Beberapa tahun lalu, aku dan keluarga mengikuti wisata Jeep Merapi di Yogyakarta. Salah satu destinasi yang kami kunjungi adalah Bunker Kaliadem, sebuah bangunan bawah tanah sederhana yang berada di lereng Merapi.
Dari luar, bunker ini tampak seperti bangunan beton biasa. Yang membuatnya nggak biasa adalah lokasinya dengan latar Gunung Merapi yang berdiri megah. Terdapat tulisan BUNKER KALIADEM berukuran besar juga di bagian luar bunker yang sering dijadikan spot foto wisatawan.
Saat itu aku dan keluarga masuk ke dalam bunker ditemani driver jeep sekaligus tour guide. Ia kemudian mulai menceritakan kisah pilu yang terjadi di tempat tersebut. Kisah yang membuat suasana di dalam bunker jadi terasa berbeda.
Tempat yang kini menjadi objek wisata tersebut ternyata pernah menjadi saksi bisu tragedi memilukan saat erupsi Merapi tahun 2006. Tepat 20 tahun lalu.
Mengenal Bunker Kaliadem
Bunker Kaliadem berada di kawasan Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Lokasinya berada nggak terlalu jauh dari puncak Gunung Merapi.
Bunker ini mulai dibangun tahun 2001. Lalu diresmikan dan beroperasi empat tahun kemudian di 2005.
Bunker ini dibangun sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana. Tujuannya untuk menyediakan tempat perlindungan darurat bagi warga, petugas, maupun relawan ketika terjadi awan panas atau aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang membahayakan.
Dengan konstruksi beton yang tebal dan berada di bawah permukaan tanah, bunker ini diharapkan mampu menjadi tempat aman saat terjadi erupsi.
Saat aku masuk ke dalamnya, aku merasa kalau ukuran bunker sebenarnya nggak terlalu besar. Menurut penjelasan pemandu, kapasitas bunker ini bisa memuat sekitar 40 orang.
Di dalamnya berupa ruangan beralas keramik dengan fasilitas kamar mandi kecil di salah satu sudutnya.
Saat masuk ke dalam bunker, aku sempat ngebayangin gimana suasana ketika puluhan orang harus berlindung di sana dalam kondisi darurat.
Kini kondisi bunker sudah menjadi bagian dari jalur wisata Jeep Merapi. Banyak wisatawan datang untuk melihat langsung bangunan yang jadi tempat tragedi paling dikenang dalam sejarah erupsi Merapi.
Batu Besar Saksi Keganasan Merapi
Saat berada di dalam area bunker, mataku juga tertuju pada sebuah batu berukuran sangat besar. Batu tersebut merupakan material yang terlontar saat erupsi Merapi. Di sekelilingnya juga ada beberapa batu yang ukurannya lebih kecil.
Aku sebenarnya agak heran juga, giman batu sebesar itu bisa sampai masuk ke dalam bunker ini. Berarti sebegitu dahsyatnya, ya, erupsi Merapi yang terjadi.
Melihat ukurannya yang begitu besar membuatku jadi makin sadar tenaga yang dimiliki gunung berapi ini juga sangat luar biasa. Sulit ngebayangin gimana batu sebesar itu bisa terlempar dari perut gunung.
Bagiku, batu itu jadi pengingat bahwa Merapi bukan hanya destinasi wisata yang indah, tetapi juga gunung api aktif yang punya kekuatan dahsyat di dalamnya..
Tragedi Erupsi Merapi Tahun 2006
Kisah paling memilukan dari Bunker Kaliadem terjadi pada 14 Juni 2006. Saat itu Gunung Merapi mengeluarkan awan panas atau yang sering disebut masyarakat Jawa sebagai wedhus gembel.
Dua relawan bernama Bapak Sarjono dan Bapak Kenteng berada di dekat kawasan Merapi ketika awan panas mulai meluncur ke arah lereng gunung.
Mereka kemudian memilih masuk ke dalam Bunker Kaliadem karena menganggap tempat itu merupakan lokasi paling aman untuk berlindung.
Sayangnya, keadaan nggak berjalan seperti yang diharapkan. Awan panas yang keluar dari Merapi ternyata jauh lebih besar dan lebih ganas dari perkiraan. Material vulkanik bersuhu sangat tinggi menimbun bunker hingga membuat hampir seluruh bangunan tertutup.
Suhu di sekitar bunker mencapai ratusan derajat Celcius. Panas ekstrem tersebut akhirnya merambat ke bagian dalam bunker.
Alih-alih menjadi tempat perlindungan, Bunker Kaliadem malah berubah menjadi oven maut. Sarjono dan kenteng terperangkap di dalam bunker, nggak bisa kemana-mana.
Dari referensi yang aku baca, tim evakuasi baru berhasil menemukan mereka berdua setelah melakukan penggalian selama dua hari. Proses penyelamatan juga sangat sulit karena suhu di sekitar lokasi masih panas dan aktivitas Merapi juga masih berlangsung meski intensitasnya sudah menurun dari hari-hari sebelumnya.
Bahkan beberapa anggota tim evakuasi dilaporkan mengalami kesulitan akibat panas ekstrem yang membuat sepatu mereka meleleh. Kebayang, kan, suhunya sepanas apa… :( Lalu, gimana dengan kondisi Bapak Sarjono dan Bapak Kenteng?
Sarjono ditemukan di dekat pintu masuk bunker, sementara Kenteng ditemukan di area kamar mandi bunker. Mereka nggak bisa diselamatkan. :’(
Kisah ini menjadi salah satu tragedi paling menyedihkan dalam sejarah erupsi Merapi di era sekarang.
Bunker yang dibuat untuk menyelamatkan justru menjadi tempat yang nggak aman. Karena itulah sejak tragedi ini, Bunker Kaliadem ditutup dan nggak lagi difungsikan sebagai tempat perlindungan. Bunker ini akhirnya berubah menjadi destinasi wisata.
Kenapa Bunker Kaliadem Nggak Bisa Jadi Tempat Berlindung?
Nah, sejak kejadian itu, jadi banyak pertanyaan yang muncul. Kenapa bunker yang dibangun untuk tempat perlindungan justru nggak mampu menyelamatkan para relawan?
Dari berbagai laporan pasca kejadian yang aku baca, ternyata bunker tersebut sebenarnya dirancang untuk melindungi dari ancaman tertentu aja, seperti hujan abu dan paparan awan panas yang melintas.
Namun bunker pada kenyataannya nggak dirancang untuk siap menghadapi timbunan material vulkanik panas dalam jumlah besar yang langsung menutupi bangunan.
Ketika material panas menutupi bunker, suhu di dalam bangunan meningkat drastis. Panas dari luar merambat melalui beton dan membuat kondisi di dalam menjadi seperti oven raksasa.
Selain itu, pintu bunker tertutup material vulkanik sehingga orang yang berlindung di dalamnya pun nggak punya kesempatan untuk keluar menyelamatkan diri.
Tragedi ini kemudian jadi bahan evaluasi penting dalam sistem mitigasi bencana di kawasan Merapi dan di seluruh Indonesia.
Banyak pihak yang akhirnya sadar kalau bunker bukan solusi mutlak untuk menghadapi awan panas dengan skala besar. Menurutku, kalau pun dibangun bunker sebaiknya benar-benar dipikirkan dengan matang efek dari bencana yang terjadi.
Pembangunan bunker juga nggak bisa asal-asalan. Apalagi ini soal awan panas, lahar, sampai batuan vulkanik. Beda dengan bunker yang sering aku lihat di film-film Amerika yang fungsinya sebagai pelindung badai.
Di Jepang pun yang banyak gunung berapi, setahuku di sana untuk tempat berlindung dan evakuasi dibuat shelter. Nah, shelter kebanyakan bentuknya bukan seperti bunker bawah tanah, tapi seperti bangunan beton yang lokasinya agak jauh dari puncak gunung.
Karena itulah banyak yang berpendapat kalau sistem pemantauan gunung api, peringatan dini, jalur evakuasi, dan pengungsian ke zona aman yang lebih jauh jadi langkah yang jauh lebih penting supaya nggak jatuh korban saat erupsi gunung berapi.
Pelajaran dari Bunker Kaliadem
Tragedi Bunker Kaliadem mengajarkan kita kalau manusia punya keterbatasan di hadapan kekuatan alam. Teknologi dan bangunan perlindungan memang penting, tapi apa yang terjadi di alam bisa berada di luar perhitungan manusia.
Ketika meninggalkan Bunker Kaliadem, aku nggak hanya membawa foto-foto dokumentasi perjalanan wisata Jeep Merapi. Aku juga membawa pelajaran berharga, yaitu di balik keindahan Merapi, tersimpan cerita yang mengingatkan kita untuk selalu menghormati dan mewaspadai kekuatan alam.
Al Fatihah untuk Almarhum Bapak Sarjono dan Bapak Kenteng. Semoga mereka berdua tenang di sana….
Dita Indrihapsari



No comments