Senin, 17 April 2017

Akhiri Masa Menyusui dengan #SapihTrip, Yay or Nay?



Berawal dari membaca sebuah feature di Majalah Ayahbunda, saya dan Yaya Indro pun mempunyai ide untuk melakukan hal yang sama yang dibahas pada feature tersebut. Temanya menarik sekali, yaitu tentang #SapihTrip. Cara ini menjadi salah satu tips yang bisa digunakan para ibu yang ingin menyapih anaknya. Saya pun demikian. Sebentar lagi Mika akan berusia dua tahun, sudah waktunya untuk disapih. Bagaimana sebenarnya #SapihTrip ini? Apa yang harus dipersiapkan jika ingin melakukannya?




Dari feature yang saya baca itu, #SapihTrip merupakan salah satu cara untuk mengakhiri masa menyusui bayi dengan si ibu melakukan trip atau perjalanan selama beberapa hari tanpa anaknya ikut serta. Cara ini dilakukan oleh dua editor Ayahbunda, yaitu Mba Imesh dan Mba Prita. Menurut cerita Mba Imesh, ia butuh waktu lima bulan untuk menyapih buah hatinya, Dinta. Namun saat malam Dinta masih suka mencari payudaranya dan Mba Imesh pun tanpa sadar menyusuinya kembali. Suami Mba Imesh ternyata gemas melihat hal itu. Akhirnya, ia pun mengusulkan agar Mba Imesh jalan-jalan ke Korea Selatan selama 10 hari. Kebetulan Mba Imesh  mempunyai teman yang tinggal di kota Geoje. Selama 10 hari itu Mba Imesh dan temannya, Mba Fina, melakukan road trip ke beberapa kota di sekitar Geoje. Pengalaman paling berkesan baginya adalah saat bermain ski di Gunung Deogyusan dan bermalam di kota tua Jeonju.

Jika Mba Imesh ke Korsel, maka Mba Prita melakukan #SapihTrip dengan berkunjung ke Hongkong selama lima hari bersama seorang temannya. Meski meninggalkan anaknya, namun Mba Prita tetap menjalin komunikasi lewat FaceTime dan tentu saja membelikan anaknya oleh-oleh. :) Pengalamannya di Hongkong yang berkesan baginya adalah saat makan di restoran Sky 100 di salah satu gedung tertinggi di Hongkong. Mba Prita pun merasa saat #SapihTrip ini ia bisa tidur malam dengan sangat pulas sejak mempunyai dua anak.

Dua cerita tadi tentu saja menginspirasi saya untuk melakukan hal yang sama. Satu setengah bulan lagi Mika berusia dua tahun. Waktunya sudah tiba untuk tidak menyusui lagi. Sejak beberapa bulan lalu saya sudah mulai mengajaknya bicara bahwa nanti jika usianya sudah dua tahun ia tidak lagi menyusu. Mika memang belum fasih bicara, namun sepertinya ia mengerti apa yang saya bilang. Setiap saya mengatakannya, Mika pun langsung rewel, "aaaaahhhhh...." :) Mungkin dia masih enggak rela harus melepas masa menyusui sama bubunya. Dan mungkin saya juga masih belum rela. :) Karena itulah hingga kini, saya masih tetap menyusuinya selepas pulang kerja, pun pada saat malam Mika masih terbangun beberapa kali untuk minta ASI.

Sebenarnya saya pernah enggak menemaninya tidur malam. Mika dan kakaknya, Boo, pernah menginap di rumah eyangnya tanpa saya. Saat malam terbangun dan saya enggak ada, Mika mau minum dari gelas. Saya juga sempat tiga malam berturut-turut tidak menemaninya tidur malam karena harus menjaga  Boo yang waktu itu dirawat di RS karena typus. Saat ditinggal, Mika pun tidak rewel. Malam masih terbangun tapi kemudian setelah minum air putih ia tidur pulas kembali. Namun begitu ada bubunya, rutinitas pada malam hari pun kembali seperti biasa lagi.

#SapihTrip bisa banget dilakukan untuk mengakhiri masa menyusui. Namun mungkin enggak setiap ibu akan cocok dengan metode ini. Penting tidaknya #SapihTrip pun tentu saja sangat relatif dan tidak bisa disamakan pada setiap ibu. Mungkin ada yang merasa penting untuk mendukung proses penyapihan. Dan pasti ada juga yang mikir buat apaan, sih, #SapihTrip. Dan sebenarnya enggak ada jaminan juga setelah melakukan #SapihTrip ini anak akan langsung enggak minta ASI lagi. Hehehe.. Bisa jadi penyapihan berhasil, bisa juga enggak. Karena tiap anak beda, kan... :)

Namun menurut saya #SapihTrip bukan sekedar proses penyapihan belaka. Dibalik itu tentu ada manfaat lain melakukan trip ini untuk para ibu. #SapihTrip bisa jadi alternatif me time yang sesungguhnya untuk ibu. inilah saatnya ibu meluangkan waktu sejenak untuk dirinya. Melakukan aktivitas yang disuka di tempat tujuan, merasakan kuliner khas daerah yang dituju, dan sebagainya. Bagi ibu yang senang bertualang dan traveling tentu metode #SapihTrip ini cocok banget. #SapihTrip juga bisa jadi cara untukewukudkan breastfeeding goal, yaitu weaning with love, menyapih dengan cinta. Penyapihan tanpa paksaan, tanpa harus memberi pahitan di payudara.

Jika ingin #SapihTrip tentu aja ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipersiapkan sebelum melakukannya. Apa saja?

KERELAAN IBU
Yes, ini mah hal utama yang harus dimiliki si ibu kalau benar-benar mau melakukan #SapihTrip. Rela enggak pisah sama anak dalam jangka waktu tertentu dan mungkin lebih lama dari sebelumnya? Kalau enggak rela dan enggak tega ya enggak bisa dilakukan. Bisa-bisa dalam #SapihTrip nanti malah kepikiran terus ke anak dan akhirnya jadi sedih. Padahal seperti yang saya tulis sebelumnya, #SapihTrip ini bisa juga jadi ajang me time buat ibu. Ibu bisa setidaknya bernapas dari hiruk pikuk urusan domestik di rumah atau pun di kantor, bisa meluangkan waktu untuk diri sendiri.

Relakah saya meninggalkan Mika untuk #SapihTrip dan bersenang-senang seorang diri? Weits, kayaknya kok gimana gitu ya bersenang-senang seorang diri... Hehe... Ya, memang dalam #SapihTrip kita akan menyenangkan diri dengan jalan-jalan tapi bukan berarti kita akan melupakan anak begitu saja, toh. Lihat cerita Mba Prita di atas, dia pun tetap melakukan komunikasi dengan anaknya selama #SapihTrip. Yah, mau bagaimanapun anak akan terus bersemayam di hati meski kita berada jauh darinya.





SUPPORT SUAMI DAN KELUARGA
Penting juga dukungan dari suami dan keluarga saat punya keinginan untuk melakukan #SapihTrip. Hal ini enggak bisa dilakukan kalau suami dan keluarga enggak mengizinkan, kan. Iya, mereka juga harus rela kalau segala hal yang diurus ibu di rumah mau enggak mau harus mereka handle sementara. Perlu juga diomongin siapa yang akan bertanggung jawab sepenuhnya kalau ibu enggak ada di rumah, apalagi saat malam saat anak terbangun dan minta ASI. Apakah suami bisa diandalkan untuk melakukannya? Kalau tidak, adakah yang bisa diserahi tanggung jawab itu?

Saya termasuk beruntung karena ada support system yang bisa diandalkan dalam menjaga anak-anak. Selain suami, ada keluarga. Eyang kakung, Eyang putri,  dan tante-tantenya senang banget kalau mereka berdua tiap weekend main di rumah. Saya pun juga punya mbak pengasuh yang tiap hari kerja menjaga Boo dan Mika meski tidak menginap dan hanya pulang hari. Jadi, jika saya melakukan #SapihTrip rasanya akan tenang karena ada dukungan yang bisa saya andalkan dalam menjaga Boo dan Mika. Nah, #SapihTrip ini tentu akan lebih sulit dilakukan ibu yang tidak memiliki backup seperti saya, seperti tidak ada keluarga yang tinggal di dekat rumah.

Yaya Indro pun pernah ngomong ke saya, "udah nanti kamu jalan-jalan aja, gih, ke mana gitu biar Mika bisa disapih." Hihi... Jadi, selain sudah ada support system, saya juga sudah mengantongi izin dari pak suami. Horeeee... :D





JANGAN MENDADAK
Meski Mika anak kedua, tapi saya enggak punya pengalaman menyapih sama sekali. Saya ingat betul waktu itu Boo bisa menyapih dengan sendirinya saat umurnya 1,5 tahun pas saya lagi hamil Mika. Entah kenapa tiba-tiba aja enggak mau menyusu lagi. Ditawari juga geleng-geleng enggak mau. :D Makanya sekarang ini pengalaman pertama buat menyapih anak dan saya jadinya baca berbagai artikel bagaimana cara melakukannya.

Dari artikel-artikel yang saya baca itu, semuanya satu suara. Penyapihan enggak bisa dilakukan instan, enggak bisa dilakukan mendadak. Memang perlu waktu dan proses. Nah, jika ingin #SapihTrip rasanya juga enggak bisa ujug-ujug langsung traveling gitu aja, ya. Seenggaknya beberapa waktu sebelumnya anak harus dikasih pengertian dulu kalau dirinya nanti enggak akan menyusu lagi karena sudah waktunya untuk disapih. Sounding ini kayaknya memang mesti terus-terusan, ya. Saya juga sudah mulai mengalihkan perhatian Mika jika ia ingin menyusu. Lebih enak jika frekuensi menyusu sudah berkurang saat akan melakukan #SapihTrip. Selain enggak terlalu berdampak buat anak juga agar ibu enggak merasakan bengkak di payudara yang berlebihan. Kalau #SapihTrip dilakukan mendadak rasanya hal itu kemungkinan besar akan terjadi.


Cieee... yang sebentar lagi 2 tahun.. ^o^ 

Menyapih itu tantangan banget, ya. Saya juga enggak tahu kapan Mika akan berhasil disapih. Dan  kalau saya melakukan #SapihTrip apakah hal itu juga akan sukses atau tidak belum ada jawabannya. :D Jadi, #SapihTrip itu yay apa nay, nih. Kalau saya tentu aja yay... :D Adakah yang terpikir untuk #SapihTrip juga? Kalau iya, mau ke mana, maaaak? Trip bareng apa kita? Hehehe... :D


-Bubu Dita-




34 komentar:

  1. kayaknya bisa jadi alternatif cara menyapih inces gia deh. tpi harus setengah tega ya ninggalin si kecil buat trip.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi bener mba, mesti tega dan rela, sih, yaa..

      Hapus
  2. Baru kemarin akau juga nulis mengenai menyapih.
    Untungnya aku nggak pakai acara sapih menyapih mak :D

    Salam,
    Sarah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo mba Sarah, waah iya enak mba kalo gak perlu sapih menyapih. Suka bingung masih belum rela soalnya nih.. hehe

      Hapus
  3. Seandainya aku mah menyusui, bakal yay bgt ama sapihtrip ini :D. Dengan senang hati bakal aku jalanin hihihi... Tp krn memang ga menyusui anak, jd yaa ga prnh ngerasain masa2 menyapih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toosss Mba Fannyyy.. Aku tau pasti dirimu mah Yay kayak aku hehehe.. :D

      Hapus
  4. Wah..Menarik nih baru tahu..coba dulu udah tahu ya pas si kakak kecil..tapi mau ku coba nih si kecil juga mau di sapih...cek dompet dan colek paksuami dulu..hihii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuulll, yang penting juga budget sama pak suami ya Mba Nuu.. Hihihi :D

      Hapus
  5. Dilema ya harus nyapih, anakku yg pertama itu dulu rewel semaleman waktu ga dikasih asi, selanjutnya oke2 aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku belum pengalaman mba Tetty.. Jadi masih bingung juga, nih.. :)

      Hapus
  6. Kayaknya.. Aku susah deh kalo mau sapihtrip. Izin dari pak suami belum tentu keluar haha :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya, itu yang paling penting mba.. :)

      Hapus
  7. good info ini buat annasya nanti kalo mau disapih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siippp... Semoga lancar ya prosesnya :)

      Hapus
  8. Dua anak sebelumnya disapih gak terlalu sulit, entah ini si bungsu gimana ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiap anak soalnya suka beda sih ya mba.. Hehe.. Semoga lancar2 yaa.. :D

      Hapus
  9. Pertanyaan gw, selama ibunya pergi perlakuan orang sekitar terhadap ke anak gimana? terus-terusan dikasih tau untuk gak nenen atau gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, mungkin terus di sounding kali ya Fi, jadi pas emaknya pulang udah gak minta nenen lagi.. :D

      Hapus
  10. lha kalau anaknya bukan ngASI tapi ngempeng kayaknya malah lebih susah lagi ya. Apapun caranya yg terpenting adalah keikhlasan ibunya ya memang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betuuul mba, apapun itu yang penting ibunya rela, yaa..

      Hapus
  11. Seru sekali! Intinya ibua & anaknya harus rela ya mbak. Hidup busui

    BalasHapus
  12. wuahh.. istilahnya sapihtrip tohhh.. saya jg kemarin nyapih nya ditinggal keluar kota, kebetulan adik ipar nikah jadi momentnya pas.

    sempet galau and feeling guilty waktu ninggalin, soalnya ga jamin juga bakalan berhasil nyapih kan ya.. tapi bismillah deh, alhamdulillahnya berhasil ga nenen lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaa asiknya udah berhasil, ya.. Aku juga baru tau istilah ini pas baca di majalah Ayahbunda mba.. :)

      Hapus
  13. ooh sapih trip, pengalaman anak pertama, agak rewel dan sulit sekali untuk minum susu alami ibu nya

    semoga dengan membaca tulisan ini, tuk anak kedua, bisa sukses dan kudu wajib bisa sapih trip

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangaaat ya.. Semoga lancar2 semuanya.. :)

      Hapus
  14. Duh .. Yay or Nay ya.. Aku belom pengalaman hahaha, tapi kayaknya seru sih #SapihTrip ini..
    Hmm.. Aku menyimak dulu aja ya Mba Dita :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha siiaappp Nesaaa.. Kamu sekarang trip hore2 yaa.. :D

      Hapus
  15. Aku baru tau sapihtrip ini hahaha tapi kayaknya sih bisa dijadiin alternatif supaya anak bisa dgn mudah nyapih ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes, mba Put.. Aku pun baru tahu istilah ini.. Hehe..

      Hapus
  16. i was thinking about this too, mba. Cuma kok ya kasihan suami ngurus Sid sendiri selama aku pergi. Kakek nenek kan jauh. Sekarang ini masih latihan Sid ikutan ayahnya kerja, aku bisa ikutan event blogger sendirian. Hehehe.
    btw kalau mba mau sapihtrip, yuk ah jalan-jalan sama aku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi gakpapa mba, kalo suamimu enggak keberatan.. :D Ayoookk, yuuk mba Helena kita #SapihTrip yuuuk.. :D

      Hapus
  17. Waaah ide bagus nih. Kayaknya pak suami harus baca artikel ini nih. Ma kasih sharingnya, Bubu ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi siipp mba Ade sama2, semoga suami mba setuju yah.. Hehe.. :D

      Hapus