5 Patung di Kawasan Monas Jakarta



Waktu itu aku sekeluarga staycation di Hotel Borobudur, Jakarta. Namanya juga staycation, agenda paginya, ya, jalan-jalan santai aja sebelum sarapan… :D


Karena Monas jaraknya nggak terlalu jauh dari hotel dan sekalian mau olahraga pagi, kami pun memutuskan jalan kaki ke sana. Niatnya, sih, cuma mau hirup udara pagi dan ngambil dokumentasi sekedarnya, sambil ngajak anak-anak buat “gerak!” Hehe…





Tapi begitu sampai dan mulai keliling kawasan Monas, aku baru sadar satu hal yang selama ini luput dari perhatianku. Ternyata di kawasan Monas itu ada patung-patung besar yang tersebar di beberapa titik. 


Bukan sekadar pajangan aja, tapi masing-masing punya kisah dan makna sejarah sendiri-sendiri, lho, pas aku telusuri di beberapa referensi. 


Selama ini aku cuma tahu Monas identik dengan tugu emasnya dan museum di bawahnya aja. Eh, ternyata di sekelilingnya juga ada semacam "galeri pahlawan" berupa patung-patung di area terbuka yang mungkin jarang diperhatikan orang.


Nah, pagi itu aku berhasil mengabadikan tiga patung, yaitu Patung MH Thamrin, Patung Pangeran Diponegoro, dan Patung IKADA. Dua patung lainnya, Patung RA Kartini dan Patung Chairil Anwar, belum sempat aku capture langsung. Tapi biar cerita soal patung di Monas ini lengkap, aku bakal ceritain juga kelimanya sekalian, ya. 



1. Patung Pangeran Diponegoro

Ini dia patung pertama yang aku temui ada di sisi utara Taman Monas. Patung ini menghadap langsung ke arah Istana Kepresidenan. Kelihatan gagah banget, kan, Pangeran Diponegoro sedang menunggang kuda!


Begitu lihat, langsung kebayang Perang Diponegoro tahun 1825-1830 yang bikin Belanda kewalahan setengah mati. Pangeran Diponegoro akhirnya dijebak lewat perundingan, dibuang ke Makassar, dan wafat saat masa pengasingan di sana pada 8 Januari 1855.


Patung seorang pahlawan yang sedang menunggang kuda juga punya arti tertentu dilihat dari posisi kakinya. Kalau kedua kaki depan kuda terangkat, artinya sang penunggang gugur di medan perang. 


Kalau cuma satu kaki yang terangkat, tandanya meninggal karena sakit atau kecelakaan. Nah, kalau semua kaki kuda menapak tanah, berarti pahlawan tersebut wafat karena usia tua. 




Pada patung Diponegoro, kedua kaki depan kudanya terangkat ke atas. Sebenarnya Pangeran Diponegoro tidak wafat saat perang, tapi dalam masa pengasingan. Mungkin ini jadi simbolis mengenang perjuangannya sampai akhir.


Nah, setelah aku baca referensi, aku juga baru tahu kalau patung ini bukan buatan pematung sembarangan, lho. Patungnya dikerjakan oleh pemahat Italia bernama Cobertaldo yang sengaja dikirim ke Indonesia untuk mempelajari sejarah Pangeran Diponegoro.


Menariknya lagi, awalnya patung ini ternyata rencananya diresmikan pada 17 Agustus 1965. Namun karena kondisi perpolitikan Indonesia saat itu sedang nggak stabil, rencana itu pun batal, Sampai sekarang Patung Pangeran Diponegoro yang ada di Monas belum pernah diresmikan. :) 



2. Patung MH Thamrin

Di bagian sisi barat Taman Monas yang menghadap Jalan Medan Merdeka Barat, ada Patung Mohammad Husni Thamrin atau MH Thamrin. Nama MH Thamrin tentunya nggak asing, ya, karena jadi nama jalan utama di Jakarta.


Beliau adalah pahlawan nasional asli Betawi. Lahir di Batavia pada 16 Februari 1894 dan dikenal sebagai tokoh Betawi pertama yang duduk di Volksraad alias Dewan Rakyat pada masa Hindia Belanda. Pemikiran beliau soal pemerintah yang harus mendekat ke rakyat masih relevan banget sampai hari ini.


Patung MH Thamrin di Monas menampilkan bagian dada ke atas. Patung ini dibuat oleh pematung bernama Arsono dan diresmikan pada 11 Januari 1982. 




Baca Juga: Menjelajahi Budaya Betawi di Museum Betawi Setu Babakan



3. Patung IKADA

Nah, ini yang menurutku paling unik ceritanya dan letaknya ada di sisi selatan Monas. Beda dari yang lain, IKADA bukan nama orang. IKADA adalah singkatan dari lapangan luas yang dulu jadi cikal bakal kawasan Monas sekarang. 


Monumen atau patung ini dibuat untuk mengenang Rapat Ikada pada 19 September 1945, ketika para pemuda dan rakyat berkumpul untuk mendengar pidato Bung Karno nggak lama setelah kemerdekaan diproklamasikan.


Saat itu situasinya sangat nggak aman. Tentara Jepang yang masih bersenjata lengkap tetap berjaga di sekitar lapangan. Bung Karno sendiri sempat khawatir rapat itu bisa memicu bentrokan. Tapi rapat tetap jalan.




Patung ini menggambarkan lima sosok manusia yang berkumpul. Jumlah lima ini ternyata bukan kebetulan. Konon, pada masa pendudukan Jepang, berkumpul lebih dari lima orang itu dilarang karena dianggap bisa jadi ajang merencanakan pemberontakan. 


Jadi patung ini secara diam-diam merekam semangat perlawanan yang harus disiasati bahkan lewat cara berkumpul. Patung ini dirancang oleh Sunaryo, dosen ITB, dan diresmikan pada 20 Mei 1988.



4. Patung RA Kartini

Meskipun aku belum sempat foto langsung, patung ini nggak kalah menarik untuk diceritakan. Letaknya di sisi timur Taman Monas, menghadap ke arah Gambir. 


RA Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada 21 April 1879 dan dikenal luas sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia. Hari lahirnya sekarang diperingati sebagai Hari Kartini setiap 21 April.


Meski lahir dari keluarga bangsawan, beliau nggak diam aja melihat ketimpangan yang dialami perempuan pada masanya. Sayangnya, Kartini wafat muda di usia 25 tahun, pada 17 September 1904. 


Yang bikin patung ini unik, pahatannya menggambarkan tiga pose Kartini sekaligus dalam satu momen. Kartini sedang menari, berjalan, dan mengasuh anak. 


Kalau diperhatikan lebih teliti, di bagian bawah patung juga ada tulisan berhuruf Jepang. Ternyata patung ini memang merupakan hadiah dari pemerintah Jepang untuk Indonesia. Kalau kalian mampir ke Monas, coba, deh, amati detail ini dari dekat.



5. Patung Chairil Anwar

Terakhir, berdiri Patung Chairil Anwar. Chairil lahir di Medan pada 26 Juli 1922, dan dijuluki sebagai maestro puisi Indonesia. Sajak-sajaknya yang penuh semangat sempat jadi bahan bakar semangat perjuangan melawan penjajahan. Sayangnya, Chairil wafat muda karena sakit, pada 28 April 1949 di Jakarta.


Ia dikenal sebagai pelopor Angkatan 45 dan dianggap sebagai jembatan menuju puisi modern Indonesia. Sampai sekarang karya-karyanya masih sering dibacakan di berbagai acara sastra maupun peringatan hari kemerdekaan. 


Patungnya, yang menampilkan wajah tenang memandang lurus ke depan dibuat oleh pematung Arsono, sama seperti pematung yang mengerjakan Patung MH Thamrin. Patung ini diresmikan pada 21 Maret 1986.


Baca Juga: Cara Naik ke Puncak Monas



Jalan-Jalan ke Monas yang Berujung Belajar Sejarah

Awalnya aku kira jalan pagi ke Monas ini cuma bakal jadi rutinitas staycation biasa aja. Keluar hotel, jalan kaki, foto-foto, pulang sarapan. Tapi ternyata dari lima patung yang tersebar di empat penjuru Taman Monas ini, aku jadi belajar banyak hal yang selama ini nggak pernah aku perhatikan, meskipun sudah berkali-kali ke Monas sejak kecil… :D 


Ada kisah perjuangan dari Diponegoro dengan kudanya, perjuangan politik dari MH Thamrin, semangat rakyat yang nekat berkumpul demi mendengar pidato kemerdekaan lewat Patung IKADA, perjuangan emansipasi dari Kartini, sampai perlawanan lewat kata-kata dari Chairil Anwar. 


Lima patung, lima sisi, lima cara berjuang, tapi semuanya tetap bermuara pada satu hal yang sama, yaitu rasa cinta pada bangsa ini. :’) 


Jadi kalau Manteman berencana ke Monas, coba juga luangkan waktu jalan-jalan di taman di sekelilingnya. Siapa tahu, seperti aku, Manteman juga bakal nemuin cerita-cerita kecil yang selama ini terlewat begitu saja.



Dita Indrihapsari


No comments

Contact Form

Name

Email *

Message *