Situ Rawa Besar Depok: Kenangan Masa SD, Mitos Buaya Putih, dan Tempat Wisata Warga



Kalau ngomongin tempat yang punya kenangan khusus buat aku sejak kecil, salah satunya pasti Situ Rawa Besar atau yang lebih dikenal warga sekitar dengan nama Rawa Lio. :D


Situ ini bukan tempat asing buatku. Dulu waktu SD, aku sekolah di SDN Anyelir 1, dan kebetulan banget bagian belakang sekolahku itu langsung berbatasan sama situ ini. Jadi bisa dibilang, aku tumbuh dengan situ ini sebagai  bagian dari aku bersekolah selama bertahun-tahun. Apalagi pas SMA sekolahku pun juga ada di bagian depan situ atau danau ini… 


Dan pasti, deh, kalau anak sekolahan di sekitar situ ini, nggak akan lepas dari cerita mitos yang beredar. Salah satu yang paling santer waktu itu adalah mitos soal buaya putih yang katanya menghuni situ ini. 


Duh, kalau ingat-ingat lagi, dulu tiap ngeliat situ itu pas jam istirahat atau pas jam pulang sekolah, suasananya jadi berasa mistis-mistis gimana gitu. :D


Nah, karena situ ini punya tempat spesial di memori masa kecilku, aku jadi penasaran dan pengen coba telusuri lebih jauh. Oiya, apalagi suamiku juga rumahnya dekat banget sama situ ini, Paling hanya 30-50 meter aja jaraknya! 


Gimana, sih, ceritanya situ ini ada, sekarang dimanfaatkan untuk apa, sampai soal tempat nongkrong dan tempat wisata warga di pinggir situ. Yuk, simak ceritanya!



Sekilas Tentang Situ Rawa Besar

Situ Rawa Besar berlokasi di Jalan Kembang, Kampung Lio, Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok. 


Luas area situ ini sekitar 17 hektar dengan kedalaman sekitar 3,5 hingga 4,5 meter. Nggak jauh dari sini juga ada Jalan Arif Rahman Hakim, Stasiun Depok Baru, dan Terminal Depok, jadi sebenarnya lokasinya cukup strategis dan gampang dijangkau.


Nama "Rawa Lio" sendiri lekat sama nama Kampung Lio yang jadi lokasi situ ini berada.



Gimana Ceritanya Situ Rawa Besar Ini Ada?

Nah, ini bagian yang menurutku paling bikin aku "wah" begitu tahu faktanya. Ternyata, Situ Rawa Besar atau Rawa Lio ini bukan rawa dan juga bukan danau kecil alami. Bukan juga situ buatan yang sengaja dibangun untuk menampung air seperti kebanyakan situ lain di Depok.


Sebenarnya, tempat ini adalah cekungan sisa pertambangan yang sudah ditinggalkan. Jadi selama ini aku salah kira. AKu pikir Situ Rawa Besar itu memang danau buatan. Ternyata aslinya Situ Rawa Besar adalah bekas lubang tambang yang lama kelamaan terisi air. :D


Jadi ceritanya, dulu area ini punya kandungan tanah liat dalam jumlah besar. Pada masa kolonial, tanah liat dari daerah ini terus-menerus diambil dan dibentuk menjadi batu bata. Material batu bata ini kemudian dijual ke Batavia atau yang sekarang kita kenal sebagai Jakarta.


Penambangan di kawasan ini berlangsung begitu intensif. Tanah terus digali tanpa henti sampai akhirnya terbentuk ceruk besar di dalam tanah dengan luas mencapai 17 hektar dan kedalaman sekitar 3,5 hingga 4,5 meter, yang sekarang kita kenal sebagai Situ Rawa Besar.


Nah, dari cerita ini juga aku baru paham kenapa nama "Lio" dipakai untuk kawasan ini. Kata "lio" ternyata bermakna "tempat atau alat pembakaran batu bata atau genting". Jadi nama Kampung Lio dan Rawa Lio memang benar-benar berasal dari aktivitas pembakaran bata dan genting yang dulu jadi mata pencaharian warga sekitar.


Hayoooo, Manteman yang warga Depok juga baru tahukah kayak aku??? :D 


Menariknya lagi, situ ini juga sempat punya fungsi penting sebagai jalur transportasi warga, lho. Dulu ada perahu yang jadi sarana penyeberangan bagi anak sekolah, pedagang, sampai warga yang mau ke pasar. 


Jadi situ ini betul-betul menyatu dengan kehidupan sehari-hari warga sekitar, bukan cuma sekadar bekas tambang yang terbengkalai. 


Aku pun duluuuuu pernah naik perahu ini bolak–balik… :D Seru banget! Aku inget nama perahunya disebut GETEK! :D 


Nah, jadi alau ditanya gimana ceritanya situ ini ada, ternyata jawabannya bukan proses alam atau situ buatan biasa, melainkan dari aktivitas pertambangan tanah liat dan industri batu bata di masa kolonial. 


Cerita ini bikin aku makin sadar kalau situ yang dulu cuma aku lihat dari balik pagar sekolah ini ternyata punya sejarah yang jauh lebih unik dari yang aku kira.



Situ Rawa Besar Sekarang, Dimanfaatkan untuk Apa?

Kalau dulu situ ini identik dengan aktivitas penambangan tanah liat dan jalur perahu getek, sekarang fungsinya sudah jauh berubah dan berkembang.


Saat ini, Situ Rawa Besar atau Rawa Lio berfungsi sebagai daerah konservasi dan resapan air. Situ ini menampung limpahan air hujan dari pusat Kota Depok, lalu mengembalikan air tersebut ke dalam tanah. 


Jadi meskipun asalnya cuma bekas cekungan tambang, sekarang perannya justru jadi cukup vital buat menjaga keseimbangan air di tengah kota yang makin padat bangunan.


Selain fungsi konservasinya, situ ini juga jadi ruang publik dan tempat rekreasi warga Depok. Ada fasilitas jalan setapak atau jogging track yang mengelilingi situ, beberapa saung untuk bersantai, spot-spot yang asik buat berswafoto, sampai lapak-lapak UMKM warga sekitar. Ya, walaupun yang aku lihat jalur joggingnya belum memadai banget, tapi lumayanlah… :’) 


Dari pagi sampai siang, area ini biasanya jadi tempat lalu-lalang warga, entah sekadar lewat, jalan kaki menyusuri tepi situ buat cari udara segar atau anak-anak sekolah yang jalan beriringan di sepanjang jalur setapaknya. 


Jadi meskipun statusnya cuma situ di tengah kota, keberadaannya masih terasa menyatu dengan kehidupan warga sekitar sampai sekarang. Malah kalau lewat situ ini aku sering banget lihat anak-anak warga lokal yang main air berenang di situ ini lho. Padahal kayaknya, sih, dalam ya. Tapi mereka pada berani-berani banget!


Dulu situ ini juga sempat mengalami masa-masa kurang terawat. Situ Rawa Besar juga sempat dijadikan tempat pembuangan sampah oleh warga. 


Belakangan, Pemerintah Kota Depok mulai menaruh perhatian lebih serius terhadap masalah lingkungan di Situ Rawa Besar. Ada upaya-upaya untuk menjaga kebersihan dan kelestarian situ ini, mengingat fungsinya yang penting sebagai kawasan konservasi dan resapan air kota. 


Buat aku pribadi, tetap ada rasa senang setiap kali lewat sini, mengingat betapa dulu situ ini jadi bagian dari rutinitas masa sekolahku dan sekarang mulai mendapat perhatian yang lebih baik. :)



Mitos yang Beredar di Situ Rawa Besar

Nah, ini bagian yang paling aku tunggu-tunggu buat diceritain karena berkaitan langsung sama kenanganku sendiri. :D


Seperti yang aku ceritain di awal, dulu waktu masih SD di SDN Anyelir 1 yang bagian belakangnya langsung berbatasan sama situ ini, mitos yang paling santer di kalangan murid-murid adalah soal keberadaan buaya putih yang katanya ada di dalam situ. 


Ceritanya turun-temurun dari kakak kelas ke adik kelas dan biasanya jadi bahan obrolan seru-seruan sambil bikin merinding.


Menariknya, mitos buaya putih ini memang bukan cerita yang asing di kalangan situ-situ atau danau di Indonesia. Beberapa situ lain, termasuk yang ada di sekitar Depok, juga punya cerita serupa soal sosok buaya putih yang dipercaya sebagai jelmaan siluman atau penunggu gaib yang menjaga keseimbangan alam di kawasan tersebut.


Selain cerita yang aku dengar sendiri soal buaya putih, ternyata ada juga versi mitos lain yang berkembang di kalangan warga sekitar Situ Rawa Besar. 


Salah satunya adalah cerita tentang sosok penunggu gaib yang digambarkan berwujud menyerupai ular raksasa atau naga air, yang dipercaya menjaga keseimbangan alam di situ ini. 


Konon, kalau ada pengunjung yang bertindak nggak sopan atau merusak alam sekitar situ, sosok penunggu ini bisa "marah" dan mendatangkan hal-hal aneh bagi yang berkunjung.


Terlepas dari mana yang benar dan mana yang cuma legenda turun-temurun, buat aku pribadi mitos-mitos ini justru jadi bagian yang bikin situ ini makin punya cerita tersendiri. Toh, hampir semua situ atau danau di Indonesia memang biasanya punya cerita mistis masing-masing dan itu jadi salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat sekitarnya buat tetap menjaga dan menghormati alam, kan, ya. :)



Buat Manteman yang kebetulan tinggal di Depok atau lagi berkunjung ke sini, coba, deh, sesekali mampir ke Situ Rawa Besar. Selain bisa jalan santai menyusuri jogging track-nya, sambil menikmati kopi di pinggir situ, siapa tahu Manteman juga jadi penasaran sama cerita-cerita di baliknya, seperti aku. :)


Dita Indrihapsari


No comments

Contact Form

Name

Email *

Message *