Situ Rawa Besar Depok: Kenangan Masa SD, Mitos Buaya Putih, dan Tempat Wisata Warga



Kalau ngomongin tempat yang punya kenangan khusus buat aku sejak kecil, salah satunya pasti Situ Rawa Besar atau yang lebih dikenal warga sekitar dengan nama Rawa Lio. :D


Situ ini bukan tempat asing buatku. Dulu waktu SD, aku sekolah di SDN Anyelir 1, dan kebetulan banget bagian belakang sekolahku itu langsung berbatasan sama situ ini. Jadi bisa dibilang, aku tumbuh dengan situ ini sebagai  bagian dari aku bersekolah selama bertahun-tahun. Apalagi pas SMA sekolahku pun juga ada di bagian depan situ atau danau ini… 


Dan pasti, deh, kalau anak sekolahan di sekitar situ ini, nggak akan lepas dari cerita mitos yang beredar. Salah satu yang paling santer waktu itu adalah mitos soal buaya putih yang katanya menghuni situ ini. 


Duh, kalau ingat-ingat lagi, dulu tiap ngeliat situ itu pas jam istirahat atau pas jam pulang sekolah, suasananya jadi berasa mistis-mistis gimana gitu. :D


Nah, karena situ ini punya tempat spesial di memori masa kecilku, aku jadi penasaran dan pengen coba telusuri lebih jauh. Oiya, apalagi suamiku juga rumahnya dekat banget sama situ ini, Paling hanya 30-50 meter aja jaraknya! 


Gimana, sih, ceritanya situ ini ada, sekarang dimanfaatkan untuk apa, sampai soal tempat nongkrong dan tempat wisata warga di pinggir situ. Yuk, simak ceritanya!



Sekilas Tentang Situ Rawa Besar

Situ Rawa Besar berlokasi di Jalan Kembang, Kampung Lio, Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok. 


Luas area situ ini sekitar 17 hektar dengan kedalaman sekitar 3,5 hingga 4,5 meter. Nggak jauh dari sini juga ada Jalan Arif Rahman Hakim, Stasiun Depok Baru, dan Terminal Depok, jadi sebenarnya lokasinya cukup strategis dan gampang dijangkau.


Nama "Rawa Lio" sendiri lekat sama nama Kampung Lio yang jadi lokasi situ ini berada.



Gimana Ceritanya Situ Rawa Besar Ini Ada?

Nah, ini bagian yang menurutku paling bikin aku "wah" begitu tahu faktanya. Ternyata, Situ Rawa Besar atau Rawa Lio ini bukan rawa dan juga bukan danau kecil alami. Bukan juga situ buatan yang sengaja dibangun untuk menampung air seperti kebanyakan situ lain di Depok.


Sebenarnya, tempat ini adalah cekungan sisa pertambangan yang sudah ditinggalkan. Jadi selama ini aku salah kira. AKu pikir Situ Rawa Besar itu memang danau buatan. Ternyata aslinya Situ Rawa Besar adalah bekas lubang tambang yang lama kelamaan terisi air. :D


Jadi ceritanya, dulu area ini punya kandungan tanah liat dalam jumlah besar. Pada masa kolonial, tanah liat dari daerah ini terus-menerus diambil dan dibentuk menjadi batu bata. Material batu bata ini kemudian dijual ke Batavia atau yang sekarang kita kenal sebagai Jakarta.


Penambangan di kawasan ini berlangsung begitu intensif. Tanah terus digali tanpa henti sampai akhirnya terbentuk ceruk besar di dalam tanah dengan luas mencapai 17 hektar dan kedalaman sekitar 3,5 hingga 4,5 meter, yang sekarang kita kenal sebagai Situ Rawa Besar.


Nah, dari cerita ini juga aku baru paham kenapa nama "Lio" dipakai untuk kawasan ini. Kata "lio" ternyata bermakna "tempat atau alat pembakaran batu bata atau genting". Jadi nama Kampung Lio dan Rawa Lio memang benar-benar berasal dari aktivitas pembakaran bata dan genting yang dulu jadi mata pencaharian warga sekitar.


Hayoooo, Manteman yang warga Depok juga baru tahukah kayak aku??? :D 


Menariknya lagi, situ ini juga sempat punya fungsi penting sebagai jalur transportasi warga, lho. Dulu ada perahu yang jadi sarana penyeberangan bagi anak sekolah, pedagang, sampai warga yang mau ke pasar. 


Jadi situ ini betul-betul menyatu dengan kehidupan sehari-hari warga sekitar, bukan cuma sekadar bekas tambang yang terbengkalai. 


Aku pun duluuuuu pernah naik perahu ini bolak–balik… :D Seru banget! Aku inget nama perahunya disebut GETEK! :D 


Nah, jadi alau ditanya gimana ceritanya situ ini ada, ternyata jawabannya bukan proses alam atau situ buatan biasa, melainkan dari aktivitas pertambangan tanah liat dan industri batu bata di masa kolonial. 


Cerita ini bikin aku makin sadar kalau situ yang dulu cuma aku lihat dari balik pagar sekolah ini ternyata punya sejarah yang jauh lebih unik dari yang aku kira.



Situ Rawa Besar Sekarang, Dimanfaatkan untuk Apa?

Kalau dulu situ ini identik dengan aktivitas penambangan tanah liat dan jalur perahu getek, sekarang fungsinya sudah jauh berubah dan berkembang.


Saat ini, Situ Rawa Besar atau Rawa Lio berfungsi sebagai daerah konservasi dan resapan air. Situ ini menampung limpahan air hujan dari pusat Kota Depok, lalu mengembalikan air tersebut ke dalam tanah. 


Jadi meskipun asalnya cuma bekas cekungan tambang, sekarang perannya justru jadi cukup vital buat menjaga keseimbangan air di tengah kota yang makin padat bangunan.


Selain fungsi konservasinya, situ ini juga jadi ruang publik dan tempat rekreasi warga Depok. Ada fasilitas jalan setapak atau jogging track yang mengelilingi situ, beberapa saung untuk bersantai, spot-spot yang asik buat berswafoto, sampai lapak-lapak UMKM warga sekitar. Ya, walaupun yang aku lihat jalur joggingnya belum memadai banget, tapi lumayanlah… :’) 


Dari pagi sampai siang, area ini biasanya jadi tempat lalu-lalang warga, entah sekadar lewat, jalan kaki menyusuri tepi situ buat cari udara segar atau anak-anak sekolah yang jalan beriringan di sepanjang jalur setapaknya. 


Jadi meskipun statusnya cuma situ di tengah kota, keberadaannya masih terasa menyatu dengan kehidupan warga sekitar sampai sekarang. Malah kalau lewat situ ini aku sering banget lihat anak-anak warga lokal yang main air berenang di situ ini lho. Padahal kayaknya, sih, dalam ya. Tapi mereka pada berani-berani banget!


Dulu situ ini juga sempat mengalami masa-masa kurang terawat. Situ Rawa Besar juga sempat dijadikan tempat pembuangan sampah oleh warga. 


Belakangan, Pemerintah Kota Depok mulai menaruh perhatian lebih serius terhadap masalah lingkungan di Situ Rawa Besar. Ada upaya-upaya untuk menjaga kebersihan dan kelestarian situ ini, mengingat fungsinya yang penting sebagai kawasan konservasi dan resapan air kota. 


Buat aku pribadi, tetap ada rasa senang setiap kali lewat sini, mengingat betapa dulu situ ini jadi bagian dari rutinitas masa sekolahku dan sekarang mulai mendapat perhatian yang lebih baik. :)



Mitos yang Beredar di Situ Rawa Besar

Nah, ini bagian yang paling aku tunggu-tunggu buat diceritain karena berkaitan langsung sama kenanganku sendiri. :D


Seperti yang aku ceritain di awal, dulu waktu masih SD di SDN Anyelir 1 yang bagian belakangnya langsung berbatasan sama situ ini, mitos yang paling santer di kalangan murid-murid adalah soal keberadaan buaya putih yang katanya ada di dalam situ. 


Ceritanya turun-temurun dari kakak kelas ke adik kelas dan biasanya jadi bahan obrolan seru-seruan sambil bikin merinding.


Menariknya, mitos buaya putih ini memang bukan cerita yang asing di kalangan situ-situ atau danau di Indonesia. Beberapa situ lain, termasuk yang ada di sekitar Depok, juga punya cerita serupa soal sosok buaya putih yang dipercaya sebagai jelmaan siluman atau penunggu gaib yang menjaga keseimbangan alam di kawasan tersebut.


Selain cerita yang aku dengar sendiri soal buaya putih, ternyata ada juga versi mitos lain yang berkembang di kalangan warga sekitar Situ Rawa Besar. 


Salah satunya adalah cerita tentang sosok penunggu gaib yang digambarkan berwujud menyerupai ular raksasa atau naga air, yang dipercaya menjaga keseimbangan alam di situ ini. 


Konon, kalau ada pengunjung yang bertindak nggak sopan atau merusak alam sekitar situ, sosok penunggu ini bisa "marah" dan mendatangkan hal-hal aneh bagi yang berkunjung.


Terlepas dari mana yang benar dan mana yang cuma legenda turun-temurun, buat aku pribadi mitos-mitos ini justru jadi bagian yang bikin situ ini makin punya cerita tersendiri. Toh, hampir semua situ atau danau di Indonesia memang biasanya punya cerita mistis masing-masing dan itu jadi salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat sekitarnya buat tetap menjaga dan menghormati alam, kan, ya. :)



Buat Manteman yang kebetulan tinggal di Depok atau lagi berkunjung ke sini, coba, deh, sesekali mampir ke Situ Rawa Besar. Selain bisa jalan santai menyusuri jogging track-nya, sambil menikmati kopi di pinggir situ, siapa tahu Manteman juga jadi penasaran sama cerita-cerita di baliknya, seperti aku. :)


Dita Indrihapsari


Perjalanan ke Curug Cibadak Bogor

perjalanan-ke-curug-cibadak-bogor


Rasanya sudah lama aku nggak trekking. Lalu beberapa minggu lalu datanglah ajakan dari teman-teman Moms Video Maker (MVM) untuk trekking ke Curug Cibadak yang lokasinya berada di kawasan Cijeruk, Bogor, dalam rangka acara Ngonten Bareng MVM.. 


Ajakan ini tentunya nggak aku sia-siakan begitu saja. Lumayan banget bisa refreshing bareng Ibu-ibu MVM dan tentunya sekalian me- time juga di weekend… :D 


Saat aku menulis ini, aku baru aja pulang dari Curug Cibadak. Jadi tulisan ini benar-benar fresh from the oven, yaa… Bahkan masih berasa banget, nih, pegal-pegalnya… :D 


Aku akan ceritanya gimana serunya perjalanan ke Curug Cibadak di Bogor dan kekagetan apa yang aku rasakan selama di perjalanan ini. 



Berkumpul di Lenirra Villa and Resto

Untuk trip Ngonten Bareng kali ini, jumlah ibu-ibu MVM yang ikut ada 9 orang. Nah, kami semua terbagi dalam beberapa tim untuk sampai di tempat titik kumpul, yaitu di Lenirra Villa and Resto. Kami akan mulai perjalanan ke Curug Cibadak dari tempat ini dan rencananya kembali lagi ke Lenirra untuk makan siang. 


Nah, dari Depok aku bersama rombongan teman-teman dengan satu mobil berjumlah 7 orang. Ada aku, Bu Ayu, Mba Melinda, Mam Dhedhe, Mak Andin, Isti, dan Ciwul. Kami mulai perjalanan dari Depok sekitar pukul 6.30 pagi. 


Kami pun tiba di Lenirra sekitar pukul 8 pagi dan bertemu dengan dua teman lainnya, yaitu Mami Ruffie (serta suaminya) dan Mam Di. 


Setelah berkumpul semua dan mempersiapkan apa yang akan kami bawa untuk trekking, kami diantar oleh mobil operasional Lenirra untuk sampai di titik awal pendakian. Dari Lenirra Villa and Resto ke titik awal ini jaraknya sekitar 10-15 menit perjalanan dengan jalur jalan yang cukup sempit. 


Saat mau berangkat, aku pun sadar kalau minum di tumbler-ku sudah hampir habis. Padahal belum mulai trekking, ya, tapi minuman sudah habis. :D 


Untungnya di titik awal pendakian ini ada warung yang menjual air mineral dan camilan Akhirnya akupun membelinya. Apalagi setelah tpur guide, yaitu Mang KIdal, bilang kalau di atas nanti nggak ada warung yang jual minum. 

Nah, daripada dehidrasi dan takutnya menyusahkan teman0teman yang lain, kan, aku pun membeli air mineral sekalian sama camilan juga. :) 



Jalur Pendakian dari Titik Awal

Di titik awal ini, kami memulai dengan stretching pemanasan dan tentunya berdoa supaya perjalanan pendakian ke Curug Cibadak yang kami lakukan lancar-lancar tanpa hambatan. 


Mang Kidal memimpin pemanasan dan doa bersama. Setelh itu, kami pun langsung mengikuti arahannya untuk naik ke jalur pendakian. 


Nah, pas awal mendaki, di kanan kiri sudah mulai banyak pepohonan dan tumbuhan yang rimbun. Namun vegetasinya belum rapat jadi masih banyak sinar matahari yang mengenai kami. 


Di jalur ini kami juga sempat melewati jembatan dengan aliran sungai di bawah yang kering! Ya, sepertinya memang karena lagi musim kemarau ya, jadi sungai yang kami lewati betul-betul kering. Hanya bebatuan kecil dan besar serta tanaman liar saja yang aku lihat ada di bawah jembatan. 


Lanjut lagi di jakur pendakian yang mulai menanjak, aku pun melihat ada bangunan kecil dengan tulisan “Selamat Datang Taman nasional Halimun Salak, Suaka Satwa Elang Jawa.” 


Wah, melihat tanda sgn bagunan tersebut, aku pun makin semangat. Apakah kami akan melihat burung elang di tempat ini?



Melihat dari Dekat Suaka Elang Jawa dan Hutan Pinus

Jalan nggak terlalu jauh aku pun menemukan bangunan lagi yang jauh lebih besar dan ada pulang patung burung elang di depan bangunan tersebut. 


Rasanya memang tempat ini merupakan pusat informasi mengenai Suaka Elang JAwa di tempat tersebut. Namun sayangnya aku sama sekali nggak melihat adanya burung elang asli di sini. Tapi kalau dipikir-pikir bakal deg-degan juga sih jika misalnya burung elang jawa betul-betul muncul di hadapan mata… :D 


Di seberang patung elang Jawa, aku pun m melihat ada jembatan gantung yang cukup panjang. Aku pikir kami akan melewati jembatan itu dan kembali mendaki dari seberang. Ternyata pikiranku salah. Kami hanya berfoto dan bikin video aja di jembatan gantung itu untuk kemudian melanjutkan pendakian di jalur yang sebelumnya. 


Nah, menariknya area sekitaran Suaka Suaka Elang Jawa juga ditumbuhi dengan deretan pohon pinus yang tinggi! 


Wah, aku puas banget bisa santai sekejap di hutan pinus dan tentunya membuat banyak footage terutama foto di hutan pinus ini. 



Medan Terjal dan Menanjak Curam

Nah, kalau di awal jalur masih terasa santai dan menyenangkan, beda banget rasanya begitu kami mulai masuk ke medan yang lebih dalam. Jalur yang tadinya cuma menanjak pelan, tiba-tiba berubah jadi jalan setapak yang curam dan penuh bebatuan sebagai pijakan.


Aku sampai kaget sendiri, lho. Nggak nyangka kalau trekking ke Curug Cibadak ini medannya bisa se-ekstrem itu. Batu-batu yang jadi pijakan pun ukurannya nggak rata, ada yang besar, ada yang kecil dan agak licin karena lembab. Jadi aku dan teman-teman harus benar-benar hati-hati milih pijakan, sambil pegangan track pole atau sambil memegang batu dan batang pohon.


Belum lagi tanjakannya yang bikin napas jadi ngos-ngosan. Rasanya baru jalan beberapa meter aja udah pengin berhenti buat ngatur napas. :D


Di beberapa titik, jalurnya juga cukup sempit dengan jurang di salah satu sisi. Jadi ekstra hati-hati banget, deh. Tapi justru di titik-titik menantang inilah rasa capeknya jadi terasa "worth it" karena pemandangan hutan yang makin rimbun dan sejuk di sekitar kami.



Curug Cibadak, Air Terjun di Tengah Hutan yang Menyegarkan!

Setelah berjuang melewati medan terjal tadi, akhirnya suara gemericik air mulai terdengar dari kejauhan. Rasanya lega banget begitu tahu Curug Cibadak sudah nggak jauh lagi!


Begitu sampai, pemandangan yang menyambut kami adalah air terjun yang nggak terlalu besar, tersembunyi di tengah rimbunnya hutan. Debit airnya memang nggak tinggi, mengalir pelan-pelan aja dari sela bebatuan.


Aku juga bersyukur banget di curug ini masih ada aliran airnya walaupun nggak deras, mengingat lagi musim kemarau begini. :)


Kolam di bawah curugnya sendiri terbilang sempit dan berbatu, jadi airnya nggak terlalu dalam. Tapi justru itu yang bikin nyaman buat sekadar main air segar setelah trekking yang bikin keringetan. Btw, airnya juga berasa dingiiiin… :D


Nah, kebetulan pas kami ke sana lagi nggak banyak pengunjung lain, jadi kami bisa lebih puas ambil footage dan foto-foto tanpa perlu antre atau berebut spot. Suasananya juga enak banget, banyak pohon dan tumbuhan liar di sekeliling curug yang membuat udara jadi sejuk dan segar. 


Rasanya semua rasa pegal dan capek selama pendakian langsung terbayar begitu duduk santai di pinggir curug, dengar suara air, sambil ngobrol seru bareng ibu-ibu MVM.



Perjalanan Pulang yang Nggak Terlupakan….

Kalau dipikir, mungkin banyak yang mengira perjalanan pulang bakal lebih santai karena tinggal turun aja. Eh, ternyata nggak semudah itu, Ferguso! Justru perjalanan turun ini menyimpan tantangan yang nggak kalah bikin deg-degan dibanding waktu naik.


Medan yang sama-sama berbatu dan menanjak tadi, kalau dilewati waktu turun, rasanya jadi lebih licin dan bikin kaki gampang selip. Apalagi sendal gunungku juga masih terasa basah dan licin setelah main di curug. 


Aku sampai harus ekstra hati-hati, jalan pelan-pelan sambil pegangan ke apa aja yang bisa dijadikan pegangan. Belum lagi lutut yang mulai protes karena harus menahan beban badan tiap kali menuruni bebatuan.


Tapi anehnya, di tengah rasa capek dan was-was itu, justru banyak momen kocak yang muncul. Ada yang hampir kepeleset, ada yang saling teriak-teriak ngasih semangat.. Huhu, terharuuu… :D


Begitu akhirnya sampai di titik awal pendakian lagi, rasanya lega bukan main. Rasa lelah yang menumpuk seketika berubah jadi rasa bangga dan syukur karena bisa menyelesaikan trip ini dengan seru dan penuh tawa bareng teman-teman.


Setelah itu kami kembali lagi ke Lenirra Villa and Resto untuk makan siang bareng, sambil saling cerita ulang momen-momen paling berkesan sepanjang trekking. 


Meskipun badan pegal-pegal luar biasa, tapi pengalaman trekking ke Curug Cibadak ini jadi salah satu memori seru yang bakal aku ingat terus. Nggak sabar rasanya buat trekking bareng ibu-ibu MVM lagi di lain waktu! :D 



Dita Indrihapsari



Cerita Makan Keluarga di Ebiga Jjamppong Margo City Depok



Kalau ngomongin makanan Korea, sepertinya lidah orang Indonesia memang jodoh banget, ya, sama bumbu-bumbu pedas manis khas Negeri Ginseng ini. Dari tteokbokki, bibimbap, sampai jajangmyeon, semua sudah jadi menu favorit banyak orang, termasuk aku dan keluarga. 


Makanya waktu tahu ada restoran asal Korea yang buka di Margo City Depok, aku langsung penasaran dan akhirnya ngajak keluarga buat coba. Nama restorannya Ebiga Jjamppong.



Ebiga Jjamppong, Restoran Apa Itu?

Pas aku baca-baca referensi, ternyata Ebiga Jjamppong sebenarnya bukan pemain baru di dunia kuliner. Restoran ini pertama kali didirikan pada 2010 di Daejeon, Korea Selatan. 


Selama belasan tahun beroperasi di sana, Ebiga Jjamppong telah memiliki lebih dari 150 gerai di Korea Selatan. Bahkan disebut-sebut sebagai restoran jjamppong nomor satu di sana.


Masuknya Ebiga ke Indonesia sendiri karena kerja sama dengan Boga Group, perusahaan F&B lokal yang juga menaungi beberapa brand kuliner terkenal lainnya. 


Gerai pertamanya resmi dibuka di Lippo Mall Puri tahun 2024. Menariknya, kehadiran Ebiga di Indonesia ini juga jadi tonggak penting buat brand-nya sendiri. Ternyata Indonesia menjadi negara pertama di mana Ebiga Food ekspansi ke luar Korea Selatan.


Sejak pembukaan gerai pertama itu, Ebiga Jjamppong bergerak cukup cepat memperluas jaringannya ke berbagai kota, salah satunya di Margo City, Depok. Mal tempat berkumpulnya orang-orang Depok, termasuk aku dan keluarga… Hehehe… :D 


Yang menarik lagi, alasan Boga Group membawa Ebiga ke sini bukan cuma soal tren semata. Tapi memang karena pasar makanan Korea di Indonesia, tuh, sudah cukup besar dan siap menerima variasi baru selain menu-menu Korea yang sudah lebih dulu populer.


Nah, satu hal yang bikin aku makin nyaman makan di sini bareng keluarga adalah karena semua menunya dijamin no pork, no lard, dan no alcohol, sampai sudah ada sertifikat halal juga. 



Jadi, Jjamppong Itu Makanan Apa Sih?

Dari nama restorannya udah ketebak, ya, kalau menu andalan di sini adalah jjamppong. Buat yang belum familiar, jjamppong merupakan salah satu hidangan mi khas Korea yang punya ciri khas kuah merah menyala dengan rasa pedas gurih. 


Sederhananya, jjamppong merupakan mi dengan kuah kaldu seafood yang berisi berbagai sayuran dan hidangan laut, daging ayam atau sapi, serta bercita rasa sedikit pedas.


Yang bikin Ebiga percaya diri menyajikan hidangan ini adalah proses kaldunya. Melalui pengembangan selama bertahun-tahun, mereka berhasil menciptakan kaldu yang kaya rasa, gurih, dan tidak amis, sampai-sampai racikan kaldu ini sudah dipatenkan di Korea. 


Jadi bukan kaldu sembarangan, ini racikan yang sudah teruji dan disukai masyarakat Korea sendiri.



Pengalaman Makan Keluarga di Ebiga Jjamppong Margo City

Begitu masuk ke gerainya di lantai 1 Margo City, suasananya langsung terasa cozy dengan nuansa merah dan kayu yang hangat, khas resto Korea modern. 


Pas hari itu pengunjung cukup ramai di siang hari. Untungnya ada beberapa table yang masih kosong. Setelah duduk dan pesan, satu per satu menu mulai berdatangan ke meja kami. Nah, berikut ini menu-menu yang kami cicipi hari itu.


1. Kkanpung Udang & Ayam Crispy

Menu pembuka yang kami coba adalah potongan udang dan ayam crispy bersaus manis pedas, ditaburi irisan daun bawang dan wijen di atasnya. Ini semacam versi Korea dari ayam/udang saus asam manis, tapi dengan sentuhan gochujang yang bikin rasanya lebih dalam. 


Teksturnya renyah di luar, empuk di dalam, dan sausnya nempel pas banget di setiap gigitan. Cocok jadi menu pembuka sebelum masuk ke mi kuahnya yang lebih berat.





2. Japchae, Mi Kaca Tumis Khas Korea

Selanjutnya ada japchae, tumisan mi kaca (glass noodle) dengan potongan wortel, daun bawang, jamur kuping hitam, dan irisan daging sapi tipis, disiram saus manis gurih berbahan dasar kecap. 


Japchae ini termasuk salah satu hidangan klasik Korea yang biasanya jadi menu pendamping saat perayaan. Teksturnya kenyal dan licin di mulut, dengan rasa manis gurih yang ringan, jadi enak dimakan bareng menu lain yang lebih pedas.


Aku, tuh, suka banget sama tekstur japchae. Mirip bihun goreng tapi beda di tekstur dan rasa japchae yang lebih manis.





3. Rose Jjamppong yang Creamy

Salah satu menu paling unik yang kami coba adalah mi dengan kuah creamy bertabur keju leleh dan brokoli. Ini yang di menu Ebiga disebut dengan saus rose, yaitu mi Korea dengan saus rose yang creamy dan sedikit pedas, smoked beef, brokoli, dan keju yang melimpah. 


Perpaduan gurihnya cream dengan sedikit sensasi pedas di ujung lidah bikin menu ini terasa beda dari jjamppong biasa yang berkuah bening merah. Buat yang suka rasa creamy tapi tetap ingin ada sentuhan pedas khas Korea, menu ini wajib dicoba.





4. Seafood Jjamppong, Sang Bintang Utama

Ini dia menu andalan yang jadi juara di meja kami. Mi kuah merah menyala dengan isian melimpah, mulai dari udang besar, kerang hijau, telur puyuh, jamur, sampai taoge dan sayuran segar lainnya. 


Sesuai namanya, Seafood Jjamppong ini memang isian seafood yang melimpah: prawn, green mussels, oyster, mushrooms, dan sayuran, dengan rasa yang gurih, smoky, dan sedikit pedas. Porsinya besar banget, cukup buat dimakan berdua. Kuahnya juga sangat kaya rasa.




5. Ebi Fry, Camilan Pendamping yang Renyah

Sebagai penutup sesi makan, kami juga pesan udang goreng tepung berbentuk memanjang dengan saus mayo di tengahnya. 


Renyah di luar, udangnya masih terasa juicy di dalam. Simpel tapi cocok banget jadi camilan sambil ngobrol santai setelah kenyang makan mie jjampong. :D





Worth It Buat Dicoba Bareng Keluarga

Jujur, aku pribadi suka banget sama pengalaman makan di Ebiga Jjamppong Margo City ini. Porsinya besar-besar, jadi cukup untuk dibagi rame-rame satu keluarga. 


Rasanya juga enak, kuahnya kaya rasa tapi nggak bikin eneg, dan tingkat kepedasannya masih ramah di lidah orang Indonesia yang suka pedas tapi tetap mau menikmati gurihnya kaldu.


Buat Manteman yang tinggal di sekitar Depok dan penasaran sama jjamppong asli Korea, boleh banget mampir ke Ebiga Jjamppong yang ada di lantai 1 Margo City. 


Siapin perut yang cukup lapar ya, soalnya begitu menu-menunya datang satu per satu, dijamin susah nolak buat nggak nambah terus! :D 



Dita Indrihapsari


Fun Offroad Jeep di Sentul



Sebenarnya udah lama aku penasaran sama aktivitas offroad jeep, tapi baru kesampaian nyobain yang di Sentul beberapa waktu lalu. 


Tepatnya tanggal 28 Juni 2026, aku bareng tim MVM dan MOVA (Mak Andinih, Mamih Ruffie, dan Bumen Ayu) sama anak-anak masing-masing ikutan Fun Offroad Jeep di Sentul. 


Awalnya sih cuma niat nyari kegiatan seru buat anak-anak liburan sekolah sekalian have fun bareng geng emak-emak, eh, ternyata pengalamannya di luar ekspektasi! Seru banget, sampai aku mau cerita panjang lebar di sini! :D 



Kumpul di JungleLand, Langsung Naik Jeep

Kami janjian kumpul sekitar jam 7 pagi di depan JungleLand, Sentul. Ini juga jadi meeting point sekaligus titik penjemputan pakai jeep. Karena saking semangatnya, kami datang lebih cepat dan jadinya agak lama menunggu armada jeep-nya… :D 


Nah, begitu jeep 4x4 udah datang, kami langsung dibagi per unit. Satu jeep itu muat 4 orang, formasinya satu duduk di depan sebelah driver, tiga lagi di bangku belakang. Jeep pertama diisi sama ibu-ibu, sedangkan jeep satu lagi diisi oleh anak-anak. 


Sebelum jalan, sempat foto-foto dulu bareng di atas jeep. Dari briefing singkat, rutenya bakal ngelewatin jalur offroad Hambalang dengan estimasi waktu 2-3 jam.



Jalur Menantang, Basah-basahan sampai Kena Lumpur

Begitu jeep mulai jalan, aku langsung ngerasain bedanya sama wisata jeep yang pernah aku coba sebelumnya. 


Jalur di Sentul ini beneran menantang. Jeep naik-turun bukit, miring-miring, dan yang paling bikin deg-degan sekaligus seru adalah pas ketemu aliran sungai. Berkali-kali jeep harus nembus sungai, dan otomatis kami yang di dalam kena cipratan air ke mana-mana. 


Belum lagi ada beberapa spot yang becek parah sampai jeep kena lumpur tebal. Anak-anak, sih, malah heboh teriak-teriak seneng tiap kali kena cipratan, walaupun emak-emaknya sambil pegangan erat biar nggak kepental, wkwk…


Rutenya juga melewati sungai Ciherang, dengan estimasi jarak tempuh sekitar 5-10 km. Jujur, dari segi medan, ini jauh lebih menantang dari yang aku bayangin sebelumnya. Bukan cuma jalan tanah biasa, tapi ada tanjakan, turunan, sampai jalur berbatu yang bikin jeep bener-bener bergoyang kencang.



Insiden Jeep Rewel di Tengah Sungai

Nah, ini salah satu momen yang paling aku inget saat ikut fun off road ini. Pas lagi asik-asiknya melewati aliran sungai, jeep yang aku dan ibu-ibu naiki tiba-tiba bermasalah dan mogok di tengah jalan. 


Awalnya sempat deg-degan juga, sih, tapi untungnya tim dari operator sigap dan ada jeep pengganti..


Yang bikin momen ini malah jadi lucu adalah reaksi anak-anak. Alih-alih panik, mereka malah excited banget karena jadi punya waktu ekstra buat main air di sungai. Kebetulan aliran sungainya dangkal banget, cuma  sekaki, jadi aman buat anak-anak main ciprat-cipratan, bikin sesuatu dari ranting di sungai sambil nunggu jeep pengganti datang. 


Momen "insiden" yang tadinya bikin was-was, malah jadi salah satu highlight seru buat anak-anak di trip ini.



Perjalanan Melewati Bukit sampai Minum Kelapa Muda

Setelah pindah ke jeep pengganti, perjalanan lanjut sampai ke kawasan Bukit Hambalang dan Bukit Puncak Dua. 


Di sini pemandangannya juga oke banget. Dari atas bukit, kami bisa lihat hamparan hijau perbukitan Sentul yang luas walau keliatan ada beberapa spot bukit yang menggundul. 


Di atas bukit ini lumayan juga jadi spot buat sejenak menikmati udara segar dan foto-foto sebelum lanjut turun lagi.


Sekitar jam setengah 11-an, rombongan berhenti untuk istirahat di sebuah warung. Di sini kami dikasih waktu free time sambil menikmati kelapa muda segar. Pas banget buat ngademin badan setelah diguncang-guncang di jeep. :D 

 


Balik ke JungleLand, Bersih-bersih, dan Makan Siang

Menjelang siang, sekitar jam 12, aku dan rombongan jeep kembali menuju titik kumpul di JungleLand. Sesampainya di sana, kami bersih-bersih badan dengan baju yang sudah basah kena air dan anak-anak yang juga sudah penuh bekas lumpur dan air sungai. 


Setelah bebersih, kami pun lalu lanjut makan siang bareng-bareng di sebuat tempat makan di sekitar Sentul. Jujur aku lupa banget nama tempat makannya… :) 



Worth It Nggak, sih?

Untuk harga Rp 375 ribu per orang, menurutku ini worth it banget, sih. Fasilitasnya lengkap, mulai dari unit jeep 4x4, tour guide dan driver profesional, air mineral, asuransi wisata, kelapa muda, makan siang, jas hujan kalau-kalau turun hujan, dan tanpa minimal orang. 


Dokumentasi berupa foto dan video cinematic yang direkam pakai HP juga sudah termasuk ke dalam harga paketnya. Jadi kami nggak perlu repot-repot sibuk motret sendiri karena udah ada dokumentasinya, tinggal nikmatin momennya aja.


Oiya, aku juga sempat share momen serunya aktivitas fun off road Sentul ini dalam bentuk reels di Instagram. Kalau mau lihat cuplikan serunya bisa cek di sini, ya: instagram.com/p/DauoXG0SsQp.



Jeep Sentul vs Lava Tour Merapi, Bedanya di Mana?

Buat Manteman yang sudah pernah baca ceritaku soal Lava Tour Merapi, mungkin penasaran bedanya sama Fun Offroad Jeep Sentul ini. 


Kalau di Merapi, konsepnya lebih ke wisata edukasi dan napak tilas sejarah erupsi. Ada banyak spot yang dikunjungi seperti Museum Omahku Memoriku, Bunker Kaliadem, sampai Tebing Gendol, baru di bagian akhir trip kena basah-basahan pas offroad di Kalikuning.


Sementara jeep Sentul ini experience-nya justru ada di sepanjang perjalanan. Nggak ada spot wisata khusus yang dikunjungi kayak museum atau bunker, tapi dari awal sampai akhir jalur udah menantang, banyak nembus sungai, kena cipratan air, sampai lumpur. 


Jadi kalau di Merapi sensasi "basah-basahannya" cuma di ending, di Sentul ini justru sepanjang perjalanan bikin deg-degan dan seru. :D



Tips Kalau Mau Coba Fun Offroad Jeep Sentul

Sebelum Manteman ikutan, ada beberapa tips dari pengalaman aku kemarin biar makin nyaman dan seru.

  • Pakai baju dan alas kaki yang siap basah dan kotor. Dijamin kena cipratan air dan lumpur, jadi mending pakai baju ganti/kaos yang emang boleh kotor, dan sandal gunung atau sandal jepit yang nggak licin.

  • Bawa baju ganti lengkap. Termasuk buat anak-anak, karena habis trip pasti basah kuyup dan belepotan lumpur, apalagi kalau mereka ikutan main air pas jeep lagi berhenti.


  • Siapkan fisik. Jalurnya naik-turun dan cukup mengguncang, jadi pastikan dalam kondisi fit dan nggak gampang mabuk perjalanan.


  • Simpan HP dan barang elektronik di tempat yang aman/kedap air. Meski dikasih dokumentasi oleh tim jeep, kalau mau motret sendiri sesekali, pastikan HP aman dari cipratan air.


  • Booking dari jauh-jauh hari kalau mau di akhir pekan. Karena jadwalnya cuma tersedia Sabtu-Minggu, slotnya bisa cepat penuh apalagi saat liburan.


Buat Manteman yang suka sensasi adrenalin dan pengen ngerasain medan offroad yang benar-benar menantang, Fun Offroad Jeep Sentul ini recommended banget buat dicoba, apalagi bareng keluarga atau teman kayak aku kemarin. Jadwalnya juga ada setiap Sabtu-Minggu, jadi gampang buat disesuaikan sama waktu liburan.



Dita Indrihapsari


One Day Trip ke Situ Gunung Sukabumi Bareng Teman Arisan dengan Sewa Small Bus Bigbird

 

sewa-small-bus-hiace-bigbird


Kalau sudah kumpul dengan teman-teman arisan, biasanya obrolan kami nggak jauh dari keluarga, sekolah anak, atau rekomendasi tempat makan baru. 


Namun entah bagaimana, beberapa waktu lalu obrolan itu berubah jadi rencana one day trip bersama ke Situ Gunung di Sukabumi dengan sewa Hiace Bigbird.


Awalnya hanya bercanda aja. Namun semakin sering dibahas, semakin serius pula rencana tersebut. :) 


Akhirnya kami sepakat menentukan tanggal keberangkatan dan mulai menyusun itinerary perjalanan. Aku, tuh, paling seneng bagian ngerencanain gini. Apalagi kalau rencananya jadi kenyataan dan sesuai ekspektasi. Wah, pasti happy banget rasanya… :D



Rencana One Day Trip ke Situ Gunung Sukabumi

Tujuan utama perjalanan kali ini adalah menikmati suasana alam di kawasan Situ Gunung, Sukabumi. Beberapa teman memang sudah pernah ke sana, tapi sebagian besar belum pernah mencoba berjalan di jembatan gantung ikonik yang terkenal sebagai salah satu jembatan gantung terpanjang di Indonesia, bahkan di Asia.


Bayangin aja panjang jembatan gantung ini mencapai 535 meter. Aku sendiri sebelumnya sudah pernah mencoba berjalan di jembatan ini. Saat pertama kali mencoba, rasanya deg-degan banget. Apalagi saat itu weekend dan banyak pengunjung. Wah, berasa banget goyangnya. :) 


Bisa dibilang tema one day trip kali ini ini adalah Dare to Explore! Ya, karena selain akan mengeksplorasi jembatan gantung, di kawasan Situ Gunung juga terdapat danau dan air terjun yang memanjakan mata. 


Kalau mau lebih menantang lagi, ada juga flying fox yang merupakan flying fox terpanjang di Indonesia dengan panjang 753 meter. Selain itu ada juga wahana Keranjang Sultan dan Keranjang Langit yang sedang viral. 


Gimana, banyak juga, kan, yang bisa dijelajahi di Situ Gunung? Makanya destinasi ini jadi pilihan aku dan teman-teman untuk refreshing sejenak dari penatnya kehidupan sehari-hari. :) 


Dan karena ingin puas menjelajah tanpa perlu menginap, kami memilih konsep perjalanan pulang-pergi dalam satu hari saja. Next time, kalau ada keluangan waktu baru, deh, kami akan rencanakan lagi jalan-jalan yang lebih lama… Hehe… 



Itinerary One Day Trip ke Situ Gunung Sukabumi

Untuk perjalanan one day trip ke Situ Gunung kali ini, aku membuat itinerary atau rencana perjalanan yang bisa jadi panduan selama perjalanan. Dengan adanya itinerary ini kami pastinya berharap perjalanan ini lancar tanpa kendala berarti. 


Berikut itinerary sederhana one day trip ke Situ Gunung Sukabumi bersama teman-teman arisanku.


05.00 WIB

Berkumpul di meeting point Jalan Margonda Depok.


09.00 WIB

  • Tiba di kawasan wisata dan mulai menjelajahi Jembatan Gantung Situ Gunung, Curug Sawer, serta Danau Situ Gunung. Flying fox dan Keranjang Langit optional (tergantung cuaca, dan situasi).


  • Istirahat, sholat, dan makan siang.

16.00 WIB

Menuju tempat oleh-oleh khas Sukabumi. 


18.00 WIB

  • Perjalanan kembali menuju Depok.


  • Sholat dan makan malam di perjalanan. 

22.00 WIB

Perkiraan tiba di Depok.


Meski jadwalnya cukup padat, kami tetap optimis untuk ketepatan waktu. Hal ini karena perjalanan menggunakan small bus memungkinkan seluruh rombongan berangkat bersama tanpa perlu memikirkan konvoi beberapa kendaraan.



Tantangan Saat Traveling Rombongan

Nah, masalah dalam bepergian salah satunya sudah pasti soal transportasi. Dengan jumlah peserta yang ikut sebanyak 8 atau 9 orang, membuat kami harus memilih antara membawa mobil masing-masing atau menyewa kendaraan khusus. 


Dulu saat aku ke Situ Gunung Sukabumi bersama circle pertemanan yang lain, aku dan rombongan menggunakan beberapa mobil pribadi. Secara teori memang terlihat praktis, tetapi kenyataannya agak cukup merepotkan.


Ada yang terlambat berangkat, ada yang salah mengambil jalur, ada yang berhenti lebih dulu untuk mengisi bahan bakar. Komunikasi antar kendaraan juga nggak selalu lancar.


Belum lagi persoalan biaya tol, bensin, dan parkir yang harus dibagi-bagi. Bagi yang menyetir, perjalanan jauh juga cukup melelahkan. Saat peserta lain bisa tidur atau menikmati pemandangan, pengemudi harus tetap fokus di balik selama berjam-jam.


Karena itulah, kali ini kami mencari solusi yang lebih praktis agar semua anggota arisan yang ikut bisa menikmati perjalanan tanpa harus bergantian menjadi driver.


Setelah mempertimbangkan berbagai hal, kami akhirnya memilih sewa Hiace atau small bus dari Bigbird. :)


Sebelumnya kami juga sempat mencari beberapa opsi mobil travel Hiace yang nyaman untuk perjalanan rombongan kecil, sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada armada Charlie dari Bigbird.



Kenapa Memilih Sewa Hiace di Bigbird?


sewa-hiace-bigbird

Alasan utama kenapa kami memilih Bigbird sebenarnya sederhana saja. Saat mencari layanan sewa mobil Hiace terdekat dari area Depok untuk perjalanan ke Sukabumi, kami menemukan kalau Bigbird memiliki armada small bus yang disebut Charlie dengan kapasitas yang pas untuk rombongan kecil. Terdapat Charlie Regular dan Charlie Premium yang bisa dipilih. 


Fasilitas yang ditawarkan oleh armada ini juga lengkap banget untuk perjalanan jarak menengah hingga jarak jauh.


Yang membuat aku semakin yakin adalah adanya pengemudi profesional dari Bluebird Group. Dengan reputasinya, ada perasaan aman kalau memakai jasa dari perusahaan tersebut. 


Karena charter Hiace Charlie sudah termasuk driver, jadi nggak ada satu pun peserta yang harus mengorbankan waktu istirahat untuk menyetir. Selain itu, harga rentalnya juga sudah termasuk bensin, lho. :)


Sejak awal perjalanan, kami tinggal duduk santai dan menikmati suasana road trip ke Sukabumi. Bagiku pribadi, ini menjadi salah satu keuntungan terbesar. Apalagi perjalanan menuju Sukabumi membutuhkan waktu beberapa jam. 


Rasanya jauh lebih nyaman ketika semua anggota rombongan bisa menikmati perjalanan bersama. Kami bisa ngobrol, ngemil cemilan yang kami bawa, sampai karaoke bareng juga bisa!


Interior yang Nyaman Untuk Perjalanan Seharian

Kenyamanan selama perjalanan tentunya jadi faktor penting, ya. Apalagi kalau rute yang ditempuh cukup panjang atau memakan waktu seharian penuh. Hiace Bigbird hadir dengan interior yang dirancang untuk mendukung kenyamanan tersebut, meski ada sedikit perbedaan konfigurasi antara tipe Charlie Bus dan Charlie Premium.


Pada tipe Charlie Bus, kabin dilengkapi 14 kursi berbahan fabric yang bisa direbahkan (reclining seat), sehingga penumpang tetap bisa beristirahat dengan nyaman meski duduk cukup lama. Kapasitas bagasinya terbatas, jadi tipe ini lebih cocok untuk rombongan dengan barang bawaan yang nggak terlalu banyak. Pas banget, sih, kalau PP seharian ke Sukabumi!


Image: https://www.bluebirdgroup.com/product/charter-bus


Sementara itu, Charlie Premium menawarkan pengalaman yang lebih lega dengan konfigurasi 9 kursi yang didesain lebih empuk dan nyaman. Dengan jumlah kursi yang lebih sedikit dibanding Charlie Bus, jarak antar penumpang pun jadi lebih luas. Kapasitas bagasinya juga lebih besar, sehingga lebih leluasa membawa banyak oleh-oleh dari Sukabumi. :)


Kedua tipe ini sama-sama dibekali fasilitas multimedia system serta LED TV dengan DVD player. Untuk urusan keamanan, keduanya juga sudah dilengkapi fire extinguisher, medical kit, dan windows breaker sebagai bagian dari standar keselamatan perjalanan.


Perjalanan Anti Bosan Berkat Fasilitas Hiburan

Salah satu hal yang membuat road trip terasa menyenangkan adalah suasana selama perjalanan.


Di dalam small bus ini tersedia entertainment system lengkap dengan LED TV 24 inchi dengan DVD player dan sound system. Selama perjalanan kami bisa memutar video YouTube, nonton drakor, mendengarkan musik, hingga karaoke nyanyi bersama.


Aku membayangkan, suasana yang awalnya masih mengantuk setelah berangkat subuh perlahan berubah menjadi lebih hidup.


Bagi yang ingin tetap terhubung dengan internet, tersedia juga fasilitas WiFi. Dengan adanya fasilitas ini jadi makin gampang, kan, mau update Instagram Story selama perjalanan pulang. :) 


Dengan segala fasilitasnya, perjalanan yang biasanya terasa lama jadi nggak terasa membosankan.


Detail Kecil yang Membuat Perjalanan Lebih Nyaman

Selain fasilitas utama, ada beberapa detail kecil yang menurutku cukup penting dan dimiliki oleh small bus ini.


Misalnya keberadaan blackout double curtain yang membantu mengurangi cahaya matahari dari luar. Saat perjalanan siang hari, kabin jadi terasa lebih teduh sehingga nyaman digunakan untuk beristirahat.


Selain itu, terdapat fitur foldable tray untuk menaruh bekal makanan. Nah, kalau tiba-tiba ada pekerjaan mendadak pas lagi jalan, fitur ini bisa banget digunakan sebagai tempat tablet juga. 


Ada pula coolbox yang berguna untuk menyimpan minuman dingin selama perjalanan. Kami jadi bisa membawa beberapa botol minuman dan buah potong supaya tetap segar selama di perjalanan.


Untuk kebutuhan gadget, tersedia 4 USB port sehingga penumpang nggak perlu berebut colokan saat mengisi daya ponsel. Bagi rombongan yang gemar membuat konten perjalanan sepertiku, fasilitas ini tentu sangat membantu.


Faktor Keamanan yang Membuat Lebih Tenang

Selain kenyamanan, faktor keamanan juga menjadi pertimbangan penting saat memilih kendaraan untuk perjalanan bersama.


Charlie Bigbird telah dilengkapi dengan fire extinguisher, window breaker, dan medical kit sebagai perlengkapan keselamatan standar.


Kehadiran perlengkapan tersebut memberikan rasa tenang selama perjalanan. Ditambah lagi, kendaraan dikemudikan oleh pengemudi profesional dari Bluebird Group yang sudah berpengalaman menangani berbagai rute perjalanan.


Sebagai penumpang, kami bisa lebih fokus menikmati perjalanan tanpa harus memikirkan kondisi lalu lintas atau mencari rute terbaik.



Menikmati Keindahan Situ Gunung Tanpa Lelah di Perjalanan

Berjalan di atas jembatan Gantung Situ Gunung selalu menjadi pengalaman yang menantang sekaligus menyenangkan. Setelah puas menikmati pemandangan dari atas jembatan, perjalanan dilanjutkan menuju Curug Sawer yang menawarkan udara sejuk khas pegunungan.


curug-sawer-sukabumi


Lalu, perjalanan pun ditutup dengan bersantai di sekitar Danau Situ Gunung sebelum akhirnya berburu oleh-oleh khas Sukabumi. Meski aktivitas seharian cukup padat, kami nggak merasa terlalu lelah karena perjalanan sejak pagi berlangsung nyaman.



Solusi Praktis untuk Traveling Grup Kecil

Sewa small bus memang menjadi solusi untuk traveling bersama grup kecil. Dibandingkan membawa beberapa mobil pribadi, seluruh peserta bisa berkumpul dalam satu kendaraan sehingga suasana perjalanan terasa lebih seru. Koordinasi juga lebih mudah karena tidak perlu konvoi atau saling menunggu di jalan.


Buat yang lagi cari sewa Hiace luxury, Bigbird Charlie juga ada versi premium yang ideal untuk perjalanan privat & menginginkan pengalaman perjalanan dengan fasilitas yang lebih eksklusif serta kenyamanan ekstra.


sewa-hiace-bigbird


Bagi keluarga besar, komunitas, teman arisan atau rombongan yang ingin bepergian bersama, layanan ini bisa menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan. Apalagi kalau peserta trip lebih banyak lagi, kita juga bisa, lho, sewa bis Bigbird


Bigbird juga menyediakan juga Big Bus (Alpha) dan Medium Bus (Bravo) yang bisa disesuaikan dengan jumlah peserta trip. Cara untuk charter bus di Bigbird juga mudah. karena sudah ada banyak perwakilan di berbagai kota. 


One day trip ke Situ Gunung bersama teman-teman arisan jadi bukti kalau perjalanan yang menyenangkan bukan hanya soal destinasinya, tetapi juga tentang bagaimana cara kita menuju ke sana.


Dan untuk perjalanan rombongan seperti ini, aku pribadi merasa sewa small bus Hiace Bigbird membuat seluruh pengalaman menjadi lebih praktis, nyaman, dan tentunya lebih seru! Bahkan bagi yang lagi cari opsi sewa hiace luxury atau sewa mobil Hiace terdekat untuk berbagai kebutuhan perjalanan, Bigbird bisa menjadi salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan.


Untuk Manteman yang mau jalan-jalan bareng teman atau saudara dengan layanan Bigbird bisa langsung klik link di bawah ini ya:


Customer Care Bluebird Group di nomor +62 811-1794-1234 atau hubungi call center di kota masing-masing. Manteman bisa klik menu Contact Us di website www.bluebirdgroup.com untuk tau nomor call center Bigbird di kota masing-masing.


Yuk, jalan-jalan ke Sukabumi dan kota-kota lain di Indonesia! :) 



Dita Indrihapsari
















Sejarah Masjid Istiqlal: Dari Sekadar Lewat Trotoar, Jadi Penasaran Tentang Cerita Dibaliknya!


Masih dalam rangkaian cerita staycation kami di Hotel Borobudur kemarin. Pagi itu aku sekeluarga memutuskan jalan kaki menyusuri trotoar menuju Monas. Cuaca Jakarta yang masih adem membuat rencana ini terasa pas, lumayan buat olahraga santuy sambil berasa jadi turis di kota sendiri... :D


Nah, di tengah perjalanan, aku dan keluarga sempat lewat depan Masjid Istiqlal. Ini yang menarik, biasanya kalau ke Istiqlal, kami naik mobil dan langsung masuk ke area parkiran. Jadi selama ini aku nggak pernah benar-benar memperhatikan bagian depan masjid dari sisi jalan. 


Begitu jalan kaki, baru deh aku sadar ada papan nama atau signage besar bertuliskan "Masjid Istiqlal" di depan gerbang di seberang Lapangan Banteng yang selama ini luput dari perhatianku. Tanpa ba bi bu lagi, aku langsung foto di depannya... :D


Nah, momen kecil itulah yang bikin aku penasaran sama gimana ceritanya Masjid Istiqlal bisa dibangun dan kenapa bisa sebesar itu. :D 


Padahal sudah beberapa kali ke Istiqlal, entah untuk sholat atau sekadar lewat aja, tapi aku belum pernah benar-benar tahu bagaimana sejarah berdirinya masjid ini. Jadi, sepulang dari jalan-jalan, aku coba cari tahu lebih dalam. Ternyata sejarahnya panjang dan cukup menarik, jauh lebih dari sekadar bangunan ibadah biasa.



Berawal dari Cita-Cita yang Tertunda Puluhan Tahun

Keinginan punya masjid besar di Jakarta sebenarnya sudah muncul sejak zaman kolonial Belanda. Waktu itu, masjid-masjid yang ada di ibu kota hanya berukuran kecil dan tersebar di kampung-kampung. 


Belum ada satupun masjid berskala nasional yang bisa mewakili identitas umat Islam di tengah kota Jakarta.


Ide ini sempat dibahas lagi sekitar tahun 1944, ketika beberapa ulama dan tokoh Islam bertemu di kediaman Bung Karno di kawasan Pegangsaan Timur. Sayangnya, karena situasi masih di bawah kekuasaan Jepang, gagasan tersebut belum bisa direalisasikan.


Nah, barulah pada 1950, setelah Indonesia merdeka, ide ini dibicarakan lebih serius oleh Menteri Agama saat itu, Wahid Hasyim, bersama sejumlah tokoh Islam lainnya. Pembangunan masjid besar ini digagas sebagai ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia, sekaligus mengingat peran besar umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan. 


Dari situlah nama "Istiqlal" dipilih. ternyata kata Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang artinya "merdeka".


Pada 1953, pertemuan sejumlah tokoh Islam di Jakarta menghasilkan rekomendasi pembentukan Yayasan Masjid Istiqlal yang baru resmi disahkan pada 7 Desember 1954 setelah mendapat restu langsung dari Presiden Soekarno.






Proyek Ambisius Era Soekarno

Bicara soal Istiqlal, memang benar kalau masjid ini bisa dibilang bagian dari deretan proyek besar Soekarno di era 1960-an, sejalan dengan semangatnya membangun ibu kota dengan bangunan-bangunan monumental, termasuk Monas yang kami tuju pagi itu. 


Soekarno ingin Istiqlal jadi simbol kebesaran bangsa yang baru merdeka, bukan sekedar tempat sholat biasa.


Soal lokasi, awalnya sempat ada perbedaan pendapat. Wakil Presiden Mohammad Hatta mengusulkan lokasi di Jalan Thamrin karena dekat permukiman. Namun Soekarno lebih memilih kawasan Taman Wijaya Kusuma, tak jauh dari Lapangan Banteng, lokasi peninggalan kolonial yang menurutnya punya nilai historis tersendiri. 


Usulan Soekarno inilah yang akhirnya disepakati dan Istiqlal pun dibangun tepat di samping Gereja Katedral, posisi yang hingga kini jadi simbol toleransi antarumat beragama di Indonesia.



Arsiteknya Bukan Seorang Muslim

Ini bagian yang menurutku paling menarik dan sempat aku ragukan sendiri sebelum akhirnya kucek ulang. Yap, benar banget kalau arsitek Masjid Istiqlal bukan seorang Muslim.


Desain masjid ini dipilih melalui sayembara terbuka yang digagas langsung oleh Soekarno. Dari sayembara itu, terpilih desain karya Frederich Silaban yang beraga Protestan dengan judul "Ketuhanan.”


Menariknya, latar belakang keyakinan Silaban nggak menjadi masalah besar saat itu. Rancangannya dinilai paling sesuai dengan visi Soekarno tentang sebuah masjid modern, kokoh, dan megah, jauh berbeda dari masjid-masjid tradisional beratap genteng yang umum ditemui di Indonesia kala itu. Bahkan kabarnya, tokoh ulama Buya Hamka sempat memeluk Silaban sebagai bentuk apresiasi atas karyanya.


Desain Silaban penuh dengan simbolisme. Dua belas pilar utama masjid melambangkan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW, yakni 12 Rabiul Awal. Kubah utama berdiameter 45 meter menjadi penanda tahun kemerdekaan Indonesia.



Proses Panjang Hingga 17 Tahun

Peletakan batu pertama pembangunan Istiqlal dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 24 Agustus 1961, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Namun perjalanan pembangunannya ternyata nggak mulus. 


Prosesnya sempat terhenti beberapa kali karena masalah pendanaan, krisis ekonomi dan politik, hingga pergantian kepemimpinan nasional dari Soekarno ke Soeharto.


Pembangunan akhirnya dilanjutkan di bawah Menteri Agama M. Dahlan, dengan Idham Chalid sebagai koordinator panitia pembangunan yang baru. 


Total proses pembangunan memakan waktu sekitar 17 tahun, hingga akhirnya Masjid Istiqlal diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978.





Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah

Sampai sekarang, Istiqlal dikenal sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid ini mampu menampung ratusan ribu jamaah sekaligus. 


Bagiku, yang lebih berkesan justru cerita di baliknya. Bagaimana sebuah bangsa yang baru merdeka berusaha mewujudkan simbol persatuan lewat proses panjang, melibatkan berbagai latar belakang keyakinan, dan akhirnya berdiri berdampingan damai dengan Gereja Katedral di sebelahnya.


Jadi lain kali kalau ke Istiqlal, coba, deh, sesekali jalan kaki dari arah luar, bukan langsung masuk parkiran. Siapa tahu, seperti aku, Manteman juga baru sadar ada detail-detail kecil yang selama ini terlewat, termasuk papan nama sederhana yang menyimpan cerita panjang di baliknya. :)



Referensi:




Dita Indrihapsari

5 Patung di Kawasan Monas Jakarta



Waktu itu aku sekeluarga staycation di Hotel Borobudur, Jakarta. Namanya juga staycation, agenda paginya, ya, jalan-jalan santai aja sebelum sarapan… :D


Karena Monas jaraknya nggak terlalu jauh dari hotel dan sekalian mau olahraga pagi, kami pun memutuskan jalan kaki ke sana. Niatnya, sih, cuma mau hirup udara pagi dan ngambil dokumentasi sekedarnya, sambil ngajak anak-anak buat “gerak!” Hehe…





Tapi begitu sampai dan mulai keliling kawasan Monas, aku baru sadar satu hal yang selama ini luput dari perhatianku. Ternyata di kawasan Monas itu ada patung-patung besar yang tersebar di beberapa titik. 


Bukan sekadar pajangan aja, tapi masing-masing punya kisah dan makna sejarah sendiri-sendiri, lho, pas aku telusuri di beberapa referensi. 


Selama ini aku cuma tahu Monas identik dengan tugu emasnya dan museum di bawahnya aja. Eh, ternyata di sekelilingnya juga ada semacam "galeri pahlawan" berupa patung-patung di area terbuka yang mungkin jarang diperhatikan orang.


Nah, pagi itu aku berhasil mengabadikan tiga patung, yaitu Patung MH Thamrin, Patung Pangeran Diponegoro, dan Patung IKADA. Dua patung lainnya, Patung RA Kartini dan Patung Chairil Anwar, belum sempat aku capture langsung. Tapi biar cerita soal patung di Monas ini lengkap, aku bakal ceritain juga kelimanya sekalian, ya. 



1. Patung Pangeran Diponegoro

Ini dia patung pertama yang aku temui ada di sisi utara Taman Monas. Patung ini menghadap langsung ke arah Istana Kepresidenan. Kelihatan gagah banget, kan, Pangeran Diponegoro sedang menunggang kuda!


Begitu lihat, langsung kebayang Perang Diponegoro tahun 1825-1830 yang bikin Belanda kewalahan setengah mati. Pangeran Diponegoro akhirnya dijebak lewat perundingan, dibuang ke Makassar, dan wafat saat masa pengasingan di sana pada 8 Januari 1855.


Patung seorang pahlawan yang sedang menunggang kuda juga punya arti tertentu dilihat dari posisi kakinya. Kalau kedua kaki depan kuda terangkat, artinya sang penunggang gugur di medan perang. 


Kalau cuma satu kaki yang terangkat, tandanya meninggal karena sakit atau kecelakaan. Nah, kalau semua kaki kuda menapak tanah, berarti pahlawan tersebut wafat karena usia tua. 




Pada patung Diponegoro, kedua kaki depan kudanya terangkat ke atas. Sebenarnya Pangeran Diponegoro tidak wafat saat perang, tapi dalam masa pengasingan. Mungkin ini jadi simbolis mengenang perjuangannya sampai akhir.


Nah, setelah aku baca referensi, aku juga baru tahu kalau patung ini bukan buatan pematung sembarangan, lho. Patungnya dikerjakan oleh pemahat Italia bernama Cobertaldo yang sengaja dikirim ke Indonesia untuk mempelajari sejarah Pangeran Diponegoro.


Menariknya lagi, awalnya patung ini ternyata rencananya diresmikan pada 17 Agustus 1965. Namun karena kondisi perpolitikan Indonesia saat itu sedang nggak stabil, rencana itu pun batal, Sampai sekarang Patung Pangeran Diponegoro yang ada di Monas belum pernah diresmikan. :) 



2. Patung MH Thamrin

Di bagian sisi barat Taman Monas yang menghadap Jalan Medan Merdeka Barat, ada Patung Mohammad Husni Thamrin atau MH Thamrin. Nama MH Thamrin tentunya nggak asing, ya, karena jadi nama jalan utama di Jakarta.


Beliau adalah pahlawan nasional asli Betawi. Lahir di Batavia pada 16 Februari 1894 dan dikenal sebagai tokoh Betawi pertama yang duduk di Volksraad alias Dewan Rakyat pada masa Hindia Belanda. Pemikiran beliau soal pemerintah yang harus mendekat ke rakyat masih relevan banget sampai hari ini.


Patung MH Thamrin di Monas menampilkan bagian dada ke atas. Patung ini dibuat oleh pematung bernama Arsono dan diresmikan pada 11 Januari 1982. 




Baca Juga: Menjelajahi Budaya Betawi di Museum Betawi Setu Babakan



3. Patung IKADA

Nah, ini yang menurutku paling unik ceritanya dan letaknya ada di sisi selatan Monas. Beda dari yang lain, IKADA bukan nama orang. IKADA adalah singkatan dari lapangan luas yang dulu jadi cikal bakal kawasan Monas sekarang. 


Monumen atau patung ini dibuat untuk mengenang Rapat Ikada pada 19 September 1945, ketika para pemuda dan rakyat berkumpul untuk mendengar pidato Bung Karno nggak lama setelah kemerdekaan diproklamasikan.


Saat itu situasinya sangat nggak aman. Tentara Jepang yang masih bersenjata lengkap tetap berjaga di sekitar lapangan. Bung Karno sendiri sempat khawatir rapat itu bisa memicu bentrokan. Tapi rapat tetap jalan.




Patung ini menggambarkan lima sosok manusia yang berkumpul. Jumlah lima ini ternyata bukan kebetulan. Konon, pada masa pendudukan Jepang, berkumpul lebih dari lima orang itu dilarang karena dianggap bisa jadi ajang merencanakan pemberontakan. 


Jadi patung ini secara diam-diam merekam semangat perlawanan yang harus disiasati bahkan lewat cara berkumpul. Patung ini dirancang oleh Sunaryo, dosen ITB, dan diresmikan pada 20 Mei 1988.



4. Patung RA Kartini

Meskipun aku belum sempat foto langsung, patung ini nggak kalah menarik untuk diceritakan. Letaknya di sisi timur Taman Monas, menghadap ke arah Gambir. 


RA Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada 21 April 1879 dan dikenal luas sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia. Hari lahirnya sekarang diperingati sebagai Hari Kartini setiap 21 April.


Meski lahir dari keluarga bangsawan, beliau nggak diam aja melihat ketimpangan yang dialami perempuan pada masanya. Sayangnya, Kartini wafat muda di usia 25 tahun, pada 17 September 1904. 


Yang bikin patung ini unik, pahatannya menggambarkan tiga pose Kartini sekaligus dalam satu momen. Kartini sedang menari, berjalan, dan mengasuh anak. 


Kalau diperhatikan lebih teliti, di bagian bawah patung juga ada tulisan berhuruf Jepang. Ternyata patung ini memang merupakan hadiah dari pemerintah Jepang untuk Indonesia. Kalau kalian mampir ke Monas, coba, deh, amati detail ini dari dekat.



5. Patung Chairil Anwar

Terakhir, berdiri Patung Chairil Anwar. Chairil lahir di Medan pada 26 Juli 1922, dan dijuluki sebagai maestro puisi Indonesia. Sajak-sajaknya yang penuh semangat sempat jadi bahan bakar semangat perjuangan melawan penjajahan. Sayangnya, Chairil wafat muda karena sakit, pada 28 April 1949 di Jakarta.


Ia dikenal sebagai pelopor Angkatan 45 dan dianggap sebagai jembatan menuju puisi modern Indonesia. Sampai sekarang karya-karyanya masih sering dibacakan di berbagai acara sastra maupun peringatan hari kemerdekaan. 


Patungnya, yang menampilkan wajah tenang memandang lurus ke depan dibuat oleh pematung Arsono, sama seperti pematung yang mengerjakan Patung MH Thamrin. Patung ini diresmikan pada 21 Maret 1986.


Baca Juga: Cara Naik ke Puncak Monas



Jalan-Jalan ke Monas yang Berujung Belajar Sejarah

Awalnya aku kira jalan pagi ke Monas ini cuma bakal jadi rutinitas staycation biasa aja. Keluar hotel, jalan kaki, foto-foto, pulang sarapan. Tapi ternyata dari lima patung yang tersebar di empat penjuru Taman Monas ini, aku jadi belajar banyak hal yang selama ini nggak pernah aku perhatikan, meskipun sudah berkali-kali ke Monas sejak kecil… :D 


Ada kisah perjuangan dari Diponegoro dengan kudanya, perjuangan politik dari MH Thamrin, semangat rakyat yang nekat berkumpul demi mendengar pidato kemerdekaan lewat Patung IKADA, perjuangan emansipasi dari Kartini, sampai perlawanan lewat kata-kata dari Chairil Anwar. 


Lima patung, lima sisi, lima cara berjuang, tapi semuanya tetap bermuara pada satu hal yang sama, yaitu rasa cinta pada bangsa ini. :’) 


Jadi kalau Manteman berencana ke Monas, coba juga luangkan waktu jalan-jalan di taman di sekelilingnya. Siapa tahu, seperti aku, Manteman juga bakal nemuin cerita-cerita kecil yang selama ini terlewat begitu saja.



Dita Indrihapsari


Sejarah Detos (Depok Town Square), Mal Legendaris di Margonda Depok



Buat kamu yang lahir dan besar di Depok, rasanya mustahil, deh, kalau nggak kenal sama Detos alias Depok Town Square. :D 


Mal yang berdiri megah di Jalan Margonda Raya ini bukan cuma sekadar tempat belanja, tapi juga saksi bisu banyak cerita: nongkrong bareng teman sepulang sekolah atau ngampus, jajan di foodcourt, sampai nonton bioskop pertama kali bareng gebetan. Hehe…Ada yang punya pengalaman gitu juga di Detos? 


Di tahun 2026 ini, usia Detos ternyata sudah genap 21 tahun, lho. Nah, perjalanan mal ini selama dua dekade lebih ini ternyata menyimpan cerita yang cukup menarik untuk ditelusuri. Apalagi sekarang di social media juga sudah banyak banget konten-konten soal Detos. Yuk, kita bahas mal ini! :) 



Awal Mula Detos Berdiri

Depok Town Square resmi beroperasi sejak tahun 2005. Mal ini dimiliki oleh PT Lippo Karawaci Tbk. Lokasinya berada tepat di Jalan Margonda Raya, jalan protokol yang bisa disebut sebagai jantungnya Kota Depok. 


Posisi strategis ini membuat Detos langsung jadi primadona begitu dibuka. Apalagi mal berlantai lima ini deket banget ke Stasiun Pondok Cina lewat pintu belakangnya, sehingga gampang diakses mahasiswa Universitas Indonesia (UI) maupun warga yang tinggal di sekitarnya.


Dengan luas area puluhan ribu meter persegi dan banyaknya unit tenant, Detos di masa jayanya menawarkan hampir semua yang dibutuhkan warga Depok. Mulai dari restoran, gerai handphone, bioskop, tempat main anak, sampai deretan tenant fashion. 


Nggak heran kalau generasi 2000-an menjadikan Detos sebagai destinasi wajib buat nongkrong dan belanja. :D



Ketika Mal Saingan Muncul, Detos Perlahan Meredup

Aku inget banget, deh, pas mau kuliah ke luar kota di tahun 2004 Detos memang sedang dibangun dan dibuka setahun kemudian. Begitu juga dengan mal di seberangnya, yaitu Margo City.


Seingatku Margo City dibuka setahun kemudian di 2006. Jalan Margonda pun makin ramai dengan hadirnya dua mal yang berhadap-hadapan ini. 


Margo City pun menjelma jadi salah satu pusat perbelanjaan paling hits di Depok. Setiap hari, Margo City ramai dikunjungi dengan deretan tenant kekinian yang terus diperbarui mengikuti tren. Yang tadinya luas, Margo City sekarang makin luas lagi setelah direnovasi setelah pandemi.


Berbanding terbalik dengan tetangganya, Detos justru pelan-pelan mengalami penurunan. Fenomena ini sebenarnya lazim terjadi pada mal-mal generasi awal di berbagai kota besar Indonesia. 


Setelah bertahun-tahun jadi mal yang laris, Detos mulai kehilangan daya tariknya, terutama di bagian lantai-lantai atas.



Lantai Bawah Masih Hidup, Lantai Atas Kian Sepi

Menariknya, kondisi Detos sekarang nggak sepenuhnya suram. Kalau Manteman masuk ke lantai dasar dan lantai satu, suasananya masih cukup hidup. 


Di sinilah kini Detos dikenal sebagai salah satu pusat thrifting terbesar di Depok. Dengan deretan tenant fashion yang menjual pakaian bekas branded dengan harga miring. 


Aku pun pernah juga nge-thrift di Detos. Tapi memang kalau nge-thrift harus sabar dan teliti, ya. Alhamdulillah aku bisa dapat yang sesuai keinginanku juga, sih. :D Kisaran harga thrift di sini juga beragam, mulai dari 10 ribu sampai ratusan ribu juga ada!


Selain tempat thrifting, di Detos juga masih ada beberapa restoran, Matahari, Hypermart dan bioskop Cinepolis. Tenant-tenant tersebut pun aku lihat masih beroperasi normal. 


Apalagi kalau ke Cinepolisnya, wah, harga tiket yang relatif terjangkau dibanding bioskop di mal-mal lainnya.


Nah, Detos itu, kan, bagian atasnya berkonsep seperti ITC, ya. Jadi banyak kios-kios gitu. Sayangnya, begitu naik ke lantai-lantai atas, suasana berubah drastis karena banyak bangeeeet kios yang sudah tutup. Suasana jauh lebih sepi dibanding bagian bawah mal. 


Pemandangan ini jadi gambaran umum bagaimana mal-mal lama di Indonesia berjuang bertahan di tengah gempuran pusat perbelanjaan baru yang lebih segar dan menawarkan banyak pilihan untuk pengunjungnya. 


Tapi, aku salut banget, sih, sama Detos yang nggak tutup! :D Mal ini masih berjuang dan bertahan. Bahkan sekarang juga ada jalur masuk dari Stasiun Pondok Cina yang sudah ada fasilitas apartemen juga di dekatnya. 


Sebenarnya fasilitas di Detos pun ikut berkembang. Salah satunya adalah kehadiran tempat olahraga, seperti FitHub, kolam renang Khodijah Muslimah Center, lapangan futsal. Hal ini bisa jadi bukti kalau Detos terus berusaha beradaptasi meski di tengah tantangan persaingan yang ketat, ya. Mungkin hal ini juga yang bikin Detos masih “hidup” sampai saat ini. :)



Kabar Baru: Sekolah Dian Harapan Bakal Hadir di Detos

Nah, di tengah citra "mal yang mulai ditinggalkan" ini, muncul kabar yang cukup mengejutkan sekaligus bikin penasaran aku sebagai warga Depok. 


Pas lagi scrolling socmed, tetiba aku baca berita kalau Pelita Harapan Group mengumumkan rencana kehadiran Sekolah Dian Harapan (SDH) di Kota Depok, yang ditargetkan mulai beroperasi pada Juli 2027. 


Sekolah ini akan berada di Detos. Iyah, beneran! Aku penasaran, sih, nantinya apakah ruang kelasnya bakal berada di kios-kios lantas atas Detos yang sepi itu? 


Ternyata ini juga bukan pertama kalinya Pelita Harapan Group membuka sekolah di dalam gedung mal. Sebelumnya, Sekolah Dian Harapan juga sudah resmi dibuka di Tamini Square, menempati area lantai lower ground.


Konsep ini sejalan dengan strategi Lippo Malls dalam beberapa tahun terakhir untuk mengubah fungsi mal, dari sekadar pusat belanja jadi ruang belajar, bersosialisasi, sekaligus hiburan bagi masyarakat modern.


Melihat pola ini, cukup masuk akal kalau nantinya SDH Depok akan menempati bagian lantai atas Detos yang selama ini memang cenderung sepi dan banyak kios kosong. Kalau benar begitu, ini bisa jadi solusi sekaligus win-win solution, ya. Lantai yang tadinya mangkrak bisa dihidupkan kembali dengan fungsi baru. 


Sementara itu Detos sendiri bakal mendapat "napas baru" untuk tetap relevan di tengah persaingan mal-mal modern di Depok.



Detos, Bukan Sekadar Mal tapi Bagian dari Memori Warga Depok

Terlepas dari naik turunnya performa bisnis, Detos tetap punya tempat khusus di hati banyak warga Depok. Akses yang makin mudah dari kampus UI dan Stasiun Pondok Cina membuat mal ini tetap ramai dikunjungi mahasiswa dan komuter setiap harinya. 


Selain jadi surganya thrifting, Detos juga masih rutin menggelar berbagai event, serta menyediakan pilihan tempat makan dan hiburan keluarga yang lengkap. Aku pernah ke Detos bertepatan dengan event Pramuka. Wih, ramenya bukan main! :D 


Kalau rencana kehadiran Sekolah Dian Harapan di Detos benar-benar terwujud pada 2027 nanti, bisa dibilang ini akan jadi babak baru dalam perjalanan panjang mal legendaris ini. 


Dari pusat perbelanjaan yang sempat berjaya, meredup, hingga mungkin bertransformasi menjadi ruang yang lebih multifungsi: tempat belanja, thrifting, nonton, sekaligus tempat menuntut ilmu.


Buat warga Depok, Detos mungkin boleh berubah bentuk dan fungsi dari waktu ke waktu. Tapi satu hal yang pasti, memori yang terekam di setiap lantainya selalu jadi bagian dari cerita hidup orang Depok, apapun yang terjadi pada mal ini ke depannya.


Kalau Manteman, terutama yang tinggal di Depok, ada memori apa, nih, di Detos? Yuk, share di kolom komentar… :D



Dita Indrihapsari

8 Permainan Timezone yang Jadi Favorit Semua Usia



Selama ini aku selalu mikir kalau Timezone itu ya tempat main anak-anak. Tapi ternyata anggapan itu langsung runtuh begitu aja pas liburan sekolah kemarin. Kami sekeluarga menghabiskan waktu liburan dengan main di Timezone Margo City Depok dan Timezone Pacific Place. 


Awalnya sih niatnya cuma nemenin anak-anak main. Eh, nggak taunya malah aku dan suami ikut kebawa suasana dan akhirnya ikut-ikutan nyobain beberapa permainannya. :D


Jujur aja, keluarga kami memang bukan tipe yang terbiasa wara-wiri ke Timezone. Biasanya kalau liburan, ya, lebih sering ke alam atau wisata kuliner. Tapi ternyata, main di Timezone itu seru banget, lho! Walaupun memang pas sekali datang, harus siap ngerogoh kocek lumayan dalam, yaaa. Hehehe... :D


Nah, dari pengalaman kemarin, ada beberapa permainan yang menurutku jadi favorit semua orang, baik anak-anak maupun orang dewasa. Yuk, aku ceritain satu-satu apa aja permainannya!!



1. Bumper Car, Permainan Klasik yang Selalu Bikin Ketawa!

Bumper Car ini kayaknya emang permainan yang nggak pernah gagal bikin suasana rame, deh. Waktu itu anakku main bareng teman-teman sekolahnya. Begitu masuk arena dan mobil-mobilnya mulai bergerak, teriakan dan suara ketawa mereka pun langsung memenuhi ruangan. :D




Serunya lagi, anak-anak jadi punya "misi" masing-masing buat saling nabrak mobil temannya. Padahal ya cuma nabrak-nabrakan doang, tapi ekspresi mereka pas berhasil "nge-bom" mobil temannya itu lucu banget. Aku sampai ikutan ketawa liatin dari luar arena.



2. Virtual Reality 360, Diputar-putar Sampai Bikin Pusing Tapi, Kok, Nagih, Ya!

Kalau yang ini, aku sendiri nggak ikut main. Anak-anak yang nyoba untuk pertama kalinya dan aku cuma videoin aja. :D 


Oiya, buat yang mau nyoba wahana ini, ada syarat tinggi badan minimal, kalau nggak salah sekitar 140 cm.




Begitu anak-anak duduk dan alat pengamannya terpasang, permainan langsung dimulai. Dan beneran, badan mereka diputar 360 derajat berkali-kali! Aku yang cuma nonton dari luar aja udah ikutan pusing ngebayangin sensasinya.


Tapi herannya, begitu turun, anak-anak malah ketawa-ketawa dan pingin nyoba lagi. Katanya sih seru banget, apalagi kombinasi visual di dalam headset VR-nya bikin sensasi muter-muternya makin terasa nyata.



3. Basketball Arcade, Favorit Sepanjang Masa

Nah, kalau yang satu ini rasanya emang jadi favorit hampir semua orang, ya. Dari anak kecil sampai orang dewasa yang main ke Timezone, pasti pernah main Basketball Arcade.




Permainan ini bisa dimainkan berdua atau bertiga, tergantung berapa banyak mesin yang tersedia berjajar. Waktu itu pas anak-anak main sampai bikin kompetisi kecil-kecilan, siapa yang paling banyak masukin bola dalam waktu terbatas.


Seru banget suasananya! Apalagi kalau bola sudah mulai keluar dari mesin secara otomatis dan kita harus buru-buru masukin bola sebanyak mungkin. Rasanya adrenalin ikut naik walaupun cuma main santai aja,



4. Bowling, Ternyata Nggak Semua Timezone Punya!

Ini salah satu yang bikin aku penasaran dan akhirnya cari tahu lebih lanjut. Ternyata nggak semua gerai Timezone menyediakan wahana bowling ini, lho. Hanya beberapa cabang tertentu aja yang punya fasilitas ini. 


Nah, kebetulan dua tempat main Timezone yang aku dna keluarga smbangi, yaitu di Timezone Margo City dan Timezone Pacific Place ada semua fasilitas permainan bowling ini. 





Bowling di Timezone ini biasanya disebut Social Bowling. Bedanya dengan bowling biasa, di sini kita nggak perlu pakai sepatu khusus segala. Selain itu, jalur atau lane-nya juga didesain lebih pendek dibanding lane bowling pada umumnya, jadi capeknya nggak seberapa tapi tetap seru buat dimainkan bareng-bareng.


Karena konsepnya emang dibuat lebih santai dan bisa tetap berkompetisi juga, permainan ini juga cocok banget buat lomba kecil-kecilan bareng keluarga atau teman. Kalau ke Timezone yang kebetulan ada fasilitas ini, rasanya sayang banget kalau dilewatkan.



5. Nerf Arcade, Serunya Tembak-tembakan Ala Anak-anak

Buat yang suka permainan tembak-tembakan tapi versi seru dan aman, Nerf Arcade ini jawabannya. Anak-anakku kelihatan antusias banget pas main ini. Mereka jadi kayak lagi ikutan misi rahasia gitu, sambil sesekali ketawa-ketawa kalau berhasil kena sasaran.




6. Racing Arcade, Ngerasain Sensasi Balapan Tanpa Ribet

Kalau lagi pengen ngerasain sensasi balapan tapi nggak perlu ribet ke sirkuit beneran, apalagi masih anak-anak, Racing Arcade ini bisa jadi solusinya. :D 



Ada pilihan simulator mobil dan motor. Anak-anak tentunya seneng banget bisa duduk di kursi simulatornya sambil pegang setir kecil, seolah-olah lagi ikut balapan beneran.


Meski cuma simulasi, tapi getaran dan efek suaranya lumayan bikin suasana jadi makin hidup.



7. Air Hockey, Permainan Klasik yang Mejanya Makin Kece

Air hockey ini termasuk permainan yang dari dulu aku kenal. Bedanya, sekarang tampilan meja-mejanya jauh lebih keren dibanding yang aku ingat waktu kecil dulu


Lampu-lampu LED-nya bikin suasana main jadi lebih hidup, apalagi kalau lagi seru-serunya kompetisi bareng  keluarga!





8. Virtual Reality Paragliding, Berasa Terbang Beneran!

Nah, kalau ditanya wahana mana yang paling berkesan buatku pribadi, jawabannya pasti VR Paragliding ini. Aku dan anakku sempat mencobanya di Timezone Margo City dengan tema dinosaurus.


Begitu headset VR dipasang dan permainan dimulai, rasanya beneran kayak lagi terbang di antara dinosaurus-dinosaurus raksasa. Yang bikin makin seru, ada efek anginnya juga, bahkan sesekali ada percikan air kecil yang bikin sensasinya makin nyata. Kayak nonton film 4D tapi kita yang jadi pemeran utamanya!


Aku dan anakku sampai teriak-teriak kegirangan sepanjang permainan. Aku sendiri yang awalnya cuma penasaran, jadi ikutan excited banget begitu nyoba VR ini. Oiya, bedanya dengan VR 360 kalau VR Paragliding ini nggak berputar ya tapi turun naik aja seperti naik paragliding beneran. 



Bukti Kalau Main Seru-seruan di Timezone Nggak Kenal Batas Umur 

Dari semua pengalaman main di Timezone Depok dan Timezone Pacific Place kemarin, aku jadi sadar satu hal: Timezone itu bukan cuma soal anak-anak main game sendirian sementara orang tua nunggu di pinggir. Timezone dan mungkin tempat main sejenis lainnya, seperti Funworld, Amazing World, atau Kidzania menghadirkan pengalaman seru yang bisa dinikmati bareng-bareng, sekeluarga.


Setiap wahana punya keseruan masing-masing, dari yang santai kayak air hockey, sampai yang bikin adrenalin naik kayak VR 360 dan VR Paragliding. Belum lagi momen kompetisi kecil-kecilan yang bikin kebersamaan keluarga makin terasa.


Memang, sih, main di Timezone butuh budget yang nggak sedikit. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, momen kebersamaan dan pengalaman selama main bareng itu rasanya sepadan banget dengan yang dikeluarkan.


Kalau Manteman ada rencana liburan bareng keluarga dan bingung mau ke mana, coba deh sesekali mampir ke Timezone. Siapa tahu, seperti aku, kalian juga bakal ketagihan dan pengen balik lagi lain waktu. :)




Dita Indrihapsari


Contact Form

Name

Email *

Message *