SOCIAL MEDIA

Tuesday, April 30, 2019

Tips Mengajak Anak Naik MRT Jakarta

tips-mengajak-anak-naik-mrt-jakarta


Akhirnyaaaa.... Kesampaian juga keinginan Bubu Dita mengajak Boo dan Mika naik MRT Jakarta akhir pekan lalu! :D Awalnya sempat tertarik untuk naik MRT saat masa uji coba. Namun sampai tanggal berakhirnya uji coba, kesempatan untuk merasakan moda transportasi teranyar di Jakarta ini buyar! Yoweslah, memang Bubu Dita ditakdirkan untuk naik MRT saat sudah bayar, nggak free lagi... :D


Meski MRT mirip degan Commurterline, tapi Bubu Dita tetap sangat excited dengan keberadaan MRT ini. Bukan hanya Bubu tapi Boo dan Mika pun juga ternyata nggak sabar banget untuk mencobanya.

Sedari pembangunan MRT berlangsung dan kami lewat Fatmawati, pastilah mereka berdua heboh melihat rel layang MRT. Begitu saya ceritakan nantinya MRT akan turun ke bawah dan ada rel bawah tanah, mereka tambah semangat lagi untuk naik MRT.... :D

Mencoba MRT bersama anak-anak memang nggak terlalu jauh berbeda dengan naik Commuterline. Namun tetap ada beberapa hal yang patut diperhatikan jika mengajak anak naik MRT, terutama soal aturannya. Nah, berikut ini beberapa tips yang semoga bisa bermanfaat bagi Manteman Rumika yang mengajak anak-anaknya naik MRT.


Siapkan Kartu Bersaldo Sebelumnya

kartu-mrt-jakarta

Ya, Bubu sarankan buat Manteman Rumika yang mengajak anak-anak naik MRT untuk mengisi saldo di kartu yang bisa dipakai terlebih dahulu. Bukan isi pas sudah sampai di stasiun, ya, tapi isilah jauh hari sebelum itu. Pastikan pas sampai di stasiun MRT, kartu sudah terisi saldo yang cukup. Mengapa?

Pertama kali naik MRT dari Stasiun Lebak Bulus, kami sempat merasakan pengalaman yang kurang asyik terkait masalah antrian. Ini salah saya juga sebenarnya karena sebelumnya nggak riset kartu apa saja yang bisa dipakai untuk naik MRT dan akhirnya repot sendiri.

Antrian tiket MRT harian mengular panjang. Kondisi akhir pekan siang itu di Stasiun Lebak Bulus memang ramai banget! Untungnya, Bubu Dita nggak bertiga aja sama anak-anak, tapi ada Tante Dini yang juga ikut menemani. Kalau nggak ada tantenya Boo Mika, bisa kebelinger Bubu karena Mika nggak bisa diamnya setengah mati, lari sana, lari sini, selalu penasaran sama apa pun.... :D

Tante Dini sempat mengantri bersama Boo, sedangkan Mika terus ingin berkeliaran. Saat itulah, saya melihat beberapa meja milik Bank DKI, BCA, dan BRI yang menjual kartu-kartunya yang dapat digunakan sebagai kartu untuk naik MRT.

Nah, setelah tahu banyak kartu yang bisa dipakai, saya langsung bongkar dompet dan mengumpulkan segala kartu yang saya punya. Flazz BCA, Brizzi, JakCard ada di dalam dompet dan hanya JakCard saja yang saldonya kurang. Walhasil langsunglah saya beli saldo JakCard, nggak terlampau banyak, cukup Rp 10 ribu saja.

Tapi hanya ada tiga kartu saja yang terkumpul, padahal kami berempat. Mika tingginya sudah melebihi batas gratis. :D Sayang banget, saya dan tantenya anak-anak sama-sama nggak membawa E-Money yang juga bisa digunakan buat naik MRT juga. Akhirnya kami pun membeli satu kartu Brizzi dengan harga Rp 40 ribu yang berisi saldo Rp 20 ribu.

Nah, kami banyak makan waktu di sini, nih. Apalagi, petugas di Stasiun Lebak Bulus juga kurang sih kalau menurut saya. Pun booth bank-bank tersebut juga ala kadarnya. Hanya kursi dan meja aja, tanpa embel-embel x-banner atau apalah yang bisa memperlihatkan itu booth apa.

Bubu Dita harus memastikannya sendiri degan menanyakannya langsung ke petugas di bbooth bank tersebut. Ribet, deh! (Apalagi Mika juga heboh pingin liat macam-macam di stasiun yang banyak orang ini... Hadaaah... :D).

Makanya nih buat Manteman Rumika yang mengajak anak-anaknya, kartu-kartu yang saya sebutkan bisa dipakai naik MRT itu isi dulu saldonya, ya. Mungkin jika di stasiun lain dan di hari biasa antriannya nggak sepanjang seperti di Lebak Bulus. Tapi mempersiapkan saldo kartu tentu bisa lebih hemat waktu dan tenaga. Cuusss bisa langsung ngantri tap kartu dan tinggal ke peron aja.

Baca Juga: Tips Jika Anak Tidak Bisa Diam di Bandara


Kenalkan Anak pada Tiap Peraturan

peraturan-naik-mrt-jakarta

Mengajak anak-anak naik MRT menurut Bubu bagus banget untuk mengenalkan kepada anak berbagai peraturan dan disiplin. Yap, mulai dari sampai di stasiun, mengantri, naik MRT, hingga keluar stasiun ada banyak hal yang bisa dipelajari anak-anak.

Kenalkan anak-anak pada cara naik eskalator yang tepat. Sebelah kiri untuk diam, sebelah kanan untuk yang berjalan karena sedang tergesa-gesa atau alasan lainnya. Ajak anak-anak untuk turut mengantri dengan tertib, nggak menyelak antrian, menghormati orang lain yang sedang mengantri.

Perlihatkan juga bagaimana mestinya saat berada di peron saat menunggu MRT. Kenalkan konsep mengantri di peron pada bagian sisi kanan dan kiri pintu MRT. Biarkan bagian tengah kosong agar penumpang yang turun bisa lebih leluasa bergerak setelah turun dari MRT.  Bilang juga ke anak-anak supaya nggak buru-buru masuk ke dalam MRT, utamakan penumpang yang keluar lebih dulu.

Nah, kan banyak juga peraturan saat naik MRT. Meski masih kecil, pengenalan terhadap aturan-aturan itu perlu, lho, disampaikan kepada anak-anak. Memori mereka akan merekamnya dan semoga kedisiplinan yang baik baginya bisa terbawa saat mereka dewasa nanti.


Boleh Liat Keluar Jendela, Asal...

mrt-jakarta

Di dalam MRT pun ketertiban juga mesti berjalan. Mirip dengan naik Commuterline, berbagai aturan seperti nggak boleh makan dan minum, jangan buang sampah sembarangan, perhatikan kursi prioritas (bisa digunakan jika bersama anak-anak, nih), serta peraturan lainnya juga berlaku di MRT.

Saya pun pinginnya Boo dan Mika bisa duduk tenang dan nggak mengganggu orang lain.  Tapi rasanya untuk duduk tenang mustahil bagi mereka, wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air beta! Boo dan Mika bersemangat sekali, apalagi saat MRT berjalan di atas!

Mereka langsung mengarahkan badan menghadap ke arah jendela. Ya, saya nggak melarangnya. Saya bilang oke nggak apa-apa, asalkan mereka nggak berdiri. Gunakan lutut sebagai tapakan, jangan  berdiri menggunakan kaki karena kursi bisa kotor nantinya. Ya, meskipun kursi MRT terbuat dari plastik dan mudah dibersihkan, Bubu Dita rada risih gitu kalau anak-anak berdiri dengan atau tanpa alas kaki di kursi.


Siapkan Fisik

stasiun-mrt-jakarta

Penting juga, nih, bilang ke anak-anak kalau stasiun MRT itu besar dan akan banyak jalan kaki. Jadi mau nggak mau mesti siap fisik. Bubu nggak mau kalau mesti gendong. Hahaha... Pegeeeel... :D

Nggak seperti stasiun Commuterline yang dari pintu masuk aja udah bisa langsung ke peron, stasiun MRT lebih belibet. Mesti jalan berliku, naik turun eskalator. Lumayan menguras energi juga, kan. Ya, walaupun lebih belibet stasiun MRT di Singapura yang sudah lebih banyak jalurnya, sih, ya. Tapi tetap aja memang butuh waktu untuk masuk dan keluar stasiun.

Hal ini perlu dikatakan juga ke anak-anak biar seenggaknya mereka sudah ada persiapan mental buat jalan. Kalau nggak, bisa-bisa moodnya berubah. Tapi jika lelah, Manteman bisa juga mengajak anak-anak istirahat dulu di peron atau di gerai makanan yang ada di dalam stasiun.

Baca Juga: 7 Hal Menarik di Faunaland Ancol Jakarta


Perjalanan dengan MRT rasanya memang cukup cepat. Dari Stasiun Lebak Bulu hingga Stasiun Senayan enggak butuh waktu lama, hanya sekitar 15 menit kayaknya, sih. Meski hanya sebentar tapi Bubu yakin, sih, Boo dan Mika dapat pengalaman berharga degan mencoba naik MRT. Mereka pun bahkan nggak sabar pingin naik MRT lagi dan mengajak Yayanya.... :D


-Bubu Dita-

2 comments :

  1. Wow pengalaman banget ya, semoga nanti saya bisa ajak anak saya juga. Makasih bubu Dita ❤️

    ReplyDelete
  2. klo dari Depok enaknya naik di picin turun di sudirman.... menikmati terowongan kendal, stasiun bandara, busway yg berjejer di samping pintu masuk stasiun MRT Dukuh Atas.... klo haus, tinggal minum di fountain water....

    ReplyDelete