Bagi sebagian orang, pergi ke museum mungkin lebih seru dilakukan bersama keluarga atau teman. Bisa ngobrol soal koleksi yang dipajang, foto-foto bareng atau sekadar menikmati suasana bersama. Aku pun beberapa kali pergi ke museum bareng keluarga. Pernah juga ke museum dengan teman-teman dan juga ikut walking tour museum.
Tapi apa jadinya kalau pergi jalan-jalan ke museum sendirian??? :D
Nah, salah satu hobiku sekarang adalah keliling museum seorang diri… Hihihi… Kalau menurutku, jalan-jalan ke museum sendirian justru punya sensasi yang berbeda. Ada rasa tenang, bebas, dan lebih fokus menikmati setiap sudut museum tanpa harus buru-buru gitu.
Aku beberapa kali sengaja mengunjungi museum seorang diri. Kadang saat anak-anak sedang sekolah, kadang ketika ada waktu luang di tengah rutinitas sebagai ibu rumah tangga, blogger, dan content creator.
Awalnya mungkin kegiatan ini kedengarannya sepele, tapi ternyata jalan-jalan ke museum sendirian ini jadi salah satu bentuk healing yang sederhana sekaligus menyenangkan buatku… :)
Selain menambah wawasan, pergi ke museum sendirian juga sering jadi momen produktif untuk sekalian membuat konten. Aku bisa lebih bebas mengambil footage video, memotret detail ruangan, membaca informasi sejarah dengan santai, bahkan menikmati suasana museum tanpa distraksi.
Kenapa Memilih Pergi ke Museum Sendirian?
Awalnya mungkin kerasa canggung pergi ke museum sendirian. Tapi lama-lama aku justru menikmati momen tersebut.
Sebenarnya, sih, nggak ada alasan-alasan tertentu kenapa aku memutuskan buat jalan-jalan ke museum sendirian. Tapi kalau aku pikir-pikir lagi mungkin hal-hal di bawah ini adalah beberapa alasannya.
1. Lebih Fokus Menikmati Koleksi Museum
Kalau pergi ramai-ramai, biasanya perhatian gampang terpecah. Ada yang ngajak ngobrol, ada yang buru-buru pindah ruangan atau malah ada yang lebih sibuk untuk cari spot foto. Sementara saat datang sendirian, aku bisa benar-benar menikmati museum sesuai ritmeku sendiri. Hehe… Paham, kan, yaaa…
Aku bisa berhenti lebih lama di satu koleksi yang menarik perhatian. Bisa membaca setiap papan informasi tanpa tergesa-gesa. Kayak ada kepuasan tersendiri gitu ketika berhasil memahami cerita dari sebuah koleksi yang ada di museum.
2. Lebih Fokus Ambil Footage Konten
Nah, sebagai content creator, museum bisa jadi tempat yang menarik untuk dijadikan konten. Banyak sudut estetik, pencahayaan unik beda dari tempat biasanya, dan cerita sejarah yang bisa dibagikan ke media sosial atau blog.
Kalau pergi sendiri memang agak repot karena harus membawa tripod sendiri. Kadang harus bolak-balik mengatur angle di kamera handphone, menekan tombol rekam, lalu berjalan lagi untuk mengambil video cinematic. Belum lagi kalau tripod harus dipindah berkali-kali dari satu ruangan ke ruangan lain.
Tapi justru di situlah serunya! :D Kata orang, “kalau ada yang ribet, ngapain ada yang simple.” :D
3. Jadi Me Time di Tengah Rutinitas Seorang Ibu
Sebagai ibu, kadang kita terlalu sibuk mengurus rumah, anak, pekerjaan, dan berbagai kebutuhan keluarga sampai lupa memberi waktu untuk diri sendiri. Coba, deh, komen siapa ibu-ibu di sini yang juga ngerasa seperti itu?
Nah, pergi ke museum sendirian jadi salah satu bentuk me time versiku.
Biasanya aku pergi setelah anak-anak berangkat sekolah. Suasana pagi atau siang di museum cenderung lebih sepi, jadi terasa lebih tenang. Kalau ke museum di waktu-waktu ini, tuh, rasanya kayak ngasih jeda sebentar ke diri sendiri dari rutinitas harian yang padat.
Duduk di salah satu sudut museum sambil menikmati suasana saja sudah cukup bikin pikiran lebih rileks. Me time versi hemat yang nggak perlu buang banyak biaya, kan. :D Sekarang banyak banget museum di Jakarta dan sekitarnya yang tiket masuknya terjangkau dengan koleksi-koleksi dan penataan yang baik.
Kadang setelah pulang dari museum pun mood terasa jauh lebih baik dan energi juga terasa kembali penuh… :D
4. Bisa Lebih Bebas Mengatur Waktu
Kalau pergi bersama orang lain, biasanya harus menyesuaikan jadwal bersama. Tapi saat solo trip ke museum, aku bisa datang kapan saja dan pulang sesukaku.
Kalau ternyata sedang sangat menikmati suasana museum, aku bisa berlama-lama di sana (jsambil tetap cek jam supaya aku sudah di rumah saat anak-anak pulang sekolah ehehe…).
Sebaliknya, kalau sudah cukup puas dengan yang aku lihat di museum, aku juga bisa langsung pulang saja. Kalau masih ada cukup waktu sebelum anak-anak pulang sekolah, aku bahkan bisa mampir sebentar ke kafe atau jajan di tempat yang aku cari tahu dulu di media sosial… :D
Ngabisin waktu dengan kegiatan kayak gini, tuh, rasanya seperti kebebasan sederhana yang ternyata menyenangkan dan bisa aku nikmatin banget. :)
Museum yang Pernah Aku Kunjungi Sendirian
Kalau aku hitung, sebenarnya belum banyak museum yang aku datangi sendirian. Makanya kedepannya aku masih mau mengeksplor museum-museum lainnya juga sendirian kalau ada kesempatan.
Nah, ini dia beberapa museum yang pernh aku datangi seorang diri dan cerita menarik yang aku alami di sana… :)
Museum MH Thamrin
Salah satu museum yang pernah aku kunjungi sendiri adalah Museum Mohammad Husni Thamrin.
Museum ini memberikan gambaran tentang perjuangan MH Thamrin sebagai tokoh Betawi yang berpengaruh pada masa perjuangan Indonesia. Suasananya cukup tenang dan membuatku betah membaca berbagai informasi sejarah di dalamnya.
Aku suka melihat interior rumah tua dan koleksi-koleksi yang menggambarkan kehidupan masa lampau. Ada nuansa nostalgia yang terasa hangat di museum ini.
Namun sayangnya kalau boleh aku bilang museum ini kurang interaktif dengan pengunjungnya. Dan seperti ketinggalan dengan yang ada di museum-museum lainnya di Jakarta. Aku harap, Museum MH Thamrin bisa lebih maju dengan tambahan teknologi interaktif di dalamnya… :)
Potensial banget, kok. Apalagi siapa sih orang Jakarta atau pekerja yang kerja di Jakarta tapi nggak tahu Jalan Thamrin? Nah, kalau mau kenal lebih dekat dengan tokoh ini memang museum ini bisa jadi jawabannya. Karena itu, bisa banget musuem ini dikembangkan lebih baik lagi.
Museum AH Nasution
Pengalaman paling berkesan sekaligus agak membuat hati deg-degan terjadi saat aku mengunjungi Museum Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution sendirian.
Waktu itu suasana museum benar-benar sepi. Aku berjalan sendiri dari satu ruangan ke ruangan lain sambil merekam beberapa footage video dan mengambil foto. Karena sedang fokus mengambil gambar, aku sampai kayak nggak sadar kalau suasana sekitar begitu hening.
Lalu tiba-tiba…
BRAKK!
Salah satu pintu di dalam museum tertutup sangat kencang. Ya Allah, aku langsung ngucap istighfar!
Saat itu bagian dalam museum benar-benar sepi. Hanya ada aku saja yang ada di dalamnya.
Jujur saja, aku langsung kaget dan merinding. Suasana museum yang sepi, bangunan tua, ditambah cerita sejarah yang memilukan tentang peristiwa G30S membuat imajinasiku jadi ke mana-mana.
Aku sempat diam beberapa detik sambil mencoba menenangkan diri sendiri. Setelah dipikir-pikir mungkin saja karena angin atau tekanan udara dari ruangan lain. Tapi tetap saja, pengalaman itu jadi salah satu momen museum paling tidak terlupakan buatku. :D
Meski begitu, pengalaman tersebut justru membuat kunjungan ke museum terasa lebih membekas, ya. Walau sudah kejadian berbulan-bulan lalu aku masih inget banget kejadiannya sampai sekarang… :)
Gedung Joang 45
Aku juga pernah solo trip ke Gedung Joang 45. Museum ini menarik karena menyimpan banyak cerita perjuangan kemerdekaan Indonesia. Aku cukup lama menikmati dokumentasi foto-foto sejarah dan kendaraan kepresidenan yang dipamerkan di area museum.
Nggak banyak orang yang tahu kalau bangunan yang sekarang jadi Gedung Joang ini dulunya sempat menjadi hotel di masa kolonial.
Bahkan berkat videoku yang aku unggah di media sosialku tentang sejarah Gedung Joang ini, aku menjadi salah satu juara dalam kompetisi video yang diadakan oleh museum tersebut.
Lumayan banget, kan, sambil nambah pengetahuan, bisa nambah cuan juga dari menang lomba… :D
Museum IMERI
Kunjungan ke Museum IMERI FKUI juga jadi pengalaman yang unik.
Museum ini berbeda dari museum sejarah biasa karena lebih banyak menampilkan koleksi anatomi dan dunia medis. Ada banyak informasi menarik tentang tubuh manusia yang membuatku kagum sekaligus merinding.
Solo Traveling ke Museum di Malaka
Saat solo traveling ke Malaka, aku juga menyempatkan diri mengunjungi beberapa museum di sana. Dan ternyata, mengunjungi museum di negeri orang sendirian punya pengalaman yang berbeda lagi.
Museum Samudera
Museum Samudera menjadi salah satu museum favoritku di Malaka. Museum berbentuk kapal besar ini langsung menarik perhatian sejak pertama kali dilihat. Di dalamnya ada banyak informasi tentang sejarah pelayaran dan perdagangan maritim Malaka dan sekitarnya.
Baba Nyonya Heritage Museum
Aku juga mengunjungi Baba & Nyonya Heritage Museum. Museum ini memberikan gambaran tentang budaya Peranakan Tionghoa di Malaka. Interior rumahnya cantik sekali dengan ornamen klasik yang masih terawat.
Aku betah berlama-lama memperhatikan detail furniture, peralatan makan, hingga dekorasi rumahnya. Sayangnya di museum ini nggak bisa mengambil dokumentasi. Pengunjung hanya bisa mengambil dokumentasi di ruang paling depan museum saja.
Cheng Ho Cultural Museum
Museum lainnya yang menarik adalah Cheng Ho Cultural Museum. Di sini aku belajar tentang perjalanan Laksamana Cheng Ho dan hubungan sejarah antara Tiongkok dan Malaka. Museum ini membuatku sadar bahwa museum bukan hanya tempat menyimpan benda tua, tetapi juga tempat menyimpan cerita peradaban manusia.
Manfaat Mengunjungi Museum Bagi Seorang Ibu
Buat seorang ibu, pergi ke museum ternyata punya banyak manfaat. Museum membuat kita belajar banyak hal baru. Mulai dari sejarah, budaya, perjuangan bangsa, dunia medis, hingga kehidupan sosial masyarakat masa lalu. Pengetahuan ini juga bisa dibagikan kembali kepada anak-anak di rumah.
Bagi ibu yang aktif membuat konten atau menulis blog, museum bisa menjadi sumber ide yang nggak ada habisnya. Setiap museum punya cerita unik yang menarik untuk dibagikan.
Suasana museum yang tenang juga bisa membantu pikiran lebih rileks, lho. Pergi sendiri ke museum juga melatih rasa percaya diri. Kita jadi lebih mandiri mengatur perjalanan sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
Museum juga bisa menjadi tempat untuk berhenti sejenak dan menikmati waktu bersama diri sendiri bagi seorang ibu. Apalagi kalau ibu suka banget sejarah dan mengeksplor hal-hal baru.
Ternyata Jalan-Jalan Sendiri Itu Menyenangkan!
Dulu aku sempat berpikir pergi sendirian ke museum itu membosankan. Tapi setelah beberapa kali mencoba solo trip ke museum, ternyata justru banyak hal menyenangkan yang bisa dirasakan.
Aku jadi lebih mengenal diri sendiri, lebih tenang, lebih fokus, dan lebih menikmati perjalanan tanpa distraksi. Museum juga bisa menjadi tempat untuk belajar, healing, mencari inspirasi, dan tentunya menemukan ketenangan.
Dan buatku, jalan-jalan ke museum sendirian selalu punya cerita yang menarik untuk dikenang. (Asal bukan pengalaman yang bikin deg-degan aja, sih… Hihihi…)
Dita Indrihapsari










No comments