Goa Garunggang Sentul Bogor, Menjelajahi Labirin Batu dan Gua Tersembunyi Bersama Keluarga



Trekking di Sentul Bogor sepertinya jadi tren wisata baru bagi warga Jabodetabek sejak Cov*d melanda. Sampai sekarangpun aku kerap kali masih melihat di media sosial banyak masyarakat yang trekking dan beraktivitas alam di kawasan Sentul. 


Hal ini pun aku lakukan juga bersama keluarga. Aku dan suami pernah mengajak anak-anak trekking menyusuri beberapa curug di kawasan Sentul, seperti Curug Leuwi Hejo, Leuwi Benjol, Leuwi Cepet, dan Leuwi Lieuk. Bagi anak-anak aktivitas trekking ini seru dan menyenangkan. 


Karena melihat anak-anak yang antusias dengan wisata alam, akhirnya, aku pun beride untuk melakukan trekking lagi di Sentul dengan destinasi yang berbeda. 


Nah, beberapa bulan lalu, aku dan suami pun memutuskan untuk trekking dengan jalur Goa Garunggang. Kali ini rutenya nggak ketemu curug, tapi ternyata nggak kalah seru dan bisa masuk ke dalam goa yang ada di bawah tanah!  


Gimana keseruan trekking ke Goa Garunggang Sentul Bogor ini? Aku ceritakan selengkapnya di tulisan ini, yaa…



Mengapa Memilih Trekking ke Goa Garunggang?

Setiap akhir pekan, banyak orang memadati jalur-jalur trekking untuk sekadar mencari udara segar atau melihat air terjun atau curug. 


Namun, di tengah destinasi curug, ada satu titik di jalur trekking Sentul yang menawarkan sensasi yang benar-benar berbeda. Goa Garunggang atau nama lengkapnya Goa Agung Garunggang. 


Dari berbagai referensi yang saya baca, tempat ini bukan sekadar gua biasa, melainkan sebuah mahakarya geologi yang sering dijuluki sebagai "Grand Canyon-nya Bogor".


Alasan utama aku memilih Goa Garunggang memang karena keunikannya. Berbeda dengan rute trekking Sentul lainnya yang biasanya berakhir di aliran sungai atau air terjun, Garunggang menawarkan pemandangan labirin batuan karst yang sangat eksotis.




Untuk memastikan perjalanan lebih aman dan nyaman, aku menggunakan jasa trip lokal dengan dipandu tour guide yang berpengalaman.


Selain nggak perlu pusing memikirkan rute, pemandu dari jasa trip tersebut  juga memberikan cerita tentang berbagi tempat yang kami lewati. Selain itu guide kami juga sekaligus menjadi dokumentasi. Makanya aku seneng banget ada banyak hasil foto dan video aku dan sekeluarga yang diambilnya saat menemani perjalanan kami ke Goa Garunggang. 


Oiya, untuk jasa trip kali ini aku dan keluarga memakai jasa @sentul_travel_nusantara. Sebenarnya ada banyak sekali, ya, jasa trip trekking Sentul namun aku akhirnya memutuskan untuk memakai jasa trip tersebut karena melihat profilnya oke dan hasil video-videonya di media sosial juga bagus. :D 


Untuk harga trip-nya per orang Rp 160 ribu sudah termasuk: guide, air mineral, trekking pole, perizinan, tiket masuk, dan dokumentasi.



Perjalanan Menuju Goa Garunggang

Dari rumah di Depok, aku sekeluarga sudah berangkat dari jam 6 pagi. Kami janjian dengan guide di parkiran di dekat Jungleland pukul 7 pagi. 


Kebetulan kami trekking di hari Jumat. Aku ingin trekking pagi sekali sehingga suamiku dan anak-anak bisa keburu untuk sholat Jumat seusai trekking. 


Nah, dari parkiran dekat Jungleland itu, aku sekeluarga menyewa mobil pick up untuk sampai ke titik awal trekking. Sebenarnya bisa saja membawa mobil pribadi sampai ke titik tersebut, namun untuk memberi pengalaman ke anak-anak naik mobil pick up aku dan suami pun ingin mencoba naik mobil pick up.


Untuk biaya sewanya Rp 350 ribu PP, ya. Sebenarnya mobil pick up ini bisa diisi kapasitas 10 orang. Namun karena kami hanya berempat, mobil pick up ini pun terasa lega. 




Perjalanan dari titik kumpul di sekitar Jungleland sampai ke titik mulai trekking sekitar 15-20 menit berkendara. 


Benar saja, anak-anak menikmati banget ada di mobil bak terbuka. Suami juga less stress karena harus nyetir di jalan kecil yang berliku-liku. Walaupun katanya sebenarnya masih bisa banget nyetir sampai titik awal trekking tapi dengan mobil pick up ini jadi lebih santai dan kami sekeluarga jadi lebih bisa menikmati perjalanan. :) 


Tak lama, sampailah kami di area parkir untuk mulai trekking menuju Goa Garunggang. Sebelum mulai trekking kami pemanasan sebentar dan diberikan trekking satu per satu. Nggak lupa juga berdoa sebelum memulai perjalanan. 


Untuk mencapai lokasi goa, aku sekeluarga berjalan kaki sekitar 1,5 jam. Medan yang dilalui cukup bervariasi namun tetap ramah untuk keluarga dan anak-anak. Malah anak-anak semangat banget dan suka berada di paling depan.  :D 


Aku dan keluarga melewati jalanan setapak, area persawahan yang hijau, hingga hutan tropis dan deretan pohon pinus yang memberikan keteduhan. Kami juga sempat melewati aliran sungai kecil.






Di tengah perjalanan, kami istirahat sebentar di sebuah warung. Seperti warung di jalur wisata, ada banyak produk yang dijual, termasuk pop mie, Indomie, roti, minuman air mineral, serta minuman kemasan lainnya. Ada juga buah-buahan yang dijual di warung tersebut.


Di sana kami sempat makan beberapa potong semangka. Wah, rasanya segar sekali! :) 


Kami pun melanjutkan perjalanan karena nggak jauh dari warung tersebut Goa Garunggang sudah menanti kedatangan kami! 





Mengenal Goa Garunggang yang Unik

Rasa lelah langsung sirna begitu aku sekeluarga tiba di lokasi Goa Garunggang. Di depan mata, terhampar hamparan batu besar dengan tekstur bergaris-garis vertikal yang unik. 


Deretan bebatuan berwarna kecoklatan tersebut seperti tersusun rapi membentuk labirin alami yang artistik. Batuannya tampak seperti lapisan-lapisan batu yang seolah dipahat oleh alam.





Ternyata Goa Garunggang terbentuk dari proses geologi jutaan tahun lalu, akibat pergeseran lempeng bumi dan aktivitas air yang mengikis batuannya. 


Goa Garunggang juga ditemukan secara nggak sengaja. Usaha untuk mulai menjadikan Goa Garunggang sebagai destinasi wisata dimulai sejak tahun 2016 oleh masyarakat dan komunitas lokal. 


Sempat terhenti di awal pandemi, Goa Garunggang kemudian mulai banyak diminati pengunjung saat orang-orang mulai melirik beraktivitas trekking di Sentul. Apalagi setelah akses menuju tempat ini dibuat jadi lebih mudah. 


Kini, Goa Garunggang secara administratif dikelola di bawah naungan Disparekraf Kabupaten Bogor dan merupakan bagian dari situs Geopark yang dilindungi. 



Menjelajahi Goa Garunggang dan Sekitarnya 

Kami menghabiskan banyak waktu di bagian atas gua yang merupakan labirin batu terbuka. Inilah ikon dari Goa Garunggang. Bebatuan ini nggak hanya indah dipandang, tapi juga sangat menantang untuk dijelajahi. 


Kami harus melompat kecil dari satu batu ke batu lainnya atau melewati celah-celah sempit di antara dinding batu setinggi 2-3 meter. Bagus banget, deh, kalau mau foto-foto di antara batuan ini. :) 



Setelah puas mengeksplorasi batuan-batuan tersebut, saatnya menlanjutkan petualangan masuk ke dalam Goa Garunggang! Dan benar saja, hal yang paling menantang dari kunjungan ini adalah saat kami mencoba masuk ke dalam gua. 


Di sini terdapat empat gua yang tercipta diantara batuan-batuan. Namun hanya satu goa saja yang bisa dimasuki oleh wisatawan. Untuk mencapai gua, kami harus menuruni tangga hingga mencapai kedalaman gua. 


Ya, berbeda dengan gua-gua pada umumnya yang memiliki pintu masuk lebar di samping bukit, pintu masuk Goa Garunggang berada di bawah permukaan tanah (vertikal). 


Aku dan keluarga harus menuruni tangga besi yang sudah disediakan untuk masuk ke dalam. Di sinilah peran jasa trip dan pemandu lokal sangat terasa. Mereka membantu anak-anak turun dengan aman dan menyediakan senter (headlamp).


Pemandu kami menunjukkan beberapa formasi batu unik di dalam gua.  Formasi batuan di sini terbentuk dari proses pelarutan batuan kapur selama ribuan tahun.




Di dalam gua, suasananya terasa magis. Meskipun mulut gua sempit, bagian dalamnya ternyata cukup luas. Kami disambut oleh tetesan air dari stalaktit yang masih aktif. Di bagian bawah juga terdapat stalagmit dan aliran air bawah tanah.


Yang bikin kaget, di dalam gua juga masih banyak kelelawar! Para kelelawar ini hinggap di dinding gua. Kadang ada beberapa yang terbang. Wah, seru banget bisa lihat kelelawar di dalam gua seperti ini!





Bagiku, Goa Garunggang adalah perpaduan antara wisata petualangan dan edukasi alam. Di sini, kami bisa belajar tentang bagaimana alam membentuk dirinya sendiri tanpa campur tangan manusia. 


Keindahannya yang tersembunyi menjadikan Goa Garunggang seperti salah satu hidden gem yang berharga di Bogor.


Di gua alami ini kita bisa melihat stalaktit, stalagmit, dan sungai bawah tanah. Hati-hati licin, ya. Selain itu, banyak kelelawar juga lho di dalam gua. 



Tips Berkunjung ke Goa Garunggang Bersama Keluarga

Berdasarkan pengalaman kami kemarin, ada beberapa tips yang bisa Manteman  ikuti jika ingin mengajak keluarga untuk trekking dan berwisata ke Goa Garunggang:


- Gunakan Jasa Trip/Guide: Sangat direkomendasikan. Selain untuk keamanan saat masuk ke dalam gua, mereka tahu rute-rute terbaik untuk berfoto dan bisa mengatur ritme jalan agar anggota keluarga yang nggak biasa olahraga tidak kelelahan.


- Gunakan Alas Kaki yang Tepat: Pakailah sepatu gunung atau sandal gunung yang memiliki grip kuat. Bebatuan di dalam Goa Garunggang bisa sangat licin jika terkena air dan jalur tanahnya pun terkadang berlumpur.


-  Bawa Pakaian Ganti: Masuk ke dalam gua berarti siap untuk kotor dan basah karena tetesan air stalaktit atau air yang ada di dasar gua.


- Waktu Terbaik: Datanglah saat pagi hari (sekitar jam 07.00 atau 08.00 pagi). Selain udaranya masih sejuk, cahaya matahari pagi yang masuk ke celah batu juga bisa menghasilkan foto yang dramatis.


- Jaga Kebersihan: Karena ini adalah situs yang dilindungi, pastikan nggak mencoret-coret batu atau meninggalkan sampah sekecil apa pun di tempat ini, ya. 




Goa Garunggang membuktikan bahwa Sentul punya sisi lain yang lebih dari sekadar curug. Tempat ini seperti lukisan alam yang menawarkan ketenangan, keunikan visual, dan pengalaman petualangan yang nggak terlupakan.


Nah, bagi kami sekeluarga, perjalanan ini bukan sekedar olahraga, tapi momen bonding di tengah labirin batu purba. 


Kalau Manteman mencari destinasi trekking di Sentul yang memberikan sensasi berbeda dan ingin merasakan suasana seperti di film petualangan, Goa Garunggang adalah jawabannya.


Jadi, kapan kalian berencana mengajak keluarga mengeksplorasi labirin batu di Goa Garunggang ini? 



Dita Indrihapsari



Bumi Semboja Bogor, Resto Nostalgia di Rumah Nenek

bumi-semboja-bogor


Bogor ngga bisa diam, yaaa! Hal ini terutama dalam kulinernya.. :D Hayo, siapa Manteman yang suka kulineran di Bogor? :D 


Beberapa waktu lalu aku dan temanku, Nia, sempat mencoba menu makanan dan minuman di restoran yang sempat viral di media sosial. Nama restorannya Bumi Semboja. 


Lokasinya nggak terlalu jauh dari Stasiun Bogor. Jaraknya kurang lebih 1,3 km berjalan kaki dengan durasi perjalanan hampir 20 menit. Jadi buat Manteman yang belum pernah ke Bumi Semboja dan mau mampir ke resto ini, bisa banget menghemat ongkos kalau pakai transportasi umum, ya. 


Sebenarnya apa, sih, yang membuat Bumi Semboja ini bisa viral anget? Apa istimewanya restoran ini dan bedanya dengan restoran lain yang ada di Bogor? 


Baiklah, di tulisan kali ini aku mau cerita gimana awalnya aku dan temanku ke Bumi Semboja dan hal menarik yang aku temui di restoran ini. :) 


Baca Juga: Kuliner Legendaris di Pasar Jatinegara



Serunya Kulineran di Bogor Sambil Olahraga 

Suatu hari temanku Nia mengajak untuk kulineran di Bogor. Namun sebelum kulineran kami berkeliling putaran luar Kebun Raya Bogor terlebih dahulu dari Stasiun Bogor. 


Ajakan tersebut nggak aku sia-siakan. Lumayan, kan, jalan pagi setelah anak-anak ke sekolah. Apalagi di Bogor yang sejuk dan di sekitar Kebun Raya pula yang adem banyak pohon. Apalagi setelahnya bakal kulineran… :D 


Beberapa hari sebelumnya kami juga sudah merencanakan akan kulineran di mana. Pilihan jatuh ke suatu tempat makan bakso di pusat kota yang juga viral dan ramai pengunjung. Aku pun memberi ide setelahnya ke Bumi Semboja. 


bumi-semboja-bogor


Aku sempat melihat banyak konten tentang restoran tersebut di media sosial tapi belum pernah sekali pun ke sana. Makanya aku cukup penasaran dengan rasa menu-menu yang ada di Bumi Semboja.


Akhirnya harinya pun tiba. Setelah bertemu di Stasiun Bobor, aku dan Na lanjut jalan kaki santai sepanjang Kebun Raya Bogor lalu ke tempat makan bakso. Dari tempat makan bakso itu kami memutuskan untuk naik ojek online saja menuju Bumi Semboja. 


Barulah setelah dari Bumi Semboja kami jalan kaki lagi ke suatu kedai teh kemudian baru ke Stasiun Bogor untuk pulang ke Depok. 


Boleh dibilang aku semangat banget ngikutin aktivitas ini. :D Sambil nunggu anak-anak sekolah, bisa banyak kegiatan dan makanan enak yang aku cicipi hari ini… Hihihi… Termasuk juga menu nggak biasa yang aku coba di Bumi Semboja… 


Terletak di Jalan Semboja No. 10, Kecamatan Bogor Tengah, restoran ini seolah-olah menjadi mesin waktu. Begitu kami sampai di depan gerbangnya, perasaan asing namun akrab langsung menyeruak. Seolah-olah, kami bukan sedang bertamu ke sebuah restoran, melainkan sedang pulang ke rumah nenek untuk merayakan hari raya.


Baca Juga: Tugu Kunstkring Paleis, Bangunan Bersejarah Kini Jadi Restoran Mewah



Bumi Semboja, Resto di Rumah yang Berusia 100 Tahun Lebih

Berbeda dari restoran masa kini yang desain bangunannya mengusung konsep minimalis sampai industrialis, Bumi Semboja justru berada di bangunan sebuah rumah apik yang kelihatan banget kalau rumah ini tuh udah ada sejak lama. 


Masuk ke dalam restorannya seperti masuk ke rumah teman, saudara  atau mungkin berasa lagi pulang ke rumah sendiri. Hanya saja yang membedakan di bagian depan sudah tampak kursi-kursi yang sudah siap diduduki pengunjung resto. 


Restoran ini menempati sebuah bangunan tua bergaya kolonial, tepatnya dibangun pada tahun 1918 di kawasan Kota Paris, Bogor. Rumah ini memiliki nilai emosional yang mendalam karena telah dihuni oleh keluarga pemiliknya sejak tahun 1950. 


Terinspirasi dari keinginan untuk melestarikan memori masa kecil, Teh Astari sang pendiri Bumi Semboja memutuskan untuk mengubah rumah keluarga ini menjadi tempat usaha kuliner yang resmi dibuka pada akhir Juli 2024.


Di Bumi Semboja, Astari menghadirkan menu-menu andalan yang merupakan warisan turun-temurun. Dua hidangan ikonik yang menjadi primadona adalah Rawon khas Banyuwangi, resep rahasia dari nenek pihak ayah sejak tahun 1970 dan Soto Kikil Daging yang selalu menjadi hidangan wajib keluarga setiap hari raya Lebaran.


Meski kental dengan tradisi makanan tradisional khas keluarga, restoran ini tetap berinovasi dengan memadukan cita rasa lokal dan sentuhan modern melalui menu kreatif seperti Bubur Lintas Negara dan Ubi Crème Brulée.


bagian-dalam-restoran-bumi-semboja-bogor


Di Bumi Semboja, aku dan temanku memutuskan untuk duduk di bagian teras depan. Sebelum makanan tiba aku ingin ke toilet dan alhasil aku pun melihat bagian dalam rumah ini. 


Jadi, pengunjung bisa memilih duduk di bagian dalam rumah atau di luar, ya. Di bagian dalam ada juga meja kursi yang di setiap sudutnya berbeda-beda. Misalnya di bagian ruang tamu ada kursi dan ada juga yang lesehan. Di satu ruangan ada juga meja kursi dengan empuk berlapis jok hitam. 


Makin ke dalam rumah aku juga melihat satu ruangan besar dengan sofa-sofa besar. Entah ini hanya bisa dipakai keluarga atau memang bisa dipakai tamu. Rasanya, sih, bis juga ditempati tamu-tamu.


Nah, toiletnya ada di dekat ruangan bersofa besar tadi. Toiletnya pun seperti toilet rumah kebanyakan. Jadi rasanya memang homey banget ada di Bumi Semboja. 


Saat ke toilet ini jugalah aku sempat melihat bagian dapurnya. Sepertinya beberapa pekerja sedang menyiapkan nasi kotak karena aku melihat banyak kardus kotak yang disusun di sana. 


Oiya, di bagian garasi pun diubah menjadi tempat makan, ya. Ada deretan meja kursi di sana. Kasirnya pun ada di bagian ini. 


Bumi Semboja, tuh, jadi semacam contoh juga buat kita yang mungkin ada rencana untuk membuka restoran di rumah sendiri atau rumah peninggalan orang tua. Meski di bagian dalamnya nggak pakai gaya desain interior tertentu, nggak ada keseragaman, tapi justru itulah yang membuatnya menarik dan jadi berasa rumah banget. :) 


Baca Juga: Buku Tradisi Makan Siang Indonesia, Khazanah Ragam dan Penyajiannya



Menu Spesial di Bumi Semboja

Seperti yang sudah aku tulis sebelumnya, menu andalan di Bumi Semboja adalah menu turun temurun keluarga, Rawon dan Soto Kikil. Namun karena rasanya masih kenyang karena makan bakso sebelumnya, aku dan Nia pun hanya memesan Bubur Lintas Negara dan Ubi Creme Brulee saja. Menu-menu tersebut kami bagi dua. :) 


Bubur Lintas Negara

Menu ini sangat unik. Buburnya lembut, namun yang membuatnya istimewa adalah topping-nya yang melimpah ruah. Ada irisan crispy kailan yang memberikan tekstur renyah, cakwe, ayam, hingga taburan katsuobushi (cakalang serut khas Jepang). Nggak heran kan kalau namanya Bubur Lintas Negara...

Rasanya? Ada rasa gurih, segar, dan terasa juga bumbu-bumbu aromatiknya. Jarang-jarang, nih, aku makan bubur tipe kayak gini. Selain ayam, Bubur lintas Negara ini juga ada yang topping udang, tuna, sei sapi, dan kombinasi diantaranya. 


bubur-lintas-negara-bumi-semboja-bogor


Ubi Creme Brulee

Jujur aja salah satu tujuanku ke Bumi Semboja adalah untuk mencoba Ubi Creme Brulee. Menu ini berupa ubi cilembu dengan cream custard dan gula yang di-torch hingga menghasilkan karamel. Toppingnya juga ditambah butter dan stroberi.


Begitu mencoba suapan pertama, aku langsung suka. Enak bangeeeet! Ada rasa manis yang nggak berlebihan karena diimbangi dengan custard dan butternya. Wah, kalau ke Bumi Semboja lagi aku mau banget pesan menu ini lagi… :D 


ubi-creme-brulee-bumi-semboja-bogor


Berikut untuk daftar menu makanan dan dessert yang ada di Bumi Samboja beserta hargaya, ya:


daftar-menu-bumi-semboja-bogor

daftar-menu-bumi-semboja-bogor

daftar-menu-bumi-semboja-bogor



Nah, untuk minumnya, temanku memesan Summertime Blues Latte, sedangkan aku memesan Strawberry Matcha Latte. Jujurly, aku memesan ini karena tampilan dan warnanya yang menarik banget. :D 


minuman-matcha-bumi-semboja-bogor


Namun begitu mencobanya, rasanya enaaaak, seh. Matchanya berasa, dan pas banget dipadukan sama strawberry. Manisnya juga nggak berlebihan… Kalau Manteman ke sini, aku bakal rekomendasiin minuman ini buat jadi salah satu menu yang kalian pesan… :) 


Untuk daftar menu minumannya ada di bawah ini, yaa:


daftar-menu-bumi-semboja-bogor

daftar-menu-bumi-semboja-bogor


Baca Juga: Menjelajahi Sejarah Bogor di Galeri Bumi Parawira Bogor



Lebih dari Sekadar Rasa, Ini Tentang Cerita

Sambil menikmati makanan yang dibagi dua, kami menghabiskan waktu untuk mengobrol. Saat aku dan temanku di sana juga ada dua atau tiga meja lainnya juga yang diisi tamu dan sedang menikmati sajian pesanannya. 


Tak lupa aku dan temanku juga mengambil dokumentasi di Bumi Semboja dan berfoto di depan dekorasi bunga-bunga yang estetik.. :)


bumi-semboja-bogor


Di tengah gempuran kafe-kafe modern dengan konsep minimalis dan industrial, Bumi Semboja hadir seperti oase yang menawarkan kehangatan seperti di rumah sendiri. 


Restoran ini, tuh, seperti ngasih tahu ke kita kalau kemewahan bukan hanya dapat dilihat dari sisi modern, melainkan juga pada kemampuan sebuah tempat untuk membangkitkan kenangan dan bisa menyatukan orang-orang melalui rasa yang autentik.


bumi-semboja-bogor


Karena mampir dan mencicipi menu di Bumi Semboja, aku jadi ngerasa kalau perjalanan ke Bogor kali ini bukan sekadar perjalanan kuliner tapi seperti perjalanan pulang. 


Pulang ke cita rasa masakan orang yang kita sayang, pulang ke rumah eyang yang penuh kasih, dan sebenarnya seperti pulang ke akar budaya kita yang ternyata sangat kaya. :) 


Selamat bernostalgia!



Bumi Semboja

Jl. Semboja No. 10, Kb. Klp., Kec. Bogor Tengah, Kota Bogor

11.00 - 21.00 WIB (Senin Libur)

Instagram: @bumisemboja



Tips Olahraga Saat Puasa Untuk Menjaga Tubuh Tetap Bugar

tips-olahraga-saat-puasa-untuk-menjaga-tubuh-tetap-bugar


Banyak orang ragu untuk tetap aktif bergerak selama bulan Ramadan karena takut merasa haus atau kelelahan. Padahal, menjaga aktivitas fisik sangat penting untuk kebugaran tubuh dan memastikan metabolisme tetap bekerja optimal.


Lantas, bagaimana cara mengatur jadwal dan jenis latihan yang tepat? Simak panduan tips olahraga saat puasa berikut ini agar ibadah tetap lancar dan tubuh tetap segar.


1. Pilih Waktu yang Paling Aman

Waktu adalah kunci. Ada dua opsi waktu terbaik yang bisa kamu pilih sesuai dengan ritme tubuhmu:


- Sore Hari Menjelang Buka: Lakukan olahraga sekitar 30–60 menit sebelum azan Magrib. Keuntungannya, saat kamu mulai merasa haus, waktu berbuka sudah dekat. Namun, pastikan intensitasnya sangat ringan.


- Setelah Berbuka Puasa: Ini adalah waktu paling ideal secara medis. Setelah perut terisi dan hidrasi tercukupi, tubuh memiliki bahan bakar untuk bergerak. Melakukan olahraga 2–3 jam setelah makan berat akan membuat performamu lebih maksimal.



2. Pilih Intensitas Ringan hingga Sedang

Saat puasa, cadangan glikogen (energi) dalam tubuh terbatas. Memaksakan angkat beban berat atau lari maraton hanya akan memicu stres berlebihan pada tubuh.


Pilihlah jenis olahraga low impact seperti jalan santai, yoga, atau berenang. Olahraga jenis ini membantu menjaga kelenturan otot dan sirkulasi darah tanpa menguras habis sisa energi yang kamu simpan untuk beribadah di malam hari.



3. Durasi Pendek tapi Konsisten

Prinsip olahraga saat puasa adalah maintenance, bukan pembentukan otot yang masif atau penurunan berat badan yang drastis. Cukup luangkan waktu 20–30 menit saja. Fokuslah pada kualitas gerakan dan konsistensi. Lebih baik rutin bergerak 20 menit setiap dua hari sekali daripada sekali olahraga selama 2 jam lalu jatuh sakit keesokan harinya.



4. Kenali Tanda Tubuh Harus Berhenti

Sangat penting untuk memiliki self-awareness. Olahraga di bulan puasa tujuannya adalah sehat, bukan ajang pembuktian kekuatan. Jika di tengah sesi kamu merasa:

- Pusing atau pandangan berkunang-kunang.

- Mual yang nggak tertahankan.

- Keringat dingin atau jantung berdebar kencang.


Segera berhenti dan istirahat. Jangan memaksakan diri jika kondisi fisik memang sedang enggak mendukung.



Olahraga Nyaman di Khodijah Muslimah Center Depok

Bagi para muslimah yang ingin tetap aktif namun tetap menjaga privasi dan kenyamanan selama Ramadan, memilih tempat olahraga yang tepat adalah solusinya. Olahraga beberapa jam setelah buka puasa bisa jadi pilihan paling nyaman karena energi sudah kembali pulih.


Salah satu rekomendasi tempat terbaik adalah Kolam Renang Khodijah Muslimah Center yang berlokasi di Mal Depok Town Square (DETOS). Menariknya, selama bulan Ramadan, tempat ini tetap buka hingga jam 9 malam.


Bukan hanya berenang, kamu juga bisa mengikuti berbagai kelas seru seperti:

- Aquarobik: Aerobik di dalam air yang sangat minim risiko cedera sendi namun efektif membakar kalori.

- Zumba & Fitness: Gerakan dinamis yang tetap bisa disesuaikan intensitasnya agar tubuh tetap bugar dan segar.


Dengan fasilitas yang ramah muslimah dan waktu operasional yang fleksibel, tidak ada lagi alasan untuk melewatkan jadwal olahraga. Yuk, tetap aktif dan jaga kebugaranmu meski sedang berpuasa. Badan sehat, ibadah pun semakin semangat!



Dita Indrihapsari


Pesona Telaga Warna Puncak Dibalik Kabut

telaga-warna-puncak


Nggak nyangka, sih, perjalanan yang awalnya nggak masuk dalam rencana justru jadi bagian yang berkesan! Yap, kali ini aku mau bercerita tentang tempat wisata Telaga Warna yang berada di Puncak. 


Beberapa waktu lalu aku dan suami berniat untuk menjelajahi dan menikmati Telaga Saat Puncak. Kami menyusuri perkebunan teh Ciliwung Tea Estate sampai akhirnya kami sampai di Telaga Saat. 


Kemudian usai puas berkeliling Telaga Saat, aku dan suami pun rencananya langsung mau makan di Sate Hanjawar. Namun plang nama danau lain mengalihkan rencana kami. 


Ya, aku dan suami pun selepas dari Telaga Saat langsung mengarah ke Telaga Warna. Lokasi telaga ini pun juga masih di dalam kawasan Ciliwung Tea Estate. Aku pikir, ya, sudah sekalian sajalah ke Telaga Warna biar nggak penasaran…. :D 


telaga-warna-puncak-dibalik-kabut



Jujur, karena hanya berencana ke Telaga Saat, aku sama sekali nggak browsing dan survei apapun tentang Telaga Warna. Jadi saat sampai ke Telaga Warna ada berbagai rasa yang berkecamuk di hati. Mulai dari rasa takjub, takut, dan bingung ahahaha… 


Kenapa aku bisa merasa seperti itu? Yuk, aku ceritakan di tulisan ini, ya, pengalamanku dan suami naik motor dari Depok sampai ke Telaga Warna Puncak. :)  


Baca Juga: Perjalanan Depok-Ciletuh Sukabumi dengan Motor



Pemandangan Telaga Warna yang Berkabut

Suamiku membelokkan motor yang mengarah ke rute Telaga Warna. Jalan yang awalnya datar dengan konblok tiba-tiba berubah menjadi jalanan berbatu. Di sisi kanan terdapat perkebunan teh, sedangkan sisi kiri pepohonan tinggi. 


Jalanan sangat sepi, Sepertinya hanya ada motor kami yang melewati jalanan itu. Kami nggak berpapasan juga dengan kendaraan lainnya. Awalnya sempat kalut juga, kok sepi banget, ya.


jalan-menuju-telaga-warna-puncak


Akhirnya kekalutan berakhir ketika tiba di parkiran kendaraan Telaga Warna. Di sana aku melihat beberapa motor berjajar rapi. Kupikir alhamdulillah ada pengunjung lain juga berarti di tempat wisata ini. Hal ini berbeda dengan Telaga Saat yang saat aku datang cukup ramai pengunjung.


Lanjut, aku dan suami langsung ke loket tiket dan membayar Rp 25 ribu/orang untuk tiket masuknya. Di tempat loket ini juga bisa sekalian menitip helm, lho. Jadi ada rak khusus helm gitu. Penitipan helm tanpa biaya, ya. 


harga-tiket-masuk-telaga-warna-puncak


Setelah dari loket kami langsung berjalan mengarah ke spot Telaga Warna. Aku pikir harus berjalan beberapa ratus meter. ternyata begitu dari loket, hanya beberapa langkah saja Telaga Warna sudah ada di hadapan mata. 


Namuuuuun, karena hari itu cuaca mendung dan berkabut, alhasil Telaga Warnanya nggak kelihatan! :D Oiya, nggak seperti Telaga Saat, Telaga Warna ukurannya juga jauh lebih kecil. 


Aku pikir dengan harga tiket masuk Rp 25 ribu/orang dan kondisinya nggak kelihatan begini karena kabut akan zonk banget. Tapi ternyata aku malah dapat banyak hal menarik yang ada di Telaga Warna Puncak. :) 


Setelah menunggu beberapa saat, kabut sedikit menghilang. Aku pun bisa melihat Telaga Warna walaupun nggak sepenuhnya, ya. Masih ada kabut tapi air telaga bis terlihatlah… :D 


Telaga Warna dikelilingi oleh pohon-pohon. Di sisi satunya terdapat deretan penginapan berbentuk kabin kayu. Ada beberapa spot foto juga yang bisa digunakan pengunjung. Suasana di Telaga Warna Puncak kala berkabut terasa sangat magical dan misterius. Rasanya seperti sedang masuk ke dalam set film fantasi atau legenda zaman dahulu,  deh.


telaga-warna-puncak


Apalagi ada yang meniupkan balon-balon sabun di sekeliling danau. Waw, berasa jadi makin ada di dunia lain aja! :D 


Sedikit fakta menarik tentang Telaga Warna, tempat ini berada di ketinggian 1.097–1.400 mdpl. Hal ini tentunya menjadikan Telaga Warna memiliki udara yang sangat sejuk dan memang sering diselimuti kabut tebal.


Telaga Warna juga merupakan bagian dari Kawasan Cagar Alam Hutan Gunung Mega Mendung dan Gunung Hambalang yang ditetapkan sebagai taman wisata sejak 1972. Waw, ternyata telaga ini memang sudah legend, ya!


Selain itu, Telaga Warna dikelilingi hutan tropis pegunungan dengan tumbuhan seperti paku tiang, rame, dan rotan. Kawasan ini juga menjadi habitat bagi berbagai hewan liar yang terkadang terlihat oleh pengunjung, seperti kera abu-abu, lutung, surili, berbagai jenis burung, dan hewan lainnya.


Kebetulan, aku dan suami juga sempat melihat monyet atau kera liar yang berjalan di atas pohon. Pas melihat itu, wah, rasanya senang sekali. :D 



Telaga Warna Jadi Tempat Foto Menarik

Seperti yang aku tulis sebelumnya, ada beberapa motor yang terparkir di pintu masuk Telaga Warna. Dan benar saja, di dalam kawasan Telaga Warna memang ada beberapa pengunjung dan juga fotografer. 


Aku melihat beberapa orang pengunjung yang sedang diarahkan gayanya oleh fotografer. Meski sedang berkabut, tapi justru hal tersebut jadi keindahan tersendiri di Telaga Warna, ya. 


Menurutku Telaga Warna memang bagus banget buat jadi background foto. Aku aja sempat menyesal nggak punya foto yang proper di tempat ini, hiksss… Makanya kalau diajak suami buat ke Telaga Warna lagi aku, sih, nggak akan nolak! 


Lagipula katanya bisa juga foto di atas perahu di atas telaga ini. Menarik banget, ya. Tapi karena lagi berkabut jadinya nggak bisa. Tapi foto dengan pemandangan telaga yang berkabut dengan pantulan pepohonan di air danau juga terlihat magis! 


Baca Juga: Fenomena Jasa Fotografer Keliling di Tempat Wisata



Bukan Sekadar Wisata Telaga Semata

Sambil berjalan menyusuri pinggiran telaga, aku juga baru menyadari kalau fasilitas di Telaga Warna ternyata cukup lengkap. 


Meski tampak klasik, ada sebuah restoran juga di sana yang menyajikan berbagai menu makanan dan minuman. 


fasilitas-di-telaga-warna-puncak

restoran-telaga-warna-puncak


Ada juga beberapa penginapan yang terletak nggak jauh dari pinggir telaga. Aku ngebayangin serunya menginap di sini, bangun pagi disambut kabut, suara burung tanpa kebisingan kendaraan, dan tentunya pemandangan telaga yang menyejukkan.


Namun di saat yang sama aku juga merasakan kengerian! Ada perasaan takut juga kalau menginap di sini. Pertama, kebayang kalau malam pasti suasananya akan sepi sekali! Alasan lainnya aku melihat kabin kayu itu sudah terlihat tua dan sepertinya kurang terawat. 


penginapan-di-telaga-warna-puncak


Adakah Manteman yang pernah menginap di sini? Kalau ada boleh baget berbagi pengalaman di kolom komentar, ya. 


Jujur, aku juga belum pernah baca review-an pengunjung yang menginap di telaga Warna. Apakah worth it untuk menginap di sini? Apakah ketakutanku dengan suasana dan kabin kayunya memang terbukti atau hanya imajinasiku saja… :) 


Baca Juga: Cerita Staycation di Royal Safari Garden



Cerita Legenda Telaga Warna

Setelah dari Telaga Warna, aku baru mulai browsing-browsing tentang tempat wisata ini. Ternyata Telaga warna juga ada cerita legendanya, lho, soal kenapa bisa terbentuk telaga ini. 


Konon, telaga ini bukan sekadar genangan air alami, melainkan air mata kesedihan dari sebuah kerajaan kuno di Jawa Barat. Dikisahkan ada seorang raja dan ratu yang sangat dicintai rakyatnya. Raja dan ratu ini memiliki anak perempuan yang sangat manja.


Singkat cerita, di hari ulang tahunnya, anak perempuan itu mendapat hadiah sebuah kalung emas permata. Namun karena merasa kalung itu jelek, ia sekonyong-konyong membuang kalung tersebut. 


Tindakan itu membuat orang tuanya dan seluruh rakyat sedih dan menangis hingga air mata mereka membanjiri dan menenggelamkan kerajaan tersebut. 


Cahaya warna-warni dari kalung yang tenggelam itulah yang konon membuat air telaga ini bisa berubah warna. Gimana, Manteman percaya nggak, sih, sama legenda ini? :) 


Oiya, kalau secara ilmiah, sebenarnya ada yang menjadi penyebab kenapa air di telaga ini bisa berubah warna sehingga disebut sebagai Telaga Warna. 


Hal itu disebabkan oleh keberadaan ganggang (algae) di dalam air yang memantulkan warna berbeda saat terkena sinar matahari. Karena itulah warna air telaga bisa berubah.


area-sekitar-telaga-warna-puncak

telaga-warna-puncak


Dari Telaga Warna aku jadi merasa kalau mendung dan kabut bukan berarti jadi penghalang kecantikan sebuah tempat wisata. Justru, keduanya seperti memberikan "nyawa" yang berbeda bagi Telaga Warna. 


Bagi Manteman yang ingin berkunjung ke Telaga Warna, jangan berkecil hati kalau cuaca sedang nggak mendukung, ya. Jangan lupa pakai jaket tebal, bawa payung, dan nikmati sisi magical dari telaga legendaris ini.



Dita Indrihapsari


Menikmati Liburan Tepi Pantai di Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung

hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung


Saat pertama kali ke Belitung beberapa tahun lalu, aku menginap di sebuah guesthouse yang minim fasilitas. Suasananya seperti kos-kosan. Alhamdulillahnya kamar cukup bersih, kamar mandi juga di dalam dan tersedia breakfast walaupun kalau nggak salah ingat hanya berupa nasi goreng dan kue jajanan pasar. 


Nah, saat ke Belitung kembali untuk liburan keluarga, aku pun ingin juga merasakan menginap di penginapan yang lebih proper. Kalau bisa yang ada di tepi pantai langsung dan punya fasilitas lengkap, terutama kolam renang. 


Di Belitung ada banyak sekali pilihan hotel dengan kriteria tersebut. Akhirnya setelah melihat beberapa pilihan hotel dan foto-fotonya di sebuah online travel agent, aku dan suami pun memutuskan untuk menginap di Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung. Alhamdulillah pas ada rezekinya juga bisa menginap di hotel ini. :) 


staycation-di-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung


Di tulisan kali ini aku mau sharing pengalaman dan alasan kenapa Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung adalah pilihan staycation yang nggak bakal bikin Manteman menyesal. Yuk, simak ulasannya di sini!



Bikin Kaget Karena Lokasinya!

Sebenarnya kalau boleh jujur aku agak kaget begitu tahu lokasi hotel ini. Pas booking aku nggak ngeh kalau Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung ini letaknya agak jauh dari bandara dan pusat kota Belitung. 


Aku pikir hotel ini ada di pinggir pantai dekat pusat kota. :D Makanya begitu sudah booking dan ngecek lagi lokasinya aku langsung kaget. Kepikiran gimana nanti, ya, buat makannya? Apa ada minimarket di dekatnya? Ahaha… Soalnya kalau staycation aku dan keluarga pasti ada aja ke minimarket, entah beli air mineral atau beli jajanan. :D 


Begitu sampai di Belitung, kami langsung order taksi online ke pusat kota untuk makan Mie Belitung Atep. Setelah itu, kami pun menuju hotel dengan mengorder taksi online lagi. Untungnya, walaupun jaraknya lumayan jauh sekitar 30 km dan harus menempuh 40 menit berkendara, ada juga taksi online yang mau menerima orderannya. :D 


Sebenarnya kalau di Jabodetabek mah durasi perjalanan segitu termasuk cepat, ya… :D Tapi kalau di Belitung karena jalanannya nggak macet dan cenderung sepi jadinya berasa memang agak jauh dan lama.


Sepanjang perjalanan aspal mulus menemani kami. Selepas dari pusat kota, di sisi jalan hanya tampak beberapa rumah warga yang agak berjauhan dan perkebunan dengan pohon-pohonnya. 


area-sekitar-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung
Suasana di sekitar hotel. Sepi dan menenangkan...


Begitu mendekati hotel, pemandangan pantai Belitung pun terlihat jelas. Wah, rasanya jadi nggak sabar untuk island hopping esok harinya.   


Oiya, walaupun jauh dari pusat kota, asyiknya hotel ini dekat banget sama Pantai Tanjung Tinggi. Itu lho, pantai ikonik tempat syuting film Laskar Pelangi yang penuh dengan batu granit raksasa. 


Dan begitu sampai di hotelnya, mengeksplorasi apa saja yang ada di dalamnya, aku bisa bilang kalau lokasinya sama sekali bukan masalah! Asli, hotel ini enak banget buat menikmati liburan di Belitung. 


Menginap hanya dua malam di hotel ini rasanya juga KURAAAANG! :D 


hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung



Terselamatkan Karena Ada Restoran dan Minimarket!

Kekhawatiranku kalau bakal susah cari makan dan nggak bisa jajan di minimarket rasanya buyar begitu aku melihat persis di sebelah hotel ada restoran seafood dan minimarket. 


Memang bukan Indomaret atau Alfamart, tapi isinya cukup lengkap dari mulai camilan, minuman, Pop Mie, sampai ada minyak-minyakan juga… :D Di sana aku beli air mineral beberapa botol besar untuk stok di kamar hotel dan juga beberapa jajanan untuk sekeluarga.


Restoran seafood yang ada di sebelah hotel juga nggak mengecewakan. Nama restorannya Kampong Dedaun. Kami makan malam di restoran itu dan menurut aku makanannya enak-enak! 


Kami memesan udang bakar, cumi, kerang bakar, dan beberapa menu lainnya. Untuk menu kerang bakarnya seenak ituuuu… Rasanya aku di Depok belum pernah makan kerang dengan tekstur kenyal, terasa segar, dan ukurannya juga lumayan besar.  :D 


Kebayang, kan, kalau wisata ke destinasi yang terkenal akan pantainya udah bisa dipastikan produk ikan dan boga baharinya juara! 


Baca Juga: Pulau Lengkuas, Pulau  Kecil dengan Mercusuar Ikonik di Belitung



Kenapa Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung Jadi Pilihan Tepat?

Selesai check in, kami langsung menuju kamar yang sudah disiapkan. Kami mendapat kamar di lantai paling atas dan paling pojok dekat dengan pantai! Kamar di hotel ini memiliki balkon dan semua mengarah ke pantai serta laut. 


-hotel-tepi-pantai-belitung-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung


Begitu masuk kamar dan membuka pintu ke balkon, aku takjub banget sama view-nya! Dari balkon ini kami bisa melihat keseluruhan hotel dan juga lautan! :) Di tengah-tengah hotel juga terdapat taman dengan berbagai jenis pohon dan bunga menambah nilai plus hotel ini. Bagus banget! 


Oiya, di balkon juga ada sofa santai dan kursi, ya. Jadi balkon ini rasanya memang dirancang untuk tamu yang mau menikmati laut Belitung. Suasananya menenangkan dan bikin nyaman. Kalau Manteman mencari paket lengkap antara kemewahan, ketenangan, dan akses pantai, Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung juaranya.


balkon-kamar-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung

balkon-kamar-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung


Satu hal yang paling aku suka juga adalah lokasinya yang berada di kawasan Sijuk, Belitung. Daerah ini jauh lebih tenang dibandingkan pusat kota Tanjung Pandan. Bayangkan bangun tidur, buka gorden, dan langsung disambut oleh garis pantai yang landai dengan air laut berwarna turquoise. Huhu, aku, tuh, sampai terharu menginap di hotel ini. 


Seperti namanya, hotel ini juga benar-benar definisi "resort tepi pantai" yang sesungguhnya. Saat menginap di sini, kami sekeluarga menyempatkan banyak waktu untuk main di pantai, baik di pagi hari maupun sore hari. 


Aku dan suami hanya sekedar berkeliling menyusuri pantai sampai ambil beberapa footage. Suamiku juga sempat bikin toys photography di sini. Pantainya bersih dan tenang. Pasirnya juga putih halus. 


pantai-di-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung

fotografi-di-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung


Kalau anak-anak udah pasti main air dan juga mencari kerang… :D  Karena ombaknya cukup tenang, area pantai ini sangat aman untuk sekadar main air atau jalan santai di pagi atau sore hari.


Hotel ini juga punya sunset point yang bagus. Nggak perlu jauh-jauh ke tempat lain buat cari sunset. Duduk saja di area resto terbuka atau di pinggir pantai hotel, kita bisa melihat langit berubah warna jadi oranye.


Setiap sudut hotel ini sangat estetik. Mulai dari lorong kamar, area kolam renang, hingga taman-tamannya sangat terawat. Cocok banget buat kamu yang hobi update di Instagram.


Dari hotel ini juga cuma butuh beberapa menit berkendara ke Pantai Tanjung Kelayang, titik keberangkatan kalau kita mau island hopping ke Belitung. Jadi, kami nggak perlu habis waktu lama di jalan untuk memulai island hopping!


Baca Juga: Snorkeling di Belitung



Banyak Fasilitas Mewah yang Bikin Betah

Satu hal yang aku suka juga di Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung adalah desainnya sudah modern tapi tetap memberikan sentuhan elemen lokal. 


Berikut beberapa fasilitas yang menurutku standout banget yang ada di hotel ini.


1. Kamar dengan View Juara

Kamar di hotel ini didesain sangat nyaman dengan balkon pribadi. Menghabiskan waktu di balkon sambil lihat lautan, minum kopi atau sambil baca juga asyik banget. 


Semua kamarnya ocean view, ya. Fasilitas di dalam kamarnya juga sudah lengkap, mulai dari amenities, handuk, kulkas mini, hair dryer, dan lainnya. 


kamar-deluxe-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung



2. Kolam Renang Outdoor yang Luas

Ini adalah spot favorit anak-anak (dan aku juga!). Kolam renangnya cukup luas dan menghadap langsung ke laut. Ada area dangkal untuk anak-anak, jadi aman banget buat keluarga. Di sekitar kolam juga banyak kursi santai untuk kamu yang cuma ingin berjemur sambil menikmati vibes pantai.


fasilitas-kolam-renang-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung



3. Kuliner Lokal di Restoran 

Menginap di sini juga jangan lewatkan sarapannya! bRestoran hotel menyiapkan berbagai menu variatif, termasuk menu khas lokal, lho. Aku sempat mencoba menu Mie Belitung dan Kue Bingke. Untuk rasa makanannya aku rasa juga cukup enak, kok.  


kuliner-lokal-di-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung

mie-belitung-di-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung


Menikmati sarapannya juga bisa indoor dan outdoor. Aku dan keluarga saat makan di sini makan di bagian outdoor jadi bisa sambil melihat pantai. 


restoran-di-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung



4. Spa dan Gym

Di hotel ini juga terdapat fasilitas spa dan gym. Aku sendiri nggak mencoba fasilitas spanya, ya, Tapi aku sempat ke ruangan gym yang terdapat di sebelah kolam renang. Mau treadmill di sini langsung bis melihat pemandangan pantai juga. :D


fasilits-fitness-di-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung


5. Perpustakaan dengan Nilai Historis

Nah, ini dia fasilitas yang paling bikin aku takjub saat menginap di Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung. Jadi, hotel ini memiliki satu ruangan khusus yang dibuat menjadi perpustakaan. Jarang-jarang banget, kan, ya hotel ada perpustakaannya.


buku-perpustakaan-di-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung


Setelah melihat ke bagian dalam perpus, aku juga jadi menyadari kalau perpus ini bukan perpus biasa! 


Isinya bukan hanya buku-buku semata tapi juga ada cerita historis di dalamnya. Selain ada cerita tentang Pulau Belitung, ada juga beberapa artefak yang dipjang di perpustakaan ini. 


Ternyata artefak-artefak tersebut bukan cuma hiasan aja. Artefak tersebut dulunya dimiliki oleh Lo Sam Kie (1884-1959), seorang sinshe atau ahli pengobatan Cina yang datang dari Guangdong, Cina ke Indonesia tahun 1901. Menarik banget, ya! 


perpustakaan-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung

perpustakaan-di-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung


Baca Juga: Museum Kata Andrea Hirata di Belitung



6. Playground Anak

Menurutku, selain cocok sebagai hotel untuk honeymoon, Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung juga cocok banget sebagai hotel keluarga. Di hotel ini terdapat fasilitas kids playground yang cukup luas. Tersedia berbagai mainan dan ada juga beberapa kursi kecil untuk anak-anak. 


playground-anak-di-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung



Sempat Berganti Kamar Karena Masalah Teknis 

Nah, dari sekian banyak hal yang aku suka di hotel ini, sebenarnya ada satu hal aja yang kurang sreg di hatiku. Jadi, aku dan keluarga setelah check in dan menempati kamar mendapati kalau kamar kami ini nggak dingin. Sepertinya ada masalah sama AC-nya. Oiya, kami memesan kamar tipe deluxe, ya. 


Aku dan suami sempat berpikir untuk ganti kamar. Karena kami menginap di sini saat musim liburan, tentunya kamar-kamar di hotel ini juga sudah pada penuh. Setelah pihak hotel konfirmasi, ternyata ada satu kamar kosong yang bisa kami tempati.


Hanya saja, kamar yang tersedia itu memang tipenya lebih tinggi, yaitu tipe executive, tapi lokasi kamarnya ada di lantai lebih rendah dan view-nya nggak sebagus kamar yang sudah kami tempati ini. 


Layout kamarnya pun aku lebih suka yang tipe deluxe dibandingkan tipe executive ini. Tapi yang tipe executive memang berada lebih dekat dengan lift, Ukurannya juga sedikit lebih besar. Kami juga mendapat compliment berupa kasur tambahan. 


kamar-deluxe-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung
Kamar tipe deluxe

kamar-executive-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung
Kamar tipe executive


Kebayang, kan, ya, betapa kami bimbang mau pindah kamar atau nggak… :D Alasannya, ya, karena kami sudah merasa klop banget sama kamar ini. Sayang banget karena view-nya memang sebagus itu. 


Namun akhirnya aku dan suami pun memutuskan untuk pindah kamar supaya lebih nyaman saat tidur dan nggak kegerahan… :D 

 

Baca Juga: SD Muhammadiyah Gantong Belitung, Sekolah Laskar Pelangi



Rate Kamar Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung

Menurutku rate hotel di Belitung masih jauh lebih rendah dibanding dengan hotel-hotel di Jabodetabek. 


Dengan segala fasilitas dan view pantai, rate untuk tipe kamar deluxe atau kamar tipe terendah di sini sekitar Rp 600 ribuan sudah termasuk sarapan untuk 2 pax. Sedangkan tipe kamar executive ratenya sekitar Rp 800 ribuan sudah termasuk sarapan. 


Namun rate ini tergantung musim dan tanggal, ya. Bisa lebih tinggi. Tapi waktu aku menginap di sana saat liburan, rate-nya juga nggak sampai Rp 1 juta per malam sudah termasuk sarapan. Kalau nggak salah sekitar Rp 800 ribuan. Rate segini best deal, sih, untuk fasilitas yang ada, ya. 


review-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung

review-hotel-santika-premiere-beach-resort-belitung


Secara keseluruhan, Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung bisa jadi pilihan akomodasi tepat bagi siapa saja yang menginginkan kenyamanan bintang 4 dengan pemandangan alam yang luar biasa. 


Fasilitasnya lengkap, lokasinya dekat dengan destinasi populer, dan suasananya sangat mendukung untuk relaksasi total. Cocok juga buat kaum-kaum introvert seperti akuuuu! :D 


Tertarik untuk mencoba menginap di sini saat ke Belitung nanti?



Dita Indrihapsari


Contact Form

Name

Email *

Message *