SOCIAL MEDIA

Saturday, April 6, 2019

Menulis Konten Traveling dengan Rasa ala Dini Fitria



Suatu sore terdapat percakapan di sebuah grup WhatsApp yang saya ikuti. Seorang teman bertanya tentang salah satu tempat wisata. Merasa pernah menulis tentang tempat itu, saya pun langsung membalasnya. Belum sempat tombol send saya tekan, sebuah pesan dari seorang teman yang lain sudah masuk lebih dulu.


“Bubu Dita pernah nulis soal tempat itu, mbak.”

Bagitu membacanya, saya pun terhenyak sesaat. “Oh, ternyata  ada yang mengingat saya pernah menulisnya, ya.”

Detik itu saya pun bersyukur dengan blog saya saya miliki ini bisa bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan. Menulis kini bukan hanya sekedar rekreasi untuk diri sendiri tapi juga untuk pembaca. Menulis bukan lagi dinikmati sendiri tapi juga dinikmati oleh pembaca.

Selama aktif di dunia blog kurang lebih tiga tahun ini, rasanya Bubu Dita masih terus mencari tulisan seperti apa yang bisa kena di hati pembaca. Bukan hanya membuat pembaca ingat apa yang pernah Bubu Dita tulis tapi saya juga ingin pembaca blog ini mendapat kesan setelah membaca apa yang saya tulis. 

Membuat pembaca tersentuh dan terkesan bukan hal yang mudah, tapi Bubu Dita yakin bisa dipelajari. Keyakinan ini kembali saya dapatkan saat mengikuti workshop Creative Travel Writing bersama Dini Fitria yang diselenggarakan oleh Komunias ISB. Acara ini berlangsung di Matraman Community Hub Jakarta pada Selasa (26/03).

Ya, Mba Dini Fitria yang wajahnya sempat menghiasi layar kaca dengan reportasenya dalam program Jazirah Islam menjadi mentor workshop kegiatan ini. Kini dirinya memang sudah tidak bekerja di televisi lagi, namun ia tetap produktif sebagai penulis buku dan content creator

“Aku pingin berdiri di atas kaki sendiri. Di luar sana masih banyak ilmu yang belum didapat,” begitu ungkapnya saat menceritakan alasannya keluar dari dunia pertelevisian.  


Bagaimana Mengolah Rasa di Tulisan

Pengalamannya selama bertahun-tahun menulis kini ia sebarkan ke berbagai kegiatan workshop. Beruntung banget, nih, Bubu Dita bisa menjadi salah satu peserta workshop Mba Dini Fitria. 

Mba Dini selalu menekankan pentingnya menulis dengan rasa. Menulis, apalagi untuk dibaca orang lain sebaiknya tidak dilakukan sekedarnya saja. Menulis mesti dibarengi dengan memakai rasa. 

Hasil sebuah tulisan yang dibuat sekedarnya dengan tulisan yang menyelipkan rasa di dalamnya tentu akan berbeda hasilnya. Pembaca akan lebih mendapat kesan dan tersentuh hatinya dari tulisan yang memakai rasa. Dengan mengolah rasa di tulisan, tulisan pun akan menjadi lebih bermakna. 




Nah, pertanyaannya, gimana mengolah sebuah tulisan dengan menggunakan rasa hingga bisa menggugah pembaca? Tentunya hal ini berlaku untuk semua jenis tulisan, termasuk tulisan perjalanan. 

Dari mendengarkan penjelasan Mba Dini Fitria saat workshop, Bubu Dita menyimpulkan bahwa mengolah tulisan dengan rasa bisa dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya:

- Membangun kebiasaan menulis


Sepakat dong, ya, jika dikatakan “semakin banyak dan sering melatih kata, kita akan lebih unggul dalam menulis dibanding yang tidak.” Hal penting untuk bisa menulis dengan rasa adalah membangun kebiasaan menulis dulu secara rutin. 

Menurut Mba Dini, minat dan bakat menulis itu sebenarnya nggak terlalu penting. Bakat minat bukan penentu segalanya karena yang utama adalah membangun kebiasaan dan latihan. Ingatlah bahwa menulis itu proses bertumbuh. Semakin dilatih akan semakin baik hasilnya. 




Nah, dengan kebiasaan menulis ini pula nantinya kita akan menemukan gaya tulisan kita seperti apa. Gaya tulisan ini dapat dikenal orang lain an menjadi identitas kita. 

- Investasikan banyak waktu untuk membaca buku


Penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik. Tulisan akan lebih berwarna dengan variasi berbagai kata yang bisa kita dapat dari petualanagn kita bersama buku-buku yang kita baca selama ini. Yap, membaca buku penting banget bagi seorang penulis. Nah, Bubu Dita jadi ingat, nih, sudah beberapa minggu ini belum main ke perpustakaan untuk pinjam buku... :D

- Menulislah dengan semua panca indera


Pertajam lima panca indera untuk menggambarkan setting, bagaimana aroma, bunyi, rasa, sentuhan, dan lainnya. Penting bagi penulis bertema traveling untuk mengasah kepekaan panca indera. Dengan demikian, penulis bisa menuangkan apa yang benar-benar dirasakannya di suatu tempat ke dalam tulisan yang memiliki rasa mendalam. 



Mba Dini Fitria pun bercerita tentang pengalamannya menulis soal India. Sebenarnya Mba Dini nggak terlalu suka dengan India saat kedatangannya pertama kali ke negara itu. Tapi ketik harus menulis tentang India di buku Islah Cinta, ia pun kembali ke India dan menemukan India yang berbeda dibanding kunjungan pertamanya. Ia merasa sangat nyaman dan suka dengan India

Mengapa hal itu bisa terjadi? Saat kedua kalinya ke India, ia tinggal di rumah orang India asli. Mba Dini merasakan betul dengan semua panca inderanya ketika ia berada di India. Ia pun dapat menuliskan sebuah buku dengan kedalaman perasaan yang ia dapat dari kepekaan panca inderanya. 

- Pilih yang paling menempel di hati

Ide untuk menulis yang kita dapat dari pengalaman perjalanan pasti banyak. Nah, temukan sesuatu yang paling berkesan dalam setiap perjalanan itu lalu tuliskanlah menjadi inti cerita dalam tulisan. 

- Masukkan unsur-unsur lokalitas di tulisan traveling

Ketika menulis tentang cerita perjalanan ke suatu daerah atau negara lain, ada baiknya juga memasukkan unsur lokalitas daerah atau negara tersebut. Misalnya saja dengan menyelipkan beberapa kata daerah/negara yang kita kunjungi. Hal ini bisa membuat pembaca merasa lebih dekat dengan tempat tersebut. 

- Perkaya tulisan dengan diksi 

Jika melihat di KBBI, diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Nah, diksi ini bisa berupa ekspresi dalam tulisan yang dapat menyenangkan pembaca dan “menyolek” hati pembaca. Namun penempatan diksi dalam sebuah tulisan pun harus tepat agar tidak terkesan berlebihan. 

- Sederhanakan tulisan 

Semakin simpel tulisan yang kita buat, semakit cepat “nempel” di pembaca. Jadi, pembaca tulisan kita nggak perlu berpikir lama untuk mengeri apa yang kita tulis. 

- Akhir tulisan harus berkesan!

Waini diaaa... Bubu Dita sendiri masih suka bingung bagaimana mengakhiri sebuah tulisan. Pinginnya tulisan itu diakhiri dengan kalimat yang “nendang” sehingga pembaca bisa dapat sesuatu dari tulisan di akhir tersebut. Menurut Mba Dini penting juga membuat akhir tulisan yang berkesan dan sampai di hati pembaca. 


Teknik Menulis yang Tepat Untuk Menghasilkan Tulisan Berkualitas

Agar tulisan traveling yang kita tulis nggak hanya “lempeng” aja alias datar dan biasa-biasa aja, perlu juga untuk memperhatikan teknik penulisan yang benar. Dengan teknik penulisan ini, tulisan akan bisa lebih bercerita dan tidak “ngalor ngidul”.

Beberapa teknik penulisan yang dibahas Mba Dini Fitria dalam workshop ini antara lain sebagai berikut:

- Tema
Tentukan dengan jelas apa yang ingin kita tulis dan menjadikannya tema tulisan.

- Premis 
Merupakan rules kita dalam menulis biar nggak tersesat. Premis ini menjadi pondasi sebuah tulisan supaya nggak kemana-mana. Dengan premis pula kita bisa menggiring orang agar suka dengan tulisan kita.

- Alur
- Wants and Needs
Membuat orang merasakan yang dirasakan penulis. Buatlah pembaca untuk merasakan efek atau pengaruh yang dalam terhadap pikiran atau perasaan penulis. 

- Value
Makna apa yang didapat dari tulisan kita.

- Goal
Tujuan yang ingin dicapai dari tulisan, seperti sharing pengalaman dan lainnya. 

Ketika akan menulis sesuatu pun penulis juga dtuntut untuk melakukan riset. Riset yang dalam dapat dilakukan melalui tiga fase, yaitu pra, eksekusi, dan pasca. Nah, untuk tulisan bertema traveling, riset itu juga memegang peranan penting, lho.

Ketika datang ke suatu tempat, ada baiknya kita melakukan riset terlebih dahulu. Dari tahap pra riset ini kita jadi mempunyai gambaran mengenai tempat yang kita tuju. Ada apa saja di sana, bagaimana musimnya, dan lainnya. Ketika tiba di lokasi, kita dapat mencocokan apa yang sudah kita riset sebelumnya dengan kondisi real di sana. Pertajam rasa untuk mendapat kesan mengenai tempat tersebut. 


Serunya Workshop Bersama Dini Fitria

Workshop ini benar-benar memberi Bubu Dita semangat baru untuk memberikan yang terbaik dalam sebuah tulisan di blog. Tulisan bukan hanya sekedar kata tapi juga sebaiknya mempunyai makna dan bermanfaat bagi orang lain.

Acara workshop Creative Travel Writing bersama Dini Fitria juga membuka ilmu pengetahuan baru Bubu Dita tentang mobile wifi dari JavaMifi. Pas banget bagi traveler yang suka bepergian ke luar kota atau luar negeri dan butuh wifi unlimited, JavaMifi siap melayani. 



Sistem JavaMifi ini berupa sewa mobile wifi lengkap dengan charger-nya. Perangkat wifi-nya sendiri berukuran mini sehingga mudah dibawa kemana-mana, nih. Untuk menyewanya, kita bisa mengambil sendiri di bandara atau bisa juga diantar ke alamat kita. Pengembaliannya pun mudah, bahkan bisa dikembalikan ke minimarket, lho. Bubu Dita jadi enggak khawatir lagi kehabisan kuota internet kalau bawa JavaMifi  ke luar negeri! :D




Di sela-sela acara workshop yang berlangsung lebih dari 4 jam ini, semua peserta workshop mendapat makan siang istimewa yang dipersembahkan oleh Royal Tumpeng. Ini acara workshop yang mirip syukuran, ya. Baru kali ini lho Bubu Dita ikut workshop dengan sajian tumpeng yang khas Indonesia banget. 





Royal Tumpeng sendiri merupakan bisnis kuliner yang dibuat untuk menjawab kebutuhan tumpeng masa kini. Tampilan Royal Tumpeng memang premium dan rasanya juga enak! Pelayanan menjadi hal penting yang diutamakan Royal Tumpeng. Selain itu, Royal Tumpeng pun dekat dengan masyarakat melalui sistem online sehingga mudah dijangkau customer-nya. Bener, lho, pas Bubu Dita mengetik kata “tumpeng jakarta”, Royal Tumpeng ada di halaman satu mesin pencari. 

Setelah dimanjakan melalui makanan enak dari Royal Tumpeng, semua peserta kembali mengikuti sesi workshop hingga usai. 

Semoga setelah mengikuti workshop bergizi ini, Bubu Dita jadi menuangkan rasa ke dalam tulisan sehingga pembaca menjadi tersentuh hatinya dan mendapat kesan dari tulisan yang Bubu Dita tulis. 

Dan satu hal yang saya selalu ingat dengan apa yang dikatakan Mba Dini, “content is the king, but the really king is you!”






-Bubu Dita-

2 comments :

  1. mba dini fitria ini cantiiiik banget yaaa. ga bosen liat mukanya :).

    aku hrs mulai terapin sih bbrp cara di atas. trutama memasukkan unsur lokal. itu jarang ato mungkin malah ga prnh aku lakuin di tulisan. Harus dimulai berarti :).

    pas traveling trakhir ke jepang, aku sbnrnya udh galau mau pake java mifi ato passpod. tp setelah di telaah untung rugi, akhirnya milih passpod sih. sbnrnya aku yakin 2-2nya sama bagus, krn testimoni masing2 ga ada yg jelek. tp kmrn itu passpod lg ada promo gede makanya aku pilih hahahaha

    ReplyDelete
  2. Makasih sudah berbagi ilmu mbak. Kalau saya merasa masih kurang sekali dalam permainan diksi. Harus banyak-banyak latihan.

    ReplyDelete