Pas banget saat malam ini aku menulis blog, tadi sore aku dan suami berkesempatan mengunjungi Masjid Al-Munawwarah yang berlokasi di kawasan Witana Harja, Pamulang, Tangerang Selatan.
Ini menjadi pengalaman pertamaku datang ke masjid tersebut. Tujuan kami ke sana bukan sekadar untuk beribadah, tapi juga menghadiri kajian bersama Sheikh Assim Al-Hakeem, seorang pendakwah asal Arab Saudi yang selama ini cukup sering kulihat di media sosial.
Berbekal Google Maps, alhamdulillah perjalanan kami menuju masjid berjalan lancar tanpa harus menyasar ke mana-mana. Hehehe... Sebelum bercerita tentang kajiannya, aku mau mengajak Manteman mengenal Masjid Al-Munawwarah terlebih dahulu, termasuk fasilitas dan suasananya berdasarkan pengalamanku saat berkunjung ke sana, ya.
Mengenal Masjid Al-Munawwarah Witana Harja, Pamulang
Masjid Al-Munawwarah berada di Jalan Witana Harja Raya No. 6, Pamulang Barat, Kota Tangerang Selatan, Banten. Lokasinya berada di kawasan permukiman Witana Harja sehingga masjid ini bisa menjadi salah satu tempat ibadah bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Pamulang dan sekitarnya.
Dari penelusuranku, masjid ini ternyata sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan masih tegak berdiri sampai sekarang. Info ini aku dapat dari salah satu postingan di akun Instagram masjid. Dari bangunannya sendiri aku sudah menduga, sih, kalau ini pasti termasuk masjid yang sudah lama.
Masjid ini memang bukanlah tempat ibadah yang baru dibangun. Namun, aku belum menemukan catatan resmi yang menyebutkan secara pasti kapan pembangunan masjid ini pertama kali dimulai atau kapan diresmikan. Jadi, untuk tahun berdirinya, aku belum bisa memastikan informasinya, nih. Kalau ada Manteman yang tahu infonya boleh banget share di kolom komentar, yaa… :D
Saat ini, Masjid Al-Munawwarah menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan keagamaan, salah satunya kajian yang menghadirkan penceramah dari luar negeri. Aku sendiri datang ke sini untuk mengikuti salah satu kajian tersebut.
Fasilitas Masjid Al-Munawwarah Witana Harja Pamulang
Dari pengamatanku saat berkunjung, ada beberapa fasilitas yang cukup menarik untuk diceritakan.
1. Area Parkir yang Cukup Luas
Salah satu hal yang langsung menarik perhatianku adalah area parkirnya. Saat aku datang untuk menghadiri kajian Sheikh Assim Al-Hakeem, terlihat banyak mobil dan sepeda motor terparkir di area masjid.
Meskipun dipadati kendaraan jamaah, area parkirnya terlihat cukup luas untuk menampung kendaraan yang datang saat acara berlangsung. Di sekitar area ini juga terdapat beberapa tenant makanan yang mengikuti bazar untuk meramaikan acara kajian.
Nah, karena berada di dalam pemukiman, bagian depan masjid juga langsung taman gitu. Jadi aku dan suami bahkan sempat makan jajanan yang sudah kami beli dan memakannya di taman. Hehehe…
2. Toilet dan Tempat Wudhu Perempuan
Untuk fasilitas perempuan, toilet dan tempat wudhu berada di lantai satu. Tersedia beberapa bilik toilet serta banyak keran air yang bisa digunakan untuk berwudhu.
Dari segi jumlah, fasilitas ini cukup membantu, terutama ketika masjid sedang ramai oleh jamaah seperti saat acara kajian yang aku hadiri.
Namun, ada satu hal yang menurutku masih bisa ditingkatkan, yaitu kondisi lantainya. Di beberapa bagian, lantai terlihat kusam sehingga kesan bersih dan terawatnya belum terlalu terasa.
Mungkin karena masjid ini sudah cukup tua dan lama digunakan makanya hal tersebut bisa sampai terjadi. Makanya menurutku perawatan berkala menjadi hal yang penting agar fasilitasnya tetap nyaman bagi jamaah. Tentunya, ini merupakan pengamatanku saat berkunjung aja, ya, bukan penilaian menyeluruh terhadap kondisi masjid setiap harinya.
3. Ruang Serbaguna di Lantai Satu
Selain toilet dan tempat wudhu, di lantai satu juga terdapat ruang serbaguna. Ruangan ini dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan di masjid, termasuk sebagai tempat bagi jamaah perempuan untuk mengikuti kajian.
Saat kajian berlangsung, acara utama diselenggarakan di lantai dua. Namun, jamaah perempuan juga bisa menyimak materi dari lantai satu dengan bantuan televisi yang menampilkan jalannya kajian.
Menurutku, fasilitas ini cukup membantu karena jamaah perempuan memiliki alternatif tempat untuk mengikuti acara tanpa harus berada langsung di ruang utama di lantai dua.
4. Ruang Salat di Lantai Dua
Ruang salat utama berada di lantai dua. Ketika masuk ke area ini, kesan pertama yang kurasakan adalah ruangannya cukup lega dan luas.
Di sisi kanan dan kiri ruangan terdapat jendela yang semi terbuka. Dari sepenglihatanku, ruangan ini tampaknya lebih mengandalkan sirkulasi udara alami dan kipas angin karena aku tidak melihat adanya AC.
Keberadaan banyak kipas angin membantu sirkulasi udara di dalam ruangan. Meski begitu, kenyamanan suhu tentu bisa terasa berbeda, tergantung jumlah jamaah dan kondisi cuaca saat itu.
Untuk perlengkapan salat, aku kebetulan membawa mukena sendiri dari rumah. Jadi, aku nggak sempat menggunakan mukena yang disediakan masjid dan belum bisa bercerita tentang kondisi kebersihannya.
Secara keseluruhan, ruang salatnya cukup luas untuk menampung jamaah, termasuk ketika ada kegiatan kajian yang dihadiri banyak orang.
Menghadiri Kajian Sheikh Assim Al-Hakeem di Masjid Al-Munawwarah
Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang menjadi alasan utama kedatanganku dan suami ke Masjid Al-Munawwarah.
Jujur, aku senang sekali akhirnya bisa menghadiri kajian Sheikh Assim Al-Hakeem secara langsung. Selama ini, aku lebih sering melihat beliau melalui video di media sosial. Rasanya tentu berbeda ketika biasanya hanya menonton dari layar ponsel, lalu akhirnya bisa hadir di tempat yang sama untuk mendengarkan tausiyahnya secara langsung.
Kajian yang berlangsung pada Minggu, 11 Oktober 2026 ini mengangkat tema “Wasting Time” atau tentang menyia-nyiakan waktu.
Sesuai dengan yang kudengar, Sheikh Assim Al-Hakeem menyampaikan materi menggunakan bahasa Inggris. Buat jamaah yang terbiasa mendengarkan ceramah berbahasa Inggris, tentu hal ini bukan masalah. Namun, bagaimana dengan jamaah yang belum terlalu memahami bahasa tersebut?
Untungnya, panitia menyediakan beberapa televisi dengan subtitle bahasa Indonesia. Jadi, jamaah yang kurang memahami bahasa Inggris tetap bisa mengikuti materi yang disampaikan.
Menurutku, fasilitas terjemahan seperti ini penting sekali dalam sebuah kajian yang menghadirkan penceramah dari luar negeri. Pesan yang disampaikan bisa menjangkau lebih banyak orang, bukan hanya mereka yang fasih berbahasa Inggris.
Tema tentang menyia-nyiakan waktu juga terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kita sering kali sibuk menjalani rutinitas, mengerjakan berbagai pekerjaan atau menghabiskan waktu dengan ponsel tanpa benar-benar menyadari bagaimana waktu berlalu.
Melalui kajian seperti ini, kita diajak untuk kembali memikirkan bagaimana waktu yang dimiliki sebaiknya digunakan. Apalagi, dalam kehidupan seorang muslim, waktu bukan hanya berkaitan dengan produktivitas, tetapi juga kesempatan untuk beribadah, menuntut ilmu, dan melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Buat Manteman yang penasaran dengan isi kajiannya, rekaman acara ini bisa ditonton di link ini ya YouTube Masjid Al-Munawwarah Witana Harja.
Pengalaman Pertama yang Berkesan di Masjid Al-Munawwarah
Berkunjung ke Masjid Al-Munawwarah Witana Harja menjadi pengalaman tersendiri buatku. Selain bisa mengikuti kajian Sheikh Assim Al-Hakeem secara langsung, aku juga jadi mengenal salah satu masjid di kawasan Pamulang yang selama ini belum pernah kudatangi.
Tentunya yang paling berkesan kesempatan untuk menuntut ilmu secara langsung. Ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa mendengarkan kajian yang biasanya hanya kita ikuti melalui media sosial, kali ini dalam suasana majelis ilmu bersama jamaah lainnya. :)
Semoga kedepannya semakin banyak kesempatan untuk menghadiri kajian-kajian seperti ini. Bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi pengingat agar kita bisa menggunakan waktu yang dimiliki dengan lebih baik dan bermanfaat. Gimana, setuju nggak Manteman? 🙂
Dita Indrihapsari



No comments