SOCIAL MEDIA

Thursday, September 5, 2019

Memaknai Kembali Arti Kehidupan di Telisik Budaya Bogor Bersama Indonesia Corners dan FujiFilm



Hawa sejuk menyambut saya saat menapakkan kaki pagi itu di Stasiun Bogor. ”Akhirnya... sebentar lagi bakal seru-seruan bareng, nih,” pikir saya dalam hati seraya membetulkan tas ransel yang saya kenakan.


Hari ini, 24 Agustus 2019, jadi hari yang sangat saya nantikan sejak sebulan sebelumnya.  Bersama teman-teman komunitas Indonesia Corners dan FujiFilm,  Bubu Dita akan menelusuri keunikan yang belum pernah saya lihat di Kota Hujan, Bogor.

Selama seharian, Bubu Dita dan peserta Telisik Budaya Bogor menyambangi Kampung Budaya Sindangbarang untuk melihat dari dekat budaya khas tanah Sunda serta mempelajari proses pembuatan sutera di Rumah Sutera Alam!

Bukan event jalan-jalan biasa karena disela-selanya, kami juga mendapat tambahan pengetahuan lagi mengenai travel photography dan blog writing melalui workshop dengan mentor Mbak Donna Imelda dan Uni Raiyani Muharramah. Paket komplit! Jalan-jalan seru sekaligus tambah ilmu!

Namun, satu hal yang tidak saya sangka-sangka justru saya rasakan ketika mengakhiri kegiatan di hari itu. Perjalanan Telisik Budaya ke Bogor membuka kembali mata dan hati saya tentang makna kehidupan.

 

Di Kampung Sindangbarang, Usia Tak Lagi Muda Tapi Tetap Bisa Berkarya 

Rasa kantuk akibat pagi harus sudah berkumpul di Stasiun Bogor, tidak lagi saya rasakan begitu tiba di Kampung Budaya Sindangarang. Perjalanan dari Stasiun Bogor menuju Kampung Budaya Sindangbarang yang terletak di Pasireurih, Bogor memakan waktu kurang lebih satu jam lamanya.

Keriuhan begitu terasa ketika gerbang Kampung Budaya Sindangbarang sudah ada di pelupuk mata. Lima orang ibu-ibu setengah baya dan lanjut usia berjejer memainkan alat musiknya bersahut-sahutan sambil bernyanyi di dekat deretan saung lesung dan leuit (lumbung). Nyanyian lagu tentang Kampung Budaya Sindangbarang masih terdengar merdu meski saya tahu mereka bukan biduan.



Alat musik yang mereka mainkan juga membuat saya penasaran. Rasanya belum pernah Bubu Dita melihatnya. Memang mirip angklung tapi ukurannya tampak lebih besar dengan di bagian atasnya terdapat hiasan kembang wiru kering.

Beberapa lama Bubu Dita berada di sana, barulah saya tahu alat musik yang dimainkan mereka disebut “Angklung Gubrag”. Unik! Ya, memang berbeda dari angklung biasanya. Angklung gubrag tidak memiliki tangga nada seperti angklung biasa. Biasanya angklung gubrag dimainkan saat akan menanam dan memanen padi.

Orang di sana percaya bahwa alunan suara yang keluar dari angklung gubrag akan menyuburkan tanaman padi. Di sekeliling kampung, saya memang melihat hamparan tanaman padi yang menghijau. Sebentar lagi rasanya sudah dekat waktunya panen!

Hal paling menarik dari tim angklung gubrag di Kampung Budaya Sindangbarang ini adalah kehadiran sosok Nenek Masnah yang usianya sudah lanjut.

“Umur saya 73 tahun. Saya main angklug gubrag ini lebih dari 10 tahun. Biasanya kami main berdelapan, tapi sekarang yang bisa lima orang,” kata Nenek Masnah.

Bagi Manteman Rumika yang berkunjung ke Kampung Budaya Sindangbarang dan melihat atraksi angklung gubrag, mungkin sosok Nenek Masnah akan sulit dilupakan dari ingatan. Usianya yang sudah tidak lagi muda ternyata nggak menyurutkan semangatnya untuk terus tampil memukul-mukul rampak yang mendampingi angklung.

Tabuhan tangannya gesit, seperti berbanding terbalik dengan usianya yang sudah kepala tujuh. Lakonnya juga lucu, mengingatkan saya pada komedian Mpok Atiek. :D




Selain Nenek Masnah, empat ibu lainnya juga sudah tidak lagi muda. Rata-rata usianya sudah 50 tahunan. Lagi-lagi Bubu Dita dibuat takjub dengan kesigapan, kekuatan ibu-ibu pemain anglung gubrag dalam mengngkat dan memanggul alat musiknya.

Selain menyambut tamu yang datang di gerbang kampung, Nenek Masnah dan teman-temannya juga kembali tampil saat pertunjukan seni budaya. Mereka berlima memulai acara dengan berkeliling lapangan sekitar tiga kali sambil memainkan angklung dan rampak.

Saat melihat mereka menunjukkan kebolehannya, Bubu Dita semakin yakin bahwa usia bukan jadi penghalang kita dapat berkarya. Nenek Masnah dan teman-temannya telah membuktikannya!

Mereka masih rajin berlatih angklung gubrag agar tercipta harmonisasi saat tampil. Mereka masih bersemangat memperlihatkan kemahirannya pada tamu yang datang. Mereka menunjukkan di usia senja pun mereka melakukan apa yang mereka disukai sesuai keinginan. Dan mereka tak segan bertukar cerita dengan tamu dan tertawa bersama.... :)

Saat umur terus beranjak semoga saya akan selalu mengingat mereka, mengikuti nilai-nilai positif yang mereka perlihatkan.


Semakin Cinta Budaya Indonesia

Tak hanya para tetua, anak muda bahkan anak yang masih balita pun dilibatkan dalam pertunjukkan seni budaya di kampung wisata yang telah berdiri sejak tahun 2000-an ini.

Ada Nenek Masnah yang telah berusia senja, ada pula Lala yang terlihat paling muda diantara teman-teman sepermainannya. Lala menjadi salah satu dari 17 anak-anak di Kampung Budaya Sindangbarang yang mempertunjukkan kesenian kaulinan barudak.






Dalam pertunjukan tersebut, Bubu Dita kembali lagi diingatkan asyiknya bermain bersama teman, tanpa beban! Lala dan teman-temannya dengan sukacita menari dan bermain oroy-oroyan atau sejenis permainan ular naga. Meski panas menyengat, anak-anak berkebaya warna-warni itu tetap tersenyum gembira.

Kaulinan Barudak dapat diartikan sebagai permainan anak-anak. Saat masa kini, bentuk permainan tradisional seolah ditinggalkan. Tapi dengan adanya Kampung Budaya Sindangbarang, saya sebagai orang tua juga jadi diingatkan lagi tentang hakikat indahnya bermain bagi anak-anak, tentu tanpa gadget.

Di Kampung Sindangbarang pula Bubu Dita berkenalan dengan jurus-jurus silat khas Cimande. Apa yang ada di benak ketika mendengar kata Cimande? Kalau saya akan langsung ingat pengobatan patah tulang Haji Naim!

Almarhum Haji Naim populer dengan pijat patah tulang yang ada sejak tahun 60-an. Awalnya ia belajar jurus silat Cimande khas tanah Pasundan. Di tempat ia belajar silat, ilmu memijat pun ia dapatkan dari sesepuh. Kini, meski telah lama ia wafat, pengobatan pijatnya tetap bertahan dengan dijalankan oleh keturunannya.

Nah, saat di Kampung Budaya Sindangbarang, kami para peserta workshop juga disuguhi seni budaya Parebut Seeng, yang menampilkan jurus-jurus silat asli Cimande. Parebut Seeng sudah sejak dulu, dilakukan saat upacara adat perkawinan.




Biasanya sebelum dilangsungkan akad nikah, para jawara dari pihak mempelai pria dan wanita akan bertarung untuk memperebutkan seeng atau penanak nasi. Seeng tersebut dililit ke salah satu jawara dan pihak lawan berusaha untuk menyentuh dan merebutnya. Menarik!

Sebelum pertunjukan Parebut Seeng, mata kami juga dimanjakan oleh atraksi rampak gendang dengan tarian jaipong dan juga tari merak. Dengan memakai baju khas daerah dan full make up, para remaja perempuan di Sindangbarang ini begitu antusias memperlihatkan hasil latihan mereka selama ini ke para peserta workshop.





Hasil latihan rutin dan disiplin memang akan berbuah hasil. Pertunjukkan mereka sukses membuat saya dan teman-teman Indonesia Corners bertepuk tangan riuh saat mereka usai beraksi.

Di kampung budaya ini pula Bubu Dita berkenalan dengan sesepuh desa, yaitu Abah Ukat Sukatma. Abah Ukat banyak bercerita tentang kampung, silat Cimande, dan menyisipkan pesan tentang manusia yang sebaiknya hidup harmonis dengan alam.

Bersama Abah Ukat Sukatma.




Ada satu kisah menarik yang diungkap oleh Abah Ukat, “Waktu saya masih usia 15 tahun, kakek saya pernah bilang ke saya kalau nantinya Kampung Sindangbarang ini bakal ramai didatangi orang!.”

Ucapan kakeknya saat ia masih remaja dulu ternyata benar-benar terjadi di masa kini.

Benar saja, saat masuk ke Kampung Budaya Sindangbarang, kelompok kami bukanlah tamu yang datang pertama kali. Meski masih pagi, di tempat tersebut sudah ada sekelompok fotografer yang sedang membidik kameranya ke satu titik, perempuan di depan leuit dengan asap di sekelilingnya.

Kampung Budaya Sindangbarang memang memikat banyak wisatawan untuk mengunjunginya. Selain belajar budaya Sunda (tarian serta gaya hidup) dan hunting foto, kampung ini pun cocok untuk menjauhkan diri sejenak dari kebisingan kota. Di tempat ini Bubu Dita menemukan kesederhanaa, ketenangan, dan yang pasti sayur asem yang enaknya bikin saya pingin nambah terus! :D



Sambutan hangat dan keramahan para penduduk di sekitar Kampung Sindangbarang tentu tidak akan saya lupakan. Suatu saat saya pasti akan kembali lagi ke tempat ini untuk melakukan misi lain, yaitu melihat upacara adat Seren Taun sebagai ungkapan rasa syukur atas panen.

Selain itu, saya juga ingin sekali mengunjungi berbagai situs purbakala, seperti situs batu kursi dan batu karut yang ada di sekitar kampung. Manteman Rumika ada yang ingin ke Sindangbarang juga dengan Bubu Dita? :)


Di Rumah Sutera, Hidup Sesaat Tapi Terasa Jejaknya Hingga Lama

Menjelang siang hari, kami semua meninggalkan Kampung Budaya Sindangbarang menuju tempat berikutnya. Destinasi kedua dalam acara Telisik Budaya Bogor bersama Indonesia Corners dan FujiFilm kali ini adalah Rumah Sutera tempat pembuatan kain sutra alam di kawasan Ciapus, Bogor.

Tiba di Rumah Sutera, rombongan kami langsung disambut Pak Iyan, guide handal yang sudah bekerja belasan tahun di tempat ini. Ia langsung mengajak kami masuk ke dalam komplek perumahan hingga akhirnya sampailah saya di kebun luas dengan setiap jengkalnya ditanami pohon murbei.


Pak Iyan semangat menjelaskan tentang pohon murbei di Rumah Sutera


Bagi ulat sutra, daun murbei adalah makanan favorit! Untuk menyenangkan perut-perut ulat itu, di Rumah Sutera ditanam berbagai jenis pohon murbei, seperti kanva dari India, multikaulis dan katayama dari Jepang, serta tanaman murbei lokal yang didatangkan dari Lembang.

‘Daun murbei ini bisa dimakan kita juga, lho. Bisa buat lalap, jadi obat diabet, diet, dan pencernaan. Bagus juga untuk ibu hamil dan menyusui,” jelas Pak Iyan.

Saya memang tidak mencoba makan daunnya secara langsung, hanya membeli yang sudah dilah menjadi produk teh. Tapi dari cerita Kang Arief Rahman aka Arief Pokto, tidak ada rasa yang aneh saat ia mencoba daun murbei mentah. Hmm, sepertinya boleh juga , nih, saya, kapan-kapan mencobanya! :D




Dari kebun murbei seluas dua hektar itu, saya dan teman-teman bergegas mengikuti Pak Iyan menuju rumah ulat sutra membuat kepompong. Di sini memang tidak ada penangkaran dna pembudidayaan, ya. Jadi Rumah Sutera mendapat pasokan telur ulat sutra dari pusat pembibitan ulat sutra. Lalu mereka hanya akan memprosesnya menjadi benang dan kain sutra alam.

Nah, di rumah ulat sutra inilah saya pun akhirnya menyadari betapa pendeknya usia si ulat sutra! Ketika para ulat ini sudah membuat kepompong, dirinya tidak akan berubah menjadi kupu-kupu. Kepompong dijaga agar tidak rusak dan ulat yang menjadi pupa itu berakhir masa hidupnya.

Kesannya hidupnya sungguh tragis, ya!

Tapi, ya, ternyata memang seperti itu siklus kehidupannya. Hidupnya sesaat, hanya dalam hitungan hari. Pun ia tidak berubah indah menjadi kupu-kupu. Tingkat keikhlasan  level tinggi sepertinya harus ada dalam diri setiap ulat sutra... :)







Namun, jika dipikir-pikir, hidupnya yang hanya sebentar ternyata membawa berkah dan manfaat. Jejaknya pun akan tinggal lama di dunia dengan kain hasil usahanya membuat kepompong. Hidupnya tidak akan sia-sia...

Mendengar cerita dari Pak Iyan, dari 10 kilogram kepompong nantinya akan dihasilkan 1 kilogram benang. Untuk membuat ke dalam bentuk kain, jalinan benang disatukan memakai ATBM atau alat tenun bukan mesin. Dalam sehari bisa dihasilkan 2-3 meter kain di tempat ini.

Pupa ulat yang tidak digunakan lagi ternyata juga bisa menjadi makanan, lho. Menariknya, pupa ulat sutra ternyata memiliki kandungan protein tinggi dan asam lemak tak jenuh yang baik untuk kesehatan.


Kepompong  dicuci dulu di tempat ini sebelum dipintal jadi benang.


Namun sepertinya memang perlu inovasi kreatif dalam membuat pupa ulat sutra menjadi produk pangan yang lebih dapat diterima masyarakat.  Bubu Dita sendiri jika diminta untuk makan pupa ulat sutra dalam bentuk aslinya, wes, pasti aku emoh! :D

Hal terakhir yang kami lakukan di Rumah Sutera adalah mampir ke tempat souvenir-nya. Berbagai kain warna-warni menarik hati dipajang dengan cantik di sini. Harganya dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Tak hanya kain, ada produk sampingan ulat sutra lainnya, speerti gantungan kunci dan cocoon facial. Produk terakhir yang saya sebut, akhirnya saya beli karena penasaran abagaimana rasanya memakai masker untuk membersihkan wajah dengan cocoon atau kepompong ulat sutra. :D


Hidup Itu.... Terus Belajar!

Seperti yang sudah Bubu Dita sebt di awal tulisan bahwa, acara jalan-jalan bersama Indonesia Corners dan FujiFilm ini bukan sekedar jalan-jalan biasa. Di sela-sela kegiatan kami pun mendapat ilmu bermanfaat dari fotografer, Uni Raiyani Muharramah dan travel blogger senior Mba Donna Imelda.

Workshop pertama yang diisi oleh Uni Raiyani langsung membuka mata saya kembali untuk lebih memerhatikan estetika foto di blog yang Bubu Dita miliki ini. Saya berharap semoga dengan ikut workshop fotografi ini, nggak ada lagi foto asal-asalan yang muncul di blog saya. Tapi tentu saya sadar perlu waktu dan perlu belajar lebih banyak lagi.



“Teknik yang dimiliki tiap fotografer itu sama! Hal yang membedakan kita dengan fotografer lainnya adalah angle dan komposisi,” kata Uni Raiyani yang sangat membekas di ingatan saya.

Jika ditanya kamera apa yang terbaik, ternyata jawaban Uni adalah kamera yang kita punya sendiri. “Kenali alat yang kita punya. Pahami kelemahan dan kelebihan yang ada di kamera kita,” jelasnya.

Dari workshop ini jugalah saya jadi lebih berani untuk mengambil foto dengan low angle. Selama ini rasanya saya selalu main aman dengan foto eye level. Tapi berkat foto-foto festival yang ditunjukkan Uni Raiyani ketika workshop berlangsung, saya bisa, lho, merinding ketika melihat foto low angle hasil jepretannya yang bagusnya minta ampun.

Low angle juga sangat pas digunakan saat cuaca sedang bagus. Warna langit yang cerah akan terlihat sempurna. Nah, dengan memiliki stok foto berbagai angle, hasil bidikan kita pun jadi lebih variatif.

Saat sesi praktik berlangsung, saya dan teman-teman pun mencoba mengambil gambar dengan low angle. Memang tidak mudah, tapi mengasyikkan! Saat melihat teman-teman peserta kegiatan ini beraksi dengan kamera dan smartphone-nya masing-masing, saya dibuat takjub. Totalitasnya tinggi!




Workshop kedua diisi oleh Mba Donna Imelda. Ini kali kedua Bubu Dita ikut workshop dengan mentor Mba Donna. Sebelumnya saya pernah menyimak penjelasannya mengenai bagaimana menjadi travel blogger saat Bubu Dita belum lama membuat blog ini.

Meski kali kedua, tapi tetap ada rasa berbeda saat menikmati apa yang dikatakan Mba Donna tentang bagaimana menjadi seorang travel writer yang baik. Ada satu hal menarik yang disampaikan Mba Donna saat workshop. Ia berkata bahwa travel writing itu bukan hanya menceritakan tentang keindahan alam, tapi selalu ada cerita unik dibaliknya. Kitalah yang harus menemukan keunikan itu.

Angle tulisan juga bisa disiapkan bahkan sebelum kita pergi traveling. Penting sekali untuk riset mengenai tempat yang kita tuju dan dari situlah kita bisa menentukan tulisan mengenai apa yang akan kita tulis nantinya.

Ini dia yang kadang Bubu Dita lewatkan. Riset... riset... riset! :D Dari ilmu yang Mba Donna berikan saat workshop, akhirnya saya pun berusaha untuk mencari angle apa yang tepat untuk menyalurkan apa yang saya rasakan ketika berada di Kampung Budaya Sindangbarang dan Rumah Sutera.


Akhirnya “Terfujilah” Juga!

Sepertinya saya akan rugiiii jika tidak mengikuti Telisik Budaya Bogor ini. Ternyata tak hanya ilmu fotografi dan blogging  serta kesempatan menelusuri keunikan Kampung Sindangbarang dan Rumah Sutera yang saya dapatkan. Semua peserta juga berkesempatan menggunakan kamera Fuji!

Ya, nggak salah jika saya menulis sub judul tulisan ini “Akhirnya Terfujilah Juga!” karena memang selama ini Bubu Dita belum pernah menggunakan kamera Fuji. Kebanyakan foto yang ada di blog ini berasal dari kamera smartphone.

Zaman sekarang kamera smartphone memang canggih, tapi tetap ada perasaan yang kurang ketika traveling tanpa berbekal kamera DSLR atau mirrorless.

Saat acara berlangsung Bubu Dita dipinjamkan kamera FujiFilm XA-5 berwarna mint! Begitu melihat wujudnya, saya pun langsung jatuh cinta terutama dengan tampilan warnanya yang kasual dan kekinian!




Ketika memegangnya pertama kali, kesan saya langsung merasa bahwa kamera ini rasanya begitu ringan. Pas untuk dibawa sebagai teman traveling.

Memang ketika awal memakainya saya tidak serta merta langsung bisa, perlu waktu untuk mempelajari kamera ini. Newbie banget, nih! Apalagi namanya juga memakai barang baru, pastilah butuh pengenalan lebih lanjut agar ada chemistry diantara kami... :D

Kamera FujiFilm XA-5 memang rasanya cocok untuk Bubu Dita yang masih pemula dalam hal fotografi. Kamera ini masuk ke dalam entry level.

Dan lambat laun, saya pun mulai bisa merasakan enaknya menggunakan FujiFilm XA-5. Gambar yang dihasilkan tajam dan cerah dengan teknologi on-chip phase detect autofokus yang digunakan untuk mempercepat penguncian fokus saat mengambil gambar.

Fitur menarik lainnya yang saya coba dari kamera Fuji tipe ini adalah LCD-nya yang berupa layar sentuh dan bisa ditotasi hingga 180 derajat. Bagi Mateman Rumika yang gemar selfie dan vlogging, pas banget untuk memiliki kamera ini.




Telisik Budaya Bogor yang Bubu Dita ikuti ini sungguh membekas di hati.  Seusai semua kegiatan usai, rasanya memang lelah luar biasa, tapi  rasa senangnya melebihi lelah yang saya rasakan.

Dari dua tempat di Bogor ini pula saya jadi makin menyadari mau usia panjang atau pendek, lakukan apa yang bisa kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Lakukan apa yang kita sukai, bukan hanya untuk diri kita sendiri tapi nantinya semangat itu akan terasa hingga orang-orang di sekitar kita...

Sepertinya jika ada acara seperti ini lagi, Bubu Dita akan langsung daftar! :D Terima kasih, ya, Indonesia Corners, FujiFilm, dan teman-teman seperjalanan yang seru!


-Bubu Dita-

2 comments :

  1. Seru ya jalan-jalan ke Bogor. Naik turun angkot, cium bau jengkol dari pohon dan melihat ulat sutra uget-uget gitu.

    ReplyDelete
  2. Sindangbarang ini kampung budaya yang keren ternyata. Paket lengkapnya di sana, rumah adat, permainan dan kesenian tradisional jadi satu
    Semoga tetap lestari keberadaannya agar budaya Indonesia makin makin mendunia

    ReplyDelete