Mencicipi Papeda di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina Lenteng Agung Jakarta



Suatu hari anakku pernah bertanya, “Papeda, tuh, kayak gimana, sih, rasanya?” 


Aku dan suami juga jadi mengingat-ingat, apakah kami berdua pernah makan papeda atau nggak. Dan seingatku, aku belum pernah makan papeda asli yang dibuat oleh orang timur. 


Selama ini aku juga hanya melihat papeda cuma lewat acara kuliner TV atau video singkat di media sosial. Bentuknya unik, teksturnya terlihat lengket seperti lem, dan cara makannya pun berbeda dari kebanyakan makanan yang biasa aku konsumsi sehari-hari. 


Jujur aja, aku pun sebenarnya penasaran banget sama papeda. Dan ketika anakku nanya hal itu, langsunglah aku searching dan googling di mana makan papeda terdekat dari rumah… :D 


Nggak nyangka banget ternyata di dekat Depok, tepatnya di Lenteng Agung Jakarta Selatan ada, lho, rumah makan khas Ambon yang menyajikan papeda! 




Nama restorannya RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina. Untuk menjawab rasa penasaran kami sekeluarga terhadap papeda dan tentunya mau ngasih experience juga ke anak-anak, akhirnya aku dan suami pun memutuskan untuk makan di sana saat weekend beberapa waktu lalu. 


Gimana rasa papeda dan ada hal menarik apa saja di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina? Yuk, baca tulisanku soal itu di sini…  :) 



Lokasi RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina

Nggak sulit untuk menemukan tempat makan ini. Lokasinya persis di depan Stasiun Lenteng Agung yang mengarah ke Depok, ya. Tempatnya memang nggak langsung di pinggir jalan. Agak masuk sedikit ke gang, nah, nanti tempat makannya ada di sebelah kanan. Kalau ngetik di Google Maps RM Samasuru Ambon bisa langsung terlihat, kok. 


Berikut untuk alamat lengkapnya:

Jl. Raya Lenteng Agung Gg. H. Tahir, RT.10/RW.4, Lenteng Agung, Kec. Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12630


RM Samasuru Ambon buka dari siang sampai malam hari. Jam operasionalnya jam 12.00 sampai 22.00. 


Kalau bawa kendaraan roda empat sebenarnya bisa diparkir tepat di depan rumah makan ini. Tapi memang lahan parkirnya terbatas. Manteman kalau membawa mobil bisa juga memarkirkannya di Stasiun Lenteng Agung. Setelah itu tinggal menyeberang aja. 


Nah, kalau bawa motor sepertinya, sih, lebih aman, ya. Bisa lebih leluasa untuk urusan parkir. :) 


Baca Juga: Kuliner Legendaris di Pasar Jatinegara



Kesan Pertama, Tempat Sederhana tapi Terasa Hangat

Saat pertama tiba di RM Samasuru Ambon, kesan yang langsung aku rasakan adalah suasana rumahan. Rumah makan ini nggak terlalu besar dan nggak fancy, tapi justru di situlah letak kenyamanannya. 


Bangunannya hanya setengah tertutup. Di dalamnya terdapat beberapa meja dan kursi. Saat kami datang suasana sepi. Nggak terlihat pula yang berjaga di dalamnya. 





Kemudian aku pun mulai melihat ke arah belakang dan melihat seorang bapak yang lagi sibuk memotong-motong sesuatu, sepertinya, sih, memotong kayu. Setelah itu bapak tersebut pun menyambut kami dan langsung memanggil Mama Dila.


Kami dipersilahkan duduk dan melihat menu. Saat duduk di salah satu meja, akupun melihat di sebuah meja terdapat beberapa bahan belanjaan yang masih terbungkus plastik. 


Setelah berapa lama aku dan keluarga di situ barulah aku tahu kalau saat itu RM Samasuru Ambon baru buka setelah libur Lebaran dan Mam Dila juga baru belanja di pasar. :) 


Baca Juga: Pengalaman Makan di Obihiro Nikudon Blok M dan Gading Serpong



Bertemu Langsung dengan Mama Dila Latuconsina

Salah satu hal yang nggak aku duga dari momen mengajak anak-anak makan papeda ini adalah kesempatan untuk bertemu langsung dengan Mama Dila Latuconsina. Sosok di balik dapur yang memasak hidangan-hidangan khas Ambon di RM Samasuru.


Saat itu Mama Dila menyambut dengan ramah. Hangat, sederhana, dan terasa seperti sedang bertemu dengan keluarga sendiri. Apalagi aku juga memanggilnya mama, sebutkan yang sudah beberapa tahun ini nggak aku ucapkan setelah mamaku tiada. :’) Jadi, bagiku ada rasa senang dan terharu juga saat makan di sini…




Aku dan Mama Dila sempat berbincang sebentar. Dari obrolan kami terasa kalau makanan yang disajikan di sini bukan sekadar bisnis semata, tapi juga bagian dari identitas dan kecintaan terhadap budaya akarnya.


Mama Dila bercerita kalau aslinya ia memang orang Ambon yang tinggal di sana. Kemudian ia merantau dan tinggal di Bojong Gede. Sampai pada akhirnya, ia mengelola dan memasak di RM Samasuru Ambon bersama bapak. Ada juga anak yang membantunya. 



Menu di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina

Menu yang disajikan di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina memang nggak terlalu banyak. Sepertinya rumah makan ini memang fokus pada papeda dan ikan kuah kuningnya. 


Berikut menu-menu yang ada di rumah makan ini dan harganya:





Nah, saat ke sana, aku dan keluarga memesan menu paket yang bisa dimakan bersama-sama. Ada papeda, ikan kuah kuning kenari, cah kangkung, dan singkong rebus. Dengan harga menu paket Rp 150 ribu dan melihat porsinya menurutku makan di sini worth it, sih. 


Kemudian suamiku juga memesan ikan bakar. Karena saat itu ukuran ikan yang ada cukup besar, harganya pun bukan Rp 25 ribu tapi Rp 50 ribu. Saking cukup banyaknya porsi makanan, ikan yang dipesan pun dibawa pulang. Bahkan, papeda dan singkong rebusnya juga masih menyisa sehingga kami bawa pulang… :D 


Oiya, saat masih menunggu Mama Dila dan bapak memasak, aku juga mencium aroma yang sangat sedap. Wah, wangi rempahnya yang khas bikin nggak sabar buat menikmati makanannya! :D 


Saat itu sebenarnya kami juga ingin mencoba Es Pisang Ijo. Sayangnya karena baru buka dan belum membuat pisang ijonya, kami pun gagal untuk mencicipi menu penutup tersebut. Rasanya aku masih penasaran dan pingin balik lagi ke RM Samasuru Ambon, deh… :D 


Baca Juga: Sarapan di Sate Maranggi Haji Yetty Cibungur Purwakarta



Papeda, Makanan Sederhana tapi Penuh Cerita

Akhirnya menu yang kami nantikan pun datang juga. Setelah berturut-turut datang singkong rebus, cah kangkung, dan ikan kuah kuning kenari, barulah papeda datang dibawakan langsung oleh Mama Dila. 


Papeda disajikan dalam mangkuk cokelat besar. Dengan tekstur kental, bening, dan agak transparan sekilas papeda memang terlihat seperti lem. Ini mungkin yang membuat banyak orang ragu untuk mencoba pertama kali, ya.




Setelah mangkuk ditaruh di meja kami, Mama Dila pun langsung beraksi. Ia memutar-mutarkan dan mengaduk-aduk papeda dengan semacam alat pencapit atau sumpit kayu besar di kedua tangannya. 


Setelah itu, ia menaruhnya di setiap piring kami. Wah, menarik banget, deh, cara penyajiannya. Jujur saja, ini pengalaman baru buat kami. Kemudian barulah kami bisa menambah ikan kuah kuning kenari dan juga sayur cah kangkung. 




Papeda sendiri terbuat dari tepung sagu, yang dalam hal ini didatangkan langsung dari Ambon, lho. Dari segi rasa, papeda sebenarnya cenderung hambar. Nggak ada rasa gurih atau manis yang dominan. Tapi justru di situlah keunikannya. Papeda memang nggak dimaksudkan untuk dimakan sendiri. Papeda cocok banget dimakan dengan ikan kuah kuning. 


Baca Juga: Bumi Semboja Bogor, Resto Nostalgia di Rumah Nenek



Ketika Papeda Bertemu Ikan Kuah Kuning Kenari

Kunci dari menikmati papeda ada pada kuahnya. Di sinilah ikan kuah kuning kenari mengambil peran utama.


Kuahnya berwarna kuning cerah, dengan aroma rempah yang kuat. Saat papeda dicelupkan ke dalam kuah ini, semuanya berubah.


Rasa gurih langsung terasa, disusul dengan kesegaran dari bumbu-bumbu yang digunakan. Menurutku ada juga sentuhan rasa asam yang ringan, membuat rasanya semakin kompleks tapi tetap seimbang. Apalagi ditambah daun kemangi yang membuat sajian ikan kuah kuning jadi lebih beraroma. 




Dan di titik itulah kami semua sepakat kalau rasanya enak! Papeda yang tadinya hambar justru menjadi sempurna ketika berpadu dengan ikan kuah kuning. Teksturnya yang kenyal menyerap kuah dengan baik dan menciptakan sensasi makan yang unik sekaligus menyenangkan. :) 


Anak-anak memang awalnya sempat melihat dengan ekspresi bingung dengan cara makan dan penyajian papeda, tapi setelah mencoba, perlahan mulai terbiasa. Bahkan ada yang akhirnya nambah, lho! :D




Satu hal yang aku sadari juga kalau papeda itu ternyata sangat mengenyangkan. Aku ngerasa kalau aku nggak makan terlalu banyak papeda, tapi rasanya kenapa kenyang sekali, ya. :) Makanya papeda yang dibuat Mama Dila bisa kami bawa pulang lagi dan dilanjut makan di rumah untuk makan malam… Hehe… 


Karena sudah kekenyangan makan papeda, alhasil singkong rebusnya pun jadi nggak kemakan. Di rumah singkong rebus itu aku goreng dan bisa jadi camilan keluarga… :D 


Oiya, untuk ikan bakarnya karena kami makan di rumah rasanya juga mantap banget. Daging ikannya tebal dan banyak. Disajikan dengan sambal colo-colo makanya rasanya enak. 



Tips Buat yang Mau Coba Papeda di RM Samasuru Ambon

Buat Manteman yang penasaran dan ingin mencoba papeda di RM Samasuru Ambon, ada beberapa tips yang bisa jadi panduan:


  • Sebagai first timer, menurutku wajib, sih,  pesan papeda dengan ikan kuah kuning kenari. 

  • Jangan ragu untuk mencoba, meskipun makanannya terlihat asing.

  • Datang saat nggak terlalu ramai supaya lebih santai. Bisa datang seperti aku, sebelum jam 12 siang. 

  • Tanyakan juga cara makan papeda kalau masih bingung ke Mama Dila, ya. Kalau ada kesempatan bisa juga ajak Mama Dila untuk ngobrol. Sepertinya beliau memang senang sekali ngobrol dengan customer-nya… :) 




Dari pengalaman makan di RM Samasuru Ambon, aku jadi sadar kalau makanan bukan hanya soal rasa. Ada cerita di baliknya. Ada budaya, tradisi, dan perjalanan panjang yang membentuknya.


Papeda mungkin terlihat sederhana, ya. Tapi dibalik kesederhanaannya, ada kekayaan budaya dari Maluku dan Papua yang diwakilinya. Ditambah lagi dengan penggunaan sagu asli dari Ambon, membuat pengalaman makan aku dan keluarga kali ini terasa semakin autentik. 



Dita Indrihapsari


No comments

Contact Form

Name

Email *

Message *