Katanya, manusia hanya bisa berencana, sedangkan Tuhan yang menentukan segalanya. Ungkapan itu rasanya seratus persen benar, seenggaknya dalam pengalaman liburan keluargaku.
Sudah beberapa kali aku dan keluarga menyusun rencana liburan bersama, lengkap dengan destinasi dan bayangan keseruan yang akan kami alami. Tapi entah kenapa, rencana itu selalu saja kandas di tengah jalan.
Bahkan beberapa di antaranya kini mustahil untuk diwujudkan lagi karena anggota keluarga yang seharusnya ikut serta sudah lebih dulu berpulang… :'(
Berikut beberapa rencana liburan keluargaku yang akhirnya nggak pernah terlaksana.
Legoland Malaysia
Tahun 2019, aku sempat merencanakan liburan ke Legoland Malaysia bersama anak-anak. Rencananya, sih, berangkat tahun 2020. Aku dan suami bahkan sudah memperpanjang paspor dan membuatkan paspor baru untuk anak-anak di akhir tahun 2019.
Namun rencana tinggal rencana. Maret 2020, dunia dilanda pandemi Covid-19. Perjalanan dalam negeri dibatasi, apalagi perjalanan luar negeri. Rencana ke Legoland pun terpaksa kami batalkan. Sedih banget waktu itu, tapi mau bagaimana lagi.
Sampai sekarang rencana itu belum pernah terwujud, padahal anak-anak sudah mulai beranjak remaja. Rasanya rencana itu perlahan terlupakan begitu aja dan bukan lagi jadi prioritas keluarga. Hehe… Mungkin memang belum waktunya atau mungkin memang bukan rezeki kami ke sana…
Napak Tilas Masa Kecil Mama di Jawa Timur
Rencana yang satu ini sebenarnya baru sebatas obrolan denganku dan mama. Selama ini aku selalu tahu mama adalah orang Solo. Sejak kecil, aku selalu mengisi liburan panjang sekolah dengan bermain di rumah eyang di Solo.
Tapi ternyata, mama banyak menghabiskan masa kecilnya di daerah Jawa Timur. Mama lahir di Madiun dan ternyata punya darah keturunan Ponorogo, hal yang baru aku ketahui setelah dewasa. Karena itu, aku dan mama sempat mengobrol untuk suatu saat napak tilas ke tempat-tempat yang pernah mama singgahi waktu kecil, di Madiun dan Blitar.
Sayangnya, obrolan itu nggak pernah sempat jadi rencana yang matang, apalagi terlaksana. Mama berpulang di tahun 2021. Kini, cerita-cerita tentang masa kecil mama di Jawa Timur cuma jadi potongan ingatan yang aku dengar sekilas aja tanpa sempat aku telusuri sendiri tempat-tempatnya.
Wonosobo dan Solo Bersama Atung
Rencana liburan ini yang benar-benar membuatku menyesal dan sedih sampai sekarang.
Pada liburan panjang sekolah tahun itu, aku dan suami berencana mengajak anak-anak liburan ke Wonosobo melihat Dieng dari dekat dan Klaten buat mampir berendam dan main air di Umbul Ponggok.
Kami pun berpikir untuk mengajak bapak (atung), ibu (uti), dan mbah (uyut) ikut serta untuk sekalian ke Solo karena ada banyak keluarga baak di Solo. Rencananya kami akan road trip dengan menyewa mobil yang lebih besar, supaya semua bisa berangkat bersama.
Aku bahkan sudah sempat browsing dan survei sewa mobil, mulai mendata tempat menginap, sampai mengecek biaya dan paket berendam di Umbul Ponggok. Semua terasa sudah di depan mata gitu.
Namun rencana tinggal rencana. Sekitar seminggu sebelum berangkat, tiba-tiba atung kolaps terkena stroke. Ada pembuluh darah di otaknya yang pecah. Sempat menjalani operasi dan pulang ke rumah, tapi kondisinya memburuk hingga akhirnya harus dirawat kembali di rumah sakit. Lima hari dirawat, atung berpulang.
Ah, rasanya sampai sekarang masih seperti nggak percaya. Padahal aku pingin bangeti mengajak atung, uti, dan mbah jalan-jalan bersama, menikmati waktu yang seharusnya masih panjang. :’(
Gagal Staycation di Kuningan
Selepas kepergian atung, suamiku punya rencana mengajak ibu dan mbah untuk staycation di Kuningan. Alasannya sederhana, saat atung dirawat di rumah sakit, kantor suami sedang mengadakan gathering di Kuningan dan suami nggak bisa ikut karena harus menjaga bapak. Jadi ketika ada waktu long weekend, muncul ide untuk mengajak ibu dan mbah healing keluar rumah, sekaligus menebus kesempatan yang terlewat itu.
Suami sudah booking hotel Santika Premiere Kuningan. Viewnya memang bagus sekali, dan aku sempat membayangkan betapa segarnya suasana di sana untuk ibu dan mbah.
Tapi rupanya belum jadi rezeki lagi. Sebelum keberangkatan, ibu yang sepertinya sejak kepergian bapak kondisi mental dan fisiknya kurang baik, sempat terjatuh di depan rumah dan di kamar.
Kondisi kakinya pun jadi kurang baik. Setelah berpikir cukup lama, kami memutuskan untuk nggak jadi berangkat ke Kuningan.
Dan ternyata, ada alasan lain yang menanti. Nggak lama setelah itu, aku dapat kabar kakakku yang sedang bertugas dinas dua tahun di Cirebon mengalami kecelakaan, ditabrak motor, dan harus menjalani operasi karena lukanya cukup parah.
Akhirnya, di waktu yang seharusnya aku berlibur ke Kuningan, aku justru ke Cirebon untuk menjaga kakakku yang dirawat di rumah sakit. Saat menulis ini pun aku masih ada di rumah sakit…
Semua Sudah Diatur oleh-Nya
Dari beberapa kejadian ini, sebenarnya bukan rasa penyesalan yang paling besar aku rasakan, tapi keyakinan bahwa semua ini sudah diatur. Allah sebaik-baiknya perencana.
Aku mungkin tidak selalu tahu apa hikmah di balik rencana-Nya. Tapi di setiap kegagalan itu, aku percaya selalu ada sesuatu yang sedang dijaga oleh-Nya, meski aku nggak selalu bisa langsung memahaminya.
Sampai sekarang, aku masih terus belajar untuk berprasangka baik kepada Allah atas segala ketetapan-Nya. Karena pada akhirnya, yang bisa aku lakukan hanyalah menerima semua ini dengan ikhlas meski liburan-liburan itu nggak pernah benar-benar terjadi.
Mungkin, rencana yang nggak terlaksana bukan berarti sia-sia. Setidaknya, dari sana aku belajar untuk lebih menghargai waktu bersama orang-orang tersayang, selagi masih ada kesempatan. :’)
Dita Indrihapsari

No comments