengan pita besar berwarna pink melingkar di lehernya. Detail muka kucing dengan mata hijau dan hidung hitam dibuat sangat realistis, apalagi di patung kucing ini juga tampak seperti ada tekstur "bulu" dari daun-daun yang dipangkas rapi. 


Yang bikin unik bukan hanya bentuknya, tapi juga ukurannya! Wah, gede banget, kan! :D Spot ini cocok difoto dari jarak agak jauh supaya seluruh badan patung kucing masuk ke dalam frame. :) 



2. Jam Raksasa di Clock Garden



Di bagian depan Taman Bunga Nusantara terdapat Clock Garden. Di taman ini ada  jam raksasa berbentuk lingkaran yang jarum jamnya dibuat menyerupai baling-baling helikopter berwarna merah dan hitam. Angka romawi besar tersusun di jam raksasa ini. 


Kalau dari eye level bentuk jam raksasa ini mungkin nggak akan terlihat jelas, ya. Kita bisa melihatnya dengan jelas kalau dari jarak yang agak jauh dan dari bagian agak atas. :D 


Jam raksasa ini sendiri dibatasi oleh pagar besi melengkung sebagai pembatasnya. Sejujurnya aku agak lupa waktu aku ke sana jamnya beneran jalan atau nggak, sih.. :D 



3. Gerbang Candi Bentar Bali  



Menurutku, ya, tempat ini jadi satu spot yang paling sering dijadikan latar foto pengunjung, deh. Kapan lagi bisa foto dengan nuansa khas Bali banget tapi di dekat Puncak! Nah, ini dia tempatnya. :D 


Bangunan ini seperti gerbang candi bentar khas Bali. Dua menara batu ukir tinggi menjulang dengan detail relief lengkap dengan patung penjaga di kaki gerbang. Rasanya benar-benar seperti nuansa pura di Pulau Dewata, ya. 


Warna merah bata yang berpadu dengan ukiran batu berlumut menambah kesan autentik. Nah, berdiri di tengah celah gerbang sambil memegang salah satu sisinya bisa jadi alternatif pose kalau Manteman foto di sini. Kalau sama keluarga juga bisa dengan sambil berdiri atau duduk, ya. 



4. Taman Bali



Nah, setelah melewati gerbang pura, aku dan keluarga masuk ke kawasan Taman Bali yang dipenuhi elemen khas budaya Bali. Ada patung-patung batu bergaya tradisional, kolam kecil dengan air mancur dari patung, hingga pepohonan kamboja yang cabangnya menjulur.


Jalan setapak berbatu di area ini juga menambah kesan otentik seperti sedang berjalan di pekarangan pura atau halaman rumah khas Bali sungguhan. Kalau ke Taman Bunga Nusantara jangan lupa buat foto di sini, ya! 



5. Rumah Khas Jepang



Di Taman Bunga Nusantara juga terdapat Taman Jepang. Zen banget rasanya di sini. Sepi dan rapi! Di dalam taman khas Jepang ini ada bangunan kayu dengan atap genteng bertumpuk khas arsitektur tradisional Jepang. 


Bangku kayu panjang di dalam gazebo ini menjadi tempat istirahat sekaligus spot foto yang nyaman, dikelilingi pepohonan tinggi dan taman hijau yang tertata rapi di sekelilingnya.


Nah, selain di dalam bangunan khas Jepang ini, Manteman juga bisa banget foto di jembatan yang menyeberangi aliran air. 



6. Patung Merak Topiary



Selain kucing raksasa, Taman Bunga Nusantara juga punya topiary berbentuk burung merak. Unik banget, deh, bentuknya. Jadi sayap burung merak ini dibentuk oleh bunga-bunga berwarna pink ungu. :)


Bentuk lehernya yang panjang menjulang juga membuat patung ini terlihat elegan dari kejauhan, terutama saat dipadukan dengan latar bangunan utama taman yang beratap joglo dan taman bunga warna-warni di sekelilingnya.


Spot ini paling cantik difoto dari kejauhan dengan sudut lebar supaya keseluruhan pola taman bunga dan bentuk merak topiary bisa tertangkap dalam satu frame.



7. Taman Perancis



Buat Manteman  yang suka gaya taman formal Eropa, Taman Perancis wajib masuk daftar kunjungan saat berada di Taman Bunga Nusantara. 


Area ini didesain dengan jalan setapak lurus yang membelah taman. Ada pagar tanaman yang dipangkas rapi berbentuk pilar, kursi taman putih klasik, serta hamparan tanaman di kanan-kirinya.


Menariknya, di taman ini juga ada air mancur, lho. Tapi sayangnya pas aku dan keluarga di sana yang menyala nggak semuanya. 



8. Menara Pandang



Ini dia spot yang paling mencolok dari kejauhan. Sebuah menara pandang setinggi lima lantai dengan atap kerucut bergaya arsitektur Nusantara. Menaranya berwarna hijau dengan aksen putih. 


Menara ini punya tangga dan balkon berundak di setiap lantainya, memungkinkan pengunjung naik hingga ke puncak untuk melihat pemandangan taman dari ketinggian. 


Dari bawah, menara ini terlihat megah dengan latar langit dan pegunungan di kejauhan. Bagus banget buat foto di sini!. Jangan lupa naik ke atas juga untuk menikmati panorama seluruh kawasan taman dari atas, ya!



9. Kolam Air Terjun Bertingkat



Spot terakhir yang nggak kalah oke adalah kolam air mancur bertingkat yang mengalir dari bangunan utama menuju kolam besar di bagian bawah.


Air yang mengalir melalui beberapa tingkatan menciptakan efek air terjun mini. Di sekelilingnya ada tanaman bunga berjejer rapi, berpadu dengan bangunan utama beratap joglo besar di latar belakang. 


Spot ini paling ideal difoto dari tepi kolam bagian bawah, sehingga pantulan bangunan di air dan semburan air bisa tertangkap sekaligus dalam satu foto.



Info Sebelum Berkunjung ke Taman Bunga Nusantara

Taman Bunga Nusantara berlokasi di Jalan Mariwati Km. 7, Kawungluwuk, Kecamatan Sukaresmi, Cianjur, Jawa Barat, nggak terlalu jauh dari kawasan Puncak dan berdekatan dengan Gunung Gede Pangrango. 


Taman ini buka setiap hari, termasuk akhir pekan dan hari libur nasional, dengan jam operasional sebagai berikut:

Weekday: Pukul 08.00–17.00 WIB 

Weekend: Pukul 08.00–17.30 WIB 


Untuk memudahkan berkeliling area seluas 35 hektare ini, tersedia beberapa pilihan kendaraan sewa seperti Garden Tram, Dotto Train, dan Mobil Wira-wiri yang beroperasi mengelilingi taman lengkap dengan panduan informasi singkat. 


Selain sembilan spot foto ikonik di atas, taman ini juga punya area bermain anak hingga keranjang sultan!


Dengan kombinasi udara sejuk khas pegunungan dan spot foto yang beragam, Taman Bunga Nusantara memang layak jadi destinasi wisata sehari yang menyenangkan sekaligus Instagramable.



Dita Indrihapsari


Stasiun Depok Baru Akhirnya Bakal Punya Lift, Setelah Bertahun-tahun Jadi Keluhan Penumpang

 



Kalau Manteman setiap hari naik KRL dari Stasiun Depok Baru, pasti tahu rasanya. Begitu mau naik atau turun dari kereta dan harus pindah peron, satu-satunya akses, ya, cuma tangga. Nggak ada pilihan lain! 


Tangganya pun bukan tangga yang santai gitu, lho. Tapi cukup banyak, agak curam, dan ada beberapa bagian yang menyempit.  Buat orang yang sehat dan fit aja biosa bikin ngos-ngosan, apalagi buat lansia, ibu hamil, dan teman-teman disabilitas.


Aku benar-benar pernah mengalaminya sendiri. Dulu, waktu hamil anak pertama dan kedua, aku masih rutin naik KRL dari Depok Baru untuk kerja. Setiap hari harus turun-naik tangga itu buat pindah peron. Rasanya bukan cuma capek fisik, tapi juga was-was. 


Bayangin perut besar, jalan di tangga yang padat orang, sambil jaga keseimbangan supaya nggak terpeleset. Di jam sibuk pagi atau pulang kerja, situasinya lebih parah lagi karena banyak orang buru-buru.



Jadi Keluhan Banyak Orang!

Ternyata keluhan ini bukan cuma dirasain sama aku aja. Awal tahun ini, isu akses Stasiun Depok Baru kembali ramai dibicarakan dan diangkat oleh berbagai media nasional. 


Dari berita-berita itu jadi makin keliatan jelas kalau banyak keluhan soal akses satu-satunya untuk pindah peron di stasiun ini berupa underpass yang isinya tangga aja, tanpa lift maupun eskalator. 


Beberapa warga yang diwawancarai media juga menceritakan pengalaman yang mirip denganku. Ada yang bercerita kerabatnya sampai memilih pindah naik dari stasiun lain karena tidak kuat lagi menaiki tangga di Depok Baru. Ada juga cerita tentang teman disabilitas netra yang akhirnya jarang mau naik KRL lagi karena kesulitan akses. 


Seorang ibu hamil yang jadi narasumber media pun menggambarkan rasa was-wasnya sendiri. Naik tangga sambil pegang perut, di kanan-kiri orang buru-buru, kadang sampai nggak sempat berpegangan. 


Ada pula kisah lansia pengguna tongkat yang setiap pindah peron harus memilih antara memaksakan diri naik tangga sendiri atau menunggu ada orang baik yang mau membantu.


Yang bikin ironis, sebenarnya di setiap peron sudah disediakan kursi roda untuk penumpang prioritas. Tapi kursi roda itu jadi nggak berguna kalau satu-satunya jalan pindah peron tetap saja lewat tangga.

 

Sedih banget, kan, ya. Sebagai warga Depok aku, tuh, udah ngeluhin hal ini dari lama. Aku hamil pertama aja tahun 2012. Artinya sudah 14 tahun dan masalahnya nggak terselesaikan! :(


Akibat banyak pemberitaan yang viral itu, sebenarnya pihak KAI Commuter udah sempat menyampaikan permintaan maaf atas belum adanya fasilitas lift maupun eskalator di stasiun ini. 



Akhirnya Mau Ada Lift Juga!

Nah, setelah bertahun-tahun keluhan ini muncul, akhirnya ada titik terang, nih. Dari berita yang aku baca,  di bulan September ini ada kabar kalau proyek pembangunan lift di Stasiun Depok Baru sudah mulai berjalan. 


Proyek ini ditargetkan selesai akhir tahun 2026. Kalau benar terealisasi, ini pastinya bakal jadi kabar yang sangat melegakan buat lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas yang selama ini harus berjuang lebih keras hanya untuk naik kereta di Stasiun Depok Baru. :) 


Semoga aja prosesnya lancar dan benar-benar selesai sesuai target,karena buat sebagian orang keberadaan lift itu bukan sekadar kenyamanan tambahan, tapi kebutuhan dasar supaya mereka bisa naik transportasi publik dengan aman, nyaman, dan tenang.



Sedikit Cerita tentang Stasiun Depok Baru

Di luar soal akses, sebenarnya Stasiun Depok Baru ini punya daya tarik tersendiri, lho. Kalau Manteman perhatikan, bangunan Stasiun Depok Baru cukup besar dan bentuknya beda dari kebanyakan stasiun KRL lain di jalur yang sama. 


Ada bagian bangunan yang menjulang dengan beberapa lantai. Tapi jujur aja, sampai sekarang aku sendiri masih suka penasaran, lantai-lantai atas itu sebenarnya dipakai untuk apa aja, ya? 


Kelihatannya nggak semua area di stasiun ini dimanfaatkan secara maksimal untuk kebutuhan penumpang, padahal ruangnya cukup luas. Mungkin kedepannya pihak KAI bisa memikirkan juga supaya bangunan sebesar itu punya fungsi yang lebih optimal, enggak cuma soal akses vertikal seperti adanya lift tapi juga pemanfaatan ruangannya.


Lokasi stasiun ini juga sebenarnya sangat strategis. Begitu keluar dari stasiun, kita sudah dekat dengan ITC Depok dan Ciplaz. Dekat juga dengan Balai Kota, Terminal Depok, dan akses bus menuju bandara. 


Belum lagi posisinya yang persis di pinggir Jalan Margonda Raya, jalan utama Depok yang selalu ramai. Jadi buat siapa pun yang butuh transit dari kereta ke moda transportasi lain atau sekadar mau mampir belanja atau makan sebelum atau sesudah naik kereta, Stasiun Depok Baru ini sebenarnya lokasinya sudah sangat pas.


Sayangnya, potensi strategis ini jadi kurang maksimal kalau akses di dalam stasiunnya sendiri masih menyulitkan sebagian penumpang.



Dari Kereta Berjubel Tanpa AC Sampai Sekarang

Kalau ngomongin soal Stasiun Depok Baru, aku jadi flashback ke awal-awal kerja dulu. Waktu itu commuter line belum seperti sekarang. Aku masih ingat betul gimana rasanya naik kereta ekonomi tanpa AC, jendela dibuka lebar-lebar biar ada angin masuk. 


Bahkan bukan rahasia lagi kalau dulu banyak juga penumpang yang nekat naik di atas atap kereta demi bisa berangkat kerja tepat waktu. Padahal jelas-jelas berbahaya. Suasana di dalam gerbong juga jauh dari kata tertib. 


Dibandingkan dulu, sekarang commuter line sudah jauh lebih baik. Sudah ber-AC, sistemnya lebih teratur dengan tap in-tap out, jadwalnya juga lebih terjadwal rapi. Walaupun, ya, tetap aja masih berjubel terutama di jam sibuk, apalagi kalau kereta sedikit terlambat datang, penumpang di peron bisa menumpuk banyak sekali.


Tapi seenggaknya dari sisi kenyamanan dan keteraturan, perubahannya terasa jauh sekali kalau dibandingkan belasan tahun lalu. Harga tiket kereta pun sampai sekarang masih sangat terjangkau.


Cuma memang, satu PR besar yang belum kelar-kelar dari dulu sampai sekarang, ya, soal akses di Stasiun Depok Baru ini.


Semoga aja dengan rencana pembangunan lift yang katanya akan selesai akhir tahun ini, Stasiun Depok Baru bisa jadi lebih ramah untuk semua orang. Stasiun ini sudah jadi saksi perjalanan banyak warga Depok termasuk aku dari masa ke masa. Jadi, aku berharap banget stasiun ini makin baik lagi ke depannya… :)



Dita Indrihapsari


Suasana Tenang di Taman Jepang, Taman Bunga Nusantara



Sebenarnya sudah agak lama sejak aku dan keluarga jalan-jalan ke Taman Bunga Nusantara di Cianjur. Yap, tempat wisata ini memang berada di Kabupaten Cianjur, ya, meski banyak yang mengira lokasinya di Puncak atau Cipanas. Soalnya aku juga beranggapan seperti itu. Hehehe… :D 


Nah, meski udah lama ke sana, sekitar setahun yang lalu, tapi ada satu sudut Taman Bunga Nusantara yang sampai sekarang aku masih ingat banget gimana bentuknya dan setenang apa saat aku berada di sana. 


Seperti judul yang sudah aku tulis, aku memang mau menceritakan tentang Taman Jepang yang ada di Taman Bunga Nusantara. Dari sekian banyak taman tematik yang ada di sana, entah kenapa area inilah yang rasanya paling membekas. Di taman ini aku memang cukup lama mengeksplornya dibanding taman-taman yang lain. 


Dan di blog ini pun, Taman Jepang jadi tulisan pertamaku yang berkaitan dengan Taman Bunga Nusantara. Bahkan tulisan Taman Bunga Nusantara secara keseluruhan aja belum aku tulis, lho, di blog ini… :D 



Kesan Pertama yang Bikin Waw!

Taman Bunga Nusantara luassss banget, kan, ya. Sata berjalan mengitarinya, sampailah aku dan keluarga melewati tembok panjang. Ternyata di dalam tembok itulah Taman Jepang berada. 


Begitu masuk ke area Taman Jepang, aku langsung merasa suasananya cocok banget,, nih, sama aku yang… introvert! Wkwkwk…  Apalagi pas kami berada di taman tersebut, hanya kamilah pengunjung di sana. Sepiiiii….


Kalau di taman-taman lain di Taman Bunga Nusantara kita bisa disuguhi bunga warna-warni, di Taman Jepang semuanya kerasa lebih minimalis dan tertata rapi.. Setiap elemen dari batu, tanaman, sampai jalan setapak seperti sudah dipikirkan dengan sangat matang supaya saling melengkapi. 


Makanya pas masuk ke Taman Jepang di sini aku juga ngerasa kalau konsep taman seperti ini bisa banget jadi referensi untuk taman di rumah. 


Yang pertama kali menarik perhatianku adalah gazebo atau paviliun bergaya Jepang yang berdiri di tengah taman. Bentuknya benar-benar mengingatkanku sama suasana taman-taman tradisional yang sering kita lihat di foto-foto atau film Jepang gitu.




Atapnya khas dengan warnanya kayu cokelat tua yang kontras tapi keliatan nyatu banget sama warna hijau di sekelilingnya. Berdiri sebentar di dalamnya sambil melihat pemandangan taman rasanya kayak lagi healing. Nggak lupa juga aku meminta suami untuk mengambil fotoku di dalam paviliun ini. :D



Kolam dan Aliran Sungai Kecil Bebatuan

Salah satu hal yang membuat Taman Jepang ini jadi terasa lebih hidup adalah adanya kolam besar yang mengalirkan air ke semacam aliran sungai kecil. Airnya jernih, mengalir pelan melewati susunan batu-batu alam yang ditata sedemikian rupa sehingga terlihat natural. 


Lumayan banget jadi ada suara gemericik air ini entah kenapa punya efek menenangkan. Ditambah lagi ada banyak bebatuan di sepanjang alirannya. 


Kombinasi antara air, batu, dan tanaman hijau inilah yang menurutku jadi kekuatan utama dari konsep taman gaya Jepang. Ssemuanya terasa seimbang, tidak ada yang mendominasi.


Dari segi tanaman, Taman Jepang di Taman Bunga Nusantara menghadirkan koleksi yang cukup khas seperti taman-taman tematik lainnya. Ada pohon-pohon bonsai yang dipangkas rapi. 


Selain bonsai dan tanaman air, ada pula pepohonan rindang yang sengaja ditanam agar suasana taman terasa teduh dan sejuk. Cocok dengan udara pegunungan Cianjur yang memang adem. 


Penataan tanaman di sini juga keliatan nggak sembarangan. Rimbun tapi tetap rapi, hijau tapi nggak monoton gitu karena diselingi dengan bebatuan dan elemen kayu di sana-sini, termasuk gazebonya.



Meski Buatan, Tetap Terasa Istimewa

Satu hal yang sempat terpikir olehku, taman ini, kan, sepenuhnya buatan manusia, ya, bukan taman Jepang asli. Tapi entah kenapa, itu sama sekali nggak ngurangi keindahannya. 


Justru sebaliknya, aku jadi kagum dengan gimana penataannya bisa begitu detail dan rapi, mulai dari pemilihan tanaman, penempatan batu, sampai desain gazebo yang kesannya autentik. 


Buat aku dan keluarga, Taman Jepang ini jadi salah satu spot favorit selama berkunjung ke Taman Bunga Nusantara. Kalau Manteman berencana ke sana, jangan buru-buru melewati taman ini hanya karena terlihat "biasa saja" dari luar. Coba luangkan waktu sedikit lebih lama, duduk di gazebo, dengarkan suara air mengalir, dan rasakan sendiri bedanya suasana di sini dibanding taman-taman tematik lainnya. :)



Info Taman Bunga Nusantara

Selain Taman Jepang, Taman Bunga Nusantara sebenarnya adalah kawasan wisata taman tematik yang jauh lebih luas. Areanya mencapai lebih dari 23 hektar dan koleksi ribuan jenis bunga dari berbagai belahan dunia. Berikut beberapa informasi praktis yang bisa jadi panduan sebelum berkunjung.



Lokasi

Taman Bunga Nusantara berada di Jl. Mariwati KM 7, Kawungluwuk, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat 43254. Lokasinya berada di dekat kawasan Cipanas-Puncak dengan suhu udaranya yang cenderung sejuk khas pegunungan.



Jam Operasional & Harga Tiket Masuk

Jam buka: Setiap hari pukul 08.00–17.00 WIB (weekend), 09.00–17.00 WIB (weekday)

Tiket masuk: Rp50.000

Harga tiket bisa berubah sewaktu-waktu, jadi ada baiknya dicek ulang lewat website atau akun media sosial resmi Taman Bunga Nusantara sebelum berangkat, ya.


Taman Tematik Lainnya

Selain Taman Jepang, ada beberapa taman tematik lain yang juga sayang dilewatkan, di antaranya Taman Prancis dengan desain simetris ala Eropa, Taman Bali dengan nuansa arsitektur Pulau Dewata, Taman Mawar dan Taman Palem dengan koleksi tanamannya masing-masing, Taman Air dengan teratai dan bunga bakung, serta Taman Labirin yang seru untuk dijelajahi bersama anak-anak.



Fasilitas

Taman Bunga Nusantara juga dilengkapi rumah kaca berisi koleksi bunga langka, wahana keliling taman seperti Dotto Train dan Garden Tram, area bermain anak, restoran dan kafe, gazebo serta area piknik, mushola, toilet, toko suvenir, dan area parkir yang luas.



Taman Bunga Nusantara cocok banget jadi destinasi liburan keluarga, apalagi kalau Manteman mau merasakan suasana sejuk pegunungan sekaligus menikmati keindahan taman-taman tematik dari berbagai negara dalam satu kawasan. 


Dan buatku pribadi, Taman Jepang tetap jadi favorit di Taman Bunga Nusantara ini. Taman yang penuh ketenangan di tengah taman yang begitu luas. 😀



Dita Indrihapsari


Singgah di Masjid Agung Baitul Faizin, Cibinong, Masjid Megah di Kompleks Pemda Bogor



Hari itu jadwal kami cukup padat. Aku dan suami menemani anak kami lomba angklung di auditorium Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor. Begitu lomba selesai, hal pertama yang kami cari adalah tempat sholat karena sudah masuk waktu sholat dzuhur. 


Kebetulan, masjid terdekat dari gedung tempat lomba berlangsung adalah Masjid Agung Baitul Faizin. Buat aku dan keluarga, ini juga jadi kesempatan baru karena kami memang senang mencoba sholat di masjid-masjid yang belum pernah kami kunjungi setiap kali sedang bepergian. :) Jadilah siang itu jadi pengalaman pertama kami sholat di Masjid Agung Baitul Faizin, Cibinong, Bogor.



Lokasi Masjid Agung Baitul Faizin

Masjid Agung Baitul Faizin berada di area Kompleks Perkantoran Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bogor, tepatnya di kawasan Jalan Tegar Beriman, Cibinong. Posisinya menyatu dengan kawasan perkantoran pemerintahan, jadi harus masuk dulu ke area kompleks Pemda sebelum sampai ke gerbang masjid.


Jujur, aku sempat kaget begitu masuk. Nggak nyangka, sih, masjidnya sebesar itu, dengan bagian dalam yang juga luas banget. Dari luar terlihat megah, begitu masuk ke dalam, kesan luasnya makin terasa.


Kalau soal akses masuk, kendaraan bisa masuk lewat gerbang kompleks Pemda, lalu langsung menuju area parkir yang ada di depan atau samping masjid. Nah, ini yang agak bikin aku bingung. Selama di sana, aku cuma melihat mobil yang parkir di area parkir masjid. Aku nggak sempat melihat di mana letak parkir khusus motor dan sejauh ini aku juga belum berhasil menemukan informasi resmi soal titik parkir motor di kawasan ini. 


Jadi kalau Manteman berencana ke sini naik motor, ada baiknya bertanya langsung ke petugas atau satpam di gerbang kompleks begitu sampai, supaya nggak salah parkir atau malah kejauhan jalan kaki dari tempat parkir ke masjid, ya.



Fasilitas Tempat Wudhu dan Toilet

Begitu sampai, aku langsung masuk dan naik ke bagian atas masjid untuk sholat. Baru belakangan aku sadar kalau ruang wudhu dan toilet itu ada di lantai dasar, bukan di lantai yang sama dengan ruang sholat utama.


Tempat wudhunya sendiri cukup luas, dengan banyak keran air yang tersedia sehingga sepertinya nggak perlu antre lama meskipun sedang ramai. Kebetulan pas aku di sana lagi sepi, ruang wudhu pun kosong. 


Sayangnya, kondisi lantainya agak kotor saat aku ke sana, dan aku juga nggak melihat ada petugas jaga perempuan di area wudhu tersebut. Toiletnya pun menurutku kurang bersih. Sayang banget karena dari segi ukuran dan fasilitas sebenarnya sudah cukup memadai. Semoga kedepannya kebersihannya bisa lebih diperhatikan lagi, apalagi masjid ini kan levelnya masjid agung di kompleks pemerintahan kabupaten, ya.


Oiya, untuk menuju area wudhu, Manteman juga harus menuruni cukup banyak anak tangga dari ruang sholat utama. Awalnya aku sempat berpikir masjid ini kurang ramah untuk lansia dan penyandang disabilitas. Tapi ternyata dugaanku salah! Di masjid ini juga tersedia toilet dan tempat wudhu khusus untuk lansia dan disabilitas, jadi kebutuhan mereka bisa tetap terakomodasi.


Meski begitu, kalau membawa anak-anak, tetap perlu ekstra hati-hati, ya, karena tangganya cukup banyak dan curam di beberapa titik.



Area Sholat Masjid

Setelah beres wudhu, aku naik lagi ke area sholat khusus perempuan. Nah, sebelum masuk ke tempat sholat, aku sempat memperhatikan ada bedug berukuran besar di lantai atas masjid dengan ukiran nama masjid di bagian atas bedug.


Nah, secara keseluruhan, sih, area sholat di masjid ini memang sangat luas. Langit-langitnya tinggi dan begitu berdiri di dalamnya, kesan juga megah langsung terasa.


Tapi ada satu hal yang menurutku agak disayangkan. Ruang sholat khusus perempuan terasa cukup sempit dibandingkan area sholat laki-laki. Aku jadi bertanya-tanya, kenapa proporsinya bisa sejomplang itu. 


Aku paham, sih, jamaah laki-laki memang lebih diutamakan untuk sholat berjamaah di dalam masjid. Tapi rasanya banyak masjid besar di Indonesia punya pola yang sama, sehingga hal ini jadi semacam pertanyaan yang berulang setiap kali aku mampir ke masjid baru. :)


Terlepas dari itu, area sholat perempuannya terlihat rapi. Saat aku di sana, ada beberapa jamaah perempuan lain yang juga sedang sholat, bahkan ada yang memanfaatkan waktu untuk istirahat sejenak di dalam masjid. Di salah satu sisi dinding juga tersedia mukena yang digantung untuk dipinjam pengunjung. Karena aku bawa mukena sendiri, jadi aku nggak mencoba fasilitas mukena yang disediakan di sana.



Suasana di Sekitar Masjid

Nah, bagian ini yang paling bikin aku excited. Begitu keluar dari masjid dan melihat area depannya, ternyata ada taman atau ruang terbuka publik yang cukup luas di sana. Meski waktu itu tengah hari, pas jam Dzuhur yang biasanya panas terik, tetap aja ada orang yang berlalu-lalang di taman ini. 


Aku bahkan sempat melihat ada yang asyik main sepatu roda (inline skate) dan beberapa orang lain yang santai duduk-duduk menikmati suasana.


Yang paling menarik perhatianku adalah sebuah bangunan mirip tugu berbentuk bulan sabit di area depan masjid. Bentuknya cantik dan di bagian bawahnya ada tulisan nama-nama tempat lengkap dengan keterangan jarak dalam kilometer. 


Sepertinya itu menunjukkan jarak dari masjid atau tugu ini ke kota-kota atau tempat-tempat yang tertulis. Sayangnya aku belum sempat menelusuri lebih detail konsep atau makna di balik tugu ini, jadi kalau ada yang tahu lebih lanjut, boleh banget cerita di kolom komentar, yaaa. :D


Satu lagi yang bikin suasana sekitar masjid ini hidup adalah keberadaan beberapa lapak UMKM di salah satu sisi bangunan. Ada yang jual bakso, siomay, dan berbagai jajanan lainnya. 


Nggak heran, saat aku ke sana di akhir pekan, suasana di sekitar masjid jadi lumayan ramai berkat kehadiran para pedagang ini. Rasanya jadi lebih hidup, karena orang-orang nggak cuma datang untuk sholat, tapi juga menikmati ruang publik di sekitarnya.



Buat sebuah masjid yang berada di dalam kompleks perkantoran pemerintahan, Masjid Agung Baitul Faizin ini ternyata oke juga, lho. Ada taman terbuka yang ramah untuk publik, ada jajanan UMKM, dan bangunan masjidnya sendiri megah dengan area sholat yang luas. 


Meski ada beberapa catatan soal kebersihan fasilitas wudhu dan toilet, ya, secara keseluruhan ini jadi pengalaman sholat perdana yang cukup berkesan buat aku dan keluarga.


Masjid ini buka 24 jam dan terbuka juga untuk para musafir. Bagi yang butuh tempat istirahat dari perjalnana jauh bisa banget ke masjid ini dan memanfaatkan ruang yang ada di dalam masjid. 


Kalau Manteman muslim yang kebetulan lagi ada urusan di kawasan Pemda Cibinong atau sekadar lewat di Jalan Tegar Beriman, nggak ada salahnya mampir sholat di sini sambil menikmati suasana taman depannya. 


Siapa tahu Manteman juga penasaran sama tugu bulan sabit dan bedug besar yang aku ceritakan tadi! 😀



Dita Indrihapsari




 


Urban People, Patung Ikonik di Orchard Road Singapura



Ada, nih, satu titik di Orchard Road yang rasanya wajib disinggahi oleh setiap turis yang berkunjung ke Singapura, terutama kalau rutenya lewat ION Orchard. Di anak tangga dekat salah satu pintu masuk mal itu, berdiri enam patung manusia warna-warni yang jadi tempat buat para wisatawan foto-foto. :D 


Waktu aku dan teman-teman akhirnya sampai di Orchard Road setelah seharian menyusuri Singapura, kami juga melakukannya! Hehehe… Rasanya nggak afdol pulang tanpa mengabadikan momen di depan patung-patung ini. 


Jadilah kami berhenti sejenak, mengeluarkan hape, dan mengambil beberapa footage sambil bergantian berpose di sela-sela sosok-sosok patung tersebut. Momen kecil itu jadi salah satu kenangan paling berkesan dari perjalanan kami di Singapura. :D


Manteman juga sudah pernah foto di sana tapi belum tahu cerita dibalik patung tersebut? Nah, sekarang aku mau sedikit cerita tentang URBAN PEOPLE! Yes, itulah nama seni patung instalasi yang berada di tempat tersebut… :) 



Siapa di Balik Urban People?

Patung Urban People merupakan karya seniman asal Swiss, Kurt Laurenz Metzler. Seniman ini  lahir pada 26 Januari 1941 di Balgach, Swiss. Sejak kecil ia ternyata menang sudah menunjukkan ketertarikan pada seni. 


Tapi, ya, seperti orang tua kita juga di sini, ibunya juga sempat ngingetin kalau dunia seni pahat bukanlah profesi yang stabil secara finansial. Meski begitu, Metzler tetap menempuh pendidikan seni di Schule fur Gestaltung, Zurich, dan meraih diploma sebagai pematung pada 1963.


Nah, dari keahliannya inilah yang bisa sampai membawa Metzler berkeliling dunia. Ciri khas patung yang dibuatnya memang menampilkan sosok manusia dengan gaya khas. Warna cerah, terbuat dari fiberglass dan poliester, serta punya karakter yang jenaka tapi tetap terasa manusiawi gitu. 


Karya-karyanya tersebar di ruang publik berbagai kota besar, mulai dari Zurich, New York, Los Angeles, hingga Singapura. Metzler meninggal dunia pada Desember 2024 di usia 83 tahun, namun karya-karyanya, termasuk Urban People tetap berdiri dan terus disinggahi orang dari seluruh dunia.



Filosofi di Balik Urban People

Nah, patung Urban People yang ada di Orchard Road ini terdiri dari enam patung berbahan aluminium. Masing-masing patung dicat dengan warna mencolok yang berbeda-beda, yaitu merah, hijau, ungu, limau, dan merah muda. 


Setiap sosok menggambarkan karakter urban yang berbeda-beda juga. Ada yang membawa tas belanja, ada juga yang membaca koran. Patung-patung ini, tuh, kayak mencerminkan kehidupan sehari-hari di kawasan perbelanjaan dan bisnis seperti Orchard Road.




Oiya, kalau yang aku baca-baca di referensi, katanya filosofi utama di balik karya patung ini adalah interaksi. 


Berbeda dari kebanyakan patung publik yang hanya bisa dipandangi dari kejauhan, Urban People justru dibuat supaya orang-orang bisa mendekat, menyentuh, bahkan "berinteraksi" dengannya patung-patung itu. ‘


Bener aja, kan, kalau foto sama patung Urban People pasti bisa aja kita memegang tangannya, merangkulnya atau sekadar berdiri berdampingan. ‘


Nah, makanya katanya konsep inilah yang bikin karya Metzler terasa berbeda. Dia menempatkan seni sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang bisa dinikmati siapa aja dan kapan aja.



Kenapa Ditempatkan di ION Orchard?

Yang menarinya, kalau diperhatikan lebih detail, salah satu patung perempuan warna ungu terlihat membawa tas belanja berwarna perak bertuliskan logo ION Orchard. 


Ada juga patung pria warna merah yang sedang membaca koran juga membawa koran dengan cerita seputar mal tersebut. Detail-detail kecil ini menunjukkan kalau karya patung tersebut memang dirancang khusus untuk ION Orchard.


Urban People dibuat secara khusus bersamaan dengan pembukaan mal tersebut pada 2009. Saat itu, ION Orchard memang punya program seni yang cukup ambisius. Mal ini seperti mau menghadirkan sejumlah karya seni publik di area sekitar bangunannya. Selain Urban People, ada juga "Nutmeg & Mace" karya Kumari Nahappan yang berdiri di sudut Orchard dan Paterson Road.


Penempatan Urban People di anak tangga dekat pintu masuk mal juga ada alasannya, lho. Area tersebut merupakan salah satu titik dengan lalu-lalang pejalan kaki tertinggi di sepanjang Orchard Road. Nah, sehingga karya ini otomatis jadi seperti menyambut siapa pun yang datang ke Orchard Road, kan. 



Bagi banyak turis, termasuk aku dan teman-temanku, Urban People sudah jadi semacam tempat wajib saat di Orchard Road. Kayaknya Kurt Laurenz Metzler berhasil mencapai tujuannya, ya. Dia bisa bikin seni terasa dekat dan menjadi bagian dari perjalanan setiap orang yang melewatinya. :)


Dita Indrihapsari


Kenapa Semua Orang Tiba-Tiba Sibuk Berburu Stempel? Membedah Fenomena Stamp Rally di Jakarta!



Coba, deh, perhatikan sekeliling Manteman pas lagi ada event komunitas, mal atau festival belakangan ini. Ada yang megang buku kecil, antre di beberapa booth berbeda, terus dengan semangat minta dicap. :D 


Ternyata, ini, tuh, bukan tren baru yang lahir kemarin sore. Namanya stamp rally dan fenomena ini sudah puluhan tahun jadi bagian dari budaya jalan-jalan di Jepang, sebelum akhirnya menyebar ke seluruh dunia, termasuk di Jakarta! :D 


Apa Sebenarnya Stamp Rally Itu?

Stamp rally adalah aktivitas mengunjungi beberapa titik atau lokasi tertentu, bisa stasiun kereta, booth pameran, gerai restoran, sampai museum, untuk mengumpulkan stempel unik menggunakan kartu atau buku panduan khusus. Setiap titik biasanya punya desain stempel yang berbeda dan jadi bagian dari satu tema besar.


Setelah semua stempel terkumpul, peserta biasanya bisa menukarkannya dengan hadiah, merchandise eksklusif, diskon, sampai kesempatan ikut lucky draw. Tapi menariknya, buat banyak orang, hadiah itu cuma bonus. Yesss, sensasi "berburu" dan rasa puas melihat buku panduan penuh cap atau stempel ituah yang justru jadi daya tarik utamanya.



Dari Stasiun Kereta di Fukui, Menjelma Jadi Budaya Nasional!

Akar dari stamp rally sebenarnya bisa jadi ada dua. Yang pertama dan lebih tua adalah tradisi goshuin. Stempel kaligrafi yang diberikan di kuil dan altar Shinto kepada peziarah sebagai bukti kunjungan mereka. Tradisi ini sudah berjalan lama sebelum kereta api ada di Jepang.


Yang kedua dan jadi cikal bakal langsung dari stamp rally modern adalah eki stamp atau stempel stasiun kereta. 


Cerita asal-usulnya terjadi pada tahun 1931. Seorang kepala stasiun bernama Kanichi Tominaga di Stasiun Fukui punya ide membuat stempel peringatan setelah ngobrol santai dengan stafnya.


Stempel itu menampilkan gambar Eiheiji, kuil Zen penting di dekat stasiun. Ternyata idenya disambut baik, sampai-sampai Kementerian Perkeretaapian saat itu memutuskan menyebarkan konsep serupa ke stasiun-stasiun di seluruh negeri. :)


Sejak itu, hampir semua dari sekitar 9.000 stasiun kereta di Jepang punya eki stamp masing-masing. Biasanya menampilkan landmark lokal, maskot atau produk khas daerah. 


Bahkan, ya, ada juga komunitas penggemar khusus yang disebut oshi-tetsu atau "penggila stempel kereta", yang menjadikan perburuan eki stamp sebagai hobi serius, kadang sampai menjelajahi seluruh jaringan kereta demi melengkapi koleksi mereka. Wiiih, mantap!


Nah, bedanya dengan eki stamp biasa, stamp rally punya tema khusus dan periode terbatas, misalnya kolaborasi dengan anime, film atau karakter populer. Salah satu stamp rally besar yang jadi tonggak sejarah adalah Discover Japan pada 1970, yang mendorong orang menjelajahi destinasi wisata kurang terkenal lewat jalur kereta.



Tempat Populer untuk Stamp Hunting di Jabodetabek

Kalau di Jepang stamp rally identik dengan stasiun kereta, di Jakarta pun pola yang sama mulai terbentuk. Beberapa titik ini jadi favorit warganet yang gemar "berburu cap" akhir pekan:


Stasiun KRL Jabodetabek. KAI Commuter (KCI) resmi meluncurkan program bertajuk "Stamp Railly", lengkap dengan buku khusus bernama Stamp Railly Passport untuk mengumpulkan cap. 


Ada 10 stasiun yang jadi titik hunting, yaitu Bogor, Universitas Indonesia, Manggarai, Jakarta Kota, BNI City, Jatinegara, Tanah Abang, Tanjung Priok, Pasar Senen, dan Gambir. 


Tiap stasiun punya desain cap unik yang menampilkan bangunan stasiun, landmark kota, budaya lokal, hingga flora-fauna khas daerah. Menariknya, pihak KCI menyebut program ini rencananya akan diperluas ke sejumlah stasiun di Jawa dan Sumatra hingga 2027, jadi bukan cuma berhenti di Jabodetabek.


MRT Jakarta. Lewat program #StempelMRTJ, MRT Jakarta menyediakan cap eksklusif di beberapa stasiun seperti Dukuh Atas BNI (termasuk gedung Transport Hub di kawasan TOD-nya), Blok A, Haji Nawi, dan Cipete Raya. Tiap desainnya menonjolkan budaya lokal, misalnya motif gigi balang berpadu dengan ilustrasi ratangga (kereta MRT) di Haji Nawi atau motif petai dan bunga kembang sepatu di Cipete Raya. Cukup datang ke loket dan minta ke petugas frontliner stasiun, tidak perlu aplikasi atau kode QR.


Kawasan Cikini. Salah satu titik yang viral di media sosial adalah Post Kantoor Cikini, bangunan bekas Kantor Pos Cikini yang kini disulap jadi kafe bernuansa vintage. Pengunjung bisa membeli kartu pos lalu memilih dari beberapa desain stempel untuk dicap langsung di kartu pos atau di jurnal pribadi mereka.


Area Blok M. Sejumlah ruang publik dan hub transportasi di kawasan Blok M turut menjadi bagian dari rute stamp hunting yang sering dibagikan di media sosial, biasanya digabung dalam satu rute jalan kaki bersama titik-titik MRT terdekat.


Museum di Jakarta dan sekitarnya. Kementerian Kebudayaan lewat Museum dan Cagar Budaya (MCB) meluncurkan "Museum Passport" pada Juni 2026 lalu. Buku koleksi cap yang bisa diisi dengan mengunjungi museum dan cagar budaya yang berpartisipasi. 


Lebih dari 20 museum berpartsipasi, termasuk Museum Nasional Indonesia, Galeri Nasional Indonesia, Museum Kebangkitan Nasional, Museum Basoeki Abdullah, Museum Batik Indonesia, hingga Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Setiap lokasi punya desain cap berbeda dan buku paspornya bahkan dilengkapi voucher tiket masuk gratis ke beberapa museum.



Fenomena Stamp Rally yang Makin Seru!

Stamp rally berhasil menggabungkan beberapa hal yang memang disukai manusia, yaitu rasa pencapaian, eksplorasi, koleksi, dan interaksi sosial. Itu semua lalu dibungkus dalam format yang murah dan mudah direplikasi oleh siapa saja.


Selama masih ada tempat baru untuk dijelajahi dan komunitas yang ingin merayakan sesuatu bersama, kemungkinan besar kita akan terus melihat orang-orang antre sabar demi satu hal sederhana, yaitu cap kecil di atas kertas.



Sejujurnya, aku pun baru mau memulai stamp hunting… :D Doakan aku bisa dapat banyak stamp yaa.. Hehehe… Terakhir saat beberapa hari lalu, aku sempat mendapat stempel dari Stasiun Cirebon. Walaupun bukan stempel stasiun kereta yang aku inginkan, tapi aku sendiri ngerasa seru banget, sih, berburu stempel-stempel kayak gini… :D 


Kalau kamu gimana? Udah mulai stamp rally atau stamp hunting jugaaa? :D 


Sumber foto: 

https://travel.detik.com/cerita-perjalanan/d-8636194/berburu-stamp-railly-di-stasiun-krl-dalam-sekali-tap-in/3  


Dita Indrihapsari


Menjelajahi Stasiun Cirebon Kejaksan: Dari Sejarahnya, Arsitektur, sampai Pengalaman Naik Kereta Cakrabuana


Rasanya aku sudah lama nggak ke Cirebon. Eh, ndilalah aku mendapat kabar kalau kakakku yang sedang tugas kantor di Cirebon mengalami kecelakaan. :( Akhirnya aku pun langsung menuju Cirebon untuk merawat kakakku selama beberapa hari di salah satu rumah sakit Cirebon.  


Nah, setelah sekitar lima hari di RS, aku pun kembali lagi ke Depok dengan menggunakan kereta. Barulah saat perjalanan pulang ini aku baru benar-benar melihat dari dekat bagaimana spesialnya Stasiun Cirebon Kejaksan, stasiun utama di kota Cirebon.


Kalau aku perhatikan, stasiun ini bukan sekadar tempat naik-turun penumpang aja. Stasiun Cirebon Kejaksan adalah bangunan cagar budaya berusia lebih dari satu abad dengan arsitektur yang bikin siapa pun bisa berhenti sejenak buat mengagumi detailnya! :) 


Di tulisan ini aku mau berbagi sedikit cerita soal sejarah, arsitektur, fasilitas, sampai pengalaman kecil-kecilan yang bikin kunjunganku ke Stasiun Cirebon Kejaksan jadi lebih berkesan. Yuk, yuk, baca, yuuuk! ;D 



Sejarah Stasiun Cirebon Kejaksan, Usianya 1 Abad Lebih!

Stasiun Cirebon Kota yang lebih dikenal dengan nama  Stasiun Cirebon Kejaksan mulai dibangun pada masa kolonial Belanda oleh perusahaan kereta api negara Staatsspoorwegen (SS). 


Jalur kereta yang sebelumnya sudah ada di Cikampek kemudian diperpanjang untuk menjangkau Cirebon. Nah, pada 3 Juni 1912, jalur sepanjang sekitar 137 kilometer dari Cikampek menuju Cirebon rampung dibangun dan bersamaan dengan itu stasiun ini resmi dibuka untuk umum. 


Berarti usia Stasiun Cirebon Kejaksan tahun ini sudah 114 tahun, yaaa! Mantap nggak, tuh!


Nah, pembangunan jalur kereta ini ternyata erat kaitannya sama industri gula yang saat itu berkembang pesat di sepanjang pantai utara Jawa dari Semarang sampai Cirebon. 


Karena alat transportasi tradisional kayak pedati, tuh, sudah nggak mampu lagi mengangkut hasil produksi pabrik gula dalam jumlah besar,  makanya kereta api jadi solusi untuk distribusi gula, barang lainnya, sekaligus juga penumpang.


Usianya yang sudah seabad lebih, dan dilihat dari historinya, makanya nggak heran kalau stasiun ini kini berstatus sebagai bangunan cagar budaya yang terdaftar resmi. 


Jadi kalau Mateman berkunjung ke sini, Manteman nggak cuma naik kereta, tapi juga bisa melihat dari dekat jejak sejarah perkeretaapian Indonesia yang usianya sudah lebih dari 100 tahun.



Arsitektur  Stasiun Karya Pieter Adriaan Jacobus Moojen

Salah satu daya tarik utama Stasiun Cirebon Kejaksan tentu saja arsitekturnya. Aku aja takjub banget, lho, pas bener-bener memperhatikan detail arsitektur stasiun ini. Memang dari segi ukuran stasiun ii nggak gede-gede amat, ya. Tapi baguuusss banget arsitekturnya!


Bangunan stasiun ini dirancang oleh arsitek kenamaan asal Belanda, Pieter Adriaan Jacobus Moojen. Ia memadukan gaya art nouveau dengan sentuhan art deco. Ciri art deco paling terlihat dari fasad bangunan yang simetris dengan bagian tengah gedung yang menjulang lebih tinggi dibanding dua menara di sisi kiri dan kanannya.


Dulu, pada masa kolonial, kedua menara tersebut punya fungsi khusus:, yaitu menara sebelah kiri bertuliskan "kaartjes" (karcis) sebagai loket penumpang, sementara menara sebelah kanan bertuliskan "bagage" (bagasi) untuk layanan barang. 


Bagian atas menara dan bangunan utama juga dihiasi jendela kaca patri warna-warni yang selain indah dipandang, dulunya berfungsi sebagai sumber penerangan alami di siang hari. Keren, yaa! Sampai sekarang bagian dalam stasiun juga tampak terang. 


Oiya, menariknya lagi, Moojen ini bukan nama asing di dunia arsitektur kolonial Indonesia. Aku pernah juga melihat beberapa karya arsitekturnya yang berada di Jakarta, yaitu Gedung Kunstkring dan Masjid Cut Meutia. Dua bangunan tersebut juga sarat nilai sejarah dan estetika arsitektur kolonial. :)



Beda Stasiun Cirebon Kejaksan dan Stasiun Cirebon Prujakan

Nah, buat Manteman yang baru pertama kali ke Cirebon, penting juga, nih, untuk tahu kalau kota ini punya dua stasiun besar. Stasiun Cirebon Kejaksan dan Stasiun Cirebon Prujakan. 


Keduanya sering bikin bingung karena sama-sama berada di Kota Cirebon, tapi punya hal yang berbeda.


Stasiun Cirebon Kejaksan berstatus stasiun besar tipe A dan menjadi titik pertemuan utama jalur kereta api dari Jakarta menuju Surabaya, baik lewat jalur utara (Semarang) maupun jalur tengah (Yogyakarta–Solo). 


Kereta yang berangkat maupun datang di Stasiun Cirebon Kejaksan didominasi oleh kereta kelas bisnis dan eksekutif. Sementara itu, Stasiun Cirebon Prujakan umumnya melayani rute dan kelas kereta yang berbeda, sehingga kedua stasiun ini saling melengkapi dalam melayani mobilitas warga Cirebon dan sekitarnya.


Jadi, sebelum berangkat, jangan lupa cek dengan teliti nama stasiun keberangkatan di tiket Manteman, ya! Jangan sampai salah datang ke stasiun yang berbeda. :D



Berburu Stempel di Stasiun Cirebon Kejaksan

Begitu tiba di area Stasiun Cirebon Kejaksan, aku disambut dengan pemandangan lokomotif tua yang dipajang di bagian depan stasiun, seolah kayak menyambut setiap pengunjung yang datang gitu. 


Ojek online yang aku tumpangi pun langsung masuk ke area depan dan menurunkanku tepat di depan gedung utama stasiun.


Sambil menunggu keberangkatan kereta Cakrabuana yang akan membawaku ke Gambir, aku iseng bertanya soal program stamp rally yang belakangan lagi populer di kalangan penggemar kereta api. 


PT KAI memang telah menyediakan stempel khusus di beberapa stasiun, baik di wilayah Jabodetabek maupun kota-kota besar lainnya.


Aku pun diarahkan ke bagian customer service untuk mendapatkan stempel tersebut. Tapi ternyata stempel yang kudapat bukan stempel stamp rally versi reguler KAI, melainkan stempel edisi kolaborasi dengan film Jumbo. :D 


Pada tahun lalu, KAI memang pernah bekerja sama dengan film Jumbo untuk program stamp rally di sepuluh stasiun, termasuk Stasiun Cirebon Kejaksan. Stempel edisi ini sekarang sudah cukup langka untuk didapatkan. Sedangkan stempel stamp rally dari KAI yang baru ternyata belum ada di Stasiun Cirebon Kejaksan ini, baru ada di beberapa stasiun Jabodetabek. Yah, gagal, deh bisa dapat stempelnya, huhuhuw…


Tapi aku ternyata dapat cap stempel yang sudah cukup langka! Hehehe… Pengalaman kecil yang nggak terduga, tapi seru banget inilah yang bisa jadi kenang-kenangan perjalanan. :D 


Fasilitas Mushola di Stasiun Cirebon Kejaksan

Setelah dari customer service, aku lanjut masuk ke area peron dengan proses yang cukup cepat. Aku hanya mengeluarkan tiket yang sudah aku cetak sebelumnya di mesin otomatis, siapkan KTP, lalu masuk aja, deh. Nggak ada antrean panjang saat itu, jadi prosesnya cukup cepat.


Sebelum kereta berangkat, aku menyempatkan diri mampir ke mushola untuk salat Ashar. Ternyata mushola di Stasiun Cirebon Kejaksan cukup proper. Tempatnya luas, bersih, dan tersedia mukena untuk jemaah perempuan. 


Menariknya lagi, fasilitas serupa juga tersedia di bagian dalam peron setelah proses check-in, jadi penumpang yang sudah masuk area boarding pun tetap bisa beribadah dengan nyaman tanpa harus keluar area steril stasiun.


Buat kamu yang sering bepergian jauh dan khawatir soal fasilitas ibadah di perjalanan, poin ini jadi nilai plus tersendiri dari Stasiun Cirebon Kejaksan.



Beli Oleh-oleh di Stasiun Cirebon Kejaksan

Meski nggak terlalu besar, area depan Stasiun Cirebon Kejaksan ternyata cukup lengkap dari segi fasilitas penunjang. Ada beberapa tenant makanan, minimarket seperti Indomaret, hingga toko oleh-oleh khas Cirebon.


Nah, di bagian dalam peronnya pun juga sama. Ada beberapa tenant makanan dan oleh-oleh uga, selain ada mushola dan toilet. 


Salah satu tempat yang aku sambangi adalah toko oleh-oleh Batik Trusmi. Meski namanya identik dengan batik, ternyata toko ini juga menjual aneka camilan khas, salah satunya pie dengan rasa mangga yang kubeli untuk anak-anak di rumah. 


Harganya cukup terjangkau, satu buah dibanderol Rp35.000, tapi kalau beli tiga sekaligus harganya jadi Rp75.000 saja. Lumayan banget buat oleh-oleh ringan sebelum melanjutkan perjalanan.


Jadi kalau kamu transit atau menunggu jadwal kereta di sini, jangan lewatkan kesempatan untuk berburu camilan atau oleh-oleh khas Cirebon lainnya.


Naik Kereta Cakrabuana dari Stasiun Cirebon Kejaksan

Setelah puas berkeliling, salat, dan berbelanja oleh-oleh, akhirnya aku menuju jalur tempat kereta Cakrabuana sudah bersiap untuk berangkat menuju Stasiun Gambir, Jakarta. 


Rasanya perjalanan singkat di Stasiun Cirebon Kejaksan ini memberi banyak kesan, mulai dari kagum akan arsitektur peninggalan kolonial karya Moojen, serunya berburu stempel unik, sampai kenyamanan fasilitas yang bikin waktu menunggu jadi nggak terasa membosankan.


Buat Manteman yang berencana melakukan perjalanan kereta dari atau menuju Cirebon, Stasiun Cirebon Kejaksan bisa jadi salah satu titik keberangkatan yang nyaman. 


Selain fasilitasnya cukup lengkap untuk ukuran stasiun yang "pas", nggak terlalu besar tapi juga nggak kekurangan apa-apa. Nilai historis dan arsitekturnya juga membuat pengalaman menunggu kereta jadi lebih dari sekadar rutinitas.


Jadi, kalau lain kali kamu transit di Cirebon, sempatkan waktu sedikit lebih lama untuk menikmati bangunan bersejarah satu ini, ya! 😀



Dita Indrihapsari


Contact Form

Name

Email *

Message *