Rasanya sudah agak lama nggak mengikuti walking tour, akhirnya saat menjelang akhir puasa lalu, aku mendaftar untuk ikut walking tour bersama Jakarta Good Guide. Ini kali pertama aku mencoba walking tour saat berpuasa. Hmm, penasaran aja, kira-kira aku bakal kuat nggak, ya… :D
Jadwal walking tour yang biasa aku ikuti dimulai pukul 9 pagi, saat puasa ternyata dimajukan satu jam lebih awal. Pukul 8 pagi aku sudah harus sampai di meeting point untuk mulai walking tour.
Jadwal yang lebih pagi dimaksudkan supaya selesainya pun lebih cepat dari biasanya. Kebayang kalau sampai siang panas-panasan walking tour dan lagi puasa pula, hausnya kayak apa… Hehehe…
Nah, pas banget saat melihat jadwal walking tour yang ada, aku tertarik untuk ikut rute Noordwijk/Rijswijk. Rute ini kayaknya, sih, termasuk rute yang jarang aku lihat di jadwal walking tour-nya Jakarta Good Guide. Makanya begitu ada rute ini dan waktunya juga aku bisa, langsung aja gassss…
Oiya, ada yang tahu nggak ini rute di jalan apa?
Noordwijk merupakan nama Jalan Juanda di masa kolonial dulu. Sedangkan Rijswijk adalah nama Jalan Veteran. Kedua jalan ini, Jalan Juanda dan Jalan Veteran, saling bersisian dan dipisahkan oleh sungai kecil atau kanal. Dulunya aliran kanal ini disebut sebagai molenvliet.
Meeting point untuk rute Noordwijk dan Rijswijk ini pun mudah dijangkau, yaitu di dekat Family Mart sebelah Stasiun Juanda. Jadi aku dari Depok pagi-pagi sekali sudah naik kereta menuju Stasiun Juanda.
Karena hari itu sudah mulai cuti bersama, alhamdulillah kereta pun nggak sepadat biasanya. Kalau hari kerja biasa, kan, kebayang, ya, pagi-pagi penuhnya kayak sarden! :D
Pukul 8 kurang aku sudah tiba di meeting point. Di sana aku bertemu dengan teman-teman peserta walking tour lainnya. Sementara itu, tour guide untuk rute Noordwijk/Rijswijk ini adalah Kak Ara. Sebelumnya aku pernah ikut walking tour Chinatown yang juga dipandu olehnya.
Nggak menunggu terlalu lama, akhirnya walking tour ini pun dimulai. Di awal Kak Ara sudah menginfokan kalau rute ini bisa disebut juga rute imajiner. Pasalnya banyak bangunan-bangunan masa kolonial dulu yang sudah nggak ada wujudnya lgi lias sudah dihancurkan. Sayang banget, ya! :(
Namun tenang aja karena ada juga, kok, bangunan peninggalan Belanda dulu yang sampai sekarang masih ada dan juga masih berfungsi.
Jadi, gimana perjalanan walking tour menyusuri Noordwijk dan Rijswijk di Jakarta? Yuk, aku ceritain di sini, yaa….
Jalanan Kaum Elit di Jakarta Pada Masanya
Boleh dibilang kalau Noordwijk (Jalan Juanda) dan Rijswijk (Jalan Veteran) merupakan kawasan elit pada masa kolonial.
Noordwijk dan Rijswijk dulunya menjadi tempat bisnis banyak orang, terutama bagi kaum “borjuis”. Di kedua jalan tersebut berdiri banyak hotel megah, toko jam, restoran, toko bakery, toko perhiasan, bank, toko baju, hingga toko pakaian dalam. :)
Kebayang, kan, dari du ruas jalan ini pastinya adabanyak perputaran uang di masa itu. Nah, di masa kini pun Jalan Juanda dan Veteran juga sebenrnya nggak jauh berbeda. Ada banyak perkantoran, rumah makan, bank, serta toko-toko.
Apalagi Jalan Juanda dan Veteran juga dekat dengan ring 1 karena terletak di dekat Istana Merdeka. Bahkan pintu masuk beberapa kantor kementerian, dan bahkan Istana Merdek juga bisa dilakukan melalui Jalan Veteran.
Hanya saja memang kalau melihat foto-foto saat masa tempo dulu dan mendengar cerita dari Kak Ara sebagai guide, aku bisa merasakan hanya orang-orang kaya aja yang dapat melintasi jalan ini. Tiba-tiba aku berimajinasi memakai gaun lebar khas noni-noni Belanda sat melintasi jalan ini. Kalau sekarang, kan, ya, siapa saja bisa melewatinya. :)
Dari mengikuti walking tour ini pula aku jadi tahu banyak bangunan-bangunan menarik yang ada di Noordwijk dan Rijswik. Bukan hanya penginapan, pertokoan semata, tapi ada kisah seru yang luput dari pandangan mata mengenai tempat-tempat bersejarah di kedua jalan ini.
Hotel Sriwijaya, Ssalah Satu Hotel Tertua di Jakarta
Bukan Hotel Indonesia, bukan Hotel Borobudur, tapi hotel di Jalan Veteran ini disebut-sebut sebagai salah satu hotel tertua di Jakarta yang hingga kini masih ada dan berfungsi sebagai hotel. Namanya Hotel Sriwijaya. Lokasinya persis di sudut Jalan Veteran yang bersisian dengan Masjid Istiqlal.
Hotel Sriwijaya punya sejarah panjang. Hotel ini berdiri tahun 1863. Awalnya adalah sebuah restoran dan toko kue bernama Cavadino milik Conrad Alexander Willem Cavadino. Kemudian di tahun 1872 usaha ini merambah menjadi sebuah hotel. Karena itu restoran dan toko kue pun menempati bagian yang ada di bagian sisi samping depan. Hingga kini bangunan tersebut masih ada dan menjadi function hall.
Hotel ini kemudian berganti nama lagi menjadi Hotel du Lion d'Or pada 1899. Lalu, di tahun 1941 berganti nama lagi menjadi Park Hotel. Hingga pada akhirnya tahun 1950 berubah menjadi Hotel Sriwijaya hingga sekarang.
Hotel ini memiliki halaman parkir yang luas di bagian depan. Terdapat bangunan tambahan di belakang yang kini menjadi restoran hotel.
Hotel ini pun mengalami renovasi dan pergantian bagian atap yang diubah menjadi dak, bukan lagi beratapkan genteng.
Di saat puasa dan masa libur lebaran biasanya hotel ini full booked. Lokasinya yang strategis dan cuma “selangkah” dari Masjid Istiqlal membuat hotel ini banyak diminati oleh wisatawan dari luar daerah.
Grand Hotel Java, Hotel Besar yang Bangkrut!
Tempat yang sekarang menjadi Markas Besar TNI Angkatan Darat di Jalan Veteran dulunya ternyata sebuah hotel megah yang sangat luas. Namanya Grand Hotel Java.
Sisa bangunan utama sampai kini ternyata masih berdiri. Hal ini terlihat dari bentuk jendela-jendelanya yang khas. Namun bangunan ini sempat direnovasi dan ditambah ruangannya.
![]() |
| Sumber: Intisari |
Sayangnya saat melewati Mabes, aku dan peserta walking tour lain diminta oleh guide untuk nggak mengambil dokumentasi, baik foto maupun video. Ya, daripada nanti kenapa-kenapa, ya, jadi aku nurut, dong, ya.. :)
Grand Hotel Java dibangun tahun 1834. Hotel ini memiliki 70 kamar. Nah, selain bangunan hotel, ternyata dulu itu Grand Hotel Java juga memiliki beberapa paviliun yang juga dijadikan tempat menginap dan istirahat tamunya.
![]() |
| Sumber: Intisari |
Nggak nyangkanya, di hotel ini juga ada kandang kuda! Yes, karena dulu kereta kuda masih jadi alat transportasi, di hotel ini disediakan istal dan tempat parkir kuda. Kebayang, kan, ya betapa luasnya hotel ini.
Hanya saja katanya karena banyak pengunjung yang hanya menjadikan Grand Hotel Java sebagai tempat istirahhat sebentar dan bukan menginap, pada akhirnya hotel ini pun gulung tikar.
Setelah kemerdekaan, di tahun 1950, hampir semua bangunan Grand Hotel Java diratakan dan menjadi pada akhirnya dijadikan Markas Besar TNI Angkatan Darat.
Kantor Pusat Kimia Farma
Kalau Manteman pernah melintasi Jalan Veteran ini bisa jadi Manteman pernah melihat kantor pusat Kimia Farma.
Bangunan kantor Kimia Farma ini ternyata juga sudah ada dari masa kolonial saat jalan ini masih bernama Noordwijk, lho. Dan dulunya bangunan ini pun menjadi tempat perusahaan farmasi Belanda.
![]() |
| Sumber: Bisnis.com |
Kimia Farma memang merupakan perusahaan farmasi pertama di Indonesia. Nah, awalnya, perusahaan farmasi ini didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1817 dengan nama NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co.
Hingga pada akhirnya setelah kemerdekaan sekitar tahun 1958, pemerintah Indonesia melakukan menasionalisasikan dan meleburkan beberapa perusahaan farmasi menjadi Kimia Farma.
Toko Jam Legendaris, Van Arcken & Co
Masih di Rijswijk, dulu di jalan ini terdapat sebuah toko jam atau arloji terkenal bernama Van Arcken & Co. Toko jam ini berdiri cukup lama dari tahun 1861 sampai 1958.
Bukan hanya memproduksi jam saja, tapi Van Arcken & Co juga merupakan perussahan yang membuat kerajinan emas, perak, hingga permata.
Kebayang, kan, kalau customer toko ini juga dari kalangan berada, mulai dari keluarga Gubernur Jenderal Hindia Belanda sampai keluarga Keraton Yogya dan Solo. Nggak hanya itu, Kerajaan Siam atau Thailand dulunya juga kerap memesan perhiasana di Van arcken & Co.
![]() |
| Sumber: Wikipedia |
Hotel Der Nederlanden Jadi Bina Graha
Satu lagi hotel mewah di kawasan Rijswijk adalah Hotel der Nederlanden. Dulunya hotel ini adalah rumah tempat tinggal sampai dibeli oleh Raffles dan menjadi kediamannya. Memasuki zaman kolonial Belanda, Raffles pun menjeal rumah itu ke pemerintah Hindia Belanda.
Di masa Hindia Belanda, bangunan ini menjadi Hotel Der Nederlanden. Lalu pasca kemerdekaan, hotel ini bergnti nama menjadi Hotel Dharma Nirmala.
Fungsinya kemudian berubah menjadi kantor Cakrabirawa. Hingga pada akhirnya pada tahun 1969 bangunan dihancurkan dan diubah menjadi gedung baru sebagai kantor kepresidenan Bina Graha.
Gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) di Noordwijk
NHM merupakan perusahaan dagang Belanda. Kalau Manteman pernah ke Museum Bank Mandiri, nah, di situlah kantor NHM terbesar di Batavia.
Nggak hanya itu aja, kantor NHM juga terdapat di Noordwijk. Sayangnya, gedung NHM di Noordwijk saat ini sudah nggak ada wujudnya lagi. Gedung tersebut dibongkar pada tahun 1884 dan berganti rupa menjadi gedung Bank Mandiri dan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN).
![]() |
| Sumber: Facebook Indonesia Tempo Dulu |
Kantor Cabang Percetakan G. Kolff & Co di Hotel Red Top Pecenongan
Saat mengikuti walking tour ini, aku dan semua peserta juga diajak melipir sedikit ke Jalan Pecenongan.
Nah, di jalan ini juga ada cerita menarik soal adanya kantor cabang percetakan bernama G. Kolff & Co yang sekarang menjadi Hotel Red Top. Bangunan asli percetakan tersebut sudah nggak ada, ya. Setelah gedung percetakan dihancurkan barulah kemudian didirikan bangunan yang sekarang.
Selain usaha percetakan, G. Kolff & Co juga menerbitkan buku. Dan di saat itu perusahaan ini merupakan perusahaan penjualan buku terbesar di Hindia Belanda. Kalau sekarang mungkin bisa dibandingkan dengan Gramedia, ya. :)
Untuk kantor pusa G. Kolff & Co sendiri ada di kawasan Kota Tua Jakarta. Namun saat ini pun gedungnya sudah nggak ada.
Dulunya Bank, Sekarang Tetap Menjadi Bank
Di Jalan Juanda terdapat dua Bank Mandiri. Nah, salah satunya Bank Mandiri Kantor Cabang Juanda ini.
Kalau dilihat dari bangunannya kelihatan, ya, kalau ini bangunan lama. Dan memang betul, dulunya bangunan ini menjadi kantor Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij yang bergerak di bidang perbankan. Jadi dari dulu sampai sekarang fungsinya masih sama, ya.
Ada hal menarik yang diceritakan Kak Ara saat aku berada di depan bangunan ini. Jadi, katanya bangunan bank pada masa itu dibuat sangat nyaman dengan langit-langit yang tinggi dan di bagian bawahnya juga dibuat sirkulasi udara agar pengunjung merasa nyaman dan nggak kepanasan. :)
![]() |
| Sumber: Instagram @museum_mandiri |
Toko Oen Pernah ada di Jakarta!
Restoran sekaligus toko kue dan es krim legendaris yang ada di Semarang ternyata dulu juga pernah ada di Noordwijk, lho! Fakta ini baru banget aku tahu pas mengikuti rute walking tour Noordwijk/Rijswijk ini.
Dulu di tahun 1939, Toko Oen cabang Jakarta dibuka sebagai bentuk perluasan bisnis keluarga Oen. Awalnya Toko Oen buka di Yogyakarta, lalu membuka cabag di Jakarta, Malang, dan Semarang. Kini Tko Oen hanya ada di Semarang saja.
Toko Oen di Jakarta tutup pada tahun 1973. Kini bangunan Toko Oen sudah hancur dan didirikan bangunan baru yang kini menjadi gedung DBS.
![]() |
| Sumber: Facebook Lost Jakarta |
Tempat Bergosip Mevrouw Belanda di Gedung Bank Indonesia
Ada cerita seru begitu romobongan kami melewati gedung Bank Indonesia di Jalan Juanda (Noordwijk).
Kak Ara menceritakan dengan antusias kalau dulunya di tempat ini berdiri sebuah restoran dan gedung pertemuan. Di lantai atasnya menjadi tempat berkumpul para mevrouw-mevrouw Belanda dan mereka saling bergosip! :D
Dulu kabar lebih cepat menyebar dari mulut ke mulut. Karena itulah nggak heran kalau setelah dari pertemuan khusus perempuan itu pasti banyak cerita yang akan muncul di kalangan mereka. :)
Kapel Katolik Biara Ursulin Santa Maria
Meskipun belum siang tapi rasa panas rasanya sudah mulai menyengat. Namun aku tetap semnagat mengikuti walking tour ini. Sampai kami semua berada di sebuah bangunan putih bersih bertuliskan Santa Maria di atasnya. Ya, inilah gedung tempat di mana para biarawati Katolik berada.
Cerita mengenai keberadaan Snata Maria di Noordwijk ternyata berawal dari kedatangan tujuh biarawati pada tahun 1856. Mereka sampai ke Batavia dari Rotterdam dengan menggunakan kapal Hermaan.
Sesampainya di Batavia, mereka tinggal di Noordwijk. Komunitas ini pun berkembang hingga pada saat ini di kawasan tersebut juga terdapat sekolah Santa Maria dan Museum Santa Maria.
Toko Bakery Caramia
Perjalanan walking tour rehat sejenak di sebuah toko bakery legendaris. Caramia Bakery namanya.
Toko roti ini ternyata sudah ada sejak tahun 1970-an. Begitu masuk ke dalamnya tampak gaya restoran fast food khas Amerika. :)
Kue onbitjkoek Caramia Bakery menjadi salah satu kue favorit di sini. Nah, mumpun di sini aku pun membeli kue tersebut dan beberapa roti. Tentunya untuk oleh-oleh suami dan anak-anak, ya. Karena lagi puasa aku nggak bisa makan langsung di sana… :) Begitu sampai di ruah, barulah aku mersakan empuknya roti yang dibuat toko ini…
Oiya, saat aku di sana, aku juga melihat oma-oma yang membeli roti di toko ini. Sepertinya beliau pelanggan, ya. Rasanya kalau suatu hari nanti akulewat Caramia Bakery, aku mau beli roti lagi di sini… :D
Kantor Asuransi yang Akhirnya Mati
Satu lagi bangunan kolonial yang masih ada di Noordwijk adalah bangunan ini. Dulunya bangunan ini merupakan kantor Nederlandsh-Indiesche Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij (NILLMIJ) yang mulai beroperasi pada 1859. Nillmij merupakan perusahaan asuransi jiwa pertama di Hindia Belanda.
Nah, setelah Indonesia merdeka, Nillmij pun dinasionalisasi dengan beberapa perusahaan asuransi jiwa lainnya hingga menjadi Jiwasraya. Sayangnya, baru aja pada Januari 2025, Jiwasraya dicabut izin usahanya oleh OJK.
Bangunan itu pun sepi dan tutup. Padahal aku ngerasa kalau bangunannya bagus banget. Bahkan aku juga sempat mengintip di bagian dalam gedung yang ternyata ada kaca patri besar yang mirip seperti kaca patri di gedung Museum Mandiri.
Akhir Perjalanan di Replika Patung Hermes
Kalau pernah ke Musuem Kesejarahan Jakarta atau Museum Fatahillah pasti Manteman pernah melihat sebuah patung di bagian belakang museum. Itulah Patung Dewa Hermes yang awalnya dipajang di jembatan atau Tugu Harmoni, bagian ujung dari Noordwijk dan Rijswijk. .
Nah, di akhir perjalanan walking tour ini, Kak Ara sebagai tour guide bercerita tentang Patung Hermes tersebut.
Kini patung yang ada di sana merupakan patung replika. Dulu patung tersebut pernah diduga dicuri. Padahal kenyataannya patung tersebut tertabrak dan jatuh ke dalam sungai di bawahnya.
Patung Hermes itu ditemukan beberapa bulan kemudian dan dipindahkan ke Museum Fatahillah supaya lebih aman. Hingga pada akhirnya di lokasi awal penempatan patung dibuatlah patung replikanya.
Huaaaah, lumayan panjang juga, ya, ceritaku kali ini. Hihi… Aku gerasa perjalanan tour rute Noordwijk dan Rijswijk ini memang seru banget buat diceritakan kembali. Saat jalan kaki aku jadi ngebayangi suasana tempo dulu melalui cerita dan gambar-gambar yang diperlihatkan oleh Kak Ara.
Manteman tertarik juga buat menyusuri Noordwijk dan Rijswijk? :)
Dita Indrihapsari



















No comments