Sejarah Detos (Depok Town Square), Mal Legendaris di Margonda Depok



Buat kamu yang lahir dan besar di Depok, rasanya mustahil, deh, kalau nggak kenal sama Detos alias Depok Town Square. :D 


Mal yang berdiri megah di Jalan Margonda Raya ini bukan cuma sekadar tempat belanja, tapi juga saksi bisu banyak cerita: nongkrong bareng teman sepulang sekolah atau ngampus, jajan di foodcourt, sampai nonton bioskop pertama kali bareng gebetan. Hehe…Ada yang punya pengalaman gitu juga di Detos? 


Di tahun 2026 ini, usia Detos ternyata sudah genap 21 tahun, lho. Nah, perjalanan mal ini selama dua dekade lebih ini ternyata menyimpan cerita yang cukup menarik untuk ditelusuri. Apalagi sekarang di social media juga sudah banyak banget konten-konten soal Detos. Yuk, kita bahas mal ini! :) 



Awal Mula Detos Berdiri

Depok Town Square resmi beroperasi sejak tahun 2005. Mal ini dimiliki oleh PT Lippo Karawaci Tbk. Lokasinya berada tepat di Jalan Margonda Raya, jalan protokol yang bisa disebut sebagai jantungnya Kota Depok. 


Posisi strategis ini membuat Detos langsung jadi primadona begitu dibuka. Apalagi mal berlantai lima ini deket banget ke Stasiun Pondok Cina lewat pintu belakangnya, sehingga gampang diakses mahasiswa Universitas Indonesia (UI) maupun warga yang tinggal di sekitarnya.


Dengan luas area puluhan ribu meter persegi dan banyaknya unit tenant, Detos di masa jayanya menawarkan hampir semua yang dibutuhkan warga Depok. Mulai dari restoran, gerai handphone, bioskop, tempat main anak, sampai deretan tenant fashion. 


Nggak heran kalau generasi 2000-an menjadikan Detos sebagai destinasi wajib buat nongkrong dan belanja. :D



Ketika Mal Saingan Muncul, Detos Perlahan Meredup

Aku inget banget, deh, pas mau kuliah ke luar kota di tahun 2004 Detos memang sedang dibangun dan dibuka setahun kemudian. Begitu juga dengan mal di seberangnya, yaitu Margo City.


Seingatku Margo City dibuka setahun kemudian di 2006. Jalan Margonda pun makin ramai dengan hadirnya dua mal yang berhadap-hadapan ini. 


Margo City pun menjelma jadi salah satu pusat perbelanjaan paling hits di Depok. Setiap hari, Margo City ramai dikunjungi dengan deretan tenant kekinian yang terus diperbarui mengikuti tren. Yang tadinya luas, Margo City sekarang makin luas lagi setelah direnovasi setelah pandemi.


Berbanding terbalik dengan tetangganya, Detos justru pelan-pelan mengalami penurunan. Fenomena ini sebenarnya lazim terjadi pada mal-mal generasi awal di berbagai kota besar Indonesia. 


Setelah bertahun-tahun jadi mal yang laris, Detos mulai kehilangan daya tariknya, terutama di bagian lantai-lantai atas.



Lantai Bawah Masih Hidup, Lantai Atas Kian Sepi

Menariknya, kondisi Detos sekarang nggak sepenuhnya suram. Kalau Manteman masuk ke lantai dasar dan lantai satu, suasananya masih cukup hidup. 


Di sinilah kini Detos dikenal sebagai salah satu pusat thrifting terbesar di Depok. Dengan deretan tenant fashion yang menjual pakaian bekas branded dengan harga miring. 


Aku pun pernah juga nge-thrift di Detos. Tapi memang kalau nge-thrift harus sabar dan teliti, ya. Alhamdulillah aku bisa dapat yang sesuai keinginanku juga, sih. :D Kisaran harga thrift di sini juga beragam, mulai dari 10 ribu sampai ratusan ribu juga ada!


Selain tempat thrifting, di Detos juga masih ada beberapa restoran, Matahari, Hypermart dan bioskop Cinepolis. Tenant-tenant tersebut pun aku lihat masih beroperasi normal. 


Apalagi kalau ke Cinepolisnya, wah, harga tiket yang relatif terjangkau dibanding bioskop di mal-mal lainnya.


Nah, Detos itu, kan, bagian atasnya berkonsep seperti ITC, ya. Jadi banyak kios-kios gitu. Sayangnya, begitu naik ke lantai-lantai atas, suasana berubah drastis karena banyak bangeeeet kios yang sudah tutup. Suasana jauh lebih sepi dibanding bagian bawah mal. 


Pemandangan ini jadi gambaran umum bagaimana mal-mal lama di Indonesia berjuang bertahan di tengah gempuran pusat perbelanjaan baru yang lebih segar dan menawarkan banyak pilihan untuk pengunjungnya. 


Tapi, aku salut banget, sih, sama Detos yang nggak tutup! :D Mal ini masih berjuang dan bertahan. Bahkan sekarang juga ada jalur masuk dari Stasiun Pondok Cina yang sudah ada fasilitas apartemen juga di dekatnya. 


Sebenarnya fasilitas di Detos pun ikut berkembang. Salah satunya adalah kehadiran tempat olahraga, seperti FitHub, kolam renang Khodijah Muslimah Center, lapangan futsal. Hal ini bisa jadi bukti kalau Detos terus berusaha beradaptasi meski di tengah tantangan persaingan yang ketat, ya. Mungkin hal ini juga yang bikin Detos masih “hidup” sampai saat ini. :)



Kabar Baru: Sekolah Dian Harapan Bakal Hadir di Detos

Nah, di tengah citra "mal yang mulai ditinggalkan" ini, muncul kabar yang cukup mengejutkan sekaligus bikin penasaran aku sebagai warga Depok. 


Pas lagi scrolling socmed, tetiba aku baca berita kalau Pelita Harapan Group mengumumkan rencana kehadiran Sekolah Dian Harapan (SDH) di Kota Depok, yang ditargetkan mulai beroperasi pada Juli 2027. 


Sekolah ini akan berada di Detos. Iyah, beneran! Aku penasaran, sih, nantinya apakah ruang kelasnya bakal berada di kios-kios lantas atas Detos yang sepi itu? 


Ternyata ini juga bukan pertama kalinya Pelita Harapan Group membuka sekolah di dalam gedung mal. Sebelumnya, Sekolah Dian Harapan juga sudah resmi dibuka di Tamini Square, menempati area lantai lower ground.


Konsep ini sejalan dengan strategi Lippo Malls dalam beberapa tahun terakhir untuk mengubah fungsi mal, dari sekadar pusat belanja jadi ruang belajar, bersosialisasi, sekaligus hiburan bagi masyarakat modern.


Melihat pola ini, cukup masuk akal kalau nantinya SDH Depok akan menempati bagian lantai atas Detos yang selama ini memang cenderung sepi dan banyak kios kosong. Kalau benar begitu, ini bisa jadi solusi sekaligus win-win solution, ya. Lantai yang tadinya mangkrak bisa dihidupkan kembali dengan fungsi baru. 


Sementara itu Detos sendiri bakal mendapat "napas baru" untuk tetap relevan di tengah persaingan mal-mal modern di Depok.



Detos, Bukan Sekadar Mal tapi Bagian dari Memori Warga Depok

Terlepas dari naik turunnya performa bisnis, Detos tetap punya tempat khusus di hati banyak warga Depok. Akses yang makin mudah dari kampus UI dan Stasiun Pondok Cina membuat mal ini tetap ramai dikunjungi mahasiswa dan komuter setiap harinya. 


Selain jadi surganya thrifting, Detos juga masih rutin menggelar berbagai event, serta menyediakan pilihan tempat makan dan hiburan keluarga yang lengkap. Aku pernah ke Detos bertepatan dengan event Pramuka. Wih, ramenya bukan main! :D 


Kalau rencana kehadiran Sekolah Dian Harapan di Detos benar-benar terwujud pada 2027 nanti, bisa dibilang ini akan jadi babak baru dalam perjalanan panjang mal legendaris ini. 


Dari pusat perbelanjaan yang sempat berjaya, meredup, hingga mungkin bertransformasi menjadi ruang yang lebih multifungsi: tempat belanja, thrifting, nonton, sekaligus tempat menuntut ilmu.


Buat warga Depok, Detos mungkin boleh berubah bentuk dan fungsi dari waktu ke waktu. Tapi satu hal yang pasti, memori yang terekam di setiap lantainya selalu jadi bagian dari cerita hidup orang Depok, apapun yang terjadi pada mal ini ke depannya.


Kalau Manteman, terutama yang tinggal di Depok, ada memori apa, nih, di Detos? Yuk, share di kolom komentar… :D



Dita Indrihapsari

No comments

Contact Form

Name

Email *

Message *