Menikmati Liburan Tepi Pantai di Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung


Saat pertama kali ke Belitung beberapa tahun lalu, aku menginap di sebuah guesthouse yang minim fasilitas. Suasananya seperti kos-kosan. Alhamdulillahnya kamar cukup bersih, kamar mandi juga di dalam dan tersedia breakfast walaupun kalau nggak salah ingat hanya berupa nasi goreng dan kue jajanan pasar. 


Nah, saat ke Belitung kembali untuk liburan keluarga, aku pun ingin juga merasakan menginap di penginapan yang lebih proper. Kalau bisa yang ada di tepi pantai langsung dan punya fasilitas lengkap, terutama kolam renang. 


Di Belitung ada banyak sekali pilihan hotel dengan kriteria tersebut. Akhirnya setelah melihat beberapa pilihan hotel dan foto-fotonya di sebuah online travel agent, aku dan suami pun memutuskan untuk menginap di Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung. Alhamdulillah pas ada rezekinya juga bisa menginap di hotel ini. :) 




Di tulisan kali ini aku mau sharing pengalaman dan alasan kenapa Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung adalah pilihan staycation yang nggak bakal bikin Manteman menyesal. Yuk, simak ulasannya di sini!



Bikin Kaget Karena Lokasinya!

Sebenarnya kalau boleh jujur aku agak kaget begitu tahu lokasi hotel ini. Pas booking aku nggak ngeh kalau Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung ini letaknya agak jauh dari bandara dan pusat kota Belitung. 


Aku pikir hotel ini ada di pinggir pantai dekat pusat kota. :D Makanya begitu sudah booking dan ngecek lagi lokasinya aku langsung kaget. Kepikiran gimana nanti, ya, buat makannya? Apa ada minimarket di dekatnya? Ahaha… Soalnya kalau staycation aku dan keluarga pasti ada aja ke minimarket, entah beli air mineral atau beli jajanan. :D 


Begitu sampai di Belitung, kami langsung order taksi online ke pusat kota untuk makan Mie Belitung Atep. Setelah itu, kami pun menuju hotel dengan mengorder taksi online lagi. Untungnya, walaupun jaraknya lumayan jauh sekitar 30 km dan harus menempuh 40 menit berkendara, ada juga taksi online yang mau menerima orderannya. :D 


Sebenarnya kalau di Jabodetabek mah durasi perjalanan segitu termasuk cepat, ya… :D Tapi kalau di Belitung karena jalanannya nggak macet dan cenderung sepi jadinya berasa memang agak jauh dan lama.


Sepanjang perjalanan aspal mulus menemani kami. Selepas dari pusat kota, di sisi jalan hanya tampak beberapa rumah warga yang agak berjauhan dan perkebunan dengan pohon-pohonnya. 


Suasana di sekitar hotel. Sepi dan menenangkan...


Begitu mendekati hotel, pemandangan pantai Belitung pun terlihat jelas. Wah, rasanya jadi nggak sabar untuk island hopping esok harinya.   


Oiya, walaupun jauh dari pusat kota, asyiknya hotel ini dekat banget sama Pantai Tanjung Tinggi. Itu lho, pantai ikonik tempat syuting film Laskar Pelangi yang penuh dengan batu granit raksasa. 


Dan begitu sampai di hotelnya, mengeksplorasi apa saja yang ada di dalamnya, aku bisa bilang kalau lokasinya sama sekali bukan masalah! Asli, hotel ini enak banget buat menikmati liburan di Belitung. 


Menginap hanya dua malam di hotel ini rasanya juga KURAAAANG! :D 




Terselamatkan Karena Ada Restoran dan Minimarket!

Kekhawatiranku kalau bakal susah cari makan dan nggak bisa jajan di minimarket rasanya buyar begitu aku melihat persis di sebelah hotel ada restoran seafood dan minimarket. 


Memang bukan Indomaret atau Alfamart, tapi isinya cukup lengkap dari mulai camilan, minuman, Pop Mie, sampai ada minyak-minyakan juga… :D Di sana aku beli air mineral beberapa botol besar untuk stok di kamar hotel dan juga beberapa jajanan untuk sekeluarga.


Restoran seafood yang ada di sebelah hotel juga nggak mengecewakan. Nama restorannya Kampong Dedaun. Kami makan malam di restoran itu dan menurut aku makanannya enak-enak! 


Kami memesan udang bakar, cumi, kerang bakar, dan beberapa menu lainnya. Untuk menu kerang bakarnya seenak ituuuu… Rasanya aku di Depok belum pernah makan kerang dengan tekstur kenyal, terasa segar, dan ukurannya juga lumayan besar.  :D 


Kebayang, kan, kalau wisata ke destinasi yang terkenal akan pantainya udah bisa dipastikan produk ikan dan boga baharinya juara! 



Kenapa Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung Jadi Pilihan Tepat?

Selesai check in, kami langsung menuju kamar yang sudah disiapkan. Kami mendapat kamar di lantai paling atas dan paling pojok dekat dengan pantai! Kamar di hotel ini memiliki balkon dan semua mengarah ke pantai serta laut. 




Begitu masuk kamar dan membuka pintu ke balkon, aku takjub banget sama view-nya! Dari balkon ini kami bisa melihat keseluruhan hotel dan juga lautan! :) Di tengah-tengah hotel juga terdapat taman dengan berbagai jenis pohon dan bunga menambah nilai plus hotel ini. Bagus banget! 


Oiya, di balkon juga ada sofa santai dan kursi, ya. Jadi balkon ini rasanya memang dirancang untuk tamu yang mau menikmati laut Belitung. Suasananya menenangkan dan bikin nyaman. Kalau Manteman mencari paket lengkap antara kemewahan, ketenangan, dan akses pantai, Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung juaranya.





Satu hal yang paling aku suka juga adalah lokasinya yang berada di kawasan Sijuk, Belitung. Daerah ini jauh lebih tenang dibandingkan pusat kota Tanjung Pandan. Bayangkan bangun tidur, buka gorden, dan langsung disambut oleh garis pantai yang landai dengan air laut berwarna turquoise. Huhu, aku, tuh, sampai terharu menginap di hotel ini. 


Seperti namanya, hotel ini juga benar-benar definisi "resort tepi pantai" yang sesungguhnya. Saat menginap di sini, kami sekeluarga menyempatkan banyak waktu untuk main di pantai, baik di pagi hari maupun sore hari. 


Aku dan suami hanya sekedar berkeliling menyusuri pantai sampai ambil beberapa footage. Suamiku juga sempat bikin toys photography di sini. Pantainya bersih dan tenang. Pasirnya juga putih halus. 





Kalau anak-anak udah pasti main air dan juga mencari kerang… :D  Karena ombaknya cukup tenang, area pantai ini sangat aman untuk sekadar main air atau jalan santai di pagi atau sore hari.


Hotel ini juga punya sunset point yang bagus. Nggak perlu jauh-jauh ke tempat lain buat cari sunset. Duduk saja di area resto terbuka atau di pinggir pantai hotel, kita bisa melihat langit berubah warna jadi oranye.


Setiap sudut hotel ini sangat estetik. Mulai dari lorong kamar, area kolam renang, hingga taman-tamannya sangat terawat. Cocok banget buat kamu yang hobi update di Instagram.


Dari hotel ini juga cuma butuh beberapa menit berkendara ke Pantai Tanjung Kelayang, titik keberangkatan kalau kita mau island hopping ke Belitung. Jadi, kami nggak perlu habis waktu lama di jalan untuk memulai island hopping!



Banyak Fasilitas Mewah yang Bikin Betah

Satu hal yang aku suka juga di Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung adalah desainnya sudah modern tapi tetap memberikan sentuhan elemen lokal. 


Berikut beberapa fasilitas yang menurutku standout banget yang ada di hotel ini.


1. Kamar dengan View Juara

Kamar di hotel ini didesain sangat nyaman dengan balkon pribadi. Menghabiskan waktu di balkon sambil lihat lautan, minum kopi atau sambil baca juga asyik banget. 


Semua kamarnya ocean view, ya. Fasilitas di dalam kamarnya juga sudah lengkap, mulai dari amenities, handuk, kulkas mini, hair dryer, dan lainnya. 





2. Kolam Renang Outdoor yang Luas

Ini adalah spot favorit anak-anak (dan aku juga!). Kolam renangnya cukup luas dan menghadap langsung ke laut. Ada area dangkal untuk anak-anak, jadi aman banget buat keluarga. Di sekitar kolam juga banyak kursi santai untuk kamu yang cuma ingin berjemur sambil menikmati vibes pantai.





3. Kuliner Lokal di Restoran 

Menginap di sini juga jangan lewatkan sarapannya! bRestoran hotel menyiapkan berbagai menu variatif, termasuk menu khas lokal, lho. Aku sempat mencoba menu Mie Belitung dan Kue Bingke. Untuk rasa makanannya aku rasa juga cukup enak, kok.  





Menikmati sarapannya juga bisa indoor dan outdoor. Aku dan keluarga saat makan di sini makan di bagian outdoor jadi bisa sambil melihat pantai. 





4. Spa dan Gym

Di hotel ini juga terdapat fasilitas spa dan gym. Aku sendiri nggak mencoba fasilitas spanya, ya, Tapi aku sempat ke ruangan gym yang terdapat di sebelah kolam renang. Mau treadmill di sini langsung bis melihat pemandangan pantai juga. :D




5. Perpustakaan dengan Nilai Historis

Nah, ini dia fasilitas yang paling bikin aku takjub saat menginap di Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung. Jadi, hotel ini memiliki satu ruangan khusus yang dibuat menjadi perpustakaan. Jarang-jarang banget, kan, ya hotel ada perpustakaannya.



Setelah melihat ke bagian dalam perpus, aku juga jadi menyadari kalau perpus ini bukan perpus biasa! 


Isinya bukan hanya buku-buku semata tapi juga ada cerita historis di dalamnya. Selain ada cerita tentang Pulau Belitung, ada juga beberapa artefak yang dipjang di perpustakaan ini. 


Ternyata artefak-artefak tersebut bukan cuma hiasan aja. Artefak tersebut dulunya dimiliki oleh Lo Sam Kie (1884-1959), seorang sinshe atau ahli pengobatan Cina yang datang dari Guangdong, Cina ke Indonesia tahun 1901. Menarik banget, ya! 






6. Playground Anak

Menurutku, selain cocok sebagai hotel untuk honeymoon, Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung juga cocok banget sebagai hotel keluarga. Di hotel ini terdapat fasilitas kids playground yang cukup luas. Tersedia berbagai mainan dan ada juga beberapa kursi kecil untuk anak-anak. 





Sempat Berganti Kamar Karena Masalah Teknis 

Nah, dari sekian banyak hal yang aku suka di hotel ini, sebenarnya ada satu hal aja yang kurang sreg di hatiku. Jadi, aku dan keluarga setelah check in dan menempati kamar mendapati kalau kamar kami ini nggak dingin. Sepertinya ada masalah sama AC-nya. Oiya, kami memesan kamar tipe deluxe, ya. 


Aku dan suami sempat berpikir untuk ganti kamar. Karena kami menginap di sini saat musim liburan, tentunya kamar-kamar di hotel ini juga sudah pada penuh. Setelah pihak hotel konfirmasi, ternyata ada satu kamar kosong yang bisa kami tempati.


Hanya saja, kamar yang tersedia itu memang tipenya lebih tinggi, yaitu tipe executive, tapi lokasi kamarnya ada di lantai lebih rendah dan view-nya nggak sebagus kamar yang sudah kami tempati ini. 


Layout kamarnya pun aku lebih suka yang tipe deluxe dibandingkan tipe executive ini. Tapi yang tipe executive memang berada lebih dekat dengan lift, Ukurannya juga sedikit lebih besar. Kami juga mendapat compliment berupa kasur tambahan. 


Kamar tipe deluxe

Kamar tipe executive


Kebayang, kan, ya, betapa kami bimbang mau pindah kamar atau nggak… :D Alasannya, ya, karena kami sudah merasa klop banget sama kamar ini. Sayang banget karena view-nya memang sebagus itu. 


Namun akhirnya aku dan suami pun memutuskan untuk pindah kamar supaya lebih nyaman saat tidur dan nggak kegerahan… :D 

 


Rate Kamar Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung

Menurutku rate hotel di Belitung masih jauh lebih rendah dibanding dengan hotel-hotel di Jabodetabek. 


Dengan segala fasilitas dan view pantai, rate untuk tipe kamar deluxe atau kamar tipe terendah di sini sekitar Rp 600 ribuan sudah termasuk sarapan untuk 2 pax. Sedangkan tipe kamar executive ratenya sekitar Rp 800 ribuan sudah termasuk sarapan. 


Namun rate ini tergantung musim dan tanggal, ya. Bisa lebih tinggi. Tapi waktu aku menginap di sana saat liburan, rate-nya juga nggak sampai Rp 1 juta per malam sudah termasuk sarapan. Kalau nggak salah sekitar Rp 800 ribuan. Rate segini best deal, sih, untuk fasilitas yang ada, ya. 





Secara keseluruhan, Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung bisa jadi pilihan akomodasi tepat bagi siapa saja yang menginginkan kenyamanan bintang 4 dengan pemandangan alam yang luar biasa. 

Fasilitasnya lengkap, lokasinya dekat dengan destinasi populer, dan suasananya sangat mendukung untuk relaksasi total. Cocok juga buat kaum-kaum introvert seperti akuuuu! :D 

Tertarik untuk mencoba menginap di sini saat ke Belitung nanti?


Dita Indrihapsari


Sejarah dan Fakta Menarik Stasiun Tanjung Priok Jakarta



Bagi warga yang berdomisili di Jakarta Utara bisa jadi Stasiun Tanjung Priok sudah nggak asing lagi, ya. Adakah Manteman yang pernah naik kereta dari stasiun ini?


Meskipun aku juga tinggal di Depok dan nggak terlalu jauh dari Jakarta, tapi baru kali ini bisa berkesempatan menyusuri setiap sudut Stasiun Tanjung Priok Jakarta berkat walking tour spesial bersama Wisata Kreatif Jakarta beberapa bulan lalu. 


Rasanya seneng bangt karena kalau sendiri kayaknya nggak mungkin bisa  masuk sampai ke rooftop bahkan melihat bunker peninggalan Belanda di stasiun ini!


Lokasi Stasiun Tanjung Priok yang nggak jauh dari pelabuhan ternyata memiliki cerita panjang sejak masa kolonial. Usia bangunannya pun sudah berusia 100 tahun lebih, lho. Kalau dilihat sekilas, mungkin nggak semua orang menyadari bangunan stasiun ini jadi  salah satu stasiun paling bersejarah di Indonesia. 

Yuk, aku ceritain gimana sejarahnya Stasiun Tanjung Priok Jakarta dan apa saja hal menarik yang ada di stasiun ini.



Awal Mula Stasiun Tanjung Priok: Ketika Pelabuhan Butuh Jalur Kereta

Keberadaan pelabuhan, tuh, penting banget, kan, ya bagi Batavia tempo dulu. Perdagangan dijalankan dari pelabuhan hingga ke tangan masyarakat. Sebelum ada Pelabuhan Tanjung Priok, ada Pelabuhan Sunda Kelapa yang beroperasi kala itu. 


Nah, pada akhir abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda memindahkan pusat pelabuhan dari Sunda Kelapa ke Tanjung Priok karena kondisi pelabuhan lama yang dianggap kurang memadai untuk kapal-kapal besar.


Pelabuhan Tanjung Priok pun lama-lama berkembang pesat sebagai gerbang utama perdagangan di Batavia. Kapal-kapal dari Eropa, Asia, hingga berbagai wilayah Nusantara bersandar di sini. Aktivitas bongkar muat barang dan mobilitas penumpang sampai meningkat tajam.




Karena makin aktifnya pelabuhan tersebut, transportasi darat yang efisien untuk memindahkan barang dari pelabuhan ke berbagai tempat pun sangat dibutuhkan. 


Nah, kereta api pun jadi solusi utama untuk menghubungkan pelabuhan dengan pusat kota Batavia serta daerah-daerah lain di Jawa. Lalu dibangunlah stasiun pertama di kawasan Tanjung Priok pada akhir abad ke-19.


Stasiun Tanjung Priok generasi pertama dibangun oleh Burgerlijke Openbare Werken sekitar tahun 1883 dan dibuka pada 2 November 1885.


Namun, perkembangan pelabuhan yang semakin pesat membuat bangunan stasiun awal dianggap nggak lagi memadai. Pemerintah kolonial pun membuat stasiun baru yang lebih besar dan lebih megah.



Pembangunan Stasiun Baru Tanjung Priok: Proyek Ambisius Kolonial

Pembangunan stasiun baru dimulai pada tahun 1914 oleh perusahaan kereta api negara Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS). Proyek ini dipimpin oleh arsitek dan insinyur Belanda, C.W. Koch. Pembangunan sempat terhambat oleh Perang Dunia I, tapi akhirnya New Stasiun Tanjung Priok rampung dan resmi dibuka pada 6 April 1925.


Stasiun baru ini dirancang bukan hanya sebagai fasilitas transportasi, melainkan juga sebagai gerbang utama bagi para pendatang yang tiba melalui jalur laut. 


Banyak penumpang kapal dari Eropa yang turun di Pelabuhan Tanjung Priok, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api dari stasiun ini menuju pusat kota Batavia atau kota-kota lain di Jawa. Bahkan dulu di stasiun ini juga disediakan banyak kamar seperti hotel, lho!


Karena perannya yang strategis dan penting, bangunan stasiun dirancang megah dan modern. Stasiun ini menjadi simbol kemajuan teknologi dan infrastruktur kolonial. Terlihat, kan, betapa besar dan megahnya stasiun ini. 



Gaya Arsitektur Stasiun Tanjung Priok: Sentuhan Eropa

Salah satu daya tarik utama Stasiun Tanjung Priok adalah arsitekturnya. Saat pertama kali aku berada di Stasiun Tanjung Priok, aku juga ngerasa kagum banget sama bangunannya. 


Stasiun Tanjung Priok berbeda dengan stasiun-stasiun lain yang berada di jalur kereta Jabodetabek, kan.  


Ternyata bangunan Stasiun Tanjung Priok ini mengusung gaya modern awal dengan pengaruh Art Deco yang mulai berkembang di Eropa saat itu.




Salah satu elemen yang menjadi ciri khas Stasiun Tanjung Priok adalah atap peron melengkung (overkapping) yang terinspirasi dari desain Stasiun Centraal Amsterdam. 


Ciri khas gaya arsitektur art deco pada Stasiun Tanjung Priok baru ini juga bisa terlihat pada:

- Garis-garis geometris tegas

- Bentuk bangunan yang simetris

- Jendela-jendela besar

- Ruang utama dengan langit-langit tinggi


Saat turun kereta dan berada di peronnya, aku pun nggak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil beberapa dokumentasi di stasiun ini, terutama pada bagian atap peron yang melengkung itu… :) 



Stasiun Tanjung Priok di Masa Kemerdekaan

Saat masa kolonial Stasiun Tanjung Priok berada di masa kejayaannya. Menjadi stasiun yang super sibuk dan disambangi banyak orang, baik orang Belanda maupun pribumi 


Setelah kemerdekaan, pengelolaan kereta api diambil alih oleh pemerintah Indonesia melalui Djawatan Kereta Api (DKA). Stasiun Tanjung Priok pun resmi menjadi milik Indonesia.


Selain kereta barang, Stasiun Tanjung Priok juga mengoperasikan kereta penumpang jarak dekat maupun jarak jauh. 


Namun seiring waktu, peran Stasiun Tanjung Priok mulai berkurang karena perubahan pola transportasi dan distribusi logistik. Aktivitas penumpang pun nggak lagi seramai masa kolonial.


Pada tahun 1999, operasional stasiun sempat dihentikan oleh pemerintah. Beberapa bagian di stasiun mengalami kerusakan dan terbengkalai. Kondisinya sempat memprihatinkan. Padahal bangunan ini punya banyak nilai sejarah. 



Stasiun Tanjung Priok Kembali Beroperasi 

Alhamdulillah-nya pada 2009 Stasiun Tanjung Priok mulai beroperasi kembali. Pemerintah bersama PT Kereta Api Indonesia melakukan revitalisasi dan reaktivasi jalur menuju Stasiun Tanjung Priok.


Renovasi dilakukan tanpa menghilangkan karakter asli bangunannya. Struktur utama tetap dipertahankan karena bangunan ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kementerian terkait sejak awal 1990-an.


Upaya ini menjadi contoh penting bagaimana bangunan bersejarah bisa tetap difungsikan tanpa kehilangan nilai historisnya.




Saat aku dan teman-teman dari Wisata Kreatif Jakarta mengeliling stasiun ini pun pekerjaan pemeliharaan masih berjalan. Ada ruangan-ruangan yang belum difungsikan karena masih direnovasi. 


Aku berharap banget Stasiun Tanjung Priok bisa 100% berfungsi dan smeua ruangan di dalamnya bisa digunakan.


Oiya, saat ini, Stasiun Tanjung Priok hanya melayani Commuter LIne rute Jakarta Kota - Tanjung Priok serta kereta barang, ya. Meskipun rutenya pendek, tapi, ya, kalau aku perhatikan penumpangnya tetap banyak. 


Aku naik kereta Commuter Line ke Tanjung Priok dari Stasiun Jakarta Kota. Jadwal kereta ke Stasiun Tanjung Priok ada setiap 30 menit sekali, ya. Karena rutenya memang pendek dan cepat nggak heran kalau jadwalnya juga mepet gitu. 



Status Cagar Budaya Stasiun Tanjung Priok

Stasiun Tanjung Priok ditetapkan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya melalui Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tahun 1993. Selain itu juga ditetapkan sebagai benda cagar budaya lewat SK Menbudpar tanggal 25 April 2005.


Perlindungan ini karena bangunan melebihi usia 50 tahun, memiliki nilai arsitektur kolonial, dan memiliki makna penting dalam sejarah perkeretaapian dan transportasi nasional. 


Sebagai bangunan cagar budaya, Stasiun Tanjung Priok nggak boleh diubah sembarangan. Setiap renovasi harus mempertimbangkan nilai sejarah dan keaslian arsitekturnya.





Ruangan- ruangan dan Hal Menarik di Stasiun Tanjung Priok

Setelah menjelajahi Stasiun Tanjung Priok aku mendapati banyak ruangan dan hal-hal menarik yang ada di stasiun ini. Ada beberapa benda yang masih ada sampai sekarang padahal sudah ada sejak masa kolonial dulu. 


Ruangan Pribumi dan Non-Pribumi

Ternyata dahulu saat masa kolonial ada bagian di dalam Stasiun Tanjung Priok yang dibedakan berdasarkan kelas sosial. Ada ruang tunggu khusus pribumi dan ryang tunggu non-pribumi. 


Untuk ruang tunggu non-pribumi alias untuk orang Belanda dan bangsawan bahkan disediakan ruang dansa hingga bar! Sampai saat ini pun keberadaan bar-nya juga masih ada dan ruangannya saat aku datang masih dalam renovasi. 


Sepertinya, sih, ruangan ini akan dijadikan kafe atau ruangan yang bermanfaat lainnya. :) 


Ruang Tunggu Pribumi

Ruang dansa

Ruang bar



Bunker yang Terendam

Stasiun Tanjung Priok ternyata juga memiliki bunker bawah tanah, lho. Bunker ini pun bentuknya seperti terowongan yang katanya, sih, akan menyambung sampai ke Pelabuhan Tanjung Priok. 





Nah, saat ini bunker tersebut nggak bisa dilewati, ya. Jadi aku hanya bisa melihatnya dari atas saja karena bagian bunker terendam air. :) 



Rooftop Stasiun

Mengikuti walking tour seperti ini kelebihannya juga bisa masuk sampai ke tempat-tempat yang belum tentu bisa dimasuki kalau wisata sendiri. 


Begitupun di Stasiun Tanjung Priok. Saat mengikuti walking tour ini aku bahkan bisa masuk sampai ke rooftop stasiun! Di rooftop ini bisa terlihat dengan jelas Terminal Tanjung Priok dan crane-crane yang berada di Pelabuhan Tanjung Priok.





Berbagai kendaraan dari yang kecil sampai yang besar juga sibuk berlalu-lalang. Melihat Tanjung Priok dari atas gini aku jadi ngebayangin pada masa kolonial dulu pasti juga suasananya sibuk dan nggak berhenti bergerak, ya. 



Dari Urinoir sampai Lift Makanan

Stasiun Tanjung Priok juga masih menyimpan hal-hal yang sudah dipasang sejak dulu. Aku melihat urinoir asli dari zaman Belanda! Urinoir ini terbilang berukuran besar jika dibandingkan dengan urinoir yang ada sekarang. 




Aku pun juga melihat ruangan dapur di Stasiun Tanjung Priok. Hal ini dibuktikan dengan adanya cooker hood atau alat untuk menyedot atau menyerap uap hasil dari memasak. Selain itu masih ada juga lift makanan yang menghubungkan dapur dan ruang makan. 

Lift katrol dengan kayu tersebut bentuknya kecil dan saat ini juga sudah nggak bisa digunakan lagi. 





Gimana, menarik banget, ya, yang ada di Stasiun Tanjung Priok… :) Bagi Manteman yang belum pernah ke Stasiun Tanjung Priok, yuk, sekali-kali mampir ke stasiun tua ini… Aku berharap semoga stasiun ini tetap terjaga sampai kapanpun…


Dita Indrihapsari


Kuliner Legendaris di Pasar Jatinegara


Jalan-jalan menyusuri Pasar Jatinegara dan sekitarnya seakan membuka memoriku. Duluuu waktu aku masih kecil sampai remaja, aku pernah diajak beberapa kali oleh mamaku ke pasar ini. 


Mamaku seorang penjahit dan suka membuat souvenir. Aku diajak mamaku ke Pasar Jatinegara untuk membeli aksesoris-aksesoris di sana yang memang harganya terbilang lebih terjangkau. 


Selepas belanja, seingatku kami pernah membeli buah, sate, gorengan, dan jajanan lainnya di sana.  


Nah, makanya saat beberapa bulan lalu mengikuti walking tour rute Pasar Jatinegara bersama Jakarta Good Guide (JGG), aku kembali mengenang masa-masa dulu waktu jalan-jalan ke Pasar Jatinegara atau sering juga disebut Pasar Meester ini… :D 


Nggak hanya ke ikon atau bangunan bersejarah, rute walking tour Pasar Jatinegara ternyata juga banyak banget menyambagi tempat-tempat kuliner di sana. Di tulisan ini  aku urutin, ya, tempat-tempat kuliner apa aja yang sempat aku datangi di Pasar Jatinegara dan sekitarnya… :D 



Sate Keroncong

Aku dan teman-teman walking tour melewati Sate Keroncong setelah dari Kantor Pos Jatinegara. Lokasinya dekat dari jalan raya, Jalan Matraman Raya. 


Dari namanya aja udah unik, ya. Kenapa namanya bisa Sate Keroncong? Sebenarnya nama asli warung sate ini adalah Sate Sederhana. Namun karena dulu sering ada pemusik atau pengamen yang memainkan musik keroncong sambil menemani makan para pelanggan sate, akhirnya warung ini pun lebih dikenal dengan nama Sate Keroncong. 





Warung sate ini juga udah ada dari lama banget, lho. Mulai buka sekitar tahun 60-an dan masih bertahan sampai sekarang. 


Katanya menu andalan di sini adalah Sate Kambing. Ada juga menu lain seperti gulai dan tongseng. 


Nah, sayangnya aku memang nggak sempat mencicipi Sate Keroncong ini. Tadinya setelah selesai walking tour mau mampir lagi ke warung sate ini tapi rencana itu nggak terlaksana. Mungkin next time aku mau ke sana lagi, dan siapa tahu ketemu dengan pemain musik keroncongnya juga… :) 



Cakwe Wastafel

Hah? Aku pun kaget, kok, begitu mendengar namanya! Tapi nggak salah, tempat kuliner ini memang dikenal dengan nama Cakwe Wastafel. 


Kenapa dinamakan demikian? Sebabnya satu, tempat penggorengan cakwe itu memang di wastafell :D Iya, jadi wadah menggorengnya kayak disemacam wstafel, bukan penggorengan biasa. Katanya, sih, panasnya lebih merata kalau digoreng di “wastafel” ini.


Aku sempat membeli cakwe yang dilah oleh Bang Zaenal ini seharga Rp 10.000,-. Bayarnya juga bisa pakai QRIS, ya. Nah, untuk rasanya memang enak, sih. Cakwenya juga empuk.






Terminal Combro

Terminal Combro juga termasuk kuliner legend di Pasar Jatinegara. Sudah ada sejak tahun 1990 dan masih banyak banget peminatnya sampai sekarang. Bahkan, kita kalau mau menikmati combronya disarankan untuk pesan dulu via WhatsApp paling nggak sehari sebelumnya. Kalau nggak, ya, bisa gagal makan combro nanti! :D 


Saat aku sampai di Terminal Combro memang terlihat beberapa orang sedang memasak. Ada juga seorang bapak yang sedang mengupas singkong sebagai bahan baku pembuatan combro. Katanya, singkong-singkong itu dari Bogor dan Sukabumi. 





Karena banyak peminat, kalau nggak salah aku hanya berhasil kebagian dua combro aja. Pas mencobanya, memang nggak salah, sih, warung combro ini bisa bertahan lama. Isiannya gurih, padat, dan banyak! Harga satuannya Rp 3500,- aja. 


Nha, di Terminal Combro nggak hanya menjual combro aja tapi juga ada timus, roti goreng isi, gandasturi, ongol-ongol, getuk lindri, martabak mini, dan lainnya. 



Siomay Wawa

Buat yang suka sama siomay atau dimsum, jangan sampai kelewatan jananan ini kalau lagi ke Pasar Jatinegara. Siomay Wawa ini katanya juga termasuk kuliner legend di sana dan sudah ada sejak lama. 


Di sini siomay dan ngohiong dibuat fresh dengan tekstur padat dan rasa gurih dari campuran ayam dan udang. Karena banyaknya permintaan, siomay di sini sering habis cepat. Beberapa pelanggan bahkan memesan sehari sebelumnya supaya kebagian sebelum dagangan ludes.





Nah, kalau dilihat penampakan siomay ini sebenarnya lebih mirip ke dimsum, ya. Ukuran siomaynya sendiri pun juga cukup besar. Untuk satu porsi isi 5 harganya Rp 20.000,-. 


Di sini juga dijual ngohiong dengan harga Rp 25.000,- Kalau ngohiong, bahan utamanya mirip seperti siomay, namun keliatannya ada tambahan sayuran lebih banyak di dalamnya. Dua-duanya sama-sama enak! Pantesan, sih, kalau cepat habis! :D 



Gelora Bakery

Kalau ditanya apa toko roti jadul dan legendaris di Jakarta? Gelora Bakery adalah salah satunya. Toko roti di Pasar Jatinegara ini sudah berdiri dari tahun 1950-an dan dikelola dari generasi ke generasi. 


Meski lokasi toko rotinya berada di dalam gang sempit tanpa papan nama besar, aroma rotinya yang harum mudah tercium saat kita berada dekat dengan toko ini. 


Awalnya Gelora Bakery fokus memproduksi biskuit keras tradisional, namun seiring waktu toko ini mengembangkan lini produknya menjadi berbagai macam roti dan kue. 


Kini di etalase mereka tersedia aneka roti tawar, roti manis, roti asin, butter cookies, dan lainnya. Oiya, semua produknya juga dibuat tanpa bahan pengawet dengan resep klasik yang dipertahankan sejak dulu, ya. 





Nah, pas di Gelora Bakery aku membeli roti yang direkomendasikan banyak orang, yaitu roti smoked beef dan cokelat keju. Benar saja, begitu sampai rumah dan menikmati rotinya, wah, enak banget. Teksturnya lembut. 


Rasanya pingin lagi ke sana, tapi kalau jalan sendiri aku takut nyasar. Hahaha… Lokasinya memang di gang-gang gitu, Manteman. Tapi kalau pakai GMaps sepertinya, sih, bisa… :D 



Kopi Bis Kota

Sepertinya kuliner di Jatinegara, tuh, nggak jauh-jauh dari kata LEGEND! :D Ada lagi, satu toko di Pasar Jatinegara yang juga legendaris, yaitu Toko Sedap Djaja yang memproduksi Kopi Bis Kota. 


Dari kemasannya aja kita bisa tahu kalau kopi ini sudah ada sejak tahun 1943! Bahkan sebelum Indonesia merdeka kopi ini sudah eksis, lho! 


Aku sempat membeli kopinya yang ¼ kg. Kalau nggak salah harganya sekitar Rp 50.000,-. Biji kopinya pun datang dari berbagai daerah di Indonesia, lho, seperti dari Lampung, Flores, dan lainnya. 


Buat penikmat kopi kataku, sih, sekali-kali coba, deh, main ke Pasar Jatinegara dan jangan lupa beli Kopi Bis Kota di sini!






Es Tebak

Ada yang sudah pernah nyobain Es Tebak? Es Tebak di Pasar Jatinegara jadi salah satu jajanan minuman tradisional yang punya cerita panjang dan menjadi bagian dari kuliner legendaris kawasan pasar ini. 


Minuman khas Sumatera Barat ini berbeda dari es biasa karena menggunakan “tebak”. Nah, tebak ini, tuh, sejenis adonan mirip cendol yang kenyal dan lembut. Tebak jadi isian utama es ini, dipadukan dengan tape ketan, kolang-kaling, cincau, santan kental, sirup merah khas Minang, dan es serut yang melimpah. 





Aku mencoba santapan segar Es Tebak di penjual Es Tebak milik Hj. Aniwarti yang sudah eksis sejak tahun 1978. Minuman ini bukan sekadar pelepas dahaga aja tapi juga bagian kecil warisan kuliner yang tetap bertahan lewat generasi ke generasi. 


Lokasinya yang berada di gang sempit pasar membuat suasana bersantapnya terasa unik dan penuh nostalgia. Banyak pengunjung dan pejalan kaki yang sengaja mampir untuk menikmati segelas Es Tebak setelah berjalan menjelajah pasar. :) 


Bagi Manteman yang pernah menjelajah Pasar Jatinegara, adakah rekomendasi jajanan kuliner di sini yang perlu aku coba juga? Kalau ada, boleh banget kasih tahu aku di kolom komentar, yaa… 


Dita Indrihapsari


Contact Form

Name

Email *

Message *