Rustic Claypot Depok, Tempat Makan Misoa dengan Suasana Rumahan



Dari dulu sampai saat ini, hampir setiap hari aku selalu melewati Jalan Nusantara Raya, Depok. Jalan raya yang menghubungkan tengah kota Depok dengan Sawangan ini jadi saksi aku pulang pergi ke sekolah… :D Karena itulah, setiap kali melintas di kawasan ini, selalu ada rasa nostalgia yang muncul.


Belakangan, aku melihat sebuah tempat makan baru yang langsung menarik perhatian di Jalan Nusantara Raya. Namanya Rustic Claypot. Dari luar, bangunannya memang nggak terlalu mencolok. Bahkan kalau nggak diperhatikan dengan seksama, mungkin kita bakal melewatinya begitu saja.


Namun begitu masuk ke dalam area restoran, suasananya langsung berubah. Deretan tanaman hias yang ada berbagai sudut ruangan bisa bikin suasana jadi terasa sejuk dan menenangkan. 


Tempat ini seperti sebuah rumah sederhana yang dialihfungsikan jadi tempat makan dengan konsep yang hangat dan natural.


Oiya, aku ke tempat makan ini setelah janjian dengan teman-temanku, Nia, Nita, dan Ceuceu. Ini pertama kalinya bagi kami semua makan langsung di Rustic Claypot.  





Rustic Claypot, Tempat Makan dengan Suasana Rumahan

Sesuai namanya, kata rustic identik dengan suasana pedesaan, sederhana, dan dekat dengan unsur alam. Nah, kesan itu juga yang langsung aku rasakan saat masuk ke dalam Rustic Claypot.


Bangunannya nggak besar. Sepertinya dulu memang rumah warga di pinggir jalan. Nggak mewah. Namun justru kesederhanaan itulah yang jadi daya tarik tersendiri. 





Banyak tanaman hijau ditempatkan di berbagai sudut sehingga membuat suasana juga terasa lebih hidup dan adem. Ada juga hiasan dinding yang jadi dekorasi menarik di sana..


Buatku sendiri, Rustic Claypot menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan tempat makan lain di sekitar Jalan Nusantara Raya ini. Di tengah deretan restoran dan kafe yang sudah lebih dulu ada, konsep yang diusung Rustic Claypot terasa cukup unik.



Apa Itu Claypot?

Nah, sebelum bahas soal makanan apa aja yang ada di Rustic Claypot, aku mau bahas dulu soal claypot, ya. 


Rustic Claypot memang punya ciri khas berupa cara penyajian makanannya. Sesuai namanya, banyak menu disajikan menggunakan claypot.


Claypot merupakan wadah memasak yang terbuat dari tanah liat. Wadah ini telah digunakan sejak lama di berbagai negara Asia untuk memasak aneka hidangan berkuah maupun nasi. 


Salah satu keunggulan claypot adalah kemampuannya mempertahankan panas lebih lama dibandingkan wadah biasa. Karena itu, makanan yang disajikan tetap hangat meski sudah beberapa saat berada di meja makan. 


Dalam penyajiannya, makanan biasanya langsung dimasak dan disajikan di dalam wadah claypot yang masih panas. Selain membuat makanan tetap hangat, penggunaan claypot juga dipercaya membantu menjaga cita rasa dan aroma hidangan.


Pas makanan pesananku datang, aku sempat kaget, sih. Ukuran claypot-nya ternyata cukup besar. Serunya lagi begitu tutup claypot dibuka, uap panas langsung keluar. Ngeliatnya aja aku udah mupeng banget pingin segera mencoba makananku…  


Kalau menurutku, konsep ini, nih, yang bikin Rustic Claypot makin populer.  Tempat ini bisa menghadirkan pengalaman makan yang berbeda dibandingkan penyajian menggunakan mangkuk atau piring biasa.



Mencoba Misoa Siram Sapi yang Jadi Andalan

Saat berkunjung ke Rustic Claypot, aku memutuskan memesan salah satu menu yang populer di sana, yaitu Misoa Siram Sapi.


Misoa yang lembut disiram dengan kuah kental. Menggugah selera banget! Benar-benar definisi comfort food. 





Isiannya juga nggak pelit. Menurutku daging sapi cincang yang digunakan jumlahnya cukup banyak. Selain itu terdapat telur dan sayuran yang membuat hidangan ini terasa lebih lengkap dan seimbang.


Yang aku suka dari menu ini adalah tekstur kuahnya yang kental dan kaya rasa. Bahkan aku sampai benar-benar menghabiskan kuahnya, lho… :D Bagi Manteman yang suka  makanan berkuah, aku rasa menu ini wajib dicoba ketika berkunjung ke Rustic Claypot. 



Mango Sticky Rice yang Cocok untuk Penutup

Selain makanan utama, aku juga memesan Mango Sticky Rice sebagai menu penutup.


Ternyata pilihan ini beneran nggak mengecewakan! Satu porsi Mango Sticky Rice di tempat ini ternyata juga cukup besar. Kalau Manteman datang ke Rustic Claypot bareng teman atau keluarga, menu ini bisa dimakan barengan.


Di satu piringnya terdapat banyak potongan mangga yang manis berpadu dengan ketan yang lembut serta saus santan yang gurih. Kombinasi rasanya terasa pas dan nggak berlebihan. 




Menu ini juga cocok untuk Manteman yang menyukai dessert ala Thailand dengan perpaduan rasa manis dan gurih yang seimbang.


Selama di Rustic Claypot aku juga ditemani dengan segelas minuman teh dingin. Selain itu ternyata tempat ini juga menyediakan satu botol kaca minuman air mineral di setiap meja gratis. Lumayan, kan, biar tenggorokan nggak seret… Hehehe…



Berbagai Pilihan Menu di Rustic Claypot

Salah satu hal yang aku perhatikan saat melihat daftar menu adalah buku menunya cakep dan pilihan makanannya memang nggak terlalu banyak. Tapi kalau buatku sendiri, sih, itu bukan masalah. Soalnya sering kali restoran dengan menu yang terlalu banyak malah bisa bikin aku bingung memilih. :) 


Di Rustic Claypot, pilihan menu yang lebih ringkas membuat proses memilih makanan menjadi lebih cepat. Yang terpenting, menu-menu yang tersedia terasa cukup beragam untuk memenuhi kebutuhan pengunjung. Ada pilihan makanan utama, camilan, hingga dessert yang bisa dinikmati setelah makan.


Berikut beberapa pilihan menu yang da di Rustic Claypot. Siapa tahu Manteman mau makan di sana jadi sebelumnya sudah terpikir mau pesan apa. 










Pelayanan Cepat dan Area Parkir Tersedia

Kelebihan lain yang aku rasakan saat berkunjung ke tempat makan ini yaitu pelayanan yang cukup cepat. Nanti staff Rustic Claypot akan langsung mendatangi meja memberi buku menu. 


Setelah memilih menu, kakak staf akan datang ke meja lagi untuk mencatat menu sekaligus proses pembayaran. Jadi sebelum makanan datang kita sudah bayar, ya. Jujur, aku pun sebenarnya suka dengan konsep seperti ini. Jadi bayar dulu baru makan, bukan sebaliknya. Dan kita juga nggak repot mesti ke kasri tapi pesan dan bayar bisa langsung di meja.  


Nah, aku lupa tanya pembayaran bisa tunai atau nggak Soalnya pas di meja langsung membawa EDC gitu kakak staff-nya. Nggak nunggu terlalu lama, pesanan aku pun datang. 


Untuk urusan parkir, Rustic Claypot juga menyediakan area parkir bagi motor maupun mobil. Memang kapasitasnya terbatas, tapi sudah cukup membantu pengunjung yang datang menggunakan kendaraan pribadi.




Kehadiran Rustic Claypot menjadi warna baru di kawasan Jalan Nusantara Raya, Depok. Tempat makan ini menawarkan kombinasi yang menarik antara suasana asri kehijauan serta sajian claypot yang hangat dan mengenyangkan.


Bagiku yang memiliki banyak kenangan dengan Jalan Nusantara Raya, menemukan tempat seperti ini memberikan pengalaman yang menyenangkan. Rasanya seru melihat jalan yang dulu aku lewati setiap hari kini memiliki pilihan kuliner baru dengan konsep yang berbeda.



Dita Indrihapsari



Konser Bryan Adams Roll With The Punches 2026 di Jakarta



Kalau ada satu penyanyi internasional yang lagunya menemani berbagai fase hidupku, rasanya nama Bryan Adams akan ada di list teratas, deh.


Aku pertama kali mengenal Bryan Adams saat masih duduk di bangku SD. Waktu itu orang tuaku mengajak menonton film Robin Hood: Prince of Thieves. Dari film itulah aku mendengar lagu "(Everything I Do) I Do It for You" untuk pertama kalinya.


Lagu soundtrack yang dinyanyikan Bryan Adams tersebut begitu melekat di ingatan. Sampai sekarang pun masih sering masuk daftar lagu wajib kalau aku sedang karaoke. :)


Sejak saat itu, aku mulai mengenal lagu-lagu Bryan Adams yang lain. Mulai dari Heaven, Please Forgive Me, Summer of '69, Here I Am, The Best of Me, All for Love, When You're Gone, hingga Have You Ever Really Loved a Woman?.


Karena itu, ketika mendengar kabar Bryan Adams akan menggelar konser Roll With The Punches Tour di Jakarta pada Februari lalu, tentu aku langsung tertarik buat nonton juga.




Konser ini merupakan bagian dari tur dunia Roll With The Punches yang sekaligus memperkenalkan album terbaru Bryan Adams berjudul sama. Nah, album ini sendiri merupakan album ke-17 dari Bryan Adams. Nggak salah, sih, kalau Bryan Adams disebut legend! Sampai saat ini masih aktif banget bermusik dan ngegelar tur dunia, lho!


Masalahnya, saat aku mulai mencari tiket, kategori duduk yang aku incar sudah nggak ada. Pilihan yang tersisa adalah tiket kategori 1 atau festival yang berdiri. Aku sempat galau cukup lama. Mau beli, tapi masih mikir-mikir. :D 



Rezeki Sehari Sebelum Konser

Sampai akhirnya aku melihat beberapa postingan di social media berupa giveaway tiket nonton konser Bryan Adams


Nah, dua hari menjelang konser, aku mengikuti kuis yang diadakan akun Instagram @konserid. Tanpa banyak berharap, aku ikut saja. Toh, nggak ada salahnya juga buat nyoba, kan. :D Ya, tetep, sih, ada perasaan berharapnya… Hehehe…


Besoknya, saat pengumuman pemenang keluar, aku benar-benar speechless dan nggak nyangka melihat namaku ada di daftar pemenang! Beneran rasanya campur aduk antara kaget, senang, dan nggak percaya.





Ditambah lagi ada rasa bingung juga. Itu pengumuman kuisnya malam H-1 sebelum konser! Kebayang nggak aku paniknya gimana karena jujur aja lokasi konser di Beach City International Stadium (BCIS) Ancol, tuh, susah transportasi umumnya.


Langsung kepikiran, gimana nanti pulangnya, ya? Kalau berangkatnya masih aman bisa naik kereta Commuterline, tapi perkara pulangnya memang agak susah aksesnya. 


Tapi persoalan tentang transport ini aku abaikan dulu karena aku harus cari satu orang teman untuk nonton bareng. Yap, hadiah kuis ini setiap pemenang berhak mendapat dua tiket kategori CAT 1 atau festival yang masing-masing bernilai sekitar Rp1,5 juta. Kalau dihitung-hitung, total hadiah yang kudapat mencapai Rp3 juta. Alhamdulillah banget, ya!


Aku pun mengajak sobatku, Nita, untuk menonton bersama. Rasanya pasti bakal lebih seru menikmati konser penyanyi legendaris ini bersama teman yang sama-sama menikmati musik era 90-an juga, ya, kan… :D 


Baca Juga: Perjalanan Nonton Konser The Corrs  From Jakarta With Love di BCIS Ancol



Perjalanan dari Depok Menuju Ancol

Keesokan harinya, hari konser Bryan Adams pun akhirnya tiba. Aku berangkat dari Depok setelah Ashar. Karena sudah terbiasa menggunakan transportasi umum ke Jakarta, aku memilih naik KRL Commuterline hingga Stasiun Jakarta Kota.


Di sana aku bertemu Nita. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menggunakan kereta menuju Stasiun Ancol, lalu naik ojek online masing-masing ke venue konser yang berlokasi di BCIS Ancol. 


Sesampainya di BCIS Ancol juga suasannya nggak terlalu padat banget. Enaknya di sini, tuh, sebenarnya konsetrasi masa bisa kepecah ke beberapa spot. Apalagi di BCIS juga ada malnya yang mana banyak tenant restoran. Jadi memudahkan banget buat pengujung yang mau isi perut dulu sebelum konser dimulai. 





Meski konser dijadwalkan mulai pukul 20.00 WIB, kami nggak terburu-buru masuk venue. Dari awal memang aku sudah berencana salat Magrib, Isya, dan makan terlebih dahulu sebelum konser biar bisa menikmati konser dengan lebih tenang.


Setelah semua aman, akhirnya aku dan Nita pun scan tiket, dapat wristband, dan langsung masuk ke venue. :) 



Masih Kebagian Menonton Ari Lasso

Salah satu hal menarik dari konser ini adalah adanya dua penampil pembuka, yaitu Rony Parulian dan Ari Lasso. Kehadiran mereka memang sudah diumumkan sejak awal sebagai bagian dari rangkaian acara konser. 


Saat kami masuk ke dalam venue, penampilan Rony Parulian ternyata sudah selesai. Jujur, aku nggak begitu ngikutn Rony saat di Indonesian Idol. Jadi aku nggak terllau ngeh sama kiprahnya di dunia musik.




Untungnya kami masih bisa menyaksikan Ari Lasso dari awal penampilannya. Suasana di dalam BCIS juga sudah penuh. Penonton ikut bernyanyi bersama dan energi konser mulai terasa. 


Ari Lasso membawakan beberapa lagu Dewa dan lagunya sendiri yang aku kenal banget, dari lagu Kangen, Mengejar Matahari, Arti Cinta, dan lainnya. Ari Lasso sukses membangun mood penonton sebelum Bryan Adams naik ke panggung.



Kemunculan Bryan Adams yang Bikin Merinding

Momen yang paling kutunggu akhirnya tiba. Lampu mulai meredup. Sorak sorai penonton semakin keras. Lalu Bryan Adams muncul!


Kemunculannya pun ngasih kejutan. Ia nggak muncul di  panggung utama, tapi malah muncul di samping kanan bagian tengah festival. Wah, beruntung banget, sih, penonton yang ada di bagian situ. 


Aku yang sudah ada di bagian tengah belakangan jadi nggak bisa terlalu melihat Bryan Adams. 


Tapi di bagian itu Bryan Adams hanya menyanyikan dua lagu secara akustik. Setelah itu barulah ia naik ke panggung utama, tepat di depanku… Huaaaa…..






Saat itu aku benar-benar merinding. Rasanya sulit dipercaya kalau penyanyi yang suaranya sering kudengar sejak kecil kini berdiri nggak jauh di depan mataku.


Yang lebih mengagumkan lagi, Bryan Adams saat ini sudah berusia 66 tahun. Namun energi yang ia tampilkan di atas panggung benar-benar luar biasa. Ia bergerak aktif, berinteraksi dengan penonton, dan bernyanyi dengan kualitas vokal yang tetap kuat seperti saat masih muda dulu.


Baca Juga: Konser Secondhand Serenade 2025 di Jakarta



Nostalgia Besar-Besaran Bersama Lagu-Lagu Lawas

Jujur saja, aku belum terlalu hafal semua lagu yang ada di album terbaru Roll With The Punches. Tapi untungnya, Bryan Adams sangat memanjakan penggemar lama.


Sebagian besar lagu yang dibawakan malam itu adalah lagu-lagu yang sudah akrab di telingaku selama puluhan tahun.


Saat lagu Heaven dimainkan, seluruh venue langsung bernyanyi bersama. Begitu juga ketika Please Forgive Me, Here I Am, Have You Ever Really Loved a Woman?, hingga Summer of '69 mulai terdengar.


Rasanya seperti sedang karaoke massal bersama ribuan orang. Bedanya, kali ini penyanyi aslinya berdiri tepat di depan kami.


Momen paling emosional tentu ketika Bryan Adams menyanyikan "(Everything I Do) I Do It for You". Lagu yang pertama kali memperkenalkanku pada sosok Bryan Adams itu akhirnya bisa kudengar secara langsung dari penyanyinya.


Kadang ada lagu yang bukan sekadar lagu. Ada kenangan masa kecil, ada nostalgia, ada perjalanan hidup yang ikut menempel di dalamnya. Dan malam itu semua kenangan tersebut seperti kembali hadir.




Namun sayangnya, ya, kesyahduan saat lagu soundtrack Robin Hood itu terdengar seperti ternoda oleh ulah salah satu penonton. Jadi ada satu penonton yang berdiri di dekatku dan ia memakai tongsis untuk merekam! 


Asliiii, aku kesel dan gemes banget lihatnya. Bahkan aku pun sampai menegurnya. Ia sempat menurunkan tongsisnya, tapi hanya sesaat saja. Setelah itu, ia kembali mengangkat tongsisnya. Hadeeeeuuh….


Sepertinya penonton ini nggak tahu aturan konser. Padahal sudah jelas-jelas ada aturan kalau di konser nggak boleh bawa tongsis. Ini tipe penonton egois yang nggak tahu diri dan nggak punya empati sama sekitarnya. Beneran ganggu banget! 



Dua Setengah Jam Tanpa Henti

Ya, sudahlah, ya. Meskipun ada penonton yang mengganggu selama konser dengan mengangkat tongsis setinggi langit, aku tetap berusaha untuk menikmati konser Bryan Adams. 


Satu hal yang benar-benar membuatku kagum adalah stamina Bryan Adams. Konser berlangsung sekitar dua setengah jam dengan deretan lagu yang sangat panjang. Ia membawakan lebih dari dua puluh lagu sepanjang malam.


Beberapa lagu yang masuk dalam setlist malam itu antara lain:

  • Can’t Stop This Thing We Started (Solo akustik)
  • Straight From the Heart (Solo akustik)
  • Kick Ass
  • Run to You
  • Somebody
  • Roll With the Punches
  • 18 Til I Die
  • Please Forgive Me
  • It’s Only Love
  • Shine a Light
  • Heaven
  • Never Ever Let You Go
  • This Time 
  • Heat of the Night
  • Make Up Your Mind
  • You Belong to Me
  • Have You Ever Really Loved a Woman?
  • So Happy It Hurts
  • Will We Ever Be Friends Again
  • I Finally Found Someone (Akustik diiringi piano Gary Breit)
  • Here I Am (Akustik diiringi piano Gary Breit)
  • The Only Thing That Looks Good on Me Is You
  • (Everything I Do) I Do It for You
  • Back to You
  • Summer of ’69
  • Cuts Like a Knife
  • All for Love (Solo akustik)


Banyak banget, kan. Aku yang paling nggak nyangka adalah dibawakannya lagu I Finally Found Someone. Lagu Bryan Adams yang berduet dengan Barbra Streisand. Di konser ini Bryan Adams menyanyikannya seorang diri diiringi piano. Duh, bagusnyaaaa…. :’)


Oiya, yang membuatku semakin salut, selama konser berlangsung hampir nggak ada jeda panjang. Bryan Adams terus bernyanyi dari satu lagu ke lagu berikutnya. Sebagai penonton, aku saja mulai merasa lelah berdiri cukup lama. Tapi Bryan Adams tetap tampil penuh energi hingga lagu terakhir.


Baca Juga: Konser Music Travel Love di Bengkel Space Jakarta



Konser yang Akan Selalu Kuingat

Saat konser berakhir dan lampu venue kembali menyala, aku sempat berdiri beberapa saat sambil menikmati suasana. Ada rasa puas. Ada rasa bahagia. Dan ada rasa syukur.


Kalau mengingat kembali perjalanan menuju konser ini, semuanya terasa seperti kebetulan yang indah. Awalnya nggak membeli tiket karena kehabisan kursi duduk. Lalu tiba-tiba menang kuis dua hari sebelum acara. Mendapat dua tiket gratis. Bisa mengajak teman untuk menikmati konser bersama.





Konser Bryan Adams di Jakarta bukan hanya tentang menonton musisi favorit tampil di atas panggung. Bagiku, ini adalah perjalanan nostalgia yang membawa kembali banyak kenangan sejak masa sekolah, kuliah, hingga sekarang.


Mendengar lagu-lagu yang sudah menemani hidup selama puluhan tahun secara langsung dari penyanyinya jadi pengalaman yang sulit dilupakan.


Dan kalau suatu hari Bryan Adams kembali konser di Indonesia, rasanya aku nggak akan berpikir dua kali lagi untuk datang. Karena beberapa pengalaman memang layak untuk diulang. Bahkan berkali-kali. :) 


Oiya, jadi gimana ceritanya aku pulang ke Depok dari konser ini? Jadi, alhamdulillah banget ternyata Mamih Mira Miut, teman blogger Depokku juga nonton dan dijemput suaminya. Akhirnya aku dan Nita temanku bisa pulang bareng Mamih Mira sampai Depok. Hehehe... Makaciii ya Mamih Mira... :D 



Dita Indrihapsari



32032223052




Bahaya Gas Karbon Monoksida di Area Glamping: Hal yang Perlu Diketahui Traveler



Glamping atau glamorous camping jadi pilihan banyak wisatawan yang ingin menikmati suasana alam tanpa harus repot membawa perlengkapan berkemah sendiri. 


Tenda yang nyaman, tempat tidur empuk, kamar mandi pribadi, hingga pemandangan alam yang indah membuat glamping semakin populer di Indonesia.


Namun, di balik kenyamanan tersebut, ternyata ada aspek keselamatan yang nggak boleh diabaikan. Dalam beberapa waktu terakhir, kita dikejutkan oleh dua peristiwa tragis yang terjadi di lokasi glamping berbeda. Kedua kasus ini diduga berkaitan dengan paparan gas karbon monoksida yang mematikan.



Kasus Glamping di Solok: Honeymoon Berujung Tragedi

Salah satu kasus terjadi di Solok, Sumatera Barat. Sepasang suami istri yang sedang menikmati masa bulan madu menginap di sebuah glamping. Namun keduanya ditemukan dalam kondisi nggak sadarkan diri di tenda glamping-nya.


Sang istri dinyatakan meninggal dunia, sementara suaminya berada dalam kondisi kritis dan berhasil diselamatkan.


Dari berbagai temuan aparat dan pihak terkait, muncul dugaan korban mengalami keracunan gas karbon monoksida. Investigasi dilakukan untuk mengetahui sumber pasti gas yang berada di sekitar area tempat mereka menginap.



Kasus Glamping Posong Temanggung: Satu Keluarga Meninggal Dunia

Peristiwa serupa juga terjadi di kawasan wisata Posong, Temanggung, Jawa Tengah bulan Mei 2026 lalu. Kali ini korbannya adalah satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak laki-laki.


Keluarga tersebut ditemukan meninggal dunia di dalam tenda glamping yang mereka tempati. Dugaan awal mengarah pada paparan gas berbahaya yang terakumulasi di dalam ruang tertutup.


Dari hasil penyelidikan yang diberitakan berbagai media, diduga terdapat sumber gas yang menghasilkan karbon monoksida di sekitar area tenda. Dalam kondisi ventilasi yang kurang memadai, gas tersebut terkumpul di dalam ruang dan terhirup oleh penghuni saat mereka tidur.


Kedua peristiwa tersebut jadi pengingat kalau keamanan glamping bukan hanya soal lokasi yang indah atau fasilitas yang lengkap. Sistem ventilasi, penggunaan alat pemanas, dan pengelolaan area glamping juga memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan tamu.



Mengapa Gas Karbon Monoksida Sangat Berbahaya?

Karbon monoksida (CO) merupakan gas beracun yang dihasilkan dari proses pembakaran yang nggak sempurna. Nah, sumber gas ini bisa berasal dari berbagai alat yang menggunakan bahan bakar, seperti pemanas air berbahan bakar gas, kompor, generator, hingga pembakaran arang bbq.




Yang membuat karbon monoksida sangat berbahaya adalah karena gas ini nggak berbau, nggak berwarna, nggak ada rasa. Karena itulah gas ini susah banget buat dideteksi. Seseorang bisa aja, lho, menghirup karbon monoksida tanpa sadar sama sekali.


Ketika masuk ke dalam tubuh, karbon monoksida akan mengikat hemoglobin dalam darah. Akibatnya, pasokan oksigen ke organ-organ vital menjadi terganggu.


Gejala awal keracunan karbon monoksida antara lain pusing, mual, lemas, dan mengantuk berlebihan. 



Tenda Glamping Bisa Menjadi Ruang Berbahaya Jika Ventilasi Buruk

Banyak orang menganggap tenda berada di alam terbuka sehingga otomatis aman. Padahal kondisi bisa berubah ketika tenda tertutup rapat dan memiliki ventilasi buruk.


Gas karbon monoksida yang berasal dari sumber pembakaran di dalam maupun sekitar tenda dapat masuk dan terperangkap di dalam ruang. Kalau penghuni tenda sedang tidur, mereka mungkin nggak sadar adanya paparan gas berbahaya tersebut.




Beberapa potensi sumber karbon monoksida di area glamping antara lain bisa dari water heater berbahan bakar gas, kompor gas, generator, pemanas ruangan berbahan bakar, aktivitas barbeque menggunakan arang, pembakaran kayu atau arang di dekat tenda.


Karena itu, keberadaan ventilasi dan sirkulasi udara yang baik menjadi faktor yang sangat penting dalam desain glamping.



Standar Keamanan yang Sebaiknya Dipenuhi Pengelola Glamping

Menurutku popularitas glamping yang terus meningkat seharusnya diikuti dengan peningkatan standar keselamatan. Pengelola mestinya nggak cukup hanya menyediakan fasilitas yang nyaman dan instagramable, tetapi juga harus memastikan seluruh sistem operasional aman bagi tamu.


Beberapa hal yang sebaiknya menjadi perhatian pengelola glamping antara lain:


1. Memastikan Ventilasi Udara Berfungsi dengan Baik

Setiap tenda harus memiliki sirkulasi udara yang memadai. Ventilasi nggak tertutup permanen dan harus memungkinkan pertukaran udara berlangsung dengan baik.


2. Menghindari Penempatan Sumber Pembakaran di Dalam Tenda

Peralatan yang menghasilkan asap atau gas sebaiknya nggak ditempatkan di dalam ruang tidur pengunjung.


3. Melakukan Pemeriksaan Berkala

Instalasi gas, water heater, kompor, maupun peralatan lainnya perlu diperiksa secara rutin untuk memastikan tidak terjadi kebocoran atau gangguan teknis.


4. Memasang Detektor Karbon Monoksida

Setahu aku, detektor karbon monoksida sudah jadi standar keselamatan pada bangunan tertutup di beberapa negara. Alat ini dapat memberikan peringatan dini jika kadar gas meningkat. Pas aku cek di marketplace harganya juga lumayan terjangkau untuk yang skala kecil, ya. 


5. Memberikan Edukasi kepada Tamu

Pengunjung juga perlu mendapatkan informasi mengenai aturan penggunaan alat pemanas air, barbeque, kompor, serta langkah yang harus dilakukan apabila mengalami gejala keracunan gas.



Tips Aman untuk Traveler Sebelum Menginap di Glamping

Jujur, aku sebenarnya sudah beberapa kali menginap di glamping tapi barulah sat ada kejadian tersebut aku merasa kalau selama ini belum aware soal keamanan di glamping. 


Nah, sebagai pengunjung, kita sebenarnya juga punya peran besar dalam menjaga keselamatan diri sendiri dan keluarga. Sebelum memutuskan menginap di glamping, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan.




  • Periksa Sistem Ventilasi Tenda

Perhatikan apakah tenda memiliki bukaan udara yang cukup. Hindari menutup seluruh ventilasi selama menginap, termasuk di malam hari. Takut digigit nyamuk? Jangan lupa bawa lotion anti nyamuk, ya.


  • Cari Tahu Jenis Water Heater yang Digunakan

Jika kamar mandi berada di dalam tenda, nggak ada salahnya menanyakan sistem pemanas air yang digunakan oleh pengelola. Apakah water heater menggunakan gas atau listrik.


  • Hindari Membawa Arang ke Dalam Tenda

Kegiatan bbq saat kemping memang menyenangkan. Tapi arang yang masih membara nggak boleh dibawa masuk ke area tidur. Kalaupun bikin bakar-bakaran di area luar dekat tenda, pastikan saat tidur, pintu atau ventilasi biarkan terbuka sedikit.


  • Waspadai Gejala 

Kalau tiba-tiba merasa pusing, mual, sesak atau mengantuk secara nggak wajar saat berada di dalam tenda, segera keluar ke area terbuka dan cari bantuan ke pengelola glamping atau tamu lain yang terdekat.


  • Pilih Glamping yang Punya Reputasi Baik

Ulasan pengunjung sebelumnya dapat menjadi salah satu indikator mengenai kualitas pengelolaan dan keamanan suatu glamping. Kalau perlu tanyakan juga secara japri ke reviewer supaya bisa dapat gambaran lengkap tentang glamping tersebut. 



Pengalaman Menginap di Beberapa Glamping

Membaca dua kasus tragis tersebut membuatku kembali mengingat pengalaman menginap di beberapa lokasi glamping yang pernah aku kunjungi bersama keluarga.


Selama ini aku belum pernah mengalami kejadian yang mengkhawatirkan terkait sirkulasi udara maupun penggunaan fasilitas di area glamping.


Saat menginap di Forrester Glamping, kamar mandi berada di luar area tenda. Dengan posisi seperti ini, aku merasa area tidur relatif lebih aman karena terpisah dari instalasi yang berkaitan dengan pemanas air.




Di Lenirra Glamping, kamar mandi memang berada di dalam unit. Namun dari pengamatanku, sistem pemanas air yang digunakan tampaknya menggunakan listrik sehingga nggak terlihat adanya penggunaan gas di area kamar mandi.


Sementara itu, ketika menginap di Glamping Lembah Purba, aku melihat adanya bagian ventilasi atau sirkulasi udara pada area belakang tenda. 


Tentu saja pengalaman pribadi ini bukan jaminan mutlak tentang standar keamanan suatu tempat. Namun setidaknya aku melihat adanya perhatian terhadap aspek sirkulasi udara dan tata letak fasilitas yang penting untuk kenyamanan sekaligus keselamatan.




Glamping seharusnya menjadi tempat untuk menikmati keindahan alam dengan nyaman dan tenang. Dengan standar keselamatan yang baik serta kesadaran dari semua pihak, pengalaman menginap di tengah alam bisa tetap menjadi momen yang menyenangkan tanpa mengorbankan keamanan. Gimana menurut Manteman?



Dita Indrihapsari


Kisah Ade Irma Suryani di Museum AH Nasution, Kamar yang Menyimpan Kenangan dan Luka Sejarah



Menjelang September tahun lalu, aku jadi kepikiran untuk bikin konten di Museum AH Nasution. Aku memang belum pernah ke museum itu sebelumnya. 


Namun aku sudah pernah tahu tentang sejarah dan apa yang terjadi di museum yang tadinya merupakan rumah Jenderal AH Nasution saat malam 30 September. Museum ini menjadi saksi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Indonesia pada 1965. 


Usai mengunjungi Museum AH Nasution, rasanya aku bisa bilang kalau museum yang satu ini menghadirkan pengalaman berbeda bagiku. Bukan hanya karena nilai sejarahnya, tetapi juga karena ada cerita tentang kemanusiaan yang pedih. 


Saat berkunjung ke Museum AH Nasution Jakarta, aku nggak hanya melihat koleksi benda atau diorama masa lalu. Aku juga seperti diajak memasuki ruang kenangan seorang anak kecil bernama Ade Irma Suryani Nasution. Ya, dialah anak bungsu dari Jenderal AH Nasution.


Museum yang masih berdiri tegak sampai sekarang ini menyimpan berbagai cerita tentang kehidupan sang jenderal, termasuk tragedi yang merenggut nyawa putri bungsunya tersebut. 


Begitu memasuki museum, suasananya terasa sangat tenang. Ada diorama, foto-foto, hingga ruangan yang masih dipertahankan seperti dahulu. Namun, dari seluruh bagian museum, ada satu ruang yang paling lama membuat aku berhenti melangkah dan seperti kehabisan udara: kamar Ade Irma Suryani.



Museum AH Nasution dan Jejak Peristiwa 1965

Seperti yang sudah aku tulis sebelumnya, Museum AH Nasution menempati rumah asli sang Jenderal. Lokasinya ada di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat. Untuk menyambanginya, aku naik kereta Commuterline sampai Stasiun Gondangdia lalu jalan kaki sekitar 10 menit. 


Saat tiba di sana, aku melihat suasana sangat lengang. Hanya ada satu orang yang berjaga di pos satpam di bagian depan bangunan. Pengunjung pun hanya ada aku seorang diri. Karena sudah sampai di sana, ku beranikan diri saja untuk masuk ke dalamnya. 




Rumah yang dibangun sejak era kolonial tersebut menjadi kediaman AH Nasution sejak akhir 1940-an hingga akhir hayatnya. Pada dini hari 1 Oktober 1965, rumah ini menjadi lokasi penyerbuan pasukan Cakrabirawa yang ingin menculik AH Nasution dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai G30S. 


AH Nasution berhasil menyelamatkan diri dengan melompati tembok di samping rumah. Tapi meski lolos, kejadian dini hari itu tetap berujung tragedi dan meninggalkan luka mendalam bagi keluarga AH Nasution. 


Di museum ini, pengunjung dapat melihat berbagai diorama, lubang bekas peluru, hingga ruang-ruang yang menjadi saksi bisu di malam tersebut. Hingga akhirnya kakinya memasuki kamar Ade Irma Suryani Nasution, anak berumur lima tahun yang hidupnya berhenti terlalu cepat.



Memasuki Kamar Ade Irma Suryani

Ya, di salah satu bagian rumah terdapat sebuah kamar yang dahulu ditempati oleh Ade Irma Suryani Nasution. Kamar tersebut tepat berada di sebelah kamar utama AH Nasution dan berada di depan ruang makan. 


Kamar itu cukup besar dan terasa sangat personal. Kamar ini bukan seperti ruang pamer biasa di museum-museum yang dipenuhi label dan penjelasan formal. Ruang kamar ini justru menghadirkan perasaan seperti sedang memasuki dunia kecil seorang anak.


Di dalamnya terdapat dipan kasur sederhana berukuran kecil. Di tepi ruangan berdiri lemari kaca besar berisi berbagai memorabilia yang dijaga dengan rapi.




Pandanganku langsung tertuju pada sebuah baju tentara anak yang tersimpan di dalam lemari. Ternyata ada cerita sedih di balik keberadaan baju seragam mungil tersebut. 


Menurut keterangan penjaga museum, seragam kecil tersebut belum sempat dipakai oleh Ade Irma. Rencananya seragam tentara kecil itu akan dipakainya saat peringatan Hari ABRI pada 5 Oktober, kembaran dengan ayahnya yang juga akan memakai seragam tentara. 


Namun takdir berkata lain. Seragam mungil itu akhirnya hanya menjadi benda kenangan yang diam di balik kaca saja.




Melihatnya dari dekat membuatku terdiam cukup lama. Di usia lima tahun, seorang anak biasanya sibuk memilih mainan atau menunggu hari bermain bersama keluarga. Namun di ruangan ini, sebuah seragam kecil justru menjadi pengingat tentang rencana yang nggak pernah sempat terjadi. :(


Bukan hanya seragam tentara kecil, di kamar itu juga terdapat mainan milik Ade Irma, baju terusan rok putih, serta beberapa benda lain yang memperlihatkan sisi kesehariannya. 



Foto-Foto yang Menyimpan Cerita

Di kamar Ade Irma terdapat beberapa foto dirinya. Ada foto-foto pribadi yang menampilkan wajah mungilnya. Senyum seorang anak kecil yang polos.


Namun ada satu foto yang menarik perhatianku, yaitu foto Ade Irma bersama Pierre Tendean.


Nama Pierre Tendean tentu nggak asing dalam kisah G30S. Ia adalah ajudan AH Nasution yang juga menjadi korban peristiwa tersebut. Pada malam penyerbuan, Pierre ditangkap kemudian dibawa ke Lubang Buaya. 


Melihat foto mereka berdampingan terasa begitu menyentuh. Dua sosok dengan usia dan peran berbeda, tetapi dipertemukan oleh tragedi yang sama.





Siapa Sosok Ade Irma Suryani Nasution?

Banyak orang mengenal nama Ade Irma Suryani hanya sebagai korban peristiwa 1965. Padahal di balik nama itu ada sosok anak yang dicintai keluarganya.


Ade Irma Suryani Nasution lahir di Jakarta pada 19 Februari 1960. Ia merupakan putri bungsu Jenderal Besar AH Nasution dan Johanna Nasution. Dalam berbagai kisah keluarga, Ade dikenal sebagai anak yang ceria, aktif, dan sangat dekat dengan ayahnya. 



Kedekatan itu bahkan masih dikenang hingga kini. Beberapa sumber menyebutkan kalau Ade Irma sering menemani sang ayah dan sangat menyayanginya. Ia tumbuh di lingkungan keluarga militer, namun tetap menjalani masa kecil yang penuh keceriaan seperti anak-anak lain.


Melihat kamar dan barang-barangnya di museum membuat saya membayangkan kehidupan kecil itu: bermain, bercanda, berlarian di rumah besar di Menteng, tanpa pernah mengetahui bahwa sejarah sedang menuju malam yang tragis.


Saat pasukan Cakrabirawa merangsek masuk ke kediaman AH Nasution, Ade Irma pun juga ikut terbangun. Ia yang digendong ibunya kemudian digendong oleh tantenya. Tak lama berselang, peluru justru mengenai punggungnya. Ade Irma tertembak! 


Ia masih sempat dilarikan ke RSPAD Gatot Subroto. Namun setelah dirawat beberapa hari, Ade Irma Suryani menemui takdirnya untuk berpulang di tanggal 6 Oktober 1965. 





Mengenang Ade Irma di Museum AH Nasution

Museum AH Nasution sering dikunjungi untuk belajar sejarah G30S atau mengenal perjalanan hidup AH Nasution. Namun bagiku, museum ini juga menjadi tempat mengenang Ade Irma Suryani.


Di tengah narasi besar sejarah bangsa, kamar kecilnya mengingatkan bahwa konflik dan kekerasan juga dirasakan oleh anak-anak yang masih polos, yang semestinya nggak jadi korban.


Berkunjung ke Museum AH Nasution akhirnya bukan sekadar wisata sejarah, melainkan perjalanan untuk mengenang seorang anak yang namanya kini diabadikan di berbagai tempat di Indonesia, dari nama taman, nama jalan, hingga nama sekolah. 


Meski sudah tiada, namun namanya tetap abadi selamanya. Ade Irma Suryani Nasution…





Dita Indrihapsari


Daeng Carammeng, Restoran Khas Makassar di Depok



Suatu hari entah kenapa aku pingin banget makan es pisang ijo. Bukan sekadar pingin, tapi sudah masuk kategori ngidam ringan yang tiba-tiba muncul begitu aja. Hehe… Manteman juga pernah ngerasain kayak gitu juga nggak, sih? :D 


Akhirnya aku mulai browsing. Cari-cari di sekitar rumah, kira-kira di mana, ya, bisa makan es pisang ijo yang enak tanpa harus pergi terlalu jauh?


Nah, dari pencarian itulah aku menemukan sebuah restoran makanan khas Makassar di Depok. Namanya Daeng Carammeng. Lokasi lengkapnya ada di Jalan Melati Raya No. 6, Pancoran Mas, Kota Depok. 


Rupanya bukan hanya menjual es pisang ijo, tapi Daeng Carammeng juga menjual berbagai macam makanan khas Makassar lain yang membuatku langsung tertarik. 




Setelah melihat berbagai menu di restoran tersebut, aku jadi makin semangat lagi buat segera ke sana dan berharap bisa makan bisa makan mie titi juga… :D 


Buat yang belum familiar, mie titi adalah sajian mie khas Makassar yang sekilas mengingatkanku pada ifumie. Mienya digoreng kering lalu disiram kuah kental berisi sayuran dan suwiran ayam. Kebayang, kan. Pokoknya comfort food banget, deh. Apalagi disantap hangat.


Karena rasa penasaran dan keinginan makan es pisang ijo dan mie titi sudah memuncak, akhirnya aku dan suami memutuskan untuk langsung datang ke Daeng Carammeng.


Tapi… Nasib berkata lain. Pas sampai sana, ternyata restorannya tutup! Hiks….


Aku masih ingat rasa kecewanya waktu itu. Sudah membayangkan semangkuk es pisang ijo dan hangatnya mie titi, eh, ternyata harus gigit jari. Saking penasarannya, aku sampai menghubungi lewat WhatsApp untuk bertanya kapan restoran buka lagi. Kalau tidak salah saat itu memang masih dalam suasana setelah Lebaran.


Akhirnya, ya, sudahlah. Keinginan makan es pisang ijo yang tadinya membara perlahan redup. Seperti banyak keinginan kecil lainnya, akhirnya rasa inginku itu tersimpan lalu terlupakan begitu saja.


Sampai beberapa minggu kemudian aku sedang jalan bersama suami untuk mencari makan malam. Sebenarnya kami sudah berencana untuk membeli sesuatu, aku juga agak lupa waktu itu mau beli makanan apa.


Namun tiba-tiba suamiku mengarahkan motor menuju satu tempat yang rasanya familiar. Lho? Ternyata… Daeng Carammeng! :D


Dan alhamdulillah, kali ini restorannya buka. Hehehe… Rasanya senang banget. Lucu ya, kadang kebahagiaan datang dari hal sesederhana tempat makan yang akhirnya berhasil didatangi setelah sempat gagal. :D Akhirnya aku dan suami pun makan di sana dan nggak lupa pesan take away untuk anak-anak di rumah… :D



Suasana Homey di Daeng Carammeng Depok

Dari luar, Daeng Carammeng sudah cukup menarik perhatian. Di bagian depannya berdiri replika kapal phinisi yang membuat restoran ini mudah dikenali.


Bagi masyarakat Bugis dan Makassar, kapal Phinisi bukan sekadar kapal layar biasa. phinisi adalah simbol identitas, semangat merantau, keberanian, sekaligus keahlian pelaut Sulawesi Selatan yang sudah dikenal sejak lama. 


Kapal tradisional ini menjadi lambang perjalanan dan ketangguhan masyarakat pesisir dalam mengarungi lautan. Nggak heran kalau keberadaan replika phinisi di depan Daeng Carammeng memberi sentuhan budaya yang kuat dan terasa khas Makassar banget. Bahkan sebelum makanan datang, nuansa Sulawesinya sudah terasa lebih dulu.




Meski restoran ini nggak terlalu luas, suasananya terasa nyaman dan homey. Tempat ini seperti menghadirkan rasa hangat. Aku pribadi suka tempat makan seperti ini. Nggak terlalu besar dan kebetulan juga nggak ramai. Kebetulan pas aku dan suami datang hanya terlihat satu meja saja yang terisi.  


Lokasi restorannya sendiri menurutku juga cukup strategis di pinggir jalan raya di kawasan Pancoran Mas. Tempat ini relatif mudah dijangkau dari berbagai area di Depok.



Menikmati Mie Titi, Coto, dan Es Pisang Ijo yang Sudah Lama Dinanti

Begitu duduk, kami langsung diberikan buku menu dan nggak perlu waktu lama aku memesan beberapa menu yang memang sudah lama membuat penasaran. Menu yang kami pesan antara lain: mie titi, coto, buras, dan tentu saja, es pisang ijo. :) 


1. Mie Titi yang Gurih dan Memuaskan

Menu pertama yang kucicipi tentu mie titi. Begitu disajikan, tampilannya langsung menggoda. Mie kering renyah dengan kuah kental dengan isian yang melimpah. Sekilas memang mirip ifumie, tapi setelah dicoba rasanya punya karakter sendiri. 




Kuahnya mantap. Gurih, hangat, dan terasa comforting. Ada rasa yang membuatku ingin terus menyeruputnya sampai habis. Mienya tetap punya tekstur renyah yang menyenangkan meski terkena kuah.


Buat pecinta olahan mie berkuah seperti aku, menu ini jelas memuaskan. Oiya, rasa kuah kaldunya juga terasa seperti buatan rumahan. Maksudnya seperti buatanku tapi versi naik kelasnya ahahaha…



2. Coto Makassar dan Buras, Perpaduan yang Klop!

Selanjutnya ada coto Makassar yang ditemani buras. Sebenarnya ini adalah menu pesanan suamiku. Jadi begitu semangkuk coto disajikan, ada sepiring buras dan ketupat yang juga ditaruh di atas meja. 


Ternyata kita boleh memilih mau menyantap coto dengan pendamping apa. Nah, suamiku pun memilih untuk menikmati coto dengan buras.





Buras sendiri adalah makanan khas Makassar yang mirip lontong, dibungkus daun pisang dan punya rasa gurih. Memang cocok sekali dijadikan pasangan coto.


Dan soal kuah coto? Gimana rasanya? Aku sempat mencoba sedikit menu ini. Dan memang mantap!


Aku suka kuah coto di sini. Kaya rempah, hangat, dan sama seperti mie titi, terasa comforting banget. Ada rasa gurih yang dalam tapi tetap ramah di lidah. Menikmatinya bersama buras membuat pengalaman makan jadi terasa lebih lengkap.



3. Es Pisang Ijo yang Akhirnya Kesampaian

Lalu tibalah momen yang sejak awal paling kutunggu. Es pisang ijo.


Jujur, ada rasa puas yang sulit dijelaskan waktu akhirnya semangkuk es pisang ijo itu sampai di meja. Setelah drama datang ke restoran yang tutup dan jeda berminggu-minggu, akhirnya keinginan itu benar-benar kesampaian. :D




Dan syukurlah… rasanya pun enak. Aku suka karena manisnya nggak berlebihan.


Pisangnya lembut, balutan hijaunya pas, dan keseluruhan rasanya terasa seimbang. Mungkin karena penantian yang cukup panjang juga ya, jadi rasanya terasa lebih spesial, ya…Hihi… :D 


Nah, untuk menu selengkapnya yang ada di Restoran Daeng Carammeng bisa Manteman lihat di bawah ini, ya: 










Daeng Carammeng, Tempat yang Rasanya Ingin Didatangi Lagi

Pengalaman makan di Daeng Carammeng buatku bukan sekadar soal kuliner Makassar.


Ada cerita kecil di baliknya. Tentang keinginan sederhana yang sempat tertunda, tentang restoran yang pernah kudatangi dalam keadaan tutup, lalu akhirnya berhasil kami nikmati kemudian.


Kadang memang ada makanan yang terasa lebih nikmat karena diperjuangkan, ya… hehe… :D


Kalau kamu sedang mencari restoran makanan khas Makassar di Depok, Daeng Carammeng bisa jadi pilihan yang menarik. Tempatnya nyaman, suasananya homey, lokasinya strategis, dan menu-menunya juga memanjakan lidah.


Daeng Carammeng

Jalan Melati Raya No. 6, Pancoran Mas, Kota Depok

No. WA: 0812 1800 8911

Jam buka: 08.00 - 21.00/21.30



Dita Indrihapsari


Contact Form

Name

Email *

Message *