Friday, December 11, 2015

Belajar Ikhlas dari Pak Mungal

Hari gini, mau enggak kita kerja tanpa mendapat bayaran sepeser pun? Kalau saya sudah pasti jawabannya “enggak mauuuuu…” Nanti saya jajan kue cubit bayar pake apaaaa? Beli baju sama bayar arisan komplek gimanaaa? Beli mainan Boo sama Mika pake daun aja apaaa? Hehehe… : )


Saat di Keraton Kasepuhan Cirebon, saya bertemu dengan Pak Mungal. Wajahnya sudah menampakan guratan-guratan keriput, rambutnya pun sudah memutih. Ia memakai setelan beskap putih dengan sarung bermotif mega mendung hijau dan blangkon bermotif serupa. Pak Mungal merupakan tour guide di Keraton Kasepuhan. 




Pak Mungal fasih sekali menceritakan sejarah tempat yang kami kunjungi, ia pun sangat lincah ke sana ke sini. Ada satu yang menarik dari Pak Mungal, ia suka sekali memfoto : ) Dan Pak Mungal senang memfoto kami memakai Iphone diantara kamera handphone-handphone lainnya. “Pakai yang ada gambar apel-nya, ya. Bagus itu!,” katanya. Hihihi, Paaaakkk tahu aja , nih, bapak, handphone yang mahal… : )

Pak Mungal saya rasa berbakat jadi fotografer profesional. Iya, dia sepertinya hobi sekali memfoto dan handal mengarahkan kami bergaya. Saat melihat foto bidikannya pun, hasilnya cukup bagus. : )

Pak Mungal sudah menjadi tour guide selama puluhan tahun. Dan selama itu pula ia ikhlas bekerja tanpa mendapat bayaran. “Seperti abdi dalem keraton, kerja ikhlas saja gak dibayar,” ujarnya. Pak Mungal tentu mengharapkan tip dari pengunjung yang mendengarkan ceritanya untuk kelangsungan hidupnya.

Ya, setahu saya abdi dalem keraton di Solo atau Jogja pun meski menerima gaji tapi gajinya keciiiil sekali. Saya pernah membaca pengalaman abdi dalem yeng mendapat upah hanya Rp 10.000 saja tiap bulannya. Bahkan bayaran mereka suka telat hingga berbulan-bulan lamanya. Apa mereka mengeluh? Ternyata tidak sama sekali. Mereka senang bisa mengabdi pada keraton, bekerja di sana merupakan suatu kehormatan. Tak digaji pun tak apa-apa.  Mereka bekerja karena loyalitas yang tinggi dan rasa ikhlas yang luar biasa. Bisakah kita seperti itu?

Dari Pak Mungal saya belajar arti keikhlasan. Terima kasih, ya, Pak, di zaman yang serba materialistis ini, masih ada Bapak sebagai pengingat bahwa materi bukan segalanya.


(Tiba-tiba tulisan saya jadi bijak sekali kali ini, ya… : ) Belajar apapun, bisa di mana pun dan dari siapa pun… : ))


-Bubu Dit-



No comments:

Post a Comment