Rasanya aku sudah lama nggak ke Cirebon. Eh, ndilalah aku mendapat kabar kalau kakakku yang sedang tugas kantor di Cirebon mengalami kecelakaan. :( Akhirnya aku pun langsung menuju Cirebon untuk merawat kakakku selama beberapa hari di salah satu rumah sakit Cirebon.
Nah, setelah sekitar lima hari di RS, aku pun kembali lagi ke Depok dengan menggunakan kereta. Barulah saat perjalanan pulang ini aku baru benar-benar melihat dari dekat bagaimana spesialnya Stasiun Cirebon Kejaksan, stasiun utama di kota Cirebon.
Kalau aku perhatikan, stasiun ini bukan sekadar tempat naik-turun penumpang aja. Stasiun Cirebon Kejaksan adalah bangunan cagar budaya berusia lebih dari satu abad dengan arsitektur yang bikin siapa pun bisa berhenti sejenak buat mengagumi detailnya! :)
Di tulisan ini aku mau berbagi sedikit cerita soal sejarah, arsitektur, fasilitas, sampai pengalaman kecil-kecilan yang bikin kunjunganku ke Stasiun Cirebon Kejaksan jadi lebih berkesan. Yuk, yuk, baca, yuuuk! ;D
Sejarah Stasiun Cirebon Kejaksan, Usianya 1 Abad Lebih!
Stasiun Cirebon Kota yang lebih dikenal dengan nama Stasiun Cirebon Kejaksan mulai dibangun pada masa kolonial Belanda oleh perusahaan kereta api negara Staatsspoorwegen (SS).
Jalur kereta yang sebelumnya sudah ada di Cikampek kemudian diperpanjang untuk menjangkau Cirebon. Nah, pada 3 Juni 1912, jalur sepanjang sekitar 137 kilometer dari Cikampek menuju Cirebon rampung dibangun dan bersamaan dengan itu stasiun ini resmi dibuka untuk umum.
Berarti usia Stasiun Cirebon Kejaksan tahun ini sudah 114 tahun, yaaa! Mantap nggak, tuh!
Nah, pembangunan jalur kereta ini ternyata erat kaitannya sama industri gula yang saat itu berkembang pesat di sepanjang pantai utara Jawa dari Semarang sampai Cirebon.
Karena alat transportasi tradisional kayak pedati, tuh, sudah nggak mampu lagi mengangkut hasil produksi pabrik gula dalam jumlah besar, makanya kereta api jadi solusi untuk distribusi gula, barang lainnya, sekaligus juga penumpang.
Usianya yang sudah seabad lebih, dan dilihat dari historinya, makanya nggak heran kalau stasiun ini kini berstatus sebagai bangunan cagar budaya yang terdaftar resmi.
Jadi kalau Mateman berkunjung ke sini, Manteman nggak cuma naik kereta, tapi juga bisa melihat dari dekat jejak sejarah perkeretaapian Indonesia yang usianya sudah lebih dari 100 tahun.
Arsitektur Stasiun Karya Pieter Adriaan Jacobus Moojen
Salah satu daya tarik utama Stasiun Cirebon Kejaksan tentu saja arsitekturnya. Aku aja takjub banget, lho, pas bener-bener memperhatikan detail arsitektur stasiun ini. Memang dari segi ukuran stasiun ii nggak gede-gede amat, ya. Tapi baguuusss banget arsitekturnya!
Bangunan stasiun ini dirancang oleh arsitek kenamaan asal Belanda, Pieter Adriaan Jacobus Moojen. Ia memadukan gaya art nouveau dengan sentuhan art deco. Ciri art deco paling terlihat dari fasad bangunan yang simetris dengan bagian tengah gedung yang menjulang lebih tinggi dibanding dua menara di sisi kiri dan kanannya.
Dulu, pada masa kolonial, kedua menara tersebut punya fungsi khusus:, yaitu menara sebelah kiri bertuliskan "kaartjes" (karcis) sebagai loket penumpang, sementara menara sebelah kanan bertuliskan "bagage" (bagasi) untuk layanan barang.
Bagian atas menara dan bangunan utama juga dihiasi jendela kaca patri warna-warni yang selain indah dipandang, dulunya berfungsi sebagai sumber penerangan alami di siang hari. Keren, yaa! Sampai sekarang bagian dalam stasiun juga tampak terang.
Oiya, menariknya lagi, Moojen ini bukan nama asing di dunia arsitektur kolonial Indonesia. Aku pernah juga melihat beberapa karya arsitekturnya yang berada di Jakarta, yaitu Gedung Kunstkring dan Masjid Cut Meutia. Dua bangunan tersebut juga sarat nilai sejarah dan estetika arsitektur kolonial. :)
Beda Stasiun Cirebon Kejaksan dan Stasiun Cirebon Prujakan
Nah, buat Manteman yang baru pertama kali ke Cirebon, penting juga, nih, untuk tahu kalau kota ini punya dua stasiun besar. Stasiun Cirebon Kejaksan dan Stasiun Cirebon Prujakan.
Keduanya sering bikin bingung karena sama-sama berada di Kota Cirebon, tapi punya hal yang berbeda.
Stasiun Cirebon Kejaksan berstatus stasiun besar tipe A dan menjadi titik pertemuan utama jalur kereta api dari Jakarta menuju Surabaya, baik lewat jalur utara (Semarang) maupun jalur tengah (Yogyakarta–Solo).
Kereta yang berangkat maupun datang di Stasiun Cirebon Kejaksan didominasi oleh kereta kelas bisnis dan eksekutif. Sementara itu, Stasiun Cirebon Prujakan umumnya melayani rute dan kelas kereta yang berbeda, sehingga kedua stasiun ini saling melengkapi dalam melayani mobilitas warga Cirebon dan sekitarnya.
Jadi, sebelum berangkat, jangan lupa cek dengan teliti nama stasiun keberangkatan di tiket Manteman, ya! Jangan sampai salah datang ke stasiun yang berbeda. :D
Berburu Stempel di Stasiun Cirebon Kejaksan
Begitu tiba di area Stasiun Cirebon Kejaksan, aku disambut dengan pemandangan lokomotif tua yang dipajang di bagian depan stasiun, seolah kayak menyambut setiap pengunjung yang datang gitu.
Ojek online yang aku tumpangi pun langsung masuk ke area depan dan menurunkanku tepat di depan gedung utama stasiun.
Sambil menunggu keberangkatan kereta Cakrabuana yang akan membawaku ke Gambir, aku iseng bertanya soal program stamp rally yang belakangan lagi populer di kalangan penggemar kereta api.
PT KAI memang telah menyediakan stempel khusus di beberapa stasiun, baik di wilayah Jabodetabek maupun kota-kota besar lainnya.
Aku pun diarahkan ke bagian customer service untuk mendapatkan stempel tersebut. Tapi ternyata stempel yang kudapat bukan stempel stamp rally versi reguler KAI, melainkan stempel edisi kolaborasi dengan film Jumbo. :D
Pada tahun lalu, KAI memang pernah bekerja sama dengan film Jumbo untuk program stamp rally di sepuluh stasiun, termasuk Stasiun Cirebon Kejaksan. Stempel edisi ini sekarang sudah cukup langka untuk didapatkan. Sedangkan stempel stamp rally dari KAI yang baru ternyata belum ada di Stasiun Cirebon Kejaksan ini, baru ada di beberapa stasiun Jabodetabek. Yah, gagal, deh bisa dapat stempelnya, huhuhuw…
Tapi aku ternyata dapat cap stempel yang sudah cukup langka! Hehehe… Pengalaman kecil yang nggak terduga, tapi seru banget inilah yang bisa jadi kenang-kenangan perjalanan. :D
Fasilitas Mushola di Stasiun Cirebon Kejaksan
Setelah dari customer service, aku lanjut masuk ke area peron dengan proses yang cukup cepat. Aku hanya mengeluarkan tiket yang sudah aku cetak sebelumnya di mesin otomatis, siapkan KTP, lalu masuk aja, deh. Nggak ada antrean panjang saat itu, jadi prosesnya cukup cepat.
Sebelum kereta berangkat, aku menyempatkan diri mampir ke mushola untuk salat Ashar. Ternyata mushola di Stasiun Cirebon Kejaksan cukup proper. Tempatnya luas, bersih, dan tersedia mukena untuk jemaah perempuan.
Menariknya lagi, fasilitas serupa juga tersedia di bagian dalam peron setelah proses check-in, jadi penumpang yang sudah masuk area boarding pun tetap bisa beribadah dengan nyaman tanpa harus keluar area steril stasiun.
Buat kamu yang sering bepergian jauh dan khawatir soal fasilitas ibadah di perjalanan, poin ini jadi nilai plus tersendiri dari Stasiun Cirebon Kejaksan.
Beli Oleh-oleh di Stasiun Cirebon Kejaksan
Meski nggak terlalu besar, area depan Stasiun Cirebon Kejaksan ternyata cukup lengkap dari segi fasilitas penunjang. Ada beberapa tenant makanan, minimarket seperti Indomaret, hingga toko oleh-oleh khas Cirebon.
Nah, di bagian dalam peronnya pun juga sama. Ada beberapa tenant makanan dan oleh-oleh uga, selain ada mushola dan toilet.
Salah satu tempat yang aku sambangi adalah toko oleh-oleh Batik Trusmi. Meski namanya identik dengan batik, ternyata toko ini juga menjual aneka camilan khas, salah satunya pie dengan rasa mangga yang kubeli untuk anak-anak di rumah.
Harganya cukup terjangkau, satu buah dibanderol Rp35.000, tapi kalau beli tiga sekaligus harganya jadi Rp75.000 saja. Lumayan banget buat oleh-oleh ringan sebelum melanjutkan perjalanan.
Jadi kalau kamu transit atau menunggu jadwal kereta di sini, jangan lewatkan kesempatan untuk berburu camilan atau oleh-oleh khas Cirebon lainnya.
Naik Kereta Cakrabuana dari Stasiun Cirebon Kejaksan
Setelah puas berkeliling, salat, dan berbelanja oleh-oleh, akhirnya aku menuju jalur tempat kereta Cakrabuana sudah bersiap untuk berangkat menuju Stasiun Gambir, Jakarta.
Rasanya perjalanan singkat di Stasiun Cirebon Kejaksan ini memberi banyak kesan, mulai dari kagum akan arsitektur peninggalan kolonial karya Moojen, serunya berburu stempel unik, sampai kenyamanan fasilitas yang bikin waktu menunggu jadi nggak terasa membosankan.
Buat Manteman yang berencana melakukan perjalanan kereta dari atau menuju Cirebon, Stasiun Cirebon Kejaksan bisa jadi salah satu titik keberangkatan yang nyaman.
Selain fasilitasnya cukup lengkap untuk ukuran stasiun yang "pas", nggak terlalu besar tapi juga nggak kekurangan apa-apa. Nilai historis dan arsitekturnya juga membuat pengalaman menunggu kereta jadi lebih dari sekadar rutinitas.
Jadi, kalau lain kali kamu transit di Cirebon, sempatkan waktu sedikit lebih lama untuk menikmati bangunan bersejarah satu ini, ya! 😀
Dita Indrihapsari

No comments