SOCIAL MEDIA

Wednesday, June 12, 2019

Merasakan Ke-Spooky-an Museum Keprajuritan TMII Jakarta

museum-keprajuritan-tmii-jakarta


Rasanya diantara semua bangunan yang berada di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Museum Keprajuritan lah yang pantas menyandang predikat sebagai bangunan dengan kesan gagah lagi megah.


Ini tentu menurut versi Bubu Dita ya :D Tapi memang bangunan Museum Keprajuritan yang mirip seperti benteng pertahanan ini kerennya luar biasa jika dilihat dari kejauhan. Nggak seperti museum lainnya, bentuk museum ini memang seperti benteng yang dikelilingi oleh perairan. Sayangnya, saat kami berkunjung ke sana, air sedang surut. Namun hal itu nggak lantas membuat kekerenan bangunan Museum Keprajuritan menguap begitu saja.

Berkali-kali saya menyambangi TMII selalu ingin rasanya untuk masuk ke dalam museum ini. Waktu masih kecil rasanya saya pernah diajak ke Museum Meprajuritan tapi ingatan akan hal itu tak berbekas lagi di kepala.

Boo dan Mika pun merasakan hal yang sama. “Mau ke benteng itu, Bubuuu...” Meski sudah saya jelaskan jika bangunan itu bukan benteng sungguhan dan berupa museum di dalamnya, mereka tetap kekeuh mau ke sana.

Hingga pada suatu hari keinginan tersebut pun dapat terlaksana. Hari itu, kami sekeluarga mengunjungi dua museum sekaligus. Museum Keprajuritan dan Museum Transportasi yang lokasinya berdampingan.


Baca Juga: Serunya Menjelajah Museum Transportasi di TMII Jakarta


Meski hanya mengeksplorasi dua museum saja, rasanya capek luar biasa. Boo dan Mika yang baru kali pertama mengunjungi museum-museum tersebut tampak bersemangat dan sering kali berlarian ingin segera melihat ada apa di depan mereka.


Siang Aja Spooky, Apalagi Malam?

Jika memasuki museum biasanya dari pintu depan, hal yang berbeda kami lakukan saat berada di Museum Keprajuritan. Karena tempat parkir mobil berada di sisi samping dan belakang bangunan, karena itulah kami sekeluarga pun memasuki bangunan museum dari pintu belakang.

Begitu masuk, bayangan tentang berada di dalam benteng buyar seketika. Ya, meski bagian luar memang terlihat seperti benteng pertahanan yang kokoh, ternyata bagian dalam museum tampak seperti bangunan bertembok biasa saja. Saya malah menilainya seperti bangunan kantor pemerintahan yang sudah jadul! :D


pintu-belakang-museum-keprajuritan-tmii-jakarta

pintu-belakang-museum-keprajuritan-tmii-jakarta


Namun, menariknya di bagian tengah museum terdapat panggung terbuka dengan taman-taman disekelilingnya.

Dari yang saya baca, panggung ini ternyata bisa dipakai untuk berbagai kegiatan saat siang maupun malam hari. Huaduh, Bubu Dita langsung mikir apa rasanya, ya, malam-malam ke Museum Keprajuritan?

Tamannya pun bukan taman biasa, lho, tapi taman dengan deretan patung-patung pahlawan nasional dari berbagai provinsi di Indonesia. Sebut saja Imam Bonjol, Pangeran Antasai, Christina Martha Tiahahu, Sultan Badaruddin, dan masih banyak lagi pahlawan lainnya yang patungnya diabadikan di sini.

Bukan hanya patungnya semata, tapi juga kisah hidupnya ditulis secara ringkas dan dapat dibaca oleh pengunjung museum. Alhasil, kami sempat agak lama di taman patung ini untuk menemani Boo yang membaca beberapa nama patung pahlawan dan minta dibacakan juga apa yang tertulis di samping patung tersebut.


taman-patung-di-museum-keprajuritan-tmii-jakarta

taman-di-museum-keprajuritan-tmii-jakarta


Setelah berkeliling taman terbuka di bagian tengah museum, kami pun beranjak ke dalam museum bagian depan. Di dekat pintu masuk terdapat replika meriam kecil yang langsung jadi pusat perhatian anak-anak.

Tak jauh dari meriam, ada tangga agak melingkar untuk menuju ke lantai dua. Nah, di sinilah ke-spooky-an museum ini mulai terasa (bahkan pada siang hari sekalipun)!

Karena pintu depan museum yang besar itu terbuka lebar, sehingga bagian dalam lantai satu di bagian depan memang masih terasa terang. Namun begitu menginjakkan kaki menaiki tangga ke lantai dua, syuuuuuwww suasana pun mulai agak berubah.


Baca Juga: Tips Mengajak Anak ke Museum


Lantai dua berbentuk lorong panjang persegi. Di sisi dalam terdapat berbagai diorama mengenai berbagai perang penjajahan di tanah air, seperti Perang Padri, Perang Badung, dan perang-perang lainnya. Tak hanya itu, ada juga replika senjata, bendera, hingga baju perang.

Jangan kaget juga jika berada di lantai dua dan Manteman melihat patung berpakaian tradisional berada di dalam lemari kaca, ya! Jumlahnya bukan satu dua saja, tapi buanyaaaaak! Dan yang membuat bulu kuduk agak merinding saat di lantai dua ini adalah selain berisi dioama dan patung, pencahayaannya pun amat minim, kalau boleh saya akan mengatakannya gelap!


diorama-museum-keprajuritan-tmii-jakarta


Sungguhlah kalau cuma Bubu Dita sendirian di sana, pasti saya bakal langsung turun tangga lagi! Hehehe... Tapi untungnya saat itu kami sekeluarga di lantai itu juga bersama satu keluarga lainnya yang agak ramai. Jadi rasa takut meski pun ada tapi nggak terlalu takut banget. :D

Sebenarnya lorong lantai dua itu pun terdapat banyak jendela berjejeran. Ada beberapa jendela yang dibuka juga, namun hal itu nggak lantas membuat ruangan jadi terang. Ya, gimana, wong jendelanya juga warna hitam gelap! :D

Begitu keluarga yang tadinya berjarak amat dekat dengan kami mulai agak jauh, langsunglah Yaya menaiki tangga melingkar lagi ke lantai 3. Dan ternyata di lantai 3 itu adalah bagian outdoor atap  benteng! Waw!

Seperti cerita perang di mana terdapat benteng dan dapat mengintai musuh dari ketinggian, sama halnya seperti yang ada di Museum Keprajuritan ini. Bubu Dita pun berasa seperti ada di scene film perang dan melihat musuh dari atas benteng. Apalagi ada replika beberapa meriam juga di sana. Boo dan Mika pun langsung heboh melihat-lihat meriam.

Bagian atas ini memiliki lima sisi. Tapi hanya satu sisi saja yang kami eksplorasi. Begitu menuruni tangga melingkar, suasana kembali mencekam. Ya, gimana nggak mencekam, ya, suasana di tangga gelap gitu dengan dindingnya yang ada coretan di beberapa titik.

Koridor lantai dua pun remang-remang pula. Meski agak spooky, tapi heraaaan Bubu, di tangga masih ada aja ketemu sepasang muda mudiiii... Tau deh lagi ngapain....


bagian-atap-museum-keprajuritan-tmii-jakarta


Serius, deh, kalaulah punya uang banyak, saya pingin banget merestrukturisasi Museum Keprajuritan yang berada di atas lahan 4,5 ha dengan luas bangunan 7.545 m2  ini. Sayang banget dengan bentuk bangunannya yang terlihat megah dari luar tapi bagian dalamnya begitu kuno dan kesannya kurang menarik, suasananya pun spooky lagi. Huhuuuw...

Sepertinya sejak diresmikan oleh Soeharto pada 5 Juli 1987, museum ini belum pernah diperbaharui. Karena suasananya kurang enak, alhasil nggak banyak yang bisa kami ambil ilmunya di lantai dua ini.

Tapi jika nanti Boo dan Mika sudah masuk SD dan mendapat materi pelajaran tentang perjuangan kemerdekaan bangsa, Bubu Dita berniat untuk mengunjungi museum ini lagi, kok.


Serunya Naik Kapal di Museum Keprajuritan!

Meski mendapat kesan kurang nyaman di lantai dua, Boo dan Mika terhibur banget begitu berada di bagian luar Museum Keprajuritan. Ada dua replika kapal yang berlabuh di sana, yaitu Kapal Phinisi dan Kapal Banten.

Kedua kapal tersebut bukan hanya aksesoris semata tapi bisa dinaiki juga oleh pengunjung yang datang. Bagi anak-anak, bisa naik ke atas kapal jadi kebahagiaan tersendiri. Keberadaan Kapal Phinisi dan Kapal Banten dapat menjadi simbol kekuatan maritim di negara kita dari barat hingga timur.

Kedua kapal tersebut pun memiliki bentuk dan warna yang berbeda. Jika Kapal Phinisi didominasi oleh warna putih dengan beberapa tiangnya yang menjulang tinggi, Kapal Banten dominan berwarna cokelat, di bagian atasnya terdapat sebuah tiang dan ada atap berbentuk melengkung.


kapal-banten-museum-keprajuritan-tmii-jakarta

kapal-phinisi-museum-keprajuritan-tmii-jakarta


Nah, bagian atas Kapal Banten ini jadi spot favorit Boo dan Mika saat berada di Museum Keprajuritan. Makan waktu agak lama untuk menunggu mereka berdua mengeksplorasi kapal dari bagian bawah hingga atasnya. Berjalan di jembatan kecil yang bergoyang yang ada di sisi kapal pun juga seruuu! Sayangnya kala itu air sedang kering. Jika ada air pasti kondisinya akan lebih bagus lagi.

Untuk bisa masuk ke dalam Museum Keprajuritan ini juga nggak perlu berkocek tebal, kok. Biaya masuknya hanya Rp 4.000,- saja per orangnya.

Taman Mini Indonesia Indah yang berlokasi di timur Jakarta boleh jadi surga bagi pecinta museum. Ada banyak museum yang ada di sana dan masih banyak pula yang belum kami eksplorasi. Oke, selanjutnya kami akan ke museum apa lagi, ya?


-Bubu Dita-

6 comments :

  1. Destinasi sejarah yang dekat banget dari Depok. Mampir ke TMII, belum pernah mampir ke museum-museum yang ada disana.

    ReplyDelete
  2. Aku jadi ingat zaman aku SD atau SMP dulu kan pernah study tour ke Museum Keprajuritan ini. Dulu aja ga begitu ramai lho. Ramainya mungkin hanya di weekend atau pas musim liburan aja. Aku paling takut liat diorama2 dan patung2 hiiiii serasa hidup ya kalau diperhatikan. HTM nya masih terlalu murah ya cuma 4K tapi tetep aja minim pengunjung. Hayooooo, kalo banyak duit, renov deh, bubu Dita hehehe :D

    ReplyDelete
  3. Kalau ke TMII, cuma lewatin doang nih belum pernah masukin Museum satu ini, padahal udah gak sabar pengen tahu dalamnya seperti apa. Bangunan dari luar tampak gagah memang ya, kayak tembok dimana gitu. Makasih infonya ya Bubu, next mau ajakin Alfath dan Bil kesana juga, masih antri nih daftar Museum yang mau didatangi di TMII, haha

    ReplyDelete
  4. Aku baru tahu ada museum keprajuritan di TMII. Selama ini taunya anjungan, gondola, sama keong mas. Hehe. Beneran spooky banger hawanya, keliatan dari fotonya. Sepi pula yak kayanya

    ReplyDelete
  5. perasaan kaya nonton helen of troy yah, Babam kalau yg spooky gini udah langsung teriak-teriak aja. pernah coba beberapa kali tapi belum berani lagi. kapan yuk barengan ??

    ReplyDelete
  6. miris kalo liat museum di si i krn memang banyaaak yg ga diurus, dan ga terlalu interaktif juga barang2 yg dipajang. makanya sekilas trasa bosenin jd org2 jg males dtg. berharap museum2 bgus dan bersejarah gini bisa dibuat seperti museum2 di jepang yg slalu rame, krn memang interaktif banget. anak2 kalo mau tau sesuatu jg jd seneng ke museumnya.

    bagian dalam museum ini ingetin aku ama museum rakyat di eskudero, phillipines. spooky juga, banyak patung2 lilin dan remang2 hahahahah. males memang kalo msk k tmpt begitu

    ReplyDelete