Rasanya sudah lama aku nggak trekking. Lalu beberapa minggu lalu datanglah ajakan dari teman-teman Moms Video Maker (MVM) untuk trekking ke Curug Cibadak yang lokasinya berada di kawasan Cijeruk, Bogor, dalam rangka acara Ngonten Bareng MVM..
Ajakan ini tentunya nggak aku sia-siakan begitu saja. Lumayan banget bisa refreshing bareng Ibu-ibu MVM dan tentunya sekalian me- time juga di weekend… :D
Saat aku menulis ini, aku baru aja pulang dari Curug Cibadak. Jadi tulisan ini benar-benar fresh from the oven, yaa… Bahkan masih berasa banget, nih, pegal-pegalnya… :D
Aku akan ceritanya gimana serunya perjalanan ke Curug Cibadak di Bogor dan kekagetan apa yang aku rasakan selama di perjalanan ini.
Berkumpul di Lenirra Villa and Resto
Untuk trip Ngonten Bareng kali ini, jumlah ibu-ibu MVM yang ikut ada 9 orang. Nah, kami semua terbagi dalam beberapa tim untuk sampai di tempat titik kumpul, yaitu di Lenirra Villa and Resto. Kami akan mulai perjalanan ke Curug Cibadak dari tempat ini dan rencananya kembali lagi ke Lenirra untuk makan siang.
Nah, dari Depok aku bersama rombongan teman-teman dengan satu mobil berjumlah 7 orang. Ada aku, Bu Ayu, Mba Melinda, Mam Dhedhe, Mak Andin, Isti, dan Ciwul. Kami mulai perjalanan dari Depok sekitar pukul 6.30 pagi.
Kami pun tiba di Lenirra sekitar pukul 8 pagi dan bertemu dengan dua teman lainnya, yaitu Mami Ruffie (serta suaminya) dan Mam Di.
Setelah berkumpul semua dan mempersiapkan apa yang akan kami bawa untuk trekking, kami diantar oleh mobil operasional Lenirra untuk sampai di titik awal pendakian. Dari Lenirra Villa and Resto ke titik awal ini jaraknya sekitar 10-15 menit perjalanan dengan jalur jalan yang cukup sempit.
Saat mau berangkat, aku pun sadar kalau minum di tumbler-ku sudah hampir habis. Padahal belum mulai trekking, ya, tapi minuman sudah habis. :D
Untungnya di titik awal pendakian ini ada warung yang menjual air mineral dan camilan Akhirnya akupun membelinya. Apalagi setelah tpur guide, yaitu Mang KIdal, bilang kalau di atas nanti nggak ada warung yang jual minum.
Nah, daripada dehidrasi dan takutnya menyusahkan teman0teman yang lain, kan, aku pun membeli air mineral sekalian sama camilan juga. :)
Jalur Pendakian dari Titik Awal
Di titik awal ini, kami memulai dengan stretching pemanasan dan tentunya berdoa supaya perjalanan pendakian ke Curug Cibadak yang kami lakukan lancar-lancar tanpa hambatan.
Mang Kidal memimpin pemanasan dan doa bersama. Setelh itu, kami pun langsung mengikuti arahannya untuk naik ke jalur pendakian.
Nah, pas awal mendaki, di kanan kiri sudah mulai banyak pepohonan dan tumbuhan yang rimbun. Namun vegetasinya belum rapat jadi masih banyak sinar matahari yang mengenai kami.
Di jalur ini kami juga sempat melewati jembatan dengan aliran sungai di bawah yang kering! Ya, sepertinya memang karena lagi musim kemarau ya, jadi sungai yang kami lewati betul-betul kering. Hanya bebatuan kecil dan besar serta tanaman liar saja yang aku lihat ada di bawah jembatan.
Lanjut lagi di jakur pendakian yang mulai menanjak, aku pun melihat ada bangunan kecil dengan tulisan “Selamat Datang Taman nasional Halimun Salak, Suaka Satwa Elang Jawa.”
Wah, melihat tanda sgn bagunan tersebut, aku pun makin semangat. Apakah kami akan melihat burung elang di tempat ini?
Melihat dari Dekat Suaka Elang Jawa dan Hutan Pinus
Jalan nggak terlalu jauh aku pun menemukan bangunan lagi yang jauh lebih besar dan ada pulang patung burung elang di depan bangunan tersebut.
Rasanya memang tempat ini merupakan pusat informasi mengenai Suaka Elang JAwa di tempat tersebut. Namun sayangnya aku sama sekali nggak melihat adanya burung elang asli di sini. Tapi kalau dipikir-pikir bakal deg-degan juga sih jika misalnya burung elang jawa betul-betul muncul di hadapan mata… :D
Di seberang patung elang Jawa, aku pun m melihat ada jembatan gantung yang cukup panjang. Aku pikir kami akan melewati jembatan itu dan kembali mendaki dari seberang. Ternyata pikiranku salah. Kami hanya berfoto dan bikin video aja di jembatan gantung itu untuk kemudian melanjutkan pendakian di jalur yang sebelumnya.
Nah, menariknya area sekitaran Suaka Suaka Elang Jawa juga ditumbuhi dengan deretan pohon pinus yang tinggi!
Wah, aku puas banget bisa santai sekejap di hutan pinus dan tentunya membuat banyak footage terutama foto di hutan pinus ini.
Medan Terjal dan Menanjak Curam
Nah, kalau di awal jalur masih terasa santai dan menyenangkan, beda banget rasanya begitu kami mulai masuk ke medan yang lebih dalam. Jalur yang tadinya cuma menanjak pelan, tiba-tiba berubah jadi jalan setapak yang curam dan penuh bebatuan sebagai pijakan.
Aku sampai kaget sendiri, lho. Nggak nyangka kalau trekking ke Curug Cibadak ini medannya bisa se-ekstrem itu. Batu-batu yang jadi pijakan pun ukurannya nggak rata, ada yang besar, ada yang kecil dan agak licin karena lembab. Jadi aku dan teman-teman harus benar-benar hati-hati milih pijakan, sambil pegangan track pole atau sambil memegang batu dan batang pohon.
Belum lagi tanjakannya yang bikin napas jadi ngos-ngosan. Rasanya baru jalan beberapa meter aja udah pengin berhenti buat ngatur napas. :D
Di beberapa titik, jalurnya juga cukup sempit dengan jurang di salah satu sisi. Jadi ekstra hati-hati banget, deh. Tapi justru di titik-titik menantang inilah rasa capeknya jadi terasa "worth it" karena pemandangan hutan yang makin rimbun dan sejuk di sekitar kami.
Curug Cibadak, Air Terjun di Tengah Hutan yang Menyegarkan!
Setelah berjuang melewati medan terjal tadi, akhirnya suara gemericik air mulai terdengar dari kejauhan. Rasanya lega banget begitu tahu Curug Cibadak sudah nggak jauh lagi!
Begitu sampai, pemandangan yang menyambut kami adalah air terjun yang nggak terlalu besar, tersembunyi di tengah rimbunnya hutan. Debit airnya memang nggak tinggi, mengalir pelan-pelan aja dari sela bebatuan.
Aku juga bersyukur banget di curug ini masih ada aliran airnya walaupun nggak deras, mengingat lagi musim kemarau begini. :)
Kolam di bawah curugnya sendiri terbilang sempit dan berbatu, jadi airnya nggak terlalu dalam. Tapi justru itu yang bikin nyaman buat sekadar main air segar setelah trekking yang bikin keringetan. Btw, airnya juga berasa dingiiiin… :D
Nah, kebetulan pas kami ke sana lagi nggak banyak pengunjung lain, jadi kami bisa lebih puas ambil footage dan foto-foto tanpa perlu antre atau berebut spot. Suasananya juga enak banget, banyak pohon dan tumbuhan liar di sekeliling curug yang membuat udara jadi sejuk dan segar.
Rasanya semua rasa pegal dan capek selama pendakian langsung terbayar begitu duduk santai di pinggir curug, dengar suara air, sambil ngobrol seru bareng ibu-ibu MVM.
Perjalanan Pulang yang Nggak Terlupakan….
Kalau dipikir, mungkin banyak yang mengira perjalanan pulang bakal lebih santai karena tinggal turun aja. Eh, ternyata nggak semudah itu, Ferguso! Justru perjalanan turun ini menyimpan tantangan yang nggak kalah bikin deg-degan dibanding waktu naik.
Medan yang sama-sama berbatu dan menanjak tadi, kalau dilewati waktu turun, rasanya jadi lebih licin dan bikin kaki gampang selip. Apalagi sendal gunungku juga masih terasa basah dan licin setelah main di curug.
Aku sampai harus ekstra hati-hati, jalan pelan-pelan sambil pegangan ke apa aja yang bisa dijadikan pegangan. Belum lagi lutut yang mulai protes karena harus menahan beban badan tiap kali menuruni bebatuan.
Tapi anehnya, di tengah rasa capek dan was-was itu, justru banyak momen kocak yang muncul. Ada yang hampir kepeleset, ada yang saling teriak-teriak ngasih semangat.. Huhu, terharuuu… :D
Begitu akhirnya sampai di titik awal pendakian lagi, rasanya lega bukan main. Rasa lelah yang menumpuk seketika berubah jadi rasa bangga dan syukur karena bisa menyelesaikan trip ini dengan seru dan penuh tawa bareng teman-teman.
Setelah itu kami kembali lagi ke Lenirra Villa and Resto untuk makan siang bareng, sambil saling cerita ulang momen-momen paling berkesan sepanjang trekking.
Meskipun badan pegal-pegal luar biasa, tapi pengalaman trekking ke Curug Cibadak ini jadi salah satu memori seru yang bakal aku ingat terus. Nggak sabar rasanya buat trekking bareng ibu-ibu MVM lagi di lain waktu! :D
Dita Indrihapsari

No comments