Ada kalanya perjalanan yang paling berkesan justru datang dari rencana yang meleset. Itulah yang terjadi waktu aku dan suami memutuskan berburu durian ke Rumpin, Kabupaten Bogor.
Awalnya suamiku mengajak untuk cari durian lokal di daerah Rumpin yang katanya enak-enak, lalu pulang. Tapi siapa sangka, perjalanan hari itu berubah jadi salah satu momen jalan-jalan paling menyenangkan yang pernah aku alami, gara-gara satu hal, suamiku nggak nurut sama Google Maps! :D
Awal Mula "Kesasar" yang Berujung Indah
Berangkat dari Depok sekitar jam 7-an pagi, jalanan masih lancar dari Depok menuju Bogor melewati kawasan Parung. Selepas Parung, aku mulai menyalakan Google Maps karena memang nggak tahu arah ke Rumpin.
Tapi entah kenapa, di tengah jalan suamiku malah berbelok ke arah lain, masuk ke jalan-jalan kampung yang lebih kecil dan berkelok-kelok. Kata suamiku, dia penasaran aja sama jalan yang dilewatinya itu.
Aku sempat protes, "lho, ini kok malah muter-muter, ke mana sih?" Soalnya jalanannya makin masuk ke perkampungan, jauh dari kesan jalan utama menuju tempat durian.
Tapi namanya juga jalan-jalan santai di akhir pekan, aku pun akhirnya cuma bisa pasrah aja sambil menikmati pemandangan kampung yang masih asri. Rumah-rumah penduduk, kebun-kebun kecil, sampai anak-anak yang main di halaman.
Ditambah lagi ternyata di jalanan yang kami lewati ini masih ada beberapa pesepeda juga. Aku pun dalam hati jadi sedikit lega. Ternyata nggak sepi- epi amat, kok. Malah jadi seru juga bisa lihat pesepeda yang semangat banget, hehe…
Dan benar saja, "kesasar" itu ternyata membawa kami ke sebuah tempat yang sama sekali nggak ada di rencana awal. Tiba-tiba aja kami melewati sebuah warung kecil di pinggir sungai, dengan pemandangan langsung ke jembatan gantung berwarna merah yang membentang panjang di atas air.
Nah, itulah pertama kalinya aku melihat Jembatan Gantung Cisarum!
Ramainya Warung Pinggir Sungai, Jadi Titik Kumpul Pesepeda dan Warga Lokal
Suamiku nggak langsung buru-buru menggas motornya. Begitu melewati warung tersebut dan melihat adanya tempat duduk di pinggir sungai, akhirnya ia pun menepikan motornya. Aku dan suami akhirnya menuju warung untuk melihat apa yang bisa dimakan di sana… :)
Oiya, warung pinggir sungai ini ternyata cukup ramai. Padahal lokasinya jauh dari jalan raya dan cukup tersembunyi di dalam kampung. Ternyata warung ini memang jadi semacam tempat wisata warga sekitar dan juga jadi tempat istirahat para pesepeda.
Aku melihat ada cukup banyak pesepeda yang berhenti untuk istirahat sambil ngobrol santai. Ada juga warga lokal yang datang sekadar rekreasi keluarga, duduk-duduk santai menikmati angin sungai sambil melihat pemandangan.
Kami pun istirahat sebentar sebelum perjalanan ke durian Rumpin. Aku pikir, toh, durian nggak akan lari ke mana. Hehe… Iya, kan? :D
Ngemil Gorengan Hangat sambil Ngadem di Pinggir Sungai
Menu di warung ini sederhana tapi pas banget buat menemani saat santai di pinggir sungai. Ada gorengan, lontong, singkong kelapa, dan pisang rebus, ditemani dengan segelas es teh manis yang segar.
Tempat duduk disediakan dalam dua pilihan. Ada yang di dalam warung, dengan meja dan bangku biasa. Tapi ada juga meja kursi yang sengaja diletakkan persis di pinggir sungai, menghadap langsung ke jembatan gantung dan aliran air.
Kami tentu saja memilih yang di pinggir sungai. Aku dan suami alhamdulillah banget mendapat tempat duduk di pinggir sungai yang baru saja kosong. Sayang banget kalau sudah sampai sejauh ini tapi nggak menikmati pemandangannya secara langsung, kan…
Sensasi Melintasi Jembatan Gantung Cisarum
Setelah cukup beristirahat, sebelum melanjutkan perjalanan ke Rumpin, kami sengaja menyempatkan diri untuk melintasi jembatannya secara langsung. Dari kejauhan, jembatan ini kelihatan gagah dengan warna merahnya yang mencolok di antara hijaunya pepohonan sekitar.
Namun begitu benar-benar melewatinya, baru, deh, aku jadi tahu gimana kondisi jembatannya. Jembatannya memang panjang, tapi ternyata cukup sempit.
Dari tengah jembatan, pemandangan sungai di bawahnya kelihatan jelas, begitu juga suasana kampung di kedua sisi yang dihubungkan oleh jembatan ini. Momen singkat menyeberang itu jadi salah satu bagian favorit kami dari seluruh perjalanan hari itu.
Fakta-Fakta Menarik Seputar Jembatan Gantung Cisarum
Biar nggak cuma cerita jalan-jalan doang, aku juga sempat cari tahu lebih jauh soal jembatan ini. Ternyata ada beberapa fakta menarik yang sayang kalau dilewatkan:
- Nama resmi vs nama populer. Nama resminya adalah Jembatan Gantung Cibeteung Muara, tapi warga sekitar lebih akrab menyebutnya Jembatan Cisarum. Jembatan ini menghubungkan Kecamatan Rumpin dan Kecamatan Ciseeng di Kabupaten Bogor. Nama Cisarum sendiri sepertinya diambil dari kata Cibeutueng Muara - Sadane - Rumpin.
- Begitu melihat bentuk jembatannya dari jauh, aku merasa kalau jembatan ini agak mirip yaa sama Jembatan Golden Gate di Amerika Serikat! :D
- Panjang tapi sempit. Jembatan ini memiliki panjang 120 meter dan lebar 1,8 meter. Dibangun dengan biaya sekitar Rp6,8 miliar dari APBN Tahun Anggaran 2023 dan dirancang untuk dilalui pejalan kaki, sepeda, serta sepeda motor. Yes, mobil dilarang melintasi jembatan, ya. Ya, karena pasti nggak muat! :D
- Jembatan ini masih baru dan dibangun Pemerintah. Pembangunannya diselesaikan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR, pada akhir 2023. Jembatan ini resmi beroperasi sejak Januari 2024.
- Dulu, warga menyeberang pakai rakit bambu. Sebelum jembatan ini berdiri, warga yang ingin menyeberang dari Ciseeng ke Rumpin mengandalkan penyeberangan tradisional memakai rakit bambu yang sudah beroperasi sejak tahun 1960-an. Tarifnya sekitar Rp5.000 per motor atau harus memutar cukup jauh lewat jalan darat.
- Sekarang durasi perjalanan jadi jauh lebih cepat. Waktu tempuh dari desa Cibeuteung Muara ke desa Rumpin yang dulunya butuh minimal 30 menit, kini bisa dipangkas jadi hanya lima sampai sepuluh menit saja.
- Jadi favorit pesepeda akhir pekan. Meski jarang diberitakan media besar, keberadaan jembatan ini sudah menjadi ikon baru di kedua kecamatan dan pada hari libur sering dijadikan bagian dari rute gowes para pehobi sepeda. Jadi pantas saja kalau kami melihat banyak sepeda terparkir di warung tadi.
- Ada makam keramat di dekatnya. Di sekitar jalan pendekat sisi Rumpin terdapat makam Syeh H. Abdul Ateng Raksak Kusuma, salah satu tokoh penyebar ajaran Islam di Kecamatan Rumpin dan Ciseeng. Sejak jembatan ini dibangun, kawasan makam tersebut kini dilengkapi warung dan pendopo istirahat.
Tips Kalau Mau Berkunjung ke Jembatan Gantung Cisarum
Kalau kamu tertarik mampir ke sini, ada beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan:
- Siapkan kendaraan yang nyaman untuk jalan kampung. Akses menuju warung dan jembatan melewati jalan-jalan kecil khas pedesaan, jadi lebih nyaman kalau naik motor atau mobil dengan ground clearance yang cukup.
- Datang di pagi atau sore hari. Suasana lebih adem dan pemandangan sungai terasa lebih syahdu, apalagi kalau datang menjelang sore saat cahaya matahari mulai lembut.
- Hati-hati saat menyeberangi jembatan. Karena lebarnya terbatas dan cukup ramai dilalui motor serta sepeda, sebaiknya berjalan di sisi jembatan dan tetap waspada saat berpapasan dengan kendaraan lain.
- Jangan buru-buru pergi. Nikmati dulu suasana di warung pinggir sungainya, sambil ngobrol santai atau sekadar duduk memandangi jembatan dan aliran air sungai.
Kadang Rencana Meleset Justru Membawa Cerita Terbaik
Niat awal kami hanya numpang lewat buat beli durian di Rumpin, eh, malah dapat bonus ngadem di pinggir sungai, ngemil gorengan, dan menyeberangi jembatan gantung yang kini jadi ikon baru warga Bogor. :D
Perjalanan yang tadinya terasa "nyasar" justru memberi cerita dan pengalaman yang nggak akan kami dapatkan kalau terus patuh mengikuti rute Google Maps. Hehe…
Buat Manteman yang kebetulan lewat daerah Rumpin–Ciseeng, coba, deh, sempatkan mampir sebentar ke Jembatan Gantung Cisarum. Selain jadi spot foto yang menarik, tempat ini juga cocok buat rehat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan, entah itu untuk berburu durian seperti kami, atau sekadar healing singkat di akhir pekan.
Dita Indrihapsari






No comments