Menjelang September tahun lalu, aku jadi kepikiran untuk bikin konten di Museum AH Nasution. Aku memang belum pernah ke museum itu sebelumnya.
Namun aku sudah pernah tahu tentang sejarah dan apa yang terjadi di museum yang tadinya merupakan rumah Jenderal AH Nasution saat malam 30 September. Museum ini menjadi saksi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Indonesia pada 1965.
Usai mengunjungi Museum AH Nasution, rasanya aku bisa bilang kalau museum yang satu ini menghadirkan pengalaman berbeda bagiku. Bukan hanya karena nilai sejarahnya, tetapi juga karena ada cerita tentang kemanusiaan yang pedih.
Saat berkunjung ke Museum AH Nasution Jakarta, aku nggak hanya melihat koleksi benda atau diorama masa lalu. Aku juga seperti diajak memasuki ruang kenangan seorang anak kecil bernama Ade Irma Suryani Nasution. Ya, dialah anak bungsu dari Jenderal AH Nasution.
Museum yang masih berdiri tegak sampai sekarang ini menyimpan berbagai cerita tentang kehidupan sang jenderal, termasuk tragedi yang merenggut nyawa putri bungsunya tersebut.
Begitu memasuki museum, suasananya terasa sangat tenang. Ada diorama, foto-foto, hingga ruangan yang masih dipertahankan seperti dahulu. Namun, dari seluruh bagian museum, ada satu ruang yang paling lama membuat aku berhenti melangkah dan seperti kehabisan udara: kamar Ade Irma Suryani.
Museum AH Nasution dan Jejak Peristiwa 1965
Seperti yang sudah aku tulis sebelumnya, Museum AH Nasution menempati rumah asli sang Jenderal. Lokasinya ada di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat. Untuk menyambanginya, aku naik kereta Commuterline sampai Stasiun Gondangdia lalu jalan kaki sekitar 10 menit.
Saat tiba di sana, aku melihat suasana sangat lengang. Hanya ada satu orang yang berjaga di pos satpam di bagian depan bangunan. Pengunjung pun hanya ada aku seorang diri. Karena sudah sampai di sana, ku beranikan diri saja untuk masuk ke dalamnya.
Rumah yang dibangun sejak era kolonial tersebut menjadi kediaman AH Nasution sejak akhir 1940-an hingga akhir hayatnya. Pada dini hari 1 Oktober 1965, rumah ini menjadi lokasi penyerbuan pasukan Cakrabirawa yang ingin menculik AH Nasution dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai G30S.
AH Nasution berhasil menyelamatkan diri dengan melompati tembok di samping rumah. Tapi meski lolos, kejadian dini hari itu tetap berujung tragedi dan meninggalkan luka mendalam bagi keluarga AH Nasution.
Di museum ini, pengunjung dapat melihat berbagai diorama, lubang bekas peluru, hingga ruang-ruang yang menjadi saksi bisu di malam tersebut. Hingga akhirnya kakinya memasuki kamar Ade Irma Suryani Nasution, anak berumur lima tahun yang hidupnya berhenti terlalu cepat.
Memasuki Kamar Ade Irma Suryani
Ya, di salah satu bagian rumah terdapat sebuah kamar yang dahulu ditempati oleh Ade Irma Suryani Nasution. Kamar tersebut tepat berada di sebelah kamar utama AH Nasution dan berada di depan ruang makan.
Kamar itu cukup besar dan terasa sangat personal. Kamar ini bukan seperti ruang pamer biasa di museum-museum yang dipenuhi label dan penjelasan formal. Ruang kamar ini justru menghadirkan perasaan seperti sedang memasuki dunia kecil seorang anak.
Di dalamnya terdapat dipan kasur sederhana berukuran kecil. Di tepi ruangan berdiri lemari kaca besar berisi berbagai memorabilia yang dijaga dengan rapi.
Pandanganku langsung tertuju pada sebuah baju tentara anak yang tersimpan di dalam lemari. Ternyata ada cerita sedih di balik keberadaan baju seragam mungil tersebut.
Menurut keterangan penjaga museum, seragam kecil tersebut belum sempat dipakai oleh Ade Irma. Rencananya seragam tentara kecil itu akan dipakainya saat peringatan Hari ABRI pada 5 Oktober, kembaran dengan ayahnya yang juga akan memakai seragam tentara.
Namun takdir berkata lain. Seragam mungil itu akhirnya hanya menjadi benda kenangan yang diam di balik kaca saja.
Melihatnya dari dekat membuatku terdiam cukup lama. Di usia lima tahun, seorang anak biasanya sibuk memilih mainan atau menunggu hari bermain bersama keluarga. Namun di ruangan ini, sebuah seragam kecil justru menjadi pengingat tentang rencana yang nggak pernah sempat terjadi. :(
Bukan hanya seragam tentara kecil, di kamar itu juga terdapat mainan milik Ade Irma, baju terusan rok putih, serta beberapa benda lain yang memperlihatkan sisi kesehariannya.
Foto-Foto yang Menyimpan Cerita
Di kamar Ade Irma terdapat beberapa foto dirinya. Ada foto-foto pribadi yang menampilkan wajah mungilnya. Senyum seorang anak kecil yang polos.
Namun ada satu foto yang menarik perhatianku, yaitu foto Ade Irma bersama Pierre Tendean.
Nama Pierre Tendean tentu nggak asing dalam kisah G30S. Ia adalah ajudan AH Nasution yang juga menjadi korban peristiwa tersebut. Pada malam penyerbuan, Pierre ditangkap kemudian dibawa ke Lubang Buaya.
Melihat foto mereka berdampingan terasa begitu menyentuh. Dua sosok dengan usia dan peran berbeda, tetapi dipertemukan oleh tragedi yang sama.
Siapa Sosok Ade Irma Suryani Nasution?
Banyak orang mengenal nama Ade Irma Suryani hanya sebagai korban peristiwa 1965. Padahal di balik nama itu ada sosok anak yang dicintai keluarganya.
Ade Irma Suryani Nasution lahir di Jakarta pada 19 Februari 1960. Ia merupakan putri bungsu Jenderal Besar AH Nasution dan Johanna Nasution. Dalam berbagai kisah keluarga, Ade dikenal sebagai anak yang ceria, aktif, dan sangat dekat dengan ayahnya.
Kedekatan itu bahkan masih dikenang hingga kini. Beberapa sumber menyebutkan kalau Ade Irma sering menemani sang ayah dan sangat menyayanginya. Ia tumbuh di lingkungan keluarga militer, namun tetap menjalani masa kecil yang penuh keceriaan seperti anak-anak lain.
Melihat kamar dan barang-barangnya di museum membuat saya membayangkan kehidupan kecil itu: bermain, bercanda, berlarian di rumah besar di Menteng, tanpa pernah mengetahui bahwa sejarah sedang menuju malam yang tragis.
Saat pasukan Cakrabirawa merangsek masuk ke kediaman AH Nasution, Ade Irma pun juga ikut terbangun. Ia yang digendong ibunya kemudian digendong oleh tantenya. Tak lama berselang, peluru justru mengenai punggungnya. Ade Irma tertembak!
Ia masih sempat dilarikan ke RSPAD Gatot Subroto. Namun setelah dirawat beberapa hari, Ade Irma Suryani menemui takdirnya untuk berpulang di tanggal 6 Oktober 1965.
Mengenang Ade Irma di Museum AH Nasution
Museum AH Nasution sering dikunjungi untuk belajar sejarah G30S atau mengenal perjalanan hidup AH Nasution. Namun bagiku, museum ini juga menjadi tempat mengenang Ade Irma Suryani.
Di tengah narasi besar sejarah bangsa, kamar kecilnya mengingatkan bahwa konflik dan kekerasan juga dirasakan oleh anak-anak yang masih polos, yang semestinya nggak jadi korban.
Berkunjung ke Museum AH Nasution akhirnya bukan sekadar wisata sejarah, melainkan perjalanan untuk mengenang seorang anak yang namanya kini diabadikan di berbagai tempat di Indonesia, dari nama taman, nama jalan, hingga nama sekolah.
Meski sudah tiada, namun namanya tetap abadi selamanya. Ade Irma Suryani Nasution…
Dita Indrihapsari








No comments