
Pernah, nggak, sih, Manteman lagi jalan-jalan bareng keluarga ke suatu tempat wisata dan di tempat wisata tersebut ada fotografer keliling yang menawarkan jasanya?
Aku pikir kehadiran handphone dengan dibekali fitur kamera yang semakin canggih akan membuat keberadaan jasa fotografer keliling di tempat wisata bakalan punah kayak punahnya dinosaurus.
Namun pemikiranku salah! Bahkan, sampai aku menulis tulisan blog ini, beberapa kali aku ke pergi ke tempat wisata bersama keluarga, aku masih mendapati kehadiran para fotografer keliling ini.
Pertanyaannya, bagaimana bisa mereka masih bertahan?
Aku coba ulik beberapa fenomena dari dulu saat masih jaya-jayanya keberadaan jasa fotografer keliling sampai saat ini, ya… Kalau Manteman punya pendapat juga tentang fenomena ini bisa share juga pendapat Manteman di kolom komentar… :D
Dulu Ramai, Sekarang Sepi
Ada masanya kalau dulu kita berkunjung ke pantai, kebun binatang, taman rekreasi, adaaaa aja fotografer keliling yang sigap berdiri dengan kamera menggantung di leher. Mereka segera menawarkan jasa fotonya ke pengunjung yang baru datang.
Sistemnya juga simpel banget. Pengunjung oke, fotografer mengarahkan gaya, difoto, tunggu beberapa saat untuk hasil cetakan fotonya.
Ada juga sistem di mana fotografer secara random memfoto pengunjung lalu mencetak hasilnya, kemudian hasil cetakan tersebut dijual di pintu keluar tempat wisata. Kalau pengunjung itu mau, bayar, hasil cetakan bisa dibawa pulang. Kalau nggak mau ditebus, ya, sudah, rugi juga fotografernya.
Biasanya hasil cetakan juga khas banget. Ada template-nya gitu. Bahkan bisa sampai ada tanggal foto tersebut dibuat.
Dulu, sih, foto-foto seperti itu sering jadi oleh-oleh dan kenang-kenangan, ya. Foto bisa diselipkan di dompet, dipajang di dinding rumah atau dimasukkan ke album keluarga. Rasanya ada kepuasan tersendiri membawa pulang sesuatu yang fisik dari liburan keluarga.
Namun waktu berubah. Cetak foto mulai jarang diminati, album foto tergantikan galeri digital, dan kenangan lebih sering disimpan di cloud, hardisk atau media sosial. Apalagi sekarang semua orang rasanya sudah memiliki handphone yang bisa digunakan untuk memfoto.
Keberadaan fotografer keliling yang dulu ramai, kini mulai sepi. Dari referensi yang aku baca di satu tempat wisata di Jakarta, dulunya sampai ada ratusan fotografer keliling, saat ini hanya tersisa enam saja!
Baca Juga: Tempat Wisata Edukatif Anak di Yogyakarta
Teknologi HP dan Perubahan Pola Wisatawan
Perubahan paling terasa yang menyebabkan makin sepinya jasa fotografer keliling tentu datang dari teknologi handphone.
Sekarang berasa nggak, sih, kalau kamera HP, tuh, bukan lagi sekadar pelengkap di dalam HP. Selain alat komunikasi, HP juga jadi alat dokumentasi… :D
Makin banyak kamera HP dengan resolusi tinggi, punya fitur stabilisasi, bahkan ada portrait mode dengan efek blur, sampai bantuan AI yang bisa mempercantik hasil foto dalam sekali sentuh. Canggih banget, kan!
Wisatawan yang datang ke tempat wisata pun jadi semakin percaya diri memotret sendiri. Selfie berdua, selfie rame-rame atau bergantian foto dengan anggota keluarga.
Kalau ingin semua masuk frame dengan pose yang oke, modal tripod kecil juga bisa. Nggak jarang, juga, bisa minta tolong pengunjung lain untuk memencet tombol kamera. Hal ini sekarang sangat lumrah terjadi, kan.
Nah, mindset pun sekarang juga ikut berubah. Foto liburan nggak lagi harus sempurna atau dicetak rapi. Yang penting ada, cepat, gratis, dan bisa langsung diunggah ke social media. Di titik inilah jasa fotografer keliling mulai tersisih.
Baca Juga: Tempat Wisata di Bromo
Strategi Bertahan Fotografer Keliling Zaman Sekarang
Meski begitu, fotografer keliling bukan sepenuhnya menyerah. Ada juga, kok, beberapa dari mereka ikut beradaptasi dengan zaman.
Mereka nggak lagi mengandalkan cetak foto sebagai satu-satunya produk, tapi menawarkan file digital yang bisa langsung dikirim ke HP pengunjung. File foto bisa dikirim lewat WhatsApp, Bluetooth atau AirDrop, tanpa perlu menunggu waktu lama. Ada yang masih tetap memakai kamera, tapi nggak sedikit juga yang memakai HP sebagai senjata utamanya untuk mencari rezeki.
Harganya pun menyesuaikan dan lebih ramah kantong. Dari beberapa kali aku ke tempat wisata dan lihat video di social media, range harganya sekitar Rp5.000,- sampai Rp10.000,- per foto.
Beberapa fotografer juga berubah cara pendekatannya. Lebih fleksibel, nggak maksa, dan lebih komunikatif.
Mereka juga menyesuaikan gaya pengambilan gambar dengan keinginan pengunjung. Bisa foto santai atau pose alami saja. Tapi mereka juga bisa jadi pengarah gaya seperti layaknya fotografer profesional. :)
Akhirnya memang harus beradaptasi, ya, supaya pekerjaan tetap berjalan. Satu hal penting: mereka sedang berusaha bertahan, bukan menyerah.
Baca Juga: Wisata Keluarga ke Gunung Tangkuban Perahu
Pakai Jasa Fotografer Keliling Saat di Puncak
Memakai jasa fotografer keliling ini pernah dialami suamiku saat mengajak anak-anak sunmori ke Puncak.
Ceritanya, suami sempat mengajakku terlebih dahulu ke Puncak, tepatnya ke Telaga Saat dengan naik motor. Perjalanan ke Telaga Saat yang melewati perkebunan teh Ciliwung Tea Estate ternyata sangat membekas. Memang bagus banget view perkebunan teh di sana.
Nah, beberapa minggu kemudian giliran anak-anak yang diajak ke sana sana ayahnya. Memang nggak ke Telaga Saatnya tapi hanya ke perkebunan tehnya saja. Di perkebunan teh itulah mereka bertemu dengan fotografer keliling yang menjajakan jasanya.
Akhirnya suami pun memakai jasanya dengan memperoleh 5 atau 6 file foto. Satu file foto harganya Rp5.000,- saja.
Saat dikirim foto-foto mereka di grup Whatsapp keluarga, aku pun langsung tahu kalau mereka pasti pakai jasa fotografer keliling. Hehehe… Hasilnya baguuus dan pastinya momen mereka sunmori bertiga nggak luput dari jepretan kamera… :)
Baca Juga: Serunya Trekking di Sentul!
Penyesalan Kecil di Gunung Kidul, Yogyakarta
Sebaliknya, ada juga pengalaman yang meninggalkan sedikit penyesalan. Saat liburan ke Gunung Kidul, Yogyakarta, aku sempat ditawari jasa fotografer keliling di sekitar Pantai Indrayanti.
Namun saat itu aku dan keluarga memilih nggak menggunakan jasanya. Merasa cukup dengan foto seadanya dari HP sendiri.
Barulah setelah pulang, penyesalan kecil itu muncul. Foto-foto yang ada terasa kurang. Nggak ada foto kami sekeluarga lengkap dengan pose yang oke… Padahal momennya dan tempatnya indah, suasananya hangat, dan kemungkinan besar nggak akan terulang persis sama, kan. Hikssss…
Dari situ aku pun jadi belajar satu hal sederhana. Ada momen yang nggak bisa diulang, dan nggak semua momen bisa diwakili oleh foto seadanya.
Makanya kalau suatu saat aku ada kesempatan lagi buat ke sana bareng keluarga, rasanya mau banget difotoin sama fotografer keliling itu. Harganya pun masih terjangkau, Rp5.000,-/foto.
Baca Juga: Fun Trekking di Mulyaharja Bogor
Bukan Sekadar Foto, Tapi Soal Berbagi Rezeki
Di luar soal hasil foto, sebenarnya memakai jasa fotografer keliling juga bisa jadi salah satu cara kita untuk berbagi rezeki ke sesama. Kalau kita sedang liburan, punya anggaran lebih, dan ada orang yang menawarkan jasa dengan cara baik, kenapa nggak?
Liburan keluarga bagi kita mungkin soal melepas penat. Tapi bagi orang lain, itu adalah sumber penghasilan. Fotografer keliling adalah bagian dari ekosistem wisata, sama seperti pedagang makanan, tukang parkir atau penjual souvenir.
Tentu dengan satu catatan penting, ya, selama nggak memaksa, nggak mengganggu, dan tetap menghargai pilihan wisatawan.
Oiya, tentang konsep berbagi rezeki ini juga pernah aku alami saat menghadiri acara kelulusan SD anakku. Di depan gedung acara kalau nggak salah aku melihat dua orang fotografer keliling.
Nah, saat aku dan anakku datang, kami dipotret begitu saja. kemudian saat kami pulang, barulah kami ditawari foto-foto hasil jepretan fotografer keliling tadi. Hasilnya sudah berupa hasil cetak foto, ya.
Akhirnya aku pun mengambil foto-foto tersebut dan membayar dengan harga yang aku tawar… :D Menurutku foto ini bisa jadi kenang-kenangan. Kalau nggak dibeli juga akan diapakan oleh fotografernya? Apakah akan dibuang begitu saja, kan? Pikirku daripada sayang, ya, alhasil aku beli juga…
Sebenarnya aku kurang suka kalau difoto-foto begitu saja atau istilahnya difoto candid. Kan, jadi nggak bisa gaya, ya. :D Mana tahu nanti aku juga merem atau muka lagi ketekuk. Hehehe…
Namun pada akhirnya, foto bukan hanya soal resolusi tinggi atau kamera tercanggih. Foto adalah tentang momen, kebersamaan, dan cerita di baliknya.
Sesekali, mempercayakan kamera pada fotografer keliling bisa menjadi pilihan. Kita mungkin mendapatkan satu foto keluarga yang lebih utuh. Dan di saat yang sama, mereka pun mendapat rezeki halal untuk kehidupannya.
Dita Indrihapsari

.jpeg)
Bener mbaaa anggep saja kita berbagi rejeki yaa.sekalian kita juga bisa foto komplit..meskipun kadang kita juga bisa menggunakan tripod tapi rasanya juga masalah ya jika kita berbagi 20rb kepada fotografer keliling toh akhirnya kita juga bisa mendapatkan hasil yang lebih bagus
ReplyDeleteTopik yang menarik dan dekat dengan pengalaman banyak orang. Kadang kita tidak sadar bahwa di balik foto-foto wisata itu ada cerita orang lain yang bekerja di sana. Tulisan ini membuka sudut pandang yang lebih dalam.
ReplyDeleteLewat tulisan ini kayaknya aku gabakal sungkan lagi pake jasa fotografer keliling, sebelumnya khawatir banget kalo tiba² digetok harga
ReplyDeleteSaya juga pengalaman menggunakan jasa fotografer keliling saat berkunjung ke Pura Ulun Danu Bedugul. Kasian juga sama mereka, meskipun bawa hp buat foto-foto sendiri. Gak ada salahnya menggunakan jasa mereka semasih harganya logis dan resmi.
ReplyDeleteSetuju dengan konsep menggunakan jasa fotographer keliling sebagai pengikat momen istimewa di tempat wisata sekaligus berbagi rezeki. Tapi, untuk fotografer keliling jangan moto random kemudian dicetak dan baru nawarin ke pengunjung, itu kurang pas, mending akadnya jelas dari awal, 1 file foto dihargai berapa, kemudian tinggal pilih mau ambil berapa file hasil jepretan fotonya. Teman perjalan ke objek wisata pernah ngabisin uang 100 rb-an utk mengambil file foto hasil jepretan fotografe keliling ini, saking bagus-bagusnya hasil jepretannya dan bigung milih foto yg mana, akhirnya dibayarin semua, haha.
ReplyDeleteBaca cerita ini aku jadi keinget saat explore Candi Gedong Songo Semarang Mbak. Saat itu ada beberapa Bapak-bapak menawarkan jasa foto, masih pake camera dan file di kirim, tetapi aku dan teman tidak pakai jasanya karena khawatir mahal, nggak berani tanya berapaan. Agak menyesal juga sih, padahal tanya dulu aja ya.
ReplyDeleteNah, pas di Jogja, malah sengaja foto sampe dua kali pake baju adat pula. Emang sih bener, bukan sekadar foto dan abadikan momen, tetapi salah satu cara berbagi rezeki di tempat wisata secara di era sekarang, tantangannya gede banget buat para fotografer keliling di tempat wisata.
Makasih ya, sudah ngingetin, ini salah satu terpenting, berbagi dengan para pelaku ekonomi kreatif agar tetap survive.
Waktu itu, aku ajak anak ke Ancol dan kaget masih ada fotografer yang suka ambil foto candid. Lalu, minta dibeli.
ReplyDeleteAku kira sudah tidak ada, karena sekarang kamera HP udah oada canggih dan semua orang tahu.
Saat itu, aku gak ambil fotonya karena mahal dan gak ada yang bagus.
Biasanya kalau bagus aku beli.
Iya juga ya.. Kadang di tempat wisata kan kita mau menikmati keindahan alamnya atau menikmati wisatanya. Kadang suka males foto atau lupa. Kalau pakai jasa foto keliling ide bagus juga ya. Jadi ada foto2 candid yang seru dan memorable. Cuma mahal ga sih, bu?
ReplyDeleteSaya suka konsepnya, Kak. Boleh jadi menggunakan suatu jasa yang sudah langka di masa internet ini, seperti jasa fotografer keliling di tempat wisata, adalah cara kita berbagi rezeki dengan sesama. Dan itu sangat nice sekali.
ReplyDeleteToh, juga kalau memang kita nggak memiliki skill fotografi meski kamera hape secanggih apapun, selalu ada hasil jepretan yang kurang. Beda jika diarahkan oleh fotografer profesional yang berpengalaman.
Dulu inget banget pake polaroid jasa foto kelilingnya hehehe. Kalau sekarang kayaknya harus pintar mengarahkan gaya juga. Portfolionya bisa dipajang di medsos. Nah, yang hasil fotonya bagus dan estetik bisa jadi nilai jual jasa foto keliling zaman sekarang
ReplyDeleteNah iyaa.. pas momen wisuda anak-anak tuu.. suka candid gituu kaan..
ReplyDeletedan uniknya, fotoku terlihat banyak hanya bermodalkan crop.
Jadi 1 angle sama anakku, 1 angle lagi aku sendiri karena di crop dari foto sebelumnya.
Huhuhu.. but, its okaayy.. yaah.. mau ga oke, gimana yaakk???
Hehhehe.. tapi bener... bukan karena skill memotretnya atau resolusinya, tapi momen itu bisa terkenang sampai lamaaa.. dan mengendapkan kebahagiaan di hati.
Selama berwisata di Lombok, saya malah blas gak pernah nemu jasa foto keliling nih mbak. Kalaupun gak bisa foto sendiri atau pake tripod, biasanya ada yang nawarin bantu foto, itu juga bukan jasa foto yaa, paling yang punya warung/pedagang sekitar sana.
ReplyDeleteJasa fotografer keliling tuh berguna banget buat foto keluarga lengkap. Lagi pula biasanya masih dibutuhkan beberapa orang, terutama orang-orang tua yang lebih suka punya foto fisik saat mengunjungi area tertentu.
ReplyDelete