Masih dalam rangkaian cerita staycation kami di Hotel Borobudur kemarin. Pagi itu aku sekeluarga memutuskan jalan kaki menyusuri trotoar menuju Monas. Cuaca Jakarta yang masih adem membuat rencana ini terasa pas, lumayan buat olahraga santuy sambil berasa jadi turis di kota sendiri... :D
Nah, di tengah perjalanan, aku dan keluarga sempat lewat depan Masjid Istiqlal. Ini yang menarik, biasanya kalau ke Istiqlal, kami naik mobil dan langsung masuk ke area parkiran. Jadi selama ini aku nggak pernah benar-benar memperhatikan bagian depan masjid dari sisi jalan.
Begitu jalan kaki, baru deh aku sadar ada papan nama atau signage besar bertuliskan "Masjid Istiqlal" di depan gerbang di seberang Lapangan Banteng yang selama ini luput dari perhatianku. Tanpa ba bi bu lagi, aku langsung foto di depannya... :D
Nah, momen kecil itulah yang bikin aku penasaran sama gimana ceritanya Masjid Istiqlal bisa dibangun dan kenapa bisa sebesar itu. :D
Padahal sudah beberapa kali ke Istiqlal, entah untuk sholat atau sekadar lewat aja, tapi aku belum pernah benar-benar tahu bagaimana sejarah berdirinya masjid ini. Jadi, sepulang dari jalan-jalan, aku coba cari tahu lebih dalam. Ternyata sejarahnya panjang dan cukup menarik, jauh lebih dari sekadar bangunan ibadah biasa.
Berawal dari Cita-Cita yang Tertunda Puluhan Tahun
Keinginan punya masjid besar di Jakarta sebenarnya sudah muncul sejak zaman kolonial Belanda. Waktu itu, masjid-masjid yang ada di ibu kota hanya berukuran kecil dan tersebar di kampung-kampung.
Belum ada satupun masjid berskala nasional yang bisa mewakili identitas umat Islam di tengah kota Jakarta.
Ide ini sempat dibahas lagi sekitar tahun 1944, ketika beberapa ulama dan tokoh Islam bertemu di kediaman Bung Karno di kawasan Pegangsaan Timur. Sayangnya, karena situasi masih di bawah kekuasaan Jepang, gagasan tersebut belum bisa direalisasikan.
Nah, barulah pada 1950, setelah Indonesia merdeka, ide ini dibicarakan lebih serius oleh Menteri Agama saat itu, Wahid Hasyim, bersama sejumlah tokoh Islam lainnya. Pembangunan masjid besar ini digagas sebagai ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia, sekaligus mengingat peran besar umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan.
Dari situlah nama "Istiqlal" dipilih. ternyata kata Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang artinya "merdeka".
Pada 1953, pertemuan sejumlah tokoh Islam di Jakarta menghasilkan rekomendasi pembentukan Yayasan Masjid Istiqlal yang baru resmi disahkan pada 7 Desember 1954 setelah mendapat restu langsung dari Presiden Soekarno.
Proyek Ambisius Era Soekarno
Bicara soal Istiqlal, memang benar kalau masjid ini bisa dibilang bagian dari deretan proyek besar Soekarno di era 1960-an, sejalan dengan semangatnya membangun ibu kota dengan bangunan-bangunan monumental, termasuk Monas yang kami tuju pagi itu.
Soekarno ingin Istiqlal jadi simbol kebesaran bangsa yang baru merdeka, bukan sekedar tempat sholat biasa.
Soal lokasi, awalnya sempat ada perbedaan pendapat. Wakil Presiden Mohammad Hatta mengusulkan lokasi di Jalan Thamrin karena dekat permukiman. Namun Soekarno lebih memilih kawasan Taman Wijaya Kusuma, tak jauh dari Lapangan Banteng, lokasi peninggalan kolonial yang menurutnya punya nilai historis tersendiri.
Usulan Soekarno inilah yang akhirnya disepakati dan Istiqlal pun dibangun tepat di samping Gereja Katedral, posisi yang hingga kini jadi simbol toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Arsiteknya Bukan Seorang Muslim
Ini bagian yang menurutku paling menarik dan sempat aku ragukan sendiri sebelum akhirnya kucek ulang. Yap, benar banget kalau arsitek Masjid Istiqlal bukan seorang Muslim.
Desain masjid ini dipilih melalui sayembara terbuka yang digagas langsung oleh Soekarno. Dari sayembara itu, terpilih desain karya Frederich Silaban yang beraga Protestan dengan judul "Ketuhanan.”
Menariknya, latar belakang keyakinan Silaban nggak menjadi masalah besar saat itu. Rancangannya dinilai paling sesuai dengan visi Soekarno tentang sebuah masjid modern, kokoh, dan megah, jauh berbeda dari masjid-masjid tradisional beratap genteng yang umum ditemui di Indonesia kala itu. Bahkan kabarnya, tokoh ulama Buya Hamka sempat memeluk Silaban sebagai bentuk apresiasi atas karyanya.
Desain Silaban penuh dengan simbolisme. Dua belas pilar utama masjid melambangkan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW, yakni 12 Rabiul Awal. Kubah utama berdiameter 45 meter menjadi penanda tahun kemerdekaan Indonesia.
Proses Panjang Hingga 17 Tahun
Peletakan batu pertama pembangunan Istiqlal dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 24 Agustus 1961, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Namun perjalanan pembangunannya ternyata nggak mulus.
Prosesnya sempat terhenti beberapa kali karena masalah pendanaan, krisis ekonomi dan politik, hingga pergantian kepemimpinan nasional dari Soekarno ke Soeharto.
Pembangunan akhirnya dilanjutkan di bawah Menteri Agama M. Dahlan, dengan Idham Chalid sebagai koordinator panitia pembangunan yang baru.
Total proses pembangunan memakan waktu sekitar 17 tahun, hingga akhirnya Masjid Istiqlal diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978.
Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah
Sampai sekarang, Istiqlal dikenal sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid ini mampu menampung ratusan ribu jamaah sekaligus.
Bagiku, yang lebih berkesan justru cerita di baliknya. Bagaimana sebuah bangsa yang baru merdeka berusaha mewujudkan simbol persatuan lewat proses panjang, melibatkan berbagai latar belakang keyakinan, dan akhirnya berdiri berdampingan damai dengan Gereja Katedral di sebelahnya.
Jadi lain kali kalau ke Istiqlal, coba, deh, sesekali jalan kaki dari arah luar, bukan langsung masuk parkiran. Siapa tahu, seperti aku, Manteman juga baru sadar ada detail-detail kecil yang selama ini terlewat, termasuk papan nama sederhana yang menyimpan cerita panjang di baliknya. :)
Referensi:
Indonesia Kaya, "Masjid Istiqlal, Keagungan yang Memesona di Ibu Kota"
Traveloka, "Masjid Istiqlal: Sejarah, Keistimewaan, dan Fakta Lainnya"
BSI Maslahat, "Mengenal Sejarah Masjid Istiqlal Terbesar di Indonesia



No comments