Setiap tahun ajaran baru, ada satu hal yang selalu bikin anak-anakku heboh. Apalagi kalau bukan agenda jalan-jalan sekolah. :D
Di SD tempat anak-anakku sekolah, ada dua jenis kegiatan yang sering bikin bingung kalau belum tahu bedanya, yaitu fun trip dan field trip.
Fun trip biasanya diadakan setahun sekali dan diikuti oleh semua siswa dari level 1 sampai level 6 bareng-bareng. Tujuannya ke tempat wisata seru semacam Dufan atau Jungle Land.
Namanya juga fun trip, jadi memang fokusnya buat senang-senang dan main bareng teman. Selain didampingi guru, kegiatan ini juga ditemani oleh support parents atau yang biasa disebut korlas (koordinator kelas).
Nah, berbeda dengan field trip. Field trip bisa diakana satu atau dua kali dalam setahun.. Kalau field trip ini diadakan per level, jadi nggak semua anak ikut bareng-bareng. Misalnya anak kelas 3 field trip ke tempat edukasi Pelita Desa, sementara kelas 4 punya jadwal sendiri ke Inagro. Field trip tentunya ke tempat-tempat wisata edukasi yang disesuaikan dengan tema pembelajaran di level masing-masing, ya.
Bedanya lagi, field trip cuma didampingi oleh guru kelas aja, tanpa kehadiran orang tua sama sekali. Jadi pihak support parents atau korlas pun nggak ikut kegiatan ini.
Nah, di sinilah biasanya muncul pertanyaan dari orang tua. Field trip dan fun trip ini, kan, bisa dibilang sama, ya, kayak study tour sekolah. Makanya pasti ada aja, kan, pro kontra soal kegiatan ini. Terutama soal apakah aman anak jalan-jalan sekolah tanpa didampingi orang tua?
Pro kontra soal kegiatan ini nggak bisa dihindari, ya. Namun di tulisan kali ini aku lebih mau cerita soal manfaat yang ternyata bisa didapat anak dari kegiatan fun trip dan field trip bareng sekolah tanpa kehadiran orang tua.
Melatih Kemandirian Anak
Ini yang menurutku jadi manfaat paling terasa. Tanpa ada orang tua di sisi mereka, anak jadi terbiasa mengurus dirinya sendiri. Mulai dari membawa bekal, menjaga barang bawaan, sampai memutuskan sendiri kapan harus bilang ke guru kalau mau ke toilet atau kapan kalau mau minum air putih.
Hal-hal kecil ini yang sebenarnya jadi latihan kemandirian yang nggak selalu bisa didapat kalau orang tua terus mendampingi.
Belajar Adaptasi dan Sosialisasi dengan Cara Berbeda
Kalau biasanya anak main sama teman dekat aja, di field trip mereka jadi punya kesempatan berinteraksi dengan teman sekelas secara lebih intens. Apaagi biasanya mereka akan dibagi kelompok yang belum tentu akan satu kelompok dengan teman dekatnya saat di sekolah
Anak jadi harus bisa adaptasi lebih cepat dan harus belajar menyelesaikan masalah kecil sendiri atau minta bantuan ke guru maupun teman.
Fokus pada Pembelajaran
Khusus untuk field trip karena field trip diadakan per level dan biasanya ke tempat edukasi seperti Pelita Desa, Godong Ijo atau Inagro, anak jadi lebih fokus menyimak materi yang diberikan.
Nggak terganggu dengan kehadiran orang tua yang kadang malah bikin anak lebih sibuk cari perhatian dibanding menyimak penjelasan dari pemandu wisata di tempat tersebut.
Membangun Kedekatan dengan Guru Kelas
Momen field trip ini juga jadi kesempatan bagus buat anak makin dekat dengan guru kelasnya. Di luar suasana kelas yang formal, anak bisa melihat sosok guru dari sisi lain, sebagai pendamping yang menjaga dan mengarahkan mereka selama perjalanan.
Nah, kalau di fun trip anak dan guru ada punya kesempatan juga untuk main bareng tanpa ada kecanggungan.
Menumbuhkan Rasa Percaya Diri
Aku juga sering dengar cerita dari anak-anakku sepulang field trip dan biasanya mereka jadi lebih pede menceritakan pengalamannya sendiri, tanpa "dibantu" cerita sama Bubu atau Yaya-nya. Karena mereka yang mengalami sendiri, mulai dari antre, bertanya ke guru atau pemandu, sampai menyelesaikan tugas kelompok kecil di lokasi, rasa percaya diri mereka jadi terbangun secara alami.
Ini beda banget rasanya dibanding kalau orang tua ikut serta terus mendampingi setiap langkah anak. Bisa-bisa mereka melirik terus ke orang tua, apalagi buat anak yang masih level kecil antara level 1 sampai level 3. :D
Tentang Pendapat yang Kontra
Aku juga sadar, nggak semua orang tua sepakat dengan kegiatan field trip atau study tour sekolah, ya. Beberapa waktu terakhir, isu ini malah cukup ramai dibahas, terutama setelah ada beberapa kejadian kecelakaan yang melibatkan kendaraan rombongan study tour sekolah di berbagai daerah.
Wajar kalau kemudian muncul kekhawatiran soal aspek keselamatan, terutama menyangkut kondisi kendaraan, kelayakan sopir, sampai jalur perjalanan yang dilalui.
Selain itu, biaya juga sering jadi sorotan, sih. Ada study tour yang harganya cukup mahal, apalagi kalau tujuannya ke luar kota dan memakan waktu beberapa hari. Ini tentu jadi beban tersendiri buat sebagian keluarga, terlebih kalau nggak semua orang tua merasa kegiatan tersebut esensial untuk pembelajaran anak mereka.
Beberapa pihak juga mempertanyakan urgensi field trip dibanding manfaat akademis yang didapat, apalagi kalau destinasinya dirasa kurang relevan dengan materi pelajaran.
Semua kekhawatiran ini menurutku wajar dan memang perlu jadi perhatian bersama, baik dari sekolah maupun orang tua.
Jadi, Setuju atau Tidak?
Kalau ditanya pendapatku sendiri sebagai orang tua, aku sebenarnya setuju-setuju saja dengan kegiatan field trip maupun fun trip di sekolah anak-anakku, asalkan pihak sekolah dan panitia memang benar-benar mempersiapkannya dengan matang.
Transportasi yang digunakan harus memadai dan sesuai standar keselamatan, termasuk juga urusan konsumsi yang layak dan sehat untuk anak-anak selama perjalanan.
Kebetulan di sekolah anak-anakku, biaya untuk kegiatan jalan-jalan seperti ini biasanya sudah termasuk dalam pembayaran daftar ulang di awal tahun ajaran. Jadi nggak ada lagi penarikan biaya tambahan mendadak menjelang hari-H. Menurutku hal ini juga meringankan orang tua karena bisa direncanakan dari jauh-jauh hari.
Pada akhirnya, field trip maupun fun trip ini bisa jadi pengalaman berharga buat anak, asal semua pihak, baik sekolah, panitia, maupun orang tua, sama-sama memastikan keamanan dan kenyamanan anak jadi prioritas utama.
Kalau Manteman sendiri gimana, nih? Sekolah anaknya juga rutin mengadakan field trip kayak gini, nggak? Kalian setuju dengan kegiatan ini atau justru kontra?
Dita Indrihapsari

No comments