Jalan-jalan menyusuri Pasar Jatinegara dan sekitarnya seakan membuka memoriku. Duluuu waktu aku masih kecil sampai remaja, aku pernah diajak beberapa kali oleh mamaku ke pasar ini.
Mamaku seorang penjahit dan suka membuat souvenir. Aku diajak mamaku ke Pasar Jatinegara untuk membeli aksesoris-aksesoris di sana yang memang harganya terbilang lebih terjangkau.
Selepas belanja, seingatku kami pernah membeli buah, sate, gorengan, dan jajanan lainnya di sana.
Nah, makanya saat beberapa bulan lalu mengikuti walking tour rute Pasar Jatinegara bersama Jakarta Good Guide (JGG), aku kembali mengenang masa-masa dulu waktu jalan-jalan ke Pasar Jatinegara atau sering juga disebut Pasar Meester ini… :D
Nggak hanya ke ikon atau bangunan bersejarah, rute walking tour Pasar Jatinegara ternyata juga banyak banget menyambagi tempat-tempat kuliner di sana. Di tulisan ini aku urutin, ya, tempat-tempat kuliner apa aja yang sempat aku datangi di Pasar Jatinegara dan sekitarnya… :D
Sate Keroncong
Aku dan teman-teman walking tour melewati Sate Keroncong setelah dari Kantor Pos Jatinegara. Lokasinya dekat dari jalan raya, Jalan Matraman Raya.
Dari namanya aja udah unik, ya. Kenapa namanya bisa Sate Keroncong? Sebenarnya nama asli warung sate ini adalah Sate Sederhana. Namun karena dulu sering ada pemusik atau pengamen yang memainkan musik keroncong sambil menemani makan para pelanggan sate, akhirnya warung ini pun lebih dikenal dengan nama Sate Keroncong.
Warung sate ini juga udah ada dari lama banget, lho. Mulai buka sekitar tahun 60-an dan masih bertahan sampai sekarang.
Katanya menu andalan di sini adalah Sate Kambing. Ada juga menu lain seperti gulai dan tongseng.
Nah, sayangnya aku memang nggak sempat mencicipi Sate Keroncong ini. Tadinya setelah selesai walking tour mau mampir lagi ke warung sate ini tapi rencana itu nggak terlaksana. Mungkin next time aku mau ke sana lagi, dan siapa tahu ketemu dengan pemain musik keroncongnya juga… :)
Cakwe Wastafel
Hah? Aku pun kaget, kok, begitu mendengar namanya! Tapi nggak salah, tempat kuliner ini memang dikenal dengan nama Cakwe Wastafel.
Kenapa dinamakan demikian? Sebabnya satu, tempat penggorengan cakwe itu memang di wastafell :D Iya, jadi wadah menggorengnya kayak disemacam wstafel, bukan penggorengan biasa. Katanya, sih, panasnya lebih merata kalau digoreng di “wastafel” ini.
Aku sempat membeli cakwe yang dilah oleh Bang Zaenal ini seharga Rp 10.000,-. Bayarnya juga bisa pakai QRIS, ya. Nah, untuk rasanya memang enak, sih. Cakwenya juga empuk.
Terminal Combro
Terminal Combro juga termasuk kuliner legend di Pasar Jatinegara. Sudah ada sejak tahun 1990 dan masih banyak banget peminatnya sampai sekarang. Bahkan, kita kalau mau menikmati combronya disarankan untuk pesan dulu via WhatsApp paling nggak sehari sebelumnya. Kalau nggak, ya, bisa gagal makan combro nanti! :D
Saat aku sampai di Terminal Combro memang terlihat beberapa orang sedang memasak. Ada juga seorang bapak yang sedang mengupas singkong sebagai bahan baku pembuatan combro. Katanya, singkong-singkong itu dari Bogor dan Sukabumi.
Karena banyak peminat, kalau nggak salah aku hanya berhasil kebagian dua combro aja. Pas mencobanya, memang nggak salah, sih, warung combro ini bisa bertahan lama. Isiannya gurih, padat, dan banyak! Harga satuannya Rp 3500,- aja.
Nha, di Terminal Combro nggak hanya menjual combro aja tapi juga ada timus, roti goreng isi, gandasturi, ongol-ongol, getuk lindri, martabak mini, dan lainnya.
Siomay Wawa
Buat yang suka sama siomay atau dimsum, jangan sampai kelewatan jananan ini kalau lagi ke Pasar Jatinegara. Siomay Wawa ini katanya juga termasuk kuliner legend di sana dan sudah ada sejak lama.
Di sini siomay dan ngohiong dibuat fresh dengan tekstur padat dan rasa gurih dari campuran ayam dan udang. Karena banyaknya permintaan, siomay di sini sering habis cepat. Beberapa pelanggan bahkan memesan sehari sebelumnya supaya kebagian sebelum dagangan ludes.
Nah, kalau dilihat penampakan siomay ini sebenarnya lebih mirip ke dimsum, ya. Ukuran siomaynya sendiri pun juga cukup besar. Untuk satu porsi isi 5 harganya Rp 20.000,-.
Di sini juga dijual ngohiong dengan harga Rp 25.000,- Kalau ngohiong, bahan utamanya mirip seperti siomay, namun keliatannya ada tambahan sayuran lebih banyak di dalamnya. Dua-duanya sama-sama enak! Pantesan, sih, kalau cepat habis! :D
Gelora Bakery
Kalau ditanya apa toko roti jadul dan legendaris di Jakarta? Gelora Bakery adalah salah satunya. Toko roti di Pasar Jatinegara ini sudah berdiri dari tahun 1950-an dan dikelola dari generasi ke generasi.
Meski lokasi toko rotinya berada di dalam gang sempit tanpa papan nama besar, aroma rotinya yang harum mudah tercium saat kita berada dekat dengan toko ini.
Awalnya Gelora Bakery fokus memproduksi biskuit keras tradisional, namun seiring waktu toko ini mengembangkan lini produknya menjadi berbagai macam roti dan kue.
Kini di etalase mereka tersedia aneka roti tawar, roti manis, roti asin, butter cookies, dan lainnya. Oiya, semua produknya juga dibuat tanpa bahan pengawet dengan resep klasik yang dipertahankan sejak dulu, ya.
Nah, pas di Gelora Bakery aku membeli roti yang direkomendasikan banyak orang, yaitu roti smoked beef dan cokelat keju. Benar saja, begitu sampai rumah dan menikmati rotinya, wah, enak banget. Teksturnya lembut.
Rasanya pingin lagi ke sana, tapi kalau jalan sendiri aku takut nyasar. Hahaha… Lokasinya memang di gang-gang gitu, Manteman. Tapi kalau pakai GMaps sepertinya, sih, bisa… :D
Kopi Bis Kota
Sepertinya kuliner di Jatinegara, tuh, nggak jauh-jauh dari kata LEGEND! :D Ada lagi, satu toko di Pasar Jatinegara yang juga legendaris, yaitu Toko Sedap Djaja yang memproduksi Kopi Bis Kota.
Dari kemasannya aja kita bisa tahu kalau kopi ini sudah ada sejak tahun 1943! Bahkan sebelum Indonesia merdeka kopi ini sudah eksis, lho!
Aku sempat membeli kopinya yang ¼ kg. Kalau nggak salah harganya sekitar Rp 50.000,-. Biji kopinya pun datang dari berbagai daerah di Indonesia, lho, seperti dari Lampung, Flores, dan lainnya.
Buat penikmat kopi kataku, sih, sekali-kali coba, deh, main ke Pasar Jatinegara dan jangan lupa beli Kopi Bis Kota di sini!
Es Tebak
Ada yang sudah pernah nyobain Es Tebak? Es Tebak di Pasar Jatinegara jadi salah satu jajanan minuman tradisional yang punya cerita panjang dan menjadi bagian dari kuliner legendaris kawasan pasar ini.
Minuman khas Sumatera Barat ini berbeda dari es biasa karena menggunakan “tebak”. Nah, tebak ini, tuh, sejenis adonan mirip cendol yang kenyal dan lembut. Tebak jadi isian utama es ini, dipadukan dengan tape ketan, kolang-kaling, cincau, santan kental, sirup merah khas Minang, dan es serut yang melimpah.
Aku mencoba santapan segar Es Tebak di penjual Es Tebak milik Hj. Aniwarti yang sudah eksis sejak tahun 1978. Minuman ini bukan sekadar pelepas dahaga aja tapi juga bagian kecil warisan kuliner yang tetap bertahan lewat generasi ke generasi.
Lokasinya yang berada di gang sempit pasar membuat suasana bersantapnya terasa unik dan penuh nostalgia. Banyak pengunjung dan pejalan kaki yang sengaja mampir untuk menikmati segelas Es Tebak setelah berjalan menjelajah pasar. :)
Bagi Manteman yang pernah menjelajah Pasar Jatinegara, adakah rekomendasi jajanan kuliner di sini yang perlu aku coba juga? Kalau ada, boleh banget kasih tahu aku di kolom komentar, yaa…
Dita Indrihapsari

















.jpeg)







































.jpeg)