Bosan dengan Label "Serasa di Jepang" atau "Vibes Bali" pada Tempat Wisata



Belakangan ini, setiap kali melihat konten tentang tempat wisata, hotel, atau penginapan di media sosial, ada satu hal yang mulai sering membuatku merasa bosan. Yap, sesuai judul tulisan aku ini. Aku mau sedikit curhat soal penggunaan label yang membandingkan sebuah tempat dengan destinasi lain. :D


Misalnya, ada penginapan yang disebut punya vibes Bali. Ada tempat wisata yang katanya serasa sedang berada di Jepang. Atau sebuah resort yang suasananya mirip seperti di Eropa.


Sebenarnya, beberapa kali saat membuat konten di media sosial, aku juga pernah menggunakan kalimat serupa. Misalnya, menyebut sebuah tempat punya vibes seperti di suatu negara atau menggambarkannya sebagai tempat ala destinasi tertentu. Hehehe…. :D 


Aku paham banget, kok, penggunaan kalimat seperti itu memang bisa membantu orang jadi ngebayangin suasana sebuah tempat. Apalagi kalau audiens belum pernah berkunjung ke sana. Perbandingan seperti itu terkadang jadi cara yang praktis untuk menggambarkan sesuatu.


Tapi, entah kenapa, belakangan ini aku justru mulai merasa bosan dengan cara promosi seperti ini, ya. Ada yang ngerasain juga nggak, sih, sama apa yang aku rasain ini? 


Aku jadi ngerasa gimana, ya, bertanya-tanya aja, memangnya sebuah tempat wisata harus selalu terlihat seperti destinasi luar negeri atau tempat lain supaya dianggap menarik, ya?



Kenapa Harus Selalu Dibandingkan dengan Tempat Lain?

Kalimat seperti "serasa liburan ke Jepang" atau "nggak perlu jauh-jauh ke Bali" mungkin terdengar lebih menjual dibandingkan sekadar menyebut nama tempat dan fasilitasnya.


Namun, kalau hampir setiap tempat menggunakan pendekatan yang sama, rasanya jadi kurang menarik.


Ada sebuah penginapan dengan bangunan bergaya tropis, langsung disebut punya suasana Bali. Ada taman dengan bunga warna-warni dan bangunan bernuansa tradisional, kemudian dibandingkan dengan Jepang. Ada pula tempat makan dengan bangunan bergaya klasik yang disebut punya nuansa Eropa.


Padahal, belum tentu semuanya benar-benar punya pengalaman yang serupa dengan tempat yang dijadikan pembanding.


Menurutku, ada perbedaan antara memberikan gambaran suasana dan menjadikan destinasi lain sebagai standar untuk menilai daya tarik sebuah tempat.


Aku nggak mempermasalahkan kalau memang ada kemiripan. Toh, inspirasi desain bangunan, arsitektur, maupun konsep tempat kan memang udah dipikirin sama pengelola dari awal, ya. Tapi, apakah setiap kemiripan itu harus selalu dijadikan identitas utama dalam promosinya?



Indonesia Punya Keunikan yang Nggak Kalah Menarik

Kalau dipikir-pikir, negara kita sebenarnya punya begitu banyak keunikan yang bisa diangkat.


Kita punya alam yang beragam, mulai dari pantai, pegunungan, hutan, danau, sampai desa-desa dengan suasana yang masih sangat kental dengan kehidupan lokal.


Belum lagi kekayaan budaya, arsitektur tradisional, kuliner, dan cerita sejarah dari setiap daerah.


Setiap tempat punya karakter masing-masing. Bahkan, dua destinasi yang lokasinya berdekatan aja bisa menawarkan pengalaman yang sangat berbeda.


Misalnya, daripada menyebut sebuah penginapan di kawasan pegunungan sebagai tempat dengan vibes Swiss, kenapa nggak mengangkat suasana pegunungan Indonesia yang ditawarkan? Udara sejuk, pemandangan hijau, kabut pagi, atau kehidupan masyarakat di sekitarnya justru bisa menjadi daya tarik tersendiri.


Begitu juga dengan tempat wisata yang memiliki taman indah atau bangunan unik. Daripada terus-menerus dibandingkan dengan Jepang atau Eropa, kenapa nggak menceritakan konsep, keunikan desain, dan pengalaman yang bisa didapatkan pengunjung?


Menurutku, justru hal-hal seperti inilah yang membuat sebuah destinasi punya identitas.


By the way, apa yang aku tulis barusan di atas sebenarnya buat ngingetin diriku sendiri juga, sih. Yes, karena memang selama ini pun aku melakukan hal itu. Nah, tapi pernah juga ada klien yang memang maunya hook seperti itu ya mau nggak mau aku ikutin… :D Waktu itu mungkin aku juga belum menemukan titik rasa bosannya kayak sekarang. Hehehe…



Promosi yang Menarik Nggak Harus Selalu Pakai Perbandingan

Aku juga jadi kepikiran kalau  cara kita mempromosikan sebuah tempat bisa ikut membentuk ekspektasi orang yang ingin berkunjung.


Ketika sebuah penginapan disebut punya vibes Bali, orang mungkin membayangkan suasana tropis, kolam renang, pepohonan rindang, atau arsitektur khas yang sering mereka temui di Bali.


Ketika sebuah tempat disebut serasa di Jepang, mungkin yang terbayang adalah taman dengan bunga sakura, bangunan tradisional, atau suasana khas Negeri Sakura.


Padahal, setelah datang langsung, pengalaman yang didapatkan bisa aja berbeda.


Bukan berarti tempat tersebut jelek atau nggak menarik. Hanya saja, label yang digunakan sejak awal sudah membentuk ekspektasi tertentu gitu, kan.


Menurutku, akan jauh lebih menarik kalau promosi sebuah destinasi berfokus pada apa yang benar-benar ditawarkan. Hooknya ke situ. Menarik atau nggaknya memang gimana kita meramu kata-katanya. Bisa ceritakan fasilitasnya, suasananya, aktivitas yang bisa dilakukan, pemandangan di sekitarnya, atau pengalaman unik yang mungkin nggak bisa ditemukan di tempat lain.


Nggak perlu selalu mencari kemiripan dengan destinasi yang sudah lebih dulu populer.



Mulai Melihat Keunikan di Setiap Tempat

Setiap tempat punya ciri khasnya masing-masing, rasanya sayang kalau keunikan tersebut hanya dijadikan embel-embel dari destinasi lain.


Suatu tempat nggak harus disebut jadi Bali versi lain, Jepang versi lokal atau Eropa dalam bentuk miniatur agar menarik untuk dikunjungi.


Kita punya identitas sendiri. Kita punya cerita, budaya, alam, dan pengalaman yang layak untuk diperkenalkan apa adanya.


Jadi, mungkin sudah waktunya kita mulai mengubah cara memandang dan mempromosikan tempat wisata kali, yaa. Bukan lagi sibuk mencari kemiripan dengan destinasi lain baik di luar negeri maupun dalam negeri, tapi lebih banyak menggali dan menceritakan apa yang membuat tempat tersebut istimewa.


Sebuah tempat sebenarnya nggak harus mirip dengan tempat lain untuk bisa menjadi destinasi yang menarik… Iya, kan…? 😀



Dita Indrihapsari



No comments

Contact Form

Name

Email *

Message *