Saat pertama kali ke Belitung di tahun 2017 bersama rombongan tur, aku sempat mencoba kuliner khas Mie Belitung. Namun saat itu bukan ke tempat Mie Belitung Atep yang ternyata termasuk kuliner legendaris di sana dan jadi langganan banyak wisatawan, termasuk pejabat, artis, publik figur saat ke Belitung.
Nah, makanya saat ke Belitung lagi di tahun 2025 bersama keluarga, aku nggak melewatkan kesempatan untuk mencicipi langsung Mie Belitung Atep!
Nggak hanya sekali, aku dan keluarga bahkan sampai dua kali makan di sana! :D Pertama saat begitu sampai di Belitung dan kedua kalinya sebelum pulang menuju Bandara Hanandjoedin.
Berwisata ke Belitung rasanya memang belum lengkap kalau belum mencicipi kuliner khas Mie Belitung Atep. Rasanya kalau aku ada kesempatan lagi untuk mengunjungi Belitung, aku akan kembali lagi ke kedai sederhananya untuk menikmati seporsi Mie Belitung Atep… :)
Mie Belitung Atep dan Awal Mula Sebuah Legenda
Mie Belitung Atep dikenal sebagai salah satu kuliner tertua dan paling terkenal di Pulau Belitung. Usaha ini dirintis sejak tahun 1973 oleh seorang perempuan bernama Atep yang mewarisi resep keluarga. Ia kemudian menjadikan menu Mie Belitung tersebut sebagai usaha rumahan yang lambat laun terus berkembang.
Lokasi kedainya sendiri berada di pusat kota Tanjung Pandan. Dari dulu hingga kini Mie Belitung Atep selalu menjadi tujuan utama wisatawan luar kota maupun warga lokal.
Nah, menariknya, meski zaman terus berubah dan tren kuliner silih berganti dengan munculnya kuliner kekinian, Mie Belitung Atep tetap bertahan dengan konsep sederhana.
Rasanya tetap terjaga dan sepertinya resep warisan keluarga yang sudah ada turun temurun tidak banyak diubah. Di sinilah letak kekuatannya.
Apa Itu Mie Belitung?
Sebelum aku menulis terlalu jauh, aku mau jelaskan dulu mengenai apa sebenarnya Mie Belitung. Apa bedanya Mie Belitung dengan mie lainnya? Apa saja keistimewaan mie asal Negeri Laskar Pelangi ini?
Yap, berbeda dengan mie pada umumnya, Mie Belitung memiliki ciri khas pada kuahnya. Saat disajikan, kuah Mie Belitung bertekstur kental dan berwarna cokelat.
Kuahnya terbuat dari kaldu udang, dipadukan dengan bumbu rempah, dan katanya, sih, ada tambahan gula aren juga. Perpaduan tersebutlah yang menghasilkan perpaduan rasa manis gurih pada kuah Mie Belitung..
Saat menikmati Mie Belitung Atep, aku melihat beberapa bahan yang ada di dalam piringnya. Seporsi Mie Belitung Atep biasanya terdiri dari:
- Mie kuning basah
- Udang rebus sebagai protein utama
- Kentang rebus
- Tahu goreng
- Tauge rebus
- Timun segar
- Taburan emping sebagai pelengkap
Semua komponen bahan ini kemudian disiram kuah kental diatasnya yang menjadi “jiwa” dari hidangan ini.
Kalau dilihat dari bahan-bahannya sebenarnya agak nggak biasa, ya. Ada mie, tapi dengan tambahan kentang rebus. Ditambah pula dengan sayuran timun dan tauge!
Sebenarnya Mie Belitung ini merupakan kuliner yang lahir dari percampuran budaya. Mie aslinya adalah makanan khas Tionghoa. Sebagai pulau yang dikelilingi lautan, nggak heran, ya, kalau boga bahari seperti udang pun menjadi bahan utama dari mie ini.
Nah, penggunaan kentang ternyata juga terinspirasi dari budaya Belanda. Jadi boleh dibilang menu Mie Belitung selain kaya rasa juga kaya akan akar budaya.
Disajikan di Atas Daun Simpur, Bukan Piring Biasa
Begitu pesanan Mie Belitung Atep aku dan keluarga datang dan tersaji di meja, aku sempat agak heran melihat ada sebuah daun di bawah mienya. Awalnya aku kira ini daun jati. Ternyata bukan!
Yap, salah satu keunikan dari Mie Belitung Atep dan Mie Belitung lainnya adalah cara penyajiannya. Mie ini disajikan di piring yang diatasnya terdapat daun simpur.
Daun simpur merupakan daun khas yang banyak ditemukan di Belitung dan Kalimantan.
Daun simpur bukan hanya sekadar alas. Daun ini dapat memberikan aroma alami, menjaga suhu makanan tetap hangat, sekaligus menjadi simbol kuat dari kearifan lokal.
Sensasi menyantap mie di atas daun ini membuat pengalaman makan terasa lebih otentik dan membumi, kan. Kelihatannya sederhana, tapi jadi lebih berkesan.
Selain itu, daun simpur pun bukan sekedar pemanis aja tapi memang ada manfaat dan keuntungan kalau sajian Mie Belitung ini memakai alas daun simpur.
Cita Rasa Otentik yang Sulit Dilupakan
Gimana dengan rasanya?
Awalnya sjian Mie Belitung Atep tampil cantik dengan susunan yang terjaga. Tapi, sebagai pemakan yang nggak terlalu memperdulikan estetika, pastinya setelah selesai difoto, aku langsung mencampur semua bahan-bahan yang ada di atas piring! :D
Nah, saat suapan pertama masuk ke mulut, yang langsung aku rasakan adalah keseimbangan rasa. Nggak terlalu manis, tapi juga nggak terlalu gurih. Kuahnya kental namun tidak eneg. Dengan aroma udang yang cukup dominan tapi rasanya tetap light, nggak berlebihan.
Tekstur mie yang lembut juga berpadu dengan emping yang renyah, kentang yang empuk, dan udang yang segar. Semua elemen di atas seporsi Mie Belitung Atep ini saling melengkapi, bukan saling menonjolkan dirinya sendiri.
Mie Belitung Atep dan Daya Tariknya bagi Wisatawan
Dengan rasanya yang enak dan nikmat. nggak heran, sih, kalau Mie Belitung Atep menjadi langganan banyak tokoh terkenal yang berkunjung ke Belitung.
Di dinding kedainya, biasanya terpajang foto-foto tamu istimewa yang pernah mampir. Ini juga yang jadi kekuatan Mie Belitung Atep. Sudah banyak dinikmati orang dan teruji rasanya!
Namun yang membuat tempat ini istimewa bukanlah siapa saja yang pernah datang, melainkan bagaimana kedai ini tetap membumi dan ramah untuk semua orang. Nggak ada kesan eksklusif. Semua duduk sejajar, menikmati seporsi mie yang sama. :)
Rahasia Bertahan Lebih dari Setengah Abad
Di tengah maraknya kuliner modern dan viral, Mie Belitung Atep justru bertahan dengan caranya sendiri. Kalau menurutku, ya, ada beberapa hal yang membuatnya tetap eksis sampai sekarang.
- Konsistensi rasa dari dulu hingga sekarang
- Resep turun-temurun yang tetap dijaga
- Nggak “terlalu memodernkan” menu
- Hubungan emosional dengan pelanggan
Bagi banyak orang, makan Mie Belitung Atep bukan sekadar mengisi perut, tapi bisa juga untuk bernostalgia. Meski kedai makanannya juga sederhana dan terkesan klasik, tapi tetap bersih dan apik!
Sebenarnya di kedai Mie Belitung Atep ini pun ada menu makanan lainnya, yaitu Nasi Tim Ayam. Aku dan keluarga pun sempat memesannya.
Nasi Tim Ayam ini disajikan dengan kuah bening yang gurih. Ketika kuah tersebut dicampur dengan nasi dan ayam, wah, rasanya jadi seimbag. Enak juga, lho, menu yang satu ini.
Jadi kalau ada di Mie Belitung Atep, Manteman bisa mempertimbangkan juga untuk memesan Nasi Tim Ayam.
Tips Menikmati Mie Belitung Atep Saat Berkunjung
Jika Manteman berencana untuk mencicipi Mie Belitung Atep langsung di Belitung, aku ada beberapa tips yang semoga aja bisa membantu Manteman supaya bisa lebih menikmati sajian ini.
- Datang lebih awal untuk menghindari antrian.
- Nikmati selagi hangat agar kuahnya terasa maksimal.
- Jangan ragu mengaduk semua isinya sebelum makan.
- Nikmati dengan santai. Nggak perlu terburu-buru.
- Padukan dengan minuman segar khas Belitung, seperti Es Jeruk Kunci untuk menyeimbangkan rasa
- Coba juga memesan menu lainnya, seperti Nasi Tim Ayam, Kue Nastar, sampai kopi bubuk khas Belitung yang dijual di kedainya!
Dalam kesederhanaannya, Mie Belitung Atep menyimpan cerita panjang tentang warisan keluarga, ketekunan, dan kecintaan pada tradisi.
Jika suatu hari Manteman berkunjung ke Belitung, sempatkan duduk sejenak, menyantap seporsi Mie Belitung Atep, dan biarkan rasanya yang bercerita.
Dita Indrihapsari




































