Wisata Gunung Fuji, Ikon Wisata Alam Jepang yang Mendunia

wisata-gunung-fuji-paket-wisata-jepang


Wisata Gunung Fuji menjadi salah satu daya tarik utama Jepang yang dikenal sampai ke seluruh dunia. Gunung tertinggi di Jepang ini memang sudah lama menjadi simbol keindahan alam, spiritualitas dan kebanggaan nasional. Keindahannya tidak hanya dinikmati dari puncak, namun juga dari kawasan sekitar yang menawarkan panorama menawan.


Bagi wisatawan, berkunjung ke Gunung Fuji tidak hanya soal mendaki. Banyak orang datang untuk menikmati pemandangan, berfoto sampai merasakan suasana alam yang tenang di kaki gunung. Maka dari itu, kawasan ini selalu ramai masuk dalam daftar destinasi favorit wisatawan internasional.



Destinasi Favorit di Sekitar Gunung Fuji

Salah satu daya tarik utama Gunung Fuji yaitu banyaknya spot menarik di sekitarnya. Danau-danau yang tergabung dalam Fuji Five Lakes, seperti Kawaguchiko, Saiko dan Yamanakako, menjadi lokasi populer untuk menikmati refleksi Gunung Fuji di permukaan air.


Selain danau, terdapat desa wisata, taman bunga dan museum seni yang menghadirkan pemandangan Gunung Fuji dari sudut yang berbeda. Kawasan ini juga terkenal dengan jalur ropeway dan dek observasi yang memudahkan para wisatawan menikmati panorama tanpa harus mendaki.



Aktivitas Wisata Sepanjang Empat Musim

Keunggulan Wisata Gunung Fuji ada di daya tariknya di setiap musim. Ketika musim semi, bunga sakura bermekaran di sekitar kaki gunung, menciptakan pemandangan yang sangat ikonik. Musim panas menjadi waktu favorit bagi para pendaki karena jalur pendakian resmi dibuka dan cuaca relatif lebih bersahabat.


Pada musim gugur, daun momiji berwarna merah dan oranye mempercantik kawasan sekitar Gunung Fuji. Sedangkan musim dingin menghadirkan pemandangan puncak gunung yang tertutup salju, menjadikannya latar sempurna untuk fotografi lanskap. Setiap musim menawarkan pengalaman yang berbeda untuk para wisatawan.


wisata-gunung-fuji-paket-wisata-jepang



Budaya dan Nilai Spiritual Gunung Fuji

Tidak hanya menawarkan keindahan alam, Gunung Fuji juga sarat dengan nilai budaya dan spiritual. Gunung Fuji sudah lama dianggap sebagai gunung suci dan menjadi tempat ziarah masyarakat Jepang sejak ratusan tahun lalu. Di sekitar gunung, terdapat berbagai kuil dan situs bersejarah yang masih aktif digunakan hingga kini.


Tradisi dan festival lokal yang digelar di sekitar Gunung Fuji juga menarik perhatian para wisatawan. Acara-acara ini sering menampilkan budaya Jepang tradisional yang memperkaya pengalaman berkunjung, tidak hanya sebagai wisata alam tetapi juga wisata budaya.



Akses dan Fasilitas Wisatawan

Akses menuju kawasan wisata tergolong mudah, terutama dari Tokyo. Wisatawan dapat menggunakan kereta, bus langsung atau kendaraan pribadi dengan waktu tempuh sekitar dua hingga tiga jam. Infrastruktur wisata yang baik akan membuat perjalanan menjadi nyaman, bahkan bagi wisatawan yang baru pertama kali datang ke Jepang.


Fasilitas seperti hotel, ryokan, restoran sampai pemandian air panas tersedia di berbagai titik sekitar Gunung Fuji. Banyak wisatawan memilih menggunakan paket wisata Jepang dari Joglo Wisata karena lebih praktis, terutama untuk mengatur transportasi, akomodasi dan jadwal berkunjung ke berbagai spot sekaligus.



Tips Berkunjung ke Gunung Fuji

Agar pengalaman pergi ke wisata Gunung Fuji lebih maksimal, wisatawan disarankan datang pagi hari untuk mendapatkan cuaca yang lebih cerah. Pemandangan Gunung Fuji sering tertutup awan pada siang hingga sore hari, terutama di musim panas.


Selain itu, perhatikan kondisi cuaca dan musim kunjungan. Gunakan pakaian yang sesuai musim dan siapkan kamera untuk mengabadikan momen terbaik selama berada di sana. Jika tidak ingin repot menyusun itinerary sendiri, mengikuti tur atau paket perjalanan bisa menjadi pilihan yang efisien.


wisata-gunung-fuji-paket-wisata-jepang



Frequently Asked Questions

Di mana lokasi Gunung Fuji?

Gunung Fuji ada di perbatasan Prefektur Yamanashi and Shizuoka, Jepang.


Apakah wisata di Gunung Fuji harus dengan mendaki?

Tidak. Wisatawan dapat menikmati pemandangan Gunung Fuji dari danau, taman dan dek observasi tanpa mendaki.


Kapan waktu terbaik mengunjungi Gunung Fuji?

Musim semi dan musim gugur adalah waktu favorit untuk berkunjung ke wisata Gunung Fuji karena cuaca nyaman dan pemandangan indah.


Apakah wisata di Gunung Fuji cocok untuk keluarga?

Ya, kawasan ini sangat ramah untuk keluarga dengan banyak aktivitas santai dan fasilitas wisata lengkap.



Dita Indrihapsari


Menyusuri Jejak Maritim Nusantara di Museum Maritim Indonesia



Sudah bertahun-tahun yang lalu, tapi rasanya aku masih ingat saat berada di kapal yang membawaku dari Pontianak ke Natuna. Itu pertama kalinya aku naik kapal besar. Dua hari di lautan sambil kerap kali melihat peta, aku jadi makin sadar kalau negara kita, tuh, luar biasa sekali kekayaan lautnya. 


Memang nggak salah kalau dibilang nenek moyang kita seorang pelaut, ya. Laut bisa menjadi pusat kehidupan banyak masyarakat negeri ini, bahkan hingga saat ini. Kehidupan laut nggak bisa dipisahkan dari Indonesia… 


Nah, karena itulah aku ngerasa beruntung banget bisa jadi salah satu peserta dalam walking tour yang diadakan oleh Wisata Kreatif Jakarta ke Museum Maritim Indonesia dalam rangka memperingati hari Maritim Nasional beberapa bulan lalu… :) 


Dalam perjalanan menyusuri Museum Maritim Indonesia, akhirnya aku pun jadi punya gambaran lebih jelas tentang kehidupan laut dan pelayaran di Indonesia dari masa ke masa. 


Aku juga baru tahu kalau selama ini kita punya, lho, seseorang yang disebut sebagai Bapak maritim Indonesia. Ada yang tahu siapa? 


Yuk, aku ajak keliling Museum Maritim Indonesia yang sampai saat ini ternyata belum bisa dikunjungi secara bebas. Kenapa? Simak ceritaku selengkapnya, ya…



Pengalaman Ikut Walking Tour ke Museum Maritim Indonesia

Salah satu hal yang membuat kunjungan ke museum ini terasa spesial adalah sistem kunjungannya yang berbeda dari museum pada umumnya.


Museum Maritim Indonesia nggak dibuka untuk kunjungan perorangan. Untuk bisa masuk, pengunjung harus datang dalam bentuk rombongan minimal 20 orang dan mengajukan surat permohonan terlebih dahulu.


Karena itulah, pengalaman walking tour ini terasa lebih eksklusif. Suasananya nggak ramai, sehingga aku dan teman-teman peserta walking tour lain bisa menikmati setiap zona di dalam museum dengan lebih nyaman.


Selama tur, kami ditemani oleh guide dari pihak museum yang menjelaskan berbagai koleksi dan cerita di baliknya. Penjelasan ini benar-benar membantu, sih, karena banyak informasi yang mungkin akan terlewat begitu aja kalau hanya melihat sendiri tanpa panduan.


Satu hal yang pasti, begitu berkeliling di dalam Museum Maritim Indonesia ini aku beneran kagum dengan penataan letak benda-benda yang dipamerkannya. Ada beberapa spot juga yang interaktif dan banyak banget spot untuk foto… :D Keren banget museumnya.


Aku berharap semoga museum ini bis bebas dikunjungi untuk umum tanpa harus melalui jalur rombongan, ya. Dan aku juga merekomendasikan museum ini dikunjungi oleh pelajar. Tempat ini pas banget buat jadi lokasi fieldtrip. Ada banyak pengetahuan baru soal kelautan yang bisa didapat di sini. 



Lokasi dan Latar Belakang Berdirinya Museum

Oiya, sebelum aku jelasin ada apa aja isi museumnya, aku infokan dulu, ya, soal lokasinya dan kenapa, sih museum ini dibuat. 


Museum Maritim Indonesia terletak di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bisa dibilang pelabuhan ini merupakan pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia saat ini. 


Museum ini menempati gedung yang dibangun di awal abad 20 dan dulunya menjadi kantor pengelola pelabuhan. Jadi bisa dibilang bangunan Museum Maritim Indonesia termasuk bangunan bersejarah juga, ya. 




Museum ini diresmikan pada tahun 2018 oleh PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo). Tujuannya adalah untuk memperkenalkan sejarah, perkembangan, serta masa depan dunia maritim Indonesia kepada masyarakat.


Dengan lokasi yang berada langsung di kawasan pelabuhan aktif, aku ngerasanya  pengalaman berkunjung ke museum ini jadi terasa lebih autentik karena kita bisa melihat langsung aktivitas maritim di sekitarnya.


Nah, aku bersama peserta walking tour menuju ke museum dengan berjalan kaki dari Stasiun Tanjung Priok. Jaraknya sekitar 2 km dengan durasi perjalanan berjalan kaki sekitar 30 menit. Lumayan banget, ya… :D 


Namun rasa lelah berjalan kaki dan gerahnya udara di utara Jakarta sepertinya langsung sirna begitu aku sampai di museum ini. Nggak sabar ingin melihat seperti apa bagian dalamnya. :) 



Mengenal Bapak Maritim Indonesia

Siapa yang nyangka kalau tokoh di uang Rp 50 ribu, yaitu Bapak Ir. Djuanda Kartawidjaja merupakan bapak Maritim Indonesia. Hal ini pun baru aku ketahui saat guide museum memperlihatkan patung yang ada di dalam museum. 


Ya, itulah Bapak Maritim Indonesia, Bapak Ir. Djuanda. 




Ir. Djuanda Kartawidjaja dikenal pernah menjadi menteri di beberapa kementerian setelah Indonesia merdeka. Bahkan beliau pernah menjadi perdana menteri pada tahun 1957 sampai 1959. 


Ir. Djuanda disebut sebagai Bapak Maritim Indonesia karena perannya dalam memperjuangkan kesatuan wilayah laut Indonesia. Pada 1957, ia menolak aturan Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 yang hanya mengakui laut teritorial sejauh 3 mil dari garis pantai. 


Kalau aturan ini diterapkan, wilayah Indonesia akan terpecah-pecah karena laut di antara pulau-pulau dianggap sebagai perairan internasional.


Nah, melalui Deklarasi Djuanda 1957 pada 13 Desember 1957, beliau menegaskan seluruh perairan di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau Indonesia adalah bagian dari kedaulatan negara. 


Ia juga menetapkan batas laut teritorial sejauh 12 mil dari garis yang menghubungkan titik-titik terluar pulau Indonesia. Meski sempat mendapat penolakan dari negara lain, prinsip ini akhirnya diakui dunia melalui United Nations Convention on the Law of the Sea.


Berkat perjuangannya, Indonesia diakui sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut sekitar 5,8 juta km², garis pantai sepanjang ±81.000 km, dan lebih dari 17.000 pulau yang tetap menyatu. Inilah alasan kuat mengapa Djuanda dikenang sebagai Bapak Maritim Indonesia. Gimana? Perjuangan Ir. Djuanda untuk kedaulatan maritim negara kita memang nggak main-main, ya. Berkat jasanya, Indonesia jadi negara kepulauan yang berdaulat. 



Zona-Zona di Dalam Museum Maritim Indonesia

Nah, sekarang aku akan bahas tentang hal-hal apa saja yang ada di dalam museum ini. Museum Maritim Indonesia dirancang dengan konsep modern dan tematik. Setiap zona memiliki cerita yang saling terhubung, sehingga pengunjung bisa mengikuti alur sejarah secara runtut.


Museum Maritim Indonesia memiliki dua zona sebagai ruang pamernya, yaitu Zona Barat yang menampilkan hal-hal yang berkaitan dengan pelayaran dan pelabuhan serta Zona Timur yang berisi sejarah kemaritiman.


Zona Barat Museum Maritim Indonesia

Menurutku zona ini adalah salah satu bagian yang paling menarik. Di zona ini dijelaskan bagaimana pelabuhan berkembang dari masa ke masa, serta perannya dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.


Di zona ini kita bisa melihat evolusi pelabuhan di Indonesia serta sistem logistik dan distribusi barang. Terdapat beberapa pelabuhan yang ditampilkan selain Pelabuhan Tanjuk Priok, seperti Pelabuhan Belawan, Pelabuhan Cirebon, Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Teluk Bayur, dan lainnya.





Zona ini membuka wawasan bahwa pelabuhan bukan hanya tempat kapal bersandar, tapi juga pusat pergerakan ekonomi nasional.


Selain itu di zona ini juga diperlihatkan berbagai perlengkapan dan peralatan keselamatan yang ada dalam pelayaran, termasuk perahu karet sampai life jacket. 





Pengunjung bisa melihat perkembangan dunia perkapalan, dari kapal tradisional hingga kapal modern. Beberapa hal yang ditampilkan antara lain: model kapal dari berbagai era, teknologi pelayaran, dan sistem operasional pelabuhan modern.


Visualisasi yang digunakan cukup menarik dan mudah dipahami, bahkan untuk pengunjung yang nggak memiliki latar belakang di bidang maritim.


Di zona ini pula aku melihat ada diorama tempat nahkoda yang bisa jadi spot foto yang menarik juga bagi pengunjung… :D Kapan lagi berasa ada di dalam kapal tempat nahkoda mengendalikan kapalnya, kan… 





Zona Timur Museum Maritim Indonesia

Di zona ini, pengunjung diajak kembali ke masa lalu, saat nenek moyang bangsa Indonesia dikenal sebagai pelaut ulung. Di zona ini ditampilkan berbagai informasi tentang jalur perdagangan laut kuno, peran laut dalam penyebaran budaya, dan juga kapal-kapal tradisional Nusantara


Zona ini mengingatkan bahwa sejak dulu, laut sudah menjadi jalan utama yang menghubungkan berbagai wilayah di Indonesia.


Menariknya, ada satu spot di zona ini yang memamerkan hasil “harta karun” berupa piring-piring dan guci dari kapal yang tenggelam.




Ada juga cerita menarik soal kedatangan kapal dagang VOC ke Nusantara hingga terdapat diorama gudang rempah yang menurutku dibuat suasana seperti pada masa lampau. Bahkan dari baunya saja memang terkesan seperti gudang rempah dengan banyak rempah-rempah yang disimpan di sana… Bagus banget! 






Hal Menarik di Museum Maritim Indonesia

Kalau aku perhatikan lebih dalam, ada beberapa hal yang membuat museum ini memiliki nilai plus dan bisa diikuti oleh museum-museum lainnya.


  • Konsep Modern dan Interaktif

Informasi nggak hanya disajikan dalam bentuk teks, tapi juga visual digital yang menarik. Mungkin masukanku untuk museum ini hanya untuk memperbanyak lagi visual digital yang bisa melibatkan pengunjung untuk mencobanya.


  • Storytelling yang Kuat

Di dalam museum ini setiap zonanya terasa seperti bagian dari satu cerita besar tentang perjalanan maritim Indonesia. Bagusnya lagi setiap bagian juga penempatannya sesuai dan rapi.


  • Edukatif Tapi Nggak Membosankan

Penyampaian materi oleh guide aku rasa juga dibuat ringan dan mudah dipahami. Aku rasa penjelasannya cocok untuk berbagai usia.


  • Fokus pada Dunia Pelabuhan

Nah, menurutku sebagai negara maritim, ini yang jarang ditemukan di museum lain. Padahal pelabuhan memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Aku berharap semoga di setiap kota pelabuhan pun memiliki museum atau paling nggak tempat yang bisa menjadi wadah bagi masyarakatnya tahu tentang sejarah kotanya tersebut dan bagaimana pelabuhan ada dalam hidup sehari-hari mereka. 





Cara Mengunjungi Museum Maritim Indonesia

Karena nggak dibuka untuk umum secara bebas, berikut cara berkunjung ke museum ini:


  • Tentukan jadwal kunjungan terlebih dahulu.
  • Datang dalam rombongan minimal 20 orang.
  • Ajukan surat permohonan ke pihak pengelola
  • Hubungi nomor WA 08119434545 atau email ke info@maritimemuseum.id untuk info lebih lanjut. 

Tips dari aku, kalau Manteman  ingin berkunjung, coba bersama komunitas yang Manteman punya. Atau pantengin aja komunitas walking tour seperti Wisata Kreatif Jakarta. Siapa tahu mereka punya jadwal untuk ke Musuem Maritim Indonesia juga… :D 




Virtual Tour Museum Maritim Indonesia

Bagi Manteman yang belum punya kesempatan datang langsung, tenang saja. Museum ini juga menyediakan virtual tour melalui website resminya www.maritimemuseum.id. Coba langsung klik ke website tersebut, deh.

Dari virtual tour ini, pengunjung bisa merasakan pengalaman menjelajahi museum secara digital. Beberapa fitur yang bisa dinikmati di virtual tour ini antara lain:

  • Menelusuri ruang museum secara 360 derajat.


  • Melihat setiap zona pameran.


  • Mengakses informasi interaktif


  • Mengenal koleksi museum secara lebih dekat.


Virtual tour ini cukup detail dan memberikan gambaran nyata tentang isi museum. Meski nggak bisa sepenuhnya menggantikan pengalaman langsung, setidaknya ini menjadi alternatif yang sangat membantu.





Museum Maritim Indonesia adalah salah satu museum yang menawarkan pengalaman berbeda. Dengan konsep modern, cerita yang kuat, dan sudut pandang yang unik, museum ini sangat layak dikunjungi meskipun aksesnya terbatas. 

Kalau Manteman punya kesempatan, coba ikut kunjungan rombongan, Tapi kalau belum, virtual tour yang tersedia juga sudah cukup menarik untuk dijelajahi… 

Yuk, lebih kenal lagi sama negara sendiri dari Museum Maritim Indonesia.


Dita Indrihapsori





Staycation Anti Ribet Bareng Keluarga di Lenirra Villa and Resto Bogor



Rasanya sudah berkali-kali aku melihat konten tentang Lenirra Villa & Resto, baik di Instagram maupun di TikTok. Manteman juga pernah lihat nggak, sih? 


Meski namanya Lenirra Villa & Resto, tempat ini populer banget sebagai tempat glamping atau glamorous camping. Camping dengan tenda mewah dan fasilitas memadai di sekitarnya. 


Model tendanya unik, berbentuk kubah setengah lingkaran berwarna putih. Dikelilingi dengan hamparan sawah, tempat ini pun jadi pilihan staycation keluarga bagi banyak orang. 


Nah, karena belum pernah sama sekali ke Lenirra Villa & Resto, aku dan keluarga pun mencoba untuk liburan sekaligus staycation di sana. Wah, ternyata satu hari menginap rasanya kurang! :D Ada banyak fasilitas dan aktivitas yang bisa di lakukan di tempat tersebut.  Tempat ini memberikan lebih dari sekadar tempat menginap!


Gimana pengalamanku dan keluarga menginap di sini dan apa saja yang menarik di tempat ini? 



Perjalanan Anti Macet Menuju Lenirra Villa and Resto

Siapa Manteman yang suka menghabiskan weekend dengan staycation di kawasan Puncak Bogor? Bagi warga Jabodetabek sepertinya liburan ke Puncak, tuh, termasuk jadi salah satu pilihan utama untuk menginap sambil menikmati alam, ya. 


Sayangnya kalau weekend perjalanan ke arah Puncak seringkali tersendat saking banyaknya wisatawan luar kota yang mau menikmati Puncak. 


Nah, kalau mau menikmati alam sambil staycation juga tanpa harus kena kemacetan, menurutku Lenirra bisa jadi pilihan tepat. 




Lokasi Lenirra Villa and Resto berada di Cijeruk, Bogor.  Perjalanan dari rumahku menuju Lenirra terasa cukup menyenangkan. Lokasinya masih di area Bogor, jadi nggak terlalu jauh dari rumah kami.  Tempat ini cocok untuk keluarga yang ingin liburan tanpa harus menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, terutama kalau bawa anak-anak, ya.


Karena berada di Cijeruk, akses keluar tol yang paling dekat adalah gerbang tol Caringin (Tol Bocimi). Manteman di Jabodetabek bisa cek di Google Maps, ya, untuk arah perjalanan ke Lenirra Villa and Resto ini. 


Kalau dari rumahku, jarak ke Lenirra hampir 60 km dengan durasi perjalanan sekitar 1 jam 17 menit. Lumayan cepat, kan, ya!


Baca Juga: Staycation Singkat Penuh Cerita di Hotel Millennium Sirih Jakarta



First Impression di Lenirra: Tenang, Asri, dan Bikin Betah

Begitu kendaraan terparkir, aku bergegas ke front office untuk check in. Saat itu hujan mulai turun rintik-rintik. Begitu memperkenalkan diri dan menyampaikan maksudku untuk check in, staff di sana menyambut ramah dan langsung melakukan pengecekan data. 


Setelah semuanya oke, aku pun langsung diberikan kunci kamar. Sistemnya bukan memakai kartu, ya, tapi dengan kunci pintu manual untuk membuka pintu tendanya. 


Lanjut, aku dan keluarga pun menuju ke tenda yang sudah disiapkan untuk kami inapi selama semalam. 


Dari tempat parkir menuju ke tenda sudah ada jalur untuk jalan kaki yang rata sehingga memudahkan bagi yang membawa koper. Asyiknya, di sekelilingku saat berjalan adalah suasana hijau persawahan. Duh, bagus banget! Berasa sejuk dan asri sekali tempat ini. 


Ya, begitu sampai di sini pun kesan pertama yang langsung terasa adalah ketenangannya. Nggak ramai, nggak bising, dan lega. Gerimis kala itu juga membuat suasana jadi makin syahdu. Rasanya memang pas banget, ya, tempat ini jadi tempat untuk refreshing. 


Baca Juga: Pengalaman Menginap di Hotel Sultan Jakarta



Glamping yang Nyaman untuk Keluarga

Nggak perlu waktu lama berjalan, kami tiba di depan tenda. Begitu pintu terbuka, voilaaa… jujur aku langsung kagum, sih. Ternyata bagian dalamnya luas juga! 


Terdapat dua kasur dengan tambahan satu extra bed. Di depan kasur ada tv, dua bean bag lengkap dengan meja dan karpet. Di belakang tempat tidur bahkan ada ruang khusu toilet dan kamar mandi serta wastafel. Komplet! 




Lemari untuk menyimpan baju, kulkas mini, sampai tempat handuk dan payung pun juga ada, lho! 


Nggak salah, sih, kalau dsebut glamorous camping karena semua-muanya sudah tersedia. Tamu yang menginap jadi nggak perlu repot lagi buat merasakan sensasi menginap di tenda… :) 


Aku juga penasaran, kan, sebenarnya ini tendanya dari bahan apa dan bertanya-tanya juga, kok bisa kuat, ya. Pas aku pegang memang tenda ini tebal sekali. Yakin, sih, ini tenda kuat banget, apalagi juga ditopang oleh kerangka besi di sekelilingnya. 


Nah, untuk kamar mandinya juga menurutku cukup luas, ya. Ditambah lagi sudah ada water heater jadi aman walaupun udara di tempat ini dingin tetap bisa menikmati mandi air hangat. Toiletries juga sudah disediakan, ya. Tapi kebiasaanku kalau menginap tetap membawa sikat gigi, pasta gigi, sabun mandi, dan sabun muka sendiri. 


Oiya, meski menginap di tenda ini cukup nyaman tapi ada satu hal sebenarnya yang agak mengganjal. Jadi saat menginap di sini aku merasa kalau lantainya selalu basah. Sepertinya, sih, pengaruh perbedaan suhu di dalam tenda dan luar tenda yang menyebabkan kondensi, ya.


Makanya saran aku untuk pihak pengelola glamping juga sebaiknya keset yang ada di dalam tenda bisa ditambah lagi kuantitasnya… :) 


Sepertinya itu aja, sih, yang menurutku perlu perbaikan. Kalau hal lainnya menurutku sudah oke, ya… 


Nah, untuk menginap di tenda glamping Lenirra ratenya Rp 1,5 juta. Namun penginapan ini juga sering ngasih promo, lho. Bahkan pernah rate-nya sekitar Rp 800 ribu aja sudah termasuk breakfast. Lumayan banget, kan, kalau lagi ada promo.  



Baca Juga: Menikmati Liburan Tepi Pantai di Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung



Tipe Villa untuk Menginap Keluarga Besar

Selain menyediakan 18 tenda glamping, di Lenirra juga ada pilihan menginap di villa. Kalau menginap di villa bisa untuk 6-10 orang. Di dalam villa terdapat tiga kamar tidur dan dua kamar mandi. Ratenya sekitar Rp 4 juta sudah termasuk sarapan dan makan malam. 


Aku dan anak-anak sempat naik ke bangunan tinggi yang ada di sana dan saat berada di atasnya aku melihat bagian villa Lenirra. Di villa ini juga terdapat kolam renang. 




Sebenarnya ada kolam renang yang di dekat tenda glamping. Tapi kalau menginap di villa, ya, nggak perlu repot-repot lagi buat ke kolam renang yang di luar villa karena jalannya cukup jauh juga. 


Di dekat villa juga terdapat restoran dan tempat ngopi. Sedangkan restoran utama Lenirra ada di bagian atas yang lebih dekat dengan tenda-tenda glamping. 


Karena sudah mencoba mengunap di tenda glampingnya, aku pun jadi pingin mengajak keluarga yang lebih banyak lagi buat menginap di tipe villa. Semoga, ya, nanti ada rezeki lagi jadi bisa menginap di villa-nya… :) 



Fasilitas dan Aktivitas yang Bikin Keluarga Betah!

Bagiku, salah satu hal penting saat memilih tempat staycation keluarga adalah apakah anak-anak akan betah? Di Lenirra Villa and Resto, jawabannya: iya! :D 


Saat menginap di sana kami lebih banyak menghabiskan waktu di luar tenda. Di Lenirra Villa and Resto ada banyak sekali fasilitas dan aktivitas yang mesti dicoba!


  • Area Terbuka

 Di tempat ini ada beberapa area terbuka yang cukup luas untuk anak-anak bergerak bebas. Mereka bisa bermain bahkan berlari. Tapi jangan lupa tetap diawasi, ya! :D


  • Panahan

Salah satu aktivitas yang cukup menarik di tempat ini adalah panahan. Buat yang belum pernah coba, ini bisa jadi pengalaman baru yang seru. :) Ada pemandunya juga, jadi bisa sekalian minta diajari. :) 





  • E-bike 

Selain itu, tersedia juga e-bike yang bisa dipakai untuk berkeliling area Lenirra. Ini jadi cara yang menyenangkan untuk menikmati suasana sekitar tanpa capek berjalan kaki. 


  • Rumah Pohon

Buat anak-anak, area rumah pohon jadi salah satu spot favorit. Mereka bisa naik, bermain, dan berimajinasi seolah sedang punya markas rahasia sendiri. Hehe… Dari atas, terlihat hamparan sawah kehijauan. Bagus banget view-nya… 




  • Keliling Pematang Sawah

Kalau dipikir-pikir lagi, yang paling saya di sini adalah ada area pematang sawah yang luas yang bisa dijelajahi. Jalan santai di sini benar-benar terasa berbeda. Angin sepoi-sepoi, pemandangan hijau, dan suasana yang jauh dari hiruk pikuk kota membuat momen sederhana jadi terasa spesial. Aku bersama suami dan anak-anak bahkan beberapa kali keliling sawah saat menginap di Lenirra… :) 




  • ATV

Kalau ingin yang lebih menantang, ada juga ATV yang bisa dicoba. Ini cocok untuk yang ingin sedikit adrenalin sambil tetap menikmati suasana alam. 


  • Melukis Batu

Aktivitas lain yang cukup unik adalah melukis batu. Ini jadi kegiatan santai yang menyenangkan, terutama untuk anak-anak. Mereka bebas berkreasi dengan warna dan bentuk. Hasilnya bisa jadi kenang-kenangan kecil dari liburan ini. 


Nah, pas di sana sebenarnya aku juga mau melakukan aktivitas ini. Sayangnya karena sore hujan, kami jadi sempat mendekam di dalam tenda saja. Begitu besok paginya ingin melukis batu, ternyata supporting-nya hanya datang saat sore hari saja. 


  • Mini Farm

Di area mini farm, anak-anak bisa memberi makan domba. Interaksi langsung seperti ini selalu jadi pengalaman yang berharga buat mereka. Nggak hanya itu, ada juga pengalaman yang cukup jarang ditemui, yaitu berfoto dengan elang dan bahkan melihat ular dari dekat. Tentu saja tetap dalam pengawasan, jadi aman. 





  • Kolam Renang

Nah, satu lagi fasilitas dan aktivitas  yang nggak boleh dilewatkan, tentu saja berenang di kolam renang. Ini selalu jadi agenda wajib kalau staycation bareng anak-anak. Air di kolam renang Lenirra terasa segar, suasananya juga mendukung untuk santai. Oiya, aku dan keluarga juga beruntung banget dapat tenda yang posisinya ada di dekat kolam renang. :) 







Dengan banyaknya pilihan aktivitas ini, rasanya waktu sehari semalam di Lenirra jadi terasa cepat sekali berlalu. Tapi justru di situlah serunya karena setiap sudut temoay ini jadi punya cerita dan setiap aktivitas memberi pengalaman yang berbeda.


Baca Juga: Staycation di Hotel Grand Zuri BSD


Pengalaman Makan di Resto dan Diantar ke Kamar

Karena ini glamping, villa sekaligus resto, kami juga mencoba makan di area restorannya. Kebetulan saat kami menginap di sana ketika bulan puasa. Alhasil kami pun makan menu berbuka puasa dan sahur. 


Untuk buka puasa tersedia di restorannya. Ada banyaaaaak sekali menu dengan tema khas nusantara. Menu yang disajikan cukup beragam. Dari makanan berat sampai yang ringan, semua bisa dinikmati bersama. 


Aku mencoba untuk nggak gelap mata… :D Aku mengambil beberapa makanan dan minuman secukupnya. Dari yang aku ambil semua rasanya cocok sih buatku. Rasanya enak dan kuat di bumbu. 


Suasana makan di restonya juga cukup nyaman, nggak terlalu formal, tapi tetap terasa rapi. Pilihan tempat duduknya juga cukup fleksibel, ada area yang cocok untuk keluarga. Bisa di bagian dalam bangunan atau di semi outdoor. 




Nah, untuk sahurnya diantarkan ke tenda oleh staf yang bertugas. Nah, sebelumnya saat check in aku juga sudah diinfokan tentang menu sahur. Aku memilih paket menunya dan ketika diantar aku cukup terkejut, sih.  



Paket makanan yang dikirim sudah termasuk jus dan susu. Rasa makanannya enak dan nggak pelit bumbu. :D Satu paket makan sahur ternyata porsinya banyak banget. Aku dan keluarga sampai nggak bisa menghabiskannya.


Namun karena sayang kalau menyisa, aku pun inisiatif untuk memasukan sisa makanannya ke kulkas dan bisa kami bawa pulang keesokan harinya… :D




Gimana, Manteman tertarik buat menginap di tempat ini juga?

Menginap di Lenirra Villa & Resto mengingatkan aku lagi kalau liburan keluarga nggak harus selalu di tempat yang jauh, keluar kota atau keluar negeri. Cukup di dekat rumah, akses jalannya mudah, bisa bikin pengalaman liburan juga jadi menyenangkan, ya… 




Dita Indrihapsari


Mencicipi Papeda di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina Lenteng Agung Jakarta



Suatu hari anakku pernah bertanya, “Papeda, tuh, kayak gimana, sih, rasanya?” 


Aku dan suami juga jadi mengingat-ingat, apakah kami berdua pernah makan papeda atau nggak. Dan seingatku, aku belum pernah makan papeda asli yang dibuat oleh orang timur. 


Selama ini aku juga hanya melihat papeda cuma lewat acara kuliner TV atau video singkat di media sosial. Bentuknya unik, teksturnya terlihat lengket seperti lem, dan cara makannya pun berbeda dari kebanyakan makanan yang biasa aku konsumsi sehari-hari. 


Jujur aja, aku pun sebenarnya penasaran banget sama papeda. Dan ketika anakku nanya hal itu, langsunglah aku searching dan googling di mana makan papeda terdekat dari rumah… :D 


Nggak nyangka banget ternyata di dekat Depok, tepatnya di Lenteng Agung Jakarta Selatan ada, lho, rumah makan khas Ambon yang menyajikan papeda! 




Nama restorannya RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina. Untuk menjawab rasa penasaran kami sekeluarga terhadap papeda dan tentunya mau ngasih experience juga ke anak-anak, akhirnya aku dan suami pun memutuskan untuk makan di sana saat weekend beberapa waktu lalu. 


Gimana rasa papeda dan ada hal menarik apa saja di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina? Yuk, baca tulisanku soal itu di sini…  :) 



Lokasi RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina

Nggak sulit untuk menemukan tempat makan ini. Lokasinya persis di depan Stasiun Lenteng Agung yang mengarah ke Depok, ya. Tempatnya memang nggak langsung di pinggir jalan. Agak masuk sedikit ke gang, nah, nanti tempat makannya ada di sebelah kanan. Kalau ngetik di Google Maps RM Samasuru Ambon bisa langsung terlihat, kok. 


Berikut untuk alamat lengkapnya:

Jl. Raya Lenteng Agung Gg. H. Tahir, RT.10/RW.4, Lenteng Agung, Kec. Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12630


RM Samasuru Ambon buka dari siang sampai malam hari. Jam operasionalnya jam 12.00 sampai 22.00. 


Kalau bawa kendaraan roda empat sebenarnya bisa diparkir tepat di depan rumah makan ini. Tapi memang lahan parkirnya terbatas. Manteman kalau membawa mobil bisa juga memarkirkannya di Stasiun Lenteng Agung. Setelah itu tinggal menyeberang aja. 


Nah, kalau bawa motor sepertinya, sih, lebih aman, ya. Bisa lebih leluasa untuk urusan parkir. :) 


Baca Juga: Kuliner Legendaris di Pasar Jatinegara



Kesan Pertama, Tempat Sederhana tapi Terasa Hangat

Saat pertama tiba di RM Samasuru Ambon, kesan yang langsung aku rasakan adalah suasana rumahan. Rumah makan ini nggak terlalu besar dan nggak fancy, tapi justru di situlah letak kenyamanannya. 


Bangunannya hanya setengah tertutup. Di dalamnya terdapat beberapa meja dan kursi. Saat kami datang suasana sepi. Nggak terlihat pula yang berjaga di dalamnya. 





Kemudian aku pun mulai melihat ke arah belakang dan melihat seorang bapak yang lagi sibuk memotong-motong sesuatu, sepertinya, sih, memotong kayu. Setelah itu bapak tersebut pun menyambut kami dan langsung memanggil Mama Dila.


Kami dipersilahkan duduk dan melihat menu. Saat duduk di salah satu meja, akupun melihat di sebuah meja terdapat beberapa bahan belanjaan yang masih terbungkus plastik. 


Setelah berapa lama aku dan keluarga di situ barulah aku tahu kalau saat itu RM Samasuru Ambon baru buka setelah libur Lebaran dan Mam Dila juga baru belanja di pasar. :) 


Baca Juga: Pengalaman Makan di Obihiro Nikudon Blok M dan Gading Serpong



Bertemu Langsung dengan Mama Dila Latuconsina

Salah satu hal yang nggak aku duga dari momen mengajak anak-anak makan papeda ini adalah kesempatan untuk bertemu langsung dengan Mama Dila Latuconsina. Sosok di balik dapur yang memasak hidangan-hidangan khas Ambon di RM Samasuru.


Saat itu Mama Dila menyambut dengan ramah. Hangat, sederhana, dan terasa seperti sedang bertemu dengan keluarga sendiri. Apalagi aku juga memanggilnya mama, sebutkan yang sudah beberapa tahun ini nggak aku ucapkan setelah mamaku tiada. :’) Jadi, bagiku ada rasa senang dan terharu juga saat makan di sini…




Aku dan Mama Dila sempat berbincang sebentar. Dari obrolan kami terasa kalau makanan yang disajikan di sini bukan sekadar bisnis semata, tapi juga bagian dari identitas dan kecintaan terhadap budaya akarnya.


Mama Dila bercerita kalau aslinya ia memang orang Ambon yang tinggal di sana. Kemudian ia merantau dan tinggal di Bojong Gede. Sampai pada akhirnya, ia mengelola dan memasak di RM Samasuru Ambon bersama bapak. Ada juga anak yang membantunya. 



Menu di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina

Menu yang disajikan di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina memang nggak terlalu banyak. Sepertinya rumah makan ini memang fokus pada papeda dan ikan kuah kuningnya. 


Berikut menu-menu yang ada di rumah makan ini dan harganya:





Nah, saat ke sana, aku dan keluarga memesan menu paket yang bisa dimakan bersama-sama. Ada papeda, ikan kuah kuning kenari, cah kangkung, dan singkong rebus. Dengan harga menu paket Rp 150 ribu dan melihat porsinya menurutku makan di sini worth it, sih. 


Kemudian suamiku juga memesan ikan bakar. Karena saat itu ukuran ikan yang ada cukup besar, harganya pun bukan Rp 25 ribu tapi Rp 50 ribu. Saking cukup banyaknya porsi makanan, ikan yang dipesan pun dibawa pulang. Bahkan, papeda dan singkong rebusnya juga masih menyisa sehingga kami bawa pulang… :D 


Oiya, saat masih menunggu Mama Dila dan bapak memasak, aku juga mencium aroma yang sangat sedap. Wah, wangi rempahnya yang khas bikin nggak sabar buat menikmati makanannya! :D 


Saat itu sebenarnya kami juga ingin mencoba Es Pisang Ijo. Sayangnya karena baru buka dan belum membuat pisang ijonya, kami pun gagal untuk mencicipi menu penutup tersebut. Rasanya aku masih penasaran dan pingin balik lagi ke RM Samasuru Ambon, deh… :D 


Baca Juga: Sarapan di Sate Maranggi Haji Yetty Cibungur Purwakarta



Papeda, Makanan Sederhana tapi Penuh Cerita

Akhirnya menu yang kami nantikan pun datang juga. Setelah berturut-turut datang singkong rebus, cah kangkung, dan ikan kuah kuning kenari, barulah papeda datang dibawakan langsung oleh Mama Dila. 


Papeda disajikan dalam mangkuk cokelat besar. Dengan tekstur kental, bening, dan agak transparan sekilas papeda memang terlihat seperti lem. Ini mungkin yang membuat banyak orang ragu untuk mencoba pertama kali, ya.




Setelah mangkuk ditaruh di meja kami, Mama Dila pun langsung beraksi. Ia memutar-mutarkan dan mengaduk-aduk papeda dengan semacam alat pencapit atau sumpit kayu besar di kedua tangannya. 


Setelah itu, ia menaruhnya di setiap piring kami. Wah, menarik banget, deh, cara penyajiannya. Jujur saja, ini pengalaman baru buat kami. Kemudian barulah kami bisa menambah ikan kuah kuning kenari dan juga sayur cah kangkung. 




Papeda sendiri terbuat dari tepung sagu, yang dalam hal ini didatangkan langsung dari Ambon, lho. Dari segi rasa, papeda sebenarnya cenderung hambar. Nggak ada rasa gurih atau manis yang dominan. Tapi justru di situlah keunikannya. Papeda memang nggak dimaksudkan untuk dimakan sendiri. Papeda cocok banget dimakan dengan ikan kuah kuning. 


Baca Juga: Bumi Semboja Bogor, Resto Nostalgia di Rumah Nenek



Ketika Papeda Bertemu Ikan Kuah Kuning Kenari

Kunci dari menikmati papeda ada pada kuahnya. Di sinilah ikan kuah kuning kenari mengambil peran utama.


Kuahnya berwarna kuning cerah, dengan aroma rempah yang kuat. Saat papeda dicelupkan ke dalam kuah ini, semuanya berubah.


Rasa gurih langsung terasa, disusul dengan kesegaran dari bumbu-bumbu yang digunakan. Menurutku ada juga sentuhan rasa asam yang ringan, membuat rasanya semakin kompleks tapi tetap seimbang. Apalagi ditambah daun kemangi yang membuat sajian ikan kuah kuning jadi lebih beraroma. 




Dan di titik itulah kami semua sepakat kalau rasanya enak! Papeda yang tadinya hambar justru menjadi sempurna ketika berpadu dengan ikan kuah kuning. Teksturnya yang kenyal menyerap kuah dengan baik dan menciptakan sensasi makan yang unik sekaligus menyenangkan. :) 


Anak-anak memang awalnya sempat melihat dengan ekspresi bingung dengan cara makan dan penyajian papeda, tapi setelah mencoba, perlahan mulai terbiasa. Bahkan ada yang akhirnya nambah, lho! :D




Satu hal yang aku sadari juga kalau papeda itu ternyata sangat mengenyangkan. Aku ngerasa kalau aku nggak makan terlalu banyak papeda, tapi rasanya kenapa kenyang sekali, ya. :) Makanya papeda yang dibuat Mama Dila bisa kami bawa pulang lagi dan dilanjut makan di rumah untuk makan malam… Hehe… 


Karena sudah kekenyangan makan papeda, alhasil singkong rebusnya pun jadi nggak kemakan. Di rumah singkong rebus itu aku goreng dan bisa jadi camilan keluarga… :D 


Oiya, untuk ikan bakarnya karena kami makan di rumah rasanya juga mantap banget. Daging ikannya tebal dan banyak. Disajikan dengan sambal colo-colo makanya rasanya enak. 



Tips Buat yang Mau Coba Papeda di RM Samasuru Ambon

Buat Manteman yang penasaran dan ingin mencoba papeda di RM Samasuru Ambon, ada beberapa tips yang bisa jadi panduan:


  • Sebagai first timer, menurutku wajib, sih,  pesan papeda dengan ikan kuah kuning kenari. 

  • Jangan ragu untuk mencoba, meskipun makanannya terlihat asing.

  • Datang saat nggak terlalu ramai supaya lebih santai. Bisa datang seperti aku, sebelum jam 12 siang. 

  • Tanyakan juga cara makan papeda kalau masih bingung ke Mama Dila, ya. Kalau ada kesempatan bisa juga ajak Mama Dila untuk ngobrol. Sepertinya beliau memang senang sekali ngobrol dengan customer-nya… :) 




Dari pengalaman makan di RM Samasuru Ambon, aku jadi sadar kalau makanan bukan hanya soal rasa. Ada cerita di baliknya. Ada budaya, tradisi, dan perjalanan panjang yang membentuknya.


Papeda mungkin terlihat sederhana, ya. Tapi dibalik kesederhanaannya, ada kekayaan budaya dari Maluku dan Papua yang diwakilinya. Ditambah lagi dengan penggunaan sagu asli dari Ambon, membuat pengalaman makan aku dan keluarga kali ini terasa semakin autentik. 



Dita Indrihapsari


Uji Adrenalin di 9 Jembatan Ekspedisi Lembah Purba Sukabumi



Jujur aja, awalnya aku nggak nyangka perjalanan ke Lembah Purba di kawasan Situ Gunung Sukabumi ini akan jadi pengalaman yang “menguras adrenalin”.


Salah aku juga, sih. Pas awal diajak teman-teman kuliah untuk ke Situ Gunung, aku nggak sempat untuk baca seperti apa medannya, gimana kondisi di sana. Aku juga nggak ngeh ternyata perjalanan ekspedisi Lembah Purba durasinya lumayan lama dengan jarak yang cukup jauh juga, sekitar enam km. 


Yang aku bayangkan, tuh, cuma jalan santai di tengah hutan tropis, menikmati udara segar, dan bisa sambil foto-foto serta ambil footage video. Tapi ternyata, perjalanan ini berubah jadi ekspedisi yang penuh tantangan. Di sini, kita bukan hanya berjalan, tapi juga harus “menaklukkan” 9 jembatan dengan karakter yang berbeda-beda!


Ada jembatan-jembatan apa saja yang aku lalui? Di tulisan kali ini aku akan bahas satu per satu, ya, jembatan di Ekspedisi Lembah Purba Sukabumi yang menarik banget buat dicoba dan aku kasih rating juga seberapa sulitnya jembatan-jembatan tersebut untuk dilalui! :D



1. Jembatan Gantung Situ Gunung (Suspension Bridge)

8/10

Perjalanan dimulai dari ikon paling terkenal di kawasan ini, yaitu Jembatan Gantung Situ Gunung atau Situ Gunung Suspension Bridge. 


Jembatan ini bukan jembatan biasa. Dengan panjang sekitar 535 meter, jembatan ini pernah dikenal sebagai salah satu jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara. Jembatan yang aku lalui ini jembatan yang baru. Ada jembatan gantung Situ Gunung lama yang panjangnya hanya 243 meter dan posisinya ada di bawah. Kalau dari jembatan gantung panjang ini akan terlihat jembatan lama tersebut. 


Saat aku ekspedisi Lembah Purba sekitar setahun lalu, kondisi pengunjung cukup ramai. Begitu pun yang sedang melewati jembatan ini. Dari awal melangkah saja, aku sudah bisa merasakan sensasi goyangan di bawah kaki. Duh, asli bikin deg-degan banget. Aku sampai harus berpegangan dengan temanku. 




Sepertinya goyangan yang lumayan ini karena ada banyak orang di jembatan pada saat yang bersamaan. Soalnya ketika keesokan harinya aku melewati jembatan ini lagi setelah menginap di Lembah Purba, aku sama sekali nggak deg-degan. Jembatannya saat itu memang agak kosong. Adalah cuma sedikit orang yang sedang berada di jembatan. 


Awalnya aku jalan pelan, super hati-hati. Tangan sempat dingin tapi lama-lama, justru muncul rasa takjub. Pemandangannya benar-benar cantik, deh. Di bawahnya ada hutan lebat yang hijau. Dan saat berhasil sampai di ujung… rasanya lega sekaligus bangga. :D



2. Jembatan Tarzan

8,5/10

Setelah “pemanasan” di jembatan utama, perjalanan berlanjut hingga aku melihat sebuah jembatan yang aku pikir masa iya aku harus lewat jembatan ini. Kok, kesannya kayak nggak aman banget, yaaa! :D 


Namanya Jembatan Tarzan. Panjangnya sekitar 200 meter dengan ketinggian 75 meter. Aku bilang hal di atas bukan tanpa alasan. Jembatan besi ini bagian bawahnya berongga-rongga. Sisi kanan dan kirinya juga nggak tertutup rapat. Kebayang, deh, deg-degannya kayak apa pas mulai melewatinya.


Oiya, bahkan untuk bisa menyusuri jembatan ini aku dan pengunjung lain harus memasang harness di tali. Jadi setiap maju harness itu pun juga aku gerakkan. Tentunya hal ini untuk keamanan, ya.




Kelihatannya memang bikin deg-degan banget. Tapi begitu jalan hanya beberapa meter ke depan, aku sudah merasakan nikmatnya lewat jembatan ini. Tiba-tiba perasaan deg-degan dan takut kayak hilang gitu aja. 


Mungkin hal ini karena terbantu dengan adanya harness yang dipasang itu, ya. Jadi aku tersugesti kalau lewat jembatan ini akan aman-aman aja. 


View di sekeliling Jembatan Tarzan juga alamiiii banget! Berasa seperti ada di dalam hutan dengan rimbunnya pepohonan di sekitarnya. 



3. Jembatan Ki Haji

5/10

Dibandingkan jembatan sebelumnya, jembatan ini terasa lebih “ramah”. Jembatan Ki Haji terbuat dari kayu yang rapat. Ada pegangan di sampingnya juga. Selain itu jembatan ini juga nggak tinggi. 


Jembatan Ki Haji melewati aliran sungai dengan banyaknya bebatuan besar. Tentunya tetap hari hati-hati, ya, melewati jembatan ini walau kelihatannya bukan jembatan yang ekstrem.  





4. Jembatan Wallen

5/10

Setelah Jembatan Ki Haji, aku dan temn-teman lanjut menyusuri bagian yang ebih dalam di Ekspedisi Lembah Purba. Pohon rimbun dengan jalan tanah yang sedikit licin karena hujan semalam.


Setelah itu, aku melihat sebuah jembatan lagi. Namanya Jembatan Wallen. 




Jembatan ini berada di area yang rimbun, dengan pepohonan yang rapat di sekelilingnya. Cahaya matahari yang masuk di sela-sela daun membuat suasananya terasa dramatis.


Jembatan ini mirip seperti Jembatan Ki Haji. Jembatan ini juga melewati aliran sungai yang cukup deras. Jembatannya nggak terlalu panjang dan cukup mudah untuk dilewati karena dilengkapi juga dengan tali pengaman di salah satu sisinya. 


Jadi biar lebih aman melewati jembatan ini, kita bisa memegang talinya juga, ya. 



5. Jembatan Ki Enteh (Jembatan Setapak)

8/10

Namanya unik: Jembatan Ki Enteh atau sering juga disebut Jembatan Setapak. Sesuai namanya, jembatan ini memang sempit. Jalurnya nggak terlalu lebar, jadi kita harus benar-benar fokus saat melangkah ke depan.


Ini mungkin salah satu jembatan yang paling bikin aku harus konsentrasi penuh. Nggak bisa sambil lihat kanan kiri terlalu lama, karena harus menjaga keseimbangan.




Jembatan ini dilengkapi dengan dua tali pengaman  di samping kiri dan kanan. Ada tambahan tali lagi di sebelah kiri untuk memasang harness. Ya, jadi kalau lewat Jembatan Setapak harness harus dipasang, ya, supaya lebih aman. 


Jembatan ini sebenarnya juga nggak terlalu tinggi. Tapi karena modelnya yang hanya setapak aja makanya melewati jembatan ini tricky banget. Saat mulai menyusurinya sedikit demi sedikit, aku lumayan ada perasaan takut kalau jembatan ini akan miring… :D 


Alhamdulillah banget yang aku takutkan nggak kejadian. Hehe… :) 



6. Jembatan Tebe

5/10

Setelah itu nggak berselang lama, aku sampai di Jembatan Tebe. Di sini rasanya tenaga mulai terasa terkuras. Sebenarnya bukan karena jembatannya paling sulit, tapi karena perjalanan yang sudah cukup panjang.


Jembatan Tebe hampir sama karakteristiknya dengan Jembatan Ki Haji dan Jembatan Wallen. Jembatan ini nggak terlalu sulit dilewati. Ada aliran sungai di bawah jembatan yang jaraknya cukup dekat dengan jembatan. 




Di sini juga sekelilingnya rimbun banget! Ada banyak tanaman paku-pakuan di sekitar jembatan. Setelah melewati Jembatan Tebe dan jalan dengan ditemani suara aliran sungai, aku dan teman-teman sampai di Curug Kembar Lembah Purba!


Masya Allah, seger banget! Dari agak jauh aja cipratan air curug sudah bisa mengenai wajahku! :) Di curug ini aku dan teman-teman lumayan menghabiskan waktu yang agak lama sekalian istirahat. 



7. Jembatan Oren (Jembatan Nanjak)

100/10

Usai menikmati indahnya Curug Kembar Lembah Purba, kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Nah, sebelum sampai di curug sebenarnya aku sudah melihat sebuah jembatan yang tinggi di atas. Dan benar saja, setelah dari curug, kami memang harus melewati jembatan tersebut. 


Namanya Jembatan Oren atau Jembatan Nanjak. Disebut Jembatan Oren karena memang jembatan ini di bagian sisi kanan dan kirinya memiliki warna oranye tipis. 


Di awal masih bisa ketawa. Pas sampe ujung, nangeeeessss... :')


Kelihatannya, sih, jembatan ini biasa aja, ya. Bentuknya nggak estrem seperti Jembatan Tarzan atau Jembatan Setapak. Meski demikian, aku nobatkan Jembatan Oren sebagai jembatan ter-wadidawwow, deh! :D


Yap, ini dia salah satu yang sangat memorable saat melakukan Ekspedisi Lembah Purba: melewati Jembatan Oren!


Awalnya saat lewat jembatan memang biasa saja. Namun belum setengah perjalanan aku sudah mulai kehabisan napas. Kenapa? Karena bentuk jembatan ini menanjak! Makanya Jembatan Oren disebut juga Jembatan Nanjak sesuai jalurnya! :D 


Di sini, bukan hanya keseimbangan yang diuji, tapi juga stamina dan mental. Melangkah di jembatan sambil menanjak memberikan sensasi yang berbeda dna rasanya cuapeknya cuapek banget!


Napas mulai terasa lebih berat, tapi tetap harus semangat juga terus naik supaya bisa ada di ujung jembatan. Sempat berhenti beberapa kali, akhirnya aku bisa juga menyelesaikan misi melewati Jembatan Oren ini! Huhuhu…. 


Setelah itu, aku dan teman-teman langsung istirahat dan diam. Hahaha…. Kebayang, nggak, sih, aku yang jarang olahraga mesti naik jembatan laknat kayak gitu. Masya Allah, alhamdulillah sampai ujung jugaaaa…. :D 



8. Jembatan Bengkok

6/10

Ini dia jembatan terakhir yang aku lewati sata ikut Ekspedisi Lembah Purba di Sukabumi. Kalau dari fotonya kelihatan, kan, ya, kenapa jembatan ini dinamakan Jembatan Bengkok. Yap, karena da di tengah jembatan yang memang nggak lurus banget. 


Untuk Jembatan Bengkok ini cukup mudah dilalui, ya. Hanya saja, dari jembatan ke bagian bawah kelihatannya tinggi. Jadi tetap mesti hati-hati  banget lewat Jembatan Bengkok ini.





9. Jembatan Merah

Nah, sebenarnya masih ada Jembatan Merah di kawasan Lembah Purba. Namun aku dan teman-teman saat itu  nggak melewatinya. Selepas dari Jembatan Bengkok, kami langsung menuju perkemahan karena akan menginap semalam di Glamping Lembah Purba


Makanya aku rasanya pingin balik lagi ke Lembah Purba dan mencoba naik ke Jembatan Merah ini. Jembatan ini memang berwarna merah, ya. Hal ini membuat Jembatan Merah terlihat ikonik juga di Lembah Purba. 


Kalau Manteman ada yang sudah pernah ke Lembah Purba dan melewati Jembatan Merah ini? 



Perjalanan menyusuri 9 jembatan di Lembah Purba ini bukan cuma soal wisata alam. Ini jadi pengalaman yang mengajarkan banyak hal, seperti menghadapi rasa takut, melatih fokus dan keseimbangan, dan yang paling penting, percaya sama kemampuan diri sendiri.


Aku yang awalnya deg-degan bahkan untuk satu jembatan, akhirnya bisa melewatinya sekaligus. Dan yang paling menarik? Setelah selesai, bukannya kapok tapi malah pengen lagi…. :D 



Dita Indrihapsari 


Contact Form

Name

Email *

Message *