Suatu hari anakku pernah bertanya, “Papeda, tuh, kayak gimana, sih, rasanya?”
Aku dan suami juga jadi mengingat-ingat, apakah kami berdua pernah makan papeda atau nggak. Dan seingatku, aku belum pernah makan papeda asli yang dibuat oleh orang timur.
Selama ini aku juga hanya melihat papeda cuma lewat acara kuliner TV atau video singkat di media sosial. Bentuknya unik, teksturnya terlihat lengket seperti lem, dan cara makannya pun berbeda dari kebanyakan makanan yang biasa aku konsumsi sehari-hari.
Jujur aja, aku pun sebenarnya penasaran banget sama papeda. Dan ketika anakku nanya hal itu, langsunglah aku searching dan googling di mana makan papeda terdekat dari rumah… :D
Nggak nyangka banget ternyata di dekat Depok, tepatnya di Lenteng Agung Jakarta Selatan ada, lho, rumah makan khas Ambon yang menyajikan papeda!
Nama restorannya RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina. Untuk menjawab rasa penasaran kami sekeluarga terhadap papeda dan tentunya mau ngasih experience juga ke anak-anak, akhirnya aku dan suami pun memutuskan untuk makan di sana saat weekend beberapa waktu lalu.
Gimana rasa papeda dan ada hal menarik apa saja di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina? Yuk, baca tulisanku soal itu di sini… :)
Lokasi RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina
Nggak sulit untuk menemukan tempat makan ini. Lokasinya persis di depan Stasiun Lenteng Agung yang mengarah ke Depok, ya. Tempatnya memang nggak langsung di pinggir jalan. Agak masuk sedikit ke gang, nah, nanti tempat makannya ada di sebelah kanan. Kalau ngetik di Google Maps RM Samasuru Ambon bisa langsung terlihat, kok.
Berikut untuk alamat lengkapnya:
Jl. Raya Lenteng Agung Gg. H. Tahir, RT.10/RW.4, Lenteng Agung, Kec. Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12630
RM Samasuru Ambon buka dari siang sampai malam hari. Jam operasionalnya jam 12.00 sampai 22.00.
Kalau bawa kendaraan roda empat sebenarnya bisa diparkir tepat di depan rumah makan ini. Tapi memang lahan parkirnya terbatas. Manteman kalau membawa mobil bisa juga memarkirkannya di Stasiun Lenteng Agung. Setelah itu tinggal menyeberang aja.
Nah, kalau bawa motor sepertinya, sih, lebih aman, ya. Bisa lebih leluasa untuk urusan parkir. :)
Baca Juga: Kuliner Legendaris di Pasar Jatinegara
Kesan Pertama, Tempat Sederhana tapi Terasa Hangat
Saat pertama tiba di RM Samasuru Ambon, kesan yang langsung aku rasakan adalah suasana rumahan. Rumah makan ini nggak terlalu besar dan nggak fancy, tapi justru di situlah letak kenyamanannya.
Bangunannya hanya setengah tertutup. Di dalamnya terdapat beberapa meja dan kursi. Saat kami datang suasana sepi. Nggak terlihat pula yang berjaga di dalamnya.
Kemudian aku pun mulai melihat ke arah belakang dan melihat seorang bapak yang lagi sibuk memotong-motong sesuatu, sepertinya, sih, memotong kayu. Setelah itu bapak tersebut pun menyambut kami dan langsung memanggil Mama Dila.
Kami dipersilahkan duduk dan melihat menu. Saat duduk di salah satu meja, akupun melihat di sebuah meja terdapat beberapa bahan belanjaan yang masih terbungkus plastik.
Setelah berapa lama aku dan keluarga di situ barulah aku tahu kalau saat itu RM Samasuru Ambon baru buka setelah libur Lebaran dan Mam Dila juga baru belanja di pasar. :)
Baca Juga: Pengalaman Makan di Obihiro Nikudon Blok M dan Gading Serpong
Bertemu Langsung dengan Mama Dila Latuconsina
Salah satu hal yang nggak aku duga dari momen mengajak anak-anak makan papeda ini adalah kesempatan untuk bertemu langsung dengan Mama Dila Latuconsina. Sosok di balik dapur yang memasak hidangan-hidangan khas Ambon di RM Samasuru.
Saat itu Mama Dila menyambut dengan ramah. Hangat, sederhana, dan terasa seperti sedang bertemu dengan keluarga sendiri. Apalagi aku juga memanggilnya mama, sebutkan yang sudah beberapa tahun ini nggak aku ucapkan setelah mamaku tiada. :’) Jadi, bagiku ada rasa senang dan terharu juga saat makan di sini…
Aku dan Mama Dila sempat berbincang sebentar. Dari obrolan kami terasa kalau makanan yang disajikan di sini bukan sekadar bisnis semata, tapi juga bagian dari identitas dan kecintaan terhadap budaya akarnya.
Mama Dila bercerita kalau aslinya ia memang orang Ambon yang tinggal di sana. Kemudian ia merantau dan tinggal di Bojong Gede. Sampai pada akhirnya, ia mengelola dan memasak di RM Samasuru Ambon bersama bapak. Ada juga anak yang membantunya.
Menu di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina
Menu yang disajikan di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina memang nggak terlalu banyak. Sepertinya rumah makan ini memang fokus pada papeda dan ikan kuah kuningnya.
Berikut menu-menu yang ada di rumah makan ini dan harganya:
Nah, saat ke sana, aku dan keluarga memesan menu paket yang bisa dimakan bersama-sama. Ada papeda, ikan kuah kuning kenari, cah kangkung, dan singkong rebus. Dengan harga menu paket Rp 150 ribu dan melihat porsinya menurutku makan di sini worth it, sih.
Kemudian suamiku juga memesan ikan bakar. Karena saat itu ukuran ikan yang ada cukup besar, harganya pun bukan Rp 25 ribu tapi Rp 50 ribu. Saking cukup banyaknya porsi makanan, ikan yang dipesan pun dibawa pulang. Bahkan, papeda dan singkong rebusnya juga masih menyisa sehingga kami bawa pulang… :D
Oiya, saat masih menunggu Mama Dila dan bapak memasak, aku juga mencium aroma yang sangat sedap. Wah, wangi rempahnya yang khas bikin nggak sabar buat menikmati makanannya! :D
Saat itu sebenarnya kami juga ingin mencoba Es Pisang Ijo. Sayangnya karena baru buka dan belum membuat pisang ijonya, kami pun gagal untuk mencicipi menu penutup tersebut. Rasanya aku masih penasaran dan pingin balik lagi ke RM Samasuru Ambon, deh… :D
Baca Juga: Sarapan di Sate Maranggi Haji Yetty Cibungur Purwakarta
Papeda, Makanan Sederhana tapi Penuh Cerita
Akhirnya menu yang kami nantikan pun datang juga. Setelah berturut-turut datang singkong rebus, cah kangkung, dan ikan kuah kuning kenari, barulah papeda datang dibawakan langsung oleh Mama Dila.
Papeda disajikan dalam mangkuk cokelat besar. Dengan tekstur kental, bening, dan agak transparan sekilas papeda memang terlihat seperti lem. Ini mungkin yang membuat banyak orang ragu untuk mencoba pertama kali, ya.
Setelah mangkuk ditaruh di meja kami, Mama Dila pun langsung beraksi. Ia memutar-mutarkan dan mengaduk-aduk papeda dengan semacam alat pencapit atau sumpit kayu besar di kedua tangannya.
Setelah itu, ia menaruhnya di setiap piring kami. Wah, menarik banget, deh, cara penyajiannya. Jujur saja, ini pengalaman baru buat kami. Kemudian barulah kami bisa menambah ikan kuah kuning kenari dan juga sayur cah kangkung.
Papeda sendiri terbuat dari tepung sagu, yang dalam hal ini didatangkan langsung dari Ambon, lho. Dari segi rasa, papeda sebenarnya cenderung hambar. Nggak ada rasa gurih atau manis yang dominan. Tapi justru di situlah keunikannya. Papeda memang nggak dimaksudkan untuk dimakan sendiri. Papeda cocok banget dimakan dengan ikan kuah kuning.
Baca Juga: Bumi Semboja Bogor, Resto Nostalgia di Rumah Nenek
Ketika Papeda Bertemu Ikan Kuah Kuning Kenari
Kunci dari menikmati papeda ada pada kuahnya. Di sinilah ikan kuah kuning kenari mengambil peran utama.
Kuahnya berwarna kuning cerah, dengan aroma rempah yang kuat. Saat papeda dicelupkan ke dalam kuah ini, semuanya berubah.
Rasa gurih langsung terasa, disusul dengan kesegaran dari bumbu-bumbu yang digunakan. Menurutku ada juga sentuhan rasa asam yang ringan, membuat rasanya semakin kompleks tapi tetap seimbang. Apalagi ditambah daun kemangi yang membuat sajian ikan kuah kuning jadi lebih beraroma.
Dan di titik itulah kami semua sepakat kalau rasanya enak! Papeda yang tadinya hambar justru menjadi sempurna ketika berpadu dengan ikan kuah kuning. Teksturnya yang kenyal menyerap kuah dengan baik dan menciptakan sensasi makan yang unik sekaligus menyenangkan. :)
Anak-anak memang awalnya sempat melihat dengan ekspresi bingung dengan cara makan dan penyajian papeda, tapi setelah mencoba, perlahan mulai terbiasa. Bahkan ada yang akhirnya nambah, lho! :D
Satu hal yang aku sadari juga kalau papeda itu ternyata sangat mengenyangkan. Aku ngerasa kalau aku nggak makan terlalu banyak papeda, tapi rasanya kenapa kenyang sekali, ya. :) Makanya papeda yang dibuat Mama Dila bisa kami bawa pulang lagi dan dilanjut makan di rumah untuk makan malam… Hehe…
Karena sudah kekenyangan makan papeda, alhasil singkong rebusnya pun jadi nggak kemakan. Di rumah singkong rebus itu aku goreng dan bisa jadi camilan keluarga… :D
Oiya, untuk ikan bakarnya karena kami makan di rumah rasanya juga mantap banget. Daging ikannya tebal dan banyak. Disajikan dengan sambal colo-colo makanya rasanya enak.
Tips Buat yang Mau Coba Papeda di RM Samasuru Ambon
Buat Manteman yang penasaran dan ingin mencoba papeda di RM Samasuru Ambon, ada beberapa tips yang bisa jadi panduan:
- Sebagai first timer, menurutku wajib, sih, pesan papeda dengan ikan kuah kuning kenari.
- Jangan ragu untuk mencoba, meskipun makanannya terlihat asing.
- Datang saat nggak terlalu ramai supaya lebih santai. Bisa datang seperti aku, sebelum jam 12 siang.
- Tanyakan juga cara makan papeda kalau masih bingung ke Mama Dila, ya. Kalau ada kesempatan bisa juga ajak Mama Dila untuk ngobrol. Sepertinya beliau memang senang sekali ngobrol dengan customer-nya… :)
Dari pengalaman makan di RM Samasuru Ambon, aku jadi sadar kalau makanan bukan hanya soal rasa. Ada cerita di baliknya. Ada budaya, tradisi, dan perjalanan panjang yang membentuknya.
Papeda mungkin terlihat sederhana, ya. Tapi dibalik kesederhanaannya, ada kekayaan budaya dari Maluku dan Papua yang diwakilinya. Ditambah lagi dengan penggunaan sagu asli dari Ambon, membuat pengalaman makan aku dan keluarga kali ini terasa semakin autentik.
Dita Indrihapsari













Dari dulu penasaran banget sama Ikan Kuah Kuning yagn selalu membersamai Papeda, pengen nyoba tapi ga ada yang jual disini, sangat terlihat delicious menggoda, paduan warna kuning merah hijau bersatu padu di dalam mangkok.
ReplyDeleteSetelah membaca tulisan ini, timbul juga berbagai pertanyaan di dalam Peci mamang...
pertanyaan pertama, Mama Dila itu siapanya Prilly Latuconsina?
Apakah ada Nona Ambon disana?
Dalam pecinya isi apa Mang? Haha.. :D Iya, marganya sama seperti Prilly, ya.. Harus coba Mang makan ikan kuah kuning, sedaaaap... :D
DeleteAku juga belum pernah makan paped..tapi btw sagu sama tapioka sama gak sie?? hehe...
ReplyDeleteKalo dirumah ibu sering bikin bubur dari tepung tapioka bentuknya jadi mirip kayak lem jadi kayak papeda ini cuma bedanya kalo bubur sudah ditambah gula jawa dan pandan jadi udah ada rasanya mirip bubur sumsum coklat cuma bahan bakunya beda hehe...
Tapi kalo nyobain papeda sama sayur ikan kuah kuning ini aku blm pernah cobain pengen juga sekali2 nanti nyobain yakkk
Beda mba, setau aku kalau tepung sagu dari batang pohon ssagu, kalau tepung tapioka dari umbi singkong. Hasil masakannya memang sama-sama lengket kayak lem ya.. :D
DeleteAku samaaaaa, penasaran Ama makanan ini. Sebenarnya udah aku save tempat makan papeda yg ga jauh dari rumahku, di Tebet sana mba. Kalau Lenteng agung jujur harus niat kesananya š¤£š¤£.
ReplyDeleteSelagi mood suamiku blm ngumpul, dia ga bakal mau nyupir ke LA š.
Tapi aku LGS ngiler ih liat kuah kuningnya, banyak kemangiii šššš.
Sebenernya, aku tuh masih ragu cobain Krn pakai kuah kuning yg lauknya ikan. Krn walaupun aku suka ikan, tapi LBH suka kalau dibakar, gulai pake santan, atau goreng. JD kalau dimasak kuah kuning, atau sop, biasanya aku ga makan.
Krn dulu pernah coba mba, amis bangettttt. Sejak itu ga mau cobain ikan yg dimasak model begitu.
Cuma kayaknya kalau papeda, mau ga mau harus pake kuah ini yaa š š .
Trus itu papedanya bisa minta sedikit aja hahahaha? . Kuatir aja kalau ga suka . Mubazir nanti. Kalau ternyata cocok baru nambah deh.
Mba Fan sama kayak aku berarti. Aku juga ragu makan ikan yang berkuah gini.. Tapi mungkin karena kuahnya berempah, berbumbu, dan wangi kemangi jadinya aman sih mba kalo aku makan yaa hehe... :D Iya papedanya banyak banget porsinya, aku sampe bungkus bawa pulang wkwkwk
DeleteAda menu cah kangkung, kalau menurut daku keknya bakalan berbeda dari cah kangkung pada umumnya. Ah penasaran buat diicip.
ReplyDeleteApalagi ada juga papeda di sana.
Secara gitu mbak, daku pun belum pernah nyobain seperti apa rasa papeda yang asli seperti itu. Pernahnya yang ala-ala, huhu
Juara bangeeeet Mba Fen cah kangkung di sini.. Enak gurih sedaaap... :D
DeleteAku belum pernah nyobain papeda. Agak gimana gitu melihat tampilan papeda.
ReplyDeleteTapi kuah ikan kuningnya itu bikin ngiler.
Emang ya, masing-masing makanan khas daerah, kayak papeda suka bawa filosofi dan kebudayaannya masing-masing daerah.
Kadang menikmati makanannya juga sekalian belajar budayanya.
Whhhaaa aku ada sodara di Srengseng Sawah...ga jauh dari Lenteng Agung kan
ReplyDeletekeknya kapan² mau aku ajakin kulineran ke sinii
Otentik bangett nih, bakal nambah experience menikmati hidangan saudara dari Timur.
Aku demen ikan kuah kuning kek gini... pastinya mau jajal pakai papeda.
klo kurang cocok, keknya bungkus aja deh...nyampe rumah bisa dimakan ama nasiiiiš¤£
Aku pertama kali makan papeda keknya di salah satu event gitu, yang menyajikan kuliner khas area Timur Indonesia. Lalu pernah makan lagi di resto Papua. Jujur sebagai pecinta nasi, emang masih belum bisa menikmati papeda, kalau dimakan icip2 tanpa apapun, tapi begitu dikasi ikan yang dimasak kuah kuning itu, wuaah baru kerasa enaknya hehe.
ReplyDeleteTernyata di Lenteng Agung ada juga ya rumah makan yang menyajikan papeda. Menu paketannya udah include papeda itu buat rame2 atau buat perorangan mbak?
Wew ada singkong rebus juga, enak tu mbak. Ada sambal cocolannya juga nggak? Hihihi sayangnya pas kekenyangan yaa.
Wah bisa ketemu owner rumah makannya ya? Btw wajahnya khas orang Timur yaa. Soalnya saudara2 mamanya suamiku tu masih orang Indonesia Timur, orang2 Ternate, face-nya tu begitu hehe :D
Kalau saya sudah biasa makan papeda, Mbak. Soalnya di Makassar ada juga yang hampir sama. Dari sagu juga dan disantap dengan kuah ikan. Hanya namanya kapurung. Kalau di Kendari ada juga Sinonggi.
ReplyDeleteKalau yang biasa, makan papeda pasti geli karena merasa kayak lem. Terus makannya bukan dikunyah, tapi langsung ditelan. Makanya saya kaget, lihat papeda yang dijual abang-abang penjual hahaha. Dan ternyata warung Mama Dila ini dekat sekali dari tempat tinggal saya. Tinggal jalan akses UI, ikuti jalan, sudah sampai Lenteng Agung. Kapan-kapan mampir nih, apalagi ada es pisang Ijo yang juga khas dari Makassar hehehe.
Duh jadi kepengen. Kangen Indonesia Timur bisa dipuaskan di Depok ya. Apalagi mereka jago bikin olahan ikan dan jiga papeda. Sensasinya luar biasa apalagi pakai kuah kuning menarinya. Akan ku datangi warung makan si Mama ini deh
ReplyDeleteSebagai pecinta papeda Saya pengen malah datang ke sini karena kangen dengan masakan ini dan tidak semua orang bisa memasak dengan baik pastinya saya juga pengen makan ikan bakarnya karena terlihat sedap dan harga masuk akal
ReplyDeleteHuhu, baca tulisan ini sambil lihat papedanya, aku langsung pengen nangis… nangis karena kangen Tidore, Dit. Tempat pertama kali aku nyobain papeda, dimasak langsung di daerah asalnya, oleh orang Maluku asli. Sensasinya beda banget. Dari cara makannya sampai rasanya yang sederhana tapi justru ngangenin. Papeda memang khas banget, teksturnya kenyal dan makin nikmat dimakan dengan kuah ikan.
ReplyDeleteMakanan di Maluku juga enak-enak, apalagi olahan lautnya. Makanya pas baca ceritamu ini, langsung kebawa suasana dan auto kangen. Jadi berasa pengen datang juga ke rumah makan ini, Dit.
Btw aku pernah juga makan papeda di Cibubur, di rumah teman yang masih keluarga Sultan Tidore. Ci Anita namanya, founder Puta Dino Kayangan. Dulu beliau punya Kafe Barakati di depan rumahnya, dan ada papeda juga. Sayangnya sekarang sudah tidak beroperasi karena beliau fokus di tenun.
Ini lokasinya di Depok ya… noted banget. Siapa tahu nanti bisa jadi “obat kangen” versi paling dekat, sebelum beneran balik lagi ke Tidore.
Ishhhh sumpah aku penasaran mbaaaakkk.. mana di deket stasiun LA ya, dekettt ini mah. Bisa lah nanti kapan-kapan aku culik anak istriku buat nyobain papeda langsung dari wong ambon, hihihi.
ReplyDeleteSoalnya jujur mbak, deket rumahku juga banyak yang jual papeda. Tapi ya gitu, bukan papeda asli. Lebih ke papeda-papedaan aja, wkwkwkw. Alias ga jelas rasanya cem gimana, modal nambahin pedes doang, heuheuheu.
Itu papeda dikasih guyuran kuah kuning kok kayaknya manteppp ya.
Btw itu ibunya satu marga ama prily berarti ya mbak?
Penduduk bali senangnya beternak
Ternak dan tambak, milik perempuan
Papeda asli tentulah lebih enak
Bukan yang di gerobak, dua rebuan
Keren sekali mbak, sudah kesana. Aku sama Efa sempat ngobrolin ini tempat dan kami lagi pengen atur waktu kapan bisa makan papeda di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina Lenteng Agung Jakarta. Ternyataaa, kau sudah kesana duluan yak, ciamik sekali.
ReplyDeleteBahkan ketemu pula sama Mama Dila, jempolan banget. Jam bukanya lumayan siang dan lokasinya wah strategis sekali.
Aku pernah makan papeda itu pas ada event di TIM dan mereka ada buka booth jualan papeda. Lihat kuah kuningnya, aduh ikannya pun yaampun ngeces ini saking terlihat nikmat sekali.
Tipsnya sangat bisa diaplikasikan banget. Ayolah kapan next kulineran bareng gitu hehehe.
Bener tuh kak. Papeda tuh kalo dimakan sendiri, rasanya hambar bgt. Kyk aneh kalo baru pertama kali makan. Ya kayak makan lem, tapi tdk beraroma lem yak.
ReplyDeleteTp kalo udh dikasih kuah ikan kuning dan tambahan lainnya, rasanya lgsg beda. Papeda yg hambar bs lgsg beraroma segar. Berasa lgsg masuk kerongkongan tanpa dikunyah.
Jadi ingat Prilly nih kalo lihat Latuconsina. Hehe. Ini emg marga gt yak khas Ambon. Apa mama Dila ini saudaranya Prilly? Hehe.
Aku juga belum pernah makan papeda. Hanya sering lihat videonya. Unik gitu ya. Aku sih nggak tahu bakal suka atau enggak, tapi selama nggak pedas, kayanya enak-enak aja ya. Apalagi masakan ikan kuah kuningnya menggoda sekali. Suatu hari nanti aku cobain deh.
ReplyDeletewah si kaka langsung di kabulin nih makan papeda. aku juga belum pernah ka , cuma liat di acara televisi aja sih .
ReplyDeletenah itu reviewnya sama kaya teh dita , papeda itu hambar jadi bagusnya memang ditemanni lauk lain ,salah satunya ikan kuah kuning
jadi pas dimakan mix rasanya ,
Jujur pengalaman pertamaku kenalan sama Papeda itu kurang bagus, hiks. Saat itu aku beli diabang-abang keliling dan kurang enak, jadi sampai sekarang aku nggak berani lagi nyobain.
ReplyDeleteIni yang kemaren anak-anak (Lala) pada ngajakin ke sana bukan sih Mbak? Eh, aku yang diajak sih, he. Kayaknya iya, di Lenteng Agung soalnya. Ngelihat gambarnya, jadi pengen nyobain segera ini, mana dekat pula.
Noted nih, harus nyobain yang paket 150 papeda sama ikan kuah kuning Kenari, hmm....Segera gendakan, hehehe
Aku kalau lihat orang makan papeda itu selalu penasaran kenyang nggak sih kan ini tepung. Tapi kalau dipikir kan sagu itu karbo juga dan makannya juga pakai lauk jadi pasti kenyang yaa
ReplyDeleteAku kalau lihat orang makan papeda itu selalu penasaran kenyang nggak sih kan ini tepung. Tapi kalau dipikir kan sagu itu karbo juga dan makannya juga pakai lauk jadi pasti kenyang yaa
ReplyDeleteLoiyaa.. aku tadinya mau nanya.. "Affaa kenyang??"
ReplyDeleteTernyata mantappp yaa.. dan pantes kalau sagu jadi makanan pokok di daerah Ambon dan sekitarnya.
Ngliat sajiannya mashaAllah.. aku ngileerr jugaa jadinyaa.. meski hanya terbayang rasanya dari penjelasan ka Dita niih..
Salah satu hal yang saya suka adalah emncicipi kuliner dari daerah-daerah di Indonesia. APalgi saat ii untuk icip kuliner daerah lain ga harus datang ke kotanya karena di kota yang kita tinggali ada kuliner tersebut, tapi kalau papeda di sidoarjo sepertinya belum ada, adanya papeda jajanan kiddos di tukang jualan keliling.
ReplyDeleteSaya tahunya waktu tante mudik ke makasar cerita tentang papeda ini dan bagaimana cara makannya, unik ya, tapi bagi yang baru sepertinya saya juga harus tanya sama pemilik resto seperti mama Dila atau seseorang yang mengajak makan di sana
salah satu yang membanggakan di Indonesia ini aneka ragam kulinernya
Saya jadi auto searching tentang papeda nih mbaak setelah membaca artikel mbak Dita tentang papeda ini. Papeda bisa jadi pengganti nasi dimakan bersama sayuran dan ikan seperti makan berat pada umumnya. Yummmy,,,,enak banget,,,Indonesia memang kaya dengan kuliner nusantaranya.
ReplyDelete